Tag Archives: Nilai Religius

PENDIDIKAN NILAI RELIGIUS


PENDIDIKAN NILAI RELIGIUS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo & Akademisi UIN Maliki Malang)

Pendidikan nilai religius merupakan awal dari pembentukan budaya religius. Tanpa adanya pendidikan nilai religius, maka budaya religius dalam lembaga pendidikan tidak akan terwujud. Sebelum memahami mengenai pendidikan nilai religius, maka penulis akan mengemukakan definisi dari pendidikan nilai. Pendidikan nilai, menurut Mardimadja yang dikutip Mubarok, adalah bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Berpijak dari definisi di atas, maka pendidikan nilai religius adalah bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai religius serta mengamalkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya.

Pendidikan nilai religius mempunyai posisi yang penting dalam upaya mewujudkan budaya religius. Karena hanya dengan pendidikan nilai religius, anak didik akan menyadari pentingnya nilai religius dalam kehidupan. Namun terdapat berbagai kendala dalam pendidikan nilai religius. Kendala-kendala tersebut antara lain:

Budaya globalisasi yang melanda kehidupan masyarakat

Budaya globalisasi yang melanda kehidupan masyarakat juga merambah kehidupan para pelajar, sehingga para pelajar ikut terpengaruh oleh budaya globalisasi yang merusak moral. Kemerosotan akhlak pada manusia menjadi salah satu problem dalam perkembangan pendidikan nasional, dimana terkadang para tokoh pendidik sering menyalahkan pada adanya globalisasi kebudayaan, sebagaimana dijelaskan oleh Tafsir dalam bahwa globalisasi kebudayaan sering dianggap sebagai penyebab kemerosotan akhlak tersebut”.

Adanya kemerosotan akhlak yang terjadi pada masyarakat ini dapat dilihat dengan adanya kenakalan remaja. Kenakalan remaja menyebabkan rusaknya lingkungan masyarakat. Kenakalan remaja dapat berupa perbuatan kejahatan, ataupun penyiksaan terhadap diri sendiri, seperti perampokan, narkoba, minuman keras yang semua itu adalah imbas dari modernisasi industri dan pergaulan.Akibat pergeseran sosial, dewasa ini kebiasaan pacaran masyarakat kita menjadi kian terbuka. Terlebih saat mereka merasa belum ada ikatan resmi, maka akibatnya bisa melampaui batas kepatutan. Kadang kala seorang remaja menganggap perlu pacaran untuk tidak hanya mengenal pribadi pasangannya, melainkan sebagai pengalaman, uji coba, maupun bersenang-senang. Itu terlihat dari banyaknya remaja kita yang gonta ganti pacar, ataupun masa pacaran relatif pendek. Beberapa kasus yang diberitakan oleh media massa juga menunjukkan bahwa akibat pergaulan bebas atau bebas bercinta (free love) tersebut tidak jarang menimbulkan hamil pra nikah, aborsi, bahkan akibat rasa malu dihati, bayi yang terlahir dari hubungan mereka berdua lantas dibuang begitu saja hingga tewas.

Budaya globalisasi tersebut menyebabkan terhambatnya penanaman nilai-nilai religius ke dalam diri peserta didik, karena seorang peserta didik yang sudah terpengaruh oleh suatu budaya akan berlaku sesuai dengan budaya yang diadopsinya tersebut. Bahkan peserta didik lebih memilih mengadopsi budaya tersebut daripada melaksanakan budaya sendiri yang merupakan warisan leluhur.

Budaya globalisasi merupakan salah satu kendala yang menghambat pelaksanaan pendidikan nilai religius. Anak didik akan sulit menyadari nilai-nilai religius yang ditanamkan. Bahkan anak didik akan menentang apabila diingatkan untuk melaksanakan salah satu kegiatan atau sikap religius.

Penerapan model, pendekatan dan metode yang tidak tepat

Model, pendekatan dan metode pendidikan merupakan sesuatu yang wajib serta harus ada dalam menanamkan nilai religius ke dalam diri peserta didik sebagai upaya pendidikan religius. Jadi dalam menanamkan nilai religius ke dalam diri peserta didik, pendidik harus menggunakan model, pendekatan dan metode yang tepat. Agar penanaman nilai religius tersebut berhasil maka pendidik juga harus memperlakukan seorang anak sesuai dengan tahapan pendidikannya. Di samping itu, hendaknya pendidikan nilai religius dilakukan pada saat yang tepat, maksudnya sesuai dengan tahapan pendidikan seorang anak. Model, pendekatan dan metode pendidikan nilai religius akan penulis jelaskan setelah uraian ini.

Kurangnya keteladanan dari para pendidik

Keteladanan dari pendidik juga merupakan faktor yang penting dalam penanaman nilai-nilai religius. Tanpa keteladanan dari pendidik, maka peserta didik akan bermoral yang bejat dan tidak mempunyai budi pekerti yang luhur. Maka dari itu terdapat istilah, guru kencing berdiri murid kencing berlari, maka jika guru kencing berlari murid akan kencing-kencingan bahkan mengencingi gurunya.

Kurangnya kompetensi pendidik

Kompetensi guru/pendidik adalah segala kemampuan yang harus dimiliki oleh pendidik/guru misalnya persyaratan, sifat, kepribadian, sehingga dia dapat melaksanakan tugasnya dengan benar. Untuk menjadi pendidik profesional tidaklah mudah, karena ia harus memiliki kompetensi-kompetensi keguruan. Kompetensi dasar (based competency) ditentukan oleh tingkat kepekaannya dari bobot potensi dan kecenderungan yang dimilikinya. Kemampuan dasar tersebut tidak lain adalah kompetensi guru.

Apabila kompetensi guru memadai, maka guru akan mampu menanamkan nilai dan melaksanakan pendidikan nilai kepada peserta didik dengan baik, dan dilakukan dengan hati. Guru harus mempunyai kompetensi untuk melakukan interaksi sosial dengan peserta didik. Tanpa melakukan interaksi sosial dan mendekati peserta didik, maka pendidikan nilai tidak akan berhasil.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

KATEGORISASI NILAI RELIGIUS


KATEGORISASI NILAI RELIGIUS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.     Konsep Nilai Religius

Nilai religius merupakan dasar dari pembentukan budaya religius, karena tanpa adanya penanaman nilai religius, maka budaya religius tidak akan terbentuk. Kata nilai religius berasal dari gabungan dua kata, yaitu kata nilai dan kata religius.

Kata nilai dapat dilihat dari segi etimologis dan terminologis. Dari segi etimologis nilai adalah harga, derajat. Nilai adalah ukuran untuk menghukum atau memilih tindakan dan tujuan tertentu. Sedangkan dari segi terminologis dapat dilihat berbagai rumusan para ahli. Tapi perlu ditekankan bahwa nilai adalah kualitas empiris yang seolah-olah tidak bisa didefinisikan. Hanya saja, sebagaimana dikatakan Louis Katsoff, kenyataan bahwa nilai tidak bisa didefinisikan tidak berarti nilai tidak bisa dipahami.

Menurut Gordon Alport, sebagaimana dikutip Mulyana, nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Menurut Fraenkel, sebagaimana dikutip Ekosusilo, nilai dapat diartikan sebagai sebuah pikiran (idea) atau konsep mengenai apa yang dianggap penting bagi seseorang dalam kehidupannya. Selain itu, kebenaran sebuah nilai juga tidak menuntut adanya pembuktian empirik, namun lebih terkait dengan penghayatan dan apa yang dikehendaki atau tidak dikehendaki, disenangi atau tidak disenangi oleh seseorang.

Menurut Kuperman, sebagaimana dikutip Mulyana, nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya diantara cara-cara tindakan alternatif. Menurut Ndraha, nilai bersifat abstrak, karena nilai pasti termuat dalam sesuatu. Sesuatu yang memuat nilai (vehicles) ada empat macam, yaitu: raga, perilaku, sikap dan pendirian dasar.

Menurut Hans Jonas, yang dikutip Mulyana, nilai adalah sesuatu yang ditunjukkan dengan kata ya. Menurut Kuchlohn, sebagaimana dikutip Mulyana, nilai sebagai konsepsi (tersirat atau tersurat, yang sifatnya membedakan individu atau ciri-ciri kelompok) dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan. Allport, sebagaimana dikutip Kadarusmadi, menyatakan bahwa nilai itu merupakan kepercayaan yang dijadikan preferensi manusia dalam tindakannya. Manusia menyeleksi atau memilih aktivitas berdasarkan nilai yang dipercayainya.

Jadi nilai merupakan suatu keyakinan atau kepercayaan yang menjadi dasar bagi seseorang atau sekelompok orang untuk memilih tindakannya atau menilai suatu yang bermakna atau tidak bermakna bagi kehidupannya.

Nilai-nilai penting untuk mempelajari perilaku organisasi karena nilai meletakkan fondasi untuk memahami sikap dan motivasi serta mempengaruhi persepsi kita. Individu-individu memasuki suatu organisasi dengan gagasan yang dikonsepsikan sebelumnya mengenai apa yang “seharusnya” dan “tidak seharusnya”. Tentu saja gagasan-gagasan itu tidak bebas nilai. Bahkan Robbins menambahkan bahwa nilai itu mempengaruhi sikap dan perilaku.

Budaya religius yang merupakan bagian dari budaya organisasi sangat menekankan peran nilai. Bahkan nilai merupakan pondasi dalam mewujudkan budaya religius. Tanpa adanya nilai yang kokoh, maka tidak akan terbentuk budaya religius. Nilai yang digunakan untuk dasar mewujudkan budaya religius adalah nilai religius. Namun sebelum memasuki pembahasan nilai religius penulis akan membahas secara umum tipe-tipe nilai untuk mengantarkan kepada pembahasan yang lebih spesifik yaitu nilai religius.

B.     Kategorisasi Nilai dan Nilai Religius

Secara vertikal, Alisyahbana, sebagaimana dikutip Ekosusilo, mengklasifikasikan nilai menjadi tiga tingkat, yaitu: 1) tingkat vital, 2) tingkat hati, dan 3) tingkat akal. Nilai tingkat vital berkaitan dengan sesuatu yang dianggap sangat dibutuhkan dalam mempertahankan hidup dan mendapatkan keperluan hidup yang sebagian besar ditentukan oleh insting. Nilai hati muncul karena kesadaran dan pengakuan diri yang didasarkan atas suasana hatinya. Nilai tingkat akal didasarkan pada kesadaran akan perlunya pengorganisasian dan pengawasan terhadap keperluan hidupnya.

Spranger, yang dikutip Mulyana, menyatakan bahwa terdapat “enam orientasi nilai yang sering dijadikan rujukan oleh manusia dalam kehidupannya”. Nilai-nilai tersebut antara lain:

Nilai teoritik

Nilai ini melibatkan pertimbangan logis dan rasional dalam memikirkan dan membuktikan kebenaran sesuatu. Nilai teoritik memiliki kadar benar-salah menurut timbangan akal pikiran. Karena itu, nilai ini erat dengan konsep, aksioma, dalil, prinsip, teori dan generalisasi yang diperoleh dari sejumlah pengamatan dan pembuktian ilmiah. Kadar kebenaran teoritik muncul dalam beragam bentuk sesuai dengan wilayah kajiannya. Kebenaran teoritik filsafat lebih mencerminkan hasil pemikiran radikal dan komprehensif atas gejala-gejala yang lahir dalam kehidupan; sedangkan kebenaran ilmu pengetahuan menampilkan kebenaran obyektif yang dicapai dari hasil pengujian dan pengamatan yang mengikuti norma ilmiah. Karena itu, komunitas manusia yang tertarik pada nilai ini adalah para filosof dan ilmuwan. Maka, dapat dikatakan bahwa nilai ini kebenarannya bersifat sementara selama konsep atau aksioma yang ditemukan masih dipakai dan belum didegradasi dengan konsep lainnya.

Nilai ekonomis

Nilai ini terkait dengan pertimbangan nilai yang berkadar untung rugi. Obyek yang ditimbangnya adalah harga dari suatu barang atau jasa. Karena itu, nilai ini lebih mengutamakan kegunaan sesuat bagi manusia. Karena memang pada dasarnya nilai bersifat pragmatis dan sesuai dengan kebutuhan manusia.

Nilai estetik

Nilai estetik menempatkan nilai tertingginya pada bentuk dan keharmonisan. Apabila nilai ini ditilik dari sisi subyek yang memilikinya, maka akan muncul kesan indah dan tidak indah. Nilai ini lebih menekankan pada subyektifitas, karena yang namanya keindahan itu, setiap orang pasti berbeda-beda. Dan biasanya nilai ini lebih banyak dimiliki oleh para musisi, pelukis, dan perancang model.

Nilai sosial

Nilai tertinggi yang terdapat dalam nilai ini adalah kasih sayang antar manusia. Karena rentang nilai ini bergerak dalam kehidupan sehari-hari antara manusia satu dengan yang lainnya. Sikap dan prasangka selalu menyelimuti perkembangan nilai ini. Apabila nilai ini ada pada seseorang terhadap lawan jenisnya maka dinamakan nilai cinta. Nilai ini banyak dijadikan pegangan oleh banyak orang yang suka bergaul, berteman dan lain sebagainya.

Nilai politik

Nilai tertinggi dalam nilai adalah kekuasaan. Karena itu, kadar nilainya akan bergerak dari intensitas pengaruh yang rendah sampai pada pengaruh yang tinggi (otoriter). Kekuatan merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap pemilikan nilai politik pada diri seseorang. Sebaliknya, kelemahan adalah bukti dari seseorang yang kurang tertaik pada nilai itu. Ketika terjadi persaingan dan perjuangan menjadi isu yang kerap terjadi dalam kehidupan manusia, para filosof melihat bahwa kekuatan (power) menjadi dorongan utama dan berlaku universal pada diri manusia. Namun, bila dilihat dari kadar kepemilikannya, nilai politik memang menjadi tujuan utama orang tertentu, seperti para politisi atau penguasa.

Nilai agama

Secara hakiki sebenarnya nilai ini merupakan nilai yang memiliki dasar kebenaran yang paling kuat dibandingkan dengan nilai-nilai sebelumnya. Nilai ini bersumber dari kebenaran tertinggi yang datangnya dari Tuhan dan  ruang lingkup nilai ini sangat luas dan mengatur seluruh aspek dalam kehidupan manusia. Nilai ini terbagi berdasarkan jenis agama yang dianut oleh manusia, dan kebenaran nilai ini mutlak bagi pemeluk agamanya masing-masing.

Menurut tinggi rendahnya nilai dikelompokkan menjadi 4 tingkatan sebagai berikut:

  1. Nilai-nilai kenikmatan: dalam tingkat ini terdapat deretan nilai-nilai yang mengenakkan dan tidak mengenakkan, yang menyebabkan orang senang atau menderita.
  2. Nilai-nilai kehidupan: dalam tingkat ini tercakup nilai-nilai yang lebih penting bagi kehidupan, misalnya kesehatan, kesegaran badan, kesejahteraan umum.
  3. Nilai-nilai kejiwaan: dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai yang sama sekali tidak tergantung pada keadaan jasmani maupun lingkungan, seperti misalnya kehidupan, kebenaran, dan pengetahuan murni yang dicapai dalam filsafat.
  4. Nilai-nilai kerohanian: dalam tingkat ini terdapat modalitas nilai dari suci dan tak suci. Nilai-nilai semacam ini terutama terdiri dari nilai-nilai pribadi dan nilai-nilai ketuhanan.

Berdasarkan hasil penelitian Ekosusilo, nilai-nilai yang bersumber dari agama yang tercermin dalam budaya organisasi sekolah unggul yaitu; (1) nilai dasar ajaran Islam, yaitu tauhid; (2) nilai ibadah; (3) nilai kesatuan (integritas) antara dunia dan akhirat serta antara ilmu agama dan ilmu umum; (4) nilai perjuangan (jihad), (5) nilai tanggungjawab (amanah); (6) nilai keikhlasan; (7) nilai kualitas; (8) nilai kedisiplinan; (9) nilai keteladanan; (10) nilai persaudaraan dan kekeluargaan; serta (11) nilai-nilai pesantren, yaitu: kesederhanaan atau kesahajaan, tawadhu’ (rendah hati), dan sabar.

Nilai religius (keberagamaan) merupakan salah satu dari berbagai klasifikasi nilai di atas. Nilai religius bersumber dari agama dan mampu merasuk ke dalam intimitas jiwa. Nilai religius perlu ditanamkan dalam lembaga pendidikan untuk membentuk budaya religius yang mantab dan kuat di lembaga pendidikan tersebut. Di samping itu, penanaman nilai religius ini penting dalam rangka untuk memantabkan etos kerja dan etos ilmiah seluruh civitas akademika yang ada di lembaga pendidikan tersebut. Selain itu, juga supaya tertanam dalam diri tenaga kependidikan bahwa melakukan kegiatan pendidikan dan pembelajaran pada peserta didik bukan semata-mata bekerja untuk mencari uang, tetapi merupakan bagian dari ibadah.

Berikut ini penjelasan macam-macam dari nilai religius:

Nilai Ibadah

Ibadah merupakan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab, yaitu dari masdar ‘abada yang berarti penyembahan. Sedangkan secara istilah berarti khidmat kepada Tuhan, taat mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Jadi ibadah adalah ketaatan manusia kepada Tuhan yang diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari misalnya sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya.

Nilai ibadah perlu ditanamkan kepada diri seorang anak didik, agar anak didik menyadari pentingnya beribadah kepada Allah. bahkan penanaman nilai ibadah tersebut hendaknya dilakukan ketika anak masih kecil dan berumur 7 tahun, yaitu ketika terdapat perintah kepada anak untuk menjalankan shalat. Dalam ayat yang menyatakan tentang shalat misalnya redaksi ayat tersebut memakai lafadh aqim bukan if’al. Hal itu menunjukkan bahwa perintah mendirikan shalat mempunyai nilai-nilai edukatif yang sangat mendalam, karena shalat itu tidak hanya dikerjakan sekali atau dua kali saja, tetapi seumur hidup selama hayat masih dikandung badan. Penggunaan kata aqim tersebut juga menunjukkan bahwa shalat tidak hanya dilakukan, tetapi nilai shalat wajib diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kedisiplinan, ketaatan kepada Tuhannya, dan lain sebagainya. Menurut Wahbah Zuhaily, penegakan nilai-nilai shalat dalam kehidupan merupakan manifestasi dari ketaatan kepada Allah. Shalat merupakan komunikasi hamba dan khaliknya, semakin kuat komunikasi tersebut, semakin kukuh keimanannnya.

Sebagai seorang pendidik, guru tidak boleh lepas dari tanggung jawab begitu saja, namun sebagai seorang pendidik hendaknya senantiasa mengawasi anak didiknya dalam melakukan ibadah, karena ibadah tidak hanya ibadah kepada Allah atau ibadah mahdlah saja, namun juga mencakup ibadah terhadap sesama atau ghairu mahdlah. Ibadah di sini tidak hanya terbatas pada menunaikan shalat, puasa,mengeluarkan zakat dan beribadah haji serta mengucapkan syahadat tauhid dan syahadat Rasul, tetapi juga mencakup segala amal, perasaan manusia, selama manusia itu dihadapkan karena Allah SWT. Ibadah adalah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT. Tanpa ibadah, maka manusia tidak dapat dikatakan sebagai manusia secara utuh, akan tetapi lebih identik dengan makhluk yang derajatnya setara dengan binatang. Maka dari itu, agar menjadi manusia yang sempurna dalam pendidikan formal diinkulnasikan dan diinternalisasikan nilai-nilai ibadah.

Untuk membentuk pribadi baik siswa yang memiliki kemampuan akademik dan religius. Penanaman nilai-nilai tersebut sangatlah urgen. Bahkan tidak hanya siswa, guru dan karyawan juga perlu penanaman nilai-nilai ibadah, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung.

Nilai Ruhul Jihad

Ruhul Jihad artinya adalah jiwa yang mendorong manusia untuk bekerja atau berjuang dengan sungguh-sungguh. Hal ini didasari adanya tujuan hidup manusia yaitu hablum minallah, hablum min al-nas dan hablum min al-alam. Dengan adanya komitmen ruhul jihad, maka aktualisasi diri dan unjuk kerja selalu didasari sikap berjuang dan ikhtiar dengan sungguh-sungguh.

Nilai akhlak dan kedisiplinan

Akhlak merupakan bentuk jama’ dari khuluq, artinya perangai, tabiat, rasa malu dan adat kebiasaan. Menurut Quraish Shihab, “Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan tabiat, perangai, kebiasaan bahkan agama), namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam al Qur’an. “. Yang terdapat dalam al Qur’an adalah kata khuluq, yang merupakan bentuk mufrad dari kata akhlak.

Akhlak adalah kelakuan yang ada pada diri manusia dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu ayat di atas ditunjukkan kepada Nabi Muhammad yang mempunyai kelakuan yang baik dalam kehidupan yang dijalaninya sehari-hari.

Sementara itu dari tinjauan terminologis, terdapat berbagai pengertian antara lain sebagaimana Al Ghazali, yang dikutip oleh Abidin Ibn Rusn, menyatakan: “Akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan”. Ibn Maskawaih, sebagaimana yang dikutip oleh Zahruddin AR dan Hasanuddin Sinaga, memberikan arti akhlak adalah “keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (lebih dulu)”. Bachtiar Afandie, sebagaimana yang dikutip oleh Isngadi, menyatakan bahwa “akhlak adalah ukuran segala perbuatan manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang tidak baik, benar dan tidak benar, halal dan haram.” Sementara itu Akhyak dalam bukunya Meretas Pendidikan Islam Berbasis Etika, mengatakan, bahwa “akhlak adalah sistem perilaku sehari-hari yang dicerminkan dalam ucapan, sikap dan perbuatan”.

Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan yang diterapkan dalam perilaku dan sikap sehari-hari. Berarti akhlak adalah cerminan keadaan jiwa seseorang. Apabila akhlaknya baik, maka jiwanya juga baik dan sebaliknya, bila akhlaknya buruk maka jiwanya juga jelek.

Al-Qur’an banyak menyinggung tentang pendidikan akhlak, bahkan hampir setiap kisah  yang  terdapat dalam al-Qur’an, didalamnya terdapat pendidikan akhlak. Dalam al-Qur’an dikemukakan bahwa Isma’il yang bersedia disembelih oleh Ibrahim, juga merupakan salah satu pendidikan akhlak, yaitu kepatuhan anak kepada orang tua. Dalam rangka patuh dan berbakti kepada orang tuanya, maka Isma’il rela mempertaruhkan nyawanya untuk disembelih sang ayah demi melaksanakan perintah Allah yang ada dalam mimpi. Disamping itu, dalam cerita antara Isa dengan Maryam. Isa juga berbakti kepada Ibunya, dengan ia berbicara kepada kaumnya, bahwa Ibunya tidak berzina. Hal itu juga mengandung pendidikan akhlak yaitu taat dan berbaktinya anak kepada orang tua.

Sedangkan kedisiplinan itu termanifestasi dalam kebiasaan manusia ketika melaksanakan ibadah rutin setiap hari. Semua agama mengajarkan suatu amalan yang dilakukan sebagai rutinitas penganutnya yang merupakan sarana hubungan antara manusia dengan pencipta-Nya. Dan itu terjadwal secara rapi. Apabila manusia melaksanakan ibadah dengan tepat waktu, maka secara otomatis tertanam nilai kedisiplinan dalam diri orang tersebut. Kemudian apabila hal itu dilaksanakan secara terus menerus maka akan menjadi budaya religius.

Keteladanan

Nilai keteladanan ini tercermin dari perilaku guru. Keteladanan merupakan hal yang sangat penting dalam pendidikan dan pembelajaran. Bahkan al-Ghazali menasehatkan, sebagaimana yang dikutip Ibn Rusn, kepada setiap guru agar senantiasa menjadi teladan dan pusat perhatian bagi muridnya. Ia harus mempunyai karisma yang tinggi. Ini merupakan faktor penting yang harus ada pada diri seorang guru. Sebagaimana perkataannya dalam kitabnya Ayyuha al-Walad:

Orang yang pantas menjadi pendidik ialah orang yang benar-benar alim. Namun, hal itu bukan berarti setiap orang alim layak menjadi pendidik. Orang yang patut menjadi pendidik adalah orang yang mampu melepaskan diri dari kungkungan cinta dunia dan ambisi kuasa, berhati-hati dalam mendidik diri sendiri, menyedikitkan makan, tidur dan bertutur kata. Ia memperbanyak sholat, sedekah dan puasa. Kehidupannya selalu dihiasi akhlak mulia, sabar dan syukur. Ia selalu yakin, tawakkal dan menerima apa yang dianugerahkan Allah dan berlaku benar.

Jika seorang guru mempunyai sifat seperti yang dikatakan di atas, maka seorang guru akan menjadi figur sentral bagi muridnya dalam segala hal. Dari sinilah, proses interaksi belajar mengajar antara guru dan murid akan lebih efektif.

Dalam menciptakan budaya religius di lembaga pendidikan, keteladanan merupakan faktor utama penggerak motivasi peserta didik. Keteladanan harus dimiliki oleh guru, kepala lembaga pendidikan maupun karyawan. Hal tersebut dimaksudkan supaya penanaman nilai dapat berlangsung secara integral dan komprehensif.

Nilai amanah dan ikhlas

Secara etimologi amanah artinya dapat dipercaya. Dalam konsep kepemimpinan amanah disebut juga dengan tanggung jawab. Dalam konteks pendidikan, nilai amanah harus dipegang oleh seluruh pengelola lembaga pendidikan, baik kepala lembaga pendidikan, guru, tenaga kependidikan, staf, maupun komite di lembaga tersebut.

Nilai amanah merupakan nilai universal. Dalam dunia pendidikan, nilai amanah paling tidak dapat dilihat melalui dua dimensi, yaitu akuntabilitas akademik dan akuntabilitas publik. Dengan dua hal tersebut, maka setiap kinerja yang dilakukan akan dapat dipertanggungjawabkan baik kepada manusia lebih-lebih kepada Allah SWT.

Nilai amanah ini harus diinternalisasikan kepada anak didik melalui berbagai kegiatan, misalnya kegiatan ekstra kurikuler, kegiatan pembelajaran, pembiasaan dan sebagainya. Apabila di lembaga pendidikan, nilai ini sudah terinternalisasi dengan baik, maka akan membentuk karakter anak didik yang jujur dan dapat dipercaya. Selain itu, di lembaga pendidikan tersebut juga akan terbangun budaya religius, yaitu melekatnya nilai amanah dalam diri peserta didik.

Nilai yang tidak kalah pentingnya untuk ditanamkan dalam diri peserta didik adalah nilai ikhlas. Kata ikhlaş berasal dari kata khalaşa yang berarti membersihkan dari kotoran.Kata ikhlaş dan derivatnya dalam al-Qur’an diulang sebanyak 31 kali.Pendidikan harus didasarkan pada prinsip ikhlas, sebagaimana perintah membaca yang ada pada awal surah al-alaq yang dikaitkan dengan nama Yang Maha Pencipta. Perintah membaca yang dikaitkan dengan nama Tuhan yang Maha Pencipta tersebut merupakan indikator bahwa pendidikan Islam harus dilaksanakan dengan ikhlas.

Secara bahasa ikhlas berarti bersih dari campuran. Secara umum ikhlas berarti hilangnya rasa pamrih atas segala sesuatu yang diperbuat. Menurut kaum Sufi, seperti dikemukakan Abu Zakariya al-Anshari, orang yang ikhlas adalah orang yang tidak mengharapkan apa-apa lagi. Ikhlas itu bersihnya motif dalam berbuat, semata-mata hanya menuntut ridha Allah tanpa menghiarukan imbalan dari selainNya. Dzun Al-Nun Al-Misri mengatakan ada tiga ciri orang ikhlas, yaitu; seimbang sikap dalam menerima pujian dan celaan orang, lupa melihat perbuatan dirinya, dan lupa menuntut balasan di akhirat kelak. Jadi dapat dikatakan bahwa ikhlas merupakan keadaan yang sama dari sisi batin dan sisi lahir. Dengan kata lain ikhlas adalah beramal dan berbuat semata-mata hanya menghadapkan ridha Allah. Menurut Syeikh Ihsan “Ikhlas dibagi 2, yaitu ikhlas mencari pahala dan ikhlas amal”.

Ikhlas sebagaimana diuraikan di atas jelas termasuk ke dalam amal al-qalb (perbuatan hati). Jika demikian, ikhlas tersebut banyak berkaitan dengan niat (motivasi). Jika niat seseorang dalam beramal adalah semata-mata mencari ridho Allah, maka niat tersebut termasuk ikhlas yaitu murni karena Allah semata dan tidak dicampuri oleh motif-motif lain.

Setiap manusia dalam segala perbuatan diharapkan dapat ikhlas, karena hal itu akan menjadikan amal tersebut mempunyai arti. Terlebih lagi dalam pendidikan, pendidikan haruslah dijalankan dengan ikhlas, karena hanya dengan ikhlas, pendidikan yang dilakukan dan juga segala perbuatan manusia akan mempunyai arti di hadapan Allah/Tuhan Yang Maha Esa.

Apabila nilai-nilai religius yang telah disebutkan di atas dibiasakan dalam kegiatan sehari-hari, dilakukan secara kontinue, mampu merasuk ke dalam intimitas jiwa  dan ditanamkan dari generasi ke generasi, maka akan menjadi budaya religius lembaga pendidikan. Apabila sudah terbentuk budaya religius, maka secara otomatis internalisasi nilai-nilai tersebut dapat dilakukan sehari-hari yang akhirnya akan menjadikan salah satu karakter lembaga yang unggul dan substansi meningkatnya mutu pendidikan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers