AGAMA & KESEHATAN MENTAL


AGAMA & KESEHATAN MENTAL

(Sebuah Kajian Psikologi Agama)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

A.     Latar Belakang

Dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari apa yang namanya agama. Setiap manusia pasti membutuhkan agama, kami meyakini hal itu. Bagi orang yang mengaku tidak beragama (atheis), tidak mengakui adanya Tuhan sebenarnya pada kondisi-kondisi tertentu akan mengakui adanya Tuhan dan juga membutuhkan agama. Hanya saja hal itu tidak ditunjukkan kepada masyarakat, melainkan hanya untuk dirinya sendiri.

Bicara mengenai hubungan agama dengan kehidupan manusia, bahwa dengan petunjuk-petunjuk dan tuntunan yang ada dalam agama maka akan mengantarkan manusia menuju pada kehidupan yang dinamis, menyikapi kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti yang seluas-luasnya. Kehadiran agama (Islam) diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin serta dunia dan akhirat.

Selanjutnya hubungan ini lebih difokuskan pada kesehatan manusia, khususnya kesehatan nonfisik (kesehatan mental). Hal ini sesuai dengan judul makalah ini yakni “Agama dan Kesehatan Mental”. Gangguan mental dapat menyebabkan gangguan pada fisik. Sedangkan untuk menyembuhkan gangguan mental tidak bisa hanya dengan menggunakan cara medis, melainkan dengan terapi khusus, salah satunya dengan pendekatan agama. Gangguan mental disebabkan oleh gejala tertekan yang berada pada lapisan bawah sadar manusia. Dengan menyadarkan kembali gejala tersebut, maka gangguan itu dapat disembuhkan.

Ternyata agama dapat memberi dampak yang cukup berarti dalam kehidupan manusia, termasuk terhadap kesehatan. Karena dalam agama meyakini adanya kekuasaan yang lebih tinggi, kekuatan yang tak terbatas yang mengatur semua ini. Sedangkan manusia adalah sebagian kecil dari kekuatan itu.

B       Manusia dan Agama

Psikologi modern tampaknya memberi porsi yang khusus bagi perilaku keagamaan, walaupun pendekatan psikologis yang digunakan terbatas pada pengalaman empiris. Psikologi agama merupakan salah satu bukti adanya perhatian khusus para ahli psikologi terhadap peran agama dalam kehidupan manusia. Agama sudah dinilai sebagai bagian dari kehidupan pribadi manusia yang erat kaitannya dengan gejala-gejala psikologis. Secara psikologis, agama adalah ilusi manusia. Manusia lari kepada agama karena rasa ketidak-berdayaannya dalam menghadapi segala sesuatu yang membahayakan manusia seperti bencana, musibah dan kematian. Jadi segala bentuk perilaku keagamaan merupakan hasil ciptaan manusia agar dirinya terhindar dari bahaya dan dapat menimbulkan rasa aman.

Dalam agama sendiri terdapat unsur-unsur yang sangat penting, sebagaimana dijelaskan oleh Harus Nasution, ada empat. Pertama, kekuatan gaib yang dibutuhkan oleh manusia karena manusia merasa lemah dan berhajat kepadanya sebagai tempat memohon pertolongan. Kedua, keyakinan manusia bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat nanti tergantung pada adanya hubungan yang baik dengan kekuatan gaib tersebut. Ketiga, respons yang bersifat emosional dari manusia, bisa berupa rasa takut (seperti yang terdapat pada agama primitif), atau perasaan cinta seperti yang terdapat pada agama-agama monoteisme. Keempat, paham adanya yang kudus (sacred) dan suci, dalam bentuk kekuatan gaib, kitab yang mengandung ajaran-ajaran agama yang bersangkutan, dan dalam bentuk tempat-tempat tertentu.

Dari keempat unsur penting yang menjadi karakteristik agama tersebut itulah yang menyebabkan manusia tidak lepas dari agama. Agama sebagai suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk dengan kehendak dan pilihannya sendiri mengikuti peraturan tersebut, guna mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat.

Menurut aliran Behaviorisme, memandang perilaku keagamaan erat kaitannya dengan prinsip reinforcement (reward and punishment). Manusia berperilaku agama karena didorong oleh rangsangan hukuman dan hadiah. Menghindarkan hukuman (siksaan) dan mengharapkan hadiah (pahala). Aliran ini memandang perilaku manusia bersifat serba fisik, dan tampaknya memang kurang memberi tempat bagi kajian kejiwaan nonfisik.

Psikologi humanistik mungkin yang lebih jelas membahas perilaku keagamaan. Menurut Abraham Maslow, salah seorang pemuka psikologi humanistik menyatakan bahwa kebutuhan manusia meningkat mulai dari yang paling dasar hingga kebutuhan yang paling puncak. Pertama, kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan dasar manusia seperti makan dan minum. Kedua, kebutuhan akan rasa aman yang mendorong orang untuk bebas dari rasa takut dan cemas. Ketiga, kebutuhan akan rasa kasih sayang, antara lain berupa pemenuhan hubungan antar manusia. Keempat, kebutuhan akan harga diri. Pada tahap ini orang ingin agar idenya dihargai.

Kebutuhan manusia akan agama sekurang-kurangnya terdapat tiga alasan. Pertama, latar belakang fitrah manusia. Manusia secara fitrahnya merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia pada agama. Kedua, kelemahan dan kekurangan manusia. Manusia selain memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan. Karena kekurangan inilah manusia membutuhkan hadirnya agama untuk melengkapi kehidupan manusia. Ketiga, tantangan manusia. Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar.

Ketahuilah bahwa manusia itu bukan hanya jasmaniah (materii) sebagaimana ia tidak hanya rohaniah saja, tetapi manusia itu adalah resultant daripada dua komponen: jasmaniah dan rohaniah. Kebutuhan manusia yang bersifat fisik tumbuh secara alami, sifatnya sama pada semua orang, bahkan sama dengan makhluk hidup lainnya, seperti makan, minum dan lain-lain. Peran agama di sini adalah untuk mengarahkan kebutuhan jasmani apa yang saja yang baik dan boleh digunakan. Dengan bimbingan agama, keadaan manusia akan bermartabat, terhormat, dan tidak jatuh ke dalam kehidupan hewani.

Kebutuhan manusia terhadap agama, dalam arti kebutuhan akan adanya Tuhan dan peraturan-peraturan yang berasal dari-Nya, dapat dilihat dari dua sifat dasar yang dimiliki manusia, yaitu keadaan psikologis dan sosiologisnya. Secara psikologis manusia memiliki perasaan akan adanya sesuatu yang menguasai alam dan dirinya, yaitu sesuatu yang mengatur dan menyusun peredaran alam ini. Kesan itu timbul setelah manusia memfungsikan akalnya. Kepada kekuatan di luar jangkauannya itu, manusia menaruh harapan akan rasa kasih sayang, rasa aman, harga diri, rasa bebas dan keberhasilan. Kebutuhan akan agama semakin besar apabila harapan-harapan itu mulai terancam.

Sedangkan dalam kehidupan sosial, agama berperan membantu menciptakan sistem nilai sosial yang terpadu dan utuh. Kehidupan kemasyarakatan yang sehat adalah kehidupan yang di dalam masyarakat itu masing-masing individu menghargai hak individu lainnya, menghargai aturan-aturan yang telah disepakati, menganggap keadilan sebagai sesuatu yang suci, dan menawarkan cinta kepada orang lain. Setiap individu menganggap dirinya bertanggung jawab dan mempunyai kewajiban terhadap masyarakatnya. Keadaan masyarakat serupa itu akan terwujud dengan adanya ajaran agama, karena agamalah yang membimbing manusia agar menghargai kebajikan, menganggap suci keadilan dan menyayangi sesamanya. Tanpa adanya nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial, maka masyarakat manusia akan hancur dan jatuh ke dalam kehidupan binatang.

Melihat uraian-uraian di atas, agama tampaknya memang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Agama sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Sesuai dengan fitrah manusia bahwa manusia memiliki potensi untuk beragama. Kalau ada manusia tidak beragama, maka hal itu tidak wajar. Pengingkaran manusia terhadap agama disebabkan oleh faktor-faktor tertentu baik yang disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungan masing-masing. Akan tetapi pada dasarnya manusia itu cenderung tunduk dan mengakui agama. Ketundukan ini karena faktor intern manusia (batin manusia) yang pada dasarnya mempunyai potensi beragama seperti yang kami jelaskan di atas, yakni sesuai dengan fitrah manusia.

C.      Agama dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Mental

Kesehatan mental (mental hygiene) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan ruhani. Orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dalam ruhani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman, dan tenteram. Dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah psikosomatik (kejiwabadanan). Dimaksudkan dengan istilah tersebut adalah untuk menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat antara jiwa dan badan. Jika jiwa berada dalam kondisi yang kurang normal seperti susah, cemas, gelisah, dan sebagainya, maka badan turut menderita.

Beberapa temuan di bidang kedokteran dijumpai sejumlah kasus yang membuktikan adanya hubungan tersebut, jiwa dan badan. Orang yang merasa takut, langsung kehilangan nafsu makan, atau buang-buang air. Jadi gangguan jiwa membawa pengaruh pada badan, hal ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara jiwa dan badan, jiwa sehat badan segar dan badan sehat jiwa normal.

Untuk penyakit gangguan ruhani (jiwa) dikenal pengobatan dengan hipotheria, yaitu pengobatan dengan cara hipnotis. Dan kemudian dikenal pula adanya istilah psikoterapi atau autotherapia (penyembuhan diri sendiri) yang dilakukan tanpa menggunakan bantuan obat-obatan biasa. Untuk psikoterapi atau autoterapi biasanya dihubungkan dengan aspek keyakinan masing-masing. Sejumlah kasus menunjukkan adanya hubungan antara faktor keyakinan (agama) dengan kesehatan jiwa atau mental.

Prof. Dr. Muhammad Mahmud Abd Al-Qadir mengungkapkan lebih jauh mengenai hubungan agama dengan kesehatan mental melalui pendekatan biokimia. Menurutnya, di dalam tubuh manusia terdapat sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi persenyawaan-persenyawaan kimia. Persenyawaan-persenyawaan itu disebut hormon. Menurutnya, segala bentuk gejala emosi (bahagia, rasa dendam, rasa marah, takut, dan lain-lain) adalah akibat dari pengaruh persenyawaan-persenyawaan kimia hormon, disamping persenyawaan lainnya. Apabila hal itu terjadi perubahan yang terlampau lama, seperti panik, takut, dan sedih yang berlangsung lama, akan mengakibatkan penyakit saraf yang bersifat kejiwaan.

Akan tetapi hal itu semua tidak akan terjadi jika seseorang mempunyai keimanan yang cukup. Dengan keimanan yang dimiliki oleh seseorang itu, kondisi jiwa orang tersebut akan selalu stabil yang menjadikan seseorang itu berada dalam keadaan normal, seimbang hormon dan kimiawinya. Hal ini membuktikan adanya hubungan antara keyakinan agama dengan kesehatan jiwa. Dan terhadap penyakit gangguan kejiwaan ini pun telah banyak pengobatan yang dilakukan manusia melalui bantuan agama.

Salah satu cabang ilmu jiwa, yang tergolong dalam psikologi Humanistika dikenal logoterapi. Logoterapi dilandasi falsafah hidup dan wawasan mengenai manusia yang mengakui adanya dimensi sosial pada kehidupan manusia. Kemudian logoterapi menitikberatkan pada pemahaman bahwa dambaan utama manusia yang asasi atau motif dasar manusia adalah hasrat untuk hidup bermakna. Selanjutnya, logoterapi menunjukkan tiga bidang kegiatan yang secara potensial memberi peluang kepada seseorang untuk menemukan makna hidup bagi dirinya sendiri. Ketiga kegiatan itu adalah:

1).  Kegiatan berkarya, bekerja, dan mencipta, serta melaksanakan dengan sebaik-baiknya tugas dan kewajiban masing-masing.

2).  Keyakinan dan penghayatan atas nilai-nilai tertentu (kebenaran, keindahan, kebajikan, keimanan dan lainnya), dan

3).  Sikap tepat yang diambil dalam keadaan dan penderitaan yang tidak terelakkan lagi.

Untuk menghadapi sikap yang ketiga ini, maka ibadah merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk membuka pandangan seseorang akan nilai-nilai potensial dan makna hidup yang terdapat dalam diri dan sekitarnya. Maka dalam hal ini bisa dikatakan bahwa agama sebagai jalan terakhir yang akan ditempuh oleh manusia untuk menghadapi segala sesuatu yang manusia sendiri tidak berdaya menghadapinya.

Melihat uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sangat besar pengaruh agama terhadap kesehatan mental. Hal ini didasarkan adanya hubungan antara keyakinan agama dengan kesehatan mental atau jiwa. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa atau mental dipastikan tidak memiliki keimanan yang kuat. Karena orang yang memiliki keimanan yang kuat tidak akan mengalami gangguan ini. Dan gangguan jiwa ini bisa disembuhkan melalui terapi agama, karena nilai-nilai agama akan mengembalikan kesadaran manusia yang hilang sebab gangguan jiwa.

D.      Terapi Keagamaan

Orang yang tidak merasa tenang, aman serta tenteram dalam hatinya adalah orang yang sakit ruhani atau mentalnya. Hal ini disebabkan karena ketidakseimbangan dalam kehidupan ruhani. Kondisi ini terjadi karena adanya pertentangan (konflik) dalam batin. Dalam kesehatan mental, ketidak-seimbangan kehidupan ruhani ini disebut dengan kekusutan fungsional.

Bentuk kekusutan fungsional ini bertingkat, yaitu psychopat, psychoneurose, dan psikotis. Psychoneurose ditandai bahwa seorang tidak mengikuti tuntutan-tuntutan masyarakat. Pengidap psychoneurose menunjukkan perilaku menyimpang. Sedangkan penderita psikotis dinilai mengalami kekusutan mental yang berbahaya sehingga memerlukan perawatan khusus. Usaha penanggulangan kekusutan mental ini sebenarnya dapat dilakukan sejak dini oleh yang bersangkutan. Dengan mencari cara yang tepat untuk menyesuaikan diri dengan memilih norma-norma moral, maka kekusutan mental akan terselesaikan.

Dalam konteks ini terlihat hubungan agama sebagai terapi kekusutan mental. Sebab, nilai-nilai luhur yang termuat dalam ajaran agama bagaimanapun dapat digunakan untuk penyesuaian dan pengendalian diri, hingga terhindar dari konflik batin.

Sesungguhnya dalam Islam banyak ayat maupun hadits yang memberikan tuntunan agar manusia sehat seutuhnya, baik dari segi fisik, kejiwaan, sosial, serta ekonomi. Ajaran Islam sejak lama dijadikan semacam ‘obat’ bagi terapi kejiwaan. Tapi dilegalkan sebagai ilmu pengetahuan, masih belum terpikirkan. Gagasan itu baru muncul dan menguat dalam dasawarsa ini.

Ayat tentang ketenangan jiwa, yang artinya:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al-Ra’d: 28)

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, Maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-‘Araf: 35)

Dari ayat pertama di atas Allah menegaskan bahwa ketenangan jiwa dapat dicapai dengan selalu dzikir (ingat) kepada Allah. Sedangkan ayat kedua, Allah menerangkan bahwa dengan bertaqwa dan berbuat baik dapat mencegah kita dari rasa khawatir dan sedih.

Menurut Drs. Hanna Djumhana Bastaman, M.Psi., Ketua Dewan Pakar Asosiasi Psikolog Islam (API), harus dicarikan jalan keluar bagi penyakit kejiwaan yang kian beragam jenisnya itu. Dalam kaitan ini, sudah lama para pakar psikolog Muslim menerapkan model psikoterapi yang bercorak Islami sebagai alternatif dari sejumlah terapi yang ada. Bantuan konseling melalui pendekatan agama tersebut, urai Hanna, diharapkan lebih mampu menuangkan pandangan positif terhadap manusia serta mengakui adanya unsur spiritual dalam diri di samping unsur ragawi, kejiwaan, dan juga sosial budaya.

Sedangkan menurut Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, menyebut bahwa agama sangat penting bagi kesehatan jasmani dan rohani. Dilihat dari batasan WHO tahun 1984, katanya, aspek agama atau spiritual merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan secara keseluruhan. Lebih jauh, Dadang menyatakan, dalam agama Islam bagi mereka yang sakit dianjurkan untuk berobat kepada ahlinya guna memperoleh terapi medis yang disertai doa dan dzikir. Sebab dipandang dari sudut kesehatan jiwa, doa dan dzikir ini jelas mengandung unsur psikoterapeutik yang mendalam. Terapi psikoreligius tidak kalah pentingnya dibanding psikoterapi psikiatrik, karena ia mengandung kekuatan spiritual yang membangkitkan rasa percaya diri dan optimisme. Dua hal tadi (percaya diri dan optimisme) amatlah penting bagi penyembuhan suatu penyakit baik mental maupun kejiwaan.

Semua uraian-uraian di atas secara garis besarnya adalah memberitahukan bahwa agama digunakan sebagai terapi dalam penyembuhan penyakit gangguan mental atau jiwa. Hal ini juga tidak terlepas dari keeratan hubungan antara agama dengan kesehatan mental. Karena hubungan tersebut, jika terjadi kekusutan mental maka agamalah yang paling berperan dalam menyelesaikan kekusutan mental tersebut.

E.     Musibah

Musibah merupakan pengalaman yang dirasakan tidak menyenangkan karena dianggap merugikan oleh korban yang terkena musibah. Berdasarkan asal katanya, musibah berarti lemparan yang kemudian digunakan dalam makna bahaya, celaka, atau bencana dan bala. Menurut Al-Qurtubi, musibah adalah apa saja yang menyakiti dan menimpa diri seseorang, atau sesuatu yang berbahaya dan menyusahkan manusia, betapapun kecilnya. Jadi musibah adalah segala sesuatu yang menimpa diri manusia yang dirasa menyakitkan, merugikan, menyusahkan dan memberatkan manusia baik kecil maupun besar, sedikit maupun banyak dalam waktu yang singkat maupun lama bahkan seumur hidup. Oleh karena itu, setiap orang berusaha untuk menghindar dari kemungkinan tertimpa musibah.

Penyebab terjadinya musibah bermacam-macam. Ada yang disebabkan oleh tangan manusia baik secara langsung maupun tidak atau murni disebabkan alam. Melalui pendekatan agama, musibah dibagi menjadi dua macam. Pertama, musibah yang terjadi sebagai akibat dari ulah tangan manusia. Kedua, musibah sebagai ujian dari Tuhan.

Apa pun yang menjadi latar belakangnya, setiap musibah tetap saja mendatangkan petaka bagi korbannya. Mereka yang mengalami musibah akan mengalami penderitaan lahir dan batin. Penderitaan ini sangat mempengaruhi psikologis seseorang. Informasi media massa maupun tayangan televisi menggambarkan betapa banyak korban tsunami yang mengalami trauma, ataupun gangguan jiwa. Saat ditimpa musibah, manusia terpaksa harus kehilangan sebagian atau seluruh yang ia miliki. Makin besar nilai kepemilikan yang hilang, akan semakin berat derita yang dirasakannya.

Musibah memang membawa derita bagi korbannya, baik fisik (lahir) maupun batin. Bagi yang selamat, derita fisik dapat menimbulkan cacat ringan hingga yang berat. Sedangkan derita batin bisa menimbulkan goncangan jiwa, juga dari yang paling ringan hingga yang paling berat seperti gila. Disinilah peranan agama sangat dibutuhkan. Dengan keyakinan agama yang kuat, manusia akan meyadari bahwa apa yang ia miliki, termasuk tubuh dan nyawa, hakikatnya adalah kepunyaan Allah.

Dengan kembali pada tuntunan agama, korban akan berusaha menyadarkan dirinya, bahwa musibah merupakan resiko yang harus dihadapi dalam menjalani kehidupan. Di tengah-tengah goncangan batin, korban dapat pula menelusuri hikmah atau nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya. Apakah musibah yang dialaminya merupakan balasan dari perbuatannya ataukah ujian dari Tuhan.

Dalam menghadapi musibah, orang-orang yang memiliki keyakinan agama terlihat lebih tabah. Mereka lebih mudah menetralisasi kegoncangan dan konflik yang terjadi dalam batinnya. Keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan dijadikan sebagai pilihan tempat berlindung atau sebagai penyalur derita yang dirasakan. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki tingkat keyakinan agama yang kurang, ataupun tidak memiliki keyakinan agama sama sekali, terkesan sulit menetralisasi kegoncangan jiwanya. Sulit menemukan jalan ke luar, mudah gelap mata, dan akhirnya mengambil jalan pintas.

Keyakinan terhadap Tuhan akan memberikan rasa damai dalam batin. Kedamaian dan keselamatan merupakan bagian dari insting mempertahankan diri yang ada dalam diri manusia. Realisasi dari dorongan insting ini dapat berupa doa secara individu, ataupun doa bersama. Hal ini memperlihatkan bahwa keyakinan agama memberi peluang yang lebih besar kepada pemeluknya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan mengingat Tuhan maka hati menjadi tenang. Hal ini dapat dijadikan pegangan dalam mengatasi kemelut batin, khususnya saat mengalami musibah.

F.      Kesimpulan

1.   Manusia dan agama mempunyai hubungan yang sangat erat. Agama tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia karena peran dan fungsinya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sedangkan manusia sendiri secara fitrahnya mempunyai potensi untuk beragama. Agama dijadikan manusia sebagi jalan untuk mengantarkan manusia menuju pada kebahagiaan lahir batin dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.

2.   Agama sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental. Nilai-nilai yang termuat dalam ajaran agama dapat dijadikan manusia untuk menjaga kesehatan mental. Dan bila terjadi gangguan mental, agama jugalah yang dijadikan jalan untuk mengatasinya.

3.   Terapi keagamaan adalah sebuah usaha pengobatan dengan menggunakan agama sebagai ‘obatnya’. Orang yang sakit atau terganggu jiwanya bisa diobati dengan terapi keagamaan. Dengan terapi keagamaan dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang sakit jiwanya.

4.   –     Musibah adalah segala sesuatu yang menimpa diri manusia yang dirasa menyakitkan, merugikan, menyusahkan dan memberatkan manusia baik kecil maupun besar, sedikit maupun banyak dalam waktu yang singkat maupun lama bahkan seumur hidup.

-     Musibah yang dialami oleh manusia bisa menyebabkan goncangan jiwa yang berat. Mereka yang mengalami musibah akan mengalami penderitaan lahir dan batin. Sedangkan agama di sini sangat berperan dalam hal menjaga kestabilan batin korban setelah mengalami musibah. Dengan keyakinan agama yang kuat, korban lebih mudah untuk menetralisasi kegoncangan jiwanya dan mencoba bersabar dan tabah.

G.      Saran

Peranan agama dalam kehidupan manusia sangat besar. Untuk menjaga keseimbangan lahir dan batin, manusia sangat memerlukan agama sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan ini. Apalagi jika kita mengalami goncangan batin, hati yang tidak tenang, maka keyakinan agamalah yang bisa mengembalikan ketenangan batin kita dengan senantiasa mengingat Allah. Marilah kita mempertebal iman kita supaya kita dapat menjalani kehidupan ini dengan tenang penuh syukur.

Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Untuk itu masukan-masukan dari pihak-pihak yang merespon makalah ini sangat kami tunggu. Dan kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, semoga kita bersama dapat menjalani ini semua dengan Ridha-Nya tentunya. Amiin.

 DAFTAR PUSTAKA

 Jalaluddin. 2005. Psikologi Agama. Ed. Rev. 9. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Nata, Abuddin. 1995. Al-Qur’an dan Hadits (Dirasah Islamiah I). Ed.1. Cet.4. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Nata, Abuddin. 2003. Metodologi Studi Islam. cet. 8. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Razak, Nasruddin. 1989. Dienul Islam: Penafsiran kembali Islam sebagai suatu Aqidah dan Way of Life. cet.10. Bandung: Alma’arif.

Taufiq, Muhammad. Qur’an in Word Ver 1.0.0. moh.taufiq@qmail.com.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: