MANAJEMEN KURIKULUM DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM


MANAJEMEN KURIKULUM DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

(Sebuah Upaya Mengenal Pengelolaan Kurikulum

di Lembaga Pendidikan Islam)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Dalam agama Islam segala sesuatu tidak boleh dikerjakan secara asal-asalan. Semuanya harus teratur dan dikerjakan secara tertib. Terlebih lagi proses-prosesnya, semuanya harus terencana dengan baik dan teratur. Arah pekerjaan yang jelas juga landasan yang jelas dan cara-caranya yang transparan akan menjadikan perbuatan yang dikerjakan mendapatkan ridho dan hidayah dari Allah.

Sebenarnya manajemen dalam arti mengatur agar sesuatu itu teratur dan berjalan secara efektif dan efisien merupakan sesuatu yang disukai Allah, dan merupakan hal yang dianjurkan dalam syariat islam, bahkan boleh dikatakan hal itu termasuk kategori sunnah. Karena Nabi Muhammad SAW tidak pernah melakukan sesuatu secara asal-asalan apalagi tanpa rencana. Memang manusia hanya bisa merencanakan, tetapi tanpa rencana maka tatanan segala sesuatu akan menjadi tidak karuan.

Terlebih lagi dalam melakukan proses pembelajaran yang hal tersebut merupakan perbuatan yang mulia, yang banyak hadist memujinya sampai-sampai mengatakan kegiatan tersebut lebih utama daripada ibadah sunnah, segala sesuatunya harus serba teratur dan transparan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, efektif dan efisien. Segala komponen-komponen yang ada dalam kegiatan tersebut harus diatur secara baik oleh orang-orang yang ahli dalam bidangnya.

Kurikulum yang merupakan inti dan isi dari pembelajaran tersebut juga harus diatur melalui manajemen agar pelaksanaannya dapat lebih signifikan, maka jika kurikulum tidak diatur dengan manajemen, proses pembelajaran tidak dapat berlangsung dengan maksimal dan akan menjadi tersendat-sendat. Lebih-lebih dalam proses pembelajaran Islam, kurikulum harus ditata dengan manajemen yang teratur agar dapat menghasilkan manusia yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yaitu insan kamil.

Apalagi pada sekarang ini, dimana kurikulum sering berubah dengan seiringnya perubahan zaman dan kemajuan teknologi. Kurikulum pendidikan Islam diharapkan mampu bersaing dengan pendidikan non islam dan juga lulusannyapun diharapkan tidak kalah dengan pendidikan non islam.

Maka dari itu disamping kurikulum pendidikan islam ditambah atau diperkaya lagi, karena hal itu lebih baik seperti perkataan ulama yaitu tradisi islam ialah mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik, juga manajemennya diatur agar pelaksanaan pembelajaran islam berhasil. Karena tanpa manajemen kurikulum yang baik, tidak mungkin pelaksanaan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

Maka dari itu, saya sebagai penulis akan mencoba menguraikan tentang manajemen kurikulum dan pembelajaran pendidikan islam yang saya ambil dari beberapa literatur tentang manajemen pendidikan Islam.

A.     Konsep Dasar Kurikulum Pendidikan Islam

    1.  Pengertian Kurikulum Pendidikan Islam

Kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang semula dalam bidang olah raga, yaitu curere yang berarti jarak terjauh lari yakni jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari start sampai finish. Jika dalam pendidikan, maka konteksnya berubah yakni suatu hal yang harus dilalui oleh peserta didik dan pendidik yang sedang melakukan kegiatan pembelajaran.

Dalam kosa kata Arab, istilah kurikulum dikenal dengan istilah Manhaj, yakni jalan yang terang, atau jalan terang yang dilalui manusia dalam bidang kehidupannya. Dalam konteks pendidikan, kurikulum berarti jalan terang yang dilalui oleh pendidik/guru juga peserta didik untuk menggabungkan pengetahuan, ketrampilan, sikap serta nilai-nilai.

Adapun pengertian kurikulum yang bermacam-macam dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan, namun selain itu nanti akan penulis tampilkan pengertian dari berbagai ahli yang lain:

  1. Pengertian kurikulum secara tradisional, kurikulum adalah semua bidang studi yang diberikan dalam lembaga pendidikan.
  2. Pengertian kurikulum secara modern, kurikulum adalah semua pengalaman aktual yang dimiliki siswa dibawah pengaruh sekolah.
  3. Pengertian kurikulum masa  kini, kurikulum adalah strategi yang digunakan untuk mengadaptasikan pewarisan kultural dalam mencapai tujuan sekolah.

Pengertian yang lain, kurikulum adalah serangkaian komponen metode belajar mengajar, cara mengevaluasi kemajuan siswa dan seluruh perubahan pada tenaga pengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervisi administrasi, waktu, jumlah ruang, dana serta pilihan pelajaran.

Sedangkan pengertian terbaru berdasarkan UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.

Adapun fungsi kurikulum adalah sebagai berikut:

  1. Bagi guru, kurikulum berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
  2. Bagi kepala sekolah, kurikulum berfungsi sebagai pedoman kegiatan pendidikan secara menyeluruh disekolah.
  3. Bagi administratur pendidikan, kurikulum berfungsi sebagai tolok ukur penentuan kebijakan pendidikan setiap jenjang  dan satuan pendidikan.
  4. Bagi penerima lulusan, kurikulum berfungsi sebagai tolok ukur penentuan kadar lulusan.

Sementara itu kurikulum pendidikan islam adalah segala mata pelajaran yang digunakan untuk mendidik peserta didik yang berlandaskan dasar islam yaitu al qur’an dan as sunnah. Hal itu berbeda dengan jika yang dipakai sebagai istilah adalah pendidikan agama islam yang mengindikasikan khusus pada bidang agama islam.

   2.   Komponen-Komponen Kurikulum

Kurikulum mempunyai komponen-komponen yang tidak terpisahkan antara lain:

v  Komponen Tujuan

Yang terdiri dari tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah secara menyeluruh dan tujuan yang ingin dicapai dalam setiap bidang studi.

v  Komponen Materi (Isi dan Struktur Program)

Berisi tentang pencapaian target yang jelas, materi standar, standar siswa dan prosedur pelaksanaan pembelajaran.

v  Komponen Strategi

Strategi menurut bahasa adalah cara, tehnik  dan lain-lain. Sedangkan yang dimaksud disini adalah strategi belajar mengajar, yaitu politik atau taktik yang digunakan guru dalam proses pembelajaran di kelas.

v  Komponen Evaluasi

Dalam pendidikan diperlukan adanya evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik dan juga sebagai feet back bagi guru / pendidik dalam menentukan lankah selanjutnya.

    3.  Kurikulum Pendidikan Islam

Konsep tentang model dan paradigma pendidikan islam.

  1. Dasar pendidikan: pendidikan islam harus mendasarkan teosentris, dengan menjadikan antroposentris sebagai bagian esensial dari konsep teosentris.
  2. Tujuan pendidikan; kerja membangun kehidupan duniawiyah melalui pendidikan sebagai perwujudan mengabdi kepadaNya.
  3. Konsep manusia; pendidikan islam memandang manusia mempunyai fitrah yang harus dikembangkan, tidak seperti pendidikan sekuler yang memandang manusia dengan tabularasanya.
  4. Nilai; pendidikan islam beorientasi pada Iptek sebagai kebenaran relatif dan Imtaq sebagai kebenaran mutlak.
  5. Pendekatan dan metodologi:

v  Mengembangkan potensi anak didik dan memanfaatkan kesempatan secara optimal untuk self realization atau self actualization.

v  Mengembangkan metode rasional, empiris, bottom up, dan “menjadi”.

v  Materi ajaran (Nash) harus diberikan secara doktrin, deduktif , top down, dan “memiliki”.

v  Memberikan bekal atau landasan yang kuat sampai dengan tingkat menengah atas, yang siap dikembangkan ke berbagai keahlian.

  1. Materi ajar: memadukan aspek tradisional dan modern sesuai dengan sifat corak dan kebutuhannya.
  2. Pendidik: menjadi 3 hal:

Æ  Memiliki komitmen tinggi, mengabdi, dan merasakan pendidikan sebagai panggilan tugas.

Æ  Profesional lengkap dengan kepekaan misi dan ketajaman visi serta kecanggihan metodologi.

Æ  Memiliki penghasilan cukup agar benar-benar memiliki tanggalan 30 hari dalam sebulannya.

  1. Out put: Educated people atau cultured man dalam kerangka knowledge society.

Alumninya diharapkan dapat memiliki:

Æ  Learning ability lebih lanjut

Æ  Kegemaran belajar

Æ  Mampu tampil beda, baru dan bernilai tambah

Æ  Memiliki 3 kemampuan yang merupakan satu kesatuan, amanah dan arif, intelegensi tinggi dan komprehensif, profesional

Æ  Mampu memikir dan mengembangkan iptek dalam perspektif Imtaq dan menguraikan Imtaq dalam bahasa Iptek.

Sementara itu al Syaibani menetapkan empat dasar pokok dalam kurikulum pendidikan islam, yaitu: dasar religi, dasar falsafah, dasar psikologis, dasar sosiologis dan dapat pula ditambah dasar organisatoris.

Maka dari itu setiap kurikulum berkembang dari waktu ke waktu baik kurikulum pendidikan secara umum maupun pendidikan islam yang gunanya untuk merekonstruksi pendidikan agar dapat seimbang dengan perubahan zaman dan mampu membina peserta didik untuk mecapai tujuan yang diharapkan.

C.     Organisasi Kurikulum

Organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada murid-murid. Organisasi ini sangat berhubungan erat dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh masing-masing lembaga pendidikan.

Pola-pola pengorganisasian kurikulum ada banyak macamnya, tetapi yang kami pandag perlu untuk dikemukakan pada kesempatan kali ini ada 4 macam:

  1. Separated Subject Curriculum
  2. Corelated Curriculum
  3. Integrated Curriculum
  4. Core Curriculum

1.      Separated Subject Curriculum

Kurikulum ini menyajikan segala bahan pelajaran dalam berbagai macam mata pelajaran (subjects) yang terpisah-pisah satu sama lain, seakan-akan ada batas pemisah antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain, juga antara suatu kelas dengan kelas yang lain.

Keuntungannya

  1. Materi pelajaran disajikan secara sistematis dan logis
  2. Organisasi kurikulum ini sederhana.
  3. Penilaian lebih mudah
  4. Kurikulum ini memudahkan guru dalam melaksanakan pengajaran karena bersifat subject contered
  5. Mata pelajaran dianggap sebagai alat yang sesuai untuk mengembangkan intelewktual seseorang.

Kekurangannya.

  1. Mata pelajarannya terlepas satu sama lain, hal ini tidak sesuai dengan kenyataan kehidupan yang sebenarnya.
  2. Tidak atau kurang memperhatikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Banyak terjadi verbalistis dan menghafal, serta tujuan pelajaran kurang dihayati oleh anak didik.
  4. Kurikulum ini cenderung statis dan ketinggalan dari perkembangan zaman

2.      Correlated Curriculum

Pada dasarnya kurikulum ini menghendaki agar mata pelajaran satu dengan yang lain ada hubungan, bersangkut paut, walaupun mungkin batas-batas satu dengan yang lain masih dipertahankan.

Keuntungannya

  1. Dengan korelasi pengetahuan murid lebih integral
  2. Dengan melihat hubungan erat antara mata pelajaran satu dengan yang lainnya minat murid bertambah.
  3. Anak mempunyai pengertian yang luas, karena adanya keterkaitan antara mata pelajaran.
  4. Dengan korelasi maka yang diutamakan adalah pengetahuan, prinsip-prinsip, bukan pengetahuan akan fakta, dengan begitu lebih memungkinkan penggunaan pengetahuan secara fungsional bagi murid-murid.

Kekurangannya

  1. Kurang memberikan disiplin tinjauan spesialisasi mata pelajaran.
  2. Kurang memberikan pengetahuan mendalam pada masing-masing mata pelajaran.
  3. Sering terlampau abstrak karena hanya memiliki prinsip-prinsip dasar dan tema-tema tertentu.

3.      Integrated Curriculum

Integrated Curriculum meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan.

Keuntungannya

  1. Didasarkan atas pengalaman dan minat anak
  2. Menggunakan beragam kegiatan untuk memecahkan masalah
  3. Guru merencanakan pembelajaran bersama-sama murid
  4. Integrasi semua mata pelajaran
  5. Memberikan pengalaman langsung kepada anak.
  6. Pelajaran sesuai dengan kehidupan anak
  7. Memperhatikan perbedaan kehidupan individual anak
  8. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan fungsional
  9. Menggunakan lingkungan sebagai sumber pembelajaran
  10. Banyak mengembangkan ketrampilan
  11. Menggunakan psikologi gestalt dalam pembelajaran

Kekurangannya

  1. Kurangnya persiapan anak untuk mengikuti ujian tradisional selama ini.
  2. Memerlukan fasilitas  pembelajaran yang belum dimiliki sekolah
  3. Tidak memberikan pengetahuan yang logis dan sistematis
  4. Memberatkan tugas guru
  5. Lebih mengutamakan proses daripada materi
  6. Manajemen pelajarannya sangat sulit

4.      Core Curriculum

Yaitu kurikulum inti yang diberikan kepada semua siswa untuk mencapai program kurikulum secara utuh. Contoh: Agama dan PPKn/ PKn.

D.     Manajemen Kurikulum Pendidikan Islam Berbasis Kompetensi

Sebelum membicarakan mengenai manajemen KBK, kami akan memaparkan dahulu mengenai hal-hal yang berkaitan tentang KBK. Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.

Dasar pemikiran untuk menggunakan konsep kompetensi dalam kurikulum adalah sebagai berikut.

1)   Kompetensi berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks.

2) Kompetensi menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui siswa untuk menjadi kompeten.

3) Kompeten merupakan hasil belajar (learning outcomes) yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan siswa setelah melalui proses pembelajaran.

4) Kehandalan kemampuan siswa melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur.

Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah.

KBK adalah konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (tugas-tugas dengan standar performansi, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi.

Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada:

(1)     hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan

(2)     keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya.

Rumusan kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.

Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

v  Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.

v  Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.

v  Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.

v  Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yangmemenuhi unsur edukatif.

v  Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

KBK ini mulai dipergunakan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2004-2005, pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah. Sebagian besar SD/MI, SMP/SMPI/MTS, SMA/MA, sebagian besar sudah melakukan perubahan kurikulum. Sementara itu bagi sekolah yang belum siap, tetap menjalankan kurikulum lama dan diberi waktu 3 tahun untuk melakukan persiapan pelaksanaan kurikulum KBK.

Keberhasilan perubahan kurikulum di sekolah / sekolah islam sangat bergantung pada guru dan kepala sekolah, karena dua figur tersebut merupakan kunci yang menentukan serta menggerakkan berbagai komponen dan dimensi sekolah islam yang lain. Dalam posisi tersebut baik buruknya komponen sekolah islam yang lain sangat ditentukan dengan kualitas guru dan kepala sekolah, tanpa mengurangi arti penting tenaga kependidikan yang lain.

Dalam pengimplementasian kurikulum dan pengembangannya di sekolah terdapat faktor yang menghambat yaitu terletak pada guru, mayoritas faktor tersebut yaitu kurangnya pengetahuan dan kemampuan guru.

Dalam implementasi Kurikulum 2004, guru dan kepala sekolah perlu memperhatikan tiga komponen utama sebagai berikut:

  1. Standar kompetensi yang dituju harus dirumuskan secara spesifik.
  2. Silabus yang dikembangkan harus merumuskan secara jelas program pembelajaran, hasil pembelajaran, dan kriteria penilaian.
  3. Persiapan mengajar perlu dilakukan secara matang, untuk menentukan bahwa kegiatan pembelajaran sudah dapat dilaksanakan.

Guru juga dituntut melakukan seleksi terhadap  kompetensi yang akan dikembangkan, sehingga rumusan kompetensi yang diperoleh betul-betul dibutuhkan oleh peserta didik sesuai dengan tuntutan dan beban yang akan dilakukan setelah mengikuti pembelajaran.

Sementara itu hasil penelitian di SMP Islam menunjukkan bahwa, sekolah tersebut masih memakai kurikulum KBK untuk kelas VIII dan IX. Sementara itu kelas VII sudah memakai sistem kurikulum KTSP.

Namun dalam standar kompetensi merupakan format global secara umum, lalu kemudian oleh SMPI/ MTs yang bersangkutan dikembangkan dan dipilah-pilah menurut kondisi sekolah mereka masing-masing.

E.     Prinsip-prinsip Kurikulum Pendidikan Islam

Pendidikan islam dibangun atas dasar pemikiran islami, bertolak dari pandangan hidup dan pandangan tentang manusia, serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yang dilandasi kaidah-kaidah islam.

Kurikulum yang demikian, menurut Abdurrahman an Nahlawi mengacu pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Sistem dan pengembangan kurikulum hendaknya memperhatikan fitrah manusia, agar tetap berada dalam kesuciannya dan tidak menyimpang.
  2. Kurikulum hendaknya mengacu kepada pencapaian tujuan akhir pendidikan islam sambil memperhatikan tujuan-tujuan dibawahnya.
  3. Kurikulum perlu disusun secara bertahap mengikuti periodisasi perkembangan peserta didik.
  4. Kurikulum hendaknya memperhatikan kepentingan nyata masyarakat seperti kesehatan, keamanan, administrasi dan pendidikan.
  5. Kurikulum hendaknya terstruktur dan terorganisasi secara integral.
  6. Kurikulum hendaknya realistis.
  7. Metode pendidikan yang merupakan salah satu komponen kurikulum hendaknya fleksibel.
  8. Kurikulum hendaknya efektif untuk mencapai tingkah laku dan emosi yang kurang positif.
  9. Kurikulum hendaknya memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.
  10. Kurikulum hendaknya memperhatikan aspek-aspek tingkah laku alamiah.

Sementara itu dalam buku lain diterangkan prinsip-prinsip kurikulum adalah sebagai berikut.

  1. Prinsip yang berorientasi pada ”al Umur bi maqashidiha”
  2. Prinsip relevansi.
  3. Prinsip efisiensi dan efektifitas.
  4. Prinsip fleksibilitas
  5. Prinsip integritas
  6. Prinsip kontuinitas (Istiqamah)
  7. Prinsip sinkronisme
  8. Prinsip obyektifitas
  9. Prinsip demokratis
  10. Prinsip analisis kegiatan
  11. Prinsip individualisasi
  12. Prinsip Pendidikan seumur hidup.

Itulah prinsip-prinsip yang harus ada dalam kurikulum pendidikan islam agar pendidikan islam tersebut dapat berjalan dengan efektif dan mencapai tujuan yang dicita-citakan, yakni mewujudkan insan kamil yang bahagia di dunia dan akhirat.

F.      Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran Pendidikan Islam

Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran Pendidikan  Islam mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian kurikulum. Perencanaan dan pengembangan kurikulum pendidikan islam umumnya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tingkat pusat dan Depag. Karena itu level sekolah islam yang paling penting ialah bagaimana merealisasikan dan menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran. Disamping itu sekolah islam juga bertugas dan berwenang untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan setempat.

Pengembangan kurikulum muatan lokal telah dilakukan sejak digunakannya kurikulum 1984, khususnya di SD/MI. Pada kurikulum tersebut muatan lokal disisipkan  pada berbagai bidang studi yang sesuai. Muatan lokal lebih diintensifkan lagi pelaksanaannya dalam kurikulum 1994. dalam kurikulum 1994, muatan lokal tidak lagi disisipkan pada setiap bidang studi, tetapi menggunakan pendekatan monolitik berupa bidang studi, baik bidang studi wajib maupun pilihan. Pengembangan kurikulum dimaksudkan terutama untuk mengimbangi kurikulum sentralisasi dan bertujuan agar peserta didik mencintai dan mengenal lingkungannya, serta alam, kualitas sosial, dan kebudayaan yang mendukung pembangunan nasional, pembangunan regional maupun pembangunan lokal sehingga peserta didik tidak terlepas dari akar sosial budaya lingkungannya.

Adapun dalam kurikulum terbaru sekarang ini, dari hasil penelitian saya di SMP islam Durenan kurikulumnya memuat mata pelajaran , muatan lokal , dan pengembangan diri yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan, selama tiga tahun mulai kelas VII sampai kelas IX. Pengembangan muatan lokal tersebut dikarenakan mata pelajaran muatan lokal bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan perilaku kepada peserta didik agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai/ aturan yang berlaku di daerahnya dan mendukung kelangsungan pembangunan daerah serta pembangunan nasional.

Lebih jelas lagi agar peserta didik dapat:

1.   Mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya,

2.   Memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya,

3.   Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai/ aturan-aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.

4.   Menyadari lingkungan dan masalah-masalah yang ada di masyarakat serta dapat membantu mencari pemecahannya.

Muatan Lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi mata pelajaran muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing.

Muatan lokal merupakan bagian dari struktur dan muatan kurikulum yang terdapat pada Standar Isi di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Keberadaan mata pelajaran muatan lokal merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang tidak terpusat, sebagai upaya agar penyelenggaraan pendidikan di masing-masing daerah lebih meningkat relevansinya terhadap keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional sehingga keberadaan mata pelajaran muatan lokal mendukung dan melengkapi mata pelajaran yang lain.

Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. Pelaksanaan pembelajaran muatan lokal dapat dilaksanakan secara berkesinambungan sesuai dengan kompetensi yang dicapai.

Ruang lingkup muatan lokal adalah sebagai berikut:

1.   Lingkup Keadaan dan Kebutuhan Daerah. Keadaan daerah adalah segala sesuatu yang terdapat didaerah tertentu yang pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan sosial budaya. Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di suatu daerah, khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut, yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta potensi daerah yang bersangkutan. Kebutuhan daerah tersebutmisalnya kebutuhan untuk: a. Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah, b. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan di bidang tertentu, sesuai dengan keadaan perekonomian daerah, c. Meningkatkan penguasaan bahasa Asing untuk keperluan sehari-hari, dan menunjang pemberdayaan individu dalam melakukan belajar lebih lanjut (belajar sepanjang hayat),d. Meningkatkan kemampuan berwirausaha.

2.   Lingkup isi/jenis muatan lokal, dapat berupa: bahasa daerah, Bahasa Asing (Inggris, Mandarin, Arab dll), kesenian daerah, keterampilan dan kerajinan daerah, adat istiadat, dan pengetahuan tentang berbagai ciri khas lingkungan alam sekitar, serta hal-hal yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik daerah.

Sementara itu dalam hasil penelitian saya di SMP Islam tersebut kegiatan muatan lokal yang dipilih ialah:

I.    Bahasa Jawa: karena merupakan mulok wajib propinsi.

II.  Bahasa Arab: karena merupakan ciri khas sekolah.

III. Pembukuan merupakan mulok wajib sekolah dengan alasan kebanyakan lulusan SMP Islam Durena melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, yaitu: SMK (SMEA).

Manajemen pengajaran adalah keseluruhan proses penyelenggaraan kegiatan di bidang pengajaran yang bertujuan agar seluruh kegiatan pengajaran terlaksana secara efektif dan efisien. Manajer sekolah islam diharapkan dapat membimbing dan mengembangkan kurikulum dan program pengajaran serta melambangkan program sekolah islam.

Kepala sekolah merupakan manajer di sekolah. Ia harus bertanggungjawab terhadap perencanaan, pelaksanaan dan penilaian perubahan atau perbaikan program pengajaran di sekolah. Untuk kepentingan tersebut, sedikitnya ada empat langkah yang harus dilakukan, yaitu: menilai kesesuaian program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan kebutuhan murid, meningkatkan perencanaan program, memilih dan melaksanakan program, serta menilai perubahan program.

Untuk menjamin efektivitas pengembangan kurikulum dan program pengajaran dalam manajemen pendidikan islam, kepala sekolah sebagai pengelola program pengajaran bersama dengan guru-guru harus menjabarkan isi kurikulum secara lebih rinci dan operasional ke dalam program tahunan, caturwulan dan bulanan.

Berikut ini diperinci beberapa prinsip yang harus diperhatikan:

  1. Tujuan yang dikehendaki harus jelas, makin operasional tujuan, makin mudah terlihat dan makin tepat program-program yang dikembangkan untuk mencapai tujuan.
  2. Program itu harus sederhana dan fleksibel.
  3. Program-program yang disusun dan dikembangkan harus sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
  4. Program yang dikembangkan harus menyeluruh dan harus jelas pencapaiannya.
  5. Harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah.

Untuk mengkoordinasi program-program itu atau manajemen pembelajaran di SMP Islam Durenan telah ada yang namanya absensi guru, dimana guru setelah mengajar harus mengisi absensi guru yang pelaksanaannya diawasi oleh 2 orang guru piket setiap harinya.

G.     Kurikulum 2006

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar.

Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.

 Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP .

KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
  2. Beragam dan terpadu
  3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
  4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
  5. Menyeluruh dan berkesinambungan
  6. Belajar sepanjang hayat
  7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

Landasan KTSP

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ketentuan dalam UU 20/2003 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 32 ayat (1), (2), (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 37 ayat (1), (2), (3); Pasal 38 ayat (1), (2).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ketentuan di dalam PP 19/2005 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (5), (13), (14), (15); Pasal 5 ayat (1), (2); Pasal 6 ayat (6); Pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8); Pasal 8 ayat (1), (2), (3); Pasal 10 ayat (1), (2), (3); Pasal 11 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 13 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 14 ayat (1), (2), (3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5); Pasal 17 ayat (1), (2); Pasal 18 ayat (1), (2), (3); Pasal 20.

Standar Isi .SI mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam SI adalah : kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 22 Tahun 2006.

Standar Kompetensi Lulusan. SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 23 Tahun 2006.

Komponen KTSP meliputi: Visi misi dan tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, Struktur dan muatan KTSP, kalender pendidikan, silabus dan RPP.

H.     Manajemen Kurikulum Pendidikan Islam 2006

Dalam manajemen kurikulum pendidikan islam 2006 ini tidak ubahnya sama dengan manajemen KBK atau Kurikulum pendidikan islam 2004. Karena pada dasarnya KTSP merupakan KBK yang dilaksanakan pada masing-masing tingkat satuan pendidikan. Jadi manajemennya tidak ubahnya sama dengan manajemen KBK hanya perbedaannya dilaksanakan di masing-masing tingkat pendidikan.

Penulis sudah menyinggung sedikit di depan tentang manajemen kurikulum 2006/ KTSP di SMP Islam Durenan. Pada dasarnya KTSP merupakan paket dari pusat kurikulum, kemudian pihak satuan pendidikan yang terdiri dari pihak satuan pendidikan itu sendiri bersama dengan komite sekolah mengadakan pengembangan sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan.

Baik hal tersebut berkaitan dengan pemilihan mulok, pengembangan diri maupun pengaturan jam pelajaran dan beban pelajaran. Hal yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum harus disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Dalam hal ini kepala sekolah islam sebagai manajer harus dapat membimbing dan mengarahkan pengembangan kurikulum serta program pengajarannya yang melambangkan program sekolah islam, yang tidak membatasi dalam pendidikan dalam arti sempit saja, tetapi juga pendidikan dalam arti luas.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers

%d bloggers like this: