KAJIAN ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI DAN HEURISTIKA ILMU PSIKOLOGI


KAJIAN ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI DAN HEURISTIKA ILMU PSIKOLOGI

(Sebuah Kajian Filsafat Ilmu)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Setiap ilmu berasal dan berawal dari filsafat, karena filsafat merupakan induk dari segala ilmu. Baik itu berupa ilmu eksakta, ilmu sosial, ilmu bahasa, ilmu agama dan lain sebagainya. Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Plato menyebut Socrates sebagai philosophos (filosof) dalam pengertian pencinta kebijaksanaan.

Kata falsafah merupakan arabisasi yang berarti pencarian yang dilakukan oleh para filosof. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Manusia filosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal sebagaimana ia juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual.

Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoretis dan filsafat praktis. Filsafat teoretis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan, dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan metafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik. Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses bukan sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak. Dengan demikian filsafat akan terus berubah hingga satu titik tertentu.

Filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat kita bisa menjumpai pandangan-pandangan tentang apa saja (kompleksitas, mendiskusikan dan menguji kesahihan dan akuntabilitas pemikiran serta gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan intelektual. Menurut kamus Webster New World Dictionary, kata science berasal dari kata latin, scire yang artinya mengetahui. Secara bahasa science berarti “keadaan atau fakta mengetahui dan sering diambil dalam arti pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan melalui intuisi atau kepercayaan. Namun kata ini mengalami perkembangan dan perubahan makna sehingga berarti pengetahuan yang sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menetukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji.

Sedangkan dalam bahasa Arab, ilmu (ilm) berasal dari kata alima yang artinya mengetahui. Jadi ilmu secara harfiah tidak terlalu berbeda dengan science yang berasal dari kata scire. Namun ilmu memiliki ruang lingkup yang berbeda dengan science (sains). Sains hanya dibatasi pada bidang-bidang empirisme–positivisme sedangkan ilmu melampuinya dengan nonempirisme seperti matematika dan metafisika.

Berbicara mengenai ilmu (sains) maka tidak akan terlepas dari filsafat. Tugas filsafat pengetahuan adalah menunjukkan bagaimana “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”. Will Duran dalam bukunya The story of Philosophy mengibaratkan bahwa filsafat seperti pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri inilah sebagai pengetahuan yang di antaranya ilmu. Filsafat yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Semua ilmu baik ilmu alam maupun ilmu sosial bertolak dari pengembangannya sebagai filsafat. Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural philosophy) dan nama asal ekonomi adalah filsafat moral (moral philosophy). Issac Newton (1642-1627) menulis hukum-hukum fisika sebagai Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) dan Adam Smith (1723-1790) Bapak Ilmu Ekonomi menulis buku The Wealth Of Nation (1776) dalam fungsinya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow. Agus Comte dalam Scientific Metaphysic, Philosophy, Religion and Science, 1963 membagi tiga tingkat perkembangan ilmu pengetahuan yaitu: religius, metafisic dan positif. Dalam tahap awal asas religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran religi. Tahap berikutnya orang mulai berspekulasi tentang metafisika dan keberadaan wujud yang menjadi obyek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan di atas dasar postulat metafisik. Tahap terakhir adalah tahap pengetahuan ilmiah (ilmu) di mana asas-asas yang digunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang obyektif. Tahap terakhir Inilah karakteristik sains yang paling mendasar selain matematika.

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on = being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori tentang apa). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga memenuhi asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

Maka dari itu, dalam kesempatan kali ini saya akan mencoba memverivikasi ilmu psikologi yang merupakan bagian dari ilmu yang melihat manusia dari sisi ruhaniahnya.

A.     Ontologi Ilmu Psikologi

Istilah psikologi berasal dari bahasa Inggris psychology. Namun kata ini sebenarnya berasak dari Bahasa Yunani psyche dan logos. Psyche berarti jiwa, sedangkan logos berarti mengetahui atau ilmu. Jadi secara etimologi psikologi adalah ilmu tentang jiwa atau ilmu jiwa. Sedangkan psikologi menurut istilah adalah; menurut Gleitman adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu dan juga memahami bagaimana makhluk tersebut berpikir dan berperasaan. Definisi lainnya menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan merupakan kajian tentang penilaian-penilaian yang dapat melahirkan kesepakatan-kesepakatan universal. Sedangkan menurut penulis, psikologi adalah ilmu yang berusaha mengungkap, mempelajari, membina dan membimbing potensi-potensi yang ada pada manusia, baik bersumber dari hereditas (fitrah) maupun dari hasil reaksi akibat pengaruh lingkungan.

Dari pengertian di atas dapat ditarik pemahaman bahwa psikologi pada hakekatnya adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia dari sisi keruhaniannya. Maka obyek materia ilmu psikologi adalah manusia. Namun dalam hal ini lebih dispesifikasikan menjadi perilaku manusia. Sebenarnya yang dipelajari psikologi adalah aktivitas potensi yang ada dalam diri manusia atau jiwa yang diindikasikan melalui perilaku. Dari perilaku itulah, maka dapat ditentukan sifat-sifat manusia dan pengkategorian manusia dilakukan. Perilaku merupakan ungkapan yang berasal dari sesuatu yang ada dalam diri manusia. Maka perilaku mencerminkan batin manusia, walaupun tidak semua manusia demikian.

Dari pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hakekat ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang hal itu adalah sesuatu yang empiris. Perilaku merupakan gejala yang muncul di permukaan dan bersifat empiris. Maka dari itu, hakekatnya psikologi adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala keruhanian manusia yang tampak melalui perilaku manusia. Dalam ilmu psikologi, manusia dibedakan dari segi personalnya. Jadi manusia dibedakan dengan menggunakan ilmu ini, apa yang membedakannya dengan manusia lainnya.

Karena manusia adalah makhluk yang multidimensional, maka obyek psikologi ini secara umum dibagi menjadi tiga, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga ranah tersebut sebenarnya merupakan pembagian dari aktivitas potensi manusia atau perilaku manusia, yang meliputi, intelegensi dan bakat dalam ranah kognitif, sikap dan prasangka dan lain sebagainya dalam ranah afektif, dan ketrampilan atau keahlian manusia dalam ranah psikomotorik.

Semua obyek kajian ilmu psikologi tersebut adalah merupakan hakekat psikologi yang terangkum dalam perilaku manusia sebagai akibat respon dari kegiatan ruhaniah manusia. Jadi setiap manusia pada dasarnya dapat digunakan sebagai obyek psikologi, baik manusia secara umum maupun manusia khusus atau suprahuman. Karena setiap manusia berperilaku sebagai indikasi bahwa ia menjalani kehidupan. Tidak ada manusia yang tidak melakukan aktivitas sebagai wujud dari tingkah lakunya. Maka dari itu, semua manusia dapat diselidiki. Hanya saja, penyelidikan itu yang biasanya memakan waktu yang cukup lama, apabila penyelidiknya masih pemula dan penyelidikan itu dilakukan hanya dalam waktu tertentu. Dan kalau dilakukan hanya dalam waktu tertentu, maka hasilnya tidak akurat. Kesimpulannya, obyek dalam ilmu psikologi harus diamati secara terus menerus dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Karena obyek yang diamati manusia, maka hal itu dilakukan dengan berbaur dengan obyek.

Dalam perkembangannya terdapat juga obyek psikologi yang berupa binatang, maka dari itu, muncullah psikologi hewan yang obyeknya berupa tingkah laku hewan. Namun kelihatannya para ilmuwan psikologi lebih tertarik dan memilih obyek manusia. Di samping itu, dalam perkembangannya ruang lingkup ilmu psikologi ini berkembang menjadi psikologi umum dan psikologi khusus. Psikologi khusus ini telah berkembang menjadi bercabang-cabang, bahkan psikologi hewan juga merupakan bagian dari psikologi khusus ini.

B.     Epistemologi Ilmu Psikologi

Syarat untuk menjadi sebuah ilmu harus mempunyai epistemologi yang jelas. Salah satu cabang epistemologi adalah metodologi. Ilmu psikologi juga mempunyai metodologi yang jelas untuk menggali ilmu tersebut. Cara untuk memperoleh ilmu psikologi dengan menggunakan metode tertentu. Metode yang paling mudah dipakai untuk memperoleh ilmu psikologi adalah pengamatan langsung atau observasi. Hal itu dikarenakan obyeknya adalah sesuatu yang empiris. Karena sesuatu yang empiris maka sesuatu tersebut dapat diamati. Baik pengamatan langsung perilaku yang dilakukan manusia secara mendalam, maupun mengamati gejala-gejala yang terjadi di sekitar manusia yang sedang diamati tersebut, sebagai respon dari perilaku yang ia lakukan.

Metode observasi merupakan metode ilmiah yang paling mudah diterapkan. Karena psikologi berdiri sebagai ilmu pengetahuan yang tersendiri, maka untuk memperolehnya harus menggunakan metode ilmiah juga. Adapun metode pengamatan langsung atau observasi adalah salah satu bagian dari metode non-eksperimental. Pengamatan dapat dilakukan secara terselubung maupun terencana dan dapat dilakukan di sekitar lingkungan tempat tinggal atau pada kawasan tertentu. Pada intinya yang diamati sesuai dengan obyek yang diinginkan. Metode yang dipakai selain pengamatan secara langsung adalah dengan melalui eksperimental, baik dilakukan di dalam laboratorium maupun di luar laboratorium.

Metode ekseperiment dilakukan dengan cara memperlakukan seseorang yang bersedia menjadi sampel dengan perlakuan khusus, kemudian diambil datanya sebagai hasil penelitian. Biasanya waktunya juga cukup lama. Sedangkan metode non-eksperimental lainnya adalah metode survei, studi kasus dan korelasional.

Semua metode yang penulis sebutkan tadi digunakan untuk mengamati perilaku manusia yang tampak dalam kehidupan sehari-hari maupun indikator dari potensi manusia yang ditunjukkan dengan melakukan sesuatu tertentu. Di samping itu digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang tampak pada sekitar manusia yang diteliti tersebut, sehingga dapat diambil sebuah pernyataan yang menghasilkan kesimpulan.

Karena mempunyai metode dan obyek yang berbeda dengan ilmu pengetahuan lainnya, maka ilmu psikologi merupakan ilmu yang valid dan bisa membuktikan validitasnya. Selain itu,  validitas itu juga terbukti dari hasil dari ilmu psikologi ini juga berbeda dengan ilmu yang lainnya. Ilmu ini dapat menghasilkan pengetahuan agar orang bijak dalam bersikap dan bertingkah laku. Psikologi dapat dikatakan sebagai ilmu yang subyektif, tapi walaupun begitu ia dapat membuktikan keobyektifannya dengan cara menggunakan metode ilmiah untuk mendapatkannya.

Jika dilihat dari obyeknya, maka ilmu psikologi ini berkembang dalam aliran filsafat fenomenologis. Karena yang dipelajari ilmu psikologi adalah sesuatu yang tampak atau gejala yang tampak yang merupakan respon dari kegiatan ruhaniah yang terdapat dalam diri manusia tersebut. Namun, kelemahan dari aliran ini adalah manusia kadang kala tidak dapat dilihat hanya dari segi lahiriyah saja dalam waktu tertentu. Maka pengamatan obyek dalam ilmu psikologi dilakukan secara terus menerus.

C.     Aksiologi Ilmu Psikologi

Ilmu ini dalam ranah ontologinya merupakan ilmu yang bebas nilai. Demikian juga dalam ranah epistemologinya, ilmu ini kadang bebas nilai, kadang terikat nilai. Namun dalam ranah aksiologinya ilmu ini terikat nilai. Hal itu dikarenakan, dalam penerapannya manusia selalu memandang baik dan buruk. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa dalam aksiologi ilmu ini masih terikat nilai.

Setiap ilmu pastilah bermanfaat bagi manusia. Karena fungsi ilmu adalah berguna atau bernilai guna bagi manusia. Tanpa adanya manfaat bagi manusia, maka ilmu tersebut eksistensinya perlu dipertanyakan lagi. Demikian juga ilmu psikologi yang merupakan ilmu yang membahas perilaku dan potensi manusia. Ilmu psikologi ini mempunyai beberapa manfaat atau nilai guna bagi manusia, antara lain:

  1. Bernilai guna untuk mengetahui kejiwaan seseorang baik yang jiwanya sehat atau yang dalam keadaan terganggu/ sakit
  2. Bernilai guna untuk mengenal perilaku setiap orang yang terdapat di masyarakat
  3. Bernilai guna untuk mengetahui tingkat kecerdasan atau intelegensi manusia yang jelas mempunyai perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lainnya
  4. Bernilai guna untuk mengetahui bakat yang dimiliki oleh setiap orang
  5. Bernilai guna untuk mengetahui minat seseorang
  6. Bernilai guna untuk mengetahui daya ketrampilan seseorang
  7. Bernilai guna untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan manusia mulai masa pre-natal hingga adolosense

Maka dari itu, hendaklah manusia berusaha untuk memanfaatkan ilmu sebaik-baiknya demi kesejahteraan dan kebahagiaannya. Janganlah memanfaatkan ilmu dalam hal-hal yang menyimpang atau untuk tindak kejahatan.

D.     Heuristika Ilmu Psikologi

Ilmu merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk memperadab dirinya. Lebih dari seribu tahun, lewat berbagai kurun zaman dan kebudayaan, ketika manusia merenung dalam-dalam tentang apa artinya menjadi seorang manusia, secara lambat laun mereka sampai kepada kesimpulan bahwa mengetahui kebenaran adalah tujuan yang paling utama dari manusia. Perkembangan ilmu dari masa lampau sampai masa sekarang merupakan jawaban dari rasa keinginan manusia untuk mengetahui kebenaran.

Ilmu psikologi dalam perkembangannya memunculkan berbagai aliran yang berpijak pada epistemologi aliran filsafat yang berbeda. Perkembangan ilmu psikologi yang terjadi memunculkan aliran seperti behaviorisme, psiko analisis dan lain sebagainya. Semua aliran-aliran tersebut berusaha mengembangkan ilmu psikologi sesuai dengan aliran yang mereka anut.

Ilmu psikologi juga mengalami perkembangan dalam perjalanannya. Perkembangan itu dikarenakan ilmu psikologi mengadakan kontak hubungan dengan ilmu lain. Hubungan yang dilakukan oleh ilmu psikologi dengan ilmu lain biasanya bersifat timbal balik. Karena kedua ilmu yang mengadakan hubungan tersebut saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga memunculkan sub-sub ilmu psikologi yang sifatnya juga masih dalam tahap perkembangan.. Berbagai cabang dalam disiplin ilmu psikologi antara lain:

  1. psikologi perkembangan
  2. psikologi pendidikan
  3. psikologi agama
  4. psikologi umum
  5. psikologi sosial
  6. psikologi politik, dll

Selain itu, di zaman modern ini banyak ahli-ahli psikologi yang muncul dan mereka rata-rata mengemukakan teori baru dalam bidang ilmu psikologi, sehingga muncullah sub-sub ilmu psikologi yang berkembang dalam berbagai ranah, seperti kepribadian, bakat, sikap, minat dan motivasi juga lain sebagainya. Kemunculan para tokoh itu telah memberikan arti yang cukup besar dalam ilmu psikologi, dan membuat psikologi semakin kokoh sebagai ilmu yang berdiri sendiri.

Di samping itu, Islam juga telah mengadakan islamisasi ilmu pengetahuan. Maka dalam Islam, juga terdapat ilmu psikologi yang berlandaskan al-Qur’an dan hadits, yang sebenarnya cikal bakalnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad.

Terdapat berbagai saran yang penulis kemukakan untuk pengembangan ilmu psikologi, antara lain:

  1. Mengembangkan ilmu psikologi yang sudah mapan dengan melakukan penelitian-penelitian tentang perilaku manusia dengan menggunakan metode penelitian yang sudah ada, atau dengan mengembangkan cabang ilmu psikologi tertentu dengan melakukan penelitian yang mendalam.
  2. Berusaha untuk menggabungkan ilmu psikologi dengan ilmu yang lainnya, misalnya dengan ilmu pendidikan, sehingga menjadi psikologi pendidikan ataupun ilmu yang lainnya. Di samping itu, berusaha untuk menggunakan ilmu psikologi dalam kehidupan sehari-hari dan menerapkannya bersama ilmu-ilmu yang lain.
  3. Berusaha mengembangkan dan merekonstruksi hasil dari penggabungan ilmu psikologi dengan ilmu yang lainnya, sehingga ditemukan kesimpulan-kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, yang sifatnya tidak subyektif.
  4. Berusaha mengembangkan ilmu psikologi lewat induknya, yaitu filsafat karena filsafat mencakup “segalanya”. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut “sebelum” karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut “sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentang batas-batas dari kekhususannya
  5. Mencari landasan tentang teori-teori ilmu psikologi dari al-Qur’an dan hadits kemudian dijelaskan dan dijabarkan sehingga dapat ditemukan statemen baru yaitu psikologi Islami yang berlandaskan al-Qur’an dan al-Hadits.

Demikian saran untuk pengembangan ilmu psikologi dari penulis, apabila terdapat kesalahan saya mohon maaf, karena hanya itu kemampuan penulis.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: