PROFESIONALISME DALAM PENDIDIKAN ISLAM


PROFESIONALISME DALAM PENDIDIKAN ISLAM

(Sebuah Gagasan Profesionalisme Pendidik)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I
(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Kegiatan pendidikan merupakan kegiatan yang sangat penting, karena pendidikan tersebut jika dilihat secara lebih detail tidak hanya membina aspek kognitifnya saja, akan tetapi juga membina aspek afektif seseorang. Maka dari itu pendidikan harus diselenggarakan secara sistematis agar pendidikan tersebut dapat mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Terlebih lagi pendidikan islam, pendidikan islam membina anak didik tidak hanya segi jasmaniahnya saja akan tetapi juga membina segi rohaniah. Pendidikan Islamiah memberikan penekanan yang lebih kepada keimanan, kerohanian dan akhlak. Namun begitu, dalam masa yang sama aspek-aspek kehidupan manusia dan lain-lain seperti pendidikan jasmani, akal dan kemahiran tidak diabaikan. Pendidikan juga memerlukan kepada pendidik yang hendaklah memahami konsep dan matlamat dan sekiranya baik pendidikannya maka baiklah kehidupannya dan sebaliknya.

Pendidikan dari segi individu ialah pengembangan potensi-potensi pendidikan diri manusia yang terpendam dan tersembunyi. Ini karena manusia mempunyai berbagai bakat dan kemampuan yang mana jika kita bijak menggunakannya, maka hal itu akan memberi peluang yang menguntungkan. H. Horne menegaskan pendidikan ialah proses abadi bagi menyesuaikan perkembangan diri manusia dari segi jasmani, alam, aqliah, kebebasan dan perasaan manusia terhadap Tuhan.

Namun begitu, pendidikan dari kaca mata Islam, Ustaz Uthman al-Muhammady menjelaskan tujuan pendidkan dalam Islam sebagaimana jelas dalam al-Quran dan Sunnah dan lain-lain sumber muktabar ialah untuk membawa seseorang Muslim atau masyarakat Islam untuk menyerupai dan merealisasi atau menyqdari perkara-perkara yang sebenarnya sama ada dalam akidah, ibadah dan sistem akhlak untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, untuk mencapai tahap pembangunan yang menyeluruh dalam individu, ia perlu melalui proses pendidikan yang terus-menerus  yang mana bermula ketika dilahirkan dan berakhir ketika kita mati.

Pendidikan berteraskan Islam yang menganjurkan kepada penghayatan ilmu, pencernaan ilmu naqliah dan aqliah. Pendidikan Islam bukan hanya menjalankan proses ta`lim tetapi mencakupi proses ta’dib dan tarbiah. Proses ta’dib adalah proses pencernaan adab dengan sifat dalam dan luar, di samping berfungsi melahirkan keperibadian yang luhur dan jiwa yang murni. Proses tarbiah pula mencakupi segala bentuk latihan imaniah, aqliah, jinsiah, ijtima`iah, jismiah dan ruhiah. Manakala ta`lim pula ialah menyampaikan ilmu berdasarkan ketepatan konsep dengan kehendak ilmu yang diajar.

Pendidikan Islam ini juga melahirkan bukan sekadar warganegara yang baik tetapi juga insan yang saleh. Sebagai insan yang saleh ia akan mengenalpasti iman dan kufur antara makruf dan munkar, antara falah dan khusran. Sebagai insan yang saleh juga dirinya mengetahui akan hakikat manusia sebagai hamba Allah dan khalifah yang sentiasa bersifat ridwanallah dan khashiatullah.

Dalam bahasa Arab ada beberapa istilah untuk pendidikan antaranya perkataan ta`lim sesuai dengan firman Allah (s.w.t.):Yang bermaksud: “Dan Allah mengajar kepada Adam segala nama, kemudian Allah berfirman kepada malaikat beritahulah aku nama-nama semua itu jika kamu benar.”
(al-Baqarah 2:31).

Perkataan tarbiah juga digunakan untuk pendidikan. Firman Allah dalam surah Isra': Yang bermaksud: “Hai Tuhanku, sayangilah kedua-dua mereka sebagaimana mereka mendidikku sewaktu kecil”.(al-Isra’ 17:24).

Di samping itu perkataan ta’dib digunakan untuk maksud pendidikan seperti sebuah Hadist (s.a.w.) yang berbunyi: Yang bermaksud:”Allah mendidikku, maka Ia memberikan kepadaku sebaik-baik pendidikan”.

Para sarjana Islam telah mentakrifkan tujuan pendidikan yaitu memberi pertumbuhan yang seimbang terhadap sakhsiah yang sempurna melalui latihan rohani, intelek dan diri manusia itu sendiri.

Dari sini, pendidikan hendaklah memberikan perkembangan manusia dalam semua aspek iaitu rohani, akal, daya fikir, jasmani, ilmu Sains, ilmu bahasa dan merangsang semua aspek ini ke arah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Matlamat akhir pendidkan Islam adalah terletak pada penyerahan langsung kepada Allah (s.w.t.).

Jika kita melihat rumusan tujuan dari pendidikan islam, maka kita akan menemukan banyak sekali pendapat yang mengatakan tujuan pendidikan islam tersebut. Akan tetapi dari berbagai pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa tujuan pendidikan islam adalah untuk mendidik manusia agar menjadi insan kamil.

Sedangkan untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan berbagai elemen yang harus koheren dan profesional. Dan keprofesionalisasian merupakan hal yang mendasar yang harus ada dalam suatu kegiatan agar kegiatan tersebut dapat berhasil dengan baik. Demikian juga mengenai pendidikan islam, agar tujuan pendidikan islam dapat dicapai dan juga kegiatan pendidikan dapat berjalan dengan baik, maka pendidikan islam haruslah profesional.

Maka dari itu, kami akan membahas mengenai profesionalisme dalam pendidikan islam yang kami ambil dari berbagai referensi yang kami temukan dan juga berdasarkan pengetahuan yang kami miliki.

B.     Makna Profesionalisme

Profesionalisme adalah faham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional. Orang yang profesional ialah orang yang memiliki profesi. Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu.

Menurut Muhtar Lutfi, ada 8 kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah pekerjaan agar dapat disebut sebagai profesi, yaitu:

  1. Panggilan hidup yang sepenuh waktu

Profesi adalah pekerjaan yang menjadi panggilan hidup seseorang yang dilakukan sepenuhnya serta berlangsung dalam waktu yang lama bahkan seumur hidup

  1. Pengetahuan dan kecakapan/keahlian.

Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan atas dasar pengetahuan dan kecakapan / keahlian khusus yang dipelajari.

  1. Kebakuan yang universal.

Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan menurut teori, prinsip, prosedur dan anggapan dasar yang sudah baku secara umum (universal) sehingga dapat dijadikan pegangan atau pedoman dalam pemberian pelayanan terhadap mereka yang membutuhkan.

  1. Pengabdian

Profesi adalah pekerjaan terutama sebagai pengabdian pada masyarakat bukan untuk mencari keuntungan secara material/finansial bagi diri sendiri.

  1. Kecakapan diagnotis dan kompetensi aplikatif.

Profesi adalah pekerjaan yang mengandung unsur-unsur kecakapan diagnostis dan kompetensi aplikatif terhadap orang atau lembaga yang dilayani.

  1. Otonomi

Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan secara otonomi atas dasar prinsip-prinsip atau norma-norma yang ketetapannya hanya dapat diuji atau dinilai oleh rekan-rekan se Profesi.

  1. Kode etik.

Profesi adalah pekerjaan yang mempunyai kode etik yaitu norma-norma tertentu sebagai pegangan atau pedoman yang diakui serta dihargai oleh masyarakat.

  1. Klien

Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan untuk melayani mereka yang membutuhkan pelayanan (klien).

Sedangkan Rochman Natawidjaya mengemukakan beberapa kriteria tentang ciri-ciri suatu profesi,

  1. Ada standar untuk kerja yang baku dan jelas
  2. Ada lembaga pendidikan khusus yang menghasilkan pelakunya dengan program dan jenjang pendidikan serta memiliki standar akademik yang memadai dan bertanggung jawab terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang melandasi Profesi itu.
  3. Ada organisasi yang mewadahi para pelakunya untuk mempertahankan dan memperjuangkan eksistensi dan kesejahteraannya.
  4. Ada sistem imbalan terhadap jasa pelayanannya.
  5. Ada pengakuan masyarakat terhadap pekerjaan itu sebagai suatu Profesi.

Kemudian secara panjang lebar menurut T. Raka Joni  ada 5 ciri keprofesian yang lazim serta penerapannya  di dalam bidang pendidikan di tanah air.

  1. Profesi itu diakui oleh masyarakat dan pemerintah dengan adanya bidang layanan tertentu yang hanya dapat dilakukan oleh kelompok pekerja yang dikategorikan sebagai suatu Profesi.
  2. Pemilikan sekumpulan ilmu yang menjadi landasan sejumlah tehnik serta prosedur kerja.
  3. Diperlukan persiapan yang sengaja dan sistematis sebelum orang melaksanakan pekerjaan Profesional. Dengan kata lain pekerjaan Profesional mempersejaratkan pendidikan yang sistematis yang berlangsung relatif lama.
  4. Adanya mekanisme untuk melakukan penyaringan secara efektif, sehingga hanya mereka yang dianggap kompeten yang dibolehkan bekerja memberikan layanan ahli yang dimaksud.
  5. Diperlukan organisasi Profesi disamping untuk melindungi kepentingan anggotanya dari saingan yang datang dari luar kelompok, juga berfungsi untuk meyakinkan supaya para anggotanya menyelenggarakan layanan ahli terbaik yang bisa diberikan demi kemaslahatan para pemakai layanan.

Apakah dengan merumuskan beberapa ciri diatas lalu dapat diambil kesimpulan bahwa bidang keguruan bukan merupakan suatu Profesi di negara kita? Apabila hanya diterapkan kriteria Profesionalisasi di atas terhadap keadaan dewasa ini, maka jawabnya jelas bahwa bidang keguruan belum merupakan Profesi dalam arti yang sepenuhnya. Akan tetapi, apabila kita memusatkan kepedulian pada kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dan diperlukan untuk melestarikan keyakinan bangsa dan negara, maka penanganan layanan pendidikan mulai dari perencanaan sampai dengan penyelenggaraannya dari hari ke hari mutlak mensyaratkan tenaga-tenaga Profesional.

Penyiapan generasi muda melalui sistem magang sudah tidak memadai lagi untuk bertahan dalam abad informasi ini. Sebaliknya penyiapan menjemput hari esok sekarang ini membutuhkan guru-guru yang benar-benar memiliki ketanggapan yang berlandaskan kearifan terhadap kemungkinan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat yang akan datang. Hanya kepada guru-guru yang Profesional, masa depan bangsa dan negara dapat dipercaya.

C.     Karakteristik Profesionalisme

Dari sekian banyak kriteria profesi yang diuraikan diatas , agaknya ada 2 kriteria pokok, yaitu: 1. merupakan panggilan hidup, 2. keahlian. Kriteria panggilan hidup sebenarnya mengacu pada pengabdian (dedikasi). Kriteria keahlian mengacu kepada mutu pelayanan. Sedangkan kriteria yang lainnya merupakan kriteria untuk memperkuat keahlian dan memperjelas dedikasi. Dengan demikian dedikasi dan keahlian itulah ciri utama suatu bidang Profesi, dan jika demikian maka jelaslah islam mementingkan Profesi.

Pekerjaan / Profesi menurut islam harus dikerjakan karena Allah. Jadi Profesi dalam islam harus dijalani karena merasa bahwa itu adalah perintah Allah. Dalam kenyataannya pekerjaan itu dilakukan untuk orang lain, tetapi niat yang mendasarinya adalah perintah Allah.

Dalam Islam setiap pekerjaan harus dilakukan secara Profesional, dalam arti dilakukan secara benar. Rasulullah mengatakan bahwa ”bila suatu urusan dikerjakan oleh orang yang  tidak ahli, maka tunggulah kehancurannya”. Kehancuran dalam hadist ini dapat diartikan secara terbatas dan luas.

Diartikan terbatas jika seorang guru mengajar tidak dengan keahlian, maka yang hancur adalah murid. Sedangkan dalam arti luas, murid-murid itu kelak nantinya akan mempunyai murid lagi, kemudian murid-murid itu nantinya akan berkarya dan keduanya dilakukan tidak dengan benar, karena telah dididik dengan cara yang tidak benar, maka akan timbullah kehancuran.

Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi, ”setiap pekerjaan (urusan ) harus dilakukan oleh orang yang ahli”. Oleh karena itu dalam hal ini guru memiliki banyak tugas, diantaranya tugas Profesi, tugas kemanusiaan dan tugas dalam bidang kemasyarakatan.

Guru adalah orang yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu guru harus betul-betul membawa siswanya kepada tujuan yang ingin dicapai. Guru harus mampu mempengaruhi siswanya. Guru harus berpandangan luas dan kriteria bagi guru ialah ia harus memiliki kewibawaan. Guru yang memiliki kewibawaan berarti memiliki kesungguhan suatu kekuatan. Sesuatu yang dapat memberikan kesan dan pengaruh.

Setiap orang yang akan melaksanakan tugas guru harus punya kepribadian. Disamping punya kepribadian yang sesuai dengan ajaran islam, guru adalah seorang yang seharusnya dicintai dan disegani oleh muridnya. Penampilannya dalam mengajar harus meyakinkan dan tindak-tanduknya akan diikuti oleh muridnya. Guru merupakan tokoh yang akan ditiru dan diteladani. Dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik guru juga harus mau dan rela ikut serta memecahkan berbagai masalah yang dihadapi siswa.

Akan tetapi setiap guru mempunyai pribadi masing-masing. Sesuai ciri-ciri pribadi yang mereka miliki. Ciri-ciri inilah yang membedakan seorang guru dari guru lainnya. Kepribadian sebenarnya adalah suatu masalah yang abstrak, hanya dapat dilihat lewat penampilan, ucapan, tindakan, cara berpakaian dan dalam menghadapi persoalan. Zakiah Darajat mengatakan bahwa kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak, sukar dilihat, atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupan, seperti dalam tindakan, ucapan, cara bergaul, berpakaian dan dalam menghadapi persoalan. Oleh karena itu seorang guru harus memiliki persyaratan sebagai berikut:

  1. Dari segi kualifikasi: guru perlu memiliki kelayakan akademik yang tidak sekedar dibuktikan dengan gelar atau ijazah, tetapi harus ditopang oleh kualitas diri yang unggul.
  2. Dari segi kepribadian: guru perlu memiliki kepribadian yang tinggi yang dihiasi dengan akhlak yang mulia dalam segala perilakunya.
  3. Dari segi pembelajaran: guru perlu memahami teori dan praktek pendidikan dan kurikulum.
  4. Dari segi sosial: guru sebagai pendidik harus memiliki kepekaan sosial, karena guru adalah satu elemen masyarakat yang memiliki sumber daya berbeda kualitasnya dibanding dengan elemen masyarakat yang lain.
  5. Dari segi religius: guru perlu memiliki komitmen keagamaan yang tinggi agar bisa diterapkan dalam kehidupannya.
  6. Dari segi psikologis: guru perlu memiliki kemampuan mengenal perkembangan jiwa anak, baik intelektual, emosional maupun spiritual.
  7. Dari segi strategi: guru perlu memperkaya diri dengan berbagai metode, pendekatan, dan tehnik pembelajaran yang lebih memiliki kehandalan dalam menghantarkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.

Sikap dan karakteristik guru yang sukses mengajar secara efektif dapat diidentifikasikan dengan cara:

  1. Respek dan memahami dirinya serta dapat mengontrol dirinya (emosi stabil).
  2. Antusias dan bergairah terhadap bahan, kelasnya dan seluruh pengalaman pengajarannya.
  3. Berbicara dengan jelas dan komunikatif (dapatmengkomunikasikan idenya terhadap siswa)
  4. Memperhatikan perbedaan individual siswa.
  5. Memiliki banyak pengetahuan, inisiatif, kreatif dan banyak akal.
  6. Menghindari kekerasan dan ejekan terhadap siswanya.
  7. Menjadi teladan bagi siswanya.

Sedangkan kriteria keberhasilan mendidik yaitu:

  1. Memiliki sikap suka belajar.
  2. Tahu tentang cara belajar
  3. Memiliki rasa percaya diri
  4. Mencintai prestasi tinggi
  5. Memiliki etos kerja
  6. Puas akan sukses yang dihadapi
  7. Produktif dan kreatif

Sedangkan guru yang sukses dalam mengajar biasanya memahami siswanya melalui kegiatan-kegiatan:

  1. Mengobservasi peserta didik dalam berbagai situasi, baik di dalam kelas maupun diluar kelas.
  2. Menyediakan waktu untuk mengadakan pertemuan dengan peserta didiknya sebelum, selama dan setelah sekolah.
  3. Mencatat dan mengecek pekerjaan para peserta didik dan memberikan komentar yang membangun.
  4. Mempunyai catatan peserta didik.
  5. Membuat tugas dan latihan untuk kelompok.
  6. Memberikan kesempatan khusus bagi peserta didik yang memiliki kemampuan berbeda.

Mengajar dengan sukses mengusahakan agar isi kata pelajaran bermanfaat bagi kehidupan anak dan dapat membentuk kepribadiannya. Ini tercapai bila dalam mengajar itu diutamakan pemahaman, wawasan, inisiatif dan kerjasama dengan mengembangkan kreatifitas.

Profesionalisme guru kiranya merupakan kunci pokok kelancaran dan kesuksesan proses pembelajaran di sekolah. Karena hanya guru yang profesional yang bisa menciptakan situasi aktif anak didik dalam kegiatan pembelajaran. Guru yang profesional diyakini mampu mengantarkan anak didik dalam kegiatan pembelajaran untuk menemukan, mengelola dan memadukan perolehannya dan memecahkan persoalan yang berkaitan dengan pengetahuan sikap dan nilai maupun ketrampilan hidupnya.

Selain persyaratan profesional diatas, guru juga disarankan memiliki kepekaan emosional sehingga ia merasa senang dalam menjalankan profesinya. Guru dalam bekerja didorong oleh hati nuraninya untuk mendidik anak didik.

Panggilan  hati nurani guru merupakan dasar kejiwaan yang harus melekat pada guru untuk melakukan kegiatan pembelajaran dan pendidikan. Profesionalisme guru dalam konteks pembelajaran lebih pada strategi guru dalam mendesain strategi pembelajaran di kelas maupun diluar kelas. Ada beberapa hal yang harus dijalankan guru yang profesional berkaitan dengan strategi pembelajaran, yaitu:

  1. Mengidentifikasi perubahan tingkah laku serta kepribadian sesuai dengan yang diharapkan.
  2. Memilih sistem pendekatan pembelajaran yang berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
  3. Memilih dan menetapkan metode dan tehnik pembelajaran yang dianggap paling tepat dan efektif dalam pencapaian tujuan pendidikan.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standart keberhasilan untuk dapat menjadi pedoman dalam melakukan evaluasi.

Sedangkan profesionalisme guru yang berkaitan dengan pendekatan pembelajaran bisa diklasifikasikan ke dalam 3 hal yaitu:

  1. Model pembelajaran yang meliputi guru menyampaikan dan anak didik menerima materi pelajaran.
  2. Pembelajaran aktif yang berpusat pada anak didik dan guru sebagai fasilitator, korektor, inspirator, motivator, inisiator, mediator, superviisor dan evaluator. Sehingga dapat menciptakan suasana yang interaktif antara guru dan anak didik dalam proses pembelajaran.
  3. Pengelolaan kelas yang meliputi pendekatan klasikal, kelompok dan individual dan sasaran pembelajaran yang meliputi pendekatan pengalaman, pembiasaan, emosional, rasional dan fungsional.

Apapun alasan yang diajukan dalam konteks profesionalisme guru, kiranya etos kerja keguruan dan mutu produk kerja perlu ditingkatkan. Prestasi anak didik memasuki dunia kerja profesional merupakan barometer keberhasilan kinerja profesional keguruan dan kependidikan di sekolah.

D.     Aplikasi Profesionalisme Dalam Pendidikan Islam

Untuk meningkatkan mutu sekolah-sekolah islam, yang terpenting ialah penerapan profesionalisme di sekolah-sekolah. Bagaimana menerapkan profesionalisme di sekolah-sekolah islam sekarang ini? Untuk menerapkan profesionalisme dalam pengelolaan pendidikan agaknya dapat diikuti sekurang-kurangnya pertimbangan pemikiran berikut ini:

  1. Adanya profesionalisme pada  tingkat yayasan.

Biasanya sekolah islam dibawah pengelolaan dan tanggung jawab yayasan. Yayasan tidak selalu hanya mengurus sekolah, kadang-kadang yayasan juga membuat kegiatan lain sperti mengurus rumah sakit, panti asuhan, koperasi, sekolah dan lain-lain. Dalam hal ini pengurus yayasan tidak harus profesional dalam semua bidang garapan itu. Disini pengurus yayasan cukup memenuhi syarat 1 saja, yaitu rasa pengabdian yang besar kepada masyarakat.

Oleh karena itu dibutuhkan seseorang yang profesional untuk bisa mengelola sebuah yayasan dalam setiap bidang garapan dan seseorang ini sebaiknya tidak merangkap jabatan sebagai pengurus atau kepala sekolah. Dikarenakan ia harus memikirkan perkembangan sekolah dari satu sekolah menjadi banyak sekolah dan pemikirannya itu akan lebih luas jika tidak terlibat dalam persoalan-persoalan rutin yang biasanya selalu ada di setiap sekolah.

  1. Menerapkan profesionalisme pada tingkat pimpinan sekolah

Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah memilih kepala sekolah yang benar, profesional dengan keahliannya sehingga nantinya dapat diharapkan meningkatkan mutu guru.

  1. Menerapkan profesionalisme pada tingkat tenaga pengajar.

Contohnya pelatihan yang diselenggarakan oleh sekolah sendiri. Misalnya untuk sekian orang guru Bahasa Inggris diberi kursus tambahan dengan mendatangkan guru dari luar atau salah seorang guru yang ada yang dianggap paling ahli untuk memberikan pelajaran.

  1. profesionalisme tenaga tata usaha sekolah

Tata usaha sekolah harus mampu memberikan pelayanan selengkap-lengkapnya terhadap kepala sekolah, guru, murid dan orang tua murid atau wali.

Hambatan  utama dalam menerapkan profesionalisme di sekolah ialah: kurangnya biaya, demikian pendapat umum dikalangan pengelola sekolah islam. Oleh karena itu sekolah islam banyak yang rendah mutunya, akan tetapi tidak semua sekolah islam seperti itu.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

One response

  1. Reblogged this on BACA !.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers

%d bloggers like this: