LABORATORIUM SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN


LABORATORIUM SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Belajar mengajar atau boleh dikatakan proses pembelajaran adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif. Belajar mengajar adalah suatu proses yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan. Tujuan adalah sebagai pedoman kearah mana akan dibawa proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar akan berhasil bila hasilnya mampu membawa perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai-nilai dalam diri anak didik. Maka dalam buku lain dikatakan bahwa “ bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat mengajar adalah proses “pengaturan” yang dilakukan oleh guru”.

Pada dasarnya belajar merupakan suatu proses yang berakhir pada perubahan. Belajar tidak pernah memandang siapa pengajarnya, dimana tempatnya dan apa yang diajarkan. Tetapi dalam hal ini lebih menekankan pada hasil dari pembelajaran tersebut. Perubahan apa yang terjadi setelah melakukan pembelajaran. Seringkali kita mendengar kata “Belajar” bahkan tidak jarang pula menyebutkannya, tetapi kita belum mengetahui secara detail makna apa yang sebenarnya terkandung dalam belajar itu.

Menurut Hudojo “belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Pengetahuan ketrampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terbentuk, di modifikasi dan berkembang di sebabkan belajar.” Karena itu seseorang dikatakan belajar bila dapat di asumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Menurut Sadiman dkk “belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat.” Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersikap pengetahuan (kognitif) dan ketrampilan (psikomotorik) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif). Menurut Winkel belajar didefinisikan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, ketrampilan dan nilai-nilai sikap yang bersifat relatif konstan dan berbekas. Jadi titik tekan belajar disini adalah perubahan, baik kognitif, afektif maupun psikomotorik.

Kegiatan belajar biasanya dapat diwujudkan, jika ada kegiatan mengajar. Maka muncullah statement kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar dan mengajar dapat berhasil dengan baik apabila ditunjang dengan faktor-faktor pembelajaran. Salah satu faktor tersebut adalah sumber belajar. Sumber belajar mutlak diperlukan untuk mempermudah akses pembelajar dalam menerima dan mencari materi pelajaran.

Salah satu sumber belajar yang mempunyai peranan penting adalah laboratorium. Tanpa laboratorium, maka pembelajar akan sulit memahami pelajaran, terutama materi yang bersifat aplikasi. Laboratorium biasanya ada dalam pembelajaran sains, atau bahasa. Namun, jarang laboratorium dalam pelajaran selain keduanya itu. Padahal secara filosofis, laboratorium itu diperlukan oleh semua pelajaran, karena merupakan sumber belajar. Maka mestinya setiap pelajaran yang ideal harus ada laboratoriumnya, karena setiap pelajaran tentu membutuhkan aplikasi.

B.     Hakikat Sumber Belajar Mengajar

Setiap kegiatan belajar mengajar yang terjadi tentu merupakan interaksi antara guru atau orang yang membelajarkan dan peserta didik atau orang yang belajar serta berbagai faktor-faktor pembelajaran. Tanpa adanya interaksi ketiganya tersebut maka proses belajar mengajar tidak akan berhasil dengan baik dan memperoleh hasil yang memuaskan. Salah satu elemen atau faktor pembelajaran yaitu sumber belajar. Sumber belajar adalah bahan-bahan apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk membantu guru maupun siswa dalam upaya mencapai tujuan. Dengan kata lain, sumber belajar adalah segala sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran, yang dapat berupa buku teks, media cetak, media pembelajaran elektronik, nara sumber, lingkungan alam sekitar, dan sebagainya.

Sumber belajar itu merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. Sumber pelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran bisa didapatkan. Sumber belajar dipilih berdasarkan pada kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi dasar. Sumber-sumber belajar dalam satu silabus sebaiknya bervariasi agar memberikan pengalaman yang luas kepada siswa.

Keaktifan belajar tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan sumber belajar yang digunakan. Setiap bentuk bahan belajar menuntut digunakannya sumber belajar tertentu yang cocok untuk menunjang keefektifan belajar. Sumber belajar ini termasuk ke dalam lingkungan belajar, yang dapat meningkatkan kadar keaktifan dalam proses belajar.

Sumber belajar itu dapat berfungsi teoritis dan praktis. Secara teoritis sumber belajar dapat dimanfaatkan untuk:

  1. Perencanaan, sehingga dapat diperoleh bahan sajian yang berdaya guna dan tepat guna yang dapat dipakai sebagai sumber belajar;
  2. Penelitian, dengan maksud untuk menguji pengetahuan yang berhubungan dengan sumber belajar siswa kegiatan belajar mengajar yang kegiatannya meliputi juga pembahasan sumber pustaka, pemilihan informasi yang dapat diterapkan.

Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat  membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru. Dengan demikian, sumber belajar diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.

Secara praktis sumber belajar dapat dimanfaatkan untuk:

  1. Kegiatan pengadaan (produktif)
  2. Pelayanan dan pemanfaatan.

Jadi yang dimaksud dengan sumber belajar adalah segala sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran yang sifatnya menunjang keaktifan kegiatan pembelajaran. Sumber belajar ini bersifat sekunder dan tidak harus ada dalam sebuah proses pembelajaran. Fungsi sebenarnya dari sumber belajar adalah memberikan makna pada proses pembelajaran yang dilakukan. Karena apabila pembelajaran dilakukan tanpa makna dan arti, maka yang terjadi adalah peserta didik hanya bisa memahami tanpa adanya kesadaran untuk mengaplikasikannya.

C.     Jenis dan Klasifikasi Sumber Belajar Mengajar

Sumber belajar yang dipakai dalam proses belajar mengajar mempunyai banyak ragam dan jenis. Jenis-jenis sumber belajar tersebut diantaranya:

  1. Manusia
  2. Bahan pengajaran
  3. Situasi belajar (lingkungan)
  4. Alat dan perlengkapan belajar
  5. Aktifitas (teknik)
  6. Adakalanya ditambahkan dengan sumber lain, yaitu: pesan.

Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali terdapat di mana pun seperti di sekolah, pusat kota, pedesaan, lingkungan, toko dan sebagainya. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tersebut tergantung pada kreatifitas guru, waktu, biaya serta kebijakan-kebijakan lainnya. Karena sumber belajar itu menjadi salah satu komponen sistem pengajaran, maka ia harus bekerja sama, saling berhubungan, dan saling ketergantungan dengan komponen-komponen pengajaran lainnya, bahkan ia tidak bisa berjalan/ada secara terpisah/sendiri tanpa berhubungan dengan komponen lainnya.

Sedangkan klasifikasi sumber belajar menurut Sumiati dan Asra, diantaranya:

  1. Pesan (message), yaitu informasi atau materi pembelajaran berupa ide, fakta, atau data yang akan disampaikan oleh guru atau yang dipelajari oleh siswa. Bentuk pesan dapat pula berupa gerak tubuh, yang terdiri dari:
    1. Pesan fasial, yaitu pesan dengan menggunakan wajah untuk menyampaikan suatu arti tertentu, antara lain rasa bahagia, terkejut, takut, marah, sedih, minat, kagum, dan tekad.
    2. Pesan gestural, yaitu pesan dengan menggunakan gerakan sebagian anggota tubuh untuk mengkomunikasikan berbagai arti seperti jari, tangan, bahu dan sebagainya.
    3. Pesan postural tubuh, yaitu pesan dengan menggunakan seluruh tubuh, seperti berjalan, duduk dan sebagainya.
  2. Manusia (people), yaitu orang yang secara langsung menyampaikan pesan kepada orang lain, biasanya tanpa menggunakan alat perantara
  3. Teknik (technic), yaitu cara, langkah-langkah, atau aktifitas untuk menyampaikan pesan belajar.
  4. Bahan (materials), yaitu bahan yang membawa pesan belajar untuk disajikan, seperti buku atau modul yang berisikan materi pembelajaran.
  5. Alat/perlengkapan (tool/equipment), atau yang biasa disebut dengan perangkat keras (hardware) untuk menyajikan sumber belajar dalam bentuk perangkat lunak (software).
  6. Lingkungan (setting), yaitu situasi, ruangan atau tempat disampaikannya pesan belajar. Baik lingkungan fisik; ruang kelas, perpustakaan, ruang laboratorium, halaman sekolah dan sebagainya, juga lingkungan non fisik; misalnya suasana belajar itu sendiri, tenang, ramai, lelah dan sebagainya.

Demikian klasifikasi sumber belajar yang penulis ambil dari berbagai referensi yang ada. Penulis memilih klasifikasi yang dilakukan oleh Sumiati dan Asra, karena klasifikasi tersebut merupakan klasifikasi yang lengkap dan komprehensif.

D.      Laboratorium Berperan Sebagai Pusat Sumber Belajar Mengajar

Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya, misalnya laboratorium fisika, laboratorium kimia, laboratorium biokimia, laboratorium komputer, dan laboratorium bahasa.

Kata laboratorium merupakan bentuk serapan dari bahasa Belanda dengan bentuk asalnya laboratorium. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia  laboratorium diartikan sebagai tempat mengadakan percobaan (penyelidikan dan sebagainya). Menurut Soejitno laboratorium dapat diartikan dalam bermacam- macam segi, yaitu:

  1. Laboratorium dapat merupakan wadah, yaitu tempat, gedung, ruang dengan segala macam peralatan yang diperlukan untuk kegiatan ilmiah. Dalam hal ini laboratorium dilihat sebagai perangkat keras (hard ware)
  2. Laboratorium dapat merupakan sarana media dimana dilakukan kegiatan belajar mengajar. Dalam pengertian ini laboratorium dilihat sebagai perangkat lunaknya (soft ware)
  3. Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat kegiatan ilmiah untuk menemukan kebenaran ilmiah dan penerapannya.
  4. Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat inovasi. Dengan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sebuah laboratorium diadakanlah kegiatan ilmiah, eksperimentasi sehingga terdapat penemuan-penemuan baru, cara-cara kerja, dan sebagainya.
  5. Dilihat dari segi “clientele” maka laboratorium merupakan tempat dimana dosen, mahasiswa, guru, siswa, dan orang lain melaksanakan kegiatan kerja ilmiah dalam rangka kegiatan belajar mengajar.
  6. Dilihat dari segi kerjanya laboratorium merupakan tempat dimana dilakukan kegiatan kerja untuk menghasilkan sesuatu. Dalam hal demikian ini dalam bidang teknik laboratorium, di sini dapat diartikan sebagai bengkel kerja (workshop).
  7. Dilihat dari segi hasil yang diperoleh maka laboratorium dengan segala sarana dan prasarana yang dimiliki dapat merupakan dan berfungsi sebagai Pusat Sumber Belajar (PSB).

Menurut Soejitno secara garis besar fungsi laboratorium adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan kelengkapan bagi pelajaran teori yang telah diterima sehingga antara teori dan praktik bukan merupakan dua hal yang terpisah. Keduanya saling kaji-mengkaji dan saling mencari dasar.
  2. Memberikan keterampilan kerja ilmiah bagi mahasiswa/ siswa
  3. Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakikat kebenaran ilmiah dari sesuatu obyek dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial
  4. Menambah keterampilan dalam menggunakan alat dan media yang tersedia untuk mencari dan menemukan kebenaran
  5. Memupuk rasa ingin tahu mahasiswa/siswa sebagai modal sikap ilmiah seorang calon ilmuwan
  6. Memupuk dan membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan yang diperoleh, penemuan yang didapat dalam proses kegiatan kerja laboratorium.

Dengan memanfaatkan laboratorium sesuai dengan fungsi dan perannya, maka laboratorium akan dapat berperan sebagai sumber belajar. Belajar tanpa kehadiran laboratorium ibarat sayur asam tanpa garam, apabila pembelajaran tersebut memerlukan praktikum. Namun, apabila pembelajaran tersebut tidak memerlukan praktikum, maka keberadaan laboratorium tidak begitu mempunyai pengaruh yang signifikan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: