AL-ISYAQ


AL-ISYAQ

(Kajian Tasawuf Jalaluddin al-Rumi)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.     Latar Belakang

Zuhud atau secara umum tasawuf dianggap sebagai salah satu biang keladi kemunduran Islam ternyata menimbulkan pandangan balik secara kontroversial. Zuhud biasanya diartikan keadaan meninggalkan dunia dan kehidupan material. Seorang Syeikh yang dikutip al-Thusi menyatakan, ” Barang siapa yang tidak menegakkan dasarnya dengan zuhud, maka segala sesuatu yang ada padanya sesudah itu tidak sah. Sebab cinta dunia penyebab segala kesalahan sedangkan zuhud di dunia merupakan penyebab kebaikan dan ketaatan.

Persoalan yang muncul adalah bagaimana  seseorang bisa meninggalkan dunia demi mendekatkan diri hanya kepada Allah, sementara dia  memiliki tanggung jawab ekonomi terhadap keluarganya, tanggung jawab sosial dan tanggung jawab kultural kepada masyarakatnya. Pada bagian lain, keadaan dunia global terutama yang menyangkut wilayah ekonomi, terdapat persaingan yang sangat ketat, sehingga membutuhkan keterlibatan yang intent. Kalau tidak maka peluang-peluang kerja akan dimanfaatkan orang lain, termasauk orang-orang non Muslim.

Demikian juga dengan konsep fana’ (lenyap) dan baqa’. Pada tahap awal, fana’ tersebut tidak penghalang bagi kemajuan peradaban. Misalnya, ketika seseorang fana’ dari akhlak yang tercela (akhlaq madzmumah) maka akan baqa’ akhlak yang terpuji (mahmudah). Namun, ketika sampai pada tingkatan lenyap dari dirinya sendiri (fana’ ’an al-nafsi), atau bahkan fana’ ‘an dunya, maka seseorang tidak lagi memperhatikan apapun dan siapapun, bahkan dirinya sendiri ataupun lingkungan sekitarnya dianggap tidak ada, yang ada hanya Dzat yang haq, ialahAllah. Sebagaimana yang dikutip Schimmel, Iqbal menegaskan bahwa teori fana’, penghancuran diri, lebih berbahaya bagi orang-orang Islam daripada penghancuran Baghdad oleh pasukan Mongol.

Ajaran-ajaran tasawuf senantiasa mengajak para pengamalnya untuk membersihkan diri dari sifat-sifat tercela atau membersihkan hati dari kemaksiatan, termasuk juga dalam kerangka tazkiyat al-nafs (membersihkan jiwa) itu adalah dengan jalan menjauhkan diri dari kecenderungan pada dunia materi seperti harta benda, perhiasan dan sebagainya, untuk diarahkan pada rohani dan lebih jauh lagi spiritual, mendapatkan ridla Allah. Bahkan kalau mungkin ”bersatu dengan Allah”, dalam versi Abu Yazid al-Busthami disebut al-ittihad sedang dalam versi Abu Mansyur al-Halaj disebut al-hulul.

Konsep lain adalah wahdat al-wujud (kesatuan wujud). Konsep ini berasal dari Muhyiddin Ibnu Arabi, seorang sufi dari spanyol. Menurut paham ini, tiap-tiap yang ada mempunyai dua aspek; Aspek luar yang merupakan khalq (makhluk) yang mempunyai sifat kemakhlukan, dan aspek dalam yang merupakan Haq (Tuhan) yang mempunyai sifat ketuhanan. Maksudnya, dalam tiap-tiap yang berwujud ini terdapat sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Oleh karena itu kalau ada orang yang mengejar kekuasaan, maka jangan disalahkan karena merupakan bayangan Tuhan. Bukankah Allah memiliki sifat Maha Kuasa (al-Qadir), kalau ada orang yang serakah harta tidak perlu disalahkan karena bayangan Allah yang bersifat Maha Kaya (al-Ghani). Demikian juga kalau ada orang yang suka memaksa orang lain, sikap ini masih dalam batas tajalli (bayangan) Tuhan yang bersifat Maha Memaksa (al-Qahhar). Ajaran ini memunculkan  suatu pemahaman bahwa ”apapun yang dikerjakan manusia tidak ada yang salah”, sehingga paham ini dipandang berbahaya.

Oleh karena itu, Schimmel melaporkan bahwa dalam pandangan sarjana Eropa, khususnya Jerman pada 1920-an dan 1930-an terdapat kepercayaan bahwa peradaban Islam yang merosot setelah 1300 M, tidak begitu banyak disebabkan penaklukan Baghdad oleh serangan hebat bangsa Mongol pada 1220 M dan 1260 M, tetapi disebabkan oleh pengaruh Ibnu Arabi dengan pahamnya, wahdat al-wujûd (kesatuan wujud). Namun terlepas dari semua itu, Rumi merupakan tokoh tasawuf yang berusaha memajukan peradaban Islam, walaupun pemikirannya lebih terkonsentrasi pada hubungan manusia dengan penciptanya. Ia mempunyai paham yang menarik untuk dikaji yaitu al-isyaq (kerinduan), dan pengungkapannyapun berbeda dengan yang lainnya.

B.     Biografi Jalaluddin Rumi

Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Khotbi al-Bakri dilahirkan di Balkhl (Persia) pada tahun 604 H (1217 M) dan meninggal pada tahun 672 H (1273 M) kota Konya Turki, setiap tanggal 17 Desember tak pelat lagi, tempat religius yang sangat penting untuk dikunjungi di Konya adalah Mousoleum Rumi, yang saat ini telah menjadi museum. Museum itu hanya kecil. Bangunan tersebut menjadi museum pada tahun 1926 dan kemudian kembali menjadi pusat kegiatan Whirling Dervishes. Di tempat inilah Rumi, sufi dan sastrawan besar Persia, dimakamkan berdampingan dengan putra sulungnya Sultan Walad. Di dalam usia empat tahun ia dibawa ayahnya ke Asia kecil yang pada waktu itu lebih masyhur dengan sebutan negeri Rum. Itu sebabnya maka ia memakai nama Rumi. Kota itu nama aslinya adalah Konya, dan di kota tersebut ayah Rumi meninggal ketika Rumi berusia 24 tahun. Di kota tersebut ayahnya diangkat sebagai penasehat Raja dan pimpinan perguruan agama yang didirikan raja tersebut.

Ayahnya dikenal sebagai seorang ahli fiqih dan sufi, yang memiliki pengetahuan eksoterik dan esoterik. Dalam dimensi eksoterik, dia mengajarkan kepada setiap muslim tentang caranya menjalankan kewajiban-kewajiban agama, sedangkan dalam dimensi esoterik, dia mengajarkan cara menyucikan diri dan meraih kesempurnaan.

Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika beliau sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid sebanyak 4000 orang. Sebagaimana seorang ulama, beliau juga memberi fatwa dan tumpuan umatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya berubah 180 derjata ketika beliau berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi dari kota Tabriz.

Ketika gurunya meninggal beliau sangat sedih dan untuk mengenang gurunya, beliau menulis syair-syair wejangan gurunya dan dikenal dengan nama Divan Syams Tabriz. Beliau telah menulis tasawuf yang besar berupa syair yang dikenal namanya dengan “matsnawi” berisi 25000 bait syair, terdiri dari enam jilid. Di sanalah beliau melukiskan segenap pendirian tasawufnya yang berdasar wihdatul wujud itu.

C.     Karya-Karya Jalaluddin Rumi

Karya-karya utama Rumi adalah Diwan al-Syams tabrizi yang memuat lebih dari 40000 syair dan matsnawi sekitar 25000 syair, disamping kumpulan-kumpulan hikmah dan surat-suratnya. Diwan (Kumpulan syair) terdiri dari 3230 ghazal yang jumlah keseluruhannya mencapai 35000 syair 44 ta’rifat. Sebuah bentuk puisi yang terdiri dari dua atau lebih ghazal yang seluruhnya berjumlah 1.700 syair dan ruba’iyyat. Sajak-sajak yang terdiri dari empat baris. Diwan lebih mencakup keseluruhan syair Rumi daripada Matsnawi, yang disusun dalam rentang waktu lebih dari 30 tahun sejak kedatangan Syam di Konya hingga menjelang akhir hayat Rumi. Dalam hal ini tampaknya perlu dicatat bahwa–karena sering kali terlupakan—diwan disusun belakangan, setelah matsnawi, sekitar dua belas atau empat belas tahun menjelang masa-masa akhir kehidupan Rumi.

Meskipun syair-syair ketiga dari diwan, secara eksplisit dipersembahkan kepada Syam, namun sebagian besar syairnya tidak pernah menyebut-nyebut nama orang dan seringkali diakhiri dengan ungkapan-ungkapan seperti diam; ada sebagian kecil yang mengungkapkan pujian terhadap figur-figur tertentu, seperti Shalah al-Din Zarkub dan Hisyam al-Khalabi. Shalah al-Din seperti halnya Rumi, dulu adalah murid Burhan al-Din Tirmidzi, namun kemudian dia bergabung dengan Rumi dan menjadi salah seorang pengagumnya. Sedangkan al-Khalabi adalah murid Rumi yang menjadi iulham baginya dalam menyusun matsnawi. Dalam Diwan, tampak kedua figur tersebut memainkan peran yang hampir sama dengan Syam. Keduanya adalah cermin yang memantulkan wajah sang kekasih Rumi.

Matsnawi (untaian Sajak Dua Baris), terdiri dari enam buku persajakan yang bersifat didaktis yang memuat syair-syair panjang. Dari 3810 hingga 4915 syair. Matsnawi merepresentasikan karya pribadi yang disusun secara sistematis sedangkan Diwan memuat ghazal-ghazal pribadi Rumi serta beraneka ragam puisi yang disusun sesuai rima masing-masing.

D.     Inti Dari Karya Jalaluddin Rumi (al-Isyaq)

Pendakian cinta kepada Tuhan sampai ke tingkat paling utama dalam sufisme paling sering dikaitkan dengan Rabi’ah al-Adawiyah, wali wanita ternama dari Basra. Sebagai asketikus sufi awal dari madzhab Basra. Abd al-Wahid Ib Zayd di abad ke 7 telah memperkenalkan istilah non-Qur’anik Isyq atau cinta penuh gairah untuk menggambarkan hubungan Tuhan manusia. Dengan mudah dapat ditunjukkan bahwa cinta (Isyq) ang menjadi tema sentral ajaran-ajaran Rumi. Jika kita memulainya dengan mempelajari Diwan, kita akan segera mengetahui sebagian besar syair-syairnya berkaitan dengan hal ini. Cinta, dalam Matsnawi maupun fihi ma fihi tidak tersebut begitu saja, kecuali dengan perluasan makna dan percabangannya.

Fanatisme cinta berbeda dengan agama lain

Fanatisme cinta adalah terhadap yang Maha Cinta

Tujuan pecinta bukan seperti tujuan lain.

Cinta adalah kompas langit menuju misteri Tuhan

Banyak yang menganggap bahwa sumbangan terbesar Rumi pada agama adalah aliran sufi Mawlawiyah dan tarian berpusat seperti gasing (ragisama’). Sesungguhnya aliran Rumi jauh lebih agung dari itu semua. Sumbangan terbesar Rumi terhadap Islam dan agfama bukan terletak pada tarekat Mawlawi, tarian ragisama, ataupun dzikir dengan diiringi musik (sama’). Bahkan Rumi tidak pernah mengkotakkan cara beragama dalam tarekat tertentu. Baginya kita tidak perlu membutuhkan Asyabiyah (fanatisme kelompok), karena agama seluas cinta dan hanya agamalah yang dapat membawa kita kepada Tuhan.

Tiada salahnya aku berbicara tentang cinta dan menerangkannya

Tapi malu melingkupiku manakala aku sampai pada cinta itu sendiri (M.1112)

Cinta tak terjangkau oleh kata-kata dan pendengaran kita

Cinta adalah lautan yang tak terukur kedalamannya

Cobalah kau hitung berapa banyak air di sungai?

Di hadapan lautan itu, tujuh sungai tiada arti. (M.V.2731-32)

Cinta tidak dapat ditemukan melalui pendidikan dan ilmu

Pengetahuan, buku-buku dan tulisan (D.4182)

Apapun yang kaudengar dan katakan (tentang cinta)

Kulit semata, inti cinta adalah rahasia yang tak terungkapkan.(D.2988)

Cukup! Sampai kapan kau akan terpancang pada lidah dan kata-kata?

Cinta memiliki begitu banya tamsilan yang berada di seberang kata-kata.(D.4355)

Diam! Diamlah! Karena apa yang dikatakan orang tentang cinta tak dapat diterima.

Tersembunyilah makna-makna karena begitu banyak kata.(D.2073)

Seseorang bertanya “Apakah cinta?” Jawabku “bertanyalah tentang makna-maknanya.

Manakala kau menjadi sepertiku, kau akan tau ketika dia memanggilmu, kau akan membaca kisahnya. (D.290.50-51)

Dalam pandangan Rumi, cinta sebagai dimensi pengalaman rohani bukan dalam pengertian teoritis, sepenuhnya mengendalikan keadaan batin dan psikologis sufi. Ia tidak dapat diterangkan dengan kata-kata, namun hanya dapat dipahami dengan pengalaman. Rumi sering menegaskan bahwa cinta tak terungkapkan, meskipun demikian dalam syair-syairnya dia memberikan gambaran: orang dapat membicarakannya kapan saja dan tiada habis-habisnya, tapi tetap pada suatu kesimpulan: cinta benar-bena tak terungkapkan lewat kata-kata. Ia adalah pengalaman yang berada diseberang pemikiran tapi sebuah pengalaman yang lebih nyata daripada dunia dan segala yang ada didalamnya.

Dengan demikian, cinta hanya dapat dipahami lewat pengalaman, tetapi melalui kata-kata Rumi, kita dapat menangkap banyak hal yang berkaitan dengan realitas yang tak terkatakan ini. Yang jelas, kita harus tetap ingat ia untuk disadari bukan untuk dibicarakan. Jika Rumi terpaksa berbicara tentang cinta, hal itu hanya dimaksudkan untuk membangkitkan hasrat menuju cinta dari hati orang yang mendengarnya.

Apakah cinta? Dahaga yang sempurna, maka biarkan

Aku bicara tentang air kehidupan.

E.     Manifestasi-Manifestasi Cinta

Suatu malam orang bertanya pada cinta: “katakan padaku, sesungguhnya siapakah engkau?”.

Ia berkata: “aku adalah kehidupan abadi, aku melipatgandakan kehidupan yang menyenangkan.

Aku berkata” wahai engkau yang melampaui setiap tempat dimanakah rumahmu?”

Ia berkata” aku bersama-sama dengan api, sang hati dan di sisi mata yang basah”

Aku seorang tukang celup, karena bagiku setiap pipi berubah menjadi berwarna kuning jingga.

Aku adalah seorang utusan yang berjalan dengan cepat dan sang pecinta adalah kuda tungganganku yang kurus.

Aku adalah tulip merah tua, barang dagangan yang berharga.

Aku adalah manisnya tatapan, penyingkap selubung segala terselubung. (D.1402).

Salah satu dari lagu pujian yang besar dimana Maulana mencoba menemukan apa itu cinta dimulai dengan pertanyaan.

Wahai cinta, siapa  yang dibentuk lebih harmonis, engkau atau taman dan kebun apelmu? (D.2138)

Dan puisi itu berlanjut dalam tarian berirama untuk menceritakan tindakan-tindakan cinta yang ajaib, mengilhami setiap atom, membujuk pepohonan menari, dan mengubah segala sesuatu.

Melalui cinta semua yang pahit menjadi manis

Melalui cinta semua tembaga akan menjadi emas.

Melalui cinta segala ampas menjadi anggur paling murni.

Melalui cinta semua penyakit akan berubah menjadi obat.

Melalui cinta sang raja kembali menjadi seorang budak. (M.1529F)

Tanpa cinta tidak akan ada suka cinta dalam kehidupan, karena hidup akan menjadi tak punya rasa tanpa garamnya yang tak terbatas”. Visinya memanggil para pengelana kembali:

Aku berjalan ke depan, aku pergi dari ujung menuju permulaan.

Wajah ini melihat di dalam mimpinya padang pasir nan luas.

Hindustanmu!

Hindustan berada di sana, yang begitu sering dalam literatur Persia abad pertengahan, sebagai rumah abadi yang mendadak ditinggal. Sang jiwa dalam mimpi yang bahagia. Kemudian ia rindu untuk memutuskan belenggu yang mengikatnya di sana, di pengasingan materi Barat dan berlari pulang ke rumah, dengan suatu tarian yang mabuk, bergabung lagi dengan riba asasi darimana ia dahulu ditangkap. Sang gajah kemudian memimpikan India.

Adalah seperti burung bulbut yang merindukan kebun mawar, seperti seruling bambu yang menyanyikan kebun bambu asasi.

Rumi tahu, diakhir sebuah puisi yang panjang yang dicurahkan pada aspeek-aspek cinta bahkan mengatakan, bahwa orang tidak dapat berbicara cukup mengenai wajah (atau wajah-wajah) cinta hingga hari kebangkitan, karena bagaimana mungkin lautanmu diukur dengan sebuah lepekan?

Dalam syair lainnya, cinta tampak sebagai cermin bagi kedua dunia atau lainnya, sebagai kekuatan yang menggosok baja untuk mengubahnya menjadi sebuah cermin. Kepadatan materi yang buram, dapat menjadi bening berkat kerja cinta, yang dengan demikian ia sangat penting sekaligus menyakitkan.

Tetapi cinta muncul juga sebagai suatu mushaf, suatu salinan al-Qur’an yang dibaca sang pecinta di dalam mimpi-mimpinya, atau ia adalah lembaran kertas darimana ia menyalin puisinya; citra yang terakhir ini adalah sebuah ungkapan yang cocok dengan misteri ilham. Karena Maulana sering tidak mengetahui secara intelektual apa yang sedang ia nyanyikan, mirip ide bahwa cinta memegang sang penyair dalam jari-jarinya, seperti sebuah pena, sehingga ia menulis tanpa menyadari isinya, tetapi ia tahu nama Syam tertulis di dalam buku-buku catatan cinta sejak hari-hari perjanjian azali.

Maulana menggunakan bahasa Arab dan persia, kadang-kadang juga mengambil ungkapan-ungkapan Turki dan Yunani untuk membicarakan perasaan-perasaannya, dan kemudian ia tahu bahwa keindahan cinta tidak dapat dimuat di dalam segala bejana, meskipun aku harus memujanya dengan ratusan ribu lidah” karena ia adalah seperti Tuhan menyatakan sekaligus menyembunyikan diri.” Sang pencinta dapat “berjalan-jalan dalam cinta” dan semakin jauh ia melangkah, ia akan menemukan kebahagiaan yang lebih besar, karena cinta tidak terbatas, karena cinta tidak terbatas bersifat Ilahi dan ia lebih besar dari seribu kebangkitan.

Kebangkitan adalah sebuah batas, tapi cinta tidak terbatas.

Seorang mistikus dan filosof pernah menganggap bahwa cinta adalah alasan bagi setiap gerakan di dalam dunia, karena

Jika tanah dan gunung-gunung bukan para pecinta,

Rerumputan takkan pernah dapat menumbuhkan tunas dari dadanya.

1.   Tuhan adalah Cinta

Tuhan adalah mata air cinta, sebagaimana Dia adalah sumber segala yang ada. Tapi apa makna “Tuhan adalah cinta”? Kenyataan bahwa begitu banyak ayat al-Qur’an menyatakan cinta adalah sifat Tuhan. Karena sering disebut dalam kitab suci Tuhan mencintai sesuatu. Para sufi biasa mengutip ayat berikut ini “yang berbicara tentang hubungan herarkis antara cinta Tuhan kepada manusia dan cinta manusia kepadaNya, yang terakhir bermuara dari yang pertama.

Bolehkah kita mengatakan bahwa “Tuhan adalah cinta?” Jawabannya sama manakala kita ditanya tentang sifat-sifat ketuhanan yang lainnya, ya dan tidak. Pertanyaan “Apakah Tuhan adalah cinta” jawabannya adalah ya. Hal ini hanya menyangkut sifat bukan zat seperti halnya pernyataan bahwa dia adalah kasih, pengetahuan, kehidupan, kekuatan dan kehendak. Semua itu adalah sifat-sifat-Nya. Dia memiliki semuanya. Wujud-Nya sama dengan sifat-sifat-Nya. Namun kita tidak dapat mengatakan bahwa tuhan tiada lain adalah kasih, Dia adalah pengetahuan dan bukan selainnya. Sebagai pertentangan-pertentangan yang tiba-tiba” sifat-sifat-Nya adalah mutlak sedangkan Zat-Nya melampaui semua itu. Dari satu sudut pandang, Ia adalah cinta, tapi dari sudut pandang yang lain Dia diseberang cinta. Kedua sudut pandang ini dapat kita lihat di dalam syair-syair Rumi maupun prosanya.

Cinta adalah ikatan kasih sayang. Ia adalah sifat Tuhan

Cinta hamba-hambanya hanyalah bayang-banyang

Cinta-Nya kepada mereka adalah segalanya.

Lalu apakah arti cinta mereka kepada-Nya. (M.11, Muqaddimah).

2.   Dunia Diciptakan Oleh Cinta

Cinta adalah hasrat dan kebutuhan, meskipun di dalam esensi Tuhan tak mengenal kebutuhan, tapi dalam sifat-sifat-Nya Ia berkata: “Aku ingin (cinta) untuk dikenal, maka Kuciptakan dunia”. Sebagaimana cintanya kepada Nabi, sehingga Ia berfirman “Jika bukan karena engkau, tidak akan Kuciptakan surga”.

Cinta Tuhan mengejawantahkan perbendaharaan yang tersembunyi melalui ciri para Nabi dan orang-orang suci yang menjadi motivasi bagi penciptaan alam semua ini. Sebagai hasilnya, cinta mengalir ke seluruh urat Nadi dunia. Semua perbuatan dan gerakan berasal dari cinta; bentuk-bentuk dunia tidak lain adalah pantulan-pantulan keunikan realitasnya.

Makhluk-makhluk bergerak karena cinta, cinta oleh

Keabadian tanpa permulaan; angin menari-nari karena semesta.

Pohon-pohon disebabkna oleh angin. (D.500)

Tuhan berkata pada cinta” jika bukan karena keindahanmu, untuk apa aku mesti menatap pada cermin eksistensi. (D.26108)

Aku gerakkan roda langit sehingga engkau memahami kedahsyatan cinta.

Langit berputar karena para pecinta, roda berputar demi cinta.

Bukan karena tukang roti atau pandai besi, juga bukan

Karena tukang kayu atau ahli obat. (M.V.2736-40)

    3.  Pengetahuan Sejati dan Wahdatul Adyan

Konsepsi  Rumi tentang ma’rifah sejati dimulai oleh fakta bahwa Tuhan mengajarkan Adam semua nama. Nama-nama ini merupakan prototipe semua pengetahuan sejati dan langsung berasal dari Tuhan. Menurut Rumi, kebijaksanaan Tuhan menciptakan dunia agar segala hal yang ada dalam pengetahuan-Nya tertangkap. Demikianlah tiga fundamental manusia untuk memahami seluruh kebenaran sejati yang bersembunyi dibalik pikiran manusia melalui pemahaman dunia fenomena.

Terdapat dua hal yang penting, pertama, ma’rifat sepenuhnya bergantung pada kehendak dan kemurahan Tuhan. Kedua, ia bukanlah hasil latihan mental. Persepsi indra dan akal penting sebagai sarana untuk membimbing kita hanya sampai pada gerbang pengetahuan sejati, dan sisanya bergantung pada rahmat Tuhan. Atas dasar ini, mereka yang hanya menggunakan persepsi indra atau penalaran diskursif, akan sia-sia mencari kebenaran.

Seperti sufi lainnya, Rumi percaya pada kesatuan transendental agama-agama dan memandang kontroversi diantara para penganut agama tersebut hanya terjadi karena mereka melihat bentuk luar agama dan bukan pada esensinya. Mereka terlalu terikat pada cara pandang formal dan tradisional  yang memandang agama-agama lain terpisah dan akibatnya tidak mengizinkan adanya visi tentang kesatuan semua agama. Dalam kisah yang terkenal tentang gajah dan istana yang gelap, Rumi berusaha menunjukkan betapa orang-orang yang berpikiran sempit gagal menjelaskan hakekat agama. Upaya tidak akan pernah berhasil sebelum mereka memahaminya secara komprehesif.

F.      Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Khotbi al-Bakri dilahirkan di Balkhl (Persia) pada tahun 604 H (1217 M) dan meninggal pada tahun 672 H (1273 M), kota Konya Turki. Beliau telah menulis tasawuf yang besar berupa syair yang dikenal namanya dengan “matsnawi” berisi 25000 bait syair, terdiri dari enam jilid. Di sanalah beliau melukiskan segenap pendirian tasawufnya yang berdasar wihdatul wujud itu.
  2. Karya-karya utama Rumi adalah Diwan al-Syams tabrizi yang memuat lebih dari 40000 syair dan matsnawi sekitar 25000 syair, disamping kumpulan-kumpulan hikmah dan surat-suratnya. Diwan (Kumpulan syair) terdiri dari 3230 ghazal yang jumlah keseluruhannya mencapai 35000 syair 44 ta’rifat. Sebuah bentuk puisi yang terdiri dari dua atau lebih ghazal yang seluruhnya berjumlah 1.700 syair dan ruba’iyyat.
  3. Inti dari ajaran Rumi adalah al-Isyaq yaitu merindukan dan cinta kepada Allah.
  4. Manifestasi ajaran Rumi adalah Tuhan adalah cinta dan dunia adalah manifestasi dari cinta.

G.     Saran-Saran

Berpijak dari kesimpulan di atas, maka dapat penulis kemukakan sarannya sebagai berikut:

  1. Hendaklah seseorang tersebut mengaplikasikan cintanya kepada Allah dengan mencintai sesama makhluk-Nya.
  2. Hendaklah dalam seorang juga memperbaiki akhlaknya, karena tasawuf pada tingkatan pertama adalah tasawuf akhlaqi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: