Tag Archives: kepala sekolah

KEPALA SEKOLAH SEBAGAI MANAJER DI SMPN 2 PAGERWOJO


KEPALA SEKOLAH SEBAGAI MANAJER DI SMPN 2 PAGERWOJO

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tidak bisa terlepas dari peran dan fungsi kepala sekolah sebagai manajer, dan sekaligus sebagai pemimpin lembaga pendidikan. Kepala sekolah merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan lembaga (sekolah) tersebut. Oleh karena, dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, kepala sekolah harus memiliki kompetensi atau kemampuan menjadi manajer yang bagus, sehingga semua kegiatan yang telah diprogramkan dapat berjalan dengan baik.

Kepala sekolah sebagai manajer mempunyai peran yang sangat menentukan dalam pengelolaan manajemen sekolah. Dalam hal ini kepala sekolah menjalankan fungsi-fungsi manajemen. Apabila fungsi-fungsi manajemen tersebut telah dilaksanakan dengan baik, akan berpengaruh pula terhadap mutu pendidikan.

Dalam rangka melaksanakan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama atau kooperatif, memberi kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah.

Sebagai seorang manajer, kepala SMPN 2 Pagerwojo selalu berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, antara lain:

1)          Program Kerja yang Direncanakan

Setiap kegiatan akan berjalan dengan baik apabila diprogramkan secara terencana  dan matang, dilaksanakan dengan baik, dan tidak kalah pentingnya adalah pengawasan secara efektif. Seperti yang disampaikan oleh kepala SMPN 2 Pagerwojo, bahwa setiap sie pada awal tahun pelajaran diharuskan membuat program kerja sesuai dengan tugas dan bidangnya masing-masing Pembuatan program kerja tersebut, disamping berfungsi  untuk syarat mencairkan/mendapatkan vakasi atau dana dari sekolah, juga sebagai kontrol agar kegiatan yang telah diprogramkan dapat berjalan secara maksimal.

Adapun prosedur untuk mendapatkan vakasi atau dana dari sekolah, yaitu dengan cara mengajukan proposal kepada bendahara sekolah, setelah mendapat rekomendasi dari kepala sekolah. Pada tingkatan  selanjutnya  setelah dana cair, maka masing-masing sie tersebut harus membuat laporan atau mempertangggungjawabkan secara tertulis tentang kegunaan dana tersebut. Di samping itu, masing-masing sie termasuk Wali Kelas, juga harus memberikan laporan dalam bentuk tertulis terhadap pekerjaan yang mereka kerjakan dalam setiap bulannya, sebagai bentuk tugas dan tanggungjwabanya, disamping untuk mendapatkan uang honorarium dari sekolah.

Dengan adanya perencanaan program kerja yang matang, maka tujuan pendidikan dan program yang akan dilaksanakan sekolah tersebut jelas. Apabila arah sudah jelas, maka mudah untuk mencapainya dan mutu pendidikan dapat ditingkatkan.

2)          Pengintensifan Rapat Sekolah

Rapat merupakan suatu bentuk pertemuan kelompok yang bersifat tatap muka untuk merencanakan suatu program, memecahkan masalah, dan untuk mendapatkan suatu kesepakatan bersama. Pada umumnya rapat merupakan pertemuan internal diantara para anggota pada suatu lembaga atau organisasi, untuk membicarakan, merundingkan, dan mencari solusi terhadap berbagai masalah yang menyangkut kepentingan bersama. Rapat juga merupakan suatu sarana yang efektif, dan efesien untuk mengambil keputusan bersama secara demokratis.

Kepala Sekolah telah memanfaatkan rapat tersebut sebagai forum untuk mengevaluasi berbagai kegiatan dalam lembaga pendidikan, termasuk di dalamnya adalah kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya rapat, maka disamping terjadi evaluasi, juga terjadi pembinaan guru oleh kepala sekolah. Sehingga guru-guru menjadi semakin terampil dan profesional dalam melakukan pembelajaran.

3)          Berani Mengambil Kebijakan dengan Resiko

Kepala sekolah sebagai penentu kebijakan di sekolah, kadangkala dihadapkan kepada keputusan-keputusan yang sulit. Suatu organisasi apapun tidak mungkin akan berjalan dengan mulus tanpa adanya problem. Demikian pula sekolah sebagai suatu organisasi yang di dalamnya terdiri dari manusia yang mempunyai latar belakang dan karakter yang berbeda-beda yang bisa menimbulkan konflik di dalam internal lembaga. Oleh karena itu, apabila terjadi konflik, kepala sekolah diharapkan mampu berperan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi dalam lembaga tersebut.

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, kepala SMPN 2 Pagerwojo telah berani mengambil suatu kebijakan, walaupun kebijakan tersebut kadangkala membuat orang merasa terpaksa, tidak suka, dan ini wajar. Sebab suatu kebijakan apapun tidak mungkin akan memberikan kepuasan kepada semua pihak, meskipun kebijakan tersebut mempunyai tujuan baik. Apabila kepala sekolah tidak berani dalam mengambil keputusan, maka yang terjadi adalah sekolah akan mengalami stagnansi dan hal itu sangat membahayakan bagi kelangsungan sekolah ke depan.

4)          Pengefektifan Guru Piket

Kegiatan proses belajar mengajar merupakan salah satu kunci sukses dalam penyelenggaraan pendidikan. Berhasil tidaknya penyelenggaraan pendidikan dapat terlihat keaktifan dalam proses kegiatan belajar megajar. Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai administrator harus mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efesien, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, guru piket mempunyai peran yang sangat besar, antara lain; (1) mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, (2) mengatur pergantian jam kegiatan belajar mengajar, (3) mengganti/memberikan tugas dari guru yang berhalangan hadir, dan (4) mengendalikan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, dan (5) memberikan izin bagi siswa yang mempunyai keperluan atau tugas ke luar sekolah. Oleh karena itu, apabila difungsikan secara optimal guru piket akan sangat membantu terhadap ketertiban proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Guru piket harus diberdayakan semaksimal mungkin, karena peran guru piket cukup besar, yaitu mengisi kelas apabila guru yang bersangkutan berhalangan untuk hadir. Jika hal itu dibiasakan dan dilaksanakan secara efektif, maka kebiasaan jam kosong akan dapat dikurangi dan pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan.

5)          Pengiriman Guru untuk Mengikuti Workshop, Penataran, atau Diklat

Workshop, penataran atau diklat merupakan salah satu kegiatan yang dapat mendorong peningkatan sumber daya manusia (guru). Sebab kegiatan semacam ini, walaupun dengan waktu yang relatif singkat dan amat terbatas, dapat menambah wawasan keilmuan mereka selaku pengajar, pendidik dan pembimbing yang berinteraksi langsung dengan siswa. Disamping itu dapat menunjang tugas dan profesinya sebagai guru dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar. Guru sebagai praktisi pendidikan dituntut mampu  menyesuaikan diri dengan proses pendidikan yang selalu berkembang dan mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan profesi. Apabila guru selaku pelaksana pembelajaran masih menggunakan pola-pola lama tanpa dibarengi dengan pembelajaran yang inovatif dan kreatif, serta menyenangkan, menyebabkan anak menjadi pasif, pembelajaran yang membosankan, dan tujuan pembelajaranpun  akan sulit untuk dicapai.

Dengan adanya pengiriman guru-guru untuk mengikuti kegiatan seperti workshop, dan lain-lain, maka guru-guru akan menjadi lebih profesional dan lebih berkompeten dalam menjalankan tugasnya. Di samping itu, kegiatan workshop, seminar dan lain-lain akan melatih pribadi guru, sehingga guru menjadi lebih mandiri dan terampil.

 

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

BEST PRACTICE KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN DI SMPN 2 PAGERWOJO KONTEKS KEPALA SEKOLAH SEBAGAI LEADER


BEST PRACTICE KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN DI SMPN 2 PAGERWOJO

KONTEKS KEPALA SEKOLAH SEBAGAI LEADER

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki  Malang)

 

Kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah, antara lain adalah, kepala sekolah sebagai pemimpin (leader), oleh karena itu kepala sekolah dituntut mampu melaksanakan kompetensi tersebut secara optimal, sehingga mutu pendidikan yang merupakan harapan bagi setiap masyarakat, dapat tercapai dengan efektif dan efesien.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan, merupakan faktor yang sangat penting, karena berjalan tidaknya lembaga pendidikan sangat bergantung kepada kepemimpinannya, atau kompetensi yang dimiliki oleh kepala sekolah tersebut. Dengan demikian kepala sekolah mempunyai tanggung jawab atas kelancaran dan keberhasilan semua pengaturan dan pengelolaan sekolah, baik  secara formal kepada atasannya (pemerintah), maupun secara informal kepada masyarakat, atau orang tua siswa, yang telah memberikan kepercayaan kepada sekolah.

Berkenaan dengan hal tersebut, demi tercapainya mutu pendidikan yang baik, diperlukan seorang pemimpin yang mempunyai disiplin tinggi, bertanggung jawab, kerja keras, dan bisa menjadi contoh bawahan (guru, karyawan, dan siswa), serta mampu mnggerakkan bawahannya, sesuai dengan tugas dan fungsinya, atau bidang dan keahlian masing-masing, dan ini telah dilakukan oleh kepala SMPN 2 Pagerwojo, sebagaimana hasil wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah kurikulum:

Menurut penilaian saya, pak Dirwan merupakan sosok seorang pemimpin atau kepala sekolah yang:

  1. Idealis,(setiap program sekolah yang telah ditetapkan harus dilaksanakan secara optimal, beliau selalu mengawal, memantau, dan mengevaluasi sejauhmana program tersebut dapat dilaksanakan).
  2. Disiplin dan bertanggung jawab,(beliautermasuk kepala sekolah yang sangat menghargai waktu, datang ke sekolah lebih awal dibandingkan dengan guru-guru, apabila beliau tidak masuk sekolah karena dinas luar, atau kepentingan lain, ia selalu memberitahu kepada guru, komunikasi dengan guru piket. Begitu sebaliknya, apabila ada guru yang tidak masuk, entah itu ijin apalagi tidak,.beliau selalu mengetahui. Beliau sangat peduli terhadap pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), dan punya prinsip, bahwa salah satu keberhasilan pendidikan terletak pada ketertiban pelaksanaan KBM, dengan demikian diusahakan jangan sampai ada kelas yang kosong, karena hal ini akan berdampak buruk kepada siswa, yakni siswa terkesan dimanjakan dan merasa santai.
  3. Sangat konsisten, (beliau mengajak disiplin kepada semua warga sekolah, terlebih dahulu beliau memberi contoh disiplin, memberi penghargaan (reward) bagi guru-guru yang berprestasi, memberikan hak-hak guru sesuai dengan tingkat kedisiplinan mereka).

 

Hal senada juga disampaikan oleh bagian Kesiswaan, sebagaimana hasil wawancara berikut:

Menurut pendapat saya, pak Dirwan merupakan pemimpin yang mempunyai semangat kinerja yang tinggi untuk meningkatkan mutu sekolah, memiliki SDM  yang bagus, dilihat dari pendidikannya beliau memiliki kualifikasi ijazah yang cukup memadai, juga faktor usia yang relatif lebih muda dibandingkan dengan kepala sekolah-kepala sekolah sebelumnya, mungkin faktor ini yang membuat beliau semangatnya lebih tinggi. Beliau kepala sekolah yang idealis, mempunyai komitmen yang tinggi, disiplin yang tinggi, berani mengambil kebijakan dengan segala resiko, dan mampu menggerakkan bawahan (guru dan staf sekolah) dengan baik. Sangat menghargai terhadap prestasi yang dicapai oleh guru, misalnya setiap guru yang membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas) diberi penghargaan (reward) yang berupa finansial (uang).

Berdasarkan amatan peneliti secara langsung, dan didukung dengan hasil wawancara, bahwa kepala SMPN 2 Pagerwojo merupakan seorang pemimpin yang komitmen terhadap kedisiplinan. Diantaranya disiplin waktu, hal ini telah peneliti buktikan dengan cara peneliti datang ke lokasi penelitian tepat pukul 07.00 WIB, ternyata kepala sekolah telah berada di sekolah, padahal jarak yang ditempuh dari rumah ke sekolah cukup jauh, ini menunjukkan bahwa kepala SMPN 2 Pagerwojo memiliki indikator pemimimpin yang disiplin.

Hal tersebut diperkuat hasil wawancara dengan Bapak Gendut bendahara BOS, sebagai berikut:

…, betul, Pak Dirwan seorang pemimpin yang sangat disiplin dalam menjalankan tugas dan sangat menghargai waktu, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, pukul (07.30 WIB), beliau sudah datang di sekolah, sering datang lebih awal dibandingkan dengan guru-guru, Hal ini beliau lakukan untuk memberikan contoh kepada guru-guru atau staf sekolah yang lain, agar disiplin dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas masing-masing.

Sebagai seorang pemimpin, kepala SMPN 2 Pagerwojo selalu berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, antara lain:

Penanaman Sikap Disiplin

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa kepala SMPN 2 Pagerwojo merupakan pemimpin yang sangat komitmen terhadap kedisiplinan. Disiplin berarti melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang menjadi kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Kedisiplinan merupakan faktor penting untuk mencapai sukses, oleh karena itu, kedisiplinan mutlak diperlukan dalam rangka mencapai suatu kesuksesan. Kepala SMPN 2 Pagerwojo mempunyai prinsip bahwa pendidikan akan berhasil baik, manakala komponen pelaku pendidikan (kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan, serta staf sekolah), telah tertanam sikap disiplin pada diri mereka masing-masing dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Dengan penanaman sikap disiplin yang dilakukan oleh kepala sekolah melalui metode keteladanan, para guru dan tenaga kependidikan akan malu kalau mereka tidak disiplin dalam menjalankan tugasnya. Maka akhirnya disiplin akan menjadi budaya di sekolah tersebut.

Pemberdayaan Guru secara Optimal

Guru merupakan ujung tombak keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar, guru juga merupakan praktisi pendidikan yang berinteraksi secara langsung dengan anak didik. Oleh karena itu, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal, guru harus profesional dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Artinya dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM), menggunakan metode pembelajaran yang bervariatif, menggunakan berbagai media pengajaran, dan tidak kalah pentingnya harus didukung dengan berbagai kesiapan perangkat pembelajaran, diantaranya Silabus atau Kurikulum, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Program Semester maupun Program Tahunan, Analisis Evaluasi, dan lain-lain. Kepala SMPN 2 Pagerwojo mengatakan bahwa untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, perlu adanya kerjasama yang baik, dan komitmen dari guru-guru itu sendiri.

Hal tersebut diperkuat hasil wawancara dengan Mar’atun Khoridah, sebagai berikut :

Pak Dirwan termasuk pemimpin yang mampu memanaj guru-guru dengan baik, sehingga dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan disiplin. Pada waktu rapat, beliau sering mengatakan bahwa kesuksesan penyelenggaraan pendidikan, yang kegiatan utamanya adalah pembelajaran, sangat ditentukan oleh guru, dengan demikian guru harus  bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Menurut saya semua guru SMPN 2 Pagerwojo telah melaksanakan tugasnya dengan baik, walaupun masih perlu terus ditingkatkan, hal ini telah menjadi komitmen bersama untuk selalu berupaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ini.

Jika guru sudah mempersiapkan semua perangkat pembelajarannya dengan matang dan siap terjun ke lapangan, maka guru tersebut merupakan guru yang profesional. Guru profesional merupakan indikator peningkatan mutu pendidikan yang ada di lembaga pendidikan.

Pemberdayaan MGMPS

MGMPS merupakan salah satu sarana komunikasi antara guru-guru. MGMPS ini mempunyai tujuan untuk melatih dan mengembangkan kreatifitas guru, mencari solusi berbagai masalah di lapangan yang dihadapi oleh guru terkait dengan proses kegiatan belajar mengajar. Kegiatan semacam ini akan sangat efektif dan efesien apabila difungsikan secara baik, dengan berbagai agenda yang jelas berkenaan dengan tugas dan tanggung jawab guru, misalnya penyusunan/pembuatan perangkat pembelajaran seperti; Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Analisis Evaluasi dan lain-lain. Di samping itu, KKG berfungsi untuk sekedar  refresing setelah mereka bertemu secara langsung dengan kawan-kawan guru yang lain, juga berguna untuk mengevaluasi kemampuan diri sendiri masing-masing, sehingga dengan belajar bersama-sama melalui kegiatan KKG tersebut, dapat meningkatkan kemampuannya sebagai tenaga profesional pendidikan terkait dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Hal itu dikatakan oleh Sri Wahyuni sebagaimana hasil wanacara berikut:

Untuk menambah wawasan pengetahuan dan keilmuan yang berhubungan dengan tugas-tugas guru, kepala SMPN 2 Pagerwojo membentuk wadah komunikasi antara guru-guru yang  berupa MGMPS. Melalui forum ini manfaatnya banyak sekali, antara lain berfungsi sebagai pembinaan bagi guru-guru, penyampaian informasi aktual yang terkait dengan kegiatan proses belajar mengajar, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan penyusunan perangkat pembelajaran (Silabus, RPP, Program Semester, Program Tahunan dan lain sebagainya). Intinya apabila MGMPS ini difungsikan secara maksimal, akan sangat membantu tugas-tugas guru dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar.

 

Dengan adanya banyak guru yang mengikuti kegiatan KKG, maka guru akan bisa sharing dengan temannya dan berbagi pengalaman dengan temannya tersebut. Hal tersebut menambah pengalaman guru dan menjadikan guru menjadi lebih profesional.

Penjalinan Kerjasama dengan Masyarakat

Kepala sekolah sebagai pemimpin lembaga pendidikan merupakan kunci keberhasilan yang harus menaruh perhatian tentang apa yang terjadi pada peserta didik di sekolah, dan apa yang diperkirakan orang tua siswa, serta masyarakat tentang sekolah. Kepala sekolah sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan, harus senantiasa berusaha membina dan mengembangkan hubungan kerjasama yang baik dengan masyarakat, guna mewujudkan sekolah yang efektif, efesien, dan produktif.

Kepala SMPN 2 Pagerwojo telah menjalin hubungan kerjasama yang baik,  baik dengan orang tua siswa, maupun  dengan tokoh masyarakat. Orang tua siswa, dan masyarakat merupakan pelanggan pendidikan, oleh karena itu sekolah harus mampu memproduk lulusan (output) yang baik, sehingga tidak mengecewakan para pelanggan. Kepala SMPN 2 Pagerwojo mencontohkan, bahwa sekolah ibarat pabrik yang memproduksi barang atau jasa, sedangkan  masyarakat merupakan konsumen dari produk pabrik tersebut. Dengan demikian pabrik harus mampu memproduk barang atau jasa yang berkualitas, sehingga konsumen (customer) dapat dilayani dengan baik, dan merasa puas.

Adapun bentuk kerjasama dengan masyarakat yang dilakukan oleh kepala SMPN 2 Pagerwojo, antara lain dengan cara melibatkan orang tua siswa dan tokoh masyarakat yang tergabung dalam wadah organisasi, yaitu Komite Sekolah, dalam penyusunan/pembuatan program sekolah.

Kerja sama dengan masyarakat merupakan salah satu indikator bahwa sekolah tersebut menerapkan MBM (Manajemen Berbasis Sekolah). Apabila kerja sama dengan masyarakat sudah berlangsung cukup baik, maka pada akhirnya partisipasi masyarakat ini dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Penanaman Budaya Iklim Kerja yang Kondusif dan Bersih

Lingkungan iklim kerja yang kondusif dan bersih sangat penting untuk diperhatikan, karena hal ini akan lebih memungkinkan kenyamanan belajar bagi siswa, maupun kenyamanan mengajar bagi guru. Lingkungan fisik yang menarik, lingkungan kerja yang kondusif dan bersih, tentu dengan mutu yang bagus, akan menarik minat dan simpati dari masyarakat, sehingga untuk memasukkan putra-putrinya ke sekolah ini akan lebih memungkinkan.

Budaya kerja yang kondusif dan bersih akan menyebabkan guru-guru dan tenaga kependidikan merasa nyaman dan tentram bekerja di lembaga tersebut. Pada akhirnya apabila sudah muncul kenyamanan, maka niat untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan memajukan lembaga tersebut akan muncul.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

KONSEP KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN


KONSEP KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Kepala sekolah sebagai pemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang menekankan pada komponen-komponen yang terkait erat dengan pembelajaran, meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen, penilaian, pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah.
Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi, bakat, minat dan kebutuhannya. Kepemimpinan pembelajaran ditujukan juga untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswa meningkat: prestasi belajar meningkat, kepuasan belajar semakin tinggi, motivasi belajar semakin tinggi, keingintahuan terwujudkan, kreativitas terpenuhi,inovasi terealisir, jiwa kewirausahaan terbentuk, dan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat tumbuh dengan baik. Kepemimpinan pembelajaran jika diterapkan di sekolah akan mampu membangun komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school).

Sekolah belajar memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin, memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan belajar ulang, mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya, memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya, mendorong warga sekolah untuk mempertanggungjawabkan proses dan hasil kerjanya, mendorong teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa, mengajak warga sekolahnya untuk menjadikan sekolahnya berfokus pada layanan prima kepada siswa, mengajak warga sekolahnya untuk siap dan akrab menghadapi perubahan, mengajak warga sekolahnya untuk berpikir sistem, mengajak warga sekolahnya untuk komit terhadap keunggulan mutu, dan mengajak warga sekolahnya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus.

Direktorat Tenaga Kependidikan (2009) mengembangkan kepemimpinan pembelajaran berdimensi 12, yaitu: (1) mengartikulasikan pentingnya visi, misi, dan tujuan sekolah yang menekankan pada pembelajaran, (2) mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum, (3) membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan kelas, (4) mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya, (5) membangun komunitas pembelajaran, (6) menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional, (7) melayani kegiatan siswa, (8) melakukan perbaikan secara terus menerus, (9) menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif, (10) memotivasi, mempengaruhi, dan mendukung prakarsa, kreativitas, inovasi, dan inisiasi pengembangan pembelajaran, (11) membangun teamwork yang kompak, dan (12) menginspirasi dan memberi contoh. Sebagai perbandingan dengan model kepemimpinan pembelajaran oleh para ahli yang lain, pada akhirnya bisa disimpulkan bahwa tidak ada model yang sempurna. Setiap model memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Model yang terbaik untuk diterapkan adalah model yang cocok dengan kebutuhan sekolah dan kepala sekolahnya sendiri. Sehingga muncullah sebuah pameo tentang hubungan antara sekolah, guru dan kepala sekolahnya. “The color of the class is beyond the teacher, but the color of the school….is beyond the principals”. Dalam rangka pemahaman dan kepraktisan, pada akhirnya kepemimpinan adalah seni daripada ilmu.

Adapun salah satu model kepemimpinan pembelajaran adalah: Model Weber. Ada 5 bagian dari model weber : merumuskan misi sekolah, mengelola kurikulum dan pembelajaran, mendorong terciptanya iklim belajar yang positif, mengobservasi dan memperbaiki pembelajaran, serta melakukan penilaian program pembelajaran

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers