HUBUNGAN ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA


HUBUNGAN ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang

 

A.      Pengantar

Ilmu pengetahuan merupakan implementasi dari pengetahuan yang didasarkan atas rasio dan kaidah-kaidah yang ada. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui sesuatu dengan lebih jelas lagi. Bahkan dengan ilmu pengetahuan manusia memenuhi kodratnya yaitu menjadi khalifah di bumi. Karena dengan ilmu pengetahuanlah, manusia dapat memanfaatkan semua fasilitas yang ada di bumi ini dengan sabaik-baiknya, tanpa mengadakan perusakan.

Sedangkan filsafat merupakan ilmu atau kajian yang membahas mengenai hakekat dari segala sesuatu, asal mula sesuatu tersebut. Pada dasarnya filsafat merupakan dasar atau induk dari segala ilmu. Sebuah ilmu yang akan dihasilkan biasanya dibicarakan terlebih dahulu dalam dunia atau kajian filsafat. Filsafat mencoba membuat jawaban atas segala sesuatu secara mendasar. Pada dasarnya filsafat adalah ilmu berpikir yang memenuhi syarat-syarat tertentu.

Sedangkan agama merupakan wahyu atau ajaran Tuhan. Agama mencoba menjawab persoalan yang tidak dapat dipecahkan dengan akal pikiran manusia. Ketika filsafat dan ilmu pengetahuan tidak bisa menjawab sebuah masalah, maka agamalah yang kemudian menjawabnya.

Ketiga hal tesebut mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Hubungan yang terjadi antara ketiganya dapat berupa hubungan searah maupun dua arah. Hubungan yang terjadi antara ketiga aspek tersebut bukanlah hubungan yang dapat dinilai atau dilihat hanya dalam sekali memandang saja maupun sekali belajar saja. Akan tetapi hubungan antara ketiganya ini dapat dilihat dengan jelas sekali. Bahkan dapat dikatakan hubungan antara ketiganya tersebut merupakan hubungan yang sangat penting dan perlu dikaji lebih mendalam secara filosofis, dan perlu ditinjau dari segi pandangan islam.

Maka dari itu kami di sini mencoba untuk membahas hubungan dari ketiga hal tesebut dengan mengacu pada referensi yang ada dan dengan pengetahuan yang kami miliki baik melalui penafsiran terhadap ayat maupun yang lainnya.

B.     Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan metodis, pendekatan yang digunakan adalah empiris-terikat dimensi ruang dan waktu serta berdasarkan kemampuan panca indra manusia, rasional dan umum.

Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah selesai dipikirkan. Ia merupakan suatu hal yang tidak mutlak. Kebenaran yang dihasilkan ilmu pengetahuan bersifat relatif (nisbi), positif dan terbatas. Hal ini disebabkan ilmu pengetahuan tidak mempunyai alat lain dalam menguak rahasia alam kecuali indra dan kecerdasan (otak).

Tiap cabang ilmu menghadapi soal-soal yang tidak dapat dipecahkan oleh cabang ilmu itu sendiri. Ia membutuhkan campur tangan ilmu-ilmu yang lain. Misalnya pembahasan fiqih tidak bisa terlepas dari pembahasan sosiologi, psikologi, statistik dan lain-lain. Ilmu pengetahuan adalah teka-teki yang apabila suatu persoalan telah diselesaikan, maka timbullah soal-soal lain dari penyelesaian tersebut. Ilmu pengetahuan tidak mampu menjawab pertanyaan mengenai inti atau hakekat sesuatu secara mendalam. Ia tidak mampu megobati kerinduan dan kehausan manusia terhadap cinta mutlak dan abadi. Sebagian pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh ilmu pengetahuan itu akan dijawab oleh filsafat sebagai ilmu universal.

Menurut pandangan islam ilmu pengetahuan berasal dari Allah Yang Maha Tahu. Ia menurunkan ayatnya yang berupa ayat kauniyah dan qauliyah(qur’aniyah). Setelah manusia mengetahui mengenai dua ayat tadi yaitu ayat kauniyah dan ayat qur’aniyah, maka manusia menginterpretasikannya, selanjutnya lahirlah ilmu pengetahuan, perintah agar manusia menginterpretasikan ayat-ayat tersebut terdapat dalam surah al alaq ayat 1-5. dan juga tafsir surah ali imran ayat 190-191. hasil dari interpretasi tersebut berupa ilmu pengetahuan.

Hasil dari interpretasi alam atau ayat kauniyah melahirkan ilmu botani, geologi, biologi, fisika, astronomi, kimia, geografi, antropologi, sedangkan ayat kauniyah yang berupa manusia melahirkan ilmu psikologi, sosiologi politik.

Hasil interpretasi dari ayat quraniyah dalam alqur’an dan hadist menghasilkan ilmu seperti ilmu fiqih, tasawuf, tafsir, ulumul hadist, tauhid, ushul fiqh. Demikianlah ilmu pengetahuan menurut pandangan islam dan ilmu ini akan berhungan dengan filsafat dan juga agama.

C.    Filsafat

Filsafat ini akan mengajari manusia untuk menjadi manusia yang sebenarnya, yaitu manusia yang mengikuti kebenaran, mempunyai ketenangan pikiran, kepuasan, kemantapan hati, kesadaran akan arti dan tujuan hidup, gairah rohani dan keinsafan, kemudian mengaplikasikannya dalam bentuk topangan atas dunia baru, menuntun kepadanya, mengabdi kepada cinta mulia kemanusiaan, berjiwa dan bersemangat universal dan sebagainya.

Pada dasarnya filsafat merupakan cara berpikir yang sistematis, koheren, sinoptik, konsepsional, rasional dan mengarah pada pandangan dunia. Filsafat merupakan berpikir tentang hakekat dari segala sesuatu. Baik dari segi ontologinya, epistemologinya, dan aksiologinya.

Adapun alat yang dipergunakan filsafat adalah akal yang merupakan satu bagian dari rohani manusia. Keseluruhan rohani-perasaan, akal, intuisi, pikiran dan naluri atau seluruh kedirian manusia tentunya lebih ampuh dan manjur daripada sebagian dari padanya. Sedangkan keseluruhan rohani itu sendiri merupakan bagian dari manusia. Manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna. Sebuah intuisi yang tidak sempurna tidak dapat mencapai kebenaran yang sempurna, kecuali apabila mendapat uluran tangan dari Yang Maha Sempurna. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kebenaran ilmu pengetahuan dapat bersifat positif dan relatif karena bersandar pada kemampuan manusia semata, kebenaran filsafat juga kebenaran relatif, alternatif dan spekulatif, karena ia bersandar pada kemampuan akal juga. Tak ada satupun jawaban filsafat yang mutlak sempurna.

Jika suatu masalah tidak terjawab dengan ilmu pengetahuan dan filsafatpun terdiam atau memberikan jawaban dugaan, spekulasi, terkaan, sangkaan, dan perkiraan, maka manusia berada dalam kebingungan. Sebagian mereka mengambil jawaban dari instansi yang dipercayai lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan dan filsafat dan lebih menentramkan jiwa yaitu agama. Orang yang berpikir bebas tentang ketuhanan mengambil beberapa jalan, yaitu: anti Theis (mengakui Tuhan tapi ingkar), Atheisme (tidak mengakui adanya Tuhan), non theis(tidak ambil pusing tentang ada dan tidaknya Tuhan) dan Theis ( mengakui adanya Tuhan tapi belum tentu beragama).

Dalam filsafat juga dibicarakan yaitu hakekat Tuhan atau pencipta, dalam kajiannya pencipta dapat dicari dengan menggunakan akal semata tanpa bantuan wahyu. Bahkan ibn Tufail mengatakan penemuan Tuhan dengan akal dan dengan wahyu tersebut hasilnya sama saja. Hal ini mengindikasikan bahwa wahyu fungsinya memperkuat penemuan akal.

D.    Agama

Sesuatu yang berkaitan dengan agama menjadi persoalan yang sarat emosi, subyektivitas, kecenderungan dan kadang sifat tidak mengenal tawar menawar. Realitas ini dikatakan konsepsi tentang agama menyangkut kepentingan agama tersebut, keyakinan dan perasaan.

Agama berasal dari bahasa sanskerta yaitu a dan gam yaitu tidak pergi, sedangkan dalam bahasa arab yaitu din dan dalam bahasa latin yaitu relegere yang berarti undang-undang.

Agama adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan, berupa ajaran tentang ketentuan, kepercayaan, kepasrahan dan pengamalan, yang diberikan kepada makhluk yang berakal demi keselamatan dan kesejahteraanya di dunia dan akherat. Agama merupakan kebenaran mutlak karena bersumber dari Tuhan.

Manusia yang memiliki potensi akal, berkesanggupan untuk mengerti dan memahami sedikit tentang realitas kosmis kemudian mengolah dan merubah sebatas kemampuan, serta menjelajahi dunia rohaniah. Pemahaman dan penyelidikan akal terbatas pada dunia yang tampak dan hasilnya tidak sanggup memberikan kepastian. Karena itu manusia harus berhenti dari aktifitas akalnya, ketika akal telah sampai pada batas kulminasinya dan berpindah pada keimanan ketika berbicara tentang Tuhan, akherat dan sesuatu yang berada diluar kemampuan akal. Akal memberikan kebebasan kepada manusia untuk percaya dan tidak percaya tentang wujud Tuhan. Tapi agama dan perasaan mewajibkan untuk percaya bahwa Tuhan itu ada. Tuhan tidak dapat digapai oleh rasio manusia. Meskipun manusia berpikir tentang Tuhan dengan filsafat, tapi pada akhirnya harus mengakui adanya Tuhan dengan firmanNya. Jadi bisa dikatakan bahwa agama memiliki kebenaran yang mutlak.

Tuhan menciptakan manusia dengan keterbatasan akalnya, bukan berarti Tuhan mencelakakan, membingungkan atau menyengsarakan manusia, tapi justru dengan adanya keterbatasan itu akan menunjukkan adanya Yang Maha Sempurna. Tuhan memberikan jalan kebebasan terhadap kebingungan dan problematika manusia yang tidak bisa terselesaikan.

Allah berkenan menurunkan wahyuNya kepada umat manusia sebagai petunjuk, cahaya, dan rahmat, agar mereka menemukan kebenaran yang hakiki dan asasi yang tidak dapat dicapai sekedar dengan akalnya. Juga agar manusia mendapat jawaban yang pasti atas persoalan-persoalan yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan dan filsafat.

Berulangkali allah berfirman bahwa Dialah Yang Maha Benar dan sumber segala kebenaran. Al Qur’an yang merupakan firmanNya adalah kitab kebenaran, diturunkan sebagai petunjuk, rahmat dan cahaya bagi semesta alam. Disamping itu Allah juga menegaskan bahwa islam adalah agama yang benar. Dengan ajaran islam yang tertuang dalam al Qur’an, Allah memutuskan berbagai problema asasi yang tidak dapat dipecahkan dengan akal manusia.

Di dalam firman Allah, dituliskan: Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

Dan juga terdapat dalam surah al Kahfi: 29

 Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. Sesungguhnya kami Telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

E.     Hubungan Antara Ilmu Pengetahuan dengan Filsafat

Pada dasarnya filsafat merupakan induk dari segala ilmu dan dapat dikatakan bahwa semua ilmu pengetahuan pada mulanya berasal dari kajian filsafat. Filsafat merupakan sistem berpikir yang menyeluruh, maka dari itu sebelum menjadi disiplin ilmu yang mandiri semua ilmu pengetahuan berasal dari kajian filsafat. Namun setelah ilmu tersebut berkembang dengan pesatnya dan mempunyai metode dan pendekatan tersendiri dalam mencari bukti kebenarannya, maka ilmu tersebut berpisah atau memisahkan diri dari filsafat.

Garapan filsafat berbeda dengan garapan ilmu pengetahuan. Antara keduanya saling membutuhkan. Dalam kenyataan setiap ilmu vak memerlukan falsafahnya, seperti dalam ilmu pendidikan ada falsafah pendidikan, dalam ilmu hukum terdapat falsafah hukum dan dalam ilmu politik terdpat falsafah politik. Filsafat sebagai penggambaran pikiran secara radikal sanggup menembus apa-apa dibalik fakta, sehingga dapat memberikan kepuasan pada manusia. Sebab dengan demikian manusia disamping mengetahui apa yang tersurat juga mengetahui apa yang tersirat dengan daya pikirnya.

Dengan demikian menjadi lengkaplah kebutuhan manusia untuk memahami keberadaan ini dari sisi tersurat dengan jangkauan indranya dan dai sisi tersirat dengan jangkauan pikiran filosofisnya.

F.     Hubungan Antara Ilmu Pengetahuan dengan Agama

Ilmu pengetahuan merupakan hasil pengolahan akal (berfikir) dan perasaan manusia tentang sesuatu yang diketahui melalui pengalaman, informasi dan perasaan.

Ilmu pengetahuan mempunyai ciri-ciri diantaranya :

v  obyek ilmu pengetahuan adalah empiris, yaitu fakta-fakta empiris yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan menggunakan panca indranya.

v  Ilmu pengetahuan mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu mempunyai sistematika, hasil yang diperoleh bersifat rasional, obyektif rasional, universal dan kumulatif.

v  Ilmu dihasilkan dari pengamatan, pengalaman, studi dan pemikiran, baik melalui pendekatan deduktif maupun induktif atau keduanya.

v  Sumber dari segala ilmu adalah Tuhan, karena dia yang menciptakan.

v  Fungsi ilmu adalah untuk keselamatan, kebahagiaan, pengamanan manusia dari segala sesuatu yang menyulitkan.

Ilmu pengetahuan dapat dibuat sehingga sebagai standar kualitas tertinggi dalam pandangan islam diantaranya:

  1. ilmu pengetahuan adalah alat untuk mencari kebenaran. Dengan kekuatan intelegensi yang dibimbing oleh hati nurani, manusia dapat menemukan kebenaran dalam hidupnya sekalipun hasilnya relatif.
  2. ilmu pengetahuan sebagai prasyarat amal saleh.
  3. ilmu pengetahuan adalah alat untuk mengelola sumber-sumber alam untuk mencapai ridha Allah.
  4. ilmu pengetahuan sebagai penghubung daya pikir. Ilmu pengetahuan dapat dilihat dari dua visi, yaitu sebagai produk berpikir dan sebagai kegiatan dan pengembangan daya pikir.
  5. ilmu pengetahuan sebagai hasil pengembangan daya pikir. Manusia adalah makhluk yang berpikir dari lahir sampai masuk liang lahat. Berpikir pada dasarnya adalah sebuah proses yang membuahkan ilmu pengetahuan. Penggunaan daya pikir selalu dianjurkan oleh Allah untuk menghasilkan ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan dikembangkan dalam rangka melaksanakan amanah Allah dalam mengendalikan alam dan isinya, sehingga dengan bertambahnya ilmu pengetahuan seseorang bertambah pula petunjuk Tuhan atau Allah. Jadi semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang semakin ia mengetahui kedudukannya yang dhif di hadapan Allah.karena itulah ilmu pengetahuan mempunyai nilai yang pragmatis apabila ilmu tersebut dapat mempertebal keimanan dan ketaqwaan seseorang dan menumbuhkan daya kreatifitas dan produktifitas sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi.

Dalam ajaran islam, ilmu haruslah yang rasional, sesuai dengan akal dan dapat dijangkau dengan kekuatan akal pikiran manusia. Walaupun demikian masih ada ilmu yang belum dapat dicapai oleh pikiran. Bentuk ilmu ini menunggu perkembangan atau modifikasi ilmu-ilmu sebelumnya. Implementasinya, epistimologi senantiasa mendorong dinamika berpikir secara kritis, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan lebih cepat dicapai bila ilmuwan memperkuat penguasaanya.

Ilmu pengetahuan itu sendiri terbagi menjadi 2 kelompok.

  1. Ilmu fardhu (wajib) untuk diketahui oleh semua orang muslim yaitu ilmu agama, ilmu yang bersumber dari kitab suci.
  2. Ilmu yang merupakan fardhu adalah ilmu yang dimanfaatkan untuk memudahkan urusan hidup duniawi, misalnya kita berhubungan dengan alam seperti ilmu biologi, geologi, dll, yang berhubungan dengan manusia seperti kedokteran, psikologi, dll yang berhubungan dengan kehidupan sosial manusia seperti politik, hukum dll.

Ilmu pengetahuan itu sendiri tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan islam, karena perkembangan masyarakat islam serta tuntutannya dalam membangun seutuhnya sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan yang dicerna melalui pendidikan.

Pada dasarnya semua ilmu tersebut berhubungan dengan agama. Agama mengatur penggunaan ilmu tersebut agar digunakan untuk kemaslahatan umat. Dan ilmu pengetahuan dikatakan bermanfaat jika dengan ilmu tersebut dapat bertambah keimanan dan ketaqwaan seseorang kepada Allah.

G.    Hubungan Antara Filsafat dengan Agama

Hubungan antara filsafat dengan agama sudah dicuplik sedikit di depan. Jadi pada intinya antara filsafat dengan agama tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu mencari hakekat segala sesuatu dan mencari jawaban yang tidak bisa dipecahkan dengan ilmu pengetahuan. Contohnya pencarian terhadap Tuhan atau dalam islam disebut dengan Allah. Hal itu juga dibahas dalam filsafat.

Kalau agama mencarinya dengan metode menafsirkan wahyu yang turun, sedangkan filsafat dengan berpikir secara mendalam tentang apa yang ada disekitar kita. Dalam filsafatnya ibn Tufail dijelaskan dalam cerita Hayy bin Yaqan bahwa antara filsafat dengan agama terjadi kesinambungan penemuan yaitu sama-sama menemukan Tuhan yang satu.

Persamaannya adalah sama-sama mengkaji tentang ayat Tuhan. Kalau agama mengkaji atau melalui ayat qauliyah sedangkan filsafat melalui ayat kauniyah, yaitu dengan berpikir tentang alam yang ada disekitar kita. Kalau kita lihat hubungan antara keduanya ini menjadi hubungan searah yaitu sama-sama menuju kepada pencarian Tuhan dan sama-sama menemukan kebenaran tentang adanya Tuhan hanya saja jalannya berbeda.

H.    Hubungan Antara Ilmu Pengetahuan, Filsafat dan Agama

Allah berfirman:

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku,

 Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.

Dan Rasulullah pernah bersabda:

Hikmah itu adalah barang hak milik orang yang beriman, dimanapun mereka temukan hikmah itu, mereka paling berhak untuk memilikinya.”

Dari ayat dan hadits di atas, dapat ditimba pemahaman bahwa disamping ada kebenaran mutlak yang terdapat dalam agama dan terejawantahkan dalam wujud al Qur’an, juga diakui adanya kebenaran yang sesuai dengan kebenaran mutlak, yaitu kebenaran yang bertentangan dengan al Qur’an. Kebenaran tersebut merupakan hasil usaha manusia dengan akalnya. Akal adalah pemberian Allah yang Maha Benar, dan Allah menciptakannya tidaklah dengan kesia-siaan. Karena itu akal bukanlah untuk disia-siakan tetapi untuk dimanfaatkan. Jadi bisa dikatakan selain ada kebenaran mutlak yang langsung datang dari Allah, diakui pula keberadaan kebenaran relatif sebagai hasil budaya manusia, baik berupa kebenaran spekulatif (filsafat) maupun kebenaran positif (ilmu Pengetahuan). Manusia hanya dapat hidup dengan wajar dan benar manakala ia mau mengikuti kebenaran mutlak sekaligus mengakui eksistensi dan fungsi kebenaran-kebenaran lain yang sesuai dengan kebenaran mutlak agama tersebut.

Wilayah agama, wilayah ilmu pengetahuan, dan wilayah filsafat memang berbeda. Agama mengenai soal kepercayaan dan ilmu mengenai soal pengetahuan. Pelita agama ada di hati pelita ilmu ada di otak. Meski areanya berbeda sebagaimana dijelaskan di atas, ketiganya saling berkait dan berhubungan timbal balik. Agama menetapkan tujuan, tapi ia tidak dapat mencapainya tanpa bantuan ilmu pengetahuan dan filsafat. Ilmu yang kuat dapat memperkuat keyakinan keagamaan. Agama senantiasa memotifasi pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan akan membahayakan umat manusia jika tidak dikekang dengan agama. Dari sini dapat diambil konklusi bahwa ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu lumpuh.

Sekian

Semoga Bermanfaat

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers

%d bloggers like this: