MEMAHAMI HAKEKAT MANUSIA


MEMAHAMI HAKEKAT MANUSIA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengantar

Kata-kata filsafat diucapkan ‘falsafah’ dalam bahasa Arab, dan berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti ‘cinta kepada pengetahuan’, dan terdiri dari dua kata, yaitu Philos yang berarti cinta (loving) dan Sophia yang berarti pengetahuan (wisdom, hikmah). Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “Philosophos” atau “Failasuf” dalam ucapan Arabnya. Mencintai pengetahuan adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau dengan perkataan lain orang yang mengabdikan kepada pengetahuan.

Philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari atas Philo dan Sopiha ; Philo berarti cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; Sophia artinya bijaksana yang artinya pandai, pengertian yang dalam. Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa dari segi bahasa, filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak. Dengan demikian pengertian filsafat menurut bahasa ialah cinta pengetahuan atau kebijaksanaan.

Salah satu objek filsafat adalah manusia. Manusia menduduki posisi utama, baik sebagai subyek maupun sebagai obyek ilmu. Islam memandang manusia dalam dua dimensi, yakni jasad dan roh. Maka dari itu manusia merupakan makhluk yang sempurna dalam pandangan Islam. Dalam kehidupannya manusia dikaruniai akal pikiran, agar dengan menggunakan akal tersebut manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk Dalam membahas dan membicarakan mengenai manusia, muncul berbagai aliran. Islam sendiri juga ikut andil membicarakan manusia. Maka dari itu, dalam makalah ini akan disinggung pembahasan manusia menurut filsafat umum dan manusia menurut filsafat Islam. Untuk mengetahui mengenai manusia secara lebih jelas dan lengkap, maka penulis menyusun tulisan yang berjudul “Memahami Hakekat Manusia”.

B.     Manusia Menurut Filsafat Umum

Manusia pertama adalah Adam a.s. Jadi asal usul manusia berasal dari Adam a.s. menurut keterangan ini. Akan tetapi mengenai asal usul manusia ini terdapat dua pendapat, yang satunya sesuai dengan keterangan di atas bahwa asal usul manusia dari nabi Adam a.s, ini merupakan pendapat para ahli agama sesuai dengan kitab-kitab suci sebagai dasar (termasuk agama Islam).

Pendapat kedua berdasarkan penemuan fosil-fosil oleh para ilmuan berpendapat bahwa asal usul manusia sesuai dengan teori evolusi merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna. Teori evolusi ini dipelopori oleh seorang ahli zoologi bernama Charles Robert Darwin (1809-1882). Dalam teorinya ia mengatakan : “Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan”. Kemudian ia memperluas teorinya ini hingga sampai kepada asal-usul manusia.

Teori ini mempunyai kelemahan karena ada beberapa jenis tumbuhan yang tidak mengalami evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula. Seperti ganggang biru yang diperkirakan telah ada lebih dari satu milyar tahun namun hingga sekarang tetap sama. Yang lebih jelas lagi adalah hewan sejenis biawak/komodo yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu dan hingga kini tetap ada Jadi secara jujur dapat kita katakan bahwa teori yang dianggap ilmiah itu ternyata tidak mutlak karena antara teori dengan kenyataan tidak dapat dibuktikan.

Dalam membicarakan mengenai hakekat manusia, kaum filosof terpecah menjadi berbagai aliran. Aliran-aliran tersebut antara lain:

  1. Aliran Serba Zat; Aliran ini mengatakan yang sungguh ada itu hanyalah zat atau materi, alam ini adalah zat atau materi dan manusia adalah unsur dari alam, maka dari itu manusia adalah zat atau materi.
  2. Aliran Serba Ruh; Aliran ini berpendapat bahwa segala hakekat dari segala sesuatu y ang ada di dunia ini adalah ruh. Adapun zat merupakan manifestasi daripada ruh. Aliran ini berpendapat bahwa hakekat dari manusia adalah ruh, karena tanpa ruh manusia akan mati. Sedangkan badan hanya merupakan penjelmaan dari ruh tersebut atau merupakan bayangan daripada ruh tersebut.
  3. Dualisme; Aliran ini berpendapat bahwa hakekat dari manusia merupakan makhluk yang terdiri dari dua substansi, yaitu jasmani dan rohani. Kedua substansi ini masing-masing merupakan unsur asal yang adanya tidak tergantung satu sama lain, jadi badan tidak berasal dari ruh dan ruh tidak berasal dari manusia.
  4. Existensialisme; Aliran ini berpendapat bahwa hakekat manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk. Pada hakekatnya manusia terikat dengan dunia sekitarnya, terlebih lebih dengan sesama manusia. Seterusnya manusia hanya merupakan makhluk yang mempunyai rencana dan menerapkan rencananya untuk menjalani hidupnya. Aliran ini tidak memandang manusia terdiri dari dua unsur, tetapi aliran ini lebih memandang manusia dari segi keberadaannya di dunia ini. Pada intinya filsafat ini memandang manusia dengan terbalik yaitu memandang dari segi wujud atau ada kemudian mengenali atau mendefinisikan diri kita. Jadi manusia dipandang dari segi hidupnya di dunia terlebih dahulu.
  5. Idealisme (Plato); Aliran berpendapat bahwa dalam diri manusia terdapat ruh yang bersifat abadi dan dapat melakukan migrasi. Pada intinya manusia merupakan ruh, sedangkan tubuh manusia ini hanya merupakan perantara kehidupan saja. Hanya ruh yang bersifat abadi, bukan tubuh manusia.
  6. Realisme(Aristoteles); Aliran ini tidak mempercayai adanya migrasi ruh atau migrasi jiwa. Hakekat dari manusia adalah merupakan makhluk yang ada dalam realita sekarang ini bukan makhluk yang berasal dari dunia idea.
  7. Materialisme; Aliran ini berpendapat bahwa segala sesuatu yang tidak dapat dilihat berasal dari material. Jadi aliran berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk atau material bukan immaterial. Sedangkan adanya immaterial tersebut dikarenakan adanya material.
  8. Shcoolastik; Aliran ini berpendapat bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan dan merupakan makhluk yang tidak dapat dipisahkan.  Jadi manusia bukan merupakan unit tersendiri, karena manusia merupakan ciptaan Tuhan.
  9. Rasionalisme; Aliran ini berpendapat bahwa manusia merupakan unit tersendiri yang bebas dan hidup karena adanya ruh atau dapat diistilahkan dengan kekuatan yang tidak tampak yang ada dalam jasmani manusia.

C.     Manusia Menurut Pandangan Islam

Manusia mempunyai hakekat sebagai makhluk dwi tunggal. Yaitu manusia terdiri dari dua unsur yaitu unsur jasmaniah dan rohaniah, unsur halus yaitu jiwa dan unsur kasar yaitu badan. Untuk mengembangkan atau menumbuhkan kemampuan dasar tersebut maka diperlukan pendidikan, dimana dengan pendidikan dapat dicapai kemampuan yang optimal dan dapat digali kemampuan yang tersembunyi.

Manusia tidak dapat mengetahui ruh, karena hanya diberi pengetahuan oleh Allah yang sedikit. Dua unsur diatas masih dapat terbagi lagi menjadi unsur yang kecil-kecil, misalnya aspek intelektualitas dan lain-lain. Proses pengembangan potensi manusia melalui pendidikan tidak menjamin terbentuknya watak dan bakat seseorang, semua itu merupakan kehendak Allah yang telah menggariskan bahwa dalam diri manusia terdapat dua kecenderungan yaitu kecenderungan baik dan buruk.

Manusia mempunyai hakekat sebagai makhluk individual dan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk individual setiap manusia mempunyai sifat yang berbeda-beda dengan manusia lainnya. Dan juga mempunyai cita-cita dan keinginan juga pemikiran yang berbeda dengan yang lainnya. Sedangkan sebagai makhluk sosial manusia harus tolong menolong sesama manusia tanpa memperdulikan perbedaan yang ada. Karena manusia tersebut tidak mampu untuk hidup sendiri.

Hakekat manusia sebagai makhluk susila atau Bertuhan. Maksudnya manusia tersebut dikaruniai akal dan kemampuan yang dengan kemampuan tersebut dapat membedakan antara baik dan buruk menurut ukuran kesusilaan. Maka dari itu sering kali dalam al Qur’an allah menyebutkan kata-kata Ya’qilun atau sebagainya.

Terdapat pendekatan lain dalam memahami hakekat manusia dalam islam yaitu pendekatan bahasa, istilah manusia disebutkan dalam al Qur’an dengan menggunakan 5 kata. Pertama,  dengan kata insan yang artinya manusia. Kata kata insan di sini merupakan penghormatan bagi manusia bahwa ia diciptakan dalam bentuk yang paling bagus. Yang tidak ada makhluk lain yang melebihinya. Maka dari itu pada diri manusia muncul percaya diri. Kata kata insan disini juga menunjukkan bahwa manusia terdiri dari beberapa aspek yang merupakan karunia dan sang pencipta. Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa penyebutan manusia dengan insan ialah karena ia mempunyai sifat lupa.

Kedua, Basar artinya juga manusia. Penyebutan dengan kata-kata basar ini, mengisyaratkan bahwa manusia tidak mempunyai kekuatan apa-apa ia hanyalah makhluk yang lemah. Jadi manusia selalu membutuhkan pertolongan orang lain dan juga penciptanya. Namun penggunaan kata ini tidak menafikan aspek yang dimiliki manusia yaitu makhluk sosial dan bertuhan.

Ketiga, an Nass, yang juga berrati manusia, namun penggunaan kata ini mempunyai arti yang lebih umum dari pada dua kata di atas. Kata-kata nas disini menekankan pada aspek sosial saja dan indidualitas. Pada dasarnya kata ini lebih umum dan mengacu pada aspek lahiriyah saja. Keempat, ’abd, yang juga berarti manusia pada dasarnya artinya adalah hamba atau budak dan juga kawula, namun disini ditunjukkan pada manusia yang bertuhan atau mendarma baktikan pada sang kholiq. Kelima, Anam, kata-kata anam ini dapat berarti manusia dan dapat juga berarti makhluk.

Manusia termasuk mukawinat dan setiap mukawinat itu membutuhkan 2 nikmat yaitu nikmat ijad dan nikmat imdad. Maksudnya nikmat kejadian dan nikmat penyempurnaan. Manusia selalu membutuhkan penyempurnaan dan pertolongan dari Allah, tanpa pertolongan tersebut manusia akan tidak mampu hidup. Maka manusia itu merupakan makhluk yang bertuhan.

Para filosof muslim juga membicarakan tentang manusia juga. Menurut Ibn Tufail, dalam membicarakan manusia ia mengatakan bahwa manusia tersusun atas badan dan ruh. Tanpa ruh manusia akan mati, karena ruh sumber kehidupan manusia. Menurut al Kindi; manusia itu tersusun dari badan dan roh. Substansi roh berasal dari substansi Tuhan. Roh itu lain dari badan dan mempunyai wujud tersendiri, hal itu terbukti bahwa badan mempunyai hawa nafsu sedangkan roh tidak punya.

Dalam membicarakan manusia biasanya juga menyinggung potensi yang dimiliki manusia atau fitrah. Menurut Ibnu Taimiyah fitrah manusia itu  ada dua yang pertama fitrah munazalah yang terdiri dari Al Qur’an dan Hadist. Berikutnya adalah fitrah naharazah  yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu quwatul syahwat, quatul ghadzab dan quwatul aqli yang terbagi lagi menjadi dua  yaitu an Nadzru dan iradah (kehendak), an Nadzru terbagi lagi menjadi dua yaitu ma’rifat dan iman.

Fitrah menurut islam adalah potensi dasar yang dimiliki manusia sejak lahir yang berupa kebenaran yang datangnya dari Tuhan. Manusia yang tidak dapat menemukan kebenaran merupakan manusia yang terpengaruh dengan faktor dari luar. Sedangkan Sayyid Qutub mengartikan fitrah dengan memadukan 2 pendapat yaitu fitrah merupakan jiwa kemanusiaan yang perlu dilengkapi dengan tabiat beragama, antara fitrah kejiwaan manusia dan tabiat beragama. Fitrah menurut islam ada banyak sekali misalnya kekuatan, kecerdasan, kehendak, hati, fuad, bashor, sam’a, iman atau potensi tauhid.

Dalam alam lain sebelum manusia dilahirkan pernah dijanji oleh Allah untuk menanamkan potensi tauhid kepada manusia tersebut. Maka dari itu manusia sejak lahir mempunyai potensi dasar yang berupa tauhid. Sebenarnya banyak sekali pendapat ulama mengenai fitrah ini misalnya al Ghazali; ia menilai tauhid, nafsu dan akal menjadi fitrah manusia Sedangkan yang termasuk fitrah yang lain adalah sirr atau hati nurani yaitu jalan atau alat yang digunakan mencapai ma’rifat. Sebagaiman kata-kata ulama yaitu; allah menyusun manusia itu dengan akal dan syahwat

DAFTAR RUJUKAN

Anwar, Saeful, Filsafat Ilmu al Ghazali: Dimensi Ontologi dan Aksiologi, Bandung: Pustaka Setia, 2007.

Assegaf, Abd.Rachman, Studi Islam Konstektual: Elaborasi Paradigma Baru Muslim Kaffah, Yogyakarta: Gama Media, 2005.

Athaillah, Ibn,  Sarh al-Hikam, Semarang: Toha Putra, tt.

Hanafi, A., Pengantar Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1990.

Maftukhin, Diktat Filsafat Islam, Tulungagung: Diktat Tidak Diterbitkan, 2001.

Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

Syadzali, Ahmad, Mudzakir, Filsafat Umum, Bandung: Pustaka Setia, 2003.

Tafsir, Ahmad,  Filsafat Umum; Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai James, Bandung, PT. Remaja Rosda Jarya, 1990.

 

Terima Kasih

Semoga Bermanfaat

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: