BERBAGAI PENGERTIAN KURIKULUM


BERBAGAI PENGERTIAN KURIKULUM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Para pakar pendidikan menyatakan bahwa fungsi utama sekolah adalah pembinaan dan pengembangan semua potensi individu, terutama pengembangan potensi fisik, intelektual dan moral setiap peserta didik. Maka sekolah harus dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan formal untuk mengembangkan semua potensi peserta didik sebagai sumber daya manusia. Dalam Undang-undang Sisdiknas dinyatakan bahwa sekolah berfungsi membentuk manusia Indonesia seutuhnya yaitu warga negara yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,memiliki pengetahuan dan keterampilan, mandiri, kritis dan kreatif, sehat jasmani dan rohaninya serta mempunyai rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan negara.

Tujuan dari pendidikan, isi, bahan, metode, serta evaluasi hasil belajar dirancang menjadi suatu program kegiatan pendidikan yang disebut kurikulum. Maka dalam rangka memenuhi fungsi itulah kurikulum perlu disusun dan diorganisir, dikembangkan sedemikian rupa agar sejalan dengan harapan dan fungsinya. Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan.Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Kurikulum sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan mempunyai peran sentral dalam kegiatan pendidikan di sekolah. Untuk mewujudkan kegiatan pendidikan tersebut, gurulah yang berfungsi menjabarkan, mengembangkan, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi dalam proses pembelajaran.

Awalnya kurikulum diterapkan dalam konsep sekolah atau pendidikan formal. Dalam pendidikan formal, kurikulum biasanya disusun oleh pemilik otoritas, misalnya National Curriculum for England untuk negara Inggris dan Departmen Pendidikan Nasional di Indonesia. Saat ini kurikulum juga digunakan dalam setting pendidikan informal, seperti kursus. Kurikulum dalam setting informal disusun oleh lembaga tersebut sesuai kebutuhan. Kurikulum memiliki fungsi strategis dalam pendidikan, walaupun bukan satu-satunya perangkat tunggal penjabaran strategi pendidikan. Fungsi kurikulum dalam peningkatan mutu pendidikan dan penjabaran visi tergantung dari kecakapan guru, ketercakupan substansi kurikulum, dan evaluasi proses belajar.

Pembaruan kurikulum merupakan tuntutan mutlak bagi lembaga pendidikan (sekolah) agar keberadaannya tetap fungsional, dalam arti senantiasa dapat menyiapkan program-programnya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang dilayaninya, yang senantiasa berubah dan berkembang. Hal demikian itu juga disebabkan karena fungsi lembaga pendidikan (sekolah) biasa digunakan oleh masyarakat sebagai “pintu gerbang” untuk menghadapi berbagai tuntutan dan perubahan yang dihadapi oleh masyarakat.

Perubahan yang dihadapi oleh masyarakat harus segera direspon oleh dunia pendidikan dengan membuat desain kurikulum yang sesuai dan cocok untuk diterapkan. Terlebih lagi dalam pendidikan Islam, desain kurikulum harus dibuat lebih daripada kurikulum dalam pendidikan umum. Maka dari itu, dibutuhkan pengetahuan mengenai desain pengembangan kurikulum pendidikan yang matang.

B.     Pengertian Kurikulum

Kurikulum sebagai suatu rancangan dalam pendidikan memiliki posisi yang strategis, karena seluruh kegiatan pendidikan bermuara kepada kurikulum. Begitu pentingnya kurikulum sebagaimana sentra kegiatan pendidikan, maka didalam penyusunannya memerlukan landasan atau fondasi yang kuat, melalui pemikiran dan penelitian secara mendalam.

Kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang semula dalam bidang olah raga, yaitu curere yang berarti jarak terjauh lari yakni jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari start sampai finish. Dalam bukunya, Ramayulis mengutip dari Langgulung yang menyatakan bahwa kurikulum berasal dari kata curir yang berarti pelari dan curare yang berarti tempat berpacu. Istilah curere belum terdapat dalam kamus Webster tahun 1812 dan baru timbul untuk pertama kalinya dalam kamus tahun 1856. Kurikulum juga berarti Chariot, semacam kereta pacu pada zaman dahulu, yakni suau alat yang membawa seseorang dari start sampai finish. Jika dalam pendidikan Islam, maka konteksnya berubah yakni suatu hal yang harus dilalui oleh peserta didik dan pendidik yang sedang melakukan kegiatan pembelajaran.

Istilah kurikulum ini dipopulerkan oleh John Franklin Bobbit dalam bukunya The Curriculum yang diterbitkan pada tahun 1918. Menurut Bobbit, kurikulum merupakan suatu naskah panduan mengenai pengalaman yang harus didapatkan anak-anak agar menjadi orang dewasa yang seharusnya. Oleh karena itu kurikulum merupakan kondisi ideal dibandingkan kondisi real. Kurikulum diibaratkan sebagai “jalur pacu” atau “kendaraan” untuk mencapai tujuan pendidikan dan kompetensi lulusan.

Menurut Grayson, kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (outcomes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran. Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Sedangkan menurut Harsono, kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan. Adapun BPNSP mendefinisikan kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Dari definisi tersebut di atas, inti dari kurikulum, terdapat tiga pilar yang sedang berlangsung yaitu: 1) Adanya transmission of knowledge, 2) Processes that seek to facilitate student learning, sebagai proses pembelajaran peserta didik, dan 3) Product of learning used to ascertain whether students have acquired new information, yaitu informasi baru yang didapat peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran. Maka dari itu, untuk mendefinisikan kurikulum pendidikan Islam, cukup dengan menyebutkan apa yang harus ada dalam kurikulum itu.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers

%d bloggers like this: