PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA


PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA

(STUDENT CENTERED)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I
(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.    Pengantar

Pada era sekarang ini atau yang lebih dikenal dengan era modernitas,  segala sesuatu telah mengalami perubahan atau yang namanya modernisasi. Hal tersebut mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar. Hal yang kecil misalnya model atau cara berpakaian, dan lain-lain.

Merupakan kata modern yang mendapat akhiran isasi yang berarti pemodernan. Secara etimologis modern berasal dari bahasa latin modo yang berarti masa kini atau mutakhir. Mutakhir disini punya kedekatan makna dengan cara zaman sekarang ini atau sesuai dengan masa yang paling baru. Istilah lain yang diperkenalkan oleh Bahtiar Rifa’i bahwa modern berasal dari bahasa latin Modernus, modo berarti akhir-akhir ini atau tadi, sedangkan ernus merupakan akhiran katerangan waktu. Dalam istilah konsep Darwin (1809-1882) istilah modern punya arti yang sama dengan Up to date , progresif dan maju.

Istilah modern ini dianggap sebagai lawan dari istilah ancient atau tradisional. Dengan demikian, kedua istilah itu merupakan tipe idela dari dua tatanan masyarakat yang berbeda. Pada umumnya, dalam pengertian modern, tercakup ciri-ciri masyarakat tertentu yang ditemui sekarang ini. Istilah modern kemudia berkembang menjadi istilah teknis akademis. Modernisasi yaitu proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Seperti pandangan A. Scalapino yang memahaminya sebagai suatu proses dimana suatu masyarakat atau kawasan (region) tertentu menselaraskan diri dengan tuntutan dan kesempatan waktu, dengan tujuan-tujuan untuk memajukan ekonomi, harmoni sosial dan stabilitas politik. Salah satu aspek yang paling menonjol dalam modernisasi suatu masyarakat adalah pergantian tehnik produksi dari carea tradisional ke cara-cara modern, yang tertampung dalam pengertian revolusi industri. Dalam hal ini terdapat indikator bagaimana modern diartikan sebagai kekinian. Artinya terdapat dinamika perkembangan yang memberikan ruang artikulatif bagi manusia untuk secara lebih lanjut terlibat dalam proses pergeseran nilai dan perspektif yang melahirkan berbagai ragam tehnik yang secara sfesifik dikhususkan untuk bidang tertentu saja.

Salah satu yang terjadi dalam era modern adalah perubahan tujuan pendidikan. Perubahan tujuan pendidikan tersebut pastilah melahirkan suatu model pembelajaran yang selalu mengiringi setiap perubahan. Akan tetapi karena model-model ini masih merupakan model yang asing di kalangan pendidik, terutama pendidik yang sudah tua atau yang belum berpengalaman, maka para pendidik masih menggunakan model yang lama dalam mendidik. Model tersebut tidak sesuai dengan kurikulum yang diterapkan pada saat ini.

Maka dari itu kami berusaha untuk menulis tentang pembelajaran yang berpusat pada siswa yang kami ambil dari beberapa referensi yang ada dan sedikit pengetahuan yang kami punya.

Kurikulum berbasis kompetensi merupakan kurikulum yang menitik tekankan kepada kompetensi yang dicapai oleh peserta didik. Kompetensi tersebut dapat berupa kompetensi dasar atau kompetensi esensial lainnya. Implementasi dari tujuan kurikulum berbasis kompetensi adalah munculnya atau dipakainya model pembelajaran dipercepat, konstruktif dan kooperatif-kolaboratif yang menitik beratkan siswa atau peserta didik.

B.     Belajar Yang Dipercepat (Accelerated Learning)

Belajar yang dipercepat, merupakan konsep belajar yang berdasarkan kehidupan manusia secara alamiah. Belajar yang dipercepat bertujuan mengurangi sifat mekanistis dan berupaya memanusiakan siswa dalam proses pembelajaran, serta menempatkan siswa sebagai pusat dalam sistem pembelajaran.

Dalam ini siswa bukan sesuatu yang harus diisi dengan informasi akan tetapi siswa harus diberi rangsangan untuk belajar sendiri dengan menggunakan segala potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan  pembelajaran yang telah ditetapkan.

Tujuan pendidikan sekarang ini sudah bergeser sejak adanya modernisasi, yaitu menjadikan atau menyiapkan manusia untuk berpikir, menetapkan sikapnya dan kreatif dalam segala hal untuk mengantisipasi hal yang tidak diduga.

Yang sangat penting dalam Accelerated Learning adalah keutuhan pengetahuan, keutuhan individu, keutuhan organisasi dan keutuhan kehidupan itu sendiri. Maka implikasi dari konsep ini adalah menjalankan kurikulum secara separate subject curriculum.

Sejarah model pembelajaran ini, pada tahun 1970-an Lyna Schraeder dan Sheila Osbander mempublikasikan buku super learning yang merupakan hasil psikhiatris Bulgaria Georgi Lozanov. Ia menemukan bahwa dengan membuat pasien psychiatric relaks melalui pemberian musik dan saran positif, mereka banyak memperoleh kemajuan. Melalui hal inilah maka selanjutnya diselidiki bahwa dengan kembali kepada yang alamiah dan membangkitkan daya pikir mereka, mereka banyak mendapatkan kemajuan.

Pembelajaran yang dipercepat mengubah pola-pola pendidikan dan pelatihan lama menjadi pola baru. Pola lama pendidikan berbasis pada:

v  Siswa sebagai konsumen

v  Performansi pembelajaran siswa secara individual

v  Kompartementalisasi

v  Pengawasan birokrasi yang sentralistik

v  Guru sebagai acuan dasar untuk kerja

v  Pembelajaran kognitif yang padat hafalan

v  Pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan yang mirip proses lini produksi.

Pola baru pendidikan berbasis pada:

v  Siswa sebagai inofator dan pencipta

v  Kerjasama dan kolaborasi dalam belajar dan performansi kelompok siswa

v  Adanya saling keterkaitan dan saling ketergantungan antar siswa.

v  Pembelajaran yang melibatkan keseluruhan fisik dan mental

v  Lingkungan pembelajaran dirancang seperti dunia kehidupan yang nyata yang merangsang siswa untuk belajar dan berlatih.

Tujuan A.L adalah menggugah sepenuhnya kemampuan belajar para pelajar, membuat belajar yang menyenangkan dan memuaskan bagi mereka, dan memberikan sumbangan sepenuhnya kepada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi dan keberhasilan mereka sebagai manusia.

Karakteristik belajar dipercepat adalah sebagai berikut:

v  Belajar yang dipercepat mengutamakan hasil: yang diutamakan adalah hasil, bukan sarana atau metode yang digunakan.

v  Belajar yang dipercepat adalah belajar yang alamiah; karena berbasis pada cara bagaimana seseorang belajar secara alamiah, seperti berbicara, mengamati dan sebagainya.

v  Penerimaan yang tinggi; Belajar yang dipercepat adalah suatu usaha mempercepat tingkat penerimaan dengan aktualisasi seluruh potensi yang ada pada manusia.

v  Belajar yang dipercepat adalah belajar yang menyeluruh.

Banyak faktor yang memungkinkan terjadinya kotraversi terhadap pertumbuhan dan kemantapan belajar yang dipercepat, antara lain:

v  Teori pembelajaran kognitif yang mengarah kepada verbalisme dan kemampuan kognitif tingkat rendah.

v  Didasari atas pendapat bahwa seseorang memiliki pola belajarnya sendiri yang berbeda dengan orang lain.

v  Pudarnya pandangan Newtonian.

v  Perubahan evolutif dari dominasi pria kearah keseimbangan pria dan wanita.

Beberapa prinsip yang mendorong keberhasilan belajar yang dipercepat adalah sebagai berikut:

  1. Pembelajaran menyeluruh; baik dari segi afektif, kognitif dan psikomotorik.
  2. Pembelajaran adalah kreasi bukan konsumsi; pengetahuan bukanlah merupakan sesuatu yang diserah akan tetapi perlu untuk dibangun terlebih dahulu.
  3. Pembelajaran kolaboratif; dalam hal ini model pembelajaran ini menekankan kepada yang berbasis komunitas sosial.
  4. Dalam belajar siswa dapat menerima sesuatu dari berbagai tingkat secara simultan; hal ini menunjukkan bahwa otak manusia mampu menerima sesuatu secara serempak.
  5. Belajar adalah mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan
  6. Emosi yang positif sangat meningkatkan mutu pembelajaran.
  7. Image brain menyerap informasi secara cepat; hal ini terbukti bahwa syaraf otak mampu menyerap hal konkrit secara cepat dibandingkan dengan pentium 4 sekalipun.

Landasan teori belajar yang dipercepat adalah teori Triune Brain yang menyatakan bahwa otak manusia terdiri dari tiga bagian otak meskipun saling terkait, yaitu: repthilian brain, limbyc system dan neoceortex yang masing-masing memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Neoceortex berfungsi untuk berbahasa, berpikir abstrak, pemecahan masalah, perencanaan dan lain-lain. Lymbic system berfungsi mengatur emosi dan memori jangka panjang. Repthilian  brain berfungsi mengatur otomatisasi.

Belajar tradisional tidak cocok karena memberatkan salah satu otak saja. Maka dalam belajar, kita harus memungsikan seluruh otak kita. Agar belajar menarik dan efektif , maka kita perlu memungsikan neocortex. Sementara itu kita juga harus menggunakan fungsi emosi dari lymbic system agar kualitas dan kuantitas yang dipelajari semakin meningkat. Agar kreatif maka kita juga perlu menggunakan repthilian brain.

Jadi pada intinya pembelajaran yang dipercepat adalah pembelajaran yang menyeluruh dan menggunakan seluruh kemampuan juga berdasar alamiah.

C.     Model Pembelajaran Konstruktif

Konstruktivis adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi kita sendir. Pandangan konstruktivis dalam pembelajaran mengatakan, bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, sedangkan guru yang membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi.

Ide pokoknya adalah siswa secara aktif membangun pengetahuan mereka sendiri, otak siswa sebagai mediator, yaitu memproses masukan dari dunia luar dan menentukan apa yang mereka pelajari. Pembelajaran merupakan kerja mental aktif, bukan menerima pengajaran dari guru secara pasif. Dalam kerja mental siswa, guru memegang peranan penting dengan cara memberikan dukungan, tantangan berfikir, melayani sebagai pelatih atau model, namun siswa tetap merupakan kunci pembelajaran.

Menurut teori ini, satu prinsip paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak dapat hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa agar secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan kepada siswa atau peserta didik anak tangga yang membawa siswa akan pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri harus memanjat anak tangga tersebut.

Dua  teori yang melandasi pendekatan konstruktivis yaitu Teori Perkembangan Kognitif  Piaget, dan Teori Perkembangan Mental Vygotsky.

  1. Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Piaget adalah salah satu pioner yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar. Piaget menyatakan bahwa anak membangun sendiri skemanya serta membangun konsep-konsep melalui pengalaman-pengalamannya.

Piaget membedakan perkembangan kognitif seorang anak menjadi empat taraf, yaitu (1) taraf sensori motor, (2) taraf pra-operasional, (3) taraf operasional konkrit, dan (4) taraf operasional formal. Walaupun ada perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan, tetapi teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan yang berbeda. Perkembangan kognitif sebagian besar bergantung seberapa jauh anak memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungan. Antara teori Piaget dan konstruktivis terdapat persamaan yaitu terletak pada peran guru sebagai fasilitator, bukan sebagai pemberi informasi. Guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi siswa-siswanya  dan membantu siswa menghubungkan antara apa yang sudah diketahui siswa dengan apa yang sedang dan akan dipelajari.

Prinsip-prinsip Piaget dalam pengajaran diterapkan dalam program-program yang menekankan pembelajaran melalui penemuan dan pengalaman-pengalaman nyata dan pemanipulasian alat, bahan, atau media belajar yang lain serta peranan guru sebagai fasilitator yang mempersiapkan lingkungan dan memungkinkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman belajar.

Implikasi teori kognitif Piaget pada pendidikan adalah sebagai berikut

v  Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Selain kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut. Pengalaman-pengalaman belajar yang sesuai dikembangkan dengan memperhatikan tahap fungsi kognitif dan hanya jika guru penuh perhatian terhadap metode yang digunakan siswa untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam posisi memberikan pengalaman yang dimaksud.

v  Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam kelas, Piaget menekankan bahwa pengajaran  pengetahuan jadi (ready made knowledge) tidak mendapat tekanan, melainkan anak didorong menemukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungan. Oleh karena itu, selain mengajar secara klasik, guru  mempersiapkan beranekaragam kegiatan secara langsung dengan dunia fisik.

v  Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu  berlangsung pada kecepatan yang berbeda. Oleh karena itu harus melakukan upaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individu-individu ke dalam bentuk kelompok-kelompok kecil siswa daripada aktivitas dalam bentuk klasikal. Hal ini sesuai dengan pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran khas menerapkan pembelajaran kooperatif secara ekstensif.

  1. Teori Perkembangan Fungsi Mental Vygotsky

Vygotsky berpendapat seperti Piaget, bahwa siswa membentuk pengetahuan, yaitu apa yang diketahui siswa bukanlah kopi dari apa yang mereka temukan di dalam lingkungan; tetapi sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa sendiri, melalui bahasa. Meskipun kedua ahli memperhatikan pertumbuhan pengetahuan dan pemahaman anak tentang dunia sekitar, Piaget lebih memberikan tekanan pada proses mental anak dan Vygotsky lebih menekankan pada peran pengajaran dan interaksi sosial (Howe & Jones, 1993). Sumbangan penting yang diberikan Vygotsky dalam pembelajaran adalah konsep zone of proximal development (ZPD) dan scaffolding.

Vygotsky yakin bahwa pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajarai namun tugas-tugas itu berada dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal development. ZPD adalah tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang saat ini.

Vygotsky lebih yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam kerjasama atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap ke dalam individu tersebut. Sedangkan konsep Scaffolding berarti memberikan kepada siswa sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya.

Ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan. Pertama, adalah perlunya tatanan kelas dan bentuk pembelajaran kooperatif antar siswa, sehingga siswa dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strtategi pemecahan masalah yang efektif di dalam masing-masing ZPD mereka. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pengajaran menekankan scaffolding, dengan semakin lama siswa semakin bertanggung jawab terhadap pembelajaran sendiri. Ringkasnya, menurut teori Vygotsky, siswa perlu belajar dan bekerja secara berkelompok sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan diperlukan bantuan guru terhadap siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Prinsip-prinsip Belajar Konstruktivis. Para ahli konstruktivis menyatakan bahwa belajar melibatkan konstruksi pengetahuan saat pengalaman baru diberi makna oleh pengetahuan terdahulu. Persepsi yang dimiliki oleh siswa mempengaruhi pembentukan persepsi baru. Siswa menginterpretasi pengalaman baru dan memperoleh pengetahuan baru berdasar realitas yang telah terbentuk di dalam pikiran siswa.Konstruktivisme yang berakar pada psikologi kognitif, menjelaskan bahwa siswa belajar sebagai hasil dari pembentukan makna dari pengalaman. Peran utama guru adalah membantu siswa membentuk hubungan antara apa yang dipelajari dan apa yang sudah diketahui siswa. Bila prinsip-prinsip konstruktivisme benar-benar digunakan di ruang kelas, maka guru harus mengetahui apa yang telah diketahui dan diyakini siswa sebelum memulai unit pelajaran baru.

Ada tiga prinsip yang menggambarkan konstruktivisme  (a) seseorang tidak pernah benar-benar memahami dunia sebagaimana adanya karena tiap orang membentuk keyakinan atas apa yang sebenarnya, (b)  keyakinan/pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang menyaring atau mengubah informasi yang diterima seseorang, (c) siswa membentuk suatu realitas berdasar pada keyakinan yang dimiliki, kemampuan untuk bernalar, dan kemauan siswa untuk memadukan apa yang mereka yakini dengan apa yang benar-benar mereka amati.

Pada intinya esensi dari teori pembelajaran ini adalah bahwa siswa harus secara individu menemukan konsep-konsep atau informasi yang komplek dan mengorganisasikannya dalam dirinya sendiri. Sehingga hasil belajar benar-benar menjadi milik siswa.

Strategi konstruktif ini sering juga disebut sebagai pembelajaran yang berpusat pada siswa (studied centered instruction), sehingga fungsi guru adalah promotor pembelajaran dengan tugas mempromosikan fasilitas belajar bagi siswa agar siswa belajar dan berlatih untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Empat prinsip dari teori Vigotsky yaitu:

  1. Penekanan poada hakekat sosial dari pembelajaran siswa.
  2. Dalam model pembelajaran pemilikan konsep yang paling baik bila konsep yang akan diajarkan tersebut berada dalam zona perkembangan terdekat siswa.
  3. Pemagangan kognitif, pada intinya yang lebih pandai menjadi model yang kurang pandai.
  4. Siswa seharusnya diberi tugas-tugas yang komplek, sulit tetapi realistik dan selanjutnya siswa diberi bantuan untuk menyelesaikannya.

1.    Karakteristik Pembelajaran Konstruktif

  1. Proses Top Down: siswa mulai belajar dengan masalah-masalah yang lebih kompleks untuk dipecahkan atau dicari solusinya dengan bantuan guru dengan menggunakan ketrampilan dasar yang diperlukan.
  2. Pembelajaran Kooperatif: Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Beberapa ciri dari pembelajaran kooepratif adalah; (a) setiap anggota memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, (d) guru membantu  mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.
  3. Pembelajaran Generatif: strategi pembelajaran ini mengajarkan siswa dengan metode spesifik untuk melakukan kerja mental, menangani informasi baru. Pembelajaran secara generatif adalah sejajar dengan matlamat supaya murid sendiri membentuk cara yang sesuai bagi mereka,mengenal dan memberi pandangan tentang alam. Pembelajaran Generatif menekannkan supaya maksud atau kefahaman tentang sesuatu perkara diperoleh melalui proses mental yang dikaitkan secara eksplisit antara input baru dengan pandangan atau pengetahuan ada tentang alam.
  4. Pembelajaran dengan penemuan: ini merupakan pendekatan mengajar yang berusaha meletakkan dasar dan cara berpikir ilmiah. Ada 5 tahapan dalam metode ini, antara lain: perumusan masalah, hipotesis, informasi untuk jawaban hipotesis, kesimpulan, mengaplikasikan kesimpulan dalam situasi baru.
  5. Pembelajaran dengan pengaturan diri: pembelajaran jenis ini adalah mereka mampu mengetahui kapan mereka harus membaca, menulis dan lain-lain, siswa adalah seorang yang ideal yang mampu mengatur dirinya sendiri.
  6. Scaffolding: ini didasarkan atas konsep psikologis diatas, yaitu tentang pembelajaran dengan bantuan, disini guru hanya sebagai agen budaya yang membantu pengajaran sehingga siswa mampu menguasai materi dengan tuntas.

D.     Model Pembelajaran Kooperatif-Kolaboratif

Ada tiga motivasi yang mendasari terjadi interaksi dalam kegiatan belajar siswa, yaitu:

  1. Mereka yang belajar dengan tujuan berkompetisi dengan temannya untuk menjadi yang terbaik.
  2. Mereka yang belajar secara perorangan untuk mencapai tujuan mereka tanpa menaruh perhatian pada temannya.
  3. Mereka yang belajar dengan kerja sama karena mereka memiliki keinginan yang sama.

Pendekatan dalam model pembelajaran ini, yaitu:

v  Kelompok belajar siswa.

v  Belajar bersama

v  Kelompok penelitian

v  Pendekatan struktural

v  Pembelajaran yang kompleks

v  Pendekatan kolaboratif.

Ada beberapa elemen dalam pola pembelajaran kooperatif dan kolaboratif, yaitu:

  1. saling ketergantungan yang positif.

Agar pembelajaran kooperatif dapat berhasil disyaratkan adanya saling percaya satu sama lain dalam kelompok belajar. Ada beberapa cara untuk membangun saling ketergantungan positif, yaitu: 1) menumbuhkan perasaan siswa bahwa dirinya berada dalam kelompok, pencapaian tujuan terjadi bila semua anggota kelompok mencapai tujuan. 2) mengusahakan agar semua anggota kelompok mendapatkan perolehan atau hadiah yang sama bila kelompok mereka berhasil mencapai tujuan. 3) mengatur agar setiap siswa dalam kelompok hanya mendapatkan sebagian dari keseluruhan tugas kelompok. 4) setiap siswa ditugasi dengan peran-peran atau tugas yang saling mendukung dan saling terhubung dalam arti saling melengkapi dan saling terikat dengan siswa lain dalam kelompok.

  1. interaksi yang saling mendorong: interaksi ini akan memberi dorongan terjadinya saling ketergantungan positif. Ciri-cirinya adalah: saling membantu secara efektif dan efisien, saling memberi informasi dan sarana yang diperlukan, memproses informasi bersama secara lebih efektif dan efisien, saling mengingatkan, saling membantu dalam merumuskan dan mengembangkan argumentasi yang mendorong tumbuhnya kemampuan, saling mempercayai satu sama lain, saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan atau keuntungan bersama.
  2. pertanggung jawaban individu. Hal ini biasanya muncul ketika para anggota kelompok diserahi tanggung jawab untuk mengerjakan tugas, karena pada intinya tujuan dari pembelajaran kooperatif ini adalah membentuk semua anggota menjadi pribadi yang kuat.
  3. ketrampilan kelompok dan ketrampilan interpersonal. Dalam hal ini siswa harus mempunyai kemampuan berinteraksi dengan sosial. Maka untuk mengorganisasikan kegiatan siswa dalam rangka pencapaian tujuan, siswa harus: saling mengenal dan mempercayai, mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius, saling menerima dan saling mendukung, mampu menyelesaikan konflik sacara konstruktif.
  4. proses kelompok. Elemen penting dari pembelajaran kooperatif adalah proses kelompok. Pada  intinya tujuan dari pembelajaran kooperatif ini adalah untuk meningkatkan efektifitas siswa dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok

Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif

Walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, terdapat beberapa variasi dari model tersebut. Ada empat pendekatan pembelajaran kooperatif  . Di sini akan diuraikan secara ringkas masing-masing pendekatan tersebut.

a. Student Teams Achievement Division (STAD)

STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama  lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan atau melakukan diskusi. Secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu siswa diberi kuis. Kuis itu diskor, dan tiap individu diberi skor perkembangan. Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor yang lalu. Setiap minggu pada suatu lembar penilaian singkat atau dengan cara lain, diumumkan tim-tim dengan skor tertinggi, siswa yang mencapai skor  perkembangan tinggi, atau siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis itu. Kadang-kadang seluruh tim yang mencapai kriteria tertentu dicantumkan dalam lembar itu.

b. Investigasi Kelompok

Investigasi kelompok mungkin merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini dikembangkan pertama kali oleh Thelan. Berbeda dengan STAD dan jigsaw, siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari maupun bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada pendekatan yang lebih terpusat pada guru. Dalam penerapan investigasi kelompok ini guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen. Dalam beberapa kasus, kelompok dapat dibentuk dengan mempertimbangkan  keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih itu. Selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.

c. Pendekatan Struktural

Pendekatan ini dikembangkan oleh Spencer Kagen dan kawan-kawannya. Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan pendekatan lain, namun pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur tugas yang dikembangkan oleh Kagen ini dimaksudkan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional, seperti resitasi, di mana guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas dan siswa memberi jawaban setelah mengangkat tangan dan ditunjuk. Struktur yang dikembangkan oleh Kagen ini menghendaki siswa  bekerja saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif, daripada penghargaan individual. Ada struktur yang  dikembangkan untuk meningkatkan perolehan isi akademik, dan ada struktur yang dirancang untuk mengajarkan keterampilan  sosial atau keterampilan kelompok. Dua macam struktur yang terkenal adalah think-pair-share dan numbered-head-together, yang dapat digunakan oleh guru untuk mengajarkan  isi akademik atau untuk mengecek pemahaman siswa terhadap isi tertentu. Sedangkan active listening dan time token, merupakan dua contoh struktur yang dikembangkan untuk mengajarkan keterampilan sosial.

d. Jigsaw

Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4–6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.

Model pembelajaran ini mampu mendorong timbulnya ide baru, solusi terhadap permasalahan yang akhirnya akan menghasilkan perolehan yang lebih tinggi dan produktifitas yang tinggi.

Kooperatif learning digunakan bila:

  1. Tujuan pembelajaran sangat penting.
  2. Mastery dan retention sangat penting
  3. Tugasnya sangat rumit/kompleks dan konseptual.
  4. Memerlukan problem solving
  5. Memerlukan kreativitas
  6. Mengharapkan adanya performansi yang berkualitas
  7. Memerlukan strategi berpikir tingkat tinggi dan berpikir kritis.

Hubungan antara kooperatif dengan kreativitas siswa adalah:

v  Menumbuhkan kreatifitas

v  Menambah gagasan

v  Meningkatkan kualitas gagasan

v  Menumbuhkan rasa senang yang merangsang siswa untuk aktif dalam kelompok.

v  Membentuk kemurnian ungkapan dalam interaksi dan pemecahan masalah yang kreatif.

Jadi pada intinya pembelajaran kooperaif ini merupakan pembelajaran yang menitik tekankan kepada siswa dan mendorong siswa untuk mampu memecahkan masalah, kreatif dan juga berinteraksi sosial.

 

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

One response

  1. Makalahnya bagus sekali.
    Salam kenal.
    Please, mampir ke:

    Pembelajaran Berpusat Pada Siswa (Student Centered Learning)

    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: