SEKILAS TENTANG SEJARAH PERKEMBANGAN HADITS


SEKILAS TENTANG SEJARAH PERKEMBANGAN HADITS

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.      Masa Pertumbuhan Hadits dan Jalan-Jalan Para Sahabat Memperolehnya

Rasul hidup di tengah-tengah sahabatnya mereka dapat bertemu dan bergaul dengan beliau secara bebas namun yang tidak dibenarkan adalah mereka masuk rumah beliau dan berbicara dengan istri Nabi tanpa hijab.

Nabi menggauli mereka di rumah, masjid, jalan, pasar, safar dan di dalam hadlas. Sehingga seluruh perbuatan Nabi, seluruh ucapan tutur kata beliau menjadi tumpuan perhatian para sahabat. Segala gerak-gerik beliau mereka jadikan pedoman hidup. Riwayat Bukhari menerangkan “bahwa para sahabat sangat benar memperhatikan gerak-gerik nabi dan sangat benar memerlukan untuk mengetahui segala apa yang disebabkan Nabi. Mereka meyakini bahwa mereka diperintahkan dan mentaati Nabi.

Maka dari itu, mereka dapat menghafal secara baik apa yang telah diajarkan Nabi SAW yang berupa ajaran-ajaran Rasul, karena di samping dorongan keagamaan, mereka juga mempunyai kecerdasan dan kecepatan dalam memahami sesuatu.

Hadits diterima dari sahabat Nabi SAW ada yang langsung maupun tidak langsung. Penerimaan hadits secara langsung yaitu mendengar sendiri dari Nabi baik karena ada suatu masalah yang diajukan oleh seseorang, lalu Nabi menjawabnya ataupun Nabi sendiri yang memulai pembicaraan, seperti memberi ceramah, pengajian, khutbah dan sebagainya. Sedangkan yang tidak langsung adalah menerima dari sesama sahabat yang telah menerima dari Nabi atau mereka menyuruh  seseorang  bertanya kepada Nabi jika mereka sendiri malu untuk bertanya.

B.       Pada Sahabat Tidak Sederajat dalam Mengetahui Keadaan Rasul

Para sahabat tidak sederajat atau berlebih berkurang dalam menerima dan mengetahui hadits dari Nabi SAW adalah karena adanya faktor tempat tinggal, pekerjaan, usia dan lain-lain. Ada yang tinggal di kota, dusun, berniaga dan bertukang. Sedangkan Nabi tidak selalu mengadakan ceramah terbuka, ceramah terbuka hanya beliau berikan pada tiap-tiap hari jum’at, hari raya, dan waktu-waktu yang ditentukan (jika keadaan menghendaki). Sehingga ada sahabat Nabi yang banyak mengetahui hadits, karena sering berjumpa dan berdialog dengan Nabi SAW dan ada yang sedikit saja menerima hadits.

C.      Para Sahabat yang Banyak Menerima Pelajaran Dari Nabi

Para sahabat yang banyak menerima hadits dari Nabi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Yang mula-mula masuk Islam “as-Sabiquna al-Awwalun”: Khulafa Empat dan  Abdullah bin Mas’ud.
  2. Yang selalu berada di samping Nabi dan bersungguh-sungguh menghafalnya, seperti Abu Hurairah.
  3. Yang lama hidupnya sesudah Nabi, dapat menerima hadits dari sesama sahabat, seperti Anas ibnu Malik dan Abdullah ibnu Abbas.
  4. Yang erat hubungannya dengan Nabi, yaitu Ummah al-Mu’minin seperti ‘Aisyah dan Ummu Salamah.

Menurut catatan Adz-Dhahaby, 31 orang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits adalah ‘Aisyah, Ummu Salamah dan Khulafaurrasyidin.

D.      Sebab-Sebab Hadits Tidak Ditulis Setiap-tiap Nabi Menyebutkannya

Rasul memerintahkan para sahabat untuk menghafal al-Qur’an dan menulisnya di keping-kepingan belulang, pelepah kurma, di batu-batu dan lain-lain. Ketika Rasulullah wafat, al-Qur’an telah dihafal dengan sempurna dan telah lengkap ditulis, hanya yang belum dikumpulkan dalam mushaf saja, namun hadits tidak ditulis secara resmi, tidak diperintah orang menulisnya seperti diperintah untuk menuliskan al-Qur’an. Sebab penulisan hadits tidak ditulis secara resmi adalah:

  1. Penulisan hadits dengan segala ucapan, amalan, mu’amalah dan sebagainya merupakan hal yang sulit sekali secara teknis sehingga dibutuhkan penulis yang harus terus-menerus menyertai Nabi dalam segala hal.
  2. Menyelenggarakan pemeliharaan hadits dengan hafalan tanpa tulisan secara keseluruhan, berarti memelihara hafalan di kalangan umat Islam atau bangsa Arab yang sudah terkenal kuat daya hafalannya.
  3. Agar tidak adanya kesamaran terhadap al-Qur’an dan menjaga agar tidak bercampur antara catatan al-Qur’an dengan hadits. Karenanya al-Qur’an dihafal dan ditulis, sedangkan hadits dihafal saja.
  4. Pencatatan al-Qur’an yang turunnya berangsur-angsur memerlukan perhatian dan pengerahan tenaga penulis yang kontinyu, sedang sahabat  yang pandai menulis sangat terbatas, sehingga tenaga yang ada dikhususkan untuk menulis al-Qur’an.

Nabi bersabda:

Artinya:  “Jangan anda tulis apa yang anda dengar dari padaku selain dari al-Qur’an. Barang siapa yang telah menulis sesuatu yang selain dari      al-Qur’an hendaklah dihapuskan”.

E.       Kedudukan Usaha Menulis Hadits di Masa Nabi SAW

Penulisan secara perorangan pada masa Nabi dilakukan oleh para sahabat, bahkan diantaranya ada yang berusaha membuat koleksi antara lain:

  1. ‘Abdullah ibn Amir ibn ‘Ash, shahifahnya disebut as-Shadiqah.
  2. ‘Ali ibn Abi Thalib, penulis hadits tentang hukum diyat, hukum keluarga, dan lain-lain.
  3. Anas ibn Malik

Nabi dalam menyelenggarakan da’wah dan pembinaan umat sering mengirimkan surat-surat seruan dan pemberitahuan. Selain itu, Nabi pernah mengirim surat  kepada sebagian pegawainya menerangkan kadar-kadar zakat unta dan kambing.

Ada hadits Nabi yang menyatakan bahwa dilarangnya penulisan hadits sehingga beberapa sahabat berpendapat bahwa penulisan hadits tidak diperbolehkan. Namun kebanyakan para sahabat dan tabi’in membolehkan menuliskan dengan berpegang pada hadits:

Artinya:  “Tulislah untuk Abu Syah”.

F.       Pendapat Ulama’ dalam Mentaufiqkan Hadits yang Mencegah Orang Menulis Hadits dengan Hadits yang Membolehkannya

Terhadap perbedaan pendapat dan dalil-dalil hadits, para ulama’ telah menggapai dan mengadakan penelaahan, analisis, pembahasan sampai diketahui ketentuan hukum dari menulis hadits tersebut diantaranya:

  1. Larangan menulis hadits berhubungan dengan soal hafalan dan pemeliharaannya, mereka berpendapat:
    1. Penulisan hadits dilarang untuk memelihara daya hafal bangsa Arab yang kuat
    2. Kalau menulis hadits untuk sekedar penghafalan dan kalau sudah dihafal lalu dihapus, maka dibolehkan penulisan hadits tersebut.
    3. Larangan menulis hadits adalah bagi yang kuat ingatan atau hafalannya dan yakin tidak akan lupa, maka yang takut lupa diperbolehkan menulis hadits.
    4. Titik sasaran atau persoalan larangan penulisan hadits terletak pada soal kekhawatiran tercampurnya al-Qur’an dan Hadits.
    5. Bahwa penelitian tentang hadits-hadits yang menjadi dasar bagi kedua pendapat adalah:
      1. Hadits yang berisi larangan dihadapkan bagi umum dan hadits yang mengizinkan menulis hadits ditujukan secara khusus.
      2. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa hadits Abu Sa’id al-Khudri Mauquf tidak dapat dijadikan hujjah.

Jadi dapat dipahamkan bahwa sesudah al-Qur’an dibukukan, ditulis dengan sempurna dan telah lengkap pula turunnya, barulah dikeluarkan keizinan menulis Sunnah atau Hadits. Jadi tidak diragukan lagi bahwa menulis hadits adalah diperbolehkan dan dianjurkan.

Terima Kasih

Semoga Bermanfaat

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: