PUSAT PERADABAN ISLAM DI DUNIA


PUSAT PERADABAN ISLAM DI DUNIA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.      Latar Belakang

Islam kendati bermakna penyerahan diri sepenuhnya untuk memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat, namun bukanlah sebuah agama yang hanya memuat dogma, kumpulan ritual semata. Namun, ia adalah sebuah doktrin, sebuah pandangan dunia, sebuah kebudayaan, dan sebuah peradaban yang beralaskan ketauhidan. Dalam al-Qur‘an Islam sebagai agama yang diturunkan untuk rahmat sekalian alam (rah}matan lil ‘a>lami>n). Islam bukan hanya agama yang mengajak umatnya untuk berpaling dari kehidupan dunia semata, melainkan agama yang mendorong untuk mencapai kebahagian di dunia dan di akhirat kelak. Antara kehidupan dunia dan akhirat merupakan sebuah mata rantai yang tidak bisa dipisahkan.

Dalam kehidupan masyarakat dan bernegara, Islam telah memberikan batasan-batasan dasar. Batasan ini selain terdapat dalam al-Qur‘an dan Hadits, juga tercantum dalam piagam Madinah, seperti persatuan, kebebsan memeluk agama, kebersamaa, penegakan keadilan, perdamaian, dan musyawarah yang disemuanya ini didasari pada keimanan. Hal ini dilakukan Nabi Muhammad saw dalam membangun masyarakat Arab Badui menjadi bangsa yang utuh. Dimana masyarakat yang sebelumnya belum mengenal peradaban sampai masyarakat mengukir peradaban. Bahkan, belum pernah dalam sejarah ada suatu kekuasaan yang menguasai wilayah yang luasnya sama dengan luas yang dikuasai oleh Daulah Bani Umayyah. Begitu juga Daulah ‘Abba>siyyah yang memberikan perhatian yang lebih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Upaya tersebut diawali dengan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan sastra yang ditulis dalam berbagai bahasa, seperti Persia, India, Syriaic, Aramaic, Yunani ke dalam bahasa Arab antara tahun 750-850 M. telah menjadikan Baghdad yang disusul Cordova dan Kairo menjadi pusat-pusat penyebaran kebudayaan dan peradaban keseluruh dunia.

Peradaban Islam telah memberikan peran yang besar terhadap dunia, mengeluarkan dunia dari kegelapan dan kebodohan, penyimpangan dan kebinasaan akhlak, lalu memberikan nilai yang menguasai dunia sebelum Islam dengan berbagai macam ikatan. Peradaban Islam berlandaskan pada al-Qur‘an dan Hadits dua dasar fundamental penegak peradaban Islam tanpa membedakan bentuk, jenis, dan agama. Dan keduannya merupakan asas bagi peradaban Islam

Dalam konteks peradaban, Islam menampilkan peradaban baru yang esensinya berbeda dengan peradaban sebelumnya. peradaban yang ditinggalkan nabi misalnya, jelas sangat berbeda dengan peradaban Arab di zaman Jahiliah. Dengan demikian, Islam telah melahirkan revolusi kebudayaan dan peradaban.

Beberapa pusat peradaban dalam dunia Islam dapat disebutkan sebagai berikut: Mekah Al-Mukarramah, Madinah Al-Munawwarah, Baghdad, Kairo (Mesir), Damaskus di Syiria, Kairawan, Isfahan di Persia. Pusat-pusat peradaban di dunia Islam tersebut telah melahirkan berbagai budaya dan peradaban yang baru di dunia Islam.

Maka dari itu, dalam makalah ini akan mengulas berbagai bentuk peradaban baru yang telah dihasilkan oleh umat Islam di daerah-daerah tersebut yang merupakan pusat peradaban di dunia Islam.

B.       Makkah Al-Mukarramah

Makkah Al-Mukarramah merupakan kota tempat lahirnya agama Islam, di mana Nabi Muhammad SAW. lahir dan memproleh wahyu Al-Qur’an di Kota Mekah. Mekah juga merupakan kota budaya Islam.

Awalnya Mekah merupakan pusat peradaban Jahiliah yang penuh dengan paganisme. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., kota Mekah menjadi kota suci umat Islam. Di kota ini juga terdapat Ka’bah di Masjidil Haram yang merupakan kiblat umat Islam dalam shalat. Ka’bah di Masjidil Al-Haram, Mekah Al-Mukaramah sebagai lambang persatuan umat Islam seluruh dunia.

Dari Madinah setelah posisi dan kekuatan Nabi Muhammad dan pengikutnya menjadi besar, beliau merebut kembali kota Mekah dengan cara menaklukkan kota itu secara damai, pada tahun 8 H (630 M) sehingga dikenal dengan Fathu Makkah, yaitu terbukanya kota Mekah.

C.      Madinah Al-Munawwarah

Madinah Al-Munawwarah, awalnya kota ini bernama Yatsrib. Kota Madinah menjadi pusat kebudayaan Islam setelah nabi Muhammad berhijrah dari Mekah ke Yatsrib. Setelah nabi hijrah ke Yatsrib, maka kota tersebut dijadikan pusat jemaah kaum muslimin, dan selanjutnya menjadi ibu kota negara Islam yang segera didirikan oleh Nabi, dengan diubah namanya menjadi Madinah.

Dari Madinah inilah Nabi meneruskan perjuangan menyebarkan agama Islam. Di Madinah selama 13 tahun nabi membina dan mengembangkan masyarakat Islam. Bahkan di Madinah ini, Nabi membangun sistem kehidupan bermasyarakat Islam yang dicita-citakan.

Di tengah-tengah kota Madinah, segera Nabi membangun masjid, yang menjadi pusat ibadah dan kebudayaan, bahkan dijadikan markas besar negara Islam. Bagi negara yang baru dibangun itu, nabi telah meletakkan dasar-dasarnya yang kuat, diantaranya yaitu ukhuwah Islamiyah, persaudaraan Islam.

Nabi SAW. mempersaudarakan antara semua kaum muslimin yang berbeda-beda suku dan bangsa, yang berlain-lainan warna kulit dan rupa;    Al-Wahdatul Islamiyah mengantikan Al-Wahdatul Qaumiyah, sehingga dengan demikian mereka semua menjadi bersaudara dan sederajat.

Madinah juga merupakan pusat pemerintahan Islam pada masa Nabi Muhammad, dan kemudian masa khulafaur rasyidin. Sejak masa pemerintahan dipegang oleh Muawiyah bin Abi Sufyan, pusat pemerintahan dipindahkan ke Damaskus.

Madinah Al-Munawwarah merupakan kota pusat kebudayaan Islam di Arab, karena kota ini merupakan pusat ilmu pengetahuan dan kota perjuangan Nabi dalam menegakkan agama Islam sekaligus merupakan pusat peradaban Islam.

Di kota ini pula terdapat masjid Nabi yang terkenal dengan nama Masjid Nabawi. Setelah perang Khaibar, Nabi SAW. sendiri memperbesar masjid ini, kemudian berturut-turut diperbesar lagi oleh Khalifah Umar bin Khattab, dan Khalifah Utsman bin Affan.

Masjid tidak saja menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi pusat kehidupan politik, ekonomi, dan sosial. Di kota ini Nabi Muhammad dimakamkan, Kota Madinah merupakan kota suci umat Islam setelah Mekah Al-Mukarramah.

D.      Baghdad

Baghdad didirikan pada tahun 762 M oleh Khalifah Al-Manshur dan Dinasti Abbasiyah (754-755 M). Satu tim ahli dibentuk untuk memilih sebuah bidang tanah yang cukup luas, yang terletak antara Sungai Tigris dengan Sungai Eufrat. Setelah mencari-cari daerah yang strategis untuk ibu kotanya, akhirnya pilihan jatuh pada daerah yang kemudian diberi nama Baghdad.

Baghdad berarti “Taman Keadilan”. Dalam pembangunan kota Baghdad khalifah memperkerjakan ahli bangunan, Kota ini berbentuk bundar, di sekelilingnya dibangun tembok yang besar dan tinggi. Di sebelah luar tembok di bangun parit besar yang berfungsi sebagai saluran air dan sekaligus sebagai benteng.

Istana khalifah terletak di tengah-tengah kota Baghdad, yang dikenal dengan Al-Qashr Az-Zahabi (Istana emas). Kota Baghdad sejak awal berdirinya sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Masa puncak keemasan kota Baghdad terjadi pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809), dan anaknya Al-Makmun (813-833 M). Ilmu pengetahuan dan sastra berkembang sangat pesat, bahkan Khalifah     Al-Makmun memiliki perpustakaan yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu pengetahuan. Perpustakaan tersebut bernama Perpustakaan Baitul Hikmah.

Pada masa Abbasiyah, di kota Baghdad juga berdiri akademi dan sekolah tinggi. Perguruan Tinggi yang terkenal adalah Perguruan               An-Nizhamiyah, didirikan oleh Nizamul Mulk (5 H) dan Perguruan            Al-Muntanshiriyah yang didirikan oleh Khalifah Al-Muntashir Billah (Abad 7 H).

Dari kota ini lahir para ilmuwan, ulama, filsuf, dan sastrawan terkenal, di antaranya: Al-Khawarizmi (tokoh astronomi dan matematika, penemu ilmu Al-jabar), Al-Kindi (filsuf Arab pertama), Al-Farabi (filsuf besar), Ar-Razi (filsuf, ahli fisika, dan kedokteran), Imam Al-Ghazali (ilmuwan dan ulama ternama), Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (pendiri tarekat Qadiriyah), dan lain-lain.

Karena serangan bangsa Mongol di bawah Hulagu Khan pada tahun 1258 M kota ini hancur berantakan. Semua bangunan kota termasuk istana emas dihancurkan. Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pula oleh pasukan Timur Lenk, dan pada tahun 1508 M kota ini juga dihancurkan oleh tentara Kerajaan Safawi.

E.       Kairo (Mesir)

Setelah panglima Jauhar As-Siqili menduduki Mesir pada tahun 358 H, maka ia mengambil keputusan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Fuslat, ke kota yang akan dibangun. Pada tanggal 17 Sya’ban 358 H (969 M), Jauhar As-Siqili memulai pembangunan kota baru untuk menjadi ibu kota Dnasti Fathimiyah.

Kota ini mula-mula diberi nama kota “Manshuriyah” dinisbatkan kepada Manshur Al-Mu’iz Lidinilah. Setelah Mu’iz sendiri sampai di Mesir, namanya diubah menjadi Qahirah Mu’iziyah.

Wilayah dinasti Fathimiyah meliputi Afrika Utara, Sicilia, dan Syria. Setelah pembangunan kota Kairo selesai lengkap dengan istananya, Jauhar As-Siqili mendirikan masjidAl-Azhar pada 17 Ramadhan 359 H (970 M). Masjid Al-Azhar dalam perkembangannya menjadi universitas besar.

Kota Kairo mengalami puncak kejayaan pada masa Dinasti Fathimiyah yaitu pada masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi, pemerintahan Baybars, dan pemerintahan An-Nashir pada masa Dinasti Mamalik. Periode Fathimiyah dimulai dengan Al-Muiz dan puncaknya terjadi pada masa pemerintahan Al-Aziz.

Dinasti Fathimiyah dapat ditumbangkan oleh Dinasti Ayyubiyah yang didirikan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Shalahudin tetap mempertahankan lembaga-lembaga ilmiah yang didirikan oleh Dinasti Fathimiyah tetapi mengubah orientasi keagamaannya dari Syi’ah menjadi Ahlus Sunnah.

Kekuasaan Dinasti Ayyubiyah di Mesir diteruskan oleh Dinasti Mamalik. Dinasti ini mampu mempertahankan pusat kekuasannya dari serangan Mongol bahkan dapat mengalahkan tentara Mongol di Ain Jalut di bawah pimpinan Baybars yang berkuasa dari 1260-1277 M. Baybars juga dikenal sebagai pahlawan Perang Salib. Kairo menjadi satu-satunya pusat peradaban Islam yang terpenting.

Tahun 1517 M, Dinasti Mamalik dapat dikalahkan oleh Dinasti Usmani di Turki, Kairo hanya dijadikan sebagai ibu Kota provinsi Kerajaan Usmani.

F.       Damaskus Di Syiria

Damaskus pada zaman sebelum Islam adalah ibu kota Kerajaan Romawi Timur di Syiria. Damaskus merupakan kota lama pada zaman daulah Bani Ummayah dan dijadikan ibu kota negara sejak pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan, khalifah pertama Bani Ummayah.

Di kota Damaskus banyak didirikan gedung-gedung yang indah, yang bernilai seni, disamping kotanya sendiri dibangun sedermikian rupa teratur dan indahnya, dengan jalan-jalannya yang lebih merimbun, kanal-kanal yang bersimpang siur berfungsi sebagai jalan dan pengairan, taman-taman rekreasi yang menakjubkan.

Di kota Damaskus terdapat Masjid Damaskus yang megah dan agung, masjid ini dibangun oleh Khalifah Al-Walid bin Abul Malik dengan arsiteknya Abu Ubaidah bin Jarrah. Masjid yang panjangnya 300 meter dan lebarnya 200 meter, dibangun di atas 68 pilar yang kokoh, dengan biaya 11.200.000 dinar.

G.      Kairawan

Kairawan merupakan kota baru terletak di Afrika utara. Kota ini dibangun pada masa Dinasti Umayyah. Aqabah bin Nafi yang telah diangkat oleh Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi gubernur Afrika, memindahkan ibu kota wilayah Afrika dari Barqah ke suatu desa yang bernama Kairawan. Dan dibangunlah di tempat itu ibu kota baru bagi wilayah Afrika yang juga dinamakan Kairawan.

Di kota Kairawan terdapat Masjid Kairawan yang dibangun pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik oleh Aqabah, gubernur Afrika Utara. Masjid ini adalah masjid yang termasyur. Berkali-kali masjid ini mengalami perbaikan dan pelebaran oleh para gubernur yang silih berganti menjabat, sehingga akhirnya menjadi satu masjid kebanggaan kaum muslimin di Afrika Utara, terutama dengan kubahnya yang terkenal dengan “Qubatul Bahwi”. Kota Kairawan kemudian menjadi kota Internasional.

H.      Isfahan Di Persia

Kota Isfahan adalah ibu kota Kerajaan Shafawi. Kota Isfahan merupakan kota tua didirikan oleh Yazdajird 1 (Buhtanashar) Raja Persia. Kota Isfahan dikuasai Islam pada tahun 19 H/640 M pada masa Umar bin Khatab. Kota Isfahan sekarang masuk dalam wilayah Iran.

Pada waktu Abbas I Sultan Safawiyah menjadikan Isfahan sebagai ibu kota kerajaannya, Kota ini terletak di atas sungai Zandah, dan di atasnya membentang tiga buah jembatan yang megah dan indah.

Pada tahun 625 H/1228 M terjadi pertempuran besar Isfahan, ketika tentara Mongol datang menyerbu negeri-negeri Islam dan menjadikan Isfahan sebagai salah satu bagian dari wilayah kekuasaan Mongol itu. Ketika Timur Lenk menyerbu negeri-negeri Islam pada tahun 790/1388 M, kota Isfahan ikut jatuh di bawah kekuasaan Timur Lenk. Pada tahun 1141 H/1729 M, kota Isfahan berada di bawah kekuasaan Nadir Syah.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers

%d bloggers like this: