PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN


PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN

(Sebuah Kajian Psikologi Agama)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.      Latar Belakang

Pendidikan merupakan usaha membuat manusia menjadi lebih dewasa dengan berbagai cara. Dengan pendidikan manusia akan menjadi mengerti tugas-tugas yang harus ia kerjakan, dan ia juga akan lebih dapat menyempurnakan dirinya sebagai manusia.

Dengan pendidikan manusia dapat berubah dari bodoh menjadi pandai dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Disamping itu tujuan pendidikan ialah untuk memperbaiki sikap dan akhlak seseorang, terlebih lagi hal itu adalah pendidikan islam. Peran pendidikan dalam mempengaruhi sikap dan kepribadian seseorang sangat besar. Hal itu ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari yang tampak riil. Karena pada dasarnya seorang manusia itu dilahirkan dengan membawa potensi dasar, dan selanjutnya potensi tersebut dikembangkan dengan pendidikan.

Lingkungan pendidikan tidak hanya lingkungan pendidikan formal atau lebih spesifik dapat dikatakan dengan sebutan sekolah. Karena pada dasarnya pendidikan itu berlangsung dimanapun, dan kapanpun, yang hal itu sesuai dengan sabda Nabi yang menyatakan bahwa pendidikan itu berlangsung sejak dari bayi yang belum bisa apa-apa sampai ia kembali bertemu dengan Tuhannya. Pentingnya pendidikan dalam mempengaruhi diri seseorang dapat diibaratkan seseorang yang tanpa pendidikan akan sama seperti binatang bahkan akan lebih jelek akhlaknya dari pada binatang.

Lingkungan juga merupakan pendidikan demikian juga masyarakat. Karena semua itu mempengaruhi sikap dan kepribadian. Yang kedua hal tersebut dapat digabungkan dengan sebutan jiwa. Terlebih lagi pendidikan mempunyai pengaruh besar terhadap jiwa keagamaan yang timbul pada seseorang. Karena jiwa keagamaan yang dimiliki seseorang paling besar dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan lingkungannya.

Oleh karena itu kami disini akan menguraikan mengenai hubungan pendidikan dalam mempengaruhi jiwa keagamaan seseorang. Yang kami tinjau dari sudut psikologis dan agamis, agar lebih jelas lagi pemahaman mengenai hal tersebut.

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai pembahasan kali ini, kita lihat dahulu pengertian pendidikan. Dari berbagai pengertian yang diberikan oleh tokoh-tokoh pendidikan dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan ialah usaha sadar yang dilakukan dengan sengaja oleh seseorang kepada orang lain yang bertujuan untuk mencapai kedewasaan dengan memiliki tanggung jawab moral.

B.     Pendidikan Keluarga

Sering kali dikatakan sulit sekali mengabaikan peran lingkungan dan pendidikan keluarga dalam kaitannya dengan pengaruh terhadap jiwa seseorang, hal itu dikarenakan sejak lahir sampai usia sekolah seorang manusia mempunyai lingkungan pendidikan tunggal yaitu keluarga. Makanya tak heran jika ilmuwan menyatakan bahwa kebiasaan seorang anak sebagian besar dibentuk oleh lingkungan keluarga. Karena sejak bangun sampai tidur kembali anak-anak menerima pengaruh dan pendidikan dari lingkungan keluarga.

Menurut Walter Houston Calrk, perkembangan bayi tak mungkin berlangsung secara normal tanpa adanya intervensi dari luar, walaupun secara alami ia memiliki potensi bawaan. Pendapat ini menunjukkan bahwa tanpa bimbingan dan pengawasan yang teratur, bayi akan kehilangan kemampuan berkembang secara normal, walaupun ia memiliki potensi untuk bertumbuh dan berkembang serta potensi-potensi lainnya.

Potensi yang dimiliki seorang anak tersebut sesuai dengan ajaran islam, yang hal itu tercantum dalam hadist yang artinya: tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi atau nasrani atau majusi. Maka dari itu islam mengajarkan agar seorang anak itu dididik secara baik karena hal itu merupakan tanggung jawab orang tuanya.

Cerita tentang tarzan dan yang lainnya seperti yang berkembang di barat merupakan manifestasi bagaimana perkembangan seorang manusia tanpa didikan dari lingkungan keluarga yang sesuai. Ilustrasi dan cerita tentang tarzan dan yang lainnya tersebut menunjukkan bagaimana pengaruh pendidikan, baik dalam bentuk pemeliharaan ataupun pembentukan kebiasaan terhadap masa depan perkembangan seorang anak.

Bahkan menurut W.H. Clark, para psikolog pada umumnya berpendapat, bayi yang baru lahir keadaannya lebih mendekati binatang ketimbang manusia. Malahan anak kera yang tumbuh dengan baik dalam hal-hal tertentu lebih banyak memperlihatkan sifat-sifat yang lebih menyerupai sifat manusia dibandingkan dengan bayi manusia yang baru lahir, jika bayi manusia itu semata-mata dilihat dari segi tubuhnya bukan dari esensinya. Jika bayi manusia dilihat dari esensinya maka bayi tersebut lebih mirip binatang, akan tetapi terdapat yang membedakan yaitu bahwa bayi manusia atau boleh dikatakan manusia diciptakan dalam bentuk akhsani taqwim (bentuk yang paling baik).

Kondisi seperti itu tampaknya menyebabkan manusia memerlukan pemeliharaan, pengawasan dan bimbingan yang serasi dan sesuai agar pertumbuhan dan perkembangannya dapat berjalan secara baik dan benar. Manusia memang bukan makhluk instinktif secara utuh, sehingga ia tidak mungkin tumbuh dan berkembang secara instinktif sepenuhnya.

Keluarga menurut para pendidik merupakan lapangan pendidikan yang pertama dan pendidiknya adalah kedua orang tua. Maka dari itu mereka dapat disebut sebagai pendidik secara kodrati, bahkan mereka oleh Tuhan diberi naluri untuk menyayangi kepada anak-anak mereka, sehingga mereka merasa terbebani untuk memelihara dan membimbing anak-anak mereka.

Pendidikan dalam keluarga memiliki fungsi dan peranan, antara lain: merupakan pengalaman pertama masa kanak-kanak, menjamin kehidupan emosional anak, tempat menanamkan dasar pendidikan moral, memberikan dasar pendidikan sosial, dan sebagai peletak dasar-dasar keagamaan. Maka dari itu pendidikan keluarga mempunyai peran yang sangat penting sekali bagi kelangsungan perkembangan jiwa seseorang.

Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan. Perkembangan agama menurut W.H.Clark berjalin dengan unsur-unsur kejiwaan sehingga sulit untuk diidentifikasi secara jelas, karena masalah yang menyangkut kejiwaan manusia demikian rumit dan kompleksnya. Namun demikian melalui fungsi-fungsi jiwa yang masih sangat sederhana tersebut, agama terjalin dan telibat didalamnya. Melalui jalinan unsur-unsur dan tenaga kejiwaan ini pulalah agama itu berkembang. Dalam kaitan itu pulalah terlihat peran pendidikan keluarga dalam menanamkan jiwa keagamaan pada anak.

Maka dari itu rasul memerintahkan untuk mendidik seorang anak sebaik mungkin, bahkan ia mengatakan orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan masa depan dan jiwa keagamaan seorang anak, seperti yang telah dijelaskan pada hadits di atas. Walaupun pada dasarnya manusia sudah mempunyai fitrah (potensi dasar) yang ada pada dirinya, namun bentuk keyakinan yang akan ia anut selanjutnya bergantung kepada peran dan pemeliharaan kedua orang tuanya.

C.     Pendidikan Kelembagaan

Di masyarakat primitif lembaga pendidikan secara khusus tidak ada. Anak-anak umumnya dididik di lingkungan keluarga dan masyarakat lingkungannya. Pendidikan secara kelembagaan memang belum diperlukan, karena variasi profesi dalam kehidupan belum ada. Dan juga karena kehidupan masih bercorak homogen, maka kemampuan profesional diluar tradisi yang diwariskan turun temurun tidak mungkin dapat berkembang dengan baik. Maka dari itu pendidikan pada masa itu masih menyatu dengan pewarisan budaya masyarakat dan juga masih menyatu dengan kehidupan keluarga.

Sebaliknya di masyarakat modern, tradisi seperti itu sudah tidak mungkin dapat dipertahankan lagi. Untuk menyelaraskan diri dengan perkembangan kehidupan masyarakat, seseorang memerlukan pendidikan. Sejalan dengan kepentingan tersebut maka dibentuklah lembaga yang namanya sekolah, yang tujuannya untuk mengembangkan pendidikan.

Memang sulit untuk mengungkapkan secara tepat mengenai seberapa jauh pengaruh pendidikan agama melalui kelembagaan pendidikan terhadap perkembangan jiwa keagamaan pada anak. Berdasarkan penelitian Gillesphy dan Young, walaupun latar belakang pendidikan agama di lingkungan keluarga lebih dominan dalam pembentukan jiwa keagamaan pada anak, barangkali pendidikan agama yang diberikan di kelembagaan ikut berpengaruh terhadap pembentukan jiwa keagamaan anak. Contohnya yaitu banyak sekali tokoh-tokoh keagamaan yang dilahirkan atau dihasilkan oleh kelembagaan seperti pondok pesantren.

Pendidikan agama di lembaga pendidikan bagaimanapun akan memberi pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan pada anak. Namun demikian besar kecilnya pengaruh yang dimaksud sangat tergantung berbagai faktor yang dapat memotivasi anak untuk memahami nilai-nilai agama. Sebab pendidikan agama pada hakekatnya merupakan pendidikan nilai. Oleh karena itu pendidikan agama lebih dititikberatkan bagaimana membentuk kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama.

Kebiasaan adalah cara bertindak atau berbuat seragam. Dan pembentukan kebiasaan ini menurut Wetherington melalui dua cara. Pertama dengan pengulangan den kedua dengan disengaja dan direncanakan.

Jika pada lembaga keluarga jiwa keagamaan dapat dibentuk dengan cara pengulangan dan menjadi kebiasaan, maka pada pendidikan kelembagaan dibentuk dengan cara yang sudah disengaja dan direncanakan. Dengan demikian pengaruh pendidikan kelembagaan terhadap jiwa keagamaan tergantung dari perencanaan pendidikan agam yang diberikan sekolah.

Fungsi sekolah dalam kaitannya dengan pembentukan jiwa keagamaan pada anak, antara lain sebagai pelanjut pendidikan agama dilingkungan keluarga atau membentuk jiwa keagamaan pada diri anak yang tidak menerima pendidikan agama dalam keluarga.

Proses perubahan sikap dari tidak menerima ke sikap menerima berlangsung melalui tiga tahap perubahan sikap. Proses pertama adanya perhatian, kedua pemahaman, dan ketiga adanya penerimaan.

Caranya yaitu pertama pendidikan agama harus dapat menarik perhatian peserta didik. Kedua  pendidik harus mampu memberikan pemahaman tentang materi pendidikan yang diberikannya kepada anak didik. Ketiga yaitu penerimaan siswa terhadap materi yang diberikan.

D.      Pendidikan di Masyarakat

Masyarakat merupakan lapangan pendidikan yang ketiga. Para pendidik pada umumnya sepakat bahwa masyarakat juga ikut mempengaruhi perkembangan anak didik. Keserasian antara ketiga lembaga pendidikan yang sudah disebutkan tadi akan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan anak didik, terlebih lagi yaitu perkembangan jiwa keagamaannya.

Menurut Wetherington ada enam aspek dalam mengsuh pertumbuhan itu, yaitu: 1) fakta-fakta asuhan;2) alat-alatnya; 3)regularitas; 4) perlindunga; 5) unsur waktu. Fakta menunjukkan bahwa lingkungan sekitar mempengaruhi perkembangan jiwa kegamaan pada anak didik. Hal itu dapat dikarenakan, jika pertumbuhan fisik akan berhenti saat anak mencapai usia tertentu, namun pertumbuhan psikis tidak demikian. Pertumbuhan psikis berlangsung seumur hidup. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di sekolah hanya berlangsung saat tertentu saja, sedangkan pendidikan di masyarakat berlangsung seumur hidup. Maka dari itu pendidikan di lingkungan memberikan kontribusi dalam rangka membentuk jiwa keagamaan.

Jiwa keagamaan yang memuat nilai-nilai, termasuk di dalamnya nilai kesopanan dan lainnya, tidak akan dapat dikuasai hanya dengan mengenal saja, tetapi harus diamalkan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa fungsi dan peran masyarakat dalam pembentukan jiwa keagamaan akan sangat tergantung dari seberapa jauh masyarakat tersebut menjunjung norma-norma keagamaan itu sendiri. Karena dalam agama sudah terdapat norma kegamaan yang harus dijunjung sebagaimana mestinya.

E.      Agama dan Masalah Sosial

Tumbuh dan berkembangnya kesadaran agama (religious consciousness) dan pengalaman agama (religious experience), ternyata melalui proses yang gradual, tidak sekaligus. Pengaruh luar sangat berperan dalam menumbuhkembangkannya, khususnya pendidikan. Adapun pendidikan yang paling berpengaruh yakni pendidikan dalam keluarga. Apabila dalam lingkungan keluarga anak tidak diberikan pendidikan agama, biasanya sulit untuk memperoleh kesadaran dan pengalaman beragama yang memadai tanpa hidayah langsung dari Tuhan.

Kita dapat mengambil contoh disini yaitu masalah anak jalanan, mereka seakan-akan mempunyai dunia sendiri yang serba membolehkan dan mempunyai pengaruh buruk. Walaupun jika kita melihat mereka, mereka dari golongan yang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda.

Bila konflik agama dapat ditimbulkan oleh tindakan radikal, karena sikap fanatisme agama, maka dalam kasus anak jalanan ini mungkin sebaliknya. Konflik dapat terjadi karena kosongnya nilai-nilai agama. Dalam kondisi kehidupan yang seperti ini, tindakan emosional dapat terjadi sewaktu-waktu. Hal ini dikarenakan tidak adanya nilai-nilai agama yang dapat mengikat dan mengatur sikap dan perilaku negatif. Dengan demikian mereka akan mudah terprovokasi dengan berbagai isu yang berkembang.

Meskipun anak-anak jalanan ini sering digolongkan sebagai kelompok masyarakat yang termarginalisasikan, namun mereka merupakan generasi muda bangsa. Nasib dan pengaruh lingkungan yang membawa mereka ke dalam kehidupan yang demikian. Semuanya menjadikan mereka kehilangan alternatif dan kemampuan untuk menentukan jalan hidupnya. Oleh karena itu tanggung jawab terbebankan kepada masyarakat secara keseluruhan.

Dalam konteks ini sebenarnya institusi keagamaan dan kependidikan dapat berperan. Kasus ini memerlukan penanganan yang serius dari seluruh lapisan masyarakat, agar kasus ini tidak menjadi masalah sosial yang berkepanjangan dan itu merupakan aplikasi dari kesadaran beragama. Semoga Allah memberikan jalan kepada kita untuk selalu saling tolong-menolong sesama.

Sekian

Semoga Bermanfaat

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: