Tag Archives: kurikulum pendidikan islam

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM


MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Para pakar pendidikan menyatakan bahwa fungsi utama sekolah adalah pembinaan dan pengembangan semua potensi individu, terutama pengembangan potensi fisik, intelektual dan moral setiap peserta didik. Maka sekolah harus dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan formal untuk mengembangkan semua potensi peserta didik sebagai sumber daya manusia. Dalam Undang-undang Sisdiknas dinyatakan bahwa sekolah berfungsi membentuk manusia Indonesia seutuhnya yaitu warga negara yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,memiliki pengetahuan dan keterampilan, mandiri, kritis dan kreatif, sehat jasmani dan rohaninya serta mempunyai rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan negara.

Tujuan dari pendidikan, isi, bahan, metode, serta evaluasi hasil belajar dirancang menjadi suatu program kegiatan pendidikan yang disebut kurikulum. Maka dalam rangka memenuhi fungsi itulah kurikulum perlu disusun dan diorganisir, dikembangkan sedemikian rupa agar sejalan dengan harapan dan fungsinya. Kurikulum sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan mempunyai peran sentral dalam kegiatan pendidikan di sekolah. Untuk mewujudkan kegiatan pendidikan tersebut, gurulah yang berfungsi menjabarkan, mengembangkan, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi dalam proses pembelajaran.

Awalnya kurikulum diterapkan dalam konsep sekolah atau pendidikan formal. Dalam pendidikan formal, kurikulum biasanya disusun oleh pemilik otoritas, misalnya National Curriculum for England untuk negara Inggris dan Departmen Pendidikan Nasional di Indonesia. Saat ini kurikulum juga digunakan dalam setting pendidikan informal, seperti kursus. Kurikulum dalam setting informal disusun oleh lembaga tersebut sesuai kebutuhan. Kurikulum memiliki fungsi strategis dalam pendidikan, walaupun bukan satu-satunya perangkat tunggal penjabaran strategi pendidikan. Fungsi kurikulum dalam peningkatan mutu pendidikan dan penjabaran visi tergantung dari kecakapan guru, ketercakupan substansi kurikulum, dan evaluasi proses belajar.

Pembaruan kurikulum merupakan tuntutan mutlak bagi lembaga pendidikan (sekolah) agar keberadaannya tetap fungsional, dalam arti senantiasa dapat menyiapkan program-programnya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang dilayaninya, yang senantiasa berubah dan berkembang. Hal demikian itu juga disebabkan karena fungsi lembaga pendidikan (sekolah) biasa digunakan oleh masyarakat sebagai “pintu gerbang” untuk menghadapi berbagai tuntutan dan perubahan yang dihadapi oleh masyarakat.

Terlebih lagi dalam pendidikan Islam, pembaruan kurikulum dengan berbagai model kurikulum harus lebih dipertajam lagi. Hal tersebut dikarenakan mengadakan modifikasi dalam pendidikan Islam itu tidak semudah membalik telapak tangan. Maka dari itu, untuk menjelaskan dan mengenal lebih lanjut mengenai model-model pengembangan kurikulum pendidikan Islam tersebut, penulis akan menyusun sebuah tulisan yang berjudul “Model-Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam” yang penulis kumpulkan dari berbagai referensi yang ada.

B.     Pengertian Kurikulum

Kurikulum sebagai suatu rancangan dalam pendidikan memiliki posisi yang strategis, karena seluruh kegiatan pendidikan bermuara kepada kurikulum. Begitu pentingnya kurikulum sebagaimana sentra kegiatan pendidikan, maka didalam penyusunannya memerlukan landasan atau fondasi yang kuat, melalui pemikiran dan penelitian secara mendalam.

Kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang semula dalam bidang olah raga, yaitu curere yang berarti jarak terjauh lari yakni jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari start sampai finish. Dalam bukunya, Ramayulis mengutip dari Langgulung yang menyatakan bahwa kurikulum berasal dari kata curir yang berarti pelari dan curare yang berarti tempat berpacu. Istilah curere belum terdapat dalam kamus Webster tahun 1812 dan baru timbul untuk pertama kalinya dalam kamus tahun 1856. Kurikulum juga berarti Chariot, semacam kereta pacu pada zaman dahulu, yakni suau alat yang membawa seseorang dari start sampai finish. Jika dalam pendidikan Islam, maka konteksnya berubah yakni suatu hal yang harus dilalui oleh peserta didik dan pendidik yang sedang melakukan kegiatan pembelajaran.

Istilah kurikulum ini dipopulerkan oleh John Franklin Bobbit dalam bukunya The Curriculum yang diterbitkan pada tahun 1918. Menurut Bobbit, kurikulum merupakan suatu naskah panduan mengenai pengalaman yang harus didapatkan anak-anak agar menjadi orang dewasa yang seharusnya. Oleh karena itu kurikulum merupakan kondisi ideal dibandingkan kondisi real. Kurikulum diibaratkan sebagai “jalur pacu” atau “kendaraan” untuk mencapai tujuan pendidikan dan kompetensi lulusan. Adapun BPNSP mendefinisikan kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

C.     Model-Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam

Dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam, terdapat 3 model pengembangan, yaitu CBSA, KBK dan KTSP.

  1. Model CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) merupakan model pengembangan kurikulum yang digunakan pada tahun 1994. Model ini bersifat sentralisasi dan menekankan pada penguasaan materi.
  2. Model KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) adalah untuk menghasilkan terjadinya demokratisasi pendidikan. Hasil keluaran dari KBK adalah terciptanya para lulusan yang menghargai keberagaman. KBK yang rencananya diberlakukan pada tahun pelajaran 2003/2004 akan melaksanakan suatu sistem pembelajaran yang (mungkin) asing bagi guru yang terbiasa menggunakan sistem klasikal. Hal itu terjadi karena di dalam KBK proses belajar mengajarnya menuntut guru dan peserta didik bersikap toleran, menjunjung tinggi prinsip kebersamaan dan kebhinekaan serta berpikiran terbuka. Dengan demikian guru dan peserta didik dapat bersama-sama belajar menggali kompetensinya masing-masing dengan optimal.
  3. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Jadi yang dinamakan KTSP adalah kurikulum berbasis kompetensi yang dilaksanakan dan dioperasionalkan di masing-masing satuan pendidikan. Menurut analisis Yamin, kurikulum ini termasuk dalam kurikulum yang berbasis life skill yang dilaksanakan di masing-masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum ini berpijak dari kurikulum berbasis kompetensi, hanya saja masing-masing satuan pendidikan mempunyai kewenangan mengembangkan isi kurikulum tersebut sesuai dengan kebutuhan atau stakeholders yang ada di daerahnya. Dengan adanya kurikulum ini, wajar apabila antara sekolah satu dengan sekolah lainnya tidak sama strukturnya atau madrasah satu dengan madrasah lainnya berbeda isi dan standarnya.

Penjelasan di atas, hanyalah merupakan penjelasan inti, penjelasan yang lebih mendalam akan dibahas pada babnya masing-masing. Adapun perbedaan model-model tersebut akan diterangkan di bawah ini.

D.     Perbedaan Model-Model Kurikulum

Perbedaan KTSP dengan kurikulum 1994 minimal ada tiga hal yang mendasar, yaitu:

  1. Aspek kewenangan pengembangan: KTSP: pusat hanya mengembangkan kompetensi sebagai standar sedangkan elaborasi kompetensi diserahkan daerah/madrasah dalam bentuk silabus. Kurikulum 1994: seluruhnya berada di tangan pusat dan daerah hanya kebagian pengembangan kurikulum lokal dengan porsi 80% pusat dan 20% daerah.
  2. Aspek pendekatan pembelajaran; KTSP: berbasis kompetensi. Kurikulum 1994: sebagian besar berbasis konten/isi.
  3. Penataan konten: KTSP: terjadi penataan materi, jam belajar, dan struktur program. Kurikulum 1994: tidak terjadi penataan materi, jam belajar, dan struktur program.

Karena KTSP itu sebenarnya adalah KBK yang diaplikasikan dalam masing-masing satuan pendidikan, maka penulis juga akan menjelaskan perbedaan KBK dengan Kurikulum 1994, agar pembaca mempunyai gambaran yang lebih jelas. Perbedaan itu sebagaimana dikemukakan oleh Mulyasa ada 9 macam, antara lain:

  1. Kurikulum 1994: menggunakan pendekatan penguasaan ilmu pengetahuan, yang menekankan pada isi  atau materi berupa pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi yang diambil dari bidang-bidang ilmu pengetahuan. KBK: menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi tertentu di sekolah yang berkaitan dengan pekerjaan yang ada di masyarakat.
  2. Kurikulum 1994: standar akademis yang diterapkan secara seragam bagi setiap peserta didik. KBK: standar kompetensi yang memperhatikan perbedaan individu, baik kemampuan, kecepatan belajar maupun konteks sosial budaya.
  3. Kurikulum 1994: berbasis konten, sehingga peserta didik dipandang sebagai kertas putih yang perlu ditulisi dengan sejumlah ilmu pengetahuan (transfer of knowledge). KBK: berbasis kompetensi, sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.
  4. Kurikulum 1994: pengembangan kurikulum dilakukan secara sentralisasi, sehingga Depdiknas memonopoli pengembangan ide dan konsepsi kurikulum. KBK: pengembangan kurikulum dilakukan secara desentralisasi sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum.
  5. Kurikulum 1994: materi yang dikembangkan dan diajarkan di sekolah sering kali tidak sesuai dengan potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah. KBK: sekolah diberi keleluasaan untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.
  6. Kurikulum 1994: guru merupakan kurikulum yang menentukan segala sesuatu yang terjadi di dalam kelas. KBK: guru sebagai fasilitator yang bertugas mengondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar peserta didik.
  7. Kurikulum 1994: pengetahuan, ketrampilan dan sikap dikembangkan melalui latihan seperti latihan mengerjakan soal. KBK: pengetahuan, ketrampilan dan sikap dikembangkan berdasarkan pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual.
  8. Kurikulum 1994: pembelajaran cenderung hanya dilakukan di dalam kelas atau dibatasi oleh empat dinding kelas. KBK: pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerja sama antara sekolah, masyarakat dan dunia kerja dalam membentuk kepribadian kompetensi peserta didik.
  9. Kurikulum 1994: evaluasi nasional tidak dapat menyentuh aspek-aspek kepribadian peserta didik. KBK: evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar.

E.     Pendekatan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam

Pendekatan pengembangan kurikulum pendidikan Islam, sebagaimana yang dikemukakan oleh Muhaimin, dibagi menjadi 4, yang aplikasinya adalah sebagai berikut:

  1. Pendekatan Subyek Akademik; Perumusan Tujuan: menguasai apa yang sudah ada, yang berupa khasanah ilmu pengetahuan dari berbagai pakar, sebagaimana yang tertuang dari buku; Perumusan Isi: diambil dari buku-buku. Perumusan Strategi: iquiri; Proses evaluasi: sesuai dengan bab yang ada dibuku.
  2. Pendekatan Humanistis; Perumusan Tujuan: menekankan pada problem-problem actual yang berkembang pada saat ini. Baik problem internasional, nasional, local. Guru harus banyak pengalaman dan berimajinasi serta berkreasi membuat cerita atau fiksi untuk ditampilkan kepada seorang anak dan anak disuruh untuk menjawab pertanyaan tersebut; Perumusan Isi: menggali pemikiran anak didik. Peran guru sangat besar dalam mengembangkan kurikulum dengan membaca dari pengalaman; Perumusan Strategi: strategi pembelajaran yang aktif; Proses evaluasi: Penilaiannya adalah penilaian proses bukan hasil, yaitu pada saat melakukan pembelajaran guru melakukan penilaian.
  3. Pendekatan Teknologi; Perumusan tujuan: penguasaan kompetensi; Perumusan Isi: yang penting dicari mana topik-topik yang mendukung ia melaksanakan tugas atau tercapainya kompetensi dan tidak harus urut buku; Perumusan strategi: ditentukan dulu tujuannya; Perumusan evaluasi: harus tuntas (mastery learning); Misalnya orang mau ngajari shalat, diperinci dulu unsur-unsurnya, misalnya gerakan dan ucapan. Sehingga orang dikatakan kompeten shalat sehingga ia menguasai gerakan dan ucapan shalat.
  4. Pendekatan rekonstruksi sosial; Perumusan tujuan: sesuai dengan keadaan sosial; Perumusan isi: sesuai dengan desas-desus yang ada di masyarakat dan terjadi pada masyarakat yang belum tertata tatanan sosialnya; Perumusan strategi: harus berhubungan dengan masyarakat dengan menggunakan metode diskusi, tanya jawab dan ceramah; Perumusan evaluasi: jenisnya disesuaikan dengan karakteristik materinya.

Referensi

 Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006.

Nasution, Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.

Rosyadi, Khoiron, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

 BSNP, Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006.

Yamin, Martinis, Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP, Jakarta: Gaung Persada Press, 2008.

Susilo, Muhammad Joko, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Kencana, 2005.

Sukamadinata, Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

ASPEK SOSIO KULTURAL DALAM DESAIN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM


ASPEK SOSIO KULTURAL DALAM DESAIN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Tiap kurikulum mencerminkan keinginan, cita-cita, tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Sudah sewajarnya pendidikan harus memperhatikan dan merespon suara-suara dalam masyarakat. Pendidikan harus memberi jawaban atas tekanan-tekanan yang datang dari desakan dan kekuatan-kekuatan sosio-politik-ekonomi yang dominan pada saat tertentu.

Keputusan yang akan diambil mengenai kurikulum akhirnya bergantung pada bagaimana pengembang kurikulum memandang dunia tempai ia hidup, bagaimana ia bereaksi terhadap berbagai kebutuhan yang dikemukakan oleh berbagai golongan dalam masyarakat, dan juga oleh falsafah hidup dan falsafah pendidikannya.

Menurut Hamalik, kebudayaan merupakan suatu hal yang kompleks, karena itu dalam prakteknya kita tidak dapat melihat berbagai dimensi kebudayaan yang terpisah. Akan tetapi untuk kepentingan analisis, para ahli berpendapat bahwa kebudayaan memiliki unsur atau dimensi tertentu. Herkonverts dalam Hamalik, contohnya mengajukan empat unsur pokok dari kebudayaan yaitu:

  1. Technological equipment (alat-alat teknologi)
  2. Economic system (sistem ekonomi)
  3. Family (keluarga)
  4. Political control (kekuasaan politik)

Selain unsur-unsur diatas, Boyd sebagaimana dikutip Hamalik, mengklasifikasikan kebudayaan ke dalam berbagai dimensi berikut:

  1. Domestic, dealing with the family structure and its function
  2.  Educational, dealing with the transmissions of culture and the search for knowlwgde
  3. Political, dealing with eternal control and protection from outside forces
  4. Economic, dealing with production, distribution and consumption of material goods and services.
  5.  Religiuos, those beliefs of men beyond scientific verification
  6.  Recreational, dealing with leisure time and esthetic expression
  7.  Ameliorative, dealing with sosial service – for the aged, the ill, the phisically handicaped, the mentally ill, and the criminal.

Faktor sosial budaya sangat penting dalam penyusunan kurikulum yang relevan, karena kurikulum merupakan alat untuk merealisasikan sistem pendidikan, sebagai salah satu dimensi dari kebudayaan. Implikasi dasarnya adalah sebagai berikut:

  1. Kurikulum harus disusun berdasarkan kondisi sosial-budaya masyarakat. Kurikulum disusun bukan saja harus berdasarkan nilai, adat istiadat, cita-cita dari masyarakat, tetapi juga harus berlandaskan semua dimensi kebuadayaan seperti kehidupan keluarga, ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya.
  2. Karena kondisi sosial budaya senantiasa berubah dan berkembang sejalan dengan perubahan masyarakat, maka kurikulum harus disusun dengan memperhatikan unsur fleksibilitas dan bersifat dinamis, sehingga kurikulum tersebut senantiasa relevan dengan masyarakat. Konsekuensi logisnya, pada waktunya perlu diadakan perubahan dan revisi kurikulum, sesuai dengan perkembangan dan perubahan sosial budaya yang ada pada saat itu.
  3. Program kurikulum harus disusun dan mengandung materi sosial budaya dalam masyarakat. Ini bukan hanya dimaksudkan untuk membudayakan anak didik, tetapi sejalan dengan usaha mengawetkan kebudayaan itu sendiri. Kemajuan dalam bidang teknologi akan memberikan bahan yang memadai dalam penyampaian teknologi baru itu kepada siswa, yang sekaligus mempersiapkan mempersiapkan para siswa tersebut agar mampu hidup dalam teknologi itu. Dengan demikian, sekolah benar-benar dapat mengemban peran dan fungsinya sebagai lembaga modernisasi.

Kurikulum di sekolah-sekolah kita harus disusun berdasarkan kebudayaan nasional yang mencakup perkembangan kebudayaan daerah. Integritas kebudayaan nasional akan tercermin dalam isi dan organisasi kurikulum, karena sistem pendidikan kita bermaksud membudayakan anak didik kita berdasarkan kebudayaan masyarakat dan bangsa kita sendiri.

Selain itu, sehubungan dengan pelaksanaan tugas-tugasnya, maka para pengembang kurikulum harus melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat seperti yang dirumuskan dalam undang-undang, keputusan pemerintah, peraturan-peraturan daerah dan lain sebagainya.
  2. Menganalisis budaya masyarakat tempat sekolah berada.
  3. Menganalisis kekuatan serta potensi-potensi daerah.
  4. Menganalisis syarat dan tuntutan tenaga kerja.
  5. Menginterpretasi kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat.

Ornstein & Hunkins berpendapat bahwa faktor-faktor sosial budaya yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum adalah ras, kelas sosial, dan gender. Ras berkenaan dengan kelompok etnik yang merupakan sekelompok orang yang memiliki kesamaan bahasa, agama, keyakinan, atau moral yang berbeda dengan kelompok lainnya. Isu penanganan perbedaan ras ini akan terus berpengaruh terhadap bidang kurikulum dengan perkembangan konsep asimilasi berbagai kelompok etnis dan konsep pluralitas dalam pendidikan di sekolah.

Isu kelas sosial juga perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum. Hal ini disebabkan setiap kelompok kelas sosial menganut nilai-nilai yang berbeda antara kelompok sosial yang satu dengan yang lainnya, yang berpengaruh terhadap perilaku. Cara berinteraksi dengan orang lain, pandangan tentang masa depan, persepsi tentang keberhasilan, dan ide-ide yang berkenaan dengan pendidikan akan berbeda antara satu kelompok sosial dengan kelompok lainnya.

Gender tidak berkaitan dengan faktor biologis tetapi lebih menekankan pada faktor sosial budaya. Berkenaan dengan pengembangan kurikulum, pendidik bertanggung jawab untuk mempersiapkan anak laki-laki dan anak perempuan untuk dapat menjalankan tugasnya dalam masyarakat secara keseluruhan. Kurikulum hendaknya tidak memihak pada satu jenis kelamin tertentu dan memungkinkan individu untuk mengembangkan, meningkatkan, dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

Bacaan Lebih Lanjut

BSNP, Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006.

Hamalik, Oemar, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Kencana, 2005.

Nasution, Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.

Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006.

Rosyadi, Khoiron, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Sukamadinata, Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

DASAR-DASAR DESAIN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM


DASAR-DASAR DESAIN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Beberapa ahli merumuskan bermacam-macam desain kurikulum. Eisner dan Vallance (1974) membagi desain menjadi lima jenis, yaitu (a) model pengembangan proses kognitif, (b) kurikulum sebagai teknologi, (c) kurikulum aktualisasi diri, (d) kurikulum konstruksi sosial, dan (e) kurikulum rasionalisasi akademis. Mc Neil, (1977) membagi desain kurikulum menjadi empat model, yaitu (1) model kurikulum humanistik, (2) kurikulum konstruksi sosial, (3) kurikulum teknologi, dan (4) kurikulum subjek akademik. Saylor, Alexander dan Lewis, (1981) membagi desain kurikulum menjadi (a) kurikulum subject matter diciplin, (b) komponen yang bersifat spesifik atau kurikulum teknologi, (c) kurikulum sebagai proses, (d) kurikulum sebagai fungsi sosial, dan (e) kurikulum yang berdasarkan minat individu. Brennan (1985) mengembangkan tiga jenis model desain kurikulum, yaitu (1) kurikulum yang berorientasi pada tujuan (the objective model), (2) model proses, dan (3) model kurikulum yang didasarkan kepada analisis situasional. Longstreet dan Shane (1993) membagi desain kurikulum ke dalam empat desain, yaitu desain kurikulum yang berorientasi pada masyarakat, desain kurikulum yang berorientasi pada anak, desain kurikulum yang berorientasi pada pengetahuan, dan desain kurikulum yang bersifat elektik.

Para pengembang kurikulum telah mengkonstruksi kurikulum menurut dasar-dasar pengkategorian sebagai berikut:

  1. Subject-centered design (desain yang berpusat pada mata pelajaran). Merupakan suatu desain kurikulum yang berpusat pada bahan ajar, dan biasanya mencerminkan kegiatan pembelajaran yang didikte oleh karakteristik, prosedur, dan struktur konseptual mata pelajaran, serta keterkaitannya dengan disiplin ilmu. Agar penempatan mata pelajaran sebagai pusat pengaturan kurikulum dapat lebih bermakna, dapat dilakukan dengan memfokuskan pada proses pembelajaran dan menggunakan metode pemecahan masalah, pengambilan keputusan, inquiry, serta program komputer di kelas. Desain jenis ini dapat dibedakan atas tiga desain, yaitu subject desain, disciplines design, dan broadfields design. Subject design curriculum: merupakan bentuk desain yang paling murni dari subject centered design. Materi pelajaran disajikan secara terpisah-pisah dalam bentuk mata-mata pelajaran. Model desain ini telah ada sejak lama, dan dalam rumpun subject centered, the broad field design merupakan pengembangan dari bentuk ini. Subject design menekankan penguasaan fakta-fakta dan informasi. Disciplines design curriculum: merupakan bentuk pengembangan dari subject design, yang masih menekankan pada isi atau materi kurikulum. Bedaan dengan subject design yang belum memiliki kriteria yang tegas mengenai apa yang disebut dengan subject (ilmu), pada disciplines design kriteria tersebut telah jelas. Selain itu dalam tingkat penguasaannya pun menekankan pada pemahaman (understanding), sehingga peserta didik akan memahami masalah dan mampu melihat hubungan berbagai fenomena baru. Board fields design: Baik subject design maupun disciplines design masih menunjukkan adanya pemisahan antar-mata pelajaran. Salah satu usaha untuk menghilangkan pemisahan tersebut adalah dengan mengembangkan the board field design. Model ini menyatukan beberapa mata pelajaran yang berhubungan menjadi satu bidang studi. Bentuk kurikulum ini banyak digunakan di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
  2. Learner-centered design (desain yang berpusat pada pembelajar), adalah suatu desain kurikulum yang mengutamakan peranan siswa. Pengembangan kurikulum ini sangat dipengaruhi oleh Dewey, seperti berinteraksi sosial, keinginan bertanya, keinginan membangun makna, dan keinginan berkreasi yang menekankan sifat-sifat alami anak dalam mengembangkan kurikulum. Jenis desain ini dapat dibedakan atas activity (experience) design dan humanistic design. Activity (experience) design: Ciri utama dari desain ini pertama, struktur kurikulum ditentukan oleh kebutuhan dan minat peserta didik; kedua, karena struktur kurikulum didasarkan atas minat dan kebutuhan peserta didik, maka kurikulum disusun bersama oleh guru dan para siswa; ketiga, desain kurikulum tersebut menekankan prosedur pemecahan masalah. Humanistic design: menekankan pada fungsi perkembangan peserta didik melalui pemfokusan pada hal-hal subjektif, perasaan, pandangan, penjadian (becoming), penghargaan, dan pertumbuhan. Kurikulum humanistik berudsaha mendorong penangkapan sumber daya dan potensi pribadi untuk memahami sesuatu dengan pemahaman mandiri, konsep sendiri, serrta tanggung jawab pribadi.
  3. Problem-centered design (desain yang berpusat pada permasalahan), yaitu desain kurikulum yang pada masalah-masalah yang dihadapi dalam masyarakat. Pendidik berusaha memengaruhi perubahan sosial dengan menyelesaikan berbagai permasalahan sosial. Desain kurikulum ini dibedakan atas areas of living design dan core design. Areas of living design: menekankan prosedur belajar melalui pemecahan masalah. Dalam prosedur belajar ini tujuan yang bersifat proses (process objectives) dan yang bersifat isi (content objectives) diintegrasikan. Penguasaan informasi-informasi yang bersifat pasif tetap dirangsang. Ciri lain dari model desain ini adalah menggunakan pengalaman dan situasi-situasi nyata dari peserta didik sebagai pembuka jalan dalam mempelajari bidang-bidang kehidupan. Core design: kurikulum ini timbul sebagai reaksi utama kepada separate subject design, yang sifatnya terpisah-pisah. Dalam mengintegrasikan bahan ajar, mereka memilih mata-mata pelajaran/ bahan ajar tertentu sebagai inti (core). Pelajaran lainnya dikembangkan di sekitar core tersebut. Menurut konsep ini inti-inti bahan ajar dipusatkan pada kebutuhan individual dan sosial. The core curriculum diberikan guru-guru yang memiliki penguasaan dan berwawasan luas, bukan spesialis. Disamping memberikan pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan sosial, guru-guru tersebut juga memberikan bimbingan terhadap perkembangan sosial pribadi peserta didik.

Ada beberapa variasi desain dari core curriculum, yaitu: 1) the separate subject core, 2) the correlated core, 3) the fused core, 4) the activity/ experience core, 5) the areas of living core, dan 6) the social problems core.

  1. The separate subject core. Salah satu usaha untuk mengatasi keterpisahan antar-mata pelajaran, beberapa mata pelajaran yang dipandang mendasari atau menjadi inti mata pelajaran lainnya dijadikan core.
  2.  The correlated core. Model desain ini pun berkembang dari the separate subject design, dengan jalan mengintegrasikan beberapa mata pelajaran yang erat hubungannya.
  3. The fused core. Kurikulum ini juga berpangkal dari separate subject, pengintegrasiannya bukan hanya antara dua atau tiga pelajaran tetapi lebih banyak. Dalam studi ini dikembangkan tema-tema masalah umum yang dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang.
  4. The activity/ experience core. Model desain ini berkembang dari pendidikan progresif dengan learner centered design-nya, dan dipusatkan pada minat-minat dan kebutuhan peserta didik.
  5. The areas of living core. Desain model ini juga berpangkal pada pendidikan progresif, tetapi organisasintya terstruktur dan telah dirancang sebelumnya. Berbentuk pendidikan umum yang isinya diambil dari masalah-masalah yang muncul di masyarakat. Bentuk desain ini dipandang sebagai core design yang paling murni dan paling cocok untuk program pendidikan umum. The areas of living core cenderung memelihara dan mempertahankan kondisi yang ada.
  6. The social problems core. Model desain ini pun merupakan produk dari pendidikan progresif, dan didasarkan atas problema-problema yang mendasar dan bersifat kontroversial. The social problems core cenderung mencoba memberikan penilaian yang sifatnya kritis dari sudut sistem nilai sosial dan pribadi yang berbeda. Kurikulumnya tidak bersifat kaku, terbuka untuk penyempurnaan pada setiap saat, agar tetap mutakhir dan relevan dengan perkembangan masyarakat.

Menurut Zuga (1989) seorang peneliti bidang kurikulum, desain kurikulum memiliki beberapa kategori, yaitu (1) kategori akademik, (2) kategori teknis, (3) kategori proses intelektual, (4) kategori social, dan (5) kategori personal.

  1. Desain kurikulum akademik. Desain ini biasanya terfokus pada inti ilmu pengetahuan yang dikelompokkan ke dalam berbagai mata pelajaran dan pokok bahasan. Desain ini biasanya digunakan untuk sekolah percontohan.
  2. Desain kurikulum teknis. Kurikulum ini lebih menitikberatkan pada analisis tampilan dan urutan proses pembelajaran daripada isi pembelajaran.
  3. Desain kurikulum proses intelektual. Tujuan dari desain ini adalah untuk meningkatkan efisiensi pembelajaran dan untuk mentransfer kemampuan memecahan masalah dalam berbagai hal dan pengalaman hidup lainnya. Kurikulum ini menitikberatkan pada pengembangan proses kognitif.
  4. Desain kurikulum sosial. Kurikulum ini menitikberatkan pada aplikasi ilmu penngetahuan dalam situasi dunia nyata. Kurikulum ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam proyek dimana mereka dapat mengubah lingkungan atau memberikan informasi untuk membantu siswa memahami bahwa mereka kelak akan memasuki kehidupan masyarakat dewasa.
  5. Desain kurikulum personal. Desain kurikulum ini menitikberatkan pada pembelajar dengan fokus pada kebutuhan dan minat dari masing-masing (individu) pembelajar.

Perancangan kurikulum dapat digolongkan dalam 6 langkah yaitu:

  1. Mengidentifikasikan misi institusi dan kebutuhan para pengguna pendidikan. Langkah pertama yang paling penting adalah untuk memahami misi dari institusi dimana kurikulum itu dibuat. Misalnya misi dari fakultas pendidikan adalah untuk melatih para calon pendidik agar dapat memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Sebagai konsekuensinya, pengembang kurikulum harus mengetahui dan mengerti kebutuhan dari para pengguna kurikulum tersebut (siswa, pengajar, administrator pendidikan, badan profesional, pemerintah, dsb) yang dapat menentukan tipe profil lulusan yang diinginkan oleh fakultas, antara lain: (1) menguasai dasar-dasar metode pengajaran; (2) mempunyai kompetensi pendidikan yang tinggi; (3) memiliki kemampuan analisis yang kritis; (4) mampu mengembangkan kemampuan diri; (5) memiliki keahlian berkomunikasi yang baik; (5) memiliki rasa empati dan etika yang baik.
  2. Penilaian kebutuhan pembelajar. Langkah ini sering terabaikan oleh pengembang kurikulum. Begitu ada siswa yang potensial, pengembang kurikulum harus bisa mengetahui sampai dimana titik kemampuan maupun kelemahan siswa-siswanya tersebut. Untuk itulah diperlukan data karakteristik siswa secara perorangan. Karakteristik siswa yang perlu diketahui mencakup kompetensi awal pembelajar, kemampuan untuk memenuhi standar yang telah ditentukan oleh institusi, tujuan dan prioritas individu, latar belakang personal dan alasan pembelajar memasuki institusi, sikap mengenai disiplin, dan asumsi awal pembelajar mengenai program studi.
  3. Menetapkan tujuan kurikulum. Langkah ini sangat penting karena menentukan filosofi instruksional dan menentukan metode pembelajaran yang paling efektif. Selain itu tujuan pembelajaran juga dapat digunakan untuk menentukan desain dan pemilihan prosedur dan instrument penilaian. Karena tujuan yang jelas dan tersusun dengan baik sangat penting untuk menentukan fokus dari kurikulum yang akan dibuat, pembuat kurikulum harus dilatih dengan baik untuk membuat tujuan instruksional.
  4. Pemilihan strategi pendidikan. Pemilihan strategi pendidikan harus didasarkan pada tiga prinsip utama. Yang pertama, metode pendidikan harus sejalan dengan tujuan pendidikan. Kedua, penggunaan beragam metode pendidikan lebih baik, daripada hanya satu metode saja, karena kurikulum harus menjawab tantangan akan keragaman tipe belajar siswa dan tujuan pendidikan yang berbeda-beda. Yang terakhir, pengembang kurikulum harus memastikan bahwa kurikulum tersebut sesuai dengan materi pelajaran dan kompetensi pengajar.
  5. Implementasi kurikulum yang baru. Mendesain sebuah kurikulum adalah hal yang amat menarik dan dan penuh daya kreatif dalam pengembangan kurikulum. Akan tetapi tujuan utamanya bukan untuk mendesain kurikulum yang paling ideal dan paling baik, akan tetapi bagaimana keberhasilan penerapannya dalam praktek pendidikan. Kondisi dan syarat keberhasilan penerapan kurikulum meliputi keikutsertaan administrator pendidikan dalam proses implementasi kurikulum dan alokasi sumber daya yang cukup. Sebelum menerapkan sebuah kurikulum yang baru, pengembang kurikulum harus mendapatkan dukungan yang kuat dari pimpinan institusi yang berwenang. Setelah tahap pertama dari implementasi kurikulum yang baru tersebut dilakukan, harus dilakukan penilaian formal untuk mengontrol proses implementasi kurikulum dan untuk menetapkan hubungan antara tujuan institusional, pembelajaran, dan kurikulum.
  6. Evaluasi dan umpan balik untuk memperbaiki kurikulum. Meskipun evaluasi merupakan langkah akhir dari pelaksanaan kurikulum, akan tetapi bukan berarti ini merupakan tindakan akhir. Data hasil evaluasi yang telah dikumpulkan harus digunakan sebagai criteria untuk menyesuaikan kurikulum tersebut dengan tujuan program studi atau misi dari institusi. Kurikulum harus dievaluasi, dan diperbaiki, dan dilakukan inofasi-inofasi yang bervariatif karena kurikulum bukanlah suatu sistem yang statis. Umpan balik dari pengajar dan siswa perlu dipertimbangkan secara terus menerus untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Kesimpulannya, kurikulum merupakan suatu rencana akademik yang merupakan rancangan pelaksanaan dimana: (a) tujuan dan hasil dari kurikulum dijabarkan secara jelas, (b) proses untuk mencapai tujuan tersebut teridentifikasi dengan baik, (c) kurikulum merupakan alat untuk menilai keberhasilan pendidikan, (d) ulasan sistematik dan perbaikan termasuk di dalamnya.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers