AL-Razi


AL-Razi

(Lima Kekal)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.     Pendahuluan

Kalaupun Islam muncul sebagai sistem peradaban yang mandiri, maka hal itu merupakan realitas sejarah yang tentu saja bukan untuk arah utama Islam sebagai agama yang hadir. Dalam arti, Allah mengutus Muhammad membawa Islam tentulah “tidak direncanakan” untuk muncul sebagai sebuah peradaban. Islam muncul sebagai sebuah agama dengan membawa  aneka sistem keagamaan. Oleh karenanya, harus dipahami perbedaan Islam sebagai agama dengan Islam sebagai peradaban.

Peradaban Islam muncul tidak lepas dari berbagai pemikiran yang berkembang dalam Islam. Berbagai pemikiran yang muncul tersebut biasa disebut filsafat Islam. Pemikiran yang berkembang dalam filsafat Islam memang didorong oleh pemikiran filsafat Yunani yang masuk ke Islam. Namun, hal itu tidak berarti bahwa filsafat Islam adalah nukilan dari filsafat Yunani. Filsafat Islam adalah hasil interaksi dengan filsafat Yunani dan yang lainnya. Hal itu dikarenakan pemikiran rasional umat Islam telah mapan sebelum terjadinya transmisi filsafat Yunani ke dalam Islam.

Filsafat Islam yang dipelopori oleh para filosof muslim timur telah mengembangkan sayapnya dan menancapkan cakarnya dengan kuat. Dimulai dari al-Kindi sebagai filosof Islam pertama kali, kemudian disusul oleh para filosof yang lainnya. Karena merupakan filosof yang pertama kali, maka al-Kindi dijuluki sebagai bapak filsafat Islam. Setelah masa al-Kindi, kemudian dilanjutkan oleh berbagai filosof yang masing-masing mengembangkan karakternya masing-masing. Setelah itu, filsafat dilanjutkan oleh al-Razi yang menolak perpaduan antara agama dengan filsafat. Karena menurutnya kebenaran yang sejati ini adalah kebenaran yang diperoleh dari filsafat. Sedangkan agama saling bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Maka dari itu, untuk memperbaiki masyarakat, maka harus mengamalkan filsafat. Maka dari itu, penulis akan membahas secara mendetail pemikiran kedua tokoh tersebut dalam karya yang berjudul ” al-Razi: Lima Kekal”.

B.     Biografi al-Razi

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi (Persia: أبوبكر الرازي) atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864930. Ia lahir di Rayy. Al-Razi lahir pada tanggal 28 Agustus 865 Hijirah dan meninggal pada tanggal 9 Oktober 925 Hijriah. Nama Razi-nya berasal dari nama kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran. Di kota ini juga, Ibnu Sina menyelesaikan hampir seluruh karyanya. Ia lahir pada masa kejayaan Bani Abbasiyah.

Saat masih kecil, al-Razi tertarik untuk menjadi penyanyi atau musisi tapi dia kemudian lebih tertarik pada bidang alkemi. Pada umurnya yang ke-30, al-Razi memutuskan untuk berhenti menekuni bidang alkemi dikarenakan berbagai eksperimen yang menyebabkan matanya menjadi cacat. Kemudian dia mencari dokter yang bisa menyembuhkan matanya, dan dari sinilah al-Razi mulai mempelajari ilmu kedokteran. Dia belajar ilmu kedokteran dari Ali ibn Sahal al-Tabari, seorang dokter dan filosof yang lahir di Merv. Dahulu, gurunya merupakan seorang Yahudi yang kemudian berpindah agama menjadi Islam setelah mengambil sumpah untuk menjadi pegawai kerajaan di bawah kekuasaan khalifah Abbasiyah, al-Mu’tashim.

Al-Razi kembali ke kampung halamannya dan terkenal sebagai seorang dokter di sana. Kemudian dia menjadi kepala Rumah Sakit di Rayy pada masa kekuasaan Mansur ibnu Ishaq, penguasa Samania. Al-Razi juga menulis al-Tibb al-Mansur yang khusus dipersembahkan untuk Mansur ibnu Ishaq. Beberapa tahun kemudian, al-Razi pindah ke Baghdad pada masa kekuasaan al-Muktafi dan menjadi kepala sebuah rumah sakit di Baghdad. Setelah kematian Khalifah al-Muktafi pada tahun 907 Masehi, al-Razi memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia mengumpulkan murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihris, al-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki banyak murid. Selain itu, al-Razi dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya.

Zakariya al-Razi adalah pemikir bebas terbesar (the greatest freethinker) dalam dunia Islam. Ia adalah salah satu dokter ternama segala zaman. Ia menulis 200 buku tentang macam-macam subyek. Ia penulis ensiklopedia terbesar, al-Hawi, proyek yang dikerjakannya selama 15 tahun. Al-Razi seorang empiris, yaitu orang yang tidak mengikuti prosedur standar secara dogmatis, malah sebaliknya secara teliti mencatat segala detail kemajuan pasiennya dan efek perawatan terhadap pasiennya. ia salah satu yang mula-mula menuliskan buku-buku tentang penyakit menular, seperti cacar air.

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, al-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar. Buku al-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir al-Razi dalam buku ini.

Dia mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam hal ketrampilan (kedokteran). Para penguasa mengundangnya serta memberinya penghargaan yang tinggi. Dia senantiasa sibuk dengan kajia-kajiannya. dia menempatkan lampunya dalam satu tempat pada tembok yang menghadap dia, dan menyandarkan bukunya pada tembok itu. Dengan cara seperti ini, ketika dia tertidur sejenak, maka bukunya akan lepas dari tangannya dan menjadikannya terbangun dan kemudian membaca bukunya kembali. Hal itulah yang menyebabkan pandangan matanya rusak. Pada akhirnya ia buta untuk selamanya dan di akhir hayatnya, kedua matanya terserang katarak.

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa al-Razi sebagai seorang dokter dan pemikir besar. Bahkan dunia barat mengakui hal itu. Hal itu dibuktikan dari adanya gambar al-Razi dan Ibn Sina yang menghias Fakultas Kedokteran Universitas di Paris. Tidak hanya itu saja, bukunya telah menjadi rujukan atau referensi pada perguruan kedokteran di sana, walaupun sudah berabad-abad buku tersebut dipublikasikan penulisnya. Berikut ini adalah karya al-Razi pada yang dituliskan dalam buku:

  1. Al-Hawi, yang berarti Hidup yang Luhur (Arab: الحاوي) isinya berupa ensiklopedi kedokteran.
  2. Petunjuk kedokteran untuk masyarakat umum (Arab:من لا يحضره الطبيب)
  3. Penyakit pada anak
  4. Al-Tibb al-Mansuri, isinya tentang pengobatan yang khusus dikarang untuk Abu Saleh Mansur ibn Ishak Al-Samani yang menjabat gubernur di Rayy.
  5. Naqdul Adyaan aw fi al-Nubuwah, isinya bahwa filsafat adalah jalan terbaik untuk memperbaiki manusia dan masyarakat.
  6. Banyak lagi buah pena al-Razi seperti tentang cacar dan campak (kedokteran), bidang kimia dan filsafat.

Demikianlah biografi al-Razi, jadi pantaslah kalau pada akhirnya ia menjadi salah satu pemikir bebas yang ada dalam dunia Islam yang menolak otoritas wahyu dan kenabian. Walaupun begitu,  yang perlu ditekankan di sini adalah ia juga merupakan filosof muslim yang berusaha merasionalkan pemikiran dan pemahamannya.

C.     Pemikiran al-Razi

Al-Razi adalah seorang rasionalis sejati yang hanya percaya pada kekuatan akal dan sama sekali tak percaya pada perlunya wahyu-wahyu dan nabi-nabi sebagai mediator antara manusia dengan Tuhannya. Maka tak heran bila kemudian beliaunya ini dianggap kafir, baik oleh umat-umat yang manut terhadap ajaran agama maupun ahli bid’ah semacam Ismailiyah, yang pada masa itu tokoh pentingnya bernama Nashiri Khusru dan orang se-negara yang punya nama sama dengannya, Abu Hatim al-Razi. Bisa dimaklumi memang, jika melihat premis rasionalisnya yang radikal dan terlalu mengagungkan akal sehat itu. Tapi yang perlu dicatat di sini adalah bahwa sebenarnya Al-Razi bukanlah seorang atheist, melainkan penganut monotheis santun yang percaya dengan adanya Tuhan sebagai arsitek yang mengatur dan menjalankan mesin besar bernama semesta ini.

Pokok pikiran al-Razi dalam bidang filsafat yang terkenal adalah lima kekal. Ajaran tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tuhan atau pencipta segala makhluk. Pencipta haruslah kekal dan tidak berawal, jika pencipta tidak kekal maka ia tidak dapat menciptakan.
  2. Materi, menurut al-Razi materi adalah kekal karena creatio ex nihilo (penciptaan dari tiada) merupakan hal yang tak mungkin kalau tidak disebut mengada-ada. Keabadian materi dapat didemonstrasikan dengan dua cara yaitu yang pertama; penciptaan, yaitu tindakan materi yang sedang dalam pembentukan, mensyaratkan (adanya) bukan saja seorang pencipta yang telah mendahuluinya, tetapi juga sebuah substratum atau materi dimana tindakan itu melekat. Salah satu contoh yang diajukan al-Razi tentang kekekalan materi adalah bahwa Tuhan tidak menciptakan semua hal dari tiada, dan salah satunya adalah tentang penciptaan dunia ini. Dunia menurut pendapatnya diciptakan dari materi tanpa bentuk dan bukan dari abra kadabra. Materi tanpa bentuk yang menjadi bahan pembuatan dunia inilah yang kemudian diyakini telah ada bersama Tuhan yang juga tak berawal itu. Jadi, karena Tuhan kekal maka bisa dipastikan bahwa materi juga kekal.
  3. Roh, merupakan sesuatu yang kekal, karena setelah jasad atau tubuh hancur maka roh akan kembali ke bentuk semula dan bersama materi. Roh ada bersama Tuhan dan materi, maka dari itu, roh dikatakan kekal.
  4. Waktu absolut, mengenai hal ini al-Razi membuat perbedaan antara zaman absolut dan zaman terbatas, yaitu antara al-dahr (duration) dan al-waqt (time). Yang pertama kekal, dalam arti tidak bermula dan tidak pula berakhir, tak dapat diukur dan tak terbatas. Sedang yang kedua sebagai sesuatu yang dapat diukur dan terbatas serta disifati oleh angka-angka. Untuk memahami waktu absolut yang sama sekali lepas dari alam semesta yang diciptakan dan geraknya, menurut al-Razi kita harus sama sekali meninggalkan gerak segenap langit dan timbul tenggelam matahari dan planet-planet untuk kemudian memusatkan perhatian kepada konsep murni tentang gerak keabadian yang baginya sama dengan waktu absolut tadi. Dalam hal ini, waktu absolut disamakan dengan perulangan abadi, yang mendahului timbulnya waktu particular, dan dengan penciptaan dunia yang terjadi berbarengan dengan gerakan segenap langit.
  5. Ruang absolut, mengenai kenapa ruang pun dianggap kekal ini berkaitan dengan konsep materi, yaitu bahwa materi memerlukan sebuah lokus tempat ia berada yakni ruang. Karena materi itu kekal maka dengan sendirinya ruang pun ikut kekal.

Selain itu, al-Razi menolak pemaduan antara agama dengan filsafat. Menurut al-Razi cara terbaik untuk memperbaiki masyarakat ialah dengan mempelajari dan mengamalkan filsafat, sedangkan agama itu hanya membuat orang menjadi kacau, karena agama itu nyatanya satu sama lain berbeda dan saling bentrokan. Menurut al-Razi, agama itu hanya untuk orang awam saja atau orang yang berpikir sederhana, akan tetapi bagi orang yang cerdik pandai, maka ia bergantung pada akal pikiran dan ilmu pengetahuannya.

Sesuatu yang ekstrim dari al-Razi, sebagaimana disinggung di atas, adalah al-Razi tidak mempercayai wahyu. Menurutnya, manusia sejak lahir telah membawa pembawaan yang sama, hanya pendidikan dan lingkungannyalah dapat mengubah seseorang menjadi baik atau buruk. Jadi dalam hal ini, al-Razi cenderung kepada nativisme. Al-Razi menganggap bahwa al-Qur’an adalah buatan manusia (dalam hal ini dia tidak menunjuk jidat siapapun tentang sang kreator tersebut), maka baik gaya, bahasa maupun isinya, bukanlah merupakan mukzizat. Dia menganggap al-Qur’an sebatas karya intelektual manusia yang derajatnya tak lebih besar dari buku-buku filsafat karya Pythagoras maupun Aristoteles.

Ajaran al-Razi ini dikucilkan karena ajaran beliau dianggap banyak berbenturan dengan ajaran Islam yang baku, dan cenderung mendukung pandangan kaum naturalis kuno pada zamannya. Berikut ini adalah butir ajaran-ajaran beliau yang paling banyak ditentang oleh kaum agamawan (khususnya Islam) :

  1. Tidak mempercayai adanya wahyu.
  2. Al-Qur’an bukanlah mukjizat
  3. Tidak percaya pada Nabi-nabi
  4. Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir selain Tuhan.

Dengan tidak mengakui adanya wahyu, sebagaimana tertulis dalam keterangan di atas, maka secara otomatis al-Razi menolak eksistensi Nabi. Al-Razi percaya kalau tanpa bantuan rasul-rasul sekalipun, akal manusia pasti mampu untuk menuntun ke jalan Tuhannya. Mampu mengetahui baik dan buruk segala sesuatu selama manusia mau menggunakan akalnya. Karena menurut dia, pada dasarnya setiap manusia dibekali oleh Tuhan daya pikir yang sama besarnya. Adapun perbedaan timbul karena tak semua manusia mau mengasah kemampuan akalnya ini dan perbedaan pendidikan yang dijalaninya.

Menurut Al-Razi, keberadaan nabi-nabi dengan ajarannya yang saling bertentangan dan tumpang tindih satu sama lain itu hanya menimbulkan kehancuran dan saling benci membenci diantara umat manusia yang tak jarang meningkat menjadi peperangan antar umat beragama yang berakhir dengan pertumpahan darah. Faktor lain yang menyebabkan ia tidak percaya kepada eksistensi nabi adalah manusia dengan akalnya mampu mengenali baik dan buruk, bahkan mampu pula mengenal adanya Tuhan dan juga perbedaan yang terjadi pada seseorang dengan lainnya itu bukan karena pembawaan, tetapi karena lingkungan dan pendidikan yang dialaminya.  Tak hanya Islam, semua agama ia kritik. Menurut beliau, orang tunduk kepada agama sebenarnya hanya karena faktor tradisi belaka. Sebagian lainnya, karena kekuasaan yang dipunyai pemuka-pemuka agama, dan atau karena tertarik dengan ritual-ritual agama. Untuk ritual-ritual agama sendiri al-Razi punya pandangan sinis dan muram bahwa upacara-upacara itu bila dikerjakan secara berkesinambungan dan terus menerus dapat mengakibatkan kecanduan, dan lebih buruk merupakan alat yang efektif untuk mencuci otak jiwa rakyat yang sederhana dalam pemikiran. Ia mengatakan, sebagaimana dikutip Abu Hatim:

Para penganut agama-agama wahyu mempelajari agama mereka dengan mengikuti otoritas para pemimpinnya. Mereka menolak spekulasi dan penelitian rasional mengenai doktrin-doktrin mendasar. Mereka membatasi dan melarangnya. Mereka mentransfer tradisi-tradisi mereka atas nama pemimpin-pemimpin mereka, yang memaksa mereka untuk tidak berspekulasi mengenai masalah-masalah agama, dan mengumumkan bahwa siapa saja yang melanggar tradisi yang mereka riwayatkan, akan dicap sebagai kafir.

Jika masyarakat beragama ini ditanya tentang bukti yang mendukung agama mereka, mereka akan menjadi panas hati, marah, dan menumpahkan darah siapa saja yang menghadapkan mereka dengan pertanyaan ini. Mereka melarang spekulasi rasional dan berusaha untuk membunuh musuh-musuh mereka. Inilah yang menyebabkan mengapa kebenaran menjadi didiamkan dan sangat tertutup.

Statemen di atas adalah kritik al-Razi atas agama wahyu dan kenabian, serta alasan rasional untuk merasionalkan pemikirannya dalam rangka penolakan agama wahyu dan kenabian.

Tak hanya itu, lebih jauh, dalam filsafatnya mengenai hubungan manusia dan Tuhannya, ia condong kepada filsafat Pythagoras yang berpandangan bahwa kebahagiaan terbesar manusia baru bisa di raih ketika manusia bisa kembali kehadirat Tuhannya dengan jalan meninggalkan alam materi ini, karena menurutnya manusia baru benar-benar bisa kembali kepada Tuhannya bila jiwanya telah suci. Dan salah satu jalan yang bisa ditempuh manusia untuk mensucikan dirinya adalah dengan cara bergulat dengan ilmu pengetahuan dan berpantang mengerjakan beberapa hal. Kita tahu, dalam filsafat Pythagoras, cara mensucikan jiwa itu adalah melalui transmigration of Souls. Tapi paradok yang kemudian ditemukan dari filsafat al-Razi, adalah beliau tidak punya konsep apapun yang terperinci mengenai jalan pensucian jiwa ini selain kalimat “jalan mensucikan jiwa adalah filsafat”.

Mengenai moral, al-Razi berpendapat bahwa orang jangan terlalu zuhud akan tetapi juga jangan terlalu tamak, dengan kata lain, jangan memanjakan nafsu, akan tetapi juga jangan membunuh nafsu. Adapun caranya ialah:

  1. Secara maksimal memperoleh kesenangan itu dengan tidak menyakiti orang lain dan bertentangan dengan rasio.
  2. Secara minimal memperoleh kesenangan dengan makan makanan yang tidak mengandung penyakit dan berpakaian yang dapat menutupi tubuh.

Demikian uraian pemikiran filsafat al-Razi. Al-Razi memang seorang yang rasionalis dan tidak mempercayai eksistensi wahyu dan kenabian. Akan tetapi yang perlu dicatat adalah ia juga seorang muslim yang berusaha merasionalkan pemikiran-pemikirannya dan mengungkapkan pemahamannya untuk menyelamatkan umat manusia.

D.     Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi  atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864930. Ia lahir di Rayy. Al-Razi lahir pada tanggal 28 Agustus 865 Hijirah dan meninggal pada tanggal 9 Oktober 925 Hijriah. Nama Razi-nya berasal dari nama kota Rayy.Ia adalah seorang pemikir atau filosof yang rasionalis yang tidak mempercayai wahyu dan kenabian. Namun ia juga seorang muslim yang ingin menginterpretasikan pemahamannya tentang Tuhan dan makhlukNya. Karena ia seorang dokter, maka karyanya yang banyak adalah dalam bidang kedokteran.
  2. Pemikiran filsafatnya sangat rasionalis, bahkan ia tidak mempercayai eksistensi al-qur’an dan kenabian. Ajaran yang terkenal darinya adalah lima kekal. Di samping itu, ia juga mempunyai ajaran etika agar manusia tidak terlalu zuhud dan juga tidak terlalu bermewah-mewah.

E.     Saran-Saran

Berpijak dari kesimpulan di atas, maka dapat penulis kemukakan sarannya sebagai berikut:

  1. Hendaklah seseorang memahami persatuan antara agama dan filsafat, karena dengan demikian, maka ia akan lebih mudah memahami agama dan mudah mencapai derajat yang diinginkan.
  2. Hendaklah seorang pendidik memahami berbagai macam aliran pemikiran, agar tidak terjebak dalam satu pemikiran yang bersifat parsial dan persuasif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: