HUKUM NIKAH TANPA WALI


HUKUM NIKAH TANPA WALI

(Paradigma Modern yang Sering terjadi di Tengah Masyarakat dalam Perspektif Ilmu Fiqih Munakahah)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.     Latar Belakang

Pada tahun-tahun terakhir ini islam telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Selama 20 tahun terakhir, jumlah kaum Muslim di dunia telah meningkat secara perlahan. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia adalah 500 juta; sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar. Kini, setiap empat orang salah satunya adalah Muslim. Bukanlah mustahil bahwa jumlah penduduk Muslim akan terus bertambah dan Islam akan menjadi agama terbesar di dunia. Peningkatan yang terus-menerus ini bukan hanya dikarenakan jumlah penduduk yang terus bertambah di negara-negara Muslim, tapi juga jumlah orang-orang mualaf yang baru memeluk Islam yang terus meningkat, suatu fenomena yang menonjol, terutama setelah serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 11 September 2001. Serangan ini, yang dikutuk oleh setiap orang, terutama umat Muslim, tiba-tiba saja telah mengarahkan perhatian orang (khususnya warga Amerika) kepada Islam. Orang di Barat berbicara banyak tentang agama macam apakah Islam itu, apa yang dikatakan Al Qur’an, kewajiban apakah yang harus dilaksanakan sebagai seorang Muslim, dan bagaimana kaum Muslim dituntut melaksanakan urusan dalam kehidupannya. Ketertarikan ini secara alamiah telah mendorong peningkatan jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam.                                                       Demikianlah, perkiraan yang umum terdengar pasca peristiwa 11 September 2001 bahwa “serangan ini akan mengubah alur sejarah dunia”, dalam beberapa hal, telah mulai nampak kebenarannya. Proses kembali kepada nilai-nilai agama dan spiritual, yang dialami dunia sejak lama, telah menjadi keberpalingan kepada Islam.

Hal luar biasa yang sesungguhnya sedang terjadi dapat diamati ketika kita mempelajari perkembangan tentang kecenderungan ini, yang mulai kita ketahui melalui surat-surat kabar maupun berita-berita di televisi. Perkembangan ini, yang umumnya dilaporkan sekedar sebagai sebuah bagian dari pokok bahasan hari itu, sebenarnya adalah petunjuk sangat penting bahwa nilai-nilai ajaran Islam telah mulai tersebar sangat pesat di seantero dunia. Di belahan dunia Islam lainnya, Islam berada pada titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak tesis, laporan, dan tulisan seputar “kedudukan kaum Muslim di Eropa” dan “dialog antara masyarakat Eropa dan umat Muslim.” Beriringan dengan berbagai laporan akademis ini, media massa telah sering menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim. Penyebab ketertarikan ini adalah perkembangan yang terus-menerus mengenai angka populasi Muslim di Eropa, dan peningkatan ini tidak dapat dianggap hanya disebabkan oleh imigrasi. Meskipun imigrasi dipastikan memberi pengaruh nyata pada pertumbuhan populasi umat Islam, namun banyak peneliti mengungkapkan bahwa permasalahan ini dikarenakan sebab lain: angka perpindahan agama yang tinggi. Suatu kisah yang ditayangkan NTV News pada tanggal 20 Juni 2004 dengan judul “Islam adalah agama yang berkembang paling pesat di Eropa” membahas laporan yang dikeluarkan oleh badan intelejen domestik Prancis. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di negara-negara Barat semakin terus bertambah, terutama pasca peristiwa serangan 11 September. Misalnya, jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di Prancis meningkat sebanyak 30 hingga 40 ribu di tahun lalu saja.

Gereja Katolik Roma, yang berpusat di kota Vatican, adalah salah satu lembaga yang mengikuti fenomena tentang kecenderungan perpindahan agama. Salah satu pokok bahasan dalam pertemuan bulan Oktober 1999 muktamar gereja Eropa, yang dihadiri oleh hampir seluruh pendeta Katolik, adalah kedudukan Gereja di milenium baru. Tema utama konferensi tersebut adalah tentang pertumbuhan pesat agama Islam di Eropa. The National Catholic Reporter melaporkan sejumlah orang garis keras menyatakan bahwa satu-satunya cara mencegah kaum Muslim mendapatkan kekuatan di Eropa adalah dengan berhenti bertoleransi terhadap Islam dan umat Islam; kalangan lain yang lebih objektif dan rasional menekankan kenyataan bahwa oleh karena kedua agama percaya pada satu Tuhan, sepatutnya tidak ada celah bagi perselisihan ataupun persengketaan di antara keduanya. Dalam satu sesi, Uskup Besar Karl Lehmann dari Jerman menegaskan bahwa terdapat lebih banyak kemajemukan internal dalam Islam daripada yang diketahui oleh banyak umat Nasrani, dan pernyataan-pernyataan radikal seputar Islam sesungguhnya tidak memiliki dasar.

Mempertimbangkan kedudukan kaum Muslim di saat menjelaskan kedudukan Gereja di milenium baru sangatlah tepat, mengingat pendataan tahun 1999 oleh PBB menunjukkan bahwa antara tahun 1989 dan 1998, jumlah penduduk Muslim Eropa meningkat lebih dari 100 persen. Dilaporkan bahwa terdapat sekitar 13 juta umat Muslim tinggal di Eropa saat ini: 3,2 juta di Jerman, 2 juta di Inggris, 4-5 juta di Prancis, dan selebihnya tersebar di bagian Eropa lainnya, terutama di Balkan. Angka ini mewakili lebih dari 2% dari keseluruhan jumlah penduduk Eropa.

Penelitian terkait juga mengungkap bahwa seiring dengan terus meningkatnya jumlah Muslim di Eropa, terdapat kesadaran yang semakin besar dalam menjalankan agama di kalangan para mahasiswa. Menurut survei yang dilakukan oleh surat kabar Prancis Le Monde di bulan Oktober 2001, dibandingkan data yang dikumpulkan di tahun 1994, banyak kaum Muslims terus melaksanakan sholat, pergi ke mesjid, dan berpuasa. Kesadaran ini terlihat lebih menonjol di kalangan mahasiswa universitas.

Dalam sebuah laporan yang didasarkan pada media masa asing di tahun 1999, majalah Turki Aktüel menyatakan, para peneliti Barat memperkirakan dalam 50 tahun ke depan Eropa akan menjadi salah satu pusat utama perkembangan Islam.

Bersamaan dengan kajian sosiologis dan demografis ini, kita juga tidak boleh melupakan bahwa Eropa tidak bersentuhan dengan Islam hanya baru-baru ini saja, akan tetapi Islam sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Eropa.

Eropa dan dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad-abad. Pertama, negara Andalusia (756-1492) di Semenanjung Iberia, dan kemudian selama masa Perang Salib (1095-1291), serta penguasaan wilayah Balkan oleh kekhalifahan Utsmaniyyah (1389) memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua masyarakat itu. Kini banyak pakar sejarah dan sosiologi menegaskan bahwa Islam adalah pemicu utama perpindahan Eropa dari gelapnya Abad Pertengahan menuju terang-benderangnya.

Perkembangan Islam juga tercerminkan dalam perkembangan dialog antar-agama baru-baru ini. Dialog-dialog ini berawal dengan pernyataan bahwa tiga agama monoteisme (Islam, Yahudi, dan Nasrani) memiliki pijakan awal yang sama dan dapat bertemu pada satu titik yang sama. Dialog-dialog seperti ini telah sangat berhasil dan membuahkan kedekatan hubungan yang penting, khususnya antara umat Nasrani dan Muslim. Dalam Al Qur’an, Allah memberitahukan kepada kita bahwa kaum Muslim mengajak kaum Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi) untuk bersatu pada satu pijakan yang disepakati bersama:

قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ(64)

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali ‘Imran, 3: 64)

Kebangkitan Islam yang sedang dialami dunia saat ini, serta peran Turki di era baru merupakan tanda-tanda penting bahwa masa yang dikabarkan dalam Al Qur’an dan dalam hadits Nabi kita sangatlah dekat. Besar harapan kita bahwa Allah akan memperkenankan kita menyaksikan masa yang penuh berkah ini.

Akan tetapi dibalik perkembangan islam yang demikian pesat tersebut terdapat masalah amaliah baru yang harus dicari kebenaran perbuatan atau amaliah tersebut dengan cara ijtihad, karena perkembangan islam yang demikian pesat tersebut telah membawa perkembangan pemikiran tanpa didasari oleh dalil yang ada. Contoh amaliah yang banyak terjadi di saat ini adalah banyaknya wanita yang menikah tanpa adanya wali, padahal walinya tersebut ada atau maujud. Hal itu dikarenakan wanita zaman sekarang hanya menuruti hawa nafsunya saja, sehingga tidak memperdulikan yang namanya wali. Dan hal itu masih menjadi polemik yang hangat untuk dibicarakan.

Maka dari itu saya akan mengungkap seputar pernikahan yang dilakukan tanpa wali dengan didasari studi mar’ah rasayidah yang mampu menikahkan dirinya sendiri, hukum pernikahan tersebut dan hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan tanpa wali tersebut, yang kami ambil dari berbagai literatur kitab fiqih berbagai madzhab untuk menunjang pengetahuan pembaca tentang pandangan berbagai madzhab mengenai pernikahan tersebut.

B.     Pengertian Nikah

Secara bahasa nikah dapat diartikan dengan arti berkumpul, atau al jam’u. Menurut versi lain dapat berarti akad, wathi(masuknya alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin perempuan). Sedangkan menurut syara’ (istilah) ialah suatu akad atas manfaat alat kelamin dengan syarat dan rukun tertentu.

Sedangkan arti lain nikah menurut Khotib Syarbini adalah akad yang menyimpan kebolehan wathi dengan lafadh nikah atau tazwij atau terjemahannya.

Kata-kata menyimpan mengandung arti istilzam bukan sesuatu yang cocok dengan lafadhnya. Arti sebenarnya yaitu milik untuk diambil manfaat bukan memiliki manfaatnya. Sedangkan kata-kata dengan lafadh nikah atau tazwij memberi arti yaitu harus memakai lafadh nikah atau tazwij atau terjemahan dari keduanya ke bahasa manapun, selain kedua lafadh tersebut atau terjemahan dari keduanya  maka akad nikah tersebut tidak sah. Dan juga mengecualikan dari penjualan budak wanita untuk diambil manfaat alat kelaminnya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam al Qur’an yaitu:

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(230)

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. (Q.S. al-Baqarah: 230).

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ ءَابَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا(22)

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (Q.S. an Nisa’: 22)

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ(32)    وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَءَاتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي ءَاتَاكُمْ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ(33)

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu). (Q.S. an Nur: 32-33).

Ayat-ayat tersebut memberikan isyarah arti lafadh nikah yaitu akad yang mengikat antara dua manusia untuk intifa’ alat kelamin. Sedangkan hadist yang menunjukkan tentang nikah adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ كُنْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ فَلَقِيَهُ عُثْمَانُ بِمِنًى فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً فَخَلَوَا فَقَالَ عُثْمَانُ هَلْ لَكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي أَنْ نُزَوِّجَكَ بِكْرًا تُذَكِّرُكَ مَا كُنْتَ تَعْهَدُ فَلَمَّا رَأَى عَبْدُ اللَّهِ أَنْ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى هَذَا أَشَارَ إِلَيَّ فَقَالَ يَا عَلْقَمَةُ فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ أَمَا لَئِنْ قُلْتَ ذَلِكَ لَقَدْ قَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

Umar bin Hafs menceritakan kepadaku, ayahku bercerita kepadaku, A’mas bercerita kepadaku, dia berkata Ibrahim bercerita kepadaku dari Alqamah, dia berkata Saya bersama Abdullah, kemudian Ustman bertemu dengan dia di Min, kemudian dia berkata; Hai abu Abdurohman sesungguhnya aku ada perlu denganm, kemudian mereka berdua menyepi, kemudian Ustman berkata: Apakah kamu mau jika kunikahkan dengan seorang perawan yang akan mengingatkanmu ketika kamu berjanji, kemudian ketika Abdullah berpikir bahwa dalam dirinya tidak terdapat kebutuhan untuk ini maka ia memberi isyarat kepadaku, Hai Alqamah aku sudah selesai dengannya, ia berkata, apabila kamu berkata demikian maka Nabi telah bersabda Hai orang yang mempunyai masa remaja, jika kamu telah mampu untuk memberi biaya, maka menikahlah dan jika kamu belum mampu maka berpuasalah, karena sesungguhnya itu adalah obat atau pencegah.

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ الطَّوِيلُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.

Said bin Abi Maryam menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepadaku, Humaid bin Abu Humaid at Thowil menceritakan kepadaku, dia mendengar Anas Bin Malik berkata, Tiga kelompok datang kerumah istri Nabi untuk bertanya tentang ibadah Nabi, ketika mereka diberi khabar seolah-olah mereka berkata demikian, mereka berkata, dimana Nabi yang telah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, salah satu diantara mereka berkata, saya selalu sholat setiap malam penuh, yang lainnya berkata saya selalu berpuasa setahun penuh dan tidak pernah tidak berpuasa, yang lainnya berkata saya mengasingkan diri dari wanita dan tidak menikah selamanya, kemudian Nabi datang kepada mereka kemudian berkata kamu adalah orang yang kamu ucapkan demikian dan demikian ingatlah demi Allah saya ini paling takut kepada allah dan paling bertaqwa kepadaNya, akan tetapi saya berpuasa dan saya juga tidak berpuasa dan sholat dan tidur dan juga saya menikah dengan wanita, barang siapa yang benci terhadap sunnahku, maka bukan termasuk golonganku.

Ta’rif di atas juga mengecualikan nikah mut’ah yaitu perkawinan antara seorang lelaki dan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang berakhir dengan habisnya masa tersebut, di mana suami tidak berkewajiban memberikan nafkah, dan tempat tinggal kepada istri, serta tidak menimbulkan pewarisan antara keduanya.

Ada enam perbedaan prinsip antara nikah mut’ah dan nikah sunnim (syar’I) : Nikah mut’ah dibatasi oleh waktu, nikah sunni tidak dibatasi oleh waktu. Nikah mut’ah berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan dalam akad atau fasakh, sedangkan nikah sunni berakhir dengan talaq atau meninggal dunia. Nikah mut’ah tidak berakibat saling mewarisi antara suami istri, nikah sunni menimbulkan pewarisan antara keduanya. Nikah mut’ah tidak membatasi jumlah istri, nikah sunni dibatasi dengan jumlah istri hingga maksimal empat orang. Nikah mut’ah dapat dilaksanakan tanpa wali dan saksi,nikah sunni harus
dilaksanakan dengan wali dan saksi. Nikah mut’ah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri.

Dalil diharamkannya nikah mut’ah adalah hadist berikut:

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ أَنَّهُ سَمِعَ الزُّهْرِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ وَأَخُوهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِمَا أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ.

Malik bin Ismail menceritakan kepadaku, Ibn Uyainah menceritakan kepadaku sesungguhnya dia mendengar Zuhry berkata Hasan bin Muhammad bin Ali dan saudaranya Abdullah bin Muhammad menceritakan kepadaku dari ayahnya, sesungguhnya Ali berkata kepada Ibn Abbas sesungguhnya Nabi melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khaibar.

Sedangkan pendapat para ulama mengenai nikah mut’ah adalah sebagai berikut: Dari Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya mengatakan, “Nikah mut’ah ini batil menurut kami.”

Demikian pula Imam Ala al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya mengatakan, “Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, ‘yaitu nikah mut’ah”.

Dari  Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya mengatakan, “Hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut’ah mencapai peringkat mutawatir.” Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) mengatakan, “apabila seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil.”

Dari  Syafi’I, Imam Al-Syafi’I (wafat 204 H) dalam kitabnya Al-Umm  mengatakan, “Nikah mut’ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang,
seperti ucapan seorang laki-laki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu
selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan”. Sementara itu Imam Nawawi
(wafat676 H) dalam kitabnya mengatakan, “Nikah mut’ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu.”

Dari Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya
mengatakan, “Nikah mut’ah ini adalah nikah yang batil.” Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah haram.

Jadi kesimpulannya nikah mut’ah tersebut tidak sah dan haram dilakukan. Dari beberapa pendapat yang pernah saya temui, yang membolehkan nikah mut’ah adalah dari golongan syiah yang dikenal dengan madzhab fiqih imamiyah dan zaidiyah, dan hal itu tidak dapat dijadikan acuan hukum, karena kita beraliran ahlus sunnah.

C.     Rukun-Rukun Nikah

Sebelum kita menentukan keabsahan atau hukum dari pernikahan yang dilakukan tanpa wali, maka hendaknya kita melihat dahulu rukun-rukun nikah.

Rukun nikah menurut ulama Hanafiyah adalah ijab yaitu lafadh yang keluar dari seorang wali atau orang yang menduduki kedudukannya. Dan qabul yaitu lafadh yang keluar dari seorang suami. Sedangkan menurut ulama malikiyah dalam nikah terdapat lima rukun, yaitu:

  1. Wali bagi wanita dengan syarat yang akan disebutkan dibelakang. Maka akad nikah tidak sah tanpa adanya wali.
  2. Maskawin
  3. Suami
  4. Istri, disyaratkan bagi keduanya bebas dari larangan syara’ seperti ihram dan iddah.
  5. Sighat.

Menurut ulama Syafi’iyah rukun nikah ada lima yaitu: suami, istri, wali, shighat yaitu ijab dan qabul, dan dua orang saksi. Sedangkan dalam Hanabilah rukun nikah sama dengan yang disebutkan oleh dua madzhab tadi.

Perbedaan ulama dalam menentukan rukun nikah, dikarenakan perbedaan hadist dan pemahaman masing-masing ulama, ada yang mengatakan bahwa wali atau saksi tersebut hanya menjadi syarat bukan rukun dan perempuan yang mukafa’ah mampu untuk menikahkan dirinya sendiri dan ada yang mengatakan bahwa hal itu merupakan rukun yang harus ada dalam sebuah akad nikah.

Saya disini tidak membicarakan syarat yang harus dimiliki atau ada pada setiap rukun karena akan menjadi tidak etis dan tidak sesuai dengan judul dan tema yang telah ditentukan. Saya  menghadirkan rukun disini hanya sekedar pemberitahuan dan sebagai acuan untuk menentukan hukum yang akan saya tentukan yang pada dasarnya masih berkaitan dengan rukun tersebut.

D.     Syarat-Syarat Seorang Wali

Sebelum mengetahui lebih jauh mengenai syarat-syarat seorang wali maka terlebih dahulu memahami pengertian wali yaitu orang yang berdiri sebagai prasyarat untuk sahnya akad nikah, dapat berupa ayah, kakek dan lain-lain.

Syarat-syarat untuk menjadi seorang wali adalah:

¥ Islam, hal ini merupakan syarat wali apabila orang yang dinikahkan tersebut muslimah, akan tetapi jika yang dinikahkan kafiroh maka hal ini tidak menjadi syarat. Adapun jika dua orang saksi, islam merupakan syarat dari hal tersebut, baik orang yang dinikahkan tersebut muslimah, kafiroh dzimmi karena kafir tersebut tidak ahli untuk dijadikan saksi.

¥ Baligh.

¥ Berakal, maka tidak ada kewalian bagi anak kecil dan orang gila, karena keduanya bukan ahli sahadah.

¥ Merdeka, maka tidak ada kewalian bagi seorang hamba walaupun itu merupakan hamba muba’ad.

¥ Laki-laki, maka perempuan tidak sah untuk menjadi wali.

¥ Adil, dapat menjauhkan diri dari dosa besar dan dosa kecil yang terus menerus. Maka orang yang fasiq tidak sah untuk dijadikan wali dan saksi baik hal itu untuk anaknya sendiri ataupun dia bertindak sebagai wali mujbir. Baik fasiqnya tersebut dikarenakan minum arak atau yang lain, baik fasiqnya tersebut jelas kelihatan atau samar-samar.

¥ Dalam keadaan ihtiyar, maka tidak sah jika wali tersebut dipaksa.

¥ Tidak sedang menjalani ibadah haji atau ihram, maka orang yang sedang ihram tidak boleh untuk menjadi wali atau saksi.

E.     Urutan-Urutan Wali

Dalam kewalian yang terdapat pada akad nikah, terdapat urutan wali yang masing-masing dalam hak menikahkan seorang calon istri berbeda-beda apabila semuanya berkumpul. Adapun urutan wali adalah sebagai berikut:

  1. Ayah
  2. Kakek atau ayah dari ayah, walaupun ke atas, karena ketertentuannya dalam ashobah. Hal ini mengecualikan kakek dari pihak ibu, karena kakek dari pihak Ibu tidak mendapat bagian ashobah.
  3. Saudara laki-laki kandung
  4. Saudara  laki-laki seayah.
  5. Anak laki-laki saudara laki-laki kandung.
  6. Anak laki-laki saudara laki-laki seayah.
  7. Paman kandung (saudara laki-laki kandung ayah).
  8. Paman seayah (saudara laki-laki seayah dari pihak ayah).
  9. Anak laki-laki dari pihak paman.
  10. al Maula.
  11. jika semua tidak ada maka walinya adalah hakim.

Jika semua wali berkumpul, maka wali yang jauh tidak boleh menikahkan, jika wali yang dekat masih ada. Jika tetap menikahkan, maka akad nikahnya tidak sah (pendapat as Syafi’i) kecuali terdapat beberapa sebab yang tersendiri, antara lain:

v  Wali yang lebih dekat tersebut masih kecil, misalnya antara paman dengan saudara laki-laki kandung ayah, saudara laki-laki tersebut masih kecil, maka paman boleh menikahkan wanita tersebut.

v  Wali yang lebih dekat gila, walaupun gilanya putus-putus. Akan tetapi jika gilanya putus-putus disyaratkan ketika sedang mengalami gila.

v  Wali yang dekat tersebut fasiq, misalnya seorang ayah yang fasiq.

v  Sedang mengalami pengampuan.

v  Penglihatannya cacat karena sakit.

v  Agamanya berbeda dengan agama perempuan yang akan menikah.

v  Sedang ihram untuk ibadah haji dan umrah.

Jika keadaannya demikian, maka wali yang jauh boleh menikahkan perempuan tersebut namun tetap masih mengikuti urutan yang telah ditetapkan.

Sedangkan Imam Malik membedakan antara urutan wali mujbir dan wali ghairu mujbir. Urutan wali mujbir bersifat wajib sedangkan urutan wali ghairu mujbir sifatnya sunnah. Maka jika ada wali yang jauh yang menikahkan sedangkan wali yang lebih dekat ada, asalkan bukan wali  mujbir maka nikahnya sah.

Sedangkan Hanafiyah mengatakan bahwa urutan wali tersebut bersifat dhoruri. Hal itu dikarenakan Hanafiyah tidak menyaratkan adanya wali dalam akad nikah, cukup ijab dan qabul saja. Hanabilah mengatakan bahwa urutan wali tersebut adalah wajib dan harus dipenuhi. Kecuali terdapat beberapa sebab yang meniadakan kewajiban.

Jadi pada intinya urutan wali tersebut wajib dilaksanakan atau harus ditepati, kecuali ada beberapa sebab yang membuat kita tidak dapat menepati urutan tersebut. Karena sesuai dengan kaidah ushuliyah yang sudah berkembang di kalangan para ulama yaitu kemadharatan itu dapat dihilangkan.

F.      Hukum Nikah Tanpa Wali

Sebelum saya menyebutkan mengenai perspektif para ulama tentang pernikahan yang dilakukan tanpa wali, terlebih dahulu akan saya tampilkan ayat-ayat dan hadist yang ditafsiri dan merupakan isyaroh bahwa wali merupakan salah satu dari rukun akad nikah yang harus dipenuhi dalam adanya akad nikah. Adapun perbedaan pendapat para ulama, dikarenakan perbedaan pemahaman dan hadist yang diterima, apakah hadist tersebut shohih atau tidak.

Adapun ayat dari al Qur’an yang menunjukkan isyaroh tentang wali adalah sebagai berikut:

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكُمْ أَزْكَى لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ(232)

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma`ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S. al-Baqarah: 232).

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ(234)

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis `iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.(Q.S. al-Baqarah:234).

Imam Qurtubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa dua ayat tersebut merupakan khitob pada wali agar menikahkan anak perempuannya.

Sedangkan hadits yang menunjukkan bahwa pernikahan harus dilakukan dengan wali antara lain:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ حُبَابٍ عَنْ يُونُسَ بْنِ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ وَأَنَسٍ

Ali bin Hujr menceritakan kepadaku, Suraik bin Abdullah menceritakan kepadaku dari Abu Ishaq, Qutaibah menceritakan kepadaku, Abu ‘awanah menceritakan kepadaku dari Abu Ishaq, Muhammad bin Yasar menceritakan kepadaku, Abdurrohman bin Mahdi menceritakan kepadaku dari Ismail dari Abu Ishaq, Abdullah bin Ziyad menceritakan kepadaku, Zaid bin Hubab menceritakan kepadaku dari Yunus bin Abi Ishaq, dari Abu Ishaq dari Burdah dari Abu Musa, dia berkata: Nabi SAW bersabda tidak ada nikah kecuali dengan wali. Rowi berkata dalam bab ini dari Aisah dan Ibn Abbas dan Abu Hurairah dan Imron bin Husain dan Anas.

حَدَّثَنَا جَمِيلُ بْنُ الْحَسَنِ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْوَانَ الْعُقَيْلِيُّ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلَا تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا فَإِنَّ الزَّانِيَةَ هِيَ الَّتِي تُزَوِّجُ نَفْسَهَا.

Khumail bin Hasan al ‘athaqi menceritakan kepadaku, Muhammad bin Marwan al ‘uqaili menceritakan kepadaku, Hisam bin Hassan menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Siirin dan Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: janganlah perempuan menikahkan perempuan dan perempuan menikahkan dirinya sendiri, maka sesungguhnya zina adalah orang yang menikahkan dirinya sendiri.

Setelah ini akan saya tampilkan pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan.

Menurut Syafi’iyah dalam kitab khasiyah Qulyubi mengatakan janganlah seorang wanita menikahkan dirinya sendiri baik dengan izin dari walinya maupun tanpa izin dari walinya. Hal ini mengindikasikan hadirnya wali dalam akad tersebut hukumnya wajib.

Menurut madzhab Dhahiri, orang perempuan tidak boleh menikahkan dirinya sendiri baik perawan maupun janda, akan tetapi harus dengan izin dari walinya. Apabila ia sudah meminta izin kemudian ayahnya tidak mengizinkan, maka yang berhak menikahkan adalah sultan. Akan tetapi ada yang mengatakan bahwa madzhab ini membedakan antara perawan dengan janda, bila perawan harus dengan izin walinya, sedangkan janda tanpa izin dari walinya.  Hal ini menunjukkan bahwa madzhab ini tidak mensyaratkan hadirnya wali dalam akad nikah, akan tetapi cukup dengan izinnya saja.

Sedangkan madzhab Zaidi, berpendapat sama dengan madzhab Dhohiri yaitu perawan harus dengan izin walinya sedangkan janda itu lebih berhak terhadap dirinya sendiri. Jadi hadist yang menunjukkan tidak ada akad nikah tanpa adanya wali tidak dijalankan mutlak begitu saja, akan tetapi digabungkan dengan hadist yang menerangkan bahwa janda itu lebih berkuasa atas dirinya sendiri.

Sedangkan madzhab Maliki dan Hanbali yang berpendapat bahwa wali merupakan salah satu dari rukun nikah mengatakan bahwa nikah tidak sah tanpa hadirnya wali. Akan tetapi dari pihak Malikiyah ada yang mengatakan bahwa wali bukan termasuk rukun akan tetapi merupakan syarat, karena ada sebelum aqad terjadi.

Sedangkan Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Akan tetapi jika perempuan tersebut bodoh, maka harus dinikahkan oleh walinya. Batasan pandai disini tidak membedakan perawan maupun janda.

Jadi pada intinya menurut pendapat saya pernikahan yang dilakukan tanpa adanya wali tersebut tidak boleh, karena dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika pembaca bermadzhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan madzhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng, sedangkan madzhab saya adalah Syafi’iyah.

Jika terjadi  pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah madzhab. Wallahu a’lam bisshowab.

G.     Kesimpulan

  1. Nikah adalah suatu akad atas manfaat alat kelamin dengan syarat dan rukun tertentu.
  2. Rukun nikah antara lain suami, istri, wali, shighat yaitu ijab dan qabul, dan dua orang saksi.
  3. Syarat-syarat seorang wali: islam, laki-laki baligh, merdeka, adil, berakal, dalam keadaan ihtiyar, tidak dalam keadaan ihram atau mahjur.
  4. Ayah, Kakek, Saudara laki-laki kandung, Saudara  laki-laki seayah, Anak laki-laki saudara laki-laki kandung, Anak laki-laki saudara laki-laki seayah, Paman kandung (saudara laki-laki kandung ayah), Paman seayah (saudara laki-laki seayah dari pihak ayah), Anak laki-laki dari pihak paman, al Maula. Hakim.
  5. Hukum pernikahan tanpa wali tersebut para ulama sependapat tidak sah, kecuali Hanafiyah.

H.     Saran

Janganlah seseorang berpindah-pindah madzhab, karena hal itu akan mengakibatkan salah yang fatal jika tidak tahu batasannya. Dan janganlah merasa mampu karena hal itu sangatlah dibenci oleh Allah.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers

%d bloggers like this: