MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN


MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

( Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Secara Total)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.    Latar Belakang

Globalisasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern semakin nyata pengaruhnya dalam mewujudkan pasar dan persaingan bebas terbuka. Dalam keadaan seperti ini, semua lembaga kususnya pendidikan dituntut untuk mampu menciptakan efisiensi, mengutamakan mutu, kepuasan konsumen dan memanfaatkan peluang dengan cepat agar dapat bersaing dan bertahan.

Adanya persaingan merupakan unsur yang tidak bisa ditawar lagi. Suatu organisasi atau lembaga dapat meningkatkan dan mempertahankan kualitas dengan cara membangun suatu sistem peningkatan kualitas dan menentukan standar (TQM) Total Quality management atau disebut dengan menejemen peningkatan mutu, dan salah satu lembaga standarisasi dalam dunia industri diantaranya adalah ISO (International Organization for Standardization).

Dalam bidang pendidikan menejemen peningkatan mutu dapat didefinisikan sebagai sekumpulan prinsip dan tehnik yang menekankan pada peningkatan mutu dengan bertumpu pada lembaga pendidikan untuk secara terus menerus dan berkesinamungan meningkatkan kapasitas dan kemampuan lembaganya untuk memenuhi tuntuan kebutuhan peserta didik dan masyarakat dan mampu bersaing ditengah-tengah kemajuan globalisasi serta mampu bertahan dengan memproduk peserta didik berkualitas dan terpenuhinya kepuasan user atau stake holder.

Melihat betapa pentingnya menejemen peningkatan mutu, untuk suatu lembaga pendidikan, kususnya lembaga pendidikan Islam di zaman globalisasi seperti ini agar tetap terlihat tajinya dan bahkan semakin tinggi dimasa-masa yang akan datang, penulis tergugah untuk mengetahui bagaimana, strategi pembaharuan dari menejemen peningkatan mutu ini, agar kita benar-benar dalam mengimplementasikannya tujuan ideal sebuah lembaga pendidikan tercapai dan memuaskan pelangggan, yang tentunya masalah ini akan penulis kupas dalam bab selanjutnya.

B.     Beberapa Komponen Menejemen Peningkatan Mutu

Manajemen peningkatan mutu mempersyaratkan integrasi dari berbagai faktor yang perlu diintegrasikan. Faktor itu adalah klien (pelanggan), kepemimpinan, tim, proses dan struktur.

Klien (pelanggan) dalam TQM adalah orang yang menerima produk atau jasa layanan. Jadi klien tidak berada secara eksternal terhadap organisasi tetapi berada pada setiap tahapan yang mempersyaratkan penyempurnaan hasil sebuah produk atau pemberian layanan. Hal ini menggambarkan adanya mata rantai dari klien yang terkait dengan proses. TQM mempersyaratkan organisasi melakukan penggalian dengan bertanya atau mendengarkan, yang tentunya kepada klien yang tepat. Dalam hal ini diperlukan umpan balik yang pasti untuk menjamin bahwa layanan yang diberikan dan dikerjakan memang tepat. Hal-hal yang terdapat di dalam TQM terhadap pelanggan atau klien adalah nilai-nilai organisasi, visi dan misi yang perlu dikomunikasikan, yang dikerjakan dengan memperhatikan etika dalam pengambilan keputusan dan perencanaan.

Dalam TQM, integritas moral merupakan hal yang fundamental, maka kepemimpinan merupakan cara mengerjakan. Kepemimpinan dalam konteks TQM adalah menetapkan dan mengendalikan visi. TQM secara tajam menggambarkan perbedaan antara pemimpin, me-manage, dan meng-administrasi-kan. Mutu kepemimpinan mencakup visi, kreativitas, sensitivitas, pemberdayaan (empowerment), dan manajemen perubahan. Pemimpin dalam TQM pada dasarnya peduli dengan nilai-nilai orang, menetapkan arah dan mengijinkan orang untuk mencapai target, yang berhubungan dengan hal-hal makro maupun mikro.

Sedangkan tim dalam TQM merupakan kualitas kelompok. Hampir semua kepustakaan menekankan pentingnya kejelasan tujuan dan hubungan interpersonal yang efektif sebagai dasar terjadinya kerja kelompok yang efektif.

Kunci penting dalam TQM adalah menetapkan komponen proses kerja. Pada dasarnya, sekali klien menetapkan persyaratan yang telah disepakati, maka hal yang penting untuk dilakukan adalah menetapkan proses dan prosedur yang menjamin kesesuaiannya dengan persyaratan.

Organisasi yang mencoba memperkenalkan TQM tanpa meninjau strukturnya mungkin akan menghadapi kegagalan. Beberapa organisasi memiliki struktur yang berfokus pada klien cenderung mendasarkan diri pada hierarki formal sekaligus membatasi kerja praktis yang birokratis.

C.    Strategi dan Teknik Manajemen Peningkatan Mutu atauTQM

Ada empat teknik TQM yang dapat dikembangkan dalam menetapkan manajemen peningkatan mutu yaitu: school review, benchmarking, quality assurance, dan quality control.

School review adalah proses yang mengharuskan keterkaitan seluruh komponen lembaga pendidikan bekerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki keterkaitan, misalnya orang tua, atau tenaga professional, untuk mengevaluasi keefktifan kebijakan lembaga pendidikan, program dan pelaksanaannya, serta mutu lulusannya. Dengan metode ini, kita dapat membeberkan kelemahan, kekuatan, prestasi lembaga pendidikan dan memberikan rekomendasi untuk penyusunan perencanaan strategis pengembangan lembaga pendidikan di masa mendatang.

Benchmarking merupakan kegiatan untuk menetapkan standar, baik proses, maupun hasil yang akan dicapai dalam suatu periode tertentu, untuk kepentingan praktis. Dengan demikian, standar tersebut direfleksikan dalam realitas yang ada.

Quality assurance artinya bahwa konsep ini mengandung jaminan bahwa proses yang berlangsung dilaksanakan sesuai dengan standard dan prosedur yang telah ditetapkan.  Dengan demikian, dapat diharapkan hasil (out put) yang memenuhi standar yang ditentukan pula.

Quality control merupakan suatu sistem yang untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan kualitas out put yang tidak sesuai dengan standar. Konsep ini berorientasi pada out put untuk memastikan apakah output sesuai dengan standar. Oleh karena itu, konsep  ini menuntut adanya indikator yang pasti dan jelas.

Menurut ISO ada beberapa prinsip untuk dapat meningkatkan sebuah mutu, prinsip disini memiliki pengertian sejumlah asumsi yang diyakini dan dinilai memiliki kekuatan untuk mewujudkan mutu yang bagus. Akan hal ini berbagai ahli mencoba merumuskan prinsip-prinsip yang paling tepat untuk dapat mewujudkan mutu dalam organisasi dalam hal ini adalah lembaga pendidikan Islam. Sedikitnya ada delapan prinsip versi ISO, untuk mampu meningkatkan mutu.

Pertama, Orientasi pada pelanggan, maksud dari orientasi pelanggan ini adalah organisasi atau lembaga pendidikan bergantung pada pelanggannya, oleh karena itu harus memahami berbagai kebutuhan pelanggan pada saat ini dan di masa yang akan datang, kenaali tuntutan pelanggan dan berusaha untuk memenuhinya atau bahkan melebihi apa yang diharapkan pelanggan.

Penerapan khusus prinsip pertama adalah:

  1. Teliti, pahami kebutuhan dan harapan pelanggan.
  2. Pastikan bahwa sasaran organisasi sejalan dengan kebutuhan dan harapan pelanggan.
  3. Komunikasi kebutuhan dan harapan pelanggan keseluruh organisasi atau lembaga.
  4. Ukur kepuasan pelanggan lalu ambil tindakan dari hasil pengukuran
  5. Kelola secara sistematis hubungan dengan pelanggan
  6. Buatlah keseimbangan pendekatan antara kepuasan pelanggan dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Kedua, Kepemimpinan, maksudnya adalah pemimpin itu menentukan kesatuan arah dan tujuan organisasi. Pemimpin harus menciptakan dan menjaga lingkungan internal dimana orang-orang dapat terlibat secara penuh dalam pencapaian tujuan-tujuan organisasi atau lembaga.

Penerapan prinsip kedua adalah :

  1. Pertimbangkan kebutuhan semua pihak yang berkepentigan termasuk pelanggan.
  2. Tetapkan dan jelaskan visi lembaga ke depan agar setiap orang mengerti tujuan.
  3. Tentukan sasaran dan target yang menantang dan sosialisasikan
  4. Ciptakan dan sokong nilai-nilai kebersamaan, kejujuran dan model tugas yang etis pada semua level.
  5. Lengkapi semua orang dengan suumber daya yang diperlukan dan beri kebebasan dalam bertindak dengan penuh tanggung jawab
  6. Beri semangat kebesaran hati dan pengakuan terhadap kontribusi setiap orang.

Ketiga, Keterlibatan orang-orang atau SDM, maksudnya adalah orang-orang pada semua tingkatan merupakan esensi lembaga dan keterlibatan secara penuh memungkinkan diguakannya kemampuan mereka untuk keuntungan lembaga.

Penerapan khusus prinsip ketiga adalah :

  1. Upayakan setiap orang memahami pentingnya kontribusi dan peran mereka dalam lembaga.
  2. Upayakan setiap orang mengenali batasan kinerja serta lingkup tanggung jawab mereka dalam organisasi.
  3. Upayakan setiap mengetahui permasalahan kerja mereka dan termotivasi untuk menyelesaikannya.
  4. Ajak setiap orang aktif melihat peluang untuk meningkatkan kompetensi, pengetahuan dan pengalaman mereka.
  5. Fasilitasi agar setiap orang bebas beragi pengetahuan/pengalaman dan berinovasi
  6. Budayakan agar setiap orang secara terbuka mendiskusikan permasalahannya.

Keempat, Menggunakan pendekatan proses, maksudnya bahwa hasil yang diinginkan dicapai secara lebih efisien manakala sumbr daya-sumber daya dan aktivitas-aktivitas dan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dikelola sebagai satu proses.

Penerapan khusus prinsip keempat adalah :

  1. Secara sistematis menentukan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang didinginkan
  2. Menganalisa dan mengukur kapabilitas aktivittas-aktivitas.
  3. Mengidentifikasi aktivitas-aktivitas kunci.
  4. Upayakan agar proses lebih singkat dan efektif.
  5. Menekankan pada faktor-faktor seperti sumber daya, metode, dan material untuk memperbaiki aktivitas,
  6. Mengevaluasi resiko, akibat atau dampak aktivitas pada pelanggan, dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Kelima, Menggunakan pendekatan sistem pada menejemen, maksudnya adalah pengidentifikasian, pemahaman dan pengelolaan sistem dari proses-proses yang terkait untuk memberikan perbaikan-perbaikan terhadap efektivitas dan efesiensi pada lembaga secara objektif.

Penerapan khusus prinsip kelima adalah:

  1. Penyusunan sistem untuk mencapai sasaran organisasi dengan lebih efektif dan efisien
  2. Memahami keadaan saling ketergantungan diantara proses-proses pada sistem
  3. Pendekatan struktur yang harmonis dan integrasi proses-proses dengan tugas yang tidak saling tumpang tindih.
  4. Memberi pemahaman terbaik pada tuga-tugas/tanggung jawab yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama serta mengurangihambatan lintas fungsional.

Keenam, Perbaikan yang berkelanjutan, maksudnya adalah perbaikan secara berkelanjutan menjadi tujuan permanen lembaga.

Penerapan kusus prinsip keenam

  1. Laksanakan secara konsisten pendekatan organsasi untuk kontinuitas perbaikan performansi
  2. Sediakan dan kirim SDM untuk pelatihan terhadap metode dan alat perbaikan berkesinambungan
  3. Laksanakan perbaikan yang kontinu pada produk, proses dan sasaran sistem.
  4. Tetapkan tujuan sasaran sebagai pedoman,  ukur pencapaian untuk perbaikan yang berkesinambungan.
  5. Beri penghargaan dan pengakuan terhadap perbaikan.

Ketujuh, Pendekatan faktual dalm pembuatan keputusan, maksudnya adalah bahwa keputusan yang efektif didasarkan pada analisis data dan informasi.

Penerapan kusus prinsip ketujuh adalah :

  1. Pastikan bahwa data dan informasi cukup akurat dan dapat dipercaya
  2. Sediakan data yang dapat diakses oleh yang membutuhkan
  3. Analisa data dan informasi dengan metode ang valid
  4. Buat keputusan dan ambil tindakan berdasrkan analisis faktual dan seimbang

Kedelapan, Memiliki hubungan yang saling menguntungkan, maksunya mempunyai kerja sama yang saling menguntungkan akan meningkatkan kemampuan kedua belah pihak untuk menciptakan nilai keberhasilan.

Penerapan kusus prinsip kedelapan adalah:

  1. Tetapakan hubungan yang seimbang antara keuntungan jangka pendek dengan mempertimbngkan jangka panjang.
  2. Sinergikan keahlian dan sumber daya secara berpasangan dengan pemasok
  3. Identifikasi dan pilih pemasok-pemasok kunci
  4. Susun pengembangan bersama, untuk fleksibilitas dan kecepatan merspon perubahan  kebutuahan pasar
  5. Berikan semangat, dorongan dan penghargaan atas peningkatan dan prestasi pemasok.

Dari delapan prinsip di atas, apabila dapat diintegrasikan dengan baik menurut penulis dapat dijadikan sebagai strategi yang manjur untuk meningkatkan mutu sebuah lembaga pendidikan dan mampu bersaing di tengah-tengah lembaga pendidikan lain.

Selain menggunakan prinsip-prinsip di atas untuk dijadikan strategi peningkatan mutu, menurut Purwati terdapat empat pendekatan dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu: 1) suatu lembaga pendidikan harus memformulasisikan visi apa yang dimaksud kualitas dan bagaimana dapat dicapai. 2) menejemen ikut terlibat secara aktif. 3) lembaga pendidikan harus cermat dan berhati-hati dalam merencanakan dan mengorganisasikan upaya perbaikan mutu dengan langkah awal yang betul-betul efektif dan 4) pengendalian dilakukan seluruh proses.

Dalam memformulasikan strateginya, Menejemen peningkatan mutu menggunakan model pendekatan menejemen strategis yaitu suatu pendekatan yang sistematis bagi suatu tanggung jawab menejemen, mengkondisikan organisasi ke posisi yang dipastikan mencapai tujuan dengan cara yang akan meyakinkan keberhasilan yang berkelanjutan dan membuat lembaga pendidikan menjamin tercapainya mutu dan melalui pendekatan ini harus dipastikan tujuan tercapai.

Terdapat lima langkah formulasi strategi yaitu, perumusan visi dan misi yaitu pencitraan bagaiman sekolah seharusnya nereksistensi, asesmen lingkungan eksternal yaitu mengakomodasi kebutuhan lingkungan akan mutu pendidikan yang dapat disediakanoleh lembaga pendidikan, asesmen organisasi yaitu merumuskan dan memberdayakan sumber daya sekolah secara optimal, perumusan tujuan kusus yaitu penjabaran dari pencapaian visi dan misi yang ditampakkkan dalam tujuan sekolah dan tujuan tiap- tiap mata pelajaran, penetuan strategi yaitu memilih strategi yang paling tepat untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dengan menyediakan anggaran, sarana dan prasarana, maupun fasilitas yang dibutuhkan.

Menurut Juran, sebagaimana dikutip oleh Deni Koswara dan Triatna, untuk memperbaiki menejemen dalam rangka mencapai peningkatan mutu, dengan mengembangkan suatu pendekatan yang disebut strategic quality management (SQM). SQM merupakan tiga bagian proses berdasarkan perbedaan tingkat staf. Perbedaan tingkat staf ini dinilai memberikan kontribusi yan unik bagi peningkatan yang unik bagi peningkatan mutu. Menejer puncak memiliki pandangan strategis organisasi. Menejer madya memegang peranan oprasional mutu, Manajer pengawas mutu bertanggung jawab atas pengawasan mutu.

Penerapan TQM yang efektif juga harus memperhatikan beberapa aspek yang mempengaruhi mutu, yaitu: culture, commitment, dan communication. Sedangkan menurut Mulyasa, terdapat tiga dimensi utama yang harus dperhatikan yang akan menetukan keberhasilan, ketiga dimensi itu adalah, koordinasi, komuniasi, dan supervisi. Budaya yang dimaksud di sini meliputi asumsi-asumsi, nilai-nilai dan aturan yang mengikat kebersamaan dalam organisasi. Keberhasilan TQM dari suatu organisasi ditentukan oleh bagaimana organisasi menciptakan budaya seperti: (a) inovasi dipandang sebagai nilai yang tertinggi; (b) status dinomorduakan, yang yang dipentingkan adalah performansi  dan kontribusi; (c) kepemimpinan adalah suatu kunci dari kegiatan/tindakan, bukan posisi; (d) ganjaran dibagi rata melalui kerja tim; (e) pemberdayaan untuk mencapai tujuan yang menantang didukung oleh pengembangan yang berkelanjutan dan keberhasilan seharusnya merupakan iklim untuk memotivasi diri sendiri.

Keberhasilan TQM suatu organisasi seharusnya melahirkan rasa kebanggaan dan kesempatan untuk berkembang bagi orang-orang di dalamnya (staf dan klien), sehingga mereka merasa memiliki dalam mewujudkan tujuan organisasi bersama di antara semua staf administrasi dan dosen. Komitmen berarti juga keterlibatan menanggung resiko dalam mencapai tujuan, menuntut kerja yang sistematik dengan meneruskan informasi mengenai adanya kesempatan melakukan inovasi dan pengembangan.

Komunikasi di antara anggota tim memiliki kekuatan, walaupun sederhana, tetapi efektif. Komunikasi harus didasarkan pada kenyataan dan pengertian yang murni, bukannya asumsi, apalagi humor.

Penerapan TQM di lembaga pendidikan mengarahkan peningkatan organisasi berkelanjutan, upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia untuk meningkatkan semua aspek organisasi, dan mengarah kepada terpenuhinya kebutuhan klien saat ini dan saat mendatang.

D.    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi dalam Peningkatan Mutu

TQM merupakan suatu konsep yang berupaya melaksanakan sistem manajemen kualitas dunia, sehingga diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem suatu organisasi seperti lembaga pendidikan. Ada 10 faktor yang harus diperhatikan oleh penyelenggara pendidikan di lembaga agar dapat memenuhi standar total quality management yaitu:

  • Kepuasan Klien

Dalam istilah bisnis, klien adalah orang yang membeli dan menggunakan produk perusahaan. Sedangkan di sini adalah siswa,orang tua dan masyarakat atau stake holder. Tujuan bisnis pada hakekatnya adalah untuk menciptakan dan mempertahankan pelanggan. Dalam penerapan TQM di lembaga pendidikan, kualitas ditentukan oleh pelanggan yaitu siswa, dna kita juga harus berupaya menciptakan kepuasan siswa. Peran dan tanggungjawab divisi dan manajer harus dilihat dari sudut pandang untuk mencapai kepuasan siswa. Kepuasan siswa dapat memberikan beberapa manfaat : (1) hubungan antara kampus dan para mahasiswa menjadi harmonis; (2) memberikan dasar yang terbaik untuk meningkatkan jumlah siswa untuk masuk ke perguruan tinggi; (3) dapat mendorong terciptanya loyalitas siswa; (4) reputasi lembaga menjadi baik di mata siswa; dan (5) keuntungan dana yang diperoleh lembaga pendidikan menjadi meningkat.

  • Obsesi terhadap Kualitas

Dalam era globalisasi lembaga pendidikan menghadapi persaingan ketat dengan lembaga pendidikan dari seluruh Indonesia. Meningkatnya intensitas dan persaingan menyebabkan setiap lembaga pendidikan harus berusaha meningkatkan kualitas agar kepuasan pelanggan terwujud. Kerangka dalam kualitas harus didasarkan pada dua alasan pokok, yaitu: (1) orientasi pemasaran, lembaga pendidikan harus dapat memenuhi semaksimal mungkin kebutuhan dan persyaratan yang ditetapkan stakeholder; dan (2) orientasi internal lembaga pendidikan, lembaga pendidikan harus dapat menghindari kerugian, pemborosan, dan jatuh. Diupayakan adanya maksimalisasi usaha setiap staf, karyawan, dan guru, penghematan energi sumberdaya manusia dan pengidentifikasian peluang pemecahan masalah.

  • Pendekatan Ilmiah

Melalui manajemen kepemimpinan yang baik keputusan yang kadang kala bersifat subjektif bisa diminimumkan. Salah satu kuncinya sukses dalam TQM adalah menggunakan pendekatan ilmiah, dalam pendekatan ilmiah, pengambilan keputusan didasarkan pada data, mencari sumber penyebab dan mengupayakan solusi dalam waktu yang singkat.

  • Komitmen Jangka Panjang

TQM merupakan suatu paradigma baru dalam melaksanakan bisnis. Oleh karena itu dibutuhkan budaya yang baru pula. Agar penerapan TQM dapat berjalan dengan lancar, maka perubahan budayanya pun harus diupayakan dengan komitmen jangka panjang di lembaga pendidikan Manajemen puncak memegang peranan yang sangat penting dalam mewujudkan perubahan budaya yang menghargai peningkatan kualitas secara terus menerus dalam jangka panjang.

  • Kerjasama Tim

Tim merupakan sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama. Disebut tim jika memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) semua anggotanya harus memahami dan menyepakati misinya agar tim dapat bekerja dengan efektif; (2) semua anggota menaati peraturan yang berlaku; (3) ada pembagian tanggungjawab dan wewenang yang adil bagi setiap anggota tim; dan (4) setiap anggota beradaptasi terhadap perubahan yang positif di mana setiap anggota saling membantu dalam beradaptasi.

  • Perbaikan secra Berkesinambungan

Perbaikan secara kesinambungan merupakan unsur paling fundamental dalam TQM. Perbaikan berkesinambungan akan berhasil dengan baik bila disertai dengan usaha sumber daya manusia yang tepat, kepercayaan diri, praktis karena faktor manusia merupakan dimensi terpenting dalam perbaikan kualitas dan produktivitas, di Jepang dikenal konsep Kaizen.

  • Pendidikan dan Pelatihan    

Pelatihan berhubungan secara spesifik dengan pekerjaan staf administrasi dan dosen yang telah dilakukan dan apa yang sudah dilatihkan dapat diaplikasikan dengan segera. Dengan demikian, materi pelatihan harus bersifat praktis. Pelatihan merupakan bagian dari pendidikan. Walaupun pendidikan lebih bersifat filosofis dan teoritis, meskipun demikian pendidikan dan pelatihan memiliki tujuan yang sama yakni pembelajaran.

E.     Penutup

Manajemen peningkatan mutu mempersyaratkan integrasi dari berbagai faktor yang perlu diintegrasikan. Faktor itu adalah klien (pelanggan), kepemimpinan, tim, proses dan struktur.

Ada empat teknik TQM yang dapat dikembangkan dalam menetapkan manajemen peningkatan mutu yaitu: school review, benchmarking, quality assurance, dan quality control. Selain itu ada delapan prinsip-prinsip versi ISO untuk meningkatkan mutu pendidikan yaitu, orientasi pada pelanggan, kepemimpinan, keterlibatan orang-orang, pendekatan proses, menggunakan pendekatan sistem, perbaiakan secara berkelanjutan, pendekatan daktual dalam pembuatan keputusan, hubungan yang saling menguntungkan.

Menurut Purwati, terdapat empat pendekatan dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu : 1, suatu lembaga pendidikan harus memformulasisikan visi apa yang dimaksud kualitas dan bagaimana dapat dicapai. 2. menejemen ikut terlibat secara aktif. 3. lembaga pendidikan harus cermat dan berhati-hati dalam merencanakan dan mengorganisasikan upaya perbaikan mutu dengan langkah awal yang betul-betul efektif dan 4. pengendalian dilakukan seluruh proses.

Ada 10 faktor yang harus diperhatikan oleh penyelenggara pendidikan di lembaga agar dapat memenuhi standar total quality management yaitu: kepuasan klien, obsesi terhadap kualitas, pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerja sama tim, perbaikan secara berkesinambungan, pendidikan dan pelatihan.

REFERENSI

 

E. Mulyasa “Menejemen Berbasis Konsep”  Bandung: Remaja Rosda Karya,2003

Edward Sallis “ Total  Quality Management ini Education” terj. Menejemen Mutu Pendidikan, Jogjakarta: IRCiSoD, 2007

Masduki “Penerapan Total Quality Manajemen di perguruan Tinggi” dalam Ta’allum Jurnal Pendidikan Islam, volume 17, No.

Soemardi Tresna “ Total Quality Management sebagai Kunci Keunggulan Bersaing”, Malang: Usahawan , 1995

Syaiful Sagala “ Menejemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan” Bandung: Alfabeta, 2009

Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI “Manajemen Pendidikan” Bandung: Alfabeta, 2009

Titik Purwati, “TQM : Strategi Meningkatkan Mutu daya Saing di Era Globalisasi” Malang: UNM Prees, 1996

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

One response

  1. I just want to say I’m beginner to weblog and certainly loved your blog site. Very likely I’m want to bookmark your blog . You really have fantastic articles and reviews. Bless you for sharing your website page.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: