PANDANGAN UMUM ORIENTALIS TERHADAP MUHAMMAD, HADITS, ISNAD DAN MATAN HADITS


PANDANGAN UMUM ORIENTALIS TERHADAP MUHAMMAD, HADITS, ISNAD DAN MATAN HADITS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Kajian orientalisme terhadap Islam tidak hanya terbatas pada satu bidang saja. Akan tetapi terdapat berbagai bidang yang dikaji oleh para orientalis terhadap Islam, salah satunya adalah hadits Nabi Muhammad saw. Untuk berbicara lebih detail mengenai pandangan orientalis terhadap hadits, serta seluk beluknya. Maka penulis akan mengulas terlebih dahulu pandangan umum orientalis mengenai citra Muhammad dan hadits serta perangkat-perangkatnya.

Tidak ada kepastian sejarah siapa orientalis pertama yang mengkaji hadits. Menurut perkiraan Azami, sebagaimana dikutip Yaqub, sarjana Barat yang pertama kali melakukan kajian hadits adalah Ignaz Goldziher, orientalis kelahiran Hongaria, yang menerbitkan buku berjudul Muhammadanische Studien. Namun menurut Wensinck, sebagaimana yang dikutip Darmalaksana, Snouck Hurgounjee adalah orang yang pertama kali mengkaji otentitas hadits, bukan Goldziher. Menurutnya, Snouck pertama kali mengaplikasikan teori tentang hadits dalam kajiannya tentang zakat, kemudian tentang. Menurut penulis, sebenarnya masalah siapa yang pertama itu tidak penting, yang penting adalah mereka sama-sama orientalis yang berusaha mendiskreditkan hadits dan Muhammad. Dan kalau disuruh memilih, penulis lebih cenderung memilih pendapat  Azami, karena Goldziher adalah orang pertama kali mampu meletakkan dasar skeptis terhadap hadits.

Citra Muhammad mengalami pendeskripsian yang berbeda-beda di kalangan para orientalis. Hal ini mereka gunakan sebagai pijakan untuk memahami hadits. Muhammad dipahami dalam dua posisi, yaitu: statusnya sebagai Nabi dan Rasul yang telah membebaskan manusia dari kezhaliman dan sebagai paganis dan penganut Kristen dan Yahudi murtad yang akan menghancurkan ajaran-ajaran Kristen dan Yahudi, intelektual pintar yang memiliki imajinasi yang kuat dan pembohong; tukang sihir yang berpenyakit gila atau ayan.

Bahkan kaum rivalis melukiskan, seperti yang dideskripsikan Herbelot, yang dikutip Said, “Inilah si penipu terkenal Muhammad pencipta dan pendiri suatu bid’ah yang telah diberi nama agama, yang kita sebut dengan Muhammadanisme. Para penafsir al-Qur’an dan doktor hukum Islam telah memberikan penghormatan dan pujian kepada Nabi palsu itu yang tidak pernah diberikan kepada para pengikut Aria, kaum Paulusia atau Paulunis dan kelompok-kelompok Bid’ah lainnya kepada Yesus Kristus.” Dante Alighieri menyatakan bahwa Muhammad adalah pemuka dari jiwa-jiwa terkutuk yang membangkitkan perpecahan dalam agama dan mengembangkan agama palsu.

Berbeda dengan orientalis lain, Boulavilliers melukiskan keunggulan Islam atas Kristen sambil menggambarkan Muhammad sebagai seorang penegak hukum yang bijaksana, penuh pencerahan yang membangun agama rasional untuk menggantikan dogma-dogma yang disangsikan dalam Yahudi dan Kristen. Bahkan Savary, seorang tokoh orientalis, jelas mengakui Muhammad bukan saja sebagai seorang Nabi, tetapi juga seorang tokoh intelektual besar. Ia mengatakan barang siapa yang melakukan studi kritis terhadap perjalanan Muhammad, ia akan terkagum-kagum terhadap capaian-capaian orang jenius itu dalam lingkungan sedemikian rupa. Meski dituduh sebagai idolator atau penyembah berhala, tetapi ia berhasil membangun agama rasional dan universal yang didasarkan pada ideologi monotheisme. Sedangkan menurut Watt, sebagaimana yang dikutip Ibrahim, Muhammad tidak dapat diterima di kalangan Barat, karena dinilai orang yang sangat licik dan tidak bermoral, Muhammad bukan suri tauladan. Dan menurut Watt juga, Muhammad adalah seorang yang gila dan sakit syaraf.

Sikap yang mendua tersebut telah membetuk sikap yang sama terhadap hadits. Bagi para orientalis, hadits sama dengan pandangan mereka mengenai citra Muhammad dan sesuai dengan apa yang mereka pahami tentang Muhammad. Jika diklasifikasikan, kelompok orientalis yang obyektif lebih sedikit daripada orientalis yang subyektif dan mencela hadits.

Hadits menurut orientalis yang mencela adalah hasil karya ulama dan ahli-ahli fiqih yang ingin menjadikan Islam sebagai agama yang multi dimensi, komprehensif dan mencakup segala aspek kehidupan. Mereka menganggap bahwa hadits tidak lebih dari ungkapan buatan semata. Dalam konteks lain, mereka juga memahami hadits hanya merupakan jiplakan Muhammad dan pengikutnya dari ajarah Yahudi dan Kristen.

Di samping itu, mereka mengkritik hadits dengan menggunakan bahasa sunnah. Seorang ulama mengatakan bahwa sunnah pada mulanya adalah istilah yang terdapat dalam kalangan bangsa Arab, yang kemudian mengerucut dan dipakai sebagai istilah untuk menunjukkan perbuatan-perbuatan Nabi. Para orientalis menyamakan hal tersebut dan mengatakan bahwa sunnah hanyalah tradisi, bukan perbuatan Nabi yang mempunyai kekuatan hukum. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Margoliouth, sunnah pada masa awal Islam berarti hal-hal yang sudah menjadi tradisi adalah bertentangan dengan teks-teks yang menjadi rujukannya.

Selanjutnya Margoliouth mengatakan, bahwa sunnah dipakai untuk beberapa pengertian, antara lain:

  1. Lawan dari bid’ah, atau perbuatan yang sudah dikenal, seperti dalam percakapan Utsman dan Ali pada tahun 34 H, “Maka ia menegakkan kembali sunnah yang sudah dikenal dan meninggalkan bid’ah’.
  2. Pekerjaan yang telah berlalu.
  3. Pekerjaan yang baik lawan pekerjaan yang buruk, seperti pidato Utsman: “…Dan sunnah yang baik yang telah dikerjakan Rasulullah dan dua khalifah sesudahnya.”
  4. Biasa dinisbatkan kepada yang lain, seperti sunnah allah, sunnah Islam, sunnah muslimin.

Intinya orientalis ingin membuat kerancuan pemahaman terhadap sunnah yang selama ini di kalangan kaum muslimin digunakan untuk menyebut segala sesuatu yang berasal dari Nabi, dengan sunnah yang berarti kebiasaan yang ada pada masa lalu atau istilah-istilah yang pernah dipakai oleh orang-orang Islam pada masa lalu yang konteksnya bukan menunjuk pada sunnah Nabi. Pendefinisian sunnah seperti yang dilakukan Margoliuth adalah untuk meyakinkan bahwa sunnah adalah suatu kebiasaan yang dilakukan dalam suatu lingkungan bukan hadits Nabi Muhammad dan sunnah yang dimaksud oleh umat Islam sebagai hadits Nabi belum ada pada saat itu.

Tidak hanya itu saja, masalah isnad juga diperbincangkan di kalangan orientalis. Para orientalis sendiri berbeda pendapat dalam masalah isnad, namun perbedaan tersebut pada akhirnya akan menyimpulkan bahwa hadits itu tidak mungkin berasal dari Nabi Muhammad. Seperti halnya ungkapan Caetani, menurutnya orang yang pertama menghimpun hadits Nabi itu adalah Urwah, dan ia tidak memakai isnad dan tidak menyebutkan sumber-sumbernya selain al-Qur’an. Di samping itu, pada masa Abd al-Malik, juga belum ada penggunaan isnad. Maka dari itu, ia berkesimpulan bahwa isnad dimulai pada masa Urwah dan Ibn Ishaq. Jadi sanad adalah buatan orang-orang pada abad kedua, atau ketiga hijriyah. Berbeda dengan pendapat Horovitz, ia menyebutkan bahwa pemakaian sanad dalam meriwayatkan hadits sudah dimulai sejak sepertiga yang ketiga dari abad pertama hijriyah. Pendapat yang menarik lagi, adalah pendapatnya J Robson, menurutnya pada pertengahan abad pertama, mungkin sudah ada suatu metode semacam isnad, namun metode secara detail berkembang sedikit demi sedikit setelah itu.

Pada intinya pendapat-pendapat orientalis tersebut memang didasarkan pada metode ilmiah, akan tetapi menjadi tidak ilmiah, karena yang dikutip dan diteliti hanya sebagian teks saja. Dan kesimpulan yang diambil akan tetap menyatakan bahwa hadits atau sunnah itu tidak mungkin berasal dari Nabi dan hanya tradisi masyarakat Islam abad pertama, kedua dan ketiga. Demikian juga masalah keabsahan isnad.

Tidak hanya sanad saja yang diteliti, namun matan hadits juga tidak lepas dari penelitian para orientalis. Sebagai contoh adalah penelitian yang dilakukan oleh Wensinck, ia mengatakan bahwa hadits tentang akidah dan syahadat dan tentang Islam ditegakkan di atas lima pilar dibuat oleh para sahabat sesudah Nabi. Sebagai buktinya adalah statemen berikut ini:

“Nabi SAW tidak pernah mempunyai suatu ungkapan khusus yan mesti diungkapkan oleh orang-orang yang baru memeluk Islam. Ketika orang Islam bertemu dengan orang-orang Kristen di Syam dan mereka mengetahui bahwa orang-orang Kristen mempunyai ungkapan khusus, mereka lalu merasakan perlunya membikin ungkapan atau kalimat seperti itu. Maka mereka-pun mencetuskan semangat Islam dalam bentuk dua hadits tersebut. Karena hadits itu berisi dua syahadat, maka tidak mungkin hadits itu berasal dari Nabi SAW.” Sebenarnya kesimpulan Wensinck ini menyatakan bahwa ajaran Islam adalah hasil tiruan dari ajaran Kristen. Bahkan kesimpulan yang ia kemukakan lagi untuk mendukung teorinya tersebut adalah shalat itu baru selesai dalam bentuknya yang terakhir sesudah Nabi wafat. Hal ini malah menambah tidak rasional teori tersebut.

Sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh orientalis yang memandang hadits beserta berbagai perangkatnya. Namun kesubyektifan mereka tetap menjadi tunggak yang paling utama. Sehingga kesimpulan yang diambil tetap saja mendistorsikan hadits. Diantara sederetan tokoh orientalis, tokoh yang paling mencuat di kalangan orientalis dalam memandang hadits adalah Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht, karena karya dan penemuannya yang mampu membuat heboh kalangan ahli hadits. Maka dari itu, penulis akan membahasnya dalam sub-bahasan tersendiri tentang identitasnya dan pandangannya terhadap hadits.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: