PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA PADA MASA BELANDA


PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA PADA MASA BELANDA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Islam, sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad lima belas abad yang lalu, berlaku pada semua ruang dan waktu, semua tempat dan zaman, dan semua lapisan masyarakat. Hal ini sebagai refleksi dari sifat pemberlakuannya yaitu permanen, universal dan internasional sehingga harus didakwakkan dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apapun.

Oleh karena itu, Islam bersentuhan dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Bahkan Muhammad Abid al-Jabiri menyebutnya sebagai agama kehidupan; Agama yang memperhatikan perubahan dan perkembangan. Agama yang dinamis terhadap lingkungan baik lingkungan geografis, lingkungan sosial, maupun lingkungan budaya  sehingga Islam memberikan keringanan dengan cara tayamum sebagai pengganti wudlu bila tidak ditemukan air maupun bagi orang yang sakit tertentu dan tidak boleh terkena air. Selanjutnya, Islam memberikan keringanan berbuka bagi orang yang berpuasa dalam keadaan sakit maupun bepergian jauh.

Sebagai agama kehidupan, Islam memberikan inspirasi dan motivasi pada umat manusia untuk mencapai kesempurnaan baik pemantapan iman, peningkatan ibadah, peningkatan amal, peningkatan kerja, keunggulan prestasi, perbaikan akhlak, dan penguatan ilmu pengetahuan. Cara ini penting ditempuh untuk menjadikan manusia yang memiliki derajat unggul baik secara teologis, intelektual, sosial maupun kultural.

Pada bagian lain, Jacques Waardenburg menilai Islam sebagai sebuah agama tradisi dan sebuah frame work kultural religius. Sebutan agama tradisi dapat dipahami bahwa Islam menerapkan ajaran-ajaran yang harus diaplikasikan umatnya dalam kehidupan sehari-hari secara rutin dan berkesinambungan baik berskala harian seperti shalat lima waktu, berskala mingguan seperti shalat jum’at, maupun berskala tahunan seperti ibadah puasa ramadhan. Sedangkan sebutan frame work kultural religius dapat dipahami bahwa ajaran Islam seringkali mengaitkan kegiatan ekonomi, kegiatan sosial maupun kegiatan intelektual dengan nilai ibadah.

Karena Islam juga merupakan agama sosial, maka Islam juga memberikan konsep pendidikan yang dinamakan pendidikan Islam. Perkembangan pendidikan Islam sesungguhnya ketika masa kejayaan Islam sangat signifikan. Peranan pendidikan dalam membina Islam sangat besar, dalam usaha menciptakan kekuatan-kekuatan yang mendorong ke arah pencapaian tujuan yang dikehendaki. Kegiatan pendidikan Islam di Indonesia lahir dan tumbuh serta berkembang dengan masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Kegiatan ini merupakan pengetahuan dan pengalaman yang penting bagi kelangsungan perkembangan Islam dan umat Islam, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Pendidikan Islam itu bahkan menjadi tolok ukur, bagaimana Islam dan umatnya telah memainkan peranannya dalam berbagai aspek sosial, politik maupun budaya. Namun perkembangan pendidikan Islam di Indonesia sempat jatuh bangun, maksudnya sering terganggu dengan adanya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Terlebih lagi pendidikan Islam pada masa Belanda, banyak mengalami hambatan. Hal itu karena pemerintah kolonial Belanda banyak mengeluarkan kebijakan yang menghambat pendidikan Islam,

B.     Zaman Belanda dan Pengaruh Aufklarung

Dengan berakhirnya kekuasaan Portugis, maka timbullah kekuasaan baru, yakni kekuasaan Belanda. Orang-orang Belanda yang mula-mula datang ke Indonesia adalah para pedagang yang tergabung dalam “Vereenigde Oest Indische Compagnie” atau disingkat VOC, yang beragama Kristen Protestan. Kebijakan pendidikan VOC adalah melanjutkan kebijakan yang telah dimulai oleh orang-orang Portugis, tetapi terutama berdasarkan agama Kristen Protestan. Untuk keperluan inilah didirikan sekolah-sekolah, terutama daerah-daerah yang telah di-Nasranikan oleh bangsa Portugis dan Spanyol, seperti di Ambon, Ternate, dan lain-lain.

Dalam abad ke-17 dan 18 pendidikan kejuruan tidak diselenggarakan. Pendidikan kejuruan baru muncul dalam abad ke-19. Pendidikan bagi pribumi yang beragama Islam tidak terbengkalai, karena kelanjutannya sistem-sistem langgar, pesantren dan madrasah berjalan terus. Juga persekolahan/pendidikan bagi pegawai-pegawai VOC dan pribumi beragama/pemeluk agama Kristen telah diatur oleh pemerintahan VOC.

Kemunduran perusahaan VOC pada akhir abad 18 menyebabkan VOC tidak sanggup dan tidak dapat berfungsi lagi sebagai pengatur pemerintahan dan masyarakat jajahannya sehingga pemerintahan diserahkan kepada pemerintahan Hindia-Belanda. Belanda datang ke Indonesia pada awal abad ke-17 M. dalam bentuk VOC. Pada pergantian abad 18 M. VOC dibubarkan oleh pemerintah Belanda karena mengalami kebangkrutan. Dengan berpindahnya dominasi politik dan ekonomi ke tangan penjajah yang diikuti kolaborasi kalangan istana dengan pihak penjajah, maka para ulama mengundurkan diri dan menyingkir dari kehidupan istana berpindah ke daerah pedalaman. Lembaga-lembaga pendidikan tumbuh dengan pesat di sana. Hal itu disebabkan tradisi mengembara yang dilakukan oleh santri. Dan setelah selesai studinya, mereka menyelenggarakan pendidikan agama di tempat asal mereka. Namun, ajaran agama masih sangat erat dengan ajaran sufisme yang sudah melembaga dalam bentuk tarekat.

Pada abad ke-17 telah muncul suatu aliran dari Eropa yang kita kenal dengan nama “Aufklarung” dan pada abad ke-18 aliran ini mempengaruhi seluruh Eropa. Dengan adanya “Aufklarung” ini memberikan kecerahan kepada pendidikan Indonesia. “Aufklarung” yang berarti fajar atau terang menghendaki yang pertama adalah “Aufklarung” menghendaki agar manusia dibebaskan dari absolutisme Negara dan mengharapkan agar kebebasan, terutama kebebasan ekonomi, dapat menghasilkan kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi seluruh ummat manusia (Liberalisme).

Yang kedua adalah Pendidikan hendaknya dapat membebaskan manusia, pengajaran harus lepas dari gereja. Hendaklah negaralah yang harus menyelenggarakannya. Yang ketiga adalah mengemukakan juga pentingnya penerangan (pengajaran) bagi rakyat umum. Dengan adanya “Aufklarung” tersebut, pendidikan di Indonesia semakin maju, terutama pada masa pemerintahan Deandels. Dalam hal ini pendidikan yang lebih berkembang adalah pendidikan umum khususnya bidang kesehatan, pendidikan Islam kurang berkembang meskipun tetap berjalan

C.     Perkembangan Pendidikan Islam Pada Masa Belanda

Pada pertengahan abad 19 M. perkembangan lembaga pendidikan mencapai tingkat tinggi. Hal ini karena meningkatnya jumlah jama’ah haji ke Makkah yang mengakibatkan banyak orang yang ahli dalam bidang agama yang membuka lembaga pendidikan. Bahkan tahun 1882 M. menurut catatan terdapat 300 pesantren di Jawa dan Madura. Hal itu ditambah lagi banyaknya orang-orang Hadhramaut yang bermigrasi dan mencari penghidupan yang layak di Indonesia yang juga membuka wawasan baru.

Wawasan baru tersebut mengakibatkan sistem madrasah yang berkembang di Timur Tengah berkembang pula di Indonesia, baik isi dan materinya sama. Pada akhir abad 19 M. Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk tenaga kerja untuk kepentingan perusahaan Belanda. Pada awal abad 20 M. Belanda mulai memberikan pendidikan kepada masyarakat yang menggunakan sistem pendidikan Liberal. Namun, hanya diperuntukkan bagi bangsawan dan pegawai pemerintah. Sehingga lembaga pendidikan agama tetap menjadi lembaga pendidikan yang bisa ditempati masyarakat pribumi..

  1.     Pendidikan Islam di Sumatera

a.    Pendidikan Islam di Aceh

Materi pendidikan Islam di Aceh pada masa penjajahan Belanda adalah sebagai berikut:

1) Belajar huruf Hijaiyah (alfabeth Arab)

2) Juz ‘Amma (disebut Al-Qur’an kecil).

3)  Mengaji Al-Qur’an (disebut Al-Qur’an besar).

Setelah materi di atas dilanjutkan dengan kitab-kitab berbahasa Melayu, seperti: Bidayah, Masail Al Muhadi, Fur’ Masail, dan lain-lain. Setelah selesai masa pembacaan kitab-kitab Melayu dilanjutkan mempelajari kitab-kitab berbahasa Arab, seperti: Dammun, Al-‘Awamil, Al Jurumiyah, Tafsir Jalalain.

Setelah perang Aceh melawan Belanda berakhir, pendidikan Islam di Aceh mulai berkembang, ditandai dengan berdirinya berbagai pondok pesantren. Di pondok pesantren banyak dipelajari kitab-kitab seperti: Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan lainnya. Berikutnya mulai lahir madrasah, salah satunya madrasah Sa’adah Abadiyah di Blang Paseh Sigli yang didirikan pada tahun 1930 oleh Tgk. Daud Berueh.

Madrasah itu memiliki tujuh kelas dengan lama masa belajar empat tahun. Materi yang diajarkan: bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama serta sedikit Ilmu Bumi Mesir dan Tarikh Islam. Lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren sebagai basis perlawanan penjajahan Belanda.

b.    Pendidikan Islam di Minangkabau

Pendidikan Islam di Minangkabau mengalami perkembangan yang pesat karena banyaknya buku-buku pelajaran agama Islam yang masuk ke sana. Adapun susunan materi pendidikan Islam di Minangkabau antara lain:

1)    Belajar huruf Hijaiyah seperti halnya di Aceh.

2).   Pengajian kitab yang terbagi atas tiga tingkatan, yaitu:

-   Nahwu, Saraf, dan Fiqih;

-   Tauhid;

-   Tafsir;

3).   Pengajian ilmu Tasawuf, Mantiq, dan Balaghah.

Sistem pendidikan yang digunakan masih seperti masa-masa awal, yaitu halaqah dan sistem majelis taklim. Di Minangkabau yang menjadi pusat pendidikan awal permulaan Islam adalah Surau. Pada masa penjajahan Belanda mulai dibuat ruang-ruang berbentuk kelas, dinamakan madrasah.

c.    Pendidikan Islam di Jambi

Pesantren Nurul Iman didirikan pada tahun1914 oleh H. Abdul Samad seorang ulama besar di jambi. Pesantren ini juga berawal dari system halaqah kemudian menggunakan kelas-kelas seperti madrasah modern. Pelajarannya juga begitu, dari sekedar ilmu-ilmu agama kemudian memasukkan ilmu umum yang dibimbing dua guru khusus.

   2.    Pendidikan Islam di Pulau Jawa

a.    Pendidikan Islam di Jawa Timur

Pendidikan Islam yang cukup terkenal di Jawa Timur pada masa penjajahan Belanda adalah Tebuireng, yaitu pesantren yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1904 M. Pada mulanya hanya diajarkan agama dan bahasa Arab, kemudian setelah berdiri madrasah salafiyah memasukkan ilmu-ilmu umum, seperti ilmu bintang, ilmu bumi dan lain-lain.

Pondok Pesantren Tebuireng terdiri atas empat bagian, yaitu: Madrasah Ibtidaiyah (lamanya 6 tahun), Madrasah Tsanawiyah (3 tahun), Mualimin (5 tahun), Pesantren dengan sistem halaqah.

Pendidikan Islam di Jawa Timur pada masa penjajahan Belanada tidak terlepas dari pengaruh organisasi Nahdhatul Ulama yang didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H (3 Januari 1926) di Surabaya.

b.    Pendidikan Islam di Jawa Tengah

Lembaga Pendidikan Islam di Jawa Tengah yang paling berpengaruh berpusat di sekitar Kudus. Ratusan pondok pesantren dan madrasah tersebar di seluruh pelosok Kudus, antara lain: Aliyatus-Saniyah Muawanatul Muslimin, Kudsiyah, Tsywiqut Tullab Balai Tengahan School, Mahidud Diniyah Al-Islamiyah Al-Jawiyah, dan lain-lain.

c.    Pendidikan Islam di Yogyakarta

Pendidikan Islam di Yogyakarta pada masa penjajahan Belanda banyak didominasi oleh organisasi Muhammadiyah. Diantaranya yang terkenal adalah Kweekschool Muhammadiyah, Mualimat Muhammadiyah, Zuama, Tabligh School, dan H.I.K. Muhammadiyah. Model pendidikannya dengan menggabungkan antara pelajaran umum dengan agama. Selain Muhammadiyah juga ada pondok pesantren Krapyak.

d.    Pendidikan Islam di Jawa Barat

Madrasah pertama adalah yang didirikan di Majalengka pada tahun 1917 oleh Perserikatan Umat Islam. Pondok Pesantren yang cukup berpengaruh adalah PP Gunung Puyuh di Sukabumi. Selain itu juga ada pondok pesantren Persatuan Islam (Persis), pondok ini terdiri dari dua bagian, yaitu Pesantren Besar (untuk para santri yang telah cukup umur untuk mendapatkan pendidikan agama) dan Pesantren Kecil (untuk anak-anak kecil yang pelaksanaannya di sore hari).

5.    Pendidikan Islam di Batavia

Madrasah tertua di Batavia adalah Jamiat Kheir yang didirikan tahun 1905. Tingkatan sekolahnya antara lain: tingkat Tahdiriyah (1 tahun), tingkat Ibtidaiyah (6 tahun), tingkat Tsanawiyah (3 tahun), Bagi lulusan terbaik Tsanawiyah bisa melanjutkan ke Mesir atau Mekkah. Madrasah lain yang juga punya andil besar bagi pendidikan Islam adalah madrasah Al-Irsyad yang didirikan pada tahun 1913.

   3.    Pendidikan Islam di Sulawesi

Tidak banyak perbedaan tentang pendidikan Islam di Sulawesi dengan di Jawa dan Sumatera. Hal ini disebabkan karena sumber yang sama, yaitu Mekkah. Kebanyakan madrasah di Sulawesi pada mulanya dipimpin oleh guru-gur agama dari Minangkabau dan Yogyakarta. Madrasah yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan adalah madrasah Amiriyah Islamiyah di Bone. Mata pelajaran yang diberikan di madrasah ini meliputi pelajaran agama dan pelajaran umum.

Madrasah Amiriyah Islamiyah terdiri atas tiga bagian, yaitu:

a.       Ibtidaiyah, lama belajarnya tiga tahun, diajrakan ilmu agama 50%;

b.       Tsanawiyah, lama belajarnya tiga tahun, diajarkan ilmu agama 60%;

c.       Muallimin, lama belajarnya dua tahun, diajarkan ilmu agama 80%.

Tokoh yang cukup berpengaruh dalam mengembangkan pendidikan Islam di Sulawesi, antara lainadalah Syekh H. M. As’ad bin H. A. Rasyad Bugis. Madrasah yang didirikannya bernama Wajo Tarbiyah Islamiyah yang dikemudian hari berubah menjadi Madrasah As’adiyah.

   3.    Pendidikan Islam di Kalimantan

Madrasah yang tertua yang memiliki andil besar dalam perjalanan sejarah pendidikan Islam di Kalimantan pada masa penjajahan Belanda adalah madrasah Najah Wal Falah di Sei Bakau Besar Mempawah. Didirikan pada tahun 1918 M., setelah itu berdiri madrasah Perguruan Islam Assulthaniyah di Sambas pada tahun 1922 M.

Di Kalimantan pada masa penjajahan Belanda tidak banyak madrasah dan pesantren yang berdiri, namun andil dan maknanya cukup berarti dalam proses pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam di tanah air Indonesia ini di bagian timur.

D.     Kebijakan-Kebijakan Pemerintah Belanda dalam Pendidikan Islam

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa kedatangan penjajah Belanda di bumi Nusantara untuk mengemban fungsi ganda, yaitu melakukan penjajahan dan salibisasi. Oleh karena itu, semboyan yang terkenal dari penjajah Belanda adalah Glory (kemenangan atau kekuasaan), Gold (emas atau kekayaan bangsa Indonesia), dan Gospel (upaya sabilisasi terhadap umat Islam di Indonesia).

Dengan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, penjajah Belanda cenderung merugikan umat Islam. Penjajah Belanda berusaha menghambat perkembangan pendidikan Islam, dengan terang-terangan membiayai misionaris Kristen.

Banyak sikap mereka yang merugikan lajunya perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, misalnya:

  1. Setiap sekolah atau madrasah/pesantren harus memliki ijin dari Bupati atau pejabat pemerintah Belanda.
  2. Harus ada penjelasan dari sifat pendidikan yang sedang dijalankan secara terperinci.
  3. Para guru harus membuat daftar murid dalam bentuk tertentu dan mengirimkannya secara periodic kepada daerah yang bersangkutan.

Pada dasarnya banyak kerugian yang diderita oleh umat Islam dalam persoalan pendidikan pada masa penjajahan Belanda. Bahkan, tidak sedikit sekolah yang terpaksa ditutup atau dipindahkah karena ulah penjajah Belanda terhadap bangsa Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda ini, proses pendidikan Islam mengalami banyak tantangan dan hambatan, akan tetapi para tokoh Islam tetap giat dan gigih dalam memperjuangkannya.

Pada akhir abad 19 M. Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk tenaga kerja untuk kepentingan perusahaan Belanda. Pada awal abad 20 M. Belanda mulai memberikan pendidikan kepada masyarakat yang menggunakan sistem pendidikan Liberal, sebagaiamana dijelaskan di atas, sebagai tandingan dari perkembangan pesantren. Namun, hanya diperuntukkan bagi bangsawan dan pegawai pemerintah. Sehingga lembaga pendidikan agama tetap menjadi lembaga pendidikan yang bisa ditempati masyarakat pribumi.

Hal ini menjadi momentum awal bagi modernisasi pesantren. Apalagi pada awal abad ke- 20 M. para pembaharu Muslim, dalam rangka menjawab menjawab tantangan kolonialisme dan ekspansi Kristen, banyak mendirikan madrasah-madrasah modern yang secara terbatas mengadopsi sistem pendidikan Belanda. Karena itu pesantren mengadopsi tiga pembaharuan dalam sistem pendidikannya:

-          Dibukanya pesantren untuk santri putri yang ditandai oleh pesantren Denanyar Jombang

-          Diadopsinya sistem madrasah untuk santri tingkat lanjut, namun sistem ini tidak diadopsi untuk mengganti sistem tradisional yang telah ada, namun untuk menambah.

-          Diadopsinya beberapa mata pelajaran umum ke kurikulum pesantren. Pesantren Tebuireng Jombang dan Singasari Malang misalnya, mengajarkan bahasa Indonesia, bahasa Belanda, berhitung, ilmu bumi, dan lain-lain.

Pada tahun 1882 M. pemerintah Belanda mendirikan Priesterraden, lembaga yang mengawasi pendidikan dan kehidupan agama penduduk pribumi. Dari lembaga ini, pemerintah pada tahun 1905 mengeluarkan Goeroe Ordonantie yang mengatur siapa saja yang mengajar Islam harus minta izin pemerintah. Pada tahun 1925 M. dikeluarkan Goeroe Ordonantie baru, yaitu mengatur bahwa guru-guru agama cukup memberikan informasi tertulis kepada pemerintah. Namun pada masa ini tidak semua Kiai boleh memberikan pengajaran mengaji. Hal itu lebih dikarenakan adanya gerakan organisasi pendiidkan yang tumbuh pesat seperti Muhammadiyah, PSI, dan lain sebagainya. Pada tahun 1932 M. pemerintah mengeluarkan Wilde School Ordonantie yang mengawasi madrasah dan sekolah yang tidak memiliki izin dan mengajarkan materi yang dilarang oleh pemerintah dan lembaga yang seperti ini harus ditutup. Peraturan keluar setelah munculnya gerakan nasionalisme-islamisme yang dianggap akan merongrong kekuasaan Belanda.

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda telah banyak merugikan pendidikan Islam yang berkembang pada masa itu. Namun, para cendekiawan-cendekiawan muslim tidak kenal menyerah dan dengan gigih terus memperjuangkan pendidikan Islam, walaupun harus melalui berbagai hambatan, halangan, dan rintangan.

Referensi

Dhofier, Zamakhsari, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta: LP3ES, 1983.

Djumhur, I., Danasuparta, Sejarah Pendidikan, Bandung: CV Ilmu, 1959.

Gunawan, Ary H., Kebijakan-kebijakan Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Bina Aksara, 1986.

Al-Jabiri, Muhamed Abid, Problem Peradaban Penelusuran Jejak Kebudayaan Arab, Islam dan Timur, Terj. Sunarwoto Dema dan Masiri, Yogyakarta: Belukar, 2004.

Laila, Siti Noer Farida, Diktat Sejarah Pendidikan Islam, Tulungagung: Tidak Diterbitkan, 2002.

Mustafa, Aly, Abdullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (SPII), Bandung: Pustaka Setia, 1998.

Pijper, G.F., Beberapa Studi Tentang Islam di Indonesia, terj. Tudjimah dan Yessi Augusdin, Jakarta: UI Press, 1984.

Ricklefs, M.C., Religion, Politics and Social Dinamics In Java: Historical and Contemporary Rhymes, Leiden: Leiden University, 2008.

Wardenburg, Jacques, “Studi Islam dan Sejarah Agama-agama: Sebuah Evaluasi”, dalam Azim Nanji (ed.), Peta Studi Islam; Orientalisme dan Arah Baru Kajian Islam di Barat, terj. Muamiroh, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003.

Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara dan Departemen Agama, 1992.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: