WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB PENDIDIK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM


WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB PENDIDIK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Pendidikan merupakan fenomena manusia yang fundamental, yang juga mempunyai sifat membangun dalam kehidupan manusia. Dalam dunia pendidikan tidak terlepas dari faktor-faktor pendidikan yang mana faktor-faktor tersebut ikut menentukan keberhasilan suatu pendidikan. Pendidik adalah merupakan salah satu dari faktor-faktor tersebut yang mempunyai peranan sangat penting dalam keberhasilan suatu pendidikan. Karena pendidik itulah yang akan bertanggung jawab dalam pembentukan pribadi peserta didik.

Pendidik adalah orang yang memikul pertanggungjawaban untuk mendidik. Pendidik berbeda dengan pengajar, sebab pengajar hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik. Sedangkan pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik, tetapi juga membentuk kepribadian seorang peserta didik. Apalagi pendidik agama (Islam), ia lebih mempunyai pertanggungjawaban yang lebih besar dibanding dengan pendidik pada umumnya, karena selain bertanggung jawab terhadap pembentukan pribadi anak yang sesuai dengan ajaran Islam, ia juga bertanggung jawab terhadap Allah swt.

Keterangan di atas menjelaskan bahwa begitu pentingnya peranan seorang pendidik dalam pendidikan. Seorang pendidik akan membantu mewujudkan cita-cita pendidikan. Dalam perspektif Islam, cita-cita tersebut mengarah pada pembentukan insan kamil, insan yang memiliki dimensi religius, budaya, dan ilmiah.

B.      Pengertian Pendidik dalam Pendidikan Islam

Sebagaimana teori barat, pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif, potensi kognitif, maupun potensi psikomotorik. Dalam ungkapan Moh. Fadhil al-Jamali, pendidik adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik, sehingga terangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki manusia. Sedangkan dalam bahasa Marimba, pendidik adalah orang yang memikul pertanggungjawaban sebagai pendidik, yaitu manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya bertanggung jawab tentang pendidikan peserta didik.

Pendidik berarti pula orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah, dan mampu melakukan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu yang mandiri.

Pendidikan Islam menggunakan tujuan sebagai dasar untuk menentukan pengertian pendidik, disebabkan karena pendidikan merupakan kewajiban agama, dan kewajiban hanya dipikulkan kepada orang yang telah dewasa. Kewajiban itu pertama-tama bersifat personal, dalam arti bahwa setiap orang bertanggung jawab atas pendidikan dirinya sendiri. Kemudian meningkat pada dataran sosial yang berarti bahwa setiap orang bertanggung jawab atas pendidikan orang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah QS. Al-Tahrim: 6: yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …” (At-Tahrim (66) : 6).

Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pendidik pertama dan yang utama adalah orang orang tua dan keluarga, yang bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak-anaknya, karena sukses tidaknya anak akan sangat bergantung pengasuhan, perhatian dan pendidikan orang tuanya.

Pendidik dalam pendidikan Islam adalah setiap orang dewasa yang karena kewajiban agamanya bertanggung jawab atas pendidikan dirinya dan orang lain. Sedangkan yang menyerahkan tanggung jawab dan amanat pendidikan adalah agama, dan wewenang pendidik dilegitimasi oleh agama, sementara yang menerima tanggung jawab dan amanat adalah setiap orang dewasa. Ini berarti bahwa pendidik merupakan sifat yang lekat pada setiap orang karena tanggung jawabnya atas pendidikan.

Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidik dalam pendidikan Islam adalah setiap orang yang memikul pertanggungjawaban untuk mendidik peserta didik menuju pada kedewasaan dan mempunyai kepribadian yang sesuai dan selaras dengan ajaran Islam.

Karena tuntutan orang tua itu semakin banyak, anaknya diserahkan kepada lembaga sekolah sehingga definisi pendidik di sini adalah mereka yang memberikan pelajaran peserta didik, yang memegang suatu mata pelajaran tertetnu di sekolah. Penyerahan peserta didik ke lembaga sekolah bukan berarti orang tua lepas tanggung jawabnya sebagai pendidik yang pertama dan utama, tetapi orang tua masih mempunyai saham dalam membina dan mendidik anak kandungnya.

C.      Karakter yang Harus Dimiliki oleh Seorang Pendidik

Seorang pendidik harus dapat mengembangkan kepribadian seorang anak atau peserta didik dan meyiapkannya untuk menjadi anggota masyarakat. Profil seorang pendidik berarti gambaran perilaku kependidikan yang dimiliki dan ditampilkan oleh seorang pendidik. Oleh karena itu tidak semua orang dewasa dapat dikategorikan sebagai pendidik. Seorang pendidik harus memperlihatkan bahwa ia mampu mandiri, tidak tergantung kepada orang lain. Ia dituntut tidak hanya bertanggung jawab terhadap peserta didik tetapi juga pada dirinya sendiri.

Tanggung jawab pendidik cukup berat, tanggung jawab ini didasarkan atas kebebasan yang ada pada dirinya untuk memilih perbuatan yang terbaik menurutnya. Apa yang dilakukannya menjadi teladan bagi masyarakat. Dengan demikian seorang pendidik diharapkan mampu mendidik orang lain, maksudnya memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas mendidik dengan baik. Untuk itu seorang pendidik harus memiliki karakteristik yang melekat pada seorang pendidik dalam melaksanakan tugasnya dalam mendidik.

Karakteristik yang harus dimiliki itu adalah sebagai berikut:

  1. Kematangan diri yang stabil; memahami diri sendiri, mencintai diri secara wajar dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan serta bertindak sesuai dengan nilai-nilai itu, sehingga ia bertanggung jawab sendiri atas hidupnya, tidak menggantungkan diri atau menjadi beban orang lain.
  2. Kematangan sosial yang stabil; dalam hal ini seorang pendidik dituntut mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masyarakatnya, dan mempunyai kecakapan membina kerja sama dengan orang lain.
  3. Kematangan profesional (kemampuan mendidik); yakni menaruh perhatian dan sikap cinta terhadap peserta didik serta mempunyai pengetahuan yang cukup tentang latar belakang peserta didik dan perkembangannya, memiliki kecakapan dalam menggunakan cara-cara mendidik.

D.      Kedudukan Pendidik dalam Pendidikan Islam

Pendidik adalah merupakan salah satu dari faktor-faktor pendidikan yang mempunyai peranan sangat penting dalam keberhasilan suatu pendidikan. Dalam Islam, seorang pendidik sangatlah dihargai dan dihormati kedudukannya.

Pendidik adalah bapak rohani bagi peserta didik, yang memberikan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan memperbaiki akhlak yang kurang baik. Oleh karena itu, pendidik mempunyai kedudukan yang tinggi sebagaimana yang dilukiskan dalam hadits Nabi Muhammad saw. bahwa: “Tinta seorang ilmuan (ulama’) lebih berharga ketimbang darah para syuhada’ “. Bahkan Islam menempatkan pendidik setingkat dengan derajat seorang Rasul. Dalam hal ini Syaukari bersyair:

قم للمعلم وفه التبجيل Z كادالمعلم ان يكون رسولا

“Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan seorang guru itu hampir saja merupakan seorang Rasul”.

Al-Ghazali menukil beberapa teks hadits yang berkenaan dengan keutamaan seorang pendidik, dan berkesimpulan bahwa pendidik merupakan orang-orang besar yang aktivitasnya lebih baik dari pada ibadah setahun. Selanjutnya; Al-Ghazali berasumsi bahwa pendidik merupakan pancaran cahaya keilmuan dan keilmihannya. Apabila dunia tanpa ada pendidik, niscaya manusia seperti binatang, sebab: pendidikan adalah upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan (baik binatang buas maupun binatang jinak) kepada sifat insaniyah dan ilahiyah”.

E.     Tugas Pendidik dalam Pendidikan Islam

Keutamaan seorang pendidik disebabkan oleh tugas mulia yang diembannya, karena tugas mulia dan berat yang dipikul hampir sama dan sejajar dengan tugas seorang Rasul. Dari pandangan ini, dapat dipahami bahwa tugas pendidik adalah mengajak manusia untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum Allah, guna memperoleh keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Menurut Al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, mensucikan, serta membawakan hati nurani untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepaba Allah swt.

Dalam paradigma “Jawa”, pendidik diidentikkan dengan guru yang artinya digugu dan ditiru. Namun dalam paradigma baru, pendidik tidak hanya bertugas sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator dan fasilitator proses belajar mengajar yaitu relasi dan aktualisasi sifat-sifat Ilahi manusia dengan cara aktualisasi potensi-potensi manusia untuk mengimbangi kelemahan-kelemahan yang dimiliki.

Berkaitan dengan tanggung jawab; guru harus mengetahui dan memahami nilai, norma moral dan sosial, serta berusaha berperilaku den berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap segala tindakan-tindakannya dalam pembelajaran di sekolah, dan dalam kehidupan bermasyarakat.

Seorang pendidik dituntut mampu memainkan peranan dan fungsinya dalam menjalankan tugas keguruannya. Hal ini menghindari adanya benturan fungsi dan peranannya, sehingga pendidik bisa menempatkan kepentingannya sebagai individu, anggota masyarakat, warga negara, dan pendidik sendiri. Antara tugas keguruan atau kependidikannya dan tugas lainnya harus ditempatkan menurut proporsional dan prioritasnya.

Beberapa tugas dan fungsi pendidik, diantaranya:

  1. Sebagai pengajar (instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran dan program yang telah disusun serta mengakhiri dengan pelaksanaan penilaian setelah program dilaksanakan.
  2. Sebagai pendidik (educator) yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan yang berkepribadian kamil seiring dengan tujuan Allah  menciptakannya.
  3. Sebagai pemimpin (managerial) yang memimpin, mengendalikan kepada diri sendiri, peserta didik, dan masyarakat yang terkait, terhadap berbagai masalah yang menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan dan partisipasi atas program yang dilakukan.

F.      Syarat dan Kode Etik Seorang Pendidik dalam Pendidikan Islam

Kode etik pendidik adalah norma-norma yang mengatur hubungan kemanusiaan antara pendidik dan peserta didik, orang tua peserta didik, koleganya, serta dengan atasannya. Bentuk kode etik suatu lembaga pendidikan tidak harus sama, namun secara intrinsic mempunyai kesamaan yang berlaku secara umum. Pelanggaran terhadap kode etik akan mengurangi nilai dan kewibawaan identitas pendidik.

Di antara kode etik tersebut adalah seorang pendidik harus bersikap penyantun dan penyayang, menerima segala problem peserta didik dengan hati dan sikap terbuka dan tabah, bersifat merendah ketika menyatu dengan sekelompok masyarakat, meninggalkan sifat yang menakutkan pada peserta didik, dan lain-lain.

Sedangkan untuk syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang pendidik banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya masing-masing.

Al-Kanani mengemukakan syarat seorang pendidik atas tiga macam, yaitu: 1) yang berkenaan dengan dirinya sendiri; 2) yang berkenaan dengan pelajaran atau materi; 3) yang berkenaan dengan murid atau peserta didiknya.

Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengemukakan pendapatnya tentang syarat-syarat bagi pendidik, yaitu: 1) pendidik harus zuhud, yakni ikhlas dan bukan semata-mata bersifat materialistik; 2) bersih jasmani dan rohani, dalam berpakaian rapi dan bersih, dalam akhlaqnya juga baik; 3) bersifat pemaaf, sabar dan pandai menahan diri; 4) seorang pendidik harus menjadi seorang bapak sebelum menjadi pendidik (mencintai peserta didik seperti anak sendiri); 5) mengetahui tabiat dan tingkat berfikir anak; 6) menguasai bahan pelajaran yang diberikan (guru).

Dalam literatur yang lain seperti dalam ilmu pendidikan Islam Prof. Ramayulis, disebutkan beberapa syarat pendidik, yaitu: 1) beriman; 2) bertaqwa; 3) ikhlas; 4) berakhlaq; 5) berkepribadian yang integral (terpadu); 6) bertanggung jawab; 7) cakap; 8) keteladanan; 9) memiliki kompetensi kependidikan yang mencakup: kompetensi kepribadian, kompetensi penguasaan atas bahan pengajaran, dan kompetensi dalam metode dan pendekatan dalam pendidikan.

Syarat dan kode etik ini merupakan suatu hal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik mengingat tanggung jawab seorang pendidik sangat besar dalam pendewasaan dan pembentukan kepribadian peserta didik yang sesuai dengan ajaran Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Hasbullah. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Ed. 1. cet. 3. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Mujib, Abdul. dan Jusuf Mudzakkir. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Cet.2. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Munardji. 2004. Ilmu Pendidikan Islam.cet.1. Jakarta: PT. Bina Ilmu.

Patoni, Achmad. 2004. Metodologi Pendidikan Agama Islam. ed. 1. cet. 1. Jakarta: PT Bina Ilmu.

Sekian

Semoga Bermanfaat

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: