EPISTEMOLOGI ILMU PENGETAHUAN


EPISTEMOLOGI ILMU PENGETAHUAN

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengantar

Ranah epistemologi merupakan salah satu sistematika filsafat yang membahas mengenai sumber dan hakikat ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan hal yang penting dalam filsafat dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas.

Dalam epistemologi juga membahas mengenai model karakter cara berpikir seseorang. Dari epistemologi yang diambilnya kita dapat menilai bagaimana model berpikir seseorang tersebut, apakah termasuk rasional atau empiris. Disamping itu epistemologi merupakan bangunan pokok ilmu pengetahuan. Sesuatu akan menjadi maju dan lebih berkembang juga kuat apabila mempunyai bangunan pokok yang kuat.

Dunia Barat sekarang sudah mengalami modernisasi dan kemajuan yang sangat pesat dikarenakan mempunyai bangunan epistemologi yang kuat. Pendekatan dalam epistemologi barat dibangun atas dasar rasionalis dan empiris, dimana hal itu sangat efektif sebagai bangunan suatu keilmuan atau ilmu pengetahuan.

Sementara itu umat islam, sekarang ini masih mengalami ketertinggalan , jika dibandingkan dengan bangsa Barat. Hal itu dikarenakan umat islam tidak merumuskan epistemologi sendiri, akan tetapi mereka mengambil  epistemologi dari Barat. Epistemologi mempunyai beberapa dampak negatif yang membahayakan kultural dan kepercayaan islam. Maka dari itu setiap dari epistemologi Barat  yang masuk ke islam perlu adanya filter. Karena epistemologi Barat mempunyai cakupan yang sangat luas, maka filter dalam islam juga harus luas.

Pengetahuan tentang epistemologi Barat perlu dimiliki oleh kalangan pelajar, khususnya mahasiswa jurusan tarbiyah. Namun sedikit sekali dan sangat terbatas referensi yang mengulas mengenai epistemologi ilmu pengetahuan secara umum, khususnya di Tulungagung.

Maka dari itu berbekal dari pinjaman buku dan sedikit pengetahuan, kami akan berusaha menulis mengenai epistemologi ilmu pengetahuan umum, agar dapat dimanfaatkan dan lebih dikembangkan lagi sebagai bekal mengembangkan konsep pendidikan islam.

B.     Pengertian Epistemologi Ilmu Pengetahuan

Secara etimologi, kata “epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme berarti pengetahuan; sedangkan logos berarti teori, uraian atau ulasan.

P. Hardono Hadi menyatakan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W. Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian-pengandaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.  Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan.

Jadi epistemologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang hal-hal  yang bersangkutan dengan pengetahuan dan dipelajari secara substantif.

Ilmu pengetahuan berasal dari dua kata yaitu ilmu dan pengetahuan. Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu ‘alima yang berarti pengetahuan. Sebenarnya nama ini mengalami yang namanya redudensi peristilahan (words redudancy), yang tujuannya untuk lebih menegaskan suatu makna, seperti jatuh ke bawah, naik ke atas dan lain sebagainya.

Pengetahuan : Persepsi subyek (manusia) atas obyek (riil dan gaib) atau fakta. Ada dua term pengetahuan, yaitu “pengetahuan ilmiah” dan “Pengetahuan Biasa“. Pengetahuan Biasa (knowledge) diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan pikiran, pengalaman, pancaindera dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaannya. Sedangkan “Pengetahuan Ilmiah” (science) juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan obyek, cara yang digunakan dan kegunaan dari pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah memperhatikan obyek ontologis, landasan epistemologis dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Baik Science atau knowledge pada dasamya keduanya merupakan hasil observasi pada fenomena alam atau fenomena sosial.

Ilmu, menurut An-Nabhani, adalah pengetahuan (knowledge, ma‘rifah) yang diperoleh melalui metode pengamatan (observation), percobaan (experiment), dan penarikan kesimpulan dari fakta empiris (inference). Contohnya adalah fisika, kimia, dan ilmu-ilmu eksperimental lainnya. Adapun tsaqâfah adalah pengetahuan yang diperoleh melalui metode pemberitahuan (al-ikhbâr), penyampaian transmisional (at-talaqqi), dan penyimpulan dari pemikiran (istinbâth). Contohnya adalah sejarah, bahasa, hukum, filsafat, dan segala pengetahuan non-eksperimental lainnya.

Menurut Ashley Montagu, ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatanm studi dan pengalaman untuk menemukan hakekat dan prinsip tentang sesuatu yang sedang dipelajari.

Menurut Zakiah Darajat, ilmu adalah seperangkat rumusan pengembangan pengetahuan yang dilaksanakan secara obyektif, sistematis baik dengan pendekatan deduktif, maupun induktif yang dimanfaatkan untuk memperoleh keselamatan, kebahagiaan dan pengamanan manusia yang berasal dari Tuhan dan disimpulkan oleh manusia melalui hasil penemuan pemikiran oleh para ahli.

Ilmu Pengetahuan : Kumpulan pengetahuan yang benar disusun dengan sistem dan metode untuk mencapai tujuan yang berlaku universal dan dapat diuji/diverifikasi kebenarannya.

Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang (1) disusun metodis, sistematis dan koheren (“bertalian”) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan (realitas), dan yang (2) dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.

Sebenarnya jika kita membahas mengenai epistemologi ilmu pengetahuan, dapat dikatakan bahwa hal itu terjadi suatu kerancuan, karena epistemologi adalah teori ilmu pengetahuan. Namun karena epistemologi sudah menjadi kata yang akrab dalam bahasa Indonesia, maka epistemologi ilmu pengetahuan sama halnya dengan pengertian epistemologi yaitu suatu cabang filsafat yang mempelajari mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan ilmu pengetahuan yang dipelajari secara substantif yang meliputi sumber ilmu pengetahuan, hakikatnya dan lain-lain.

C.     Ruang Lingkup, Obyek Dan Tujuan Epistemologi

Sebenarnya definisi-definisi epistemologi di atas telah memberikan pemahaman juga mengenai ruang lingkup epistemologi, karena definisi di atas lebih didasarkan pada rincian ruang lingkup epistemologi daripada aspek-aspek lainnya. Akan tetapi, ada baiknya jika dikemukakan pernyataan lain yang mencoba menguraikan ruang lingkup epistemologi, sebab pernyataan-pernyataan ini akan lebih membantu dalam memahami epistemologi yang lebih komprehensif.

Armai Arief mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh Abdul Aziz, epistemologi bersangkutan dengan masalah-masalah yang bersangkutan dengan:

  1. Filsafat, sebagai cabang ilmu dalam mencari hakikat dan kebenaran pengetahuan.
  2. Metode, memiliki tujuan untuk mengantarkan manusia mencapai pengetahuan.
  3. Sistem, bertujuan untuk memperoleh realitas kebenaran pengetahuan.

Dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, M. Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakikat, sumber dan validitas pengetahuan. MudlorAchmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas dan sasaran pengetahuan. Bahkan A.M. Saefuddin menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab; apakah ilmu itu, darimana asalnya, apa sumbernya, bagaimana hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai dimanakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkas menjadi dua masalah pokok; masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. Jadi ruang lingkup epistemologi dapat diringkas menjadi sumber ilmu dan hakikat ilmu.

Persoalan-persoalan penting yang dikaji dalam epistemologi berkisar pada masalah: asal usul pengetahuan, peran pengalaman dan akal dalam pengetahuan, hubungan antara pengetahuan dengan kepercayaan, hubungan antara pengetahuan dengan kebenaran, kemungkinan skeptisisme universal, dan bentuk-bentuk perubahan yang berasal dari konseptualisasi baru mengenai dunia.

Jika kita memadukan rincian aspek-aspek epistemologi tersebut, maka teori pengetahuan dapat meliputi hakikat, keaslian, sumber, struktur, metode, validitas, unsur, macam, tumpuan, batas, sasaran, dasar, pengandaian, kodrat, pertanggungjawaban dan skope pengetahuan. Mengingat  begitu luasnya ruang lingkup epistemologi sampai-sampai ada yang mengatakan, bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat.

Ada yang mengatakan bahwa bidang ini membicarakan dua hal yaitu: hakikat pengetahuan, permasalahannya ialah “bagaimana hakikat pengetahuan itu.” Dalam kaitan ini muncul dua pandangan, yaitu: 1) realisme, yaitu pandangan bahwa hakikat pengetahuan manusia riil adanya dalam kehidupan, dan 2) idealisme, yaitu pandangan bahwa hakikat pengetahuan tidak terdapat dalam dunia riil melainkan hanya dalam konsep atau dunia ide-ide.

Sumber pengetahuan, permasalahannya adalah “darimanakah sumber pengetahuan manusia”. Atau “darimana manusia memperoleh pengetahuan”. Dalam kaitan ini muncul tiga pandangan yaitu: 1) rasionalisme, yang menyatakan bahwa sumber pengetahuan berasal dari rasio (akal) manusia, 2) empirisme, yang memiliki pandangan bahwa sumber pengetahuan adalah indera (empiri) manusia, 3) kritisisme/transendentalisme, yaitu pandangan bahwa pengetahuan manusia bersumber dari luar diri manusia, yaitu Tuhan.

Pada dasarnya obyek tidak sama dengan tujuan, obyek sama dengan sasaran, sedangkan tujuan hampir sama dengan harapan. Meskipun antara obyek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan, karena obyeklah yang mengantarkan tujuan.

Dalam pembahasan filsafat terdapat dua obyek yaitu obyek formal dan material. Rizal Muntasyir dan Misnal Munir mengatakan bahwa obyek material epistemologi adalah pengetahuan dan obyek formalnya adalah hakikat pengetahuan.

Sementara itu obyek epistemologi ini menurut Jujun S. Suriasumantri adalah segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Proses memperoleh  pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori ilmu pengetahuan dan mengantarkan kepada tujuan.

Sedangkan mengenai tujuan dari epistemologi ini Jacques Martain mengatakan sebagaimana yang dikutip oleh Mujamil Qomar, “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan, kendatipun keadaan ini tetap tidak bisa dipungkiri lagi, akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi ialah lebih penting dari itu yaitu ingin memiliki potensi untuk menggali, mendapatkan atau memperoleh pengetahuan.

D.     Hakikat Epistemologi

Sebelum membahas mengenai hakikat epistemologi secara lebih detail, terlebih dahulu diketahui bahwa, landasan epistemologi sebagaimana yang penulis ketahui ialah metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan dengan benar.

Pembahasan mengenai hakikat merupakan hal yang sulit, terlebih lagi mengenai hakikat epistemologi. Karena membahas hakikat ialah bagaimana cara kita mengungkapkan pemahaman kita terhadap sesuatu yang dapat mencakup atau mewakili dari keseluruhan, yang dalam hal ini ialah epistemologi. Epistemologi merupakan cabang dari filsafat yang berusaha memberikan definisi ilmu pengetahuan. Luasnya jangkauan epistemologi menyebabkan pembahasannya sangat detail dan sulit. Menurut Jujun S. Suriasumantri, bahwa persoalan utama yang dihadapi tiap epistemologi pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi masing-masing.

Epistemologi juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. Dari sini dapat dilihat apakah seseorang itu menggunakan cara berpikir deduktif atau induktif.

Pada bagian lain dikatakan, bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional  dan berpikir secara empiris. Kedua cara berpikir tersebut digabungkan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran, sebab epistemologi ilmu memanfaatkan kedua kemampuan manusia dalam mempelajari alam, yakni pikiran dan indera. Oleh sebab itu, epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahui kenyataan yang lain dari diri sendiri. Aplikasi dari menafsirkan adalah berpikir rasional, sedangkan membuktikan adalah berpikir empiris. Dan gabungan dua model berpikir diatas adalah metode ilmiah.

Dari sini terjadi kerancuan jika metode ilmiah adalah hakikat dari epistemologi, bahwa antara landasan dan hakikat adalah sama. Disisi lain hakikat epistemologi itu bertumpu pada landasannya karena lebih mencerminkan esensi epistemologi. Dari pemahaman yang demikian dapat memperkuat asumsi bahwa epistemologi memang rumit dan memerlukan pengkajian yang lebih mendalam.

D.     Pendekatan Epistemologi (Umum) Ilmu Pengetahuan

Dalam epistemologi Barat terdapat pendekatan yang berbeda dengan epistemologi islam. Dari pendekatan ini dapat disimpulkan macam-macam epistemologi Barat. Epistemologi Barat telah mengadakan imperialisme ke seluruh dunia dengan pendekatan-pendekatannya yang meniadakan aspek teologi. Maka dari itu kita perlu mengidentifikasi pendekatan-pendekatan tersebut agar lebih jelas mengetahui mengenai epistemologi Barat. Pendekatan-pendekatan tersebut antara lain pendekatan skeptis, rasional-empirik, dikotomik, positivis obyektivis dan anti metafisika.

1.      Pendekatan Skeptis

Ciri skeptis adalah keragu-raguan (kesangsian) tampaknya menjadi warna dasar bagi epistemologi Barat. Skeptisisme ini buat pertama kalinya di Dunia Barat diperkenalkan oleh Rene Descartes. Dia mendapat gelar bapak filsafat modern. Bagi Descartes, filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbarui melalui metode dengan menyangsikan segala-galanya. Dalam bidang ilmiah, tidak ada sesuatu yang dianggap pasti; semuanya dapat dipersoalkan dan pada kenyataannya dapat dipersoalkan juga, kecuali ilmu pasti. Pikiran-pikiran Descartes inilah yang mewarnai filsafat modern, demikian juga epistemologinya. Dalam pemikirannya itulah menurutnya, jika orang ragu-ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itulah jelas ia ada sedang berpikir. Sebab  sesuatu yang sedang berpikir itu tentu ada dan jelas terang benderang. Corgito Ergo Sum , saya berpikir, maka jelaslah saya ada.

Sikap keragu-raguan terhadap sesuatu tersebut akan memberikan koreksi yang berkesinambungan terhadap segala sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Di kalangan ilmuwan Barat, keraguan menjadi salah satu ciri epistemologinya. Mereka berangkat dari keraguan ketika menghadapi suatu persoalan pengetahuan yang belum terpecahkan secara meyakinkan.

Melalui suatu sikap yang demikian inilah, para ilmuwan terlatih untuk tidak cepat-cepat bersikap apriori terhadap kebenaran maupun kesalahan suatu pernyataan. Akan tetapi keraguan sebagai suatu metode epistemologi oleh para filosof Barat nampaknya mempunyai konsekuensi yang berputar-putar. Intinya selama yang dicapai hanyalah kebenaran yang mengandung keraguan, maka tidak akan memberikan kemantapan dan keyakinan kepada para pengikutnya. Akibatnya mereka hanya berputar-putar dalam keraguannya saja.

2.      Pendekatan Rasional-Empirik

Sebenarnya dalam metode skeptis tidak bisa dilepaskan dari metode rasional. Dalam mekanisme kerja epistemologi Barat, penggunaan rasio menjadi mutlak dibutuhkan. Tidak ada kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan tanpa mendapat pembenaran dari rasio. Posisi rasio yang begitu besar dapat mendominasi kriteria pengesahan suatu ilmu pengetahuan. Bersama metode yang lain, rasio menentukan keabsahan suatu ilmu pengetahuan. Namun, rasio memiliki kekuatan yang paling besar dalam menentukan keabsahan ilmu pengetahuan.

Rene Descartes mengajukan empat langkah berpikir yang rasionalistis:

  1. Tidak boleh menerima begitu saja hal-hal yang belum diyakini kebenarannya, akan tetapi harus hati-hati dalam mengkaji hal tesebut.
  2. Menganalisis dan mengklasifikasikan setiap permasalahan melalui pengujian yang teliti ke dalam sebanyak mungkin bagian yang diperlukan bagi pemecahan yang memadai.
  3. Menggunakan pikiran dengan cara demikian, diawali dengan menganalisis saran-saran yang paling sederhana dan paling mudah diungkapkan.
  4. Dalam setiap permasalahan dibuat uraian yang sempurna serta dilakukan peninjauan kembali secara umum.

Sedangkan lawan dari rasional adalah empiris. Pendekatan  ini memanfaatkan pengalaman indrawi sebagai metode untuk mewujudkan ilmu pengetahuan. Disamping itu pengalaman indrawi juga berfungsi sebagai pnentu validitas ilmu pengetahuan. Meskipun empirisme juga ada yang mengarah kedalam pengalaman batin, tetapi disini lebih mengarah kepada materialisme. Pada prinsipnya sebuah kebenaran diukur dengan empiris.

Dari pemaparan diatas tampak dua metode yang saling bertentangan dalam mencapai ilmu pengetahuan, yaitu metode rasional dan empiris. Keduanya merupakan metode yang berat sebelah dalam epistemologi Barat. Sebenarnya secara riil, kedua metode tersebut sama-sama berperan dalam menemukan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan sekarang lebih bersifat empiris yang lebih mementingkan pengalaman, observasi dan penelitian /eksperimental ditambah cara-cara berpikir ala Descartes.

Perpaduan antara rasio dengan empiris inilah yang disebut metode ilmiah. Metode ini berkembang pesat dan mewarnai epistemologi Barat atau umum.

3.      Pendekatan Dikotomik

Barat memisahkan antara kemanusiaan (humanitas) dari ilmu-ilmu sosial, karena pertimbangan metodologi. Menurutnya ilmu itu harus obyektif yang bebas dari distorsi tradisi, idiologi, agama maupun golongan. Disamping itu juga karakteristik epistemologi Barat adalah dikotomi antara nilai dan fakta, realitas objektif dan nilai-nilai subjektif, antara pengamat dan dunia luar.

Maka dari itu pembagian pengetahuan yang bersifat dikotomi itu tidak diterima oleh Islam, karena berlawanan dengan kandungan ajaran Islam sendiri, dan nanti akan menyebabkan kehancuran keilmuan di masyarakat muslim.

4.      Pendekatan Positivis-Objektivis

Ciri positif dari epistemologi Barat adalah dipengaruhi oleh positivisme,  suatu ajaran yang digagas oleh Comte. Positivisme telah memainkan peran penting dalam mewarnai corak pengetahuan yang berkembang sekarang ini, sehingga pengetahuan Barat yang mendominasi seluruh dunia ini serba empiris, material, kausal, kuantitatif, dualistik, reduksionis, proporsional, verifikatif dan bebas nilai. Implikasinya adalah ilmu pengetahuan sekarang ini makin jauh dari cita rasa moral dan nilai.

Pendekatan yang dekat dengan positif tersebut adalah objektif. Yang dimaksud pendekatan objektivis ini adalah pendekatan yang memandang pengetahuan manusia sebagai suatu sistem pernyataan atau teori yang dihadapkan pada diskusi kritis, ujian intersubjektif atau kritik timbal balik.Dalam realitanya, pendekatan objektivis ini memberikan banyak manfaat. Pendekatan ini senantiasa menumbuhkan kejujuran intelektual dan keterbukaan. Pendekatan ini sesungguhnya adalah pendekatan yang dipakai ilmuwan untuk menyatakan fakta secara apa adanya, tanpa adanya paksaan atau  tekanan tertentu.

Oleh karena itu, pendekatan objektivis ini menghasilkan konsekuensi tertentu, seperti kontinuitas kritik. Suatu ilmu dapat dikatakan benar jika dapat bertahan dari gempuran-gempuran kritik. Bahkan yang disebut sebagai ilmu itu salah satu indikasinya bila suatu saat salah. Ketika ilmu tidak dapat bertahan dari kritikan berarti telah pudarlah kebenarannya.

5.      Pendekatan Antimetafisika

Epistemologi modern yang diawali oleh Descartes telah menunjukkan atau mengarah pada antroposentrisme. Kecenderungan filsafat pada zaman ini adalah dalam bidang epistemologi, sehingga kurang begitu memperhatikan mengenai aksiologi atau ontologi. Bahkan positivisme menolak cabang filsafat metafisika.

Dalam hal ini juga terjadi penolakan terhadap realitas dan keberadaan Tuhan. Hal itu tercermin dalam metode-metode epistemologinya yaitu rasionalisme logis, empirisme logis dan lain-lain. Bahkan model pemikiran mereka masih menjamur sampai sekarang yaitu menempatkan manusia pada posisi yang menentukan segala-galanya.

F.      Metode Epistemologi (Umum) Ilmu Pengetahuan

Walaupun di depan tadi sudah dibahas rinci mengenai beberapa pendekatan dalam epistemologi umum, akan tetapi kali ini penulis akan berusaha menguraikan mengenai metode epistemologi dalam epistemologi umum atau Barat. Metode-metode tersebut antara lain: metode rasional, metode dialogis, metode komparatif dan metode kritik. Metode-metode ini mempunyai  mekanisme kerja yang berbeda-beda dalam memperoleh pengetahuan.

1.      Metode Rasional

Metode ini adalah metode yang dipakai untuk memperoleh pengetahuan dengan pertimbangan-pertimbangan atau menggunakan kriteria kebenaran yang dapat diterima rasio. Metode ini sebagaimana diterangkan dalam pendekatan epistemologis diatas merupakan metode yang dikembangkan pertama kali oleh Rene Descartes.

Metode ini mempunyai mekanisme kerja yaitu menggunakan standar rasio untuk menentukan validitas ilmu pengetahuan dan juga untuk mencari sumber ilmu pengetahuan. Akan tetapi, pemikiran ini obyeknya dibatasi pada sekup empiris saja. Dan juga metode ini mengandalkan skeptisis dalam mencari sebuah kebenaran. Namun kebanyakan metode ini selalu terus menerus.

Metode rasional ini mempunyai peranan yang sangat besar dalam epistemologi Barat, karena ini merupakan ciri filsafat modern dan berpikir ilmiah.

2.      Metode dialogis

Dialog merupakan salah satu metode epistemologi Barat. Dialog berarti menyuruh manusia agar berpikir kritis dan rasional. Dengan dialog ilmu pengetahuan dapat dikembangkan dengan cepat. Dan dengan dialog juga ilmu pengetahuan dibentuk.

Dialog menjadikan manusia lebih dapat berpikir kritis terhadap validitas ilmu pengetahuan. Dalam kapasitasnya sebagai metode epistemologi, dialog menjadi salah satu tumpuan harapan dalam menggali, menyusun, merumuskan, membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

3.      Metode Komparatif

Metode ini merupakan metode untuk memperoleh pengetahuan dengan cara membandingkan pengetahuan-pengetahuan. Jujun S. Suriasumantri mengatakan “pengetahuan yang didapat berdasarkan perbandingan mempunyai banyak kegunaan”.

Metode komparatif ini selain sebagai metode epistemologi, pada tahap operasionalnya juga menjadi salah satu metode penelitian. Adapun dari segi mekanisme kerja ini, metode komparatif diaplikasikan melalui langkah-langkah kerja secara bertahap sebagai berikut: 1) menelusuri permasalahan-permasalahan yang setara tingkat dan jenisnya; 2) mempertemukan dua atau lebih permasalahan yang setara tersebut; 3) mengungkapkan ciri-ciri dari obyek yang dibandingkan secara jelas dan terinci; 4) mengungkapkan hasil perbandingan; 5) menyusun atau memformulasikan kembali teori yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

4.      Metode Kritis

Salah satu cara mengembangkan pengetahuan adalah dengan kritik. Kriik sangat berperan dalam mewujudkan dinamika ilmu pengetahuan. Kritik merupakan motif utama bagi perkembangan intelektual. Tanpa kritik tak ada motif rasional untuk mengubah teori-teori kita.

Akan tetapi dalam kritik biasanya terjadi kontradiksi. Kontradiksi tidak boleh dibiarkan, harus dicari solusinya agar mendapat kepastian. Menerima kontradiksi menyebabkan kritik berhenti dan membawa kejatuhan ilmu.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: