ISLAMISASI SAINS


ISLAMISASI SAINS

(Antara Pro dan Kontra)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.    Latar Belakang

Islamisasi sains atau dalam istilahnya yaitu islamisasi ilmu pengetahuan merupakan salah satu dari epistemologi dari filsafat pendidikan islam. Dengan proses islamisasi sains ini maka seluruh ilmu pengetahuan dari barat akan diislamkan atau diberi warna islam ketika masuk dan diadopsi oleh masyarakat muslim. Pemfilteran tersebut dengan menggunakan kajian al qur’an dan hadist.

Dengan proses islamisasi ini diharapkan juga ilmu pengetahuan dalam islam akan menjadi berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Dan juga diharapkan akan menambah khasanah bagi ilmu pendidikan islam. Karena suatu ilmu tersebut akan berkembang bila diberi kontribusi oleh ilmu yang lain. Dengan adanya proses islamisasi ini diharapkan juga tidak akan terjadi proses ketidakpercayaan terhadap agama atau pengkafiran karena ilmu yang dipelajari yang berasal dari daerah barat mempunyai epistemologi dan pemikiran yang berbeda dengan ilmu dari pendidikan islam.

Akan tetapi dalam proses islamisasi ini terjadi pro dan kontra antara tokoh muslim terhadap proses ini. Disamping itu karena ini merupakan pemikiran baru maka belum banyak yang mengerti tentang proses islamisasi ini. Akibatnya mereka atau muslimin mengadopsi ilmu pengetahuan dari daerah barat tanpa melalui filter, yang akibatnya akan menjadikan orang tersebut menjadi mengikuti faham dari ilmu tersebut dan tidak percaya dengan ajaran islam.

Disamping itu juga proses islamisasi ini memerlukan waktu dan masih dalam kategori teori. Sedangkan realitanya belum nampak jelas atau belum menjadi sebuah kajian secara khusus. Bahkan buku yang menerangkan tentang islamisasi ini masih sedikit sekali dan sangat terbatas.

Maka dari itu kami atau saya sebagai penulis ingin mengungkap tentang islamisasi ilmu pengetahuan yang kami ambil dari berbagai literatur yang sangat terbatas tersebut.

B.     Pengertian Islamisasi Sains

Islamisasi secara bahasa adalah pengislaman atau menjadikan islam. Jadi islamisasi sains ialah menjadikan islam ilmu pengetahuan dari Barat agar dapat dan aman dikonsumsi oleh kaum muslimin.

Al Attas mengatakan, bahwa islamisasi ilmu adalah pembebasan ilmu dari penafsiran-penafsiran yang didasarkan pada ideologi sekuler dan dari makna serta ungkapan-ungkapan sekuler.

Banyak pemahaman ilmu pengetahuan yang terlanjur tersekulerkan dapat digeser dan diganti dengan pemahaman yang mengacu pada pesan-pesan islam, manakala proyek islamisasi pengetahuan benar-benar digarap secara serius dan maksimal. Sebagai tindak lanjut dari gagasan normatif itu para pemikir muslim terus berupaya keras untuk merumuskan islamisasi pengetahuan secara teoritis dan konseptual yang didasarkan pada gabungan antara argumentasi rasional dengan petunjuk-petunjuk wahyu.

Jadi pada intinya islamisasi sains Merupakan proses transformasi sains dari Barat ke dalam islam karena barat dianggap lebih maju dari islam, dengan memakai penyaringan filosofis.

C.    Pendekatan Sains Dalam Islam

Sebelum kita lebih jauh lagi membahas seputar mengenai islamisasi sains atau ilmu pengetahuan, maka hendaklah kita tentukan atau bicarakan mengenai pendekatan sains yang ada dalam islam.

Terdapat empat pendekatan yang digunakan dalam sains islam, antara lain: 1.I’jazul qur’an

I’jazul qur’an di pelopori maurice bucaille yang sempat heboh dengan bukunya”la bible,le coran et la science(edisi indonesia “bible,al qur’an dan ilmu pengetahuan). Pendekatannya adalah mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat al-qur’an. Hal ini kemudian banyak mendapat kritikan lantaran penemuan ilmiah tidak dapat di jamin ,tidak akan mengalami perubahan di masa depan, menganggap al-qur’an sesuai dengan sesuatu yang berubah berarti menganggap al Qur’an juga bisa berubah.

Kalau kita mau berfikir,berangkat dari Sumber segala sumber ilmu, yakni sang Maha Ilmu. Sang Maha Ilmu menyampaikan ilmunya melalui KALAM, dan muncul 2 jalan:

1. Kalamul Kitab, yakni melalui kitab-kitab yang kita sebut dengan kitab suci .

2. Kalamul Kaun, yakni melalui ilmu-ilmu pengetahuan umum yang bisa dipelajari oleh siapapun juga tanpa memandang agama masing-masing.

Kalamul Kitab, atau Kitab suci, di sini (lepas dari masalah agama ini meyakini yang itu, agama itu meyakini yang ini), mengajarkan kepada manusia tentang ilmu-ilmu yang bersifat ritual, ibadah, pengabdian kepada Tuhannya melalui berbagai cara dan sarana, dan biasanya juga mengajarkan tentang pokok-pokok yang mesti dilakukan selama di dunia demi pengabdian kepada sang Maha.Ilmu yang ada di Kitab sucipun seringkali membicarakan tentang sejarah manusia,tentang keilmuan yang ada di alam juga, tetapi dengan sumber-sumber yang terbatas sekali. Maka melalui kitab suci inilah yang kita sebut dengan istilah ilmu-ilmu agama. Dimana muncul dari dalam kitab suci ini istilah ilmu-ilmu lahir dan ilmu-ilmu bathin.

Kalamul Kaun, atau ayat-ayat Tuhan yang ada di alam semesta ini, menghasilkan ilmu-ilmu yang bersifat ilmu Alam dan bersifat ilmu Sosial. Meskipun secara globalnya tetap memunculkan ilmu yang bersifat ilmiah, bisa dinalar dan ilmu yang tidak bisa di nalar, atau ilmu methaphisic atau ilmu ghaib.
Ilmu-ilmu Alam menjadi berbagai macam bidang, seperti ilmu Fisika, dengan
derivatifnya teknik fisika, fisika murni, dll, seperti juga ilmu Kimia, dengan
derivatif ilmunya seperti Teknik Kimia, ilmu Biologi, ilmu rancang bangun, dan
masing-masing dari ilmu ini mengandung ilmu-ilmu lain yang lebih spesifik seperti ada ilmu Arsitek, ilmu Desain Produk, dll. Ilmu-ilmu Sosial menjadi berbagai bidang juga, seperti ilmu-ilmu sosial, politik, sejarah, bahasa, ekonomi, dan  lain-lain.Dan masing-masing dari ilmu-ilmu tersebut, baik dari sisi kalamul kitab maupun dari sisi kalamul kaun, menghasilkan spesialisasi dibidangnya masing-masing. Baik dari sisi ilmu lahirnya, maupun dari sisi ilmu methaphisicnya atau dari sisi ilmu ghaibnya. Dan keseluruhan serta keutuhan ilmu-ilmu di atas itulah yang ada dan menjadi keutuhan ilmu-ilmu yang kita miliki. Tinggal mau kita pelajari semua ataukah tidak. Selama ini yang dipelajari di sekolah hanyalah sedikit sekali tentang ilmu-ilmu
yang berasal dari kitab suci, dan sebagiannya besar adalah ilmu-ilmu yang
bersifat dari ilmu alam dengan meninggalkan ilmu-ilmu yang masuk kategori ilmu non ilmiah. Dalam istilah lain, ilmu-ilmu yang bisa diterima oleh ilmiah, itu dikatakan ilmu barat dan ilmu-ilmu yang belum bisa disebut ilmiah, itu kadang disebut dengan ilmu timur Perpaduan dan persatuan antara ilmu timur dan ilmu barat inilah satu waktu yang akan kita alami dan umat manusia menjadi jaya pada saat tersebut. Kalau di masa sekarang ini, masih tampak sekali dominasi ilmu barat atas ilmu timur, meski secara bertahap sudah mulai muncul kesadaran dari orang-orang barat untuk mulai mengadopsi ilmu timur yang menurut mereka diperlukan dewasa ini seperti, ilmu tusuk jarum dari China, ilmu ramuan obat juga dari China, ilmu jamu-jamuan dari Indonesia, ilmu hipnotis dulu dari daerah timur, dan lain-lain.

2..islamization disciplines

Yakni membandingkan sains modern dan khazanah islam untuk kemudian melahirkan text-book orisinil dari ilmuan muslim ,penggagas utama adalah ismail raji al faruqi ,dalam bukunya yang terkenal ,”islamization of knwoledge” 1982 Ide al-faruqi ini mendapat dukungan yang besar sekali dan dialah yang mendorong pendirian “international institute of islamic though”di washington ,1981 yang merupakan lembaga yang aktif menggukirkan program seputar islamisasi pengetahuan Rencana islamisasi pengetahuan al faruqi bertujuan 1.penguasaan disiplin ilmu modern 2.penguasaan warisan islam
3.penentuan relevansi khusus islam bagi setiap bidang pengetahuan modern
4.pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan islam dan pengetahuan modern(melalui survey masalah umat islam dan umat manusia seluruhnya) 5.pengarahan pemikiran islam kejalan yang menuntunnya menuju pola illahiyah dari allah 6.realisasi praktis islamisasi pengetahuan melalui penulisan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka islam dan menyebarkan pengetahuan islam.

Ide persatuan dari ilmu timur dan ilmu barat ini bukanlah ide yang baru
sebenarnya sebab ide ini juga sudah dilontarkan oleh orang Jepang melalui
Komiknya yakni “Dragon Ball” dimana di situ, antara ilmu Timur dan Ilmu Barat dipelajari secara luar biasa. Teknologi permesinan dan dunia robot berkembang demikian pesat, sementara keilmuan dari timur yang berupa silat, beladiri, tenaga dalam dan power-power methaphisic juga berkembang demikian pesat. Dan di situ ditunjukkan oleh penulisnya bahwa sehebat apapun perkembangan teknologi dari dunia barat, tetap tidak akan mampu mengalahkan wujud power yang dikembangkan dari dunia timur. Kita punya contoh lain ketika gabungan dari ilmu barat dan ilmu timur itu dimiliki oleh Ibnu Sina, tokoh kedokteran yang menyembuhkan si pasien dengan
memadukan antara ilmu Timur dan ilmu Barat. Mengingat keutuhan dari keilmuan yang ada itulah, maka REVOLUSI di dalam PENDIDIKAN yang pertama adalah didalam masalah materi PENDIDIKAN yang
memberikan materi secara utuh, baik yang bersifat materi dari Barat, maupun
materi yang bersifat dari Timur. Disemua bidang materi yang diajarkan adalah
meliputi akan 2 hal itu, versi barat dan versi Timur, materi yang bersifat
lahir dan bersifat methaphisic,dan lain-lain.

3.Membangun sains pada pemerintahan islami

Ide ini terutama pada proses pemanfaatan sains “dalam lingkungan islam pastilah sains tunduk pada tujuan mulia”ilmuwan pakistan .Z.A hasymi memasukkan acdus salam dan habibie pada kelompok ini.secara tidak langsung manusia di beri kebebasan untuk berkreasi ,hanya saja harus seirama denga aturan-aturan tuhan .manusia dengan segala”perangkat”yang di beri tuhan mampu menciptakan hal-hal baru yangbisa membantu meringankan bebanya .sains yang didasari dengan kekuatan spiritual akan menghasilkan emosional yang positif dan akan melahirkan suatu perubahan yang menjanjikan dan bermanfaat bagi umat manusia dan sebaliknya.lihatlah barat berbagai penemuan telah mereka dapatkan kemajuan teknologi sekarang sedang berpihak pada barat tak heran jika di sana muncul berbagai disiplin ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang teknologi.kecanggihan teknologi yang mereka banggakan mampu membantu mereka untuk mewujudkan ambisinya,bahkan “kekuatan teknologi “mereka mampu memaksa dunia tunduk dibawah kakinya.hanya saja dalam perkembangan teknologinya tidak di sertai dengan motivasi spiritual sehingga menjadikan mereka sombong atas keberhasilannya dan pada akhirnya mereka akan hancur di telan sejarah.

4.Menggali epistimologi sains islam (murni)

Epistimologi sains islam murni digali dari pandangan dunia islam dan dari sinilah di bangun teknologi dan peradaban islam .di pelopori oleh ziauddin sardar dalam bukunya”islamic futures”:the shape of ideas to come.”(1985)edisi indonesia”masa depan islam”pustaka 1987. Sardar mengeritik ide al-faruqi dengan pemikiran:  1.karena sains dan teknologilah yang menjadi struktur sosial ,ekonomi,dan politik yang menguasahi dunia. 2.tidak ada kegiatan manusia yang di bagi-bagi dalam kotak-kotak; psikologi,sosiologi dan ilmu politik. 3.menerima bagian –bagian disipliner pengetahuan yang di lahirkan dari epistimologi barat berarti menganggap pandangan dunia islam lebih renda daripada dunia barat. Sardar mengetahui dengan jelas bahwa ketika barat mengalami jaman kegelapan ,islam sudah berkembang pesat berbagai penemuan teknologi telah meraka hasilkan , meskipun dalam perjalanan sains islam kedepan tidak sesuai dengan yang di harapkan sang penemu ,mestinya islam sudah mempunyai “embrio”sains untuk di kembangkan agar tidak “mati” ,tapi kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan mereka terlena dengan keberhasilan pada pendahulunya sehingga terjadi “kemandekan”yang berdampak pada kemunduran islam.  Jadi pada intinya dalam islam juga terdapat pendekatan seperti yang telah disebutkan.

D.    Konsep Sains Dalam Islam

Jika kita berbicara mengenai sains islam hendaklah kita menengok ayat kauniyah yang ada dalam al Qur’an antara lain yang artinya sebagai berikut:

190.  Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

191.  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan untuk mencari sesuatu yang ada dibalik alam atau kejadian dan keajaiban alam dan juga memikirkannya. Karena dengan itu ilmu dapat dicapai oleh manusia dan pengetahuan dapat berkembang. Ayat itulah yang mengilhami adanya islamisasi dan sains islam.

Isu sains dan Islam yang akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian dari kalangan akademik dan masyarakat Islam di Indonesia. Isu ini menjadi hangat karena adanya keinginan, harapan, dan semangat akan bangkitnya peradaban Islam yang dimotivasi oleh romantisisme sejarah kejayaan peradaban Islam dalam bidang sains beberapa abad yang lampau. Studi mengenai sains dalam Islam sebenarnya sudah dibahas secara serius oleh beberapa sarjana, baik muslim maupun Barat. Secara garis besar, studi ini mencakup dua aspek, yakni historis dan epistemologis. Dalam tulisan ini saya akan mendiskusikan kedua aspek ini dan melajutkannya ke dalam konteks Indonesia. Diskusi sains dan Islam ada baiknya dimulai dari satu peristiwa monumental yang menandai lahirnya sains modern, yakni Revolusi Ilmiah pada abad ke 17 di Eropa Barat yang menjadi “cikal bakal” munculnya sains moderns sebagai sistem pengetahuan “universal.” Dalam historiografi sains, salah satu pertanyaan besar yang selalu menjadi daya tarik adalah: Mengapa Revolusi Ilmiah tersebut tidak terjadi di peradaban Islam yang mengalami masa kejayaan berabad-abad sebelum bangsa Eropa membangun sistem pengetahuan mereka? Bukankan peradaban Islam itu sendiri sudah memiliki dasar-dasar yang kuat (tradisi filsafat dan ilmu pengetahuan) yang memungkinkan terjadinya Revolusi Ilmiah itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada dua hal yang perlu dipahami. Pertama adalah sejarah sosial sains di Eropa ketika terjadi Revolusi Ilmiah. Yang kedua adalah karakteristik internal sistem pengetahuan peradaban Islam yang tidak memungkinkan terjadinya Revolusi Ilmiah. Walaupun membandingkan kedua hal ini sedikit ambigius, komparasi singkat ini cukup bermanfaat untuk melihat bagaimana sains modern dan Islam kontemporer bertemu. Ada beberapa tesis yang kita bisa ambil untuk memahami peristiwa Revolusi Ilmiah di Eropa. Pertama, Revolusi Ilmiah selalu dikaitkan dengan proses sekularisasi atau tercabutnya kekuasaan agama dalam sistem sosial politik yang memungkinkan sains lepas dari kungkungan institusi agama. Telah banyak diketahui bahwa pada abad 16 dan 17 ketika era Renaissannce, agama sebagai institusi yang sangat dominan dan hegemonik di Eropa kala itu mengalami perubahan radikal dalam posisinya sebagai pemegang otoritas penuh segala bentuk kebenaran. Tetapi lepasnya sains dari otoritas agama tidak menjadikannya independen. Dalam catatan Leonardo Olschki, terjadinya Revolusi Ilmiah tidak lepas dari proses transformasi pengetahuan ilmiah ke dalam bentuk utilitas teknis. Menurut Hessen keberhasilan sains moderen di abad 16 dan 17 didorong oleh runtuhnya sistem ekonomi feodal yang digantikan oleh sistem ekonomi kapitalisme. Secara spesifik, Hessen merujuk perkembangan ilmu fisika pada saat itu sebagai bentuk respon terhadap kebutuhan-kebutuhan teknis dalam industri dan peperangan. Dari catatan-catatan sejarah tentang Revolusi Ilmiah ini kita bisa memahami bahwa perkembangan sains moderen di Eropa tidak lepas dari berbagai bentuk kepentingan ekonomi dan politik. Bahkan, seperti yang dikatakan oleh oleh Sandra Harding, sains moderen telah menjadi kendaraan bagi praktek hegemoni dan pemenuhan ambisi-ambisi nasionalisme bangsa Eropa ketika melakukan penjajahan terhadap bangsa-bangsa lain.

Sekarang mari kita menengok ke sejarah yang lebih awal tentang peradaban Islam dan sistem pengetahuan yang dibangunnya. Catatan A.I. Sabra dapat kita jadikan salah satu pegangan untuk melihat kontribusi peradaban Islam dalam sains. Dalam pengamatannya, peradaban Islam memang mengimpor tradisi intelektual dari peradaban Yunani Klasik. Tetapi proses ini tidak dilakukan begitu saja secara pasif, melainkan dilakukan melalui proses appropriation atau penyesuaian dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian peradaban Islam mampu mengambil, mengolah, dan memproduksi suatu sistem pengetahuan yang baru, unik, dan terpadu yang tidak tidak pernah ada sebelumnya. Ada dua hal yang dicatat Sabra sebagai kontribusi signifikan peradaban Islam dalam sains. Pertama adalah dalam tingkat pemikiran ilmiah yang diilhami oleh kebutuhan dalam sistem kepercayaan Islam. Penentuan arah kiblat secara akurat adalah salah satu hasil dari konjungsi ini. Kedua dalam tingkat institusionalisasi sains. Sabra merujuk pada empat institusi penting bagi perkembamgan sains yang pertama kali muncul dalam peradaban Islam, yaitu rumah sakit, perpustakaan umum, sekolah tinggi, dan observatorium astronomi. Semua kemajuan yang dicapai ini dimungkinkan oleh dukungan dari penguasa pada waktu itu dalam bentuk pendanaan dan penghargaan terhadap tradisi ilmiah. Lalu mengapa sains dalam peradaban Islam tidak berhasil mempertahankan kontinyuitasnya, gagal mencapai titik Revolusi Ilmiah, dan justru mengalami penurunan? Salah satu tesis yang menarik datang dari Aydin Sadili. Seperti dijelaskan di atas bahwa keunikan sains dalam Islam adalah masuknya unsur agama dalam sistem pengetahuan. Tetapi, menurut Sadili, disini jugalah penyebab kegagalan peradaban Islam mencapai Revolusi Ilmiah. Dalam asumsi Sadili, tradisi intelektual Yunani Klasik yang diwarisi oleh peradaban Islam baru dapat menghasilkan kemajuan ilmiah jika terjadi proses rekonsiliasi dengan kekuatan agama. Rekonsiliasi antara sains dan agama tersebut terjadi di peradaban Eropa, tetapi tidak terjadi di peradaban Islam. Dikotomi antara dua jenis pengetahuan, yakni pengetahuan keagamaan dan pengetahuan duniawi (awâil) adalah indikasi kuat. Permasalahan yang terjadi adalah adanya ketimpangan posisi antara pengetahuan agama dan pengetahuan duniawi di mana pengetahuan agama menempati posisi sosial politik yang lebih baik sementara status pengetahuan duniawi berada pada status pelengkap. Selanjutnya, Sadili melihat bahwa salah satu permasalah krusial gagalnya sains Islam dalam mencapai tahap Revolusi Ilmiah adalah terpisahnya tradisi filsafat dengan tradisi pemikiran keagamaan. Karena sains dan filsafat berada dalam kelompok pengetahuan yang sama, yakni pengetahuan duniawi. Pemisahan ini pada akhirnya membatasi filsafat dan sains dalam mempertanyakan hal-hal di luar otoritasnya. Adanya keterbatasan ini berimplikasi pada berhentinya tradisi ilmiah di peradaban Islam sampai akhirnya semua tradisi ilmiah tersebut diimpor oleh bangsa Eropa beberapa abad kemudian.

Keinginan atau obsesi akan bangkitnya kembali peradaban Islam secara jujur lahir dari bentuk romantisisme terhadap sejarah masa lampau. Walau begitu, keinginan itu tentunya sesuatu yang wajar. Bahkan menjadi kewajiban setiap muslim untuk dapat membangun suatu peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Karena itu, catatan sejarah di atas akan membuat kita lebih bijak dalam melihat ke arah mana kita akan menuju. Satu hal yang jelas adalah sebuah peradaban baru dapat berdiri kokoh jika berhasil membangun suatu sistem pengetahuan yang mapan. Bangkitnya peradaban Islam akan sangat tergantung pada keberhasilan dalam bidang sains melalui prestasi institusional dan epistemologis menuju pada proses dekonstruksi epistemologi sains moderen yang memungkinkan nilai-nilai Islam terserap secara seimbang ke dalam sistem pengetahuan yang dibangun tanpa harus menjadikan sains sebagai alat legitimasi agama dan sebaliknya. Ini sejalan dengan gagasan islamisasi pengetahuan yang pernah dilontarkan oleh Ismail Raji Al-faruqi. Mengapa masyarakat Islam perlu melakukan reformasi sains moderen? Bukankah sains moderen telah begitu banyak memberikan manfaat bagi manusia? Pernyataan ini mungkin benar jika kita melihat tanpa sikap kritis bagaimana sains moderen membuat kehidupan (sekelompok) manusia menjadi lebih sejahtera. Argumen yang masuk akal datang dari Sal Restivo yang mengungkap bagaimana sains moderen adalah sebuah masalah sosial karena lahir dari sistem masyarakat moderen yang cacat. Secara historispun kita bisa memahami bagaimana sains moderen lahir sebagai mesin eksploitasi sistem kapitalisme. Paul Feyerabend bahkan mengkritik sains moderen sebagai ancaman terhadap nilai-nilai demokrasi, kualitas hidup manusia, dan bahkan kelangsungan hidup bumi beserta isinya. Dalam kondisi seperti ini, Islam semestinya dapat menjadi suatu alternatif dalam mengembangkan sains ke arah yang lebih bijak.

Walau begitu, islamisasi pengetahuan adalah sebuah proyek ambisius untuk tidak menyebutnya utopia. Proyek islamisasi pengetahuan yang sarat dengan nilai akan sangat sulit tercapai karena bertentangan dengan dogma sains moderen yang mengklaim dirinya sebagai “bebas” nilai sehingga bersifat netral dan universal. Klaim netralitas dan universalitas sains moderen itu sendiri pada dasarnya bermasalah. Netralitas justru menjadi tempat perlindungan bagi sains moderen dari kritik terhadap berbagai permasalahan sosial yang diproduksinya. Sementara universalitas tidak lebih dari sekedar alat hegemoni sains moderen terhadap sistem pengetahuan yang lain. Studi sosial dan kultural terhadap sains moderen yang dilakukan beberapa sarjana memberi cukup bukti bahwa sains dan pengetahuan yang dihasilkannya selalu bersifat kultural, terkonstruksi secara sosial, dan tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan politik. Inilah tantangan terbesar bagi saintis muslim dalam upaya membangun sistem pengetahuan yang islami.

Penemuan kembali sifat dan gaya sains Islam di zaman sekarang merupakan salah satu tantangan paling menarik dan penting, karena kemunculan peradaban muslim yang mandiri di masa akan datang tergantung pada cara masyarakat muslim masa kini menangani hal ini.

Dalam seminar tentang “Pengetahuan dan Nilai-Nilai” di Stocholm, 1981, dengan bantuan International Federation of Institutes of Advance Study (IFIAS), dikemukakan 10 konsep Islam yang diharapkan dapat dipakai dalam meneliti sains modern dalam rangka membentuk cita-cita Muslim. Kesepuluh konsep ini adalah:

Paradigma Dasar:

(1) tauhid — meyakini hanya ada 1 Tuhan, dan kebenaran itu dari-Nya.

(2) khilafah — kami berada di bumi sebagai wakil Allah — segalanya sesuai keinginan-Nya.

(3)`ibadah (pemujaan) — keseluruhan hidup manusia harus selaras dengan ridha Allah, tidak serupa kaum Syu’aib yang memelopori akar sekularisme: “Apa hubungan sholat dan berat timbangan (dalam dagang)”.

Sarana:

(4) `ilm — tidak menghentikan pencarian ilmu untuk hal-hal yang bersifat material, tapi juga metafisme, semisal diuraikan Yusuf Qardhawi dalam “Sunnah dan Ilmu Pengetahuan”.

Penuntun:

(5) halal (diizinkan).

(6)`adl (keadilan) — semua sains bisa berpijak pada nilai ini: janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum membuat-mu berlaku tidak adil. (Q.S. Al-Maidah 5 : 8). Keadilan yang menebarkan rahmatan lil alamin, termasuk kepada hewan, misalnya: menajamkan pisau sembelihan.

(7) istishlah (kepentingan umum).

Pembatas:

(8) haram (dilarang).

(9) zhulm (melampaui batas).

(10) dziya’ (pemborosan) — “Janganlah boros, meskipun berwudhu dengan air laut”. Jadi pada sains islam terdapat dasar-dasar dan konsep yang saing menguntungkan sesama manusia.

E.    Tujuan Islamisasi

Upaya islamisasi pengetahuan ini memiliki tujuan yang jelas sekali, yakni secara substansial adalah untuk meluruskan pemikiran-pemikiran orang islam dari penyelewengan-penyelewengan sains modern yang sengaja ditanamkan. Untuk itu Fazlur Rahman menyarankan bahwa tujuan kaum muslim  untuk mengislamkan beberapa ilmu pengetahuan tidak akan bisa dicapai sepenuhnya, kecuali bila mereka secara efektif melaksanakan tugas intelektual memerinci suatu metafisika islam yang berdasarkan Al Qur’an. Metafisika islam itu terdiri dari persoalan ghaib dan nyata. Yang semua itu diungkap dalam Al Qur’an. Karena Fazlur Rahman merupakan orang yang tidak jelas fahamnya, maka ia mengatakan demikian. Disamping itu islamisasi juga bertujuan untuk mengajak umat islam untuk berfikir mengkaji al Qur’an, karena sebanarnya sumber ilmu atau dasar ilmu tersebut sudah ada dalam al Qur’an. Tetapi ada pandangan yang mengatakan islamisasi bertujuan untuk menjadikan sains barat menjadi islam.

F.     Langkah-Langkah Islamisasi

Terdapat para tokoh yang menawarkan langkah-langkah islamisasi, antara lain Ismail Raji Al faruqi dan Ziauddin Sardar. Mereka masing-masing menawarkan langkah atau cara islamisasi sebagai berikut:

Menurut Al-Faruqi (1984:99-115), jalur-jalur mekanisme islamisasi sains adalah : (1) penguasaan disiplin ilmu modern; (2) survai disiplin ilmu pengetahuan; (3) penguasaan khasanah Islam, sebuah ontologis; (4) penguasaan khasanah ilmiah islami, tahap analisis; (5) penemuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu pengetahuan; (6) penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern; (7) penilaian kritis terhadap khasanah Islam; (8) Survai permasalahan yang dihadapi umat manusia; (9) analisis kritis dan sintesis; (10) penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam, dan (11) penyebaran ilmu-ilmu yang telah diislamisasikan. Jika dicermati secara mendalam, sebenarnya Al-Faruqi juga mencoba bersikap moderat terhadap ilmu-ilmu modern. Hanya saja, dia terkesan apologetik dengan berangkat dari universalisme Islam (tauhid) yang dimaknai secara literal dan terkesan agak memaksakan lewat internalisasi nilai-nilai Islam.

Al-Faruqi tidak secara pasti mengatakan bahwa titik pijaknya adalah “epistemologi Islam”. Ia agak berbeda dengan Sardar dan Naquib Al-Attas, yang memandang perlunya untuk membangun konsep epistemologi Islam sebagai “pandangan dunia” (world view) Islam. Sardar (1989:44-45) memandang bahwa ciri utama epistemologi Islam adalah: (1) didasarkan atas suatu pedoman mutlak; (2) epistemologi Islam bersifat aktif dan bukan pasif; (3) memandang objektivitas sebagai masalah umum; (4) sebagian besar bersifat deduktif; (5) memaduka pengetahuan dengan nilai-nilai Islam; (6) memandang pengetahuan bersifat inklusif; (7) menyusun pengalaman subyektif; (8) perpaduan konsep tingkat kesadaran dengan tingkat pengalaman subyektif; (9) tidak bertentangan dengan pandangan holistik. Dengan demikian epistemologi sesuai dengan pandangan yang lebih menyatu dari perkembangan pribadi dan pertumbuhan intelektual.

Kedua langkah ini sebenarnya merupakan langkah yang mempunyai perbedaan dalam segi tehnis saja yang disini tidak perlu dibahas perbedaan tersebut. Akan tetapi mereka sama-sama menawarkan konsep pengislamisasian ilmu pengetahuan.

Apabila gagasan bagi modernisasi ilmu-ilmu islam yang lama dan islamisasi ilmu-ilmu baru mau diciptakan, maka kedua tonggak orisinal islam-al Qur’an dan Sunnah –mesti ditegakkan kembali dengan tegar agar semua konformitas-konformitas dan deformitas-deformitas islam historis bisa dinilai dengan jelas olehnya. Jadi ilmu pengetahuan tidak ada yang mengklaim dirinya islami selama metodologi yang digunakan masih bersifat sains barat dan berakar dari paradigma sains modern. Formulasi ilmu kontemporer yang perlu dibangun bukan hanya harus mensintesiskan apa yang disebut dengan sains keagamaan dengan sains sekuler, fisik dan metafisik, tetapi harus menempatkan aspirasi dan intuisi pada inti pengetahuan. Penempatan ini akan memperoleh bimbingan dari Tuhan dalam membangun ilmu pengetahuan. Dan hanya ilmu pengetahuan yang memperoleh bimbingan Tuhan yang mampu menyelamatkan manusia dari kerusakan akibat ulahnya sendiri.

G.    Manfaat dan Fungsi Islamisasi Sains

Islamisasi sains memberikan keuntungan berupa epistemologi islam dan juga akan menjadikan peradaban yang harmonis dan jaya.

Maka islamisasi pengetahuan mesti diupayakan secara maksimal agar dapat mewujudkan fungsi ganda, yakni sebagai penyelamat terhadap umat islam, khususnya dari penyelewengan- penyelewengan penerapan sains barat, dan sebagai pemberi alternatif tentang cara-cara memperoleh pengetahuan secara dinamis, mencerminkan nilai-nilai ketaqwaan, kreatif dan produktif yang disebut epistemologi islam.

Disamping itu islamisasi pengetahuan juga berfungsi menghindarkan sikap latah dengan meniru sistem barat. Sikap meniru sistem barat itu sungguh berbahaya. Jika kita meniru sistem tersebut secara membabi buta tanpa membangun infra struktur konseptual kita sendiri yang kukuh, maka secara tidak langsung kita telah menjadi sahabat pemberontak intelektual barat yang telah mencemarkan apa yang dinamakan pengetahuan religius.

H.    Pro dan Kontra Ilmuwan Muslim dalam Islamisasi

Sebenarnya islamisasi pengetahuan masih menjadi polemik di kalangan umat islam, seolah-olah layaknya barang antik yang baru diperkenalkan.Para pemikir muslim sendiri sebenarnya masih ada yang pro islamisasi, mempropagandakan atau bahkan menentangnya.

Para pemikir seperti Ismail Raji al Faruqi, Ziauddin Sardar dan Muhammad Naquib al Attas merupakan pelopor proyek islamisasi pengetahuan, meskipun konsep operasional yang ditawarkan berbeda-beda. Kemudian para pemikir seperti Mohammed Arkoun dan Aziz al Azmeh menetangnya. Sedangkan Fazlur Rahman tidak jelas kecenderungannya. Mereka masing-masing mempunyai alasan masing-masing.

Alasan pihak yang pro islamisasi adalah ilmu pengetahuan dari barat harus diambil dan digunakan untuk memajukan peradaban islam, sedangkan filternya dengan islamisasi. Disamping itu juga islamisasi akan menambah epistemologi dalam islam.

Mohammed Arkoun mengatakan, bahwa usaha yang menjadikan agama suatu ilmu malah mengubah ilmu menjadi agama. Pada tahap awal seseorang berusaha merumuskan teori-teori pengetahuan berdasarkan wahyu yang bersifat normatif. Namun akhirnya teori tersebut disnggap sakral, suci, benar, mutlak dan sejenisnya. Padahal teori ilmu pengetahuan tidak lepas dari kontribusi pemikiran para ilmuwan yang bisa benar dan bisa salah.

Sedangkan Fazlur Rahman menyarankan agar kita tidak usah terpikat untuk membuat peta-peta dan bagan-bagan mengenai cara menciptakan ilmu islami. Marilah kita investasikan waktu, energi dan uang untuk menciptakan, bukan proposisi-proposisi melainkan pikiran-pikiran (minds).

Akan tetapi bagaimana kita dapat merumuskan konsep-konsep pendidikan islam secara ilmiah tanpa adanya islamisasi. Maka dari itu tetap diperlukan sebagai salah satu epistemologi islam.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers

%d bloggers like this: