Tag Archives: Fiqih Islam

FIQIH MUAMALAH MODERN PERBANKAN DALAM PERSPEKTIF FIQIH


FIQIH MUAMALAH MODERN

PERBANKAN DALAM PERSPEKTIF FIQIH

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.      Pengertian Bank

Menurut Fuad Mohd Fachruddin, bahwa bank berasal dari kata Banko(bahasa Italia). Tetapi ada yang mengatakan bahwa bank berasal dari bahasa Belanda yang berarti kantor penyimpanan uang. Sedangkan banko merupakan kata yang bermakna simbol penukaran uang di Italia.

Fuad Mohd Fachruddin, berpendapat bahwa yang dimaksud dengan bank menurut istilah adalah suatu perusahaan yang memperdagangkan utang piutang, baik berupa uangnya sendiri maupun uang orang lain.

Masjfuk Zuhdi berpendapat bahwa yang dimaksud bank non islam (Conventional Bank) adalah sebuah lembaga keuangan yang fungsi utamanya untuk menghimpun dana yang kemudian disalurkan kepada orang atau lembaga yang membutuhkannya guna investasi (penanaman modal) dalam usaha-usaha yang produktif dengan sistem bunga.

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa bank adalah lembaga tempat penyimpanan uang atau tempat penghimpunan uang yang gunanya untuk disalurkan kepada orang lain yang membutuhkan dengan memakai sistem bunga.

B.      Sejarah Pendirian Bank

Bank merupakan hasil perkembangan cara-cara penyimpanan harta benda, para saudagar merasa khawatir membawa perhiasan dan yang lain-lainnya dari satu tempat ke tempat lainnya karena di pelabuhan dan tempat-tempat lain banyak pencuri, maka bank merupakan alternative yang tepat untuk menitipkan barang-barang berharga, karena bank dapat dipercaya dan dapat menjaga harta dengan kekuatan tenaga, dengan demikian berdirilah bank-bank dengan cara-caranya. Bank dapat pula memberi jaminan kepada penyimpan dan penyimpan dapat pula menggunakan simpanannya dengan menggunakan cheque, wesel dan surat-surat lainnya.

Bank pertama kali berdiri di Venesia dan Genoa di Italia, kira-kira abad ke-14, kota-kota tersebut dikenal sebagai kota perdagangan. Dari kedua kota ini, berpindahlah system bank ke Eropa Barat. Di Inggris didirikan Bank of England pada tahun 1696.

Sedangkan dalam versi islam Nabi pernah meminjam 5 dirham dan mengembalikan 7 dirham, dan juga Nabi meminjam unta berumur 2 tahun dan setahun kemudian Nabi mengembalikan dengan unta berumur 3 tahun.

C.      Usaha-Usaha Perbankan Serta Pendapat Ulama Mengenai Hal Itu

Yang dimaksud dengan deposito bank adalah uang yang dititipkan pada pihak bank oleh pribadi maupun lembaga usaha tertentu untuk disimpan dan kemudian ditarik kembali saat yang dibutuhkan atau berdasarkan syarat yang disepakati bersama. Ditinjau dari kebebasan pihak bank dalam mengoperasikan deposito, deposito terbagi menjadi dua: a) Deposito kontan biasa. Yakni deposito yang menurut kebiasaan digunakan dan dioperasikan secara bebas oleh pihak bank dengan catatan harus dikembalikan pada saat yang ditentukan. b) Deposito support atau deposito kontan dengan target tertentu.

Pada hakekatnya deposito merupakan penitipan, tetapi dalam ilmu fiqih kita tidak bisa mengatakan bahwa itu merupakan penitipan, karena yang dimaksud penitipan yaitu mewakilkan kepada pihak lain untuk menyimpan harta. Maka dari itu lebih tepat kita menyebut hal tersebut dengan sebutan pinjaman (‘ariyah).

Sementara dalam Tuhfatul Fuqaha oleh as Samarqandi disebutkan “segala sesuatu yang hanya dapat digunakan dengan dikonsumsi, bila dipinjamkan maka ia menjadi hutang, namun bisa disebut sebagai pinjaman dalam bahasa kiasan.

Sementara itu dalam deposito bank pasti terdapat bunga bank atau pemberian lebih terhadap pinjaman atau uang yang dititipkan kepada bank. Mengenai bunga bank ini ulama mengalami kontroversi dalam menentukan hukumnya.

Pada garis besarnya para ulama terbagi kepada tiga bagian (tiga golongan) dalam menghadapi masalah bunga perbankan ini, yaitu kelompok yang mengharamkan, kelompok yang menganggapnya subhat (samar) dan kelompok yang menganggap halal (boleh).

Muhammad Abu Zahrah, Abul A’la al Mauludi, Muhammad Abdul al ‘Arabi dan Muhammad Nejatullah Shiddiqi adalah kelompok yang mengharamkan bunga bank, baik yang mengambilnya (bagi penyimpan di bank) maupun bagi yang mengeluarkannya (peminjam uang di bank).

Alasan diharamkannya adalah karena sudah terbukti bahwa akad di bank itu merupakan pinjaman. Bahkan keputusan Ijma’ Muktamar Islam menyatakan bahwa bunga bank tersebut hukumnya haram dan termasuk riba seperti yang diharamkan oleh nash al qur’an.

Ulama Muhammdiyah dalam muktamar tarjih di Sidoarjo  Jawa Timur tahun 1968 memutuskan bahwa bunga yang diberikan oleh bank-bank milik Negara kepada nasabahnya dan sebaliknya adalah termasuk masalah mutasyabihat, yang dimaksud dengan masalah mutasyabihat adalah perkara yang belum ditemukan kejelasan hukum halal atau haramnya, sebab mengandung unsur-unsur yang mungkin dapat disimpulkan sebagai perkara yang haram, tetapi ditinjau dari unsur lain ada pula unsur yang meringankan keharamannya.

Pendapat yang ketiga adalah pendapat yang menghalalkan pengambilan atau pembayaran bunga di bank yang ada dewasa ini, baik bank Negara maupun bang swasta, pendapat ini dipelopori oleh A.Hasan yang juga dikenal oleh Hasan Bandung meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di pesantren bangil, adapun alasan yang digunakannya adalah firman Allah janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda. Jadi yang termasuk riba menurut A. Hasan adalah bunga yang berlipat ganda, bila bunga hanya dua prosen dari modal pinjaman itu, itu tidak berlipat ganda, maka tidak termasuk bunga yang diharamkan oleh agama Islam.

Giro bank adalah satu proses yang dilakukan pihak bank untuk meletakkan sejumlah dana agar digunakan oleh nasabahnya dengan imabalan harus dikembalikan beserta bunganya pada waktu yang ditentukan. giro bank ada dua yaitu giro bank yang harus dilunasi dan giro bank dengan jaminan

Diantara bentuk giro bank yang harus dilunasi adalah: pinjaman uang, pemotongan nilai kertas komersial/kertas berharga dan giro berkwitansi. Dan setiap pinjaman yang berbunga adalah riba yang diharamkan. Proses pemotongan dengan cara yang dilakukan oleh bank-bank riba termasuk system kerja yang diharamkan, karena mengandung unsur riba.

Kalau giro berkwitansi yang merupakan perjanjian sudah dibekali dengan dana penuh (dari pihak nasabah), maka itu termasuk penjamin yang diperbolehkan, sehingga tidak masalah. Sementara giro bank dengan jaminan yang terdiri atas jaminan khusus dan surat jaminan (L/C). Mengenai surat jaminan (L/C), hal ini tidak menjadi  masalah sebab pihak bank hanya menarik uang administrasi.

Diantara jasa perbankan yang diberikan oleh pihak bank adalah menyediakan kertas komersial, seperti giro, cek, rekomendasi izin untuk mewakili nasabahnya dengan imbalan biaya administrasi. Semua itu diperbolehkan dan tidak menjadi masalah.

Mengenai wesel bank yaitu transfer uang dengan upah tertentu, hal tersebut diperbolehkan dan tidak menjadi masalah.

Sertifikat pengelolaan modal adalah surat yang menetapkan hak terhadap sejumlah dana yang dititipkan pada bank sebagai deposito yang mengikuti aturan simpan pinjam dan aturan-aturan khusus tertentu. Sertifikat pengelolaan dana ada tiga. Pertama sertifikat yang memiliki keuntungan berlebih, kedua sertifikat berhadiah. Tidak perbedaan pendapat mengenai diharamkannya jenis sertifikat pertama dan kedua karena keduanya mengandung unsur bunga riba. Ketiga alternatif yang disyariatkan untuk sertifikat pengelolaan dana adalah sertifikat investasi.

Mengenai money changer, kalau satu jenis mata uang ditukar dengan jenis mata uang yang sama, maka harus sama nilainya dan harus diserahterimakan secara langsung. Namun jika ditukar dengan jenis mata uang lain, harus diserahterimakan secara langsung. Diperbolehkan melakukan tukar menukar uang yang berada dalam kepemilikan (meski tak ada dalam lokasi transaksi)  menurut pendapat ulama yang paling benar. Dengan syarat tanpa mengambil keuntungan lagi dari tukar menukar, untuk mencegah terjadinya riba.

Masih ada perbedaan pendapat tentang penukaran uang di masa mendatang dengan standarisasi yang ditentukan terlebih dahulu. Yakni dengan kesepakatan akan membeli mata uang asing di masa mendatang namun dengan ditentukan harganya terlebih dahulu dan ditentukan juga serah terimanya. Dasar perbedaan pendapat itu adalah perbedaan pendapat tentang keberadaan perjanjian semacam itu, apakah tukar menukar uang atau hanya merupakan janji untuk tukar menukar. Kemungkinan yang paling benar adalah pendapat yang membolehkannya.

Jika dilihat dari ushul fiqih menurut kaidah al masyaqat tajlibut taisir dan adzdzararu yuzalu juga maslahatul mursalah maka hal itu diperbolehkan, karena jika hal tersebut dilarang akan menyulitkan kita berhubungan dengan Negara lain yang berbeda mata uang dengan kita. Sehinggga menghilangkan kemasyaqatan lebih ditekankan dalam hal ini.

D.      Bank Islam

Merupakan suatu lembaga keuangan yang fungsinya menghimpun dana untuk disalurkan kepada pihak yang membutuhkan tanpa bunga. Tujuannya untuk memacu perkembangan ekonomi dan kemajuan sosial Negara islam dan masyarakatnya baik secara individual maupun kolektif. Disamping itu untuk menghindari system bunga. Adapun pengganti system bunga adalah: wadhi’ah, mudharabah(kerjasama pemilik modal dengan pelaksana), syirkah, murababah(jual beli barang dengan tambahan harga atas dasar hargapembelian yang pertama secara jujur, qardh hasan, boleh mengelola zakat yang pemerintahnya tidak mengelola zakat secara langsung, boleh menerima dan memungut bayaran untuk administrasi.

TERIMA KASIH

SEMOGA BERMANFAAT

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers