MEMAHAMI KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI


MEMAHAMI KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengantar

Kepribadian adalah sesuatu yang pasti terdapat dalam diri setiap manusia, baik manusia itu beragama maupun tidak. Secara umum kepribadian terdapat dalam diri setiap individu yang normal. Sedangkan orang yang tidak normal kepribadiannya tidak tertentu dan tidak dapat diamati secara pasti, walaupun pada dasarnya setiap kepribadian itu dapat diamati melalui gejala-gejala yang tampak.

Pada ilmu psikologi kepribadian dibahas dalam kajian ilmu yang termasuk bagian dari psikologi secara tersendiri. Maka hal itu memunculkan ilmu baru yaitu psikologi kepribadian. Kemudian dalam psikologi agama juga dibahas kepribadian orang beragama atau dapat dikatakan kepribadian orang menurut pandangan atau sudut pandang agama.

Dalam pandangan psikologi agama manusia mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, maka dari itu menimbulkan sikap keagamaan yang berbeda-beda pula. Disamping itu juga menimbulkan sesuatu yang berbeda, jika orang tersebut berbeda agama, karena agama yang satu dengan agama yang lain berbeda.

Maka dari itu kami akan mencoba mengungkap tentang kepribadian dan sikap keagamaan seseorang dalam beragama, yang kami ambil dari berbagai literatur yang kami temukan.

B.     Pengertian dan Teori Kepribadian

Sebelum melangkah lebih jauh mengenai hubungan  kepribadian dengan sikap keagamaan, secara berurutan akan dikemukakan dahulu hal-hal yang menyangkut dengan kepribadian.

Kata personality dalam bahasa inggris berasal dari bahasa Yunani kuno prosopon atau persona, yang artinya ‘topeng’ yang biasa dipakai artis dalam teater.

Personality mempunyai sinonim yang sangat banyak dalam aplikasinya. Namun ketika semua istilah tersebut dipakai dalam psikologi mempunyai arti atau ma’na yang berbeda-beda.

Istilah yang berdekatan maknanya itu antara lain:

  1. Personality (kepribadian) penggambaran tingkah laku secara diskriptif tanpa memberi nilai (devaluative).
  2. Character (karakter), penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
  3. Diposition (watak), karakter yang telah lama dimiliki dan sampai sekarang belum berubah.
  4. Temperamen (temperamen); kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologik atau fisiologik, diposisi hereditas.
  5. Traits (sifat); respon yang senada (sama) terhadap sekelompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama.
  6. Type-attribute (ciri); mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas.
  7. Habit (kebiasaan) respon yang sama cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula.

Dalam berbagai kata yang mempunyai pengertian yang hampir sama, para psikolog kemudian membuat definisi tersendiri menurut pengetahuan mereka masing-masing, antara lain:

Allport mendefinisikan kepribadian sebagai berikut:

Kepribadian adalah organisasi-organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Koentjaraningrat (1980) menyebut kepribadian atau personality sebagai “susunan unsur-undur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia.

Hartmann: Susunan yang terintegrasikan dari ciri-ciri umum seseorang individu sebagaimana dinyatakan dalam corak khas yang tegas diperlihatkannya kepada orang lain.

Wetherington

Dari seluruh definisi yang telah dikemukakan diatas Wetherington menyimpulkan bahwa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  • Manusia karena keturunannya mula sekali hanya merupakan individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya.
  • Kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek saja dari keseluruhan itu.
  • Kata kepribadian menyatakan pengertian tertentu saja yang ada pada pikiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai perangsang sosial seseorang.
  • Kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis, seperti bentuk badan atau ras, tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku seseorang.
  • Kepribadian tidak bekembang sacara pasif saja, setiap orang mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan sosial.

Jadi pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan pernyataan atau istilah yang digunakan menyebut tingkah laku seseorang yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya dari sudut filsafat dikemukakan pendapat:

William Stern

Menurut William Stern kepribadian adalah suatu kesatuan yang banyak (Unita Multi Complex) yang diarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu dan mengandung sifat-sifat khusus individu, yang bebas menentukan dirinya sendiri.

Prof Kohnstamm

Ia menentang William Stern yang meniadakan kesadaran pada pribadi terutama kepada Tuhan. Menurut Kohnstamm; Tuhan merupakan pribadi yang menguasai alam semesta. Dengan kata lain kepribadian sama artinya dengan teistis (keyakinan). Orang yang berkepribadian menurutnya ialah orang yang berkeyakinan ketuhanan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa dalam pandangan filsafat kepribadian diidentikkan dengan kepercayaan terhadap Tuhan dan keagamaannya.

C.     Tipe-Tipe Kepribadian

Jika berbicara mengenai tipe-tipe kepribadian, hal itu sangat luas dan setiap cabang psikologi mempunyai pandangan yang berbeda yang hal tersebut mencakup keseluruhan dari teori tersebut. Akan sangat panjang kalau dibicarakan di sini.

Secara garis besarnya pembagian tipe kepribadian manusia ditinjau dari berbagai aspek antara lain:

1.  Aspek Biologis

Aspek biologis yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang ini didasarkan atas konstitusi tubuh dan bentuk tubuh yang dimiliki seseorang, tokoh-tokoh yang mengemukakan teorinya berdasarkan aspek biologis ini antara lain:

Hippocrates dan Galenus

mereka berpendapat, bahwa yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang adalah jenis cairan tubuh yang paling dominan, yaitu:

  1. Tipe Choleris

Tipe ini disebabkan cairan empedu kuning yang dominan dalam tubuhnya. Sifatnya agak emosi, mudah marah dan mudah tersinggung.

  1. Tipe melancholis

Tipe ini disebabkan cairan empedu hitam yang dominan dalam tubuhnya. Sifatnya agak tertutup, rendah diri, mudah sedih sering putus asa.

  1. Tipe Plegmatis

Tipe ini dipengaruhi oleh cairan lendir yang dominan. Sifat yang dimilikinya agak statis, lamban, apatis, pasif, pemalas.

  1. Tipe Sanguinis

Tipe ini dipengaruhi oleh cairan darah merah yang dominan. Sifat yang dimilikinya agak aktif, cekatan, periang, mudah bergaul.

Disamping Hippocrates, masih banyak lagi tokoh-tokoh psikologi yang membagi tipe kepribadian berdasarkan aspek biologis. Mereka membaginya berdasarkan bagian yang berbeda-beda atau ciri khas yang berbeda, jadi juga ditemukan hasil yang berbeda pula. Pembagian pada aspek ini juga dilakukan oleh Kretcmer, dan Sheldon.

2. Aspek Sosiologis

Pembagian ini didasarkan kepada pandangan hidup dan kualitas sosial seseorang. Yang menegemukakan teorinya berdasarkan aspek sosiologis ini ialah;

Edward Spranger

Ia berpendapat bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh pandangan hidup mana yang dipilihnya. Berdasarkan hal itu ia membagi tipe kepribadian menjadi;

1)      Tipe teoritis, orang yang perhatiannya selalu diarahkan kepada masalah teori dan nilai-nilai; ingin tahu, meneliti dan mengemukakan pendapat.

2)      Tipe ekonomis, yaitu orang yang perhatiannya tertuju kepada manfaat sesuatu berdasarkan faedah yang mendatangkan untung rugi.

3)      Tipe esthetis, yaitu orang yang perhatiannya tertuju kepada masalah-masalah keindahan.

4)      Tipe sosial yaitu orang yang perhatiannya tertuju ke arah kepentingan masyarakat dan pergaulan.

5)      Tipe politis, yaitu orang yang perhatiannya tertuju kepada kepentingan kekuasaan, kepentingan dan organisasi.

6)      Tipe religius, yaitu  tipe orang yang taat kepada ajaran agama, senang masalah-masalah ketuhanan dan keyakinan.

Muray

Muray membagi tipe kepribadian menjadi;

1)      Tipe teoritis yaitu orang yang menyenangi ilmu pengetahuan berpikir logis dan rasional.

2)      Tipe humanis, yaitu tipe orang yang memiliki sifat kemanusiaan yang mendalam.

3)      Tipe sensasionis yaitu tipe orang yang suka sensasi dan berkenalan.

4)      Tipe praktis yaitu tipe orang yang giat bekerja dan mengadakan praktek.

3. Aspek Psikologis.

Dalam pembagian tipe kepribadian berdasarkan psikologis Prof. Hevman mengemukakan bahwa dalam diri manusia terdapat tiga unsur: emosionalitas, aktivitas dan fungsi sekunder (proses penggiring).

  1. Emosionalitas merupakan unsur yang mempunyai sifat yang didominasi oleh emosi yang positif, sifat umumnya adalah kurang respek terhadap orang lain, perkataan berapi-api, tegas, bercita-cita dinamis, pemurung, suka berlebih-lebihan.
  2. Aktivitas, yaitu sifat yang dikuasai oleh aktivitas gerakan, sifat umum yang tampak adalah lincah, praktis, berpandangan luas, ulet, periang dan selalu melindungi kepentingan orang lemah.
  3. Fungsi sekunder (proses penggiring), yaitu sifat yang didominasi oleh kerentanan perasaan, sifat umum yang tampak; watak tertutup, tekun, hemat, tenang dan dapat dipercaya.

Selanjutnya Carl Gustav yang membagi manusia menjadi dua pokok.

  1. Tipe extrovert, yaitu orang yang terbuka dan banyak berhubungan dengan kehidupan nyata.
  2. Tipe introvert, yaitu orang yang tertutup dan cenderung kepada berpikir dan merenung.

Masing-masing dari tipe extrovert dan introvert memiliki tipe pikiran, perasaan, penginderaan dan intuisi. Sehingga tupe kepribadian manusia tersebut terbagi atas:

  1. Tipe pemikiran terbuka.
  2. Tipe perasaan terbuka.
  3. Tipe penginderaan terbuka.
  4. Tipe intuisi terbuka.
  5. Tipe pemikiran tertutup.
  6. Tipe perasaan tertutup.
  7. Tipe penginderaan tertutup.
  8. Tipe intuisi tertutup.

Sebenarnya masih banyak lagi selain tipe-tipe di atas pembagian tipe kepribadian menurut para ahli. Hal tersebut dikarenakan berbeda ahli yang mengemukakan berbeda pula pandangannya dan dasar penggolongannya. Yang perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan pembagian. Namun yang telah disebutkan diatas kiranya cukup untuk sebagai bekal dalam rangka mendalami dan membahas kepribadian dalam pandangan psikologi agama.

D.     Hubungan Kepribadian Dan Sikap Keagamaan

1. Struktur Kepribadian

Sigmund Feud merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamainya id, ego dan super ego. Dalam diri orang yang memiliki jiwa yang sehat ketiga sistem itu bekerja dalam suatu susunan yang harmonis. Segala bentuk tujuan dan gerak geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok. Sebaliknya kalau ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan satu sama lainnya, maka orang tersebut dinamainya sebagai orang yang tak dapat menyesuaikan diri.

  1. Id . Sebagai suatu sistem id mempunyai fungsi menunaikan prinsip kehidupan asli manusia berupa penyaluran dorongan naluriah.
  2. Ego. Merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan id ke keadaan yang nyata.
  3. Super ego. Sebagai suatu sistem yang memiliki unsur moral dan keadilan, maka sebagian besar super ego mewakili alam ideal. Tujuan super ego adalah membawa individu ke arah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral.

2. Sukamto. M.M.

Menurut pendapat Sukamto kepribadian terdiri dari empat sistem yaitu:

  • Qalb. Qalb adalah hati, yang menurut bahasa berarti sesuatu yang berbolak-balik. Sedangkan menurut istilah ialah segumpal daging yang ada dalam tubuh yang digunakan untuk merasakan yang sifatnya bisa berubah-ubah. Hal tersebut sesuai sabda Nabi; yang artinya: ketahuilah bahwa didalam tubuh manusia terdapat segumpal daging(sekepal daging), jika itu baik maka  baiklah seluruh tubuh. Kalau itu rusak maka rusaklah seluruh tubuh, itulah qalb.
  • Fuad, adalah perasaan terdalam dari hati yang sering kita sebut hati nurani (cahaya mata hati), dan berfungsi sebagai penyimpan daya ingatan. Ia sangat sensitif terhadap gerak atau dorongan hati, dan merasakan akibatnya. Kalau hati kufur, fuad pun kufur dan menderita. Dalam al qur’an fuad disebutkan sebagai berikut;
    • Fuad bisa bergoncang gelisah.  10.  Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak kami teguhkan hati- nya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).
    • Dengan diwahyukannya Al Qur’an kepada nabi, fuad nabi menjadi teguh. 32.  Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).
    • Fuad tidak bisa berdusta. 11.  Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
    • Orang zalim fuadnya kosong. 43.  Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.
    • Orang musryk fuad dan pandangannya dibolak-balikkan. 110.  Dan (begitu pula) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.
    • Ego. Aspek ini timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Ego adalah derivat dari qalb dan bukan untuk merintanginya. Kalau qalb hanya mengenal dunia sesuatu yang subyektif dan yang obeyektif. Didalam fungsinya ego berpegang pada prinsip kenyataan.
    • Tingkah laku. Nafsiologi kepribadian berangkat dari kerangka acuan dan asumsi-asumsi subyektif tentang tingkah laku manusia, karena menyadari bahwa tidak seorangpun bisa bersikap obyektif sepenuhnya dalam mempelajari manusia. Tingkah laku ditentukan oleh pengalaman yang disadari oleh pribadi. Masalah normal dan abnormal tentang tingkah laku, dalam nafsiologi ditentukan oleh nilai dan norma yang sifatnya universal. Orang yang disebut normal adalah orang yang seoptimal mungkin melaksanakan iman dan amal saleh di segala tempat. Kebalikan dari ketentuan itu adalah abnormal.

E.     Dinamika Kepribadian

Selain tipe dan struktur, kepribadian juga memiliki semacam dinamika yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktivitas seseorang. Unsur-unsur tersebut adalah:

  • Energi rohaniah yang berfungsi sebagai pengatur aktivitas rohaniah.
  • Naluri yang berfungsi sebagai pengatur kebutuhan primer.
  • Ego
  • Super ego.

Dalam kaitannya dengan tingkah laku keagamaan, maka dalam kepribadian manusia sebenarnya telah diatur semacam sistem kerja untuk menyelaraskan tingkah laku manusia agar tercapai ketentraman dalam batinnya. Secara fitrah manusia memang terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik, benar dan indah. Namun terkadang naluri mendorong manusia untuk segera memenuhi kebutuhannya yang bertentangan dengan realita yang ada.

Kemampuan ego untuk menahan diri tergantung dari pembentukan ego ideal. Dalam kaitan inilah bimbingan dan pendidikan agama sangat berfungsi bagi pembentukan kepribadian seseorang. Pendidikan moral dan akhlak digalakkan dalam upaya membekali ego ideal dengan nilai-nilai luhur. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan yang peletak dasarnya adalah orang tua. Hal tersebut sesuai dengan sabda Nabi; bahwa setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan yahudi, nasroni atau majusi. Bahkan pengaruh tersebut sampai pada dasar-dasar akidah seseorang. Jadi keberagamaan seseorang ditentukan oleh peran orang tuanya.

Seperti yang dikemukakan oleh Erich Fromm, bahwa pembentukan kepribadian tergantung dari dua faktor lingkungan, yakni; asimilasi dan sosialisasi. Asimilasi menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan bendawi, sedangkan sosialisasi menyangkut hubungan dengan lingkungan manusiawi. Kedua faktor ini sengat berpengaruh dalam pembentukan karakter dan watak seseorang, karena keduanya termasuk unsur kepribadian yang dipengaruhi faktor luar. Contohnya dalam keluarga penanaman nilai harus dilakukan secara sinkron, jangan sampai keluarga menjadikan lingkungan pendidikan yang keras karena akan berpengaruh kepada karakter dan sikap anak dalam memahami agama. Pembentukan kepribadian dimulai dengan penanaman sistem nilai pada diri anak. Dengan demikian pembentukan sikap dan kepribadian keagamaan dimulai dengan penanaman nilai-nilai keagamaan pada anak. Sistem nilai sebagai relaitas yang abstrak yang dirasakan  dalam diri sebagai pendorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman hidup. Hal itu menunjukkan bahwa sistem nilai merupakan unsur kepribadian yang tercermin dalam sikap dan perilaku, dan diyakini sebagai sesuatu yang benar dan perlu dipertahankan. Sistem nilai merupakan identitas seseorang.

Adapun pembentukan sistem nilai ini tergantung dari perlakuan yang diberikan oleh orang tua dan ketersediaan lingkungan agama yang mendukung. Sistem nilai memberi pengaruh dalam pembentukan kepribadian yang memuat empat unsur utamanya. Kepribadian secara utuh terlihat dari ciri khas, sikap, perilaku lahir dan batin, pola pikir dan jati diri. Dengan demikian kepribadian yang berdasarkan nilai-nilai agama terlihat dari kemampuan seseorang untuk menunjukkan ciri khas dirinya sebagai penganut agama, sikap dan perilakunya secara lahir dan batin yang sejalan dengan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya, pola pikirnya memiliki kecenderungan terhadap keyakinan agamanya, serta kemampuannya untuk mempertahankan jati diri sebagai seseorang yang beragama. Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang yang hidup dalam lingkungan agamis maka akan berkepribadian agama yang baik dan sesuai dengan agama yang dianutnya. Disamping itu dapat juga dilihat pula pentingnya pendidikan agama untuk mengisi nilai-nilai keagamaan seorang anak agar tumbuh menjadi seorang yang mempunyai kepribadian keagamaan yang sesuai.

Sekian

Semoga Bermanfaat

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: