PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA


PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

 

Pengantar

Psikologi agama merupakan cabang dari ilmu jiwa atau psikologi yang membahas jiwa tetapi digabungkan atau diberi nilai-nilai keagamaan, baik dari agama islam ataupun non islam. Sebelum menjadi ilmu yang mandiri psikologi agama telah mengalami perkembangan dan memiliki latar belakang layaknya ilmu pengetahuan yang lain.

Memang agak sulit dalam menetapkan kapan ilmu ini mulai berkembang, tetapi pada asalnya semua ilmu tersebut berasal dari filsafat, yang merupakan akar dari segala ilmu. Sebelum kita mulai membahas tentang sejarah perkembangan psikologi, hendaklah kita menoleh ke belakang, untuk melihat dahulu apa yang dimaksud dengan psikologi agama.

Psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari tentang yang berlandaskan agama, untuk menyelidiki teori-teorinya dipadukan dengan pengetahuan agama. Psikologi ini bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan  dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang dipungut dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan.

Di atas sudah diterangkan bahwa sebelum menjadi ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki latar belakang sejarah yang cukup lama. Karena itu, psikologi agama dinilai sebagai cabang ilmu psikologi yang masih muda, akan tetapi sudah mengalami perkembangan yang signifikan. Kami akan mencoba membahas tentang sejarah ilmu psikologi agama beserta perkembangannya dengan bantuan literatur yang ada yang sudah kami temukan.

Sejarah Perkembangan Psikologi Agama

Sebelum membahas lebih jauh mengenai sejarah perkembangan psikologi agama, kita mulai dahulu dengan sejarah psikologi. Pada mulanya psikologi merupakan bagian dari ilmu filsafat yang merupakan induk dari segala ilmu. Perkembangan psikologi dimulai dari masa Yunani kuno, yang pada masa itu masih dipegang atau menjadi kajian filsafat pada masa itu. Kemudian dilanjutkan psikologi masuk ke wilayah filsafat islam yang tokohnya antara lain: Ibn Sina, al Ghazali, dan lain-lain. Pada fase yang berikutnya psikologi masuk ke dunia barat, yaitu Eropa, yang tokohnya seperti: Paul Broca, dan lain-lain. Setelah masa Wilhem Wundt, psikologi lahir menjadi ilmu yang berdiri sendiri.

Untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama mulai dipelajari memang terasa agak sulit. Namun demikian, walaupun tidak secara lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi ruang lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melalui informasi kitab suci maupun sejarah agama.

Hal tersebut dikarenakan tidak adanya bukti yang jelas yang mengungkap hal tersebut. Dalam hal ini kita hanya memperkirakan dari hasil kajian psikologi agama yang berasal dari kitab suci. Baik dari agama islam maupun non-islam, dalam pengaruhnya terhadap psikologi agama tidak ada perbedaan.

Perjalanan hidup Sidharta Gautama dari seorang putra raja Kapilawastu yang bersedia mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk menjadi seorang pertapa menunjukkan bagaimana kehidupan batin yang dialaminya dalam kaitan dengan keyakinan agama yang dianutnya. Proses perubahan arah keyakinan agama ini mengungkapkan pengalaman keagamaan yang mempengaruhi diri tokoh agama budha. Dan proses itu kemudian dalam psikologi agama disebut dengan konversi agama. Proses yang hamper serupa dilukiskan pula dalam Al-Qur’an tentang cara Nabi Ibrahim,as memimpin umatnya untuk bertauhid kepada Allah.

Pada waktu itu Nabi Ibrahim kebingungan mencari Tuhannya yang patut untuk ia sembah. Ia bertafakkur untuk memikirkan siapa sebenarnya Tuhannya. Setelah lama sekali bertafakkur ia kemudian mendapat wahyu yaitu Tuhan yang berhak ia sembah ialah Allah. Hal itu walaupun dilukiskan dalam kitab suci merupakan konversi agama.

Informasi mengenai proses dan peristiwa keagamaan juga dapat dijumpai dalam pendewaan bangsa Jepang terhadap kaisar mereka. Mitos agama Shinto yang menempatkan kaisar Jepang sebagai keturunan Dewa Matahari (Amiterasu Omi Kami) telah pula mempengaruhi sikap keberagamaan yang khas pada bangsa Jepang.

Berdasarkan sumber Barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi agama mulai populer sekitar abad ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berpikir dan mengemukakan perasaan keagamaan.

Menurut Thoules, sejak terbitnya buku The Varieties of Religious Experience tahun 1903, sebagai kumpulan dari materi kuliah William James di empat Universitas di Skotlandia, maka langkah awal dari kajian psikologi agama mulai diakui para ahli psikologi dan dalam jangka waktu tiga puluh tahun kemudian, banyak buku-buku lain diterbitkan sejalan dengan konsep-konsep yang serupa.

Diantara buku-buku tersebut adalah The Psichology of Religion karangan E.D Starbuck, yang mendahului karangan William James. Buku E.D Starbuck yang terbit tahun 1899 ini kemudian disusul sejumlah buku lainnya seperti The Spiritual Life Oleh George Albert Coe, tahun 1900, kamudian The Belief in God and Immortalitry(1921) oleh J.H Leuba dan oleh Robert H.Thouless, dengan judul An Introduction to The Psycology of Religion, tahun 1923, serta R.A Nicholson yang khusus mempelajari mengenai aliran sufisme dalam islam dengan bukunya Studies in Islamic Mysticsm, tahun 1921.

Sejak itu, kajian-kajian tentang psikologi agama tampaknya tidak hanya terbatas pada masalah-masalah yang menyangkut kehidupan keagamaan secara umum, melainkan juga masalah-masalah khusus. Sejalan dengan hal itu, para penulis non barat pun mulai menerbitkan buku-buku mereka.

Mereka juga tidak ingin kalah bersaing dengan psikolog daerah barat, misalnya penulis di India dan daerah sekitarnya, disamping itu mereka juga mengadakan penerjemahan terhadap buku-buku psikologi dari daerah barat.

Di tanah air sendiri tulisan mengenai psikologi agama baru dikenal sekitar tahun 1970 an, yaitu oleh Prof. Dr. Zakiah Darajat. Ada sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku pegangan bagi mahasiswa di lingkungan IAIN. Di luar itu kuliah mengenai psikologi agama juga sudah diberikan, khususnya di fakultas Tarbiyah oleh Prof. Dr. Mukti Ali dan Prof. Dr. Zakiah Darajat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor psikologi agama di IAIN di Indonesia.

Seperti dimaklumi, bahwa psikologi agama tergolong cabang psikologi yang berusia muda. Berdasarkan informasi dari berbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa kelahiran psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang.

Sumber-sumber Barat pada umumnya menunjuk awal kelahiran psikologi agama adalah karya dari Edwin Diller Starbuck dan William James. Buku the Psychology of Religion an Empirical Study of Growth of Religion Consiousnes karya E.D Starbuck diterbitkan tahun 1899., dinilai sebagai buku yang memang khusus membahas masalah yang menyangkut psikologi agama. Setahun kemudian (1900), William James menerbitkan buku The Varieties of Religion Experiencies. Buku yang berisi pengalaman keagamaan berbagai tokoh ini kemudian dianggap sebagai buku yang menjadi perintis awal dari kelahiran psikologi agama menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Psikologi agama diakui sebagai disiplin ilmu, cabang dari psikologi seperti ilmu-ilmu cabang psikologi yang lainnya.Sebaliknya di dunia Timur, khususnya di wilayah-wilayah kekuasaan islam, tulisan-tulisan yang memuat kajian tentang hal serupa belum sempat dimasukkan. Seperti ihya’ ulumuddin karya al Ghhazali dan masih banyak lagi yang lainnya. Diperkirakan masih banyak tulisan-tulisan ilmuwan muslim lainnya yang berisi mengenai kajian permasalahan serupa, namun sayangnya karya tersebut belum sempat dikembangkan menjadi disiplin ilmu tersendiri seperti yang dilakukan ilmuwan Barat.

Ada beberapa alasan yang barangkali dapat dijadikan penyebab. Pertama sejak masa kemunduran Negara-negara islam, perhatian para ilmuwan terhadap kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan mulai menurun. Kedua, sejak penyerangan bangsa Mongol ke pusat peradaban islam (Baghdad) dan kekalahan islam di Andalusia, terjadi pemusnahan karya para ilmuwan muslim. Ketiga, sikap kurang terpuji dari para ilmuwan Barat sendiri (terutama setelah zaman kemunduran islam) yang umumnya kurang menghargai karya-karya ilmuwan muslim. Keempat, karya-karya ilmuwan muslim di zaman klasik umumnya ditulis oleh para ilmuwan yang di zamannya dikenal dengan sebutan yang berkonotasi keagamaan, seperti mufassirin (ahli tafsir), muhaddisin (ahli hadist), fuqaha (ahli fiqih) atau ahl al hikmat (filosof). Dengan demikian karya-karya mereka diidentikkan dengan ilmu-ilmu murni agama islam atau filsafat.

Karya lain yang lebih khusus mengenai psikologi agama adalah Ruh al Din al Islamy (jiwa agama islam) karangan Alif Abd Al Fatah, tahun 1956. Demikian pula pada tahun 1963 terbit buku Al Shihab al Nafsiyah karangan Mustofa Fahmy. Dan banyak lagi karya-karya ilmuwan muslim tentang psikologi agama. Tetapi berdasarkan konteks kejiwaan barangkali buku Tatawur al Syu’ur al Dinny ‘inda Tif; wa al Murabiq karya Abd al Mun’im Abd al Aziz Al Maghary, dapat dianggap sebagai awal dari munculnya kajian psikologi agama di kalangan ilmuwan muslim modern.

Adapun di tanah air perkembangan psikologi agama dipelopori oleh tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang sebagai ilmuwan agamawan, dan bidang kedokteran. Diantara karya-karya awal yang paling berkaitan dengan psikologi agama adalah buku Agama dan Kesehatan Badan /Jiwa (1965), tulisan Prof. dr H. Aulia. Kemudian pada tahun 1975, K.H.S.S Djaman menulis buku Islam dan Psikomatik. Dr. Nici Syukur Lister, menulis buku Pengalaman dan Motivasi Beragama: Pengantar Psikologi Agama.

Sejak menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, perkembangan psikologi agama dinilai cukup pesat, dibandingkan usianya yang masih tergolong muda. Perkembangan psikologi agama yang cukup pesat ini antara lain ditandai dengan diterbitkannya berbagai karya tulis, baik berupa buku maupun artikel dan jurnal yang memuat kajian tentang bagaimana peran agama dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, psikologi agama kini telah memasuki bidang kehidupan manusia, sejak dari rumah tangga, sekolah, institusi keagamaan, rumah-rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, dan bahkan hingga ke lembaga kemasyarakatan.

Demikianlah proses sejarah psikologi agama yang melalui perjalanan yang berliku-liku sehingga menjadi ilmu yang mandiri dan berkembang sangat pesat diusianya yang masih muda dibandingkan ilmu-ilmu yang lain.

Beberapa Metode dalam Psikologi Agama  

 Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian ilmiah. Kajian dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis secara obyektif.

Dalam meneliti ilmu jiwa agama dapat menggunakan sejumlah metode, yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:

1.      Dokumen Pribadi (Personal Document)

Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk memperoleh informasi mengenai hal tersebut maka cara yang ditempuh adalah mengumpulkan dokumen pribadi orang seorang. Dokumen tersebut mungkin berupa autobiografi, biografi, tulisan ataupun catatan-catatan yang dibuatnya.

Dalam penerapannya, metode dokumen pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik tertentu. Diantara yang banyak digunakan adalah:

  • Teknik Nomotatik
  • Teknik Analisis Nilai (value analysis)
  • Teknik Idiography
  • Teknik Penilaian terhadap Sikap (evaluation attitudes technique)

2. Kuesioner dan Wawancara

Metode kuesioner maupun wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak dan mendalam secara langsung kepada koresponden.

Dalam penerapannya, metode kuesioner dan wawancara dilakukan dalam berbagai bentuk. Diantara cara yang digunakan adalah teknik pengumpulan data melalui;

  1. Pengumpulan Pendapat Masyarakat (Public Opinion Polls)
  2. Skala Penilaian (Rating Scale)
  3. Tes (Test)
  4. Eksperimen
  5. Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi (sociological and anthropological observation)
  6. Studi agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya.
  7. Pendekatan terhadap Perkembangan (Development Approach)
  8. Metode klinis dan proyektivitas (Clinical Method and Projectivity Technique)
  9. Metode Umum Proyektivitas
  10. Apersepsi Notomatik (Notomatic Apperception)
  11. Studi Kasus (Case Study)
  12. Survei

Metode-metode tersebut sebenarnya dapat digunakan secara beragam, dan tergantung pada kepentingan dan jenis data yang dikumpulkan.

Psikologi Agama dalam Islam

Meskipun di kalangan ilmuwan muslim kajian-kajian dalam psikologi agama mulai dilakukan secara khusus sekitar pertengahan abad ke-20, namun permasalahan yang ada sangkut pautnya dengan bidang kajian ini sudah berlangsung sejak awal perkembangan islam. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai konsep ajaran islam yang dapat dijadikan acuan dalam studi psikologi agama.

Manusia menurut terminology Al qur’an dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Manusia disebut al basyar berdasarkan pendekatan aspek biologisnya. Dari  sudut pandang ini manusia dilihat sebagai makhluk biologis yang memiliki dorongan primer (makan, minum, hubungan seksual) dan makhluk generatif (berketurunan). Sedangkan dilihat dari fungsi dan potensi yang dimilikinya disebut al insan.

Adanya potensi fitrah beragama yang terdapat pada manusia tersebut diistilahkan sebagai insan dalam al qur’an. Manusia insan secara kodrati sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna bentuknya dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya.

Kemudian manusia disebut al nas yang umumnya dilihat dari sudut pandang hubungan sosial yang dilakukannya. Dalam bentuk pengertian umum, al-Qur’an menyebut manusia sebagai Bani Adam. Konsep ini untuk menggambarkan nilai-nilai universal yang ada pada setiap diri manusia tanpa melihat latar belakang perbedaan jenis kelamin, ras, dan suku bangsa ataupun aliran kepercayaan masing-masing.

Selanjutnya, manusia menurut pandangan islam juga dipandang sebagai makhluk psikis. Dari sudut pandang ini, pemahaman manusia berdasarkan aspek psikis ini sama sekali berbeda dengan pandangan ilmuwan Barat. Umumnya, pemahaman Barat tentang aspek psikis manusia terbatas pada unsur-unsur kejiwaan yang terdiri atas unsur cognisi ruh dan akal merupakan potensi manusia untuk dapat dikembangkan. Tetapi yang jelas unsur-unsur psikis manusia itu menurut konsep islam senantiasa dihubungkan dengan nilai-nilai agama.

Selanjutnya, meskipun unsur ruh yang menjadi bagian dari psikis hanya dijelaskan melalui informasi yang sangat terbatas, namun ruh dapat diartikan sebagai unsur psikis yang mengisyaratkan manusia memiliki kecenderungan berbeda-beda. Kemudian unsur akal merupakan potensi psikis manusia yang mencakup dorongan moral untuk melakukan kebaikan dan menghindarkan kesalahan, karena adanya kemampuan manusia untuk berpikir dan memahami persoalan. Potensi ini memberi kemungkinan manusia untuk mengembangkan dirinya dan meningkatkan harkat kemanusiaannya selaku makhluk ciptaan Tuhan.

Konsep tentang manusia seperti yang dikemukakan diatas menjadikan pendekatan islam berbeda dengan pendekatan psikologi yang dikembangkan di Barat. Dengan demikian psikologi agama sebagai telaah terhadap kesadaran dan pengalaman agama melalui pendekatan psikologi akan jadi berbeda pula. Pendekatan psikologi terhadap kedua aspek keagamaan itu bersumber dari pandangan aliran psikologi terhadap manusia.

Aliran Behaviorisme misalnya, berpendapat bahwa perilaku manusia ditentukan oleh hukum stimulus dan respons, sedangkan menurut aliran psikoanalitis, perilaku manusia didorong oleh kebutuhan libidonya. Selanjutnya, psikologi humanistic mendasarkan pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk penentu yang serba bisa.

Pendekatan psikologi barat ini bagaimanapun belum dapat menggambarkan konsep manusia secara utuh dan lengkap. Maka tek mengherankan jika para psikolog muslim berupaya menemukan alternatif melalui pendekatan konsep yang bersumber dari ajaran islam yang bagaimanapun berbeda dari pendekatan barat. Beranjak dari pendekatan konsep islam tentang manusia, terungkap bahwa manusia adalah ciptaan yang memiliki hubungan makhluk-khalik secara fitrah.

Dengan demikian psikologi islam berawal dari pendekatan fitrah keagaman itu sendiri. Kesadaran dan pengalaman keagamaan dinilai sebagai factor bawaan yang berkembang melalui bimbingan. Pengembangan awal berpangkal pada aktivitas kedua orang tua dalam lingkungan keluarga.

Jika dikaji secara cermat, sebenarnya permasalahan yang berkaitan dengan psikologi agama memang sudah sejak permulaan pengembangan islam sudah ada. Tetapi, karena ajaran islam merupakan ajaran yang berpusat pada pembentukan akhlak yang mulia dalam upaya memenuhi tuntutan agar dapat menjadi pengabdi Allah yang patuh, maka islam cenderung dilihat dari aspek ajaran yang tunggal, yaitu agama ilmu-ilmu keislaman dipandang tak terpisahkan dari islam sebagai agama wahyu. Dengan demikian, baru abad-abad terakhir ini timbul kesadaran para ilmuwan untuk melihat ajaran islam tersebut dari pendekatan disiplin ilmu, layaknya system pendekatan keilmuan yang berkembang dikalangan ilmuwan Barat.

Cikal bakal karya-karya klasik ilmuwan muslim tersebut tampaknya kurang dikenal, karena antara lain dinilai sebagai karya-karya ilmu keislaman ketika itu masih menyatu dalam filsafat, fiqih, tauhid maupun akhlak serta tasawuf. Sehingga karya-karya yang dihasilkan para ilmuwan muslim tersebut masih dinilai sebagai bagian dari disiplin keilmuwan yang ada di masa itu. Dan barulah di pertengahan abad ke-20 kajian-kajian khusus mengenai psikologi agama mulai dikembangkan oleh para ilmuwan terutama di Mesir.

Maka dari itu psikologi agama di islam merupakan khasanah keilmuwan baru walaupun epistemologinya sudah ada sejak permulaan perkembangan islam. Dan psikologi agama dalam islam merupakan gabungan dari kajian konsep yang ada dalam wahyu dengan teori yang menemukan teori baru yang lebih sesuai.

Kesimpulan

  1. Psikologi agama dalam sejarahnya memang sulit untuk diketahui kapan munculnya secara pasti. Psikologi agama muncul karena kurang tepatnya teori analisa terhadap jiwa. Berdasarkan sumber dari barat kajian psikologi agama mulai muncul sejak abad 19. sedangkan di daerah timur psikologi agama pada awalnya menyatu dengan ilmu yang dikembangkan para filosof muslim. Sedangkan di tanah air psikologi agama mulai dirintis dan dikembangkan pada sekitar tahun 1970-an.
  2. Metode yang digunakan dalam penelitian psikologi agama antara lain: metode dokumen pribadi serta metode kuesioner dan wawancara.
  3. Psikologi agama dalam islam merupakan penggabungan antara teori jiwa dengan informasi dari wahyu, yang hal itu akan menyebabkan munculnya teori baru yang lebih akurat. Psikologi agama dalam Islam sebenarnya sudah berkembang sejak awal perkembangan Islam, namun yang sudah dikaji secara spesifik ialah setelah abad 20.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: