Tag Archives: Pendekatan Direktif

PEMBINAAN GURU DENGAN PENDEKATAN DIREKTIF DALAM PENDIDIKAN ISLAM


PEMBINAAN GURU DENGAN PENDEKATAN DIREKTIF DALAM PENDIDIKAN ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam, bahkan umat Islam Indonesia merupakan terbesar di dunia. Dengan komposisi penduduk yang beragama Islam itu, harus disadari bahwa keberadaan pendidikan Islam tidak bisa diremehkan meskipun masih terdapat beberapa kelemahan dan tidak setiap Muslim di negeri ini memasuki lembaga pendidikan Islam.

Pendidikan Islam di Indonesia merupakan warisan peradaban Islam dan sekaligus aset bagi pembangunan pendidikan nasional. Sebagai warisan, ia merupakan amanat sejarah untuk dipelihara dan dikembangkan oleh umat Islam dari masa ke masa. Sedangkan sebagai aset, pendidikan Islam yang tersebar di berbagai  wilayah ini membuka kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk menata dan mengelolanya, sesuai dengan sistem pendidikan nasional.

Dalam kurikulum 2006 atau KTSP, guru diberikan kebebasan untuk mengubah, memodifikasi bahkan membuat sendiri silabus yang sesuai dengan kondisi sekolah dan daerah. Hal demikian tampaknya terlalu ideal dan terlalu teoritik, karena dalam kenyataannya pemerintah telah menyiapkan secara lengkap silabus untuk seluruh mata pelajaran pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan.

Guru tetap diberi keleluasan untuk mengubah atau merekonstruksi hal-hal yang telah ditetapkan atau dibuat pemerintah sesuai dengan kondisi yang ada, meskipun telah disiapkan perangkatnya oleh pemerintah. Untuk melaksanakan tugas yang demikian, guru harus mempunyai kompetensi tertentu. Namun dalam suatu madrasah masih ada juga yang kurang profesional, yang disebabkan karena usia ataupun pendidikannya. Dan juga ada kalanya guru tersebut malas karena berbagai kesibukan ataupun faktor lainnya.

Kinerja guru yang kurang profesional ini, diungkapkan oleh Mulyasa, “Dalam praktek pendidikan sehari-hari, masih banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan dalam menunaikan tugas dan fungsinya. Kesalahan-kesalahan tersebut sering kali tidak disadari oleh para guru, bahkan masih banyak diantaranya yang menganggap hal biasa dan wajar.”Maka dari itu diperlukan supervisi pendidikan Islam dalam suatu lembaga pendidikan Islam khususnya madrasah, yang dilakukan oleh kepala lembaga tersebut. Karena kepala madrasah adalah seorang yang paling tahu dengan kondisi yang terjadi di madrasahnya tersebut.

Salah satu pendekatan dalam supervisi pendidikan Islam yang berfungsi untuk melakukan pembinaan terhadap guru adalah pendekatan direktif. Pendekatan ini merupakan pendekatan barat yang diinduksikan dengan didasarkan pada wahyu, nalar dan kultur lembaga pendidikan Islam, sehingga pendekatan ini sesuai dengan kultur lembaga pendidikan Islam dan mampu diterapkan dalam melakukan supervisi pendidikan Islam. Memang pada dasarnya pendekatan ini berpijak pada psikologi behavioristik, namun hal ini disesuaikan dengan pendekatan psikologi Islam.

Maka dari itu, untuk menjelaskan lebih lanjut tentang pembinaan guru dengan pendekatan direktif, penulis akan menyusun sebuah tulisan yang berjudul “Pembinaan Guru dengan Pendekatan Direktif” yang penulis kumpulkan dari berbagai referensi yang ada.

B.     Pandangan Supervisi Pendidikan Islam Dengan Pendekatan Direktif

Pada dasarnya supervisi pendidikan Islam adalah usaha pembinaan pendidik Islam untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan Islam serta profesionalismenya. Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan supervisi pendidikan Islam adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam yang hal itu dilakukan dengan memperbaiki pengajaran. Untuk mencapai tujuan tersebut secara efektif, Sri Banun mengemukakan, bahwa supervisi bukan hanya menyangkut penggunaan metode dan teknik supervisi tetapi juga menyangkut pilihan pola yang tepat yang tergambar dari pendekatan supervisi yang dipergunakan.

Maka dari itu, terdapat pendekatan yang salah satunya adalah pendekatan direktif. Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Pendekatan ini berangkat dari landasan psikologi behavioristik. Dalam pandangan psikologi ini, belajar dilakukan dengan kontrol instrumental lingkungan. Dengan demikian, menurut pandangan psikologi ini, seseorang akan belajar dan berhasil belajarnya, manakala senantiasa dikondisikan dengan baik dalam lingkungan tertentu. Jadi manusia diberi stimulus agar dapat memberikan respon.

Pandangan behavioristik supervisi pengajaran sebenarnya juga dikembangkan dari pandangan behavioristik tentang belajar. Jika tanggung jawab guru dalam mengembangkan dirinya sendiri sangat rendah, dibutuhkan keterlibatan yang tinggi dari supervisor. Atau dengan kata lain,, tanggung jawab supervisor haruslah tinggi. Dengan demikian, guru akan dapat dikondisikan sedemikian, sehingga mereka dapat mengembangkan dirinya dengan baik.

Dalam statemen lain, pendekatan direktif ini cocok untuk diterapkan dalam guru yang mempunyai prototipe tidak bermutu. Maksudnya guru tersebut mempunyai daya abstrak rendah dan komitmen rendah. Apabila guru sudah dalam keadaan yang demikian ini, dan hal ini hampir mayoritas terjadi pada guru-guru madrasah yang berada di daerah terpencil, maka supervisi yang diterapkan adalah supervisi pendidikan Islam dengan pendekatan direktif.

Hal yang membedakan dari supervisi pendidikan Islam dengan pendekatan direktif adalah supervisi ini tidak mengambil titik tolak dari psikologi behavioristik akan tetapi dari al-Qur’an dan al-hadits. Supervisi ini mencontoh perilaku Rasulullah saw dalam mengajari sahabatnya secara langsung. Misalnya perilaku Rasulullah dalam mengajari sahabatnya masalah shalat, makan, tata krama, akhlak dan kegiatan sehari-hari. Rasulullah menumbuhkan lingkungan yang harmonis agar para sahabat tekun beribadah selain dirinya sendiri sebagai contoh.

Demikian juga dalam supervisi pendidikan Islam, penerapan pendekatan direktif ini juga diberlakukan dengan membutuhkan keterlibatan tinggi dari seorang supervisor atau seorang kepala lembaga pendidikan Islam untuk membina guru agar dapat meningkatkan kualitas kinerjanya.

C.     Perilaku Pokok Supervisi Pendidikan Islam Dengan Pendekatan Direktif

Supervisi dengan pendekatan ini, menuntut supervisor yang banyak bicara dan berkomentar. Supervisor sedikit sekali memberikan pujian dan semangat yang mendorong guru. Supervisi dengan pendekatan ini didasarkan asumsi bahwa mengajar terdiri dari beberapa ketrampilan teknis dengan standar dan kompetensi yang telah ditetapkan. Menurut Glickman, seperti yang dikutip Sahertian, adalah sebagai berikut:

1)   Menjelaskan

2)   Menyajikan

3)   Mengarahkan

4)   Memberi contoh

5)   Menetapkan tolok ukur

6)   Menguatkan.

Pada pendekatan ini, supervisor mengarahkan kegiatan untuk perbaikan pengajaran dan menetapkan standar perbaikan pengajaran dan penggunaan standar tersebut harus diikuti oleh guru. Tanggung jawab proses sepenuhnya berada ditangan supervisi, sedangkan tanggung jawab guru rendah. Sehingga biasanya supervisor mengeluarkan perintah kepada guru untuk lebih meningkatkan profesionalitasnya dan mendiskusikannya apabila mengalami masalah.

Madhi menyatakan tata cara mengeluarkan perintah ada dua cara: Pertama, memberikan perintah dengan keyakinan tanpa keraguan yang berdampak pada kecepatan merespon dan melaksanakan tugas; dan kedua, menggunakan ungkapan positif (itsbat) lebih efektif daripada ungkapan negatif (nafy).  Tata cara perintah yang pertama memantapkan langkah para guru untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas, sedangkan tata cara perintah kedua itu memastikan pekerjaan/tugas yang harus dikerjakan guru lantaran menggunakan itsbat. Sebaliknya penggunaan ungkapan negatif (nafy)seringkali mengaburkan pemahaman para guru. Misalnya penggunaan itsbat adalah lakukan pekerjaan ini dalam waktu satu minggu. Sedangkan penggunaan nafy  dapat dicontohkan, lakukan pekerjaan ini tidak boleh lebih dari satu minggu. Kedua perintah ini memberi kesan yang berbeda. Contoh perintah pertama mengesankan suatu keharusan sedang pada contoh perintah kedua masih mengesankan adanya anjuran.

Perilaku supervisor sebagaimana yang dijelaskan Glikcman dan diperkuat oleh Madhi tersebut dilakukan secara bertahap. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam, bahwa perubahan itu hendaknya dilakukan dengan bertahap. Proses pentahapan pembinaan tersebut dalam Islam terjadi ketika seorang pendidik membimbing anak yang sudah masuk usia shalat. Tahapan pembinaan anak ketika anak sudah masuk usia tujuh tahun sama dengan pelaksanaan supervisi direktif, dan dilanjutkan ketika anak berumur 10 tahun, yaitu ketika anak meninggalkan shalat anak dipukul atau diberi hukuman. Hal tersebut juga sama ketika seorang guru berhasil meningkatkan profesionalitasnya, maka guru tersebut diberi reward dan sebaliknya jika guru tetap dalam ketidakmampuannya melakukan inovasi pembelajaran, guru diberi punishment. Namun, punishment disini adalah yang mampu mendidik guru untuk lebih giat berusaha meningkatkan profesionalitasnya.

Hal yang perlu dicatat adalah umat Islam itu mempunyai banyak bahan, namun miskin teori, karena miskin metodologi atau epistemologi. Sebenarnya sudah banyak bahan yang tersebar, dan penulis hanya mengqiyaskan salah satunya supaya menjadi teori supervisi pendidikan Islam.

D.     Aplikasi Supervisi Pendekatan Direktif Dalam Supervisi Klinik

Supervisi klinis disebut juga supervisi kelas adalah “suatu bentuk bimbingan atau bantuan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhan guru melalui siklus yang sistematis untuk meningkatkan proses belajar mengajar”. Pelaksanaannya didesain dengan praktis serta rasional. Baik desainnya maupun pelaksanaannya dilakukan atas dasar analisis data mengenai kegiatan-kegiatan di kelas.

Dalam pelaksanaan supervisi klinis, terdapat tujuan-tujuan yang dirumuskan, antara lain:

1)      Membantu guru meningkatkan kemampuan mengajarnya, terutama kepercayaan atas kemampuannya serta kemampuan menerapkan ketrampilan dasar mengajar.

2)      Memberi balikan yang obyektif atas perilaku guru dalam mengajar di kelas.

3)      Membantu guru menganalisis, mendiagnosis serta mencari alternatif pemecahan masalah yang dihadapi guru di kelas.

4)      Membantu guru meningkatkan kemampuan dan sikap positifnya secara terus menerus dan berkelanjutan.

5)      Sebagai dasar menilai kemampuan guru dalam rangka promosi jabatan atau pekerjaannya.

Terdapat berbagai faktor yang mendorong dikembangkannya supervisi klinis, antara lain sebagaimana dikemukakan oleh Mufidah:

1)   Dalam kenyataan yang dikerjakan supervisi ialah mengadakan evaluasi guru-guru semata. Di akhir satu semester guru-guru mengisi skala penilaian yang diisi peserta didik mengenai cara mengajar guru. Hasil penilaian diberikan kepada guru-guru, tapi tidak dianalisis mengapa sampai guru-guru dalam mengajar hanya mencapai tingkat penampilan seperti itu. Cara ini menyebabkan ketidakpuasan guru secara tersembunyi.

2)   Pusat pelaksanaan supervisi adalah supervisi, bukan berpusat pada apa yang dibutuhkan guru, baik kebutuhan profesional sehingga guru-guru tidak merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi pertumbuhan profesinya.

3)   Dengan menggunakan merit rating (alat penilaian kemampuan guru), maka aspek-aspek yang diukur terlalu umum. Sukar sekali untuk mendeskripsikan tingkah laku guru yang paling mendasar seperti yang mereka rasakan, karena diagnosisnya tidak mendalam, tapi sangat bersifat umum dan abstrak.

4)   Umpan balik yang diperoleh dari pendekatan sifatnya memberi arahan, petunjuk, instruksi, tidak menyentuh masalah manusia yang terdalam yang dirasakan guru-guru, sehingga hanya bersifat di permukaan.

5)   Tidak diciptakan hubungan identifikasi dan analisis diri, sehingga guru-guru melihat konsep dirinya.

6)   Melalui diagnosis dan analisis dirinya sendiri guru menemukan dirinya. Ia akan sadar kemampuan dirinya dengan menerima dirinya dan timbul motivasi dari dalam dirinya sendiri  untuk memperbaiki dirinya sendiri. Praktek-praktek supervisi yang tidak manusiawi itu menyebabkan kegagalan dalam pemberian supervisi klinis.

Prinsip-prinsip supervisi klinis, antara lain:

1)   Supervisi klinis yang dilaksanakan harus berdasarkan inisiatif dari para guru lebih dahulu. Perilaku supervisor harus demikian taktis sehingga guru-guru terdorong untuk berusaha meminta bantuan dari supervisor.

2)   Ciptakan hubungan manusiawi yang bersifat interaktif dan rasa kesejawatan

3)   Ciptakan suasana bebas dimana setiap orang bebas mengemukakan apa yang dialaminya. Supervisor berusaha untuk apa yang diharapkan guru.

4)   Objek kajian adalah kebutuhan profesional guru yang riil yang mereka sungguh alami.

5)   Perhatian dipusatkan pada unsur-unsur yang spesifik yang harus diangkat untuk diperbaiki.

Sebenarnya dari sekian banyak model supervisi pendidikan yang sesuai dan layak diterapkan dalam pendidikan Islam adalah model supervisi klinis. Hal tersebut karena sebenarnya supervisi model klinis tersebut sudah ada dalam ajaran Islam yaitu dalam hadits. Dalam masalah menjawab jawaban orang yang bertanya, dalam satu pertanyaan yang dilontarkan oleh orang yang berbeda, Nabi menjawabnya dengan berbeda-beda juga. Hal tersebut karena Nabi memperhatikan keadaan orang yang minta wasiat, dan beliau memberikan sesuatu yang lebih dibutuhkan oleh orang yang minta wasiat tersebut. Maka keadaannya sama dengan keadaan dokter dan pasiennya, pasien diberi obat yang dibutuhkannya. Konsep Islam ini sebenarnya merupakan konsep yang sudah ada sejak zaman Nabi yang publikasinya sudah lebih dahulu dari konsep supervisi pendidikan klinis. Namun umat Islam tidak menyadari akan adanya hal tersebut karena miskin epistemologi.

Sebenarnya konsep supervisi pendidikan Islam dengan pendekatan direktif akan lebih bagus hasilnya jika diterapkan dengan menggunakan model klinis, yang sesuai dengan ajaran Islam. Proses penerapan pendekatan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tahap pre conference, supervisor menerima aduan dari guru yang bermasalah kemudian mengklarifikasikan dan membicarakan bersama, dan supervisor memberikan contoh atau gagasan yang dipresentasikan di depan guru tersebut.
  2. Tahap observasi, supervisor melakukan observasi untuk melihat kerja guru untuk meneliti apakah guru ini mengadakan perubahan atau peningkatan.
  3. Tahap post conference, supervisor melakukan feetback atas hasil observasi dan mendemonstrasikan jika masih ada yang kurang, kemudian menetapkan standar dan memberikan insentif atau menyatakan bahwa guru tersebut telah berhasil apabila hasil observasi sudah memuaskan dan positif.

Dengan melakukan tahap-tahap di atas, dan dilakukan dengan penuh kesabaran tanpa adanya amarah dan demi mengharap ridho dan pertolongan Allah, maka insya Allah supervisi dengan pendekatan direktif dalam lembaga pendidikan Islam mampu diterapkan dengan baik. Semuanya bergantung pada peran kepala madrasah atau kepala lembaga yang bertindak sebagai supervisor. Jadi supervisor harus mempunyai jiwa rekonstruksi dan selalu bertaqwa kepada Allah.

Demikian rekonstruksi konsep pembinaan guru dalam pendidikan Islam  dengan pendekatan direktif yang dapat penulis kemukakan. Apabila terdapat ketidaksetujuan atau saran, penulis menerimanya dengan hati terbuka.

 

DAFTAR RUJUKAN

 Bafadal, Ibrahim, Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar: Dalam Kerangka Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.

Burhanuddin, “Konsep Dasar Supervisi Pendidikan”, dalam Burhanuddin et.al, Supervisi Pendidikan dan Pengajaran: Konsep, Pendekatan, dan Penerapan Pembinaan Profesional, Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 2007.

Imron, Ali, “Perilaku Directive Supervisi Pengajaran”, dalam Burhanuddin et.al, Supervisi Pendidikan dan Pengajaran: Konsep, Pendekatan, dan Penerapan Pembinaan Profesional, Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 2007.

Madhi, Jamal, Menjadi Pemimpin yang Efektif dan Berpengaruh Tinjauan Manajemen Kepemimpinan Islam, Terj. Anang Syafrudin dan Ahmad Fauzan, Bandung: PT. Syamil Cipta Media, 2002.

Maisyaroh dan Ali Imron, “Supervisi Klinis dan Non Klinis” dalam Burhanuddin et.al, Supervisi Pendidikan dan Pengajaran: Konsep, Pendekatan, dan Penerapan Pembinaan Profesional, Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 2007.

Majid, Abdul, Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.

Mufidah, Luk-luk Nur, Diktat Supervisi Pendidikan, Tulungagung: Diktat Tidak Diterbitkan, 2005.

Mufidah, Lukluk Nur, Supervisi Pendidikan, Jember: Center for Society Studies, 2008.

Mulyasa, E., Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.

Muslim, Shahih Muslim, juz 9, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Muslim, Sri Banun, Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru, Bandung: Alfabeta, 2009.

Qardawi, Yusuf, Sunnah Masdaran lil Ma’rifah wal Hadharah, Kairo: Dar al Syuruq, 1997.

Rahim, Husni, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2001.

Sahertian, Piet A.,  Konsep Dasar Dan Tehnik Supervisi Pendidikan: Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.

Sobur, Alex, Psikologi Umum Dalam Lintasan Sejarah, Bandung: Pustaka Setia, 2003.

Soetopo, Hendyat, Supervisi Klinis: Bahan Pelatihan Manajemen Pendidikan Bagi Kepala Sekolah Pada SUT (Sekolah Unggulan Terpadu) Kabupaten Lumajang, Lumajang: Bahan Pelatihan Tidak Diterbitkan, 2006.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 555 other followers