Tag Archives: Mu’jizat al-Qur’an

PERSPEKTIF ULAMA MENGENAI I’JAZ AL-QUR’AN DAN MACAM-MACAMNYA


PERSPEKTIF ULAMA MENGENAI I’JAZ AL-QUR’AN

DAN MACAM-MACAMNYA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Perspektif Ulama Mengenai I’jaz al-Qur’an

Dalam ilmu kalam, terjadi perbedaan pandangan para ulama tentang apakah al-Qur’an itu merupakan makhluk atau bukan. Hal itu juga mendasari perbedaan pendapat mengenai mukjizat al-Qur’an. Pendapat mereka terbagi menjadi beberapa ragam, antara lain:

  1. Abu Ishaq Ibrahim al-Nizam dan pengikutnya dari kaum Syiah berpendapat bahwa kemukjizatan al-Qur’an adalah dengan cara shirfah. Maksudnya ialah bahwa Allah memalingkah orang-orang arab yang menentang al-Qur’an, padahal sebenarnya mereka mampu untuk menghadapinya. Pendapat ini merupakan pendapat yang salah.
  2. Satu golongan ulama berpendapat bahwa al-Qurr’an itu bermukjizat dengan balaghahnya yang mencapai tingkat tinggi dan tidak ada bandingannya dan ini adalah pendapat ahli bahasa.
  3. Sebagian yang lain berpendapat bahwa segi kemukjizatan al-Qur’an adalah karena mengandung badi’ yang sangat unik dan berbeda dengan apa yang dikenal dalam perkataan orang arab pada umumnya.
  4. Golongan yang lain berpendapat bahwa al-Qur’an itu kemukjizatannya terletak pada pemberitaannya tentang hal-hal yang ghaib, yang telah lalu dan yang akan datang yang tidak ada seorang pun yang tahu.
  5. Satu golongan berpendapat bahwa mukjizat al-Qur’an itu terjadi karena ia mengandung berbagai macam ilmu hikmah yang dalam.

Demikian berbagai pandangan ulama mengenai kemukjizatan al-Qur’an. Sebenarnya peninjauan hal itu hanya berdasarkan keilmuan yang mereka miliki. Perbedaan itu disebabkan oleh keilmuan yang mereka miliki berbeda-beda antara satu ulama dengan ulama yang lain.

B.     Macam-Macam dan Aspek Kemukjizatan al-Qur’an

Secara garis besar mukjizat dapat dibagi ke dalam dua bagian pokok, yaitu mukjizat yang bersifat material indrawi yang tidak kekal dan mukjizat immaterial, logis dan dapat dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat nabi yang terdahulu merupakan salah satu jenis dari mukjizat yang pertama, karena mukjizat mereka bersifat material dan indrawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat dijangkau lewat indra oleh masyarakat tempat mereka menyampaikan risalahnya.

Contohnya seperti tidak terbakarnya Nabi Ibrahim ketika dibakar dalam kobaran api yang sangat besar, berubah wujudnya tongkat nabi Musa ketika berhadapan dengan tukang sihirnya Fir’aun, banjir pada masa Nabi Nuh dan lain-lain. Berbeda dengan mukjizat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad, walaupun ada yang bersifat indrawi, namun yang paling dahsyat adalah yang bersifat metafisika yang berupa pemahaman oleh akal. Karena sifatnya yang demikian, maka ia tidak dibatasi oleh waktu dan masa tertentu. Mukjizat al-Qur’an dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana dan kapanpun. Perbedaan ini disebabkan  oleh dua hal pokok:

  1. Umat para Nabi sebelum nabi Muhammad membutuhkan kebenaran yang sesuai dengan tingkat pemikiran mereka. Akan tetapi, setelah manusia menanjak dewasa, kedewasaan berpikir indrawi tidak begitu dibutuhkan lagi. Maka dari itu, dapat dikatakan mukjizat para Nabi sebelum nabi Muhammad hanya berlaku untuk masa dan masyarakat tertentu. Berbeda dengan Nabi Muhammad yang diutus untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman sehingga bukti kebenarannya harus ada sampai kapanpun juga.
  2. Manusia mengalami perkembangan dalam pemikirannya. Maka umat Nabi Muhammad membutuhkan bukti kebenaran yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.

Aspek-aspek kemukjizatan al-Qur’an antara lain sebagai berikut:

Aspek Kebahasaan

Bahasa al-Qur’an sungguh mampu membuat orang terpesona serta singkat, padat, dan akurat. Seperti contoh berikut ini:

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا (1) وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا (2) وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا (3) فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا (4) فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا (5)

Artinya: Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Q.S.al-Nazi’at/79: 1-5)

Disamping itu, redaksi al-Qur’an seimbang. Contoh lafadh bismillahhirrahmanirrahim itu terdiri dari 19 huruf. Maka jumlah kata yang ada dalam bismilah tersebut dalam seluruh al-Qur’an bisa dibagi dengan 19. Ada lagi yang menarik, yaitu keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Contohnya kata al-hayah dan al-maut masing-masing sebanyak 145 kata. Contoh lagi, al-Qur’an menjelaskan bahwa langit ada 7, penjelasan ini diulangi juga sebanyak 7 kali.

Pemberitaan Ghaib

Salah satu mukjizat al-Qur’an adalah mampu memberitakan kejadian yang telah lampau, seperti kisah Fir’aun yang terjadi pada 12 abad sebelum masehi. Perincian kisah kaum-kaum terdahulu ini tidak satupun diungkap oleh kitab apapun. Seklumit kisah tentang Fir’aun seperti dalam ayat berikut ini:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آَمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آَمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ (90) آَلْآَنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (91) فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آَيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آَيَاتِنَا لَغَافِلُونَ (92)

Artinya: Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.(Q.S.Yunus/10: 90-92)

Bukan hanya kabar tentang masa lampau, tetapi al-Qur’an mampu memberikan kabar tentang masa depan. Misalnya berita kemenangan Romawi setelah kekalahannya. Bahkan hal itu dijadikan nama surah tersendiri. Kita simak informasi dalam al-Qur’an sebagai berikut:

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3) أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (4) مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآَتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (5)

Artinya: Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Rum/30:1-5)

 

Sejarah menginformasikan bahwa pada tahun 614 M terjadi peperangan antara kedua negara yaitu Romawi dan Persia, dan dimenangkan oleh Persia. Namun ketika tahu 622 M terjadi peperangan lagi antara kedua negara tersebut dan dimenangkan oleh Romawi. Tahun 622 M adalah tahun kedua Hijriyah sedangkan turunnya ayat tersebut ketika Nabi Muhammad masih berada di Mekkah, tepatnya 615 M.

Isyarat-isyarat ilmiah

Al-Qur’an bukan merupakan kitab atau buku ilmiah, namun al-Qur’an mampu memberikan isyarat ilmiah sebelum manusia menyadari kebenarannya. Contohnya mengenai reproduksi manusia yang diterangkan dan disitir dalam surah al-Mu’minun:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (14)

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Q.S. al-Mu’minun/23:12-14)

Ayat tersebut menerangkan mengenai reproduksi manusia. Dan ayat tersebut dikemukakan 15 abad dimana manusia belum mampu untuk mendeteksi proses reproduksi tersebut.

Al-Qur’an juga memberikan isyarat mengenai kejadian alam semesta, yang pada dekade akhir-akhir ini dibuktikan dengan adanya teori Big-Bang yang menyatakan bahwa alam semesta dulunya adalah satu. Dalam al-Qur’an hal tersebut telah disitir juga 15 abad yang lalu dengan ayat:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ (30)

Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Q.S.al-Anbiya’/21: 30)

C.     Bacaan Lebih Lanjut

Al-Alusi, Shihab al-Din, Tafsir Ruh al-Ma’ani, juz 1, Mauqi’u al-Tafasir: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Al-Shabuny, Muhammad Ali, Tibyan fi Ulum al-Qur’an, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2010.

Al-Suyuthi, Jalal al-Din, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2004.

Al-Zarqani, Muhammad Abdul ‘Adhim, Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Qur’an, Kairo: Dar al-Hadits, 2001.

Ibrahim, Farid Wajdi, Orientalisme dan Sikap Umat Islam, Yogyakarta: Lanarka Publisher, 2006.

Mufidah, Lukluk Nur, “Al-Qur’an Sebagai Sumber Konsep Pendidikan Islam”, dalam Ta’allum Jurnal Pendidikan Islam, Vol.29.No.1.

Qatthan, Mana’ Khalil, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Mesir: Dar al-Mantsurat al-‘Asr al-Hadits, tt.

Qatthan, Mana’ Khalil, Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an, terj., Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa, 2004.

Qatthan, Manna’ Khalil, Tarikh al-Tasyri’ al-Islamy: al-Tasyri’ wa al-Fiqh, Riyadh: Maktabah al-Ma’arif li al-Nashr Wa al-Tauzig, 1996.

Shihab, Quraish, Lentera Al-Qur’an: Kisah dan Hikmah Kehidupan, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008.

Shihab, Quraish, Mu’jizat al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Ghaib, Bandung: Mizan, 2007.

Usman, Ulumul Qur’an, Yogyakarta: Teras 2009.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

KONSEP DASAR I’JAZ AL-QUR’AN


KONSEP DASAR I’JAZ AL-QUR’AN

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.     Latar Belakang

Kita sebagai masyarakat muslim tampak akrab dengan bahasa wahyu dan al-Qur’an, terlebih lagi para akademisi yang ada dalam naungan sebuah lembaga pendidikan Islam, tampaknya kedua nama tersebut melekat erat di benak mereka. Namun pengetahuan mengenai apa sesungguhnya atau hakekat dari kedua kata tersebut belum begitu mendalam dan kedua kata tersebut hanya dipahami dengan makna dasarnya saja. Padahal dua kata tersebut apabila dipahami secara mendalam, maka kita akan dapat mengenal kitab suci kita dengan baik.

Al-Qur’an merupakan salah satu wahyu yang berupa kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an yang berupa kalam Allah ini merupakan kitab atau wahyu yang istimewa dibandingkan dengan wahyu-wahyu yang lainnya. Bahkan salah satu keistimewaannya adalah tidak ada satu bacaan-pun sejak peradaban baca tulis dikenal lima ribu tahun yang lalu, yang dibaca baik oleh orang yang mengerti artinya, maupun oleh orang yang tidak mengerti artinya. Di samping itu, al-Qur’an merupakan sumber pokok ajaran Islam dan sebagai petunjuk ke jalan yang benar untuk totalitas umat manusia yang tujuan utamanya mengantarkan manusia kepada suatu kehidupan yang membahagiakannya untuk kehidupan sekarang dan juga esok di akhirat.

Al-Qur’an merupakan salah satu nama dari nama wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada para nabi-Nya. Al-Qur’an, menurut Quraish Shihab, secara harfiah berarti “bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan”. Sedangkan sebagaimana yang diriwayatkan dari al-Syafi’i, bahwa lafadh al-Qur’an murtajal yang khusus dan merupakan nama dari kalam allah yang bermu’jizat. Ada yang berpendapat bahwa al-Qur’an berasal dari lafadh qaraa atau qarana yang berarti kumpulan, menghimpun atau himpunan. Hal itu karena kumpulnya huruf yang satu dengan  yang lain dalam bacaannya. Ada lagi yang mengatakan al-Qur’an musytaq dari lafadh qarain (mirip), karena ayat al-Qur’an serupa antara satu dengan yang lainnya.

Secara terminologi terdapat 3 golongan besar dalam membuat definisi tentang al-Qur’an, yaitu golongan orang yang meringkas, golongan orang yang membuat definisi sedang-sedang saja (mutawassith), dan orang yang membuat definisi dengan panjang (muthnib). Sedangkan penulis berpendapat bahwa al-Qur’an adalah firman Allah yang bermu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sesuai dengan redaksinya melalui malaikat Jibril, secara berangsur-angsur, yang ditulis dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan secara mutawatir dan bernilai ibadah bagi yang membacanya, yang dimulai dari surah al-fatihah dan diakhiri oleh surah al-nas. Dalam definisi tersebut, biasanya digunakan kata bermu’jizat untuk menyifati al-Qur’an. Itulah sifat yang dimiliki oleh al-Qur’an yang tidak dimiliki oleh yang lain.

Kata i’jaz atau bermu’jizat ini menimbulkan implikasi tersendiri, yaitu bisa menantang orang yang meragukannya, dan mengalahkannya. Maka dari itu, penulis akan melakukan  pembahasan tentang i’jaz al-Qur’an  agar menjadi lebih jelas sehingga masyarakat muslim menjadi lebih mengetahui dan mengenal dengan lebih rinci tentang kitab sucinya.

B.     Ma’na I’jaz al-Qur’an

Dari segi bahasa, kata i’jaz berasal dari kata ’ajaza, yu’jizu, i’jazan yang berarti melemahkan atau memperlemah, juga dapat berarti menetapkan kelemahan. Secara normative, i’jaz dapat berarti ketidakmampuan seseorang melakukan sesuatu namun bukan ketidakberdayaan. Oleh karena itu, apabila kemukjizatan itu telah terbukti, maka nampaklah kemampuan mukjizat yaitu orang lain tidak mampu untuk mengalahkannya. Maksudnya i’jaz itu adalah sesuatu yang luar biasa di luar adat istiadat manusia pada umumnya, yang hanya dimiliki oleh orang yang diutus oleh Allah.

Secara terminologi, kata i’jaz adalah menampakkan kelemahan manusia baik secara kelompok maupun perseorangan untuk menandingi hal yang serupa yang datangnya dari Allah yang diberikan kepada rasul-Nya. Jadi yang dimaksud dengan i’jaz atau mu’jizat adalah perkara yang luar biasa yang disertai dengan tantangan yang tidak mungkin dapat ditandingi oleh siapapun dan kapanpun yang diberikan kepada para utusan Allah yang bertugas untuk menyampaikan risalah kepada manusia.

Sementara itu, dalam konteks al-Qur’an, maka i’jaz al-Qur’an adalah sesuatu yang luar biasa yang ada dalam al-Qur’an yang berfungsi untuk melemahkan orang yang meragukan dan tidak percaya terhadap al-Qur’an yang sifatnya sepanjang zaman.

Sejak zaman Nabi Muhammad banyak sekali orang yang meragukan eksistensi al-Qur’an sebagai firman Allah. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa al-Qur’an adalah syair, al-Qur’an adalah sihir dan lain sebagainya. Maka dari itu, al-Qur’an mengeluarkan tantangan kepada orang-orang tersebut. Tantangan yang pertama kali dilontarkan adalah:

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ (33 فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ (34)

Artinya: Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar.

Kenyataannya tantangan tersebut tidak bisa mereka penuhi. Namun mereka beralasan bahwa mereka tidak mengetahui sejarah umat terdahulu, maka wajar kalau mereka tidak bisa membuat yang sepadan dengan al-Qur’an. Selanjutnya, karena tantangan tersebut tidak mampu dipenuhi, maka Allah meringankan tantangan tersebut dengan firman-Nya:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (13)

Artinya: Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Qur’an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.

 

Namun kenyataannya tantangan yang kedua ini juga gagal dilayani dengan alasan yang sama, yaitu tidak mengetahui sejarah umat terdahulu yang digunakan sebagai isi dari sepuluh surah tersebut. Maka Allah meringankan tantangannya dengan firman-Nya.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (38)

Artinya: Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Ketiga tantangan tersebut terlontarkan ketika Nabi masih berada di Makkah, masih ditambah tantangan yang keempat yang dikemukakan ketika Nabi sudah berhijrah ke Madinah, yang terabadikan dalam firman Allah sebagai berikut:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23)

Artinya: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Ayat ini sebenarnya redaksinya mirip dengan ayat yang ada dalam surah Yunus. Namun ayat dalam surah al-Baqarah ini di dalamnya terdapat min yang menurut para pakar menunjukkan arti “kurang lebih”. Akan tetapi tantangan tersebut belum juga terjawab, bahkan sampai sekarang tantangan tersebut masih berlaku dan juga belum ada jawaban atau balasan, karena hal itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia.

Pada zaman Nabi Muhammad pernah ada yang mengaku mendapat wahyu dan membuat syair yang menandingi al-Qur’an, namun juga tidak berhasil. Ia adalah Musailamah al-Kadzdzab. Syair yang ia buat adalah sebagai berikut:

الفيل,ما الفيل, وماادرك ماالفيل, له خرطوم طويل, وذنب اثيل, وماذاك من خلق ربنا بقليل.

Artinya: Gajah, Apa itu gajah?, Tahukah engkau apa gajah, Ia mempunyai belalai yang panjang, dan ekor yang mantab. Itu bukanlah bagian dari ciptaan Tuhan kita yang kecil.

Kalimat di atas jika dilihat sekilas, nampaknya dari segi bahasanya teratur. Namun itu hanya berlaku bagi orang yang tidak berilmu, karena setiap orang yang berilmu pasti tahu bahwa kata wa ma adraka itu dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang agung dan besar pengaruhnya, bukan dipakai untuk menunjukkan gajah. Apalagi dari segi arti dan makna yang tersurat di dalamnya. Apabila dilihat dari segi makna, maka kalimat di atas hanyalah nyanyian atau lagu anak kecil yang berjudul gajah. Maka dari itu, pada zaman dahulu tantangan untuk membuat yang seperti al-Qur’an belum ada jawaban dan tantangan tersebut tetap eksis dan berlanjut hingga masa sekarang ini.

Pada zaman sekarang atau era modern, tuduhan yang serupa muncul kembali dan itu terlontar dari kaum orientalist. Orientalist melontarkan tuduhan bahwa al-Qur’an bukan wahyu Tuhan dan merupakan karangan Muhammad. Di samping itu, ia juga mengatakan bahwa al-Qur’an merupakan percampuran unsur-unsur perjanjian lama, perjanjian baru, dan sumber-sumber lainnya termasuk pengaruh agama Yahudi. Itu semua merupakan tuduhan klasik yang sejak zaman Nabi Muhammad sudah pernah terlontarkan. Sebenarnya orang yang mengetahui sejarah Islam dengan rentetannya, ia akan tersenyum lebar menanggapi tuduhan tersebut.

Mukjizat berfungsi sebagai bukti kebenaran para Nabi. Keluarbiasaan yang tampak atau terjadi melalui mereka itu diibaratkan sebagai ucapan Tuhan. Mukjizat, walaupun dari segi bahasa berarti melemahkan sebagaimana dikemukakan tadim dari segi agama, ia sama sekali tidak dimaksudkan untuk melemahkan atau membuktikan ketidakmampuan yang ditantang. Jika demikian, paling tidak mengandung dua konsekuensi.

Pertama, bagi yang telah percaya kepada Nabi, maka dia tidak lagi membutuhkan mukjizat. Dia tidak lagi ditantang untuk melakukan hal yang sama. Mukjizat yang dilihatnya hanya berfungsi untuk memperkuat keimanan serta menambah keyakinannya akan kekuasaan Allah swt. Kedua, para nabi sejak nabi Adam hingga Isa, diutus untuk suatu kurun tertentu serta masyarakat tertentu. Tantangan yang mereka kemukakan sebagai mukjizat pasti tidak dapat dilakukan oleh umatnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah hal ini tidak juga dapat dilakukan oleh umat yang lain setelah itu? Namun hal itu ternyata sama sekali bukan tujuan untuk menantang. Namun untuk menunjukkan bahwa mereka itu benar-benar datang sebagai utusan dari Allah. Maka dari itu, mukjizat yang mereka tunjukkan pada hakikatnya juga merupakan kuasa Allah. Jadi jika Allah berkehendak, maka tidak ada yang bisa berbuat sedemikian rupa.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers