BACK UNDERSTANDING OF WAHYU AND AL-QUR’AN


BACK UNDERSTANDING OF WAHYU AND AL-QUR’AN

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

A.     Latar Belakang

Kita sebagai masyarakat muslim tampak akrab dengan bahasa wahyu dan al-Qur’an, terlebih lagi para akademisi yang ada dalam naungan sebuah lembaga pendidikan Islam, tampaknya kedua nama tersebut melekat erat di benak mereka. Namun pengetahuan mengenai apa sesungguhnya atau hakekat dari kedua kata tersebut belum begitu mendalam dan kedua kata tersebut hanya dipahami dengan makna dasarnya saja. Padahal dua kata tersebut apabila dipahami secara mendalam, maka kita akan dapat mengenal kitab suci kita dengan baik.

Al-Qur’an merupakan salah satu wahyu yang berupa kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an yang berupa kalam Allah ini merupakan kitab atau wahyu yang istimewa dibandingkan dengan wahyu-wahyu yang lainnya. Bahkan salah satu keistimewaannya adalah tidak ada satu bacaan-pun sejak peradaban baca tulis dikenal lima ribu tahun yang lalu, yang dibaca baik oleh orang yang mengerti artinya, maupun oleh orang yang tidak mengerti artinya. Di samping itu, al-Qur’an merupakan sumber pokok ajaran Islam dan sebagai petunjuk ke jalan yang benar untuk totalitas umat manusia yang tujuan utamanya mengantarkan manusia kepada suatu kehidupan yang membahagiakannya untuk kehidupan sekarang dan juga esok di akhirat.

Al-Qur’an merupakan salah satu nama dari nama wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada para nabi-Nya. Karena merupakan wahyu, maka al-Qur’an merupakan paper name (nama diri), sedangkan wahyu adalah kata-kata umumnya. Wahyu dapat dikatakan sebagai kata umumnya, menurut Abu Zaid, dikarenakan “wahyu meliputi semua teks yang menunjuk pada titah Allah kepada manusia”. Jadi al-Qur’an merupakan bagian atau salah satu dari wahyu. Karena wahyu tidak hanya turun kepada Nabi Muhammad saja, akan tetapi juga turun kepada Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad. Di samping itu, dalam konteksnya, wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad saja tidak hanya al-Qur’an, akan tetapi juga berupa hadits, baik yang berupa hadits qudsi maupun hadits nabawi.

Maka agar pembahasan tentang wahyu dan al-Qur’an menjadi lebih jelas sehingga kita sebagai masyarakat muslim mengetahui dan mengenal dengan lebih rinci tentang kitab suci kita, penulis menyusun makalah ini yang berjudul “Wahyu dan al-Qur’an”.

B.     Pengertian Wahyu dan Fungsi Wahyu

Kata wahyu menurut para ulama mempunyai dua arti, yaitu proses pemberian wahyu dan sesuatu yang diturunkan tersebut atau isim maf’ulnya. Kata wahyu berasal dari fi’il madhi وحى او اوحى yang dapat berarti memberi isyarat dengan cepat. Sedangkan menurut Abu Zaid, “makna sentral wahyu adalah pemberian informasi secara rahasia”. Jadi dengan kata lain wahyu adalah hubungan komunikasi antara dua pihak yang mengandung arti pemberian informasi secara rahasia. Karena berlangsung secara rahasia, maka dalam konsep wahyu antara si pemberi informasi dan penerima informasi memakai kode rahasia. Sebagaimana ayat berikut ini:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ…

Artinya: Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia…

Dalam ayat tersebut kata wahyu dimaknai dengan pemberian informasi atau yang berupa pemberian ilham. Jadi dari hal itu dapat ditarik kesimpulan lughawiyah bahwa wahyu adalah proses pemberian informasi secara samar. Namun proses pemberian ilham kepada manusia tidak digolongkan wahyu secara terminologi. Karena setiap hari manusia diberi ilham oleh Allah, yang apabila hal itu dikembangkan akan berpotensi menjadi ilmu pengetahuan. Namun, sayangnya kebanyakan manusia tidak menyadari akan hal itu.

Wahyu dengan arti secara bahasa dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. Ilham murni pada manusia, seperti informasi kepada ibunya Nabi Musa  dalam ayat di atas.
  2. Ilham insting pada hewan, seperti wahyu pada lebah pada surah al-Nahl yang artinya “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”
  3. Isyarat dengan cepat dengan menggunakan symbol atau sejenisnya, sebagaimana isyarat Nabi Zakariya kepada kaumnya seperti yang diceritakan dalam al-Qur’an.
  4. Bisikan setan kepada hati manusia seperti dalam ayat berikut: Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu

Sedangkan menurut istilah wahyu adalah “pemberitahuan Tuhan kepada Nabi-Nya tentang hukum-hukum. Tuhan, berita-berita dan cerita-cerita dengan cara samar tapi meyakinkan kepada Nabi/Rasul yang bersangkutan, bahwa apa yang diterimanya adalah benar-benar dari Allah”. Dari arti secara istilah ini, dapat juga ditarik pemahaman bahwa informasi yang diberikan kepada nabi merupakan arti wahyu. Jadi pada intinya wahyu hanya dispesifikkan sesuatu yang diturunkan atau diberikan kepada Nabi atau Rasul saja, sedangkan yang lain hanya pengertian wahyu secara bahasa saja.

Wahyu Allah kepada Nabi Muhammad tidak hanya al-Qur’an, namun juga al-hadits atau al-sunnah. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah sebagai berikut:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

Artinya: dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya, Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),.

Dari ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa al-Sunnah juga termasuk wahyu, namun al-Sunnah tidak bermukjizat. Al-Sunnah berfungsi untuk menjelaskan hal-hal yang umum yang ada dalam al-Qur’an. Mengenai perbedaan yang lebih mendalam, akan penulis bahas dalam sub-bab persamaan dan perbedaan wahyu dengan al-Qur’an. Dari penjelasan yang dikemukakan di atas, bahwa wahyu dapat bermakna sebagai masdar dan sebagai maf’ul bih. Dan wahyu khusus hanya diturunkan kepada Nabi atau Rasul Allah.

Wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya tentu mempunyai berbagai fungsi. Dalam pandangan Muhammad Abduh, sebagaimana yang dikutip oleh Nurkholis, keberadaan wahyu dapat dibagi dalam dua fungsi. Fungsi pokok pertama timbul dari keyakinan bahwa jiwa manusia akan terus ada dan kekal sesudah tubuh kasar mati. Jadi wahyu berfungsi untuk memberikan penjelasan tentang alam ghaib yang penuh dengan rahasia.

Fungsi wahyu yang kedua mempunyai kaitan erat dengan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Manusia harus hidup secara berkelompok. Untuk mewujudkan kehidupan sosial yang rukun dan damai, para anggotanya harus membina hubungan antara mereka atas dasar saling mencintai. Tetapi pada dasarnya, kebutuhan manusia akan sesuatu tidaklah terbatas, sehingga akan senantiasa muncul konflik dan pertentangan. Untuk mengatasi hal itu telah diusahakan menukar prinsip cinta dengan keadilan, tetapi manusia tidaklah sanggup meletakkan dasar-dasar yang kuat tentang keadilan yang dapat diterima oleh semua orang. Untuk mengatur manusia dengan baik, maka dibutuhkan wahyu yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.

Dengan demikian wahyu akan menolong manusia untuk mengetahui dan mempercayai kehidupan di akhirat serta menolong akal dalam mengatur masyarakat atas dasar prinsip-prinsip umum yang dibawanya. Di samping itu, fungsi lain dari wahyu adalah menguatkan pendapat akal dan meluruskannya melalui sifat sakral dan absolut yang terdapat dalam wahyu. Karena adanya sifat absolut ini, maka manusia akan menjadi tunduk kepada wahyu dan menyesuaikan hasil-hasil pemikiran yang dicapai oleh akal dengan wahyu.

C.     Cara Allah Menurunkan Wahyu Kepada Malaikat

Dalam al-Qur’an telah disebutkan mengenai pembicaraan Allah dengan malaikat, seperti dalam firman Allah:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30)

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Ayat tersebut menunjukkan pembicaraan Allah dengan malaikat pada zaman azali dahulu, ketika Allah akan menciptakan manusia dan malaikat protes kepada Allah, kemudian terjadilah dialog antara Allah dengan malaikat. Dari hal itu dapat diketahui bahwa malaikat dapat mendengarkan pembicaraan Allah. Maka kesimpulan sementara mengatakan bahwa cara Allah menurunkan wahyu kepada malaikat adalah dengan berbicara dengan lafadh yang khusus kepada malaikat, yang prosesnya tidak dapat dijangkau oleh akal kita.

Dalam al-Qur’an juga dijelaskan bahwa al-Qur’an berada di Lauh al-Mahfudz, sebagaimana firman-Nya:

بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22)

Artinya: Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh mahfudz.

Hal itu diperkuat oleh hadits di bawah ini yang menyatakan bahwa al-Qur’an diturunkan ke langit dunia dalam keadaan satu paket.

وأخبرنا محمد بن عبد الله الحافظ قال : حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب قال : حدثنا محمد بن إسحاق الصغاني قال : حدثنا يزيد بن هارون قال : أخبرنا داود بن أبي هند ، عن عكرمة ، عن ابن عباس قال : أنزل القرآن جملة واحدة إلى السماء الدنيا ليلة القدر ، ثم أنزل بعد ذلك بعشرين سنة.

Artinya: Dari Ibn Abbas, Ia berkata: Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia pada Lailatul Qadar (malam yang telah dipastikan) dalam satu paket, kemudian diturunkan setelah itu (secara berangsur-angsur) selama 20 tahun lebih.

Dari ayat dan hadits di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa Jibril membawa wahyu dari lauh al-mahfudz ke bait al-Izzah yang ada di langit dunia dalam keadaan satu paket, kemudian menurunkannya ke Nabi Muhammad secara berangsur-angsur. Ini berarti Jibril itu mengambil sendiri wahyu dari lauh al-mahfudz.

Maka Manna’ al-Khattan menyebutkan 3 pendapat mengenai cara Allah memberikan wahyu al-Qur’an kepada malaikat.

  1. Jibril mendengarkan wahyu dari Allah dengan lafadh yang ditentukan.
  2. Jibril menjaga wahyu tersebut dari lauh al-mahfudz.
  3. Jibril hanya diberi pengetahuan tentang maknanya oleh Allah, sedangkan lafadhnya dari Jibril sendiri atau dari Nabi Muhammad.

Menurut penulis, pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama, karena al-Qur’an tersebut lafadh dan maknanya berasal dari Allah. Maka dari itulah, al-Qur’an dapat bermukjizat baik lafadhnya maupun maknanya. Jadi al-Qur’an itu merupakan kalam Allah, bukan kalamnya Jibril  atau Muhammad. Sedangkan pendapat yang ketiga itu identik dengan hadits atau sunnah, sebagaimana keterangan di atas.

D.     Cara Allah Menurunkan Wahyu Kepada Rasul-Nya

Allah menurunkan wahyu kepada rasul-Nya dengan melalui 2 cara, pertama, dengan perantara yaitu malaikat Jibril, yang akan dijelaskan di bawah ini. Kedua, tanpa perantara. Adapun cara Allah menurunkan wahyu tanpa perantara adalah sebagai berikut:

  1. Mimpi yang benar pada waktu tidur, hal ini terjadi ketika permulaan akan diutusnya Muhammad, atau dalam istilahnya adalah persiapan kenabian. Aisyah r.a. berkata, “yang pertama (dari wahyu) kepada Rasulullah saw. adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Beliau tidak pernah bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti merekahnya cahaya subuh…”.
  2. Kalam Allah dari belakang satir tanpa perantara, seperti peristiwa Nabi Musa, sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an. Hal itu juga terjadi dalam peristiwa isra’ mi’raj Nabi Muhammad saw, yaitu ketika Allah memerintahkan shalat 5 waktu kepada Nabi Muhammad dan umatnya.

Jadi Allah menurunkan wahyu kepada rasul-Nya dengan cara langsung (direct) dan tidak langsung (indirect), yang secara langsung dengan ru’ya al-shalihah dan berbicara di belakang satir, sedangkan yang tidak langsung dengan melalui perantara malaikat Jibril.

E.     Cara Malaikat Memberikan Wahyu Kepada Rasul

Cara malaikat memberikan wahyu kepada Rasul ada 4, antara lain:

  1. Malaikat datang dengan membawa wahyu seperti gemerincingnya lonceng. Ini adalah keadaan keadaan paling berat yang dialami oleh Nabi atau Rasul,  sebagaimana hadits Nabi berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقً

Artinya: Aisyah r.a. mengatakan bahwa Harits bin Hisyam r.a. bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, bagaimana datangnya wahyu kepada engkau?” Rasulullah saw. menjawab, “Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku bagaikan gemerincingnya lonceng, dan itulah yang paling berat atasku. Lalu, terputus padaku dan saya telah hafal darinya tentang apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat berubah rupa sebagai seorang laki-laki datang kepadaku, lalu ia berbicara kepadaku, maka saya hafal apa yang dikatakannya.” Aisyah r.a. berkata, “Sungguh saya melihat beliau ketika turun wahyu kepada beliau pada hari yang sangat dingin dan wahyu itu terputus dari beliau sedang dahi beliau mengalirkan keringat”

  1. Malaikat menyerupai laki-laki dan ia datang dalam bentuk manusia, baik ketika Nabi sendiri maupun ketika bersama dengan para sahabatnya, kemudian ia membacakan wahyu kepada Nabi tersebut, sebagaimana keterangan dalam hadits di atas.
  2. Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi. Dalam hal ini Nabi tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada dalam kalbunya.
  3. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi tidak berupa seorang laki-laki, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli.

F.      Perbedaan Wahyu dan Kasf

Antara wahyu dan kasf terdapat perbedaan. Kasf secara etimologi artinya terbuka. Biasanya kasf dimiliki oleh orang-orang yang telah mencapai derajat kema’rifatan. Informasi orang yang telah mencapai tingkatan kasf juga datang dari Allah yang berupa ilham. Dari sini terdapat kemiripan antara kasf dengan wahyu dalam ma’na bentuk masdarnya. Padahal dalam kenyataannya terdapat perbedaan yang signifikan antara wahyu dengan kasf. Perbedaan tersebut antara lain:

  1. Wahyu diturunkan kepada para Nabi, sedangkan kasf dimiliki oleh orang yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat billah.
  2. Cara memperoleh kasf harus melalui latihan (Riyadhah), berpikir dalam waktu yang lama, walaupun tidak menutup kemungkinan ada yang diperoleh dengan cara hidayah dan taufiq, sedangkan wahyu diperoleh karena ia adalah utusan Allah untuk manusia.
  3. Kasf derajatnya lebih rendah daripada wahyu.
  4. Kasf hanya sampai pada tingkatan temuan belum mencapai tingkatan yakin atau berada di bawah tingkatan yakin. Sedangkan wahyu sudah mencapai tingkatan yakin.

Maka dapat disimpulkan bahwa wahyu hanya diberikan kepada para nabi dan rasul allah, sedangkan kasf diberikan kepada manusia yang telah mencapai derajat ma’rifat. Sedangkan sesuatu yang diberikan kepada manusia secara umum, itu berupa lintasan pikiran atau ilham, yang waktunya hanya sebentar. Maka dari itu, kita sebagai akademisi disarankan untuk selalu membawa alat tulis ke mana saja, karena ketika ada lintasan pikiran, maka seyogyanya hal itu kita tulis, agar tidak lupa. Dan selanjutnya dapat kita kembangkan dengan menggabungkannya dengan ilmu-ilmu yang lain.

G.     Pengertian al-Qur’an

Terdapat berbagai pandangan para ulama mengartikan al-Qur’an secara bahasa. Ada yang memahami bahwa al-Qur’an ditulis dengan huruf hamzah di tengahnya berdasarkan pola kata ghufran dan merupakan pecahan (musytaq) dari akar kata qaraa yang bermakna tala (membaca). Lafadz al-Qur’an digunakan untuk menamai sesuatu yang dibaca, yakni obyek dalam bentuk mashdar. Menurut Quraish Shihab, secara harfiah berarti “bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan”. Sedangkan sebagaimana yang diriwayatkan dari al-Syafi’i, bahwa lafadh al-Qur’an murtajal yang khusus dan merupakan nama dari kalam allah yang bermu’jizat. Ada yang berpendapat bahwa al-Qur’an berasal dari lafadh qaraa atau qarana yang berarti kumpulan, menghimpun atau himpunan. Hal itu karena kumpulnya huruf yang satu dengan  yang lain dalam bacaannya. Ada lagi yang mengatakan al-Qur’an musytaq dari lafadh qarain (mirip), karena ayat al-Qur’an serupa antara satu dengan yang lainnya. Menurut penulis pendapat kata al-Qur’an adalah murtajal atau tidak musytaq. Karena tidak dinamakan dengan nama al-Qur’an selain kalam allah yang bermu’jizat, dan karena al-Qur’an merupakan nama kalam Allah maka ada kemungkinan ilmu manusia tidak dapat menjangkaunya dan manusia hanya mengira-ngira saja.

Secara terminologi terdapat 3 golongan besar dalam membuat definisi tentang al-Qur’an, yaitu golongan orang yang meringkas, golongan orang yang membuat definisi sedang-sedang saja (mutawassith), dan orang yang membuat definisi dengan panjang (muthnib). Adapun orang yang suka membuat definisi yang panjang, mendefinisikan al-Qur’an adalah firman allah yang diturunkan (kepada Muhammad) yang berfungsi sebagai mu’jizat dengan berupa ayat dan bernilai ibadah bagi yang membacanya. Ada lagi yang membuat definisi al-Qur’an adalah firman Allah yang bermu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang ditulis dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan secara mutawatir dan bernilai ibadah bagi yang membacanya.

Sedangkan mutawassithin mengartikan al-Qur’an dengan lafadh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang diriwayatkan secara mutawatir dan bernilai ibadah bagi yang membacanya. Sedangkan orang yang suka membuat definisi singkat hanya menyebutkan satu sifat atau dua sifat untuk mensifati kalam Allah, misalnya al-Qur’an adalah firman Allah yang bermu’jizat atau firman Allah yang diriwayatkan secara mutawatir. Sedangkan Quraish Shihab mengartikannya dengan firman-firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril sesuai dengan redaksi-Nya kepada Nabi Muhammad SAW dan diterima oleh umat Islam secara tawatur. Sementara itu, golongan mutakallimin cenderung mendefinisikan al-Qur’an sebagai kalam Allah yang qadim dan bukan makhluk.

Penulis berpendapat bahwa al-Qur’an adalah firman Allah yang bermu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sesuai dengan redaksinya melalui malaikat Jibril, secara berangsur-angsur, yang ditulis dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan secara mutawatir dan bernilai ibadah bagi yang membacanya, yang dimulai dari surah al-fatihah dan diakhiri oleh surah al-nas.

Dalam definisi yang penulis, terdapat hal-hal pokok yang akan penulis uraikan di bawah ini:

  1. Firman Allah; firman Allah di sini dipahami bahwa seluruh al-Qur’an lafadh dan maknanya merupakan tauqifi.
  2. Bermu’jizat; maksudnya al-Qur’an digunakan sebagai mu’jizat dan bukti kerasulan Nabi Muhammad. Al-Qur’an mengeluarkan tantangan kepada seluruh umat manusia untuk membuat satu surah yang serupa dengan al-Qur’an, namun sejak tantangan tersebut dilontarkan 15 abad yang lalu sampai sekarang, belum ada yang menjawabnya.
  3. Melalui malaikat Jibril; hal ini juga menunjukkan bahwa kalam Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad, seperti pada waktu peristiwa isra’ mi’raj bukan termasuk al-Qur’an.
  4. Diturunkan secara berangsur-angsur; maksudnya al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.
  5. Terhimpun dalam mushaf; perkataan ini memberikan batasan, bahwa ayat-ayat yang dapat diterima sebagai al-Qur’an adalah yang tidak bertentangan dengan mushaf Utsmani.
  6. Diriwayatkan secara mutawatir, maksudnya wahyu yang diterima tersebut diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang menurut kondisi biasa mereka mustahil untuk berbohong. Kriteria ini benar-benar diperlukan, karena hanya yang mutawatirlah yang diyakini dengan sepenuh hati bahwa yang diriwayatkan adalah al-Qur’an.
  7. Bernilai ibadah bagi yang membacanya; batasan ini disamping merupakan definisi juga merupakan dorongan untuk umat Islam agar rajin dalam membaca al-Qur’an.
  8. Dimulai dengan al-fatihah dan diakhiri dengan al-Nas; ini adalah batasan yang merupakan penegas dari batasan-batasan yang ada. Maksudnya surah atau ayat yang tidak masuk dalam batasan itu tidak dapat diterima sebagai al-Qur’an.

Term al-Qur’an yang biasa disebutkan oleh masyarakat maupun akademisi, menunjuk kepada dua pengertian. Pertama sebagai nama kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad. Maka untuk nama yang pertama ini term al-Qur’an diartikan secara keseluruhan. Kedua sebagai nama surah atau sebagian ayat dalam al-Qur’an. Term yang kedua ini sebenarnya memang tidak menunjukkan definisi secara keseluruhan. Contohnya: ketika ada seseorang yang membaca beberapa ayat dari al-Qur’an, kemudian ia ditanya, “kamu sedang membaca apa?”. Maka ia menjawab, “saya sedang membaca al-Qur’an”. Jadi kesimpulannya konotasi kata al-Qur’an bisa berlaku secara keseluruhan dan juga bisa untuk sebagian.

H.     Nama-Nama dan Sifat-Sifat al-Qur’an

Allah telah menyebut al-Qur’an dengan nama yang berbeda-beda. Ia menuliskan sebutannya itu dalam firman-Nya yang maha sempurna. Adapun nama-nama al-Qur’an yang disebutkan oleh Allah tersebut antara lain:

  1. Al-Qur’an

Nama tersebut didasarkan pada ayat:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ…

Artinya: Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus…

  1. Al-Furqan

Nama tersebut didasarkan pada ayat:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا (1)

Artinya: Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.

  1. Al-Dzikr(pengingat)

Nama tersebut didasarkan pada ayat:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9)

Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

  1. Al-Tanzil (sesuatu yang diturunkan)

Nama tersebut didasarkan pada ayat:

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192)

Artinya: Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.

  1. Al-Kitab

Nama tersebut didasarkan pada ayat:

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (10)

Artinya: Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?

Di samping itu, Allah juga menyifati al-Qur’an dengan berbagai sifat yang jumlahnya banyak. Sifat-sifat tersebut antara lain:

  1. Nur (cahaya)

Sifat tersebut didasarkan pada ayat:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا (174)

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).

  1. Hudan(petunjuk), Shifa’(penyembuh), Rahmat, Mau’idhah(pelajaran)

Sifat tersebut didasarkan pada ayat:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

  1. Mubarak (yang diberkahi)

Sifat tersebut didasarkan pada ayat:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ…

Artinya: Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya…

  1. Mubiin (menerangkan atau menjelaskan)

Sifat tersebut didasarkan pada ayat:

…قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15)

Artinya: …Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.

  1. ‘Aziz (mulia)

Sifat tersebut didasarkan pada ayat:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ (41)

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Qur’an itu adalah kitab yang mulia.

  1. Majiid (mulia)

Sifat tersebut didasarkan pada ayat:

بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيدٌ (21)

Artinya: Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia,

  1. Basyir (membawa berita gembira) dan Nadzir (membawa peringatan)

Sifat tersebut didasarkan pada ayat:

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آَيَاتُهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (3) بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ (4)

Artinya: Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan.

  1. Karim (mulia)

Sifat tersebut didasarkan pada ayat:

إِنَّهُ لَقُرْآَنٌ كَرِيمٌ (77)

Artinya: sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia,

  1. Hakiim (mengandung hikmah)

Sifat tersebut didasarkan pada ayat:

الر تِلْكَ آَيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ (1)

Artinya: Alif Laam Raa. Inilah ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung hikmah.

  1. Muhaimin (batu ujian)

Sifat tersebut didasarkan pada ayat:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ…

Artinya: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…

Sebenarnya semua nama dan sifat yang diberikan Allah kepada al-Qur’an untuk menunjukkan pentingnya al-Qur’an dan juga keagungannya. Di samping itu, juga untuk menunjukkan fungsi al-Qur’an sebagai kitab suci, bahkan  juga untuk mengukukuhkan kemukjizatannya.

I.       Kehujjahan al-Qur’an dan Fungsi al-Qur’an Sebagai Sumber Hukum

Abdul Wahab Khallaf menyebutkan, bahwa kehujjahan al-Qur’an itu terletak pada kebenaran dan kepastian isinya yang sedikitpun tidak ada keraguan atasnya. Dengan kata lain, al-Qur’an benar-benar datang dari Allah. Maka dari itu, hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur’an wajib untuk diikuti oleh semua manusia yang  beriman, karena hukum tersebut benar-benar datang dari Allah.

Sebagai sumber ajaran Islam yang utama al-Qur’an diyakini berasal dari Allah dan mutlak benar. Keberadaan al-Qur’an sangat dibutuhkan oleh manusia. Di dalam al-Qur’an terdapat petunjuk hidup yang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Petunjuk yang ada dalam al-Qur’an memang terkesan masih bersifat umum dan global, maka dari itu perlu penjabaran dari hadits. Di samping itu, akal manusia juga harus mengolah petunjuk dan hukum yang ada dalam al-Qur’an, karena al-Qur’an diturunkan dan diperuntukkan bagi orang yang berakal. Sejalan dengan hal tersebut, Quraish Shihab menjelaskan, al-Qur’an sebagai wahyu, merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, tetapi fungsi utamanya adalah sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Dengan demikian, jelas bahwa kehujjahan al-Qur’an sebagai wahyu tidak ada seorangpun yang mampu membantahnya. Kalau kita lihat, tidak ada isinya yang saling bertentangan satu sama lain, dan tetap eksis selama berabad-abad, bahkan tidak bertentangan dengan akal manusia. Apalagi di era modern ini, ketika perkembangan sains telah membludak, maka kebenaran al-Qur’an akan semakin dapat dibuktikan secara ilmiah.

Dalam hal al-Qur’an sebagai sumber hukum, semua madzhab yang ada sepakat untuk meletakkan al-Qur’an sebagai sumber hukum utama, dan menempati posisi awal dari tertib sumber hukum dalam berhujjah. Bahkan al-Ghazali dalam al-Mustashfa, “pada hakikatnya sumber hukum itu adalah satu, yaitu firman Allah. Sebab sabda Rasulullah bukanlah hukum, tetapi sabda beliau merupakan pemberitaan bahwa Allah memutuskan hukum begini dan begini. Maka hukum itu hanyalah kepunyaan Allah semata”. Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an merupakan sumber hukum yang utama dalam melakukan istinbath hukum, dan hadits adalah penjelas al-Qur’an. Maka tidak seorang-pun ulama dan umat Islam yang masih beriman menolak statemen tersebut.

J.      Persamaan dan Perbedaan Wahyu dan al-Qur’an

Persamaan antara wahyu dan al-Qur’an adalah al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah, bahkan merupakan wahyu yang terakhir yang diturunkan Allah kepada utusannya di muka bumi ini, karena Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang terakhir.

Sedangkan perbedaan antara wahyu dan al-Qur’an adalah wahyu bersifat umum, jadi wahyu tidak hanya al-Qur’an, namun juga al-sunnah, baik qauliyah, fi’liyah, maupun taqririyah, sebagaimana keterangan di atas. Di samping itu, firman Allah di balik satir ketika Nabi Muhammad sedang isra’ mi’raj juga merupakan wahyu. Jadi perintah shalat juga merupakan wahyu yang datang dari Allah. Begitu juga ru’ya al-shalihah ketika akan diangkatnya Nabi Muhammad menjadi rasul. Hal itu juga merupakan permulaan wahyu. Di samping itu juga, membaca al-Qur’an dapat dihukumi sebagai beribadah, sedangkan membaca wahyu belum tentu dihukumi sebagai ibadah.

Maka, kesimpulan yang dapat kita ambil adalah apabila dikatakan wahyu, maka hal itu mencakup al-Qur’an, al-hadits, perintah shalat ketika isra’ mi’raj. Namun apabila dikatakan al-Qur’an, maka hal itu hanya akan berlaku kepada keseluruhan atau sebagian firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sesuai dengan redaksinya melalui malaikat Jibril yang bermukjizat yang diriwayatkan secara mutawatir yang ditulis dalam mushaf dan dimulai dari surah al-fatihah dan diakhiri dengan surah al-nas. Dan hal itu tidak mencakup hadits atau sunnah Nabi, baik hadits qudsi maupun hadits nabawi. Jadi wahyu lebih umum daripada al-Qur’an.

K.     Respon Kelompok yang Mengingkari Adanya Wahyu

Al-Qur’an muncul sebagai juru selamat dan kitab petunjuk dalam agama Islam. Namun menurut kalangan lain, al-Qur’an bukan suatu kitab suci. Begitu juga wahyu lain yang berupa hadits. Namun respon terhadap al-Qur’an lebih banyak tersiar dan marak daripada respon terhadap hadits. Penulis dalam pembahasan subbab ini akan mencoba menguraikan hal tersebut satu per satu .

Sejak zaman Nabi Muhammad banyak sekali orang yang meragukan eksistensi al-Qur’an sebagai firman Allah. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa al-Qur’an adalah syair, al-Qur’an adalah sihir dan lain sebagainya. Maka dari itu, al-Qur’an mengeluarkan tantangan kepada orang-orang tersebut. Tantangan yang pertama kali dilontarkan adalah:

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ (33 فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ (34)

Artinya: Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar.

Kenyataannya tantangan tersebut tidak bisa mereka penuhi. Namun mereka beralasan bahwa mereka tidak mengetahui sejarah umat terdahulu, maka wajar kalau mereka tidak bisa membuat yang sepadan dengan al-Qur’an. Selanjutnya, karena tantangan tersebut tidak mampu dipenuhi, maka Allah meringankan tantangan tersebut dengan firman-Nya:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (13)

Artinya: Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Qur’an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.

Namun kenyataannya tantangan yang kedua ini juga gagal dilayani dengan alasan yang sama, yaitu tidak mengetahui sejarah umat terdahulu yang digunakan sebagai isi dari sepuluh surah tersebut. Maka Allah meringankan tantangannya dengan firman-Nya.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (38)

Artinya: Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Ketiga tantangan tersebut terlontarkan ketika Nabi masih berada di Makkah, masih ditambah tantangan yang keempat yang dikemukakan ketika Nabi sudah berhijrah ke Madinah, yang terabadikan dalam firman Allah sebagai berikut:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23)

Artinya: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Ayat ini sebenarnya redaksinya mirip dengan ayat yang ada dalam surah Yunus. Namun ayat dalam surah al-Baqarah ini di dalamnya terdapat min yang menurut para pakar menunjukkan arti “kurang lebih”. Akan tetapi tantangan tersebut belum juga terjawab, bahkan sampai sekarang tantangan tersebut masih berlaku dan juga belum ada jawaban atau balasan, karena hal itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia.

Pada zaman Nabi Muhammad pernah ada yang mengaku mendapat wahyu dan membuat syair yang menandingi al-Qur’an, namun juga tidak berhasil. Ia adalah Musailamah al-Kadzdzab. Syair yang ia buat adalah sebagai berikut:

الفيل,ما الفيل, وماادرك ماالفيل, له خرطوم طويل, وذنب اثيل, وماذاك من خلق ربنا بقليل.

Artinya: Gajah, Apa itu gajah?, Tahukah engkau apa gajah, Ia mempunyai belalai yang panjang, dan ekor yang mantab. Itu bukanlah bagian dari ciptaan Tuhan kita yang kecil.

Kalimat di atas jika dilihat sekilas, nampaknya dari segi bahasanya teratur. Namun itu hanya berlaku bagi orang yang tidak berilmu, karena setiap orang yang berilmu pasti tahu bahwa kata wa ma adraka itu dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang agung dan besar pengaruhnya, bukan dipakai untuk menunjukkan gajah. Apalagi dari segi arti dan makna yang tersurat di dalamnya. Apabila dilihat dari segi makna, maka kalimat di atas hanyalah nyanyian atau lagu anak kecil yang berjudul gajah. Maka dari itu, pada zaman dahulu tantangan untuk membuat yang seperti al-Qur’an belum ada jawaban dan tantangan tersebut tetap eksis dan berlanjut hingga masa sekarang ini.

Pada zaman sekarang atau era modern, tuduhan yang serupa muncul kembali dan itu terlontar dari kaum orientalist. Orientalist melontarkan tuduhan bahwa al-Qur’an bukan wahyu Tuhan dan merupakan karangan Muhammad. Di samping itu, ia juga mengatakan bahwa al-Qur’an merupakan percampuran unsur-unsur perjanjian lama, perjanjian baru, dan sumber-sumber lainnya termasuk pengaruh agama Yahudi. Itu semua merupakan tuduhan klasik yang sejak zaman Nabi Muhammad sudah pernah terlontarkan. Sebenarnya orang yang mengetahui sejarah Islam dengan rentetannya, ia akan tersenyum lebar menanggapi tuduhan tersebut.

Dari berbagai uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya banyak sekali tuduhan dan tantangan terhadap al-Qur’an dan juga wahyu yang lain yang keluar dari mulut orang yang tidak percaya adanya wahyu dan juga orang yang ingin menghancurkan Islam.

L.     Perbedaan al-Qur’an dengan Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi

Sebelum menjelaskan lebih lanjut mengenai perbedaan al-Qur’an dengan hadits qudsi dan hadits nabawi, maka terlebih dahulu akan penulis jelaskan pengertian term yang berkaitan dengan hadits maupun hadits qudsi.

Hadits dalam berbagai kalangan dan istilah sering disebut dengan sunnah, khabar, atsar. Keempat term tersebut ada yang mengartikan dengan arti yang sama dan ada yang mengartikan dengan arti yang berbeda. Sunnah, menurut etimologi adalah jalan atau tradisi baik itu terpuji atau tidak. Sedangkan khabar, secara etimologi berarti berita atau naba’ atau cerita. Sedangkan atsar secara etimologi adalah bekas atau sisa sesuatu.

Hadits secara bahasa adalah sesuatu yang baru yang merupakan lawan dari qadim, berita, lunak, dan lembut. Sedangkan secara istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan maupun sifat, baik ketika Nabi sedang tidur maupun tidak tidur, serta himmah. Sedangkan hadits qudsi adalah sesuatu yang oleh Nabi disandarkan kepada Allah. Maksudnya Nabi meriwayatkannya bahwa sesungguhnya itu adalah kalam Allah. Maka Nabi adalah orang yang meriwayatkan kalam Allah dan lafadhnya adalah dari Nabi.

Dari penjelasan di atas, dapat diambil beberapa perbedaan, antara lain:

  1. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada rasulullah dengan lafadhnya. Dan dengan itu pula orang Arab ditantang untuk membuat satu surah yang sama, akan tetapi tidak mampu melayaninya. Sedangkan hadits qudsi tidak menantang dan tidak bermukjizat juga lafadhnya tidak dari Allah. Apalagi hadits ada yang tauqifi ada yang taufiqi.
  2. Nisbat al-Qur’an kepada Allah jelas dengan kata-kata Allah berfirman, sedangkan nisbat hadits qudsi adalah nisbat yang dibuatkan. Sedangkan hadits Nabawi hanya dinisbatkan kepada Nabi Muhammad saja.
  3. Seluruh al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir sehingga kepastiannya mutlak. Sedangkan hadits dan hadits qudsi ada yang mutawatir ada yang tidak bahkan jika ditinjau ada yang termasuk kategori dhoif.
  4. Al-Qur’an lafadh dan makna dari Allah sedangkan hadits qudsi hanya makna yang dari Allah, apalagi hadits Nabawi sebagaimana dijelaskan di atas, ada yang tauqifi dan taufiqi.
  5. Membaca al-Qur’an bernilai ibadah tiap hurufnya, membaca hadits dan hadits qudsi hanya bernilai ibadah secara umum.

M.    Kesimpulan

Dari pembahasan yang dilakukan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Wahyu secara bahasa adalah proses pemberian informasi secara samar. Sedangkan secara istilah adalah pemberitahuan Tuhan kepada Nabi-Nya tentang hukum-hukum. Tuhan, berita-berita dan cerita-cerita dengan cara samar tapi meyakinkan kepada Nabi/Rasul yang bersangkutan, bahwa apa yang diterimanya adalah benar-benar dari Allah. Wahyu mempunyai beberapa fungsi antara lain: membantu manusia untuk meyakini barang yang ghaib, dan menguatkan pendapat akal.
  2. Cara Allah menurunkan wahyu kepada malaikat adalah dengan cara Jibril mendengarkan wahyu dari Allah dengan lafadh yang ditentukan.
  3. Allah menurunkan wahyu kepada rasul-Nya dengan cara langsung (direct) dan tidak langsung (indirect), yang secara langsung dengan ru’ya al-shalihah dan berbicara di belakang satir, sedangkan yang tidak langsung dengan melalui perantara malaikat Jibril.
  4. Cara malaikat memberikan wahyu kepada Rasul ada 4, antara lain: malaikat datang dengan membawa wahyu seperti gemerincingnya lonceng, malaikat menyerupai laki-laki dan ia datang dalam bentuk manusia, baik ketika Nabi sendiri maupun ketika bersama dengan para sahabatnya, kemudian ia membacakan wahyu kepada Nabi tersebut, malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi, Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi tidak berupa seorang laki-laki, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli.
  5. Wahyu hanya diberikan kepada para nabi dan rasul allah, sedangkan kasf diberikan kepada manusia yang telah mencapai derajat ma’rifat. Sedangkan sesuatu yang diberikan kepada manusia secara umum, itu berupa lintasan pikiran atau ilham, yang waktunya hanya sebentar.
  6. Al-Qur’an adalah firman Allah yang bermu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sesuai dengan redaksinya melalui malaikat Jibril, secara berangsur-angsur, yang ditulis dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan secara mutawatir dan bernilai ibadah bagi yang membacanya, yang dimulai dari surah al-fatihah dan diakhiri oleh surah al-nas.
  7. Dalam al-Qur’an, Allah menyebutkan beberapa nama dan sifat-sifat al-Qur’an.
  8. Kehujjahan al-Qur’an bersifat qat’i dan al-Qur’an sebagai sumber hukum utama.
  9. Persamaan antara wahyu dan al-Qur’an adalah al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah, bahkan merupakan wahyu yang terakhir yang diturunkan Allah kepada utusannya di muka bumi ini, karena Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang terakhir. Sedangkan perbedaannya adalah wahyu lebih umum daripada al-Qur’an.
  10. Respon dari golongan yang tidak mempercayai wahyu dari dulu sampai sekarang tetap ada dan mereka menuduh bahwa wahyu adalah buatan Muhammad. Mereka juga berusaha untuk menandingi wahyu al-Qur’an dan melakukan kritik terhadapnya.
  11. Terdapat beberapa perbedaan yang signifikan antara al-Qur’an dengan hadits qudsi dan hadits nabawi.

N.     Saran-Saran

Dari kesimpulan di atas, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:

  1. Hendaklah umat Islam mempertebal imannya dengan banyak membaca al-Qur’an dan juga mengamalkannya sebagai tuntunan hidup, agar nantinya mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  2. Hendaklah para akademisi mempelajari al-Qur’an dengan sungguh, karena banyak ilmu yang terilhami oleh al-Qur’an. Mungkin karena SDM para pakar pendidikan Islam belum dapat dikatakan memenuhi standar, maka dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam masih melakukan islamisasi.

DAFTAR RUJUKAN

Al-Alusi, Shihab al-Din, Tafsir Ruh al-Ma’ani, juz 1, Mauqi’u al-Tafasir: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Baidan, Nashiruddin, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Al-Baihaqi, Dalail al-Nubuwah, juz 8, Mauqi’u al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Al-Bukhari, Muhammad, Shahih al-Bukhari Juz 1, Mauqi’u al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Darmalaksana, Wahyudin, Hadits Dimata Orientalist:Telaah atas Pandangan Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht, Bandung: Benang Merah Press, 2004.

Al-Ghazali, Abu Hamid, al-Mustashfa, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Ibrahim, Farid Wajdi, Orientalisme dan Sikap Umat Islam, Yogyakarta: Lanarka Publisher, 2006.

Katsir, Abu al-Fida’ Isma’il Ibn, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, juz 6, Mauqi’u al-Tafasir: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Khallaf, Abdul Wahab, Ilmu Ushul Fiqih, Kairo: Maktabah Dakwah al-Islamiyah, 1990.

Al-Khatib, Muhammad Ajaj, Ushul al-Hadits Ulumuhu wa Mustholahuhu, Beirut: Dar al-Fikr, 2006.

Khon, Abdul Majid, Ulumul Hadis, Jakarta:Bumi Aksara, 2008.

Mufidah, Lukluk Nur, “Al-Qur’an Sebagai Sumber Konsep Pendidikan Islam”, dalam Ta’allum Jurnal Pendidikan Islam, Vol.29.No.1.

Munah, Yudhi, “Sumber-Sumber Tafsir” dalam Alfatih Suryadilaga, Metodologi Ilmu Tafsir, Sleman: Teras, 2005.

Munawwir, Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Surabaya: Pustaka Progresif, 2002.

Nurkholis, Pengantar Studi Al-Qur’an, Yogyakarta: Teras, 2008.

Qattan, Mana’ Khalil, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Mesir: Dar al-Mantsurat al-‘Asr al-Hadits, tt.

Qattan, Manna’ Khalil, Tarikh al-Tasyri’ al-Islamy: al-Tasyri’ wa al-Fiqh, Riyadh: Maktabah al-Ma’arif li al-Nashr Wa al-Tauzig, 1996.

Al-Shalih, Subhi, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Beirut: Dar al-Ilm Lil Malayin, 1988.

Al-Shalih, Subhi, Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu, Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1988.

Shihab, Quraish, Lentera Al-Qur’an: Kisah dan Hikmah Kehidupan, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008.

Shihab, Quraish, Membumikan al-Qur’an, Bandung: Mizan Pustaka, 1994.

Shihab, Quraish, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Ghaib, Jakarta: PT Mizan Pustaka, 2007.

Shoim, Moh, Buku Ajar Ulumul Hadits, Tulungagung: Diktat tidak diterbitkan, 2000.

Al-Suyuthi, Jalal al-Din, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2004.

Al-Tazi, Mustofa Amin Ibrahim, Muhadharat fi Ulum al-Hadits, Kairo: Matba’ah Dar al-Tasrif, 1971.

Thahan, Mahmud, Taisir Musthalah al-Hadits, Surabaya: al-Haramain, tt.

Zaid, Nasr Hamid Abu, Mafhum al-Nash Dirasah fi Ulum al-Qur’an (Tekstualitas al-Qur’an: Kritik terhadap Ulumul Qur’an), terj.Khoiron Nahdliyin, Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2005.

Al-Zarkasy, Badaruddin Muhammad bin Abdillah, Bahrul Mukhith juz 2, Mauqi’u al-Islam: dalam Software Maktabah Samilah, 2005.

Al-Zarkasyi, Badaruddin, al-Burhan fi ulum al-Qur’an, Bairut: Dar al Fikr, 1988.

Al-Zarqani, Muhammad Abdul ‘Adhim, Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Qur’an, Kairo: Dar al-Hadits, 2001.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers

%d bloggers like this: