HUKUM WARIS ANAK HASIL IMPLANTASI EMBRIO KE DALAM RONGGA PERUT LAKI-LAKI


HUKUM WARIS ANAK HASIL IMPLANTASI EMBRIO KE DALAM RONGGA PERUT LAKI-LAKI

(Sebuah Kajian Fiqih Mawaris Kontemporer)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.      Latar Belakang

Upaya rekonstruksi pemikiran hukum islam yang dilakukan sejak era pra modern dengan corak pra scientif yang kental dengan nuansa teologis eskatologis sampai era modern dan post modern yang bercorak scientif antropologis, bukanlah sekedar petualangan intelektual belaka. Ikhtiar rekonstruksi tersebut juga merupakan upaya untuk menyelaraskan kebutuhan sebuah komunitas keberagaman umat islam ditengah perubahan zaman dan pesatnya perkembangan ilmu dan bioteknologi.

Perkembangan bioteknologi salah satunya memberi jalan keluar bagi suami istri yang tidak bisa mendapatkan keturunan secara alamiah melalui jalur insemenasi buatan, klonning atau implantasi embrio ke dalam rongga perut laki-laki. Yang menjadi persoalan kemudian absahkah jika hal ini dilakukan oleh umat islam, padahal dalam al Qur’an maupun as Sunnah tidak terdapat nash yang melegitimasinya.

Oleh karena itu menggali potensi akademik dan progrefifitas hukum islam di era kontemporer ini merupakan suatu kemestian, terutama untuk menjawab persoalan-persoalan baru yang muncul sebagai konsekuensi logis pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun bioteknologi.

Untuk itulah, hukum islam telah memberikan wadah bagi usaha-usaha rekonstruksi hukum yang berkenaan dengan masalah-masalah baru yang dikenal dengan istilah ijtihad. Muara ijtihad adalah dua sumber hukum islam yang transendental, yakni al Qur’an dan as Sunnah. Dalam berijtihad, ada berbagai metodologi yang digunakan oleh para mujtahid. Dan juga terdapat syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid.

Hukum islam dari segi dalil (sumber yang menunjukkan) dapat diklasifikan menjadi:

  1. Hukum islam tentang sesuatu yang telah ditegaskan secara jelas oleh dalil qath’I (nash al qur’an dan hadist yang tidak mengandung penafsiran).
  2. Hukum islam tentang sesuatu yang ditunjukkan oleh dalil zhanny (ayat al Qur’an maupun al Hadist yang statusnya zhanny dan mengandung penafsiran).
  3. Hukum islam tentang sesuatu yang disepakati oleh ulama atau ketentuan hukum berdasarkan ijma’.
  4. Hukum islam tentang sesuatu yang sama sekali belum ditegaskan atau disinggung dalam al Qur’an, Hadist maupun Ijma’.

Menurut ilmu ushul fiqih, kata ijtihad identik dengan kata istinbath yang berarti usaha yang sungguh-sungguh untuk menggali hukum syara’ yang belum ditegaskan secara langsung oleh al Qur’an dan al Hadist. Agar hukum syara’ yang belum ditegaskan secara langsung oleh nash al Qur’an dan Hadist itu diketahui, maka hukum itu harus digali melalui ijtihad, karena itu islam mengabsahkan ijtihad dan mendorong ulama untuk berijtihad. Hal ini dimaksudkan agar hukum islam dapat berkembang dengan dinamis.

Sedangkan dalil yang membolehkan adanya ijtihad dari hadits Nabi adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي قَيْسٍ مَوْلَى عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ قَالَ فَحَدَّثْتُ بِهَذَا الْحَدِيثِ أَبَا بَكْرِ بْنَ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ فَقَالَ هَكَذَا حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُطَّلِبِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ

Artinya: Abdullah bin alMukri al Makky  bercerita kepadaku, Haiwah bin Suraih bercerita kepadaku, Yazid bin Abdullah bin  al Had bercerita kepadakudari Muhammad bin Ibrahim bin Harist dai Yusr bin Sa’id dari Abi Qais yaitu orang yang dimerdekakan Umar bin Ash dari Umar bin Ash sesungguhnya dia mendengar Nabi berkata: ketika hakim menghukumi kemudian ia berijtihad kemudian benar, maka untuknya dua pahala,jika kemudian salah maka untuknya satu pahala,kemudian saya menceritakan hadist ini kepada Abu Bakar bin Umarbin Hazm, maka dia berkata demikian juga Abu Salamah bin AbdurRohman menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah. Dan Abdurrohamn bin abdul Mutholib berkata dari Abdullah bin Abu Bakrin dari Abu Salamah dari Nabi SAW seperti hadist tersebut.

Dari hadits diatas dapat dijelaskan bahwa apabila seorang hakim akan menghukumi yang tidak didapati nashnya dalam dua sumber hukum , kemudian ia berijtihad dan ijtihadnya benar maka dia akan menerima dua pahala. Dan apabila ia salah, maka ia akan menerima satu pahala. Ijtihad  yang benar akan menerima dua pahala yaitu pahala kebenarannya dan pahala ijtihadnya sedangkan yang salah masih menerima pahal ijtihadnya saja. Maka dari itu ijtihad berlaku atau hanya dapat dilakukan pada:

  1. Suatu masalah yang hukumnya ditunjukkan oleh dalil zhanny, yang kemudian dikenal dengan masalah fiqih, sedangkan untuk masalah yang telah ada dalil qath’i (pasti), tidak ada kemungkinan lagi untuk berijtihad.
  2. Suatu masalah yang hukumnya sama sekali tidak disinggung, baik al Qur’an, Hadist maupun ijma’, inilah yang disebut masalah baru atau hukum baru.

Ijtihad para ahli hukum islam tersebut mengahsilkan hukum atau ketentuan hukum islam yang disebut fiqih islam. Fiqih dari para ahli fiqih tersebut didasarkan pada al Qur’an dan as Sunnah. Jadi fiqih tidak boleh lepas dari hukum syariat. Fiqih yang dihasilkan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi setempat mujtahid dan juga dipengaruhi waktu seorang mujtahid. Hal inilah yang memungkinkan hukum islam berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Jika terdapat hal baru yang disebabkan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, maka harus dicari hukumnya dengan cara ijtihad. Misalnya hukum mengenai warisnya anak hasil implantasi embrio ke dalam rongga perut laki-laki. Maka dari itu kami akan mencoba mengungkap mengenai hal tersebut dengan mengacu pada referensi yang ada dan kutub al mu’tabarah.

B.     Status Hukum Terhadap Proses Implantasi Embrio Kepada Rongga Perut Laki-laki

Implantasi embrio pada rongga perut laki-laki merupakan alternatif yang ditempuh oleh sepasang suami istri yang mandul untuk mendapatkan keturunan. Dengan jalur insemenasi buatan yang akan ditanam pada rahim istri juga tidak bisa karena rahim istri bermasalah, sehingga yang paling mungkin adalah dengan tehnik mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di vitro (tabung) dan setelah terjadi pembuahan lalu ditransfer ke rongga perut laki-laki. Atau bisa jadi sperma dan ovumnya bukan dari pasangan suami istri.

Dalam menetapkan hukum atas halal atau haramnya tindakan menciptakan kehamilan dan kelahiran bayi dari seorang laki-laki, terdapat hal yang menonjol yang bisa kita jadikan sebagai pokok atau pangkal permasalahan yang harus dihukumi (ditetapkan hukumnya). Disini dapat diambil sehingga pokok persoalan adalah bahwa tindakan menciptakan kehamilan tersebut dilakukan tersebut dilakukan atas diri seorang laki-laki. Adapun yang menjadi persoalan adealah boleh atau halalkah implantasi embrio itu diletakkan atau ditanam pada rongga perut laki-laki?

Di dalam hukum islam, ijtihad dilakukan untuk menetapkan hukum atas masalah dengan tetap mengacu dan tidak bertentangan dengan al Qur’an dan al Hadist. Untuk itu dapat dikemukakan disini hadist Rasulullah saw yang dapat kita jadikan sebagai landasan hukum dalam memecahkan masalah ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ تَابَعَهُ عَمْرٌو أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ

Muhammad bin Yasar menceritakan padaku, ghundar menceritakan kepadaku, Su’bah menceritakan kepadaku, dari Qatadah dari ’Ikrimah, dari Ibn Abbas RA, dia berkata Rasulullah saw melaknat laki-laki yang menyerupakan diri sebagai perempuan dan wanita yang menyerupakan diri sebagai laki-laki, Amr mengikutinya dan Su’bah  menceritakan padaku.

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ قَالَ فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلَانًا وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلَانًا

Mu’ad bin Fadholah menceritakan padaku, Hisam menceritakan padaku, dari Yahya, dari Ikrimah, dari Ibn Abbas dia berkata: Nabi saw melaknat orang laki-laki yang menjadi banci dan wanita yang menyerupai laki-laki dan berkata aku mengeluarkan mereka dari rumahmu,Dia  berkata kemudian nabi mengeluarkan seseorang dan Amr juga mengeluarkan seseorang.

Dari dua hadits di atas dapat disimpulkan bahwa hukum islam melarang perbuatan menyerupai lawan jenis yakni laki-laki menyerupai wanita dan sebaliknya. Maka dari itu perbuatan melahirkan dan hamil baik  dari segi rekayasa genetika maupun yang lainnya hukumnya adalah haram  dan bahkan akan mendatangkan laknat dari Allah. Sudah menjadi sunnatullah bahwa kehamilan itu adalah diberikan dan anugerah serta menjadi tugas kaum wanita, seperti firman Allah dibawah ini:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ(12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ(13)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).(Q.S. al Mu’minun: 12-13.

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ(8)

Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).(Q.S. As Sajdah:8).

Oleh karena itu jika kemudian seorang laki-laki dengan sengaja atau tidak sengaja melakukan perbuatan yang menyerupai wanita yaitu hamil dan melahirkan bayi maka hukumnya adalah haram seperti yang telah dijelaskan di atas. Hal itu jika ditinjau dari hukum islam.

Sebagaimana penciptaan kehamilan melalui inseminasi buatan dan bayi tabung, ditinjau dari asal usul sperma dan ovum yang digunakan, didalam proses rekayasa genetika dan medis untuk membuat kehamilan pada diri seorang laki-laki ini juga memiliki beberapa kemungkinan. Kemungkinan-kemungkinan itu misalnya sperma dan ovum berasal dari laki-laki dan wanita yang telah terikat perkawinan yang sah atau kemungkinan jika ovum diambil dari donor (wanita lain) yang tidak terikat perkawinan yang sah dengan laki-laki tersebut, atau kemungkinan bahwa baik ovum maupun sperma adalah dari orang lain sedangkan laki-laki tersebut hanya menerima titipan, atau kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Didalam proses inseminasi buatan dan  bayi tabung, halal dan haramnya perbuatan ditentukan oleh masing-masing kemungkinan asal-usul sperma dan ovum. Jika sperma dan ovum berasal dari pasangan suami yang sah dan kehamilan dilakukan oleh si istri tersebut maka hukumnya halal. Jika tidak seperti itu maka hukumnya haram.

Didalam rekayasa kehamilan pada laki-laki, halal dan haram tidak perlu lagi ditinjau dari asal-usul sperma dan ovum, karena dari manapun sperma dan ovum berasal, sekalipun dari pasangan suami istri yang sah perbuatan tersebut tetaplah haram hukumnya disebabkan karena kehamilan itu dilakukan oleh laki-laki yang dalam hukum Islam haram untuk mengandung.

Haruslah dipahami walaupun agama Islam sangat menjunjung tinggi derajat ilmu pengatahuan dan mendukung pengembangan ilmu, namun islam tetap memiliki rambu-rambu yang tidak boleh diterjang. Usaha pengembangan ilmu dan teknologi untuk mengubah kodrat manusia yang telah ditetapkan oleh Allah adalah sesuatu yang haram dan tidak boleh dilakukan.

Usaha dibidang medis untuk mencari solusi bagi pasangan suami istri yang mengalami gangguan dalam mendapatkan keturunan disebabkan ketidakmungkinan si istri untuk mengandung dengan jalan memungsikan rongga perut laki-laki sebagai “rahim pengganti” dipandang sebagai solusi yang tidak tepat dan dilarang menurut syariat islam.

C.      Status Hukum Anak Yang Lahir Dari Rongga Perut Laki-Laki

Terdapat suatu kaidah dalam hukum umum, termasuk hukum islam, bahwa sah tidaknya (halal haramnya) suatu perbuatan dan hasilnya harus ditinjau dari keseluruhan proses kegiatan. Akibat suatu perbuatan dikatakan sah/halal jika kesimpulan proses perbuatan yang  menghasilkannya telah dilakukan secara benar/sah berdasarkan aturan yang ditetapkan. Adapun suatu proses perbuatan yang dilakukan secara cacat hukum atau menyalahi aturan akan menyebabkan pula perbuatan tersebut tidak sah atau tidak halal.

Dapat diilustrasikan disini misalnya, buah apel menurut islam secara materi adalah halal untuk dimakan, sehingga apel yang didapatkan dari hasil pemberian atau sedekah adalah halal untuk dimakan. Akan tetapi buah apel bisa menjadi makanan haram yang haram untuk dimakan jika ia mendapatkannya dari hasil mencuri, karena mencuri adalah perbuatan yang dilarang oleh agama.

Ilustrasi lain yaitu misal dalam pasal 1320 BW disebutkan bahwa syarat untuk sahnya suatu perjanjian tersebut yaitu sepakat mereka yang mengikatkan diri, kecakapan para pihak untuk membuat suatu perikatan, suatu hal (obyek) tertentu dan suatu kausa (sebab) yang halal. Apabila keempat unsur dari suatu perjanjian tersebut telah terpenuhi secara benar maka apapun hasil dari suatu perjanjian adalah sah. Akan tetapi jika salah satu unsur dari perjanjian itu tidak dipenuhi, misalnya tidak adanya kesepakatan atau jika kesepakatan itu diperoleh dengan jalan tidak benar, misalnya dengan cara pemaksaan, maka perjanjian tersebut dinyatakan tidak sah/batal dari segi hukum. Demikian juga apapun hasil dari perjanjian tersebut dinyatakan tidak sah.

Demikianlah bahwa sekali lagi harus dipahami bahwa sahnya suatu perbuatan dan hasilnya harus ditinjau dari sahnya keseluruhan perbuatan atau proses tersebut dijalankan. Demikian halnya untuk menetapkan status atau nilai anak yang dilahirkan dari proses kehamilan diluar secara alami, sah atau tidaknya anak tersebut harus dilihat dari keseluruhan proses atau perbuatan yang dilakukan untuk menghasilkan anak tersebut.

Adapun tidak sahnya anak tersebut secara hukum bisa didasarkan pada pasal 99 kompilasi hukum islam yang menyatakan bahwa: “anak sah adalah : a) anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah, b) hasil perbuatan suami istri yang sah diluar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut.

Jika kita menyimak bunyi pasal tersebut khususnya pasal 99 huruf b mengenai syarat sahnya anak hasil pembuahan diluar rahim dapat disimpulkan bahwa khusus mengenai anak hasil pembuahan diluar rahim (diluar cara alami) dapat dinyatakan sebagai anak sah dengan syarat:

  1. Merupakan hasil pembuahan dari pasangan suami istri yang sah.
  2. Harus dilahirkan oleh istri tersebut.

Dengan kata lain, jika bayi tersebut bukan hasil dari pembuahan pasangan suami istri yang sah (sperma dan ovum tidak berasal dari pasangan suami istri yang sah) atau bayi tersebut tidak dilahirkan oleh istri, maka anak tersebut dianggap anak tidak sah.

Adapun anak yang dilahirkan dari hasil implantasi embrio ke dalam rongga perut laki-laki tersebut tanpa meninjau lebih jauh tentang dari mana asal sperma dan ovum yang digunakan, telah nyata bahwa status anak tersebut tidak sah berdasarkan pasal 99 huruf b seperti diatas, karena anak tersebut tidak dilahirkan oleh seorang istri dari pasangan suami istri tempat berasalnya sperma dan ovum. Dengan demikian kesimpulannya adalah anak yang dilahirkan oleh seorang laki-laki yang disebabkan adanya implantasi embrio kedalam rongga perutnya adalah sebagai anak tidak sah.

D.     Kewarisan Anak Hasil Implantasi Embrio ke Dalam Rongga Perut Laki-Laki Berdasarkan Status Hukum Dari Masing-masing Pihak

Asal usul anak merupakan dasar untuk mendeteksi adanya hubungan kemahraman (nasab). Dalam masalah faraidh atau ilmu mawaris, anak berkedudukan sebagai ahli waris utama melebihi ahli waris lainnya.

Dengan demikian, maka eksistensi anak mempunyai nilai lebih bila dibandingkan dengan ahli waris lainnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat jumlah perolehan total warisan yang didapat oleh anak. Dari sini dapat dilihat bagaimana kedudukan anak hasil implantasi embrio ke dalam rongga  perut laki-laki.

Menentukan kewarisan anak yang lahir dari rongga perut laki-laki tidak bisa dilepaskan dari status nasab anak dalam keluarga tersebut. Hubungan kewarisan dapat timbul apabila hubungan nasab telah terjadi, walaupun hubungan nasab bukan satu-satunya penyebab mewarisi, namun dalam persoalan anak yang menimbulkan kewarisan adalah hubungan nasab.

Dalam hukum kewarisan, bagi anak yang tidak sah ia hanya memiliki hubungan kewarisan dengan ibunya atau keluarga ibunya berdasarkan pasal 186 KHI. Lalu apakah dengan demikian sudah dapat disimpulkan bahwa setiap anak yang lahir dari seorang laki-laki hanya akan mewarisi dari ibunya dan tidak dengan laki-laki itu sendiri?

Perlu untuk dipahami sebelumnya bahwa yang berstatus sebagai ibu yang sebenarnya, sebagaimana pendapat yang dikemukakan Anna Haroen, dosen hukum FK/FKG Unah yang juga sebagai konsultan hukum dari beberapa rumah sakit negeri dan swata di Surabaya, dalam mengomentari masalah kelahiran bayi dari seorang laki-laki dalam kasus Lee Mingwei, adalah wanita dari ovum yang digunakan itu berasal. Sedangkan si laki-laki yang mengandunng dan melahirkan bayi tersebut menurutnya hanya bertindak sebagai surrogate mother (ibu pengganti). Sedangkan menurut kitab bahasanya yaitu ibu yang asli ialah ibu tempat berasalnya ovum atau sel telur itu sendiri.

Secara hukum yang dipandang memiliki hubungan nasab dengan si anak adalah ibu dari mana ovum berasal, sedangkan ibu pengganti atau surrogate mother dipandang tidak memiliki hubungan nasab. Oleh karen itu ibu yang memiliki hubungan waris sebagaimana yang dimaksudkan oleh pasal 186 KHI tersebut adalah ibu yang sebenarnya, bukan ibu pengganti.

Ditinjau dari asal usul sperma dan ovum yang digunakan, dapat diambil beberapa kemungkinan-kemungkinan, yaitu:

v  Sperma berasal dari laki-laki itu sendiri sedangkan ovum berasal dari istrinya (wanita yang terikat perkawinan yang sah dengan laki-laki tersebut).

v  Sperma berasal dari laki-laki itu sendiri sedangkan ovum berasal dari donor (wanita yang tidak terikat perkawinan yang sah dengan laki-laki tersebut).

v  Sperma berasal dari donor sedangkan ovum berasal dari wanita itu sendiri, bagi yang suaminya mandul sedangkan istrinya mengalami gangguan rahim, dan ovumnya tidak bermasalah.

v  Baik sperma maupun ovum berasal dari donor, sedangkan laki-laki hanya menerima titipan.

E.     Hak Waris Anak Yang Dihasilkan Dari Sperma Berasal Dari Laki-laki Itu Sendiri Sedangkan Ovum Berasal Dari Istrinya

Dalam kasus ini berarti si anak dilahirkan dalam perkawinan yang sah dan ia  juga merupakan akibat atau hasil dari perkawinan tersebut. Meskipun demikian ia tetap tidak dapat dianggap sebagai anak sah karena ia tidak dilahirkan oleh seorang wanita (istri) sebagaimana yang disyaratkan pasal 99 huruf b KHI.

Ada hal yang menarik dari kasus ini karena si laki-laki disini memiliki status ganda, yaitu disamping ibu pengganti bagi si anak karena telah mengandung dan melahirkan anak tersebut, ia juga sekaligus mutlak sebagai ayah bagi si anak secara biologis maupun secara yuridis.

Menjadi ayah secara biologis karena sperma yang ditanamkan berasal darinya. Sedangkan menjadi ayah secara yuridis karena si anak tersebut dihasilkan dalam atau hasil perkawinan yang sah. Status si laki-laki sebagai ayah baik secara biologis maupun secara yuridis mengakibatkan ia dipandang sabagai atau memiliki hubungan nasab (hubungan darah dengan anak).

Adapun ibu  yang sebenarnya dari si anak tetap wanita dari mana ovumu berasal yaitu istri dari laki-laki tersebut. Walaupun  istri tidak mengandung dan melahirkan ia tetap dipandang memiliki hubungan nasab.

Terkait dengan kewarisan, dalam keadaan normal, seharusnya anak yang berstatus tidak sah hanya mewarisi dari ibunya dan keluarga ibunya saja. Namun dalam kasus ini dapat dikatakan sebagai kondisi tidak wajar. Penulis menemukan keunikan dalam hubungan waris. Dalam kasus ini asumsi penulis sangat yakin bahwa walaupun berstatus anak tidak sah, anak tersebut tetap memiliki hubungan waris dengan laki-laki tersebut sebagaii ayahnya karena hubungan darah atau nasab antara keduanya baik secara biologis maupun yuridis yaitu sebagai ayah. Jadi dalam kasus ini kewarisan anak tidak sah adalah sasma dengan kewarisan anak sah yaitu ia dapat mewarisi dari kedua orang tuanya. Baik dari pihak bapak maupun pihak ibu. Yang menjadi pertanyaan apakah hal itu tidak menyalahi aturan hukum waris atau ilmu faraidh?

Untuk menjawab hal itu penulis akan menampilkan secara tekstual dari aturan-aturan tersebut:

v  Pasal 100 KHI berbunyi: anak yang lahir diluar perkawinan, hanya mempunyai hubun gan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya.

v  Pasal 186 KHI berbunyi: anak yang lahir diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan waris dengan ibunya atau keluarga ibunya.

Dari tekstual kedua pasal tersebut dapat ditafsirkan bahwa anak yang tidak sah yang ditetapkan sesuai dengan pasal tersebut hanya memiliki hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya, tidak dengan ayah dan keluarga ayahnya, adalah anak yang dilahirkan diluar perkawinan yang sah. Hal tersebut karena tidak adanya hubungan nasab antara anak dengan ayahnya.

Sehubungan dengan hal itu dalam kasus ini anak yang dilahirkan seorang laki-laki dimana sperma berasal dari dirinya ssendiri dan ovum dari istrinya adalah anak yang tidak sah yang tetap dilahirkan didalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Karena itu walaupun berstatus sebagai anak yang tidak sah, anak tersebut tidak masuk di dalam klasifikasi anak yang tidak sah sebagaimana yang dimaksud pasal diatas.

Jadi dalam kasus ini penulis berkeyakinan dan berkesimpuulan bahwa pemberian hak terhadap anak tersebut untuk tetap memiliki hal waris dari kedua orang tuanya, sebagaimana layaknya anak sah adalah tidak menyalahi atau bertentangan dengan aturan hukum waris islam.

Kemudian perihal aturan yang bersumber dari al Hadist tentang pewarisan anak tidak sah didasarkan pada hadist  adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو الرَّبِيعِ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَجُلًا أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ رَجُلًا رَأَى مَعَ امْرَأَتِهِ رَجُلًا أَيَقْتُلُهُ فَتَقْتُلُونَهُ أَمْ كَيْفَ يَفْعَلُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِمَا مَا ذُكِرَ فِي الْقُرْآنِ مِنْ التَّلَاعُنِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قُضِيَ فِيكَ وَفِي امْرَأَتِكَ قَالَ فَتَلَاعَنَا وَأَنَا شَاهِدٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفَارَقَهَا فَكَانَتْ سُنَّةً أَنْ يُفَرَّقَ بَيْنَ الْمُتَلَاعِنَيْنِ وَكَانَتْ حَامِلًا فَأَنْكَرَ حَمْلَهَا وَكَانَ ابْنُهَا يُدْعَى إِلَيْهَا ثُمَّ جَرَتْ السُّنَّةُ فِي الْمِيرَاثِ أَنْ يَرِثَهَا وَتَرِثَ مِنْهُ مَا فَرَضَ اللَّهُ لَهَا

Artinya: Sulaiman bin dawud yaitu abu ar Rabi’ meneritakan padaku, Fulaih menceritakan kepadaku dari zuhri dari sahal bin Said, sesungguhnya laki-laki datang pada rasululah saw kemudian berkata: hai Rasulullah apakah engkau tidak melihat laki-laki yang melihat istrinya bersama laki-laki lain apakah laki-laki tersebut harus membunuhnya atau kamu sekalian membunuhnya atau bagaimana laki-laki itu bertindak,kemudian Allah menurunkan antara kjeduanya sesuatu yang disebutkan dalam al Qur’an yaitu li’an, kemudian nabi berkata pada laki-laki tersebut telah diputuskan antara kamu dan istrimu, rawi berkata, kemudian kami menjatuhkan li’an dan saya menjadi saksi disisi rasulullah kemudian laki-laki itu memisah istrinya dan istri tersebut sunah untuk dipisah antara dua orang li’an, dan istri dalam keadaan hamil, maka laki-laki mengingkari kehamilan istri maka anak istri dinasabkan kepada istri tersebut, sunnah memberlaku dalam hal waris yaitu anak mewaris kepada istri (ibunya), dan ibu mewaris dari anak tersebut dengan  sesuatu yang ditentukan Allah. Yaitu 1/3.

Dari lafadh tersebut nabi menjadikan pewarisan anak li’an kepada ibunya dan sebaliknya. Karena adnya pengingkaran ayah terhadap anak. Sehubungan dengan hal itu penulis berkesimpulan bahwa hak waris dari anak yang tidak sah yang sedang di bahas ini tidak masuk dalam aturan hak waris anak li’an seperti yang disebutkan dalam hadist tadi, terlabih lagi rasanya tidak mungkin laki-laki yang telah mengandung dan melahirkan anak tersebut tidak mengakui anak tersebut sebagai anaknya dalam kedudukannya sebagai seorang ayah.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pemberian hak waris dari anak yang lahir dari seorang laki-laki dimana sperma dan ovum berasal dari keduanya untuk bisa mewarisi dari pihak ayah maupun ibu adalah tidak bertentangan dengan hukum waris islam. Dengan demikian pemberian hak waris bagi anak tersebut merupakan pengecualian dari aturan umum tentang kewarisan anak tidak sah dalam ilmu faraidh atau hukum waris islam.

F.      Hak Mawaris Anak Yang Dihasilkan Dari Sperma Yang Berasal Dari Laki-Laki Itu Sendiri dan Ovum Yang Berasal Dari Donor.

Dalam kasus ini berarti anak tidak dilahirkan di dalam atau akibat perkawinan yang sah atau dengan kata lain dilahirkan di luar perkawinan, karena ovum yang digunakan berasal dari wanita yang tidak teriakt perkawinan yang sah dengan laki-laki tersebut. Hal terssebut semakin menguatkan status anak tersebut menjadi anak tidak sah. Adapun kedudukan atau status si laki-laki disini juga memiliki status ganda yaitu disamping sebagai ibu pengganti karena telah mengandung dan melahirkan anak tersebut, ia juga sebagai ayah dari anak tersebut. Hanya saja berbeda dengan status laki-laki sebagai ayah dalam kemungkinan pertama yang telah dibahas di muka, dari sini laki-laki hanya berstatus sebagai ayah biologis karena sperma yang digunakan adalah spermanya, tetapi ia tidak berstatus ayah secara yuridis dari anak tersebut karena tidak adanya ikatan perkawinan yang sah yang melandasi adanya kelahiran anak tersebut.

Yang bertindak sebagai ibu yang sebanarnya dari anak tersebut adalah wanita yang telah memberikan donor (wanita darimana ovum berasal). Adapun karena kedudukan anak disini adalah sebagai anak diluar perkawinan yang sah, maka anak tersebut masuk dalam klasifikasi anak tidak sah sebagaimana pasal 100 dan 186 KHI.

Berdasarkan pasal tersebut anak hanya memiliki hubungan waris dan nasab pada ibunya dan keluarga ibunya. Dengan demikian anak hanya memiliki hubungan waris dengan ibunya dan keluarga ibunya (ibu yang mendonorkan ovum) saja, anak tidak mempunyai atau tidak berhak mewaris dari ayahnya atau laki-laki yang melahirkannya.

G.     Hak Mawaris Anak Yang Dihasilkan Dari Sperma Donor dan Ovum dari Istrinya (dengan perkawinan yang sah) sendiri.

Dalam kasus ini anak tersebut berstatus anak yang tidak sah karena bukan melalui hasil perkawinan yang sah. Ayah disini bukan merupakan ayah dan ia hanya berstatus sebagai ibu pengganti dari anak tersebut. Laki-laki tersebut tidak memiliki status sama sekali baik sebagai ayah secara biologis maupun secara yuridis, karena spermanya adalah milik orang lain Sedang yang bertindak sebagai ibu adalah istrinya sendiri.

Maka dari itu sebagaimana yang disebutkan dalam KHI pasal 100 dan 186 anak tersebut berstatus sebagai anak tidak sah yang hanya mempunyai nasab dan hak waris hanya kepada ibunya. Sedangkan status ayah atau orang yang mengandung dan melahirkan adalah sebagai ibu pengganti bukan ayah karena sperma yang dipakai bukan miliknya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa anak tersebut hanya merupakan anaknya ibu dan anak hanya berhak mewaris dan memiliki nasab dengan ibunya saja, dan anak tidak berhak mewaris dan dinasabkan dengan ayahnya.

H.     Hak Mawaris Anak Yang Dihasilkan Dari Sperma dan Ovum Orang Lain (donor) Dimana Laki-Laki Hanya Menerima Titipan

Dalam kasus ini anak tersebut  berstatus sebagai anak tidak sah yang dilahirkan diluar perkawinan. Si laki-laki yang melahirkan tersebut statusnya murni hanya sebagai surrogate mother (ibu pengganti) dari si anak. Si laki-laki sama sekali tidak memiliki status sebagai ayah baik secara biologis maupun secara yuridis.

Adapun ibu sebenarnya dari si anak adalah tetap wanita yang telah mendonorkan ovumnya. Dari sini terdapat dua kemungkinan yaitu donor dari pasangan suami istri atau bukan. Dalam hal ini tidak ada hubungan nasab antara anak dengan ayah atau orang yang melahirkan karena sebagaimana dijelaskan diatas bahwa ayah yang melahirkan atau orang yang melahirkan hanyalah seorang ibu pengganti saja. Baik secara biologis maupun secara yuridis.

Dari kemungkinan yang dibahas tadi anak yang lahir tetaplah berstatus sebagai anak tidak sah, karena proses kelahirannya tidak dari seorang ibu atau wanita yang sah.

Mengenai kemungkinan yang pertama yakni jika donor atau sperma dan ovum yang didonorkan tadi dari pasangan suami istri yang sah maka anak tersebut mempunyai hubungan nasab dengan yang mendonorkan dan mempunyai hak waris kepada kedua orang tuanya tersebut (pendonor) dan keluarga dari kedua pendonor itu karena mereka adalah ayah dan ibu dari anak tersebut yang sebenarnya, seperti yang telah dijelaskan diatas.  Sedangkan ayah yang mengandung dan melahirkan tidak berperan apa-apa, dan tidak berperan dalam hal nasab.

Sedangkan untuk kemungkinan yang kedua yaitu apabila sperma dan ovum yang didonorkan dari pasangan yang tidak terikat pernikahan yang sah, maka hukumnya seperti anak hasil zina dan yang telah terkena li’an, maka hubungan nasabnya hanya kepada ibunya saja yaitu tempat darimana ovum tersebut berasal. Maka hukum kewarisannya adalah dengan ibunya saja dan keluarga ibunya seperti yang telah dijelaskan diatas.

Kesimpulannya sistem kewarisan anak yang tidak sah ini yang disebabkan karena kelahirannya dari proses yang tidak sah yaitu dari seorang laki-laki adalah pengecualian dari aturan umum kaidah faraidh atau hukum waris islam, karena adanya analisis dan sebab-sebab seperti yang dijelaskan diatas. Anak tersebut mendapatkan warisan dari ayah dan ibunya (tempat sperma dan ovum berasal), kecuali apabila ayah dan ibunya tersebut adalah orang yang tidak terikat pernikahan yang sah, jika begitu maka anak hanya dapat mewaris hanya pada ibunya saja dan keluarga ibunya tersebut.

I.         Kesimpulan

  1. Status hukum terhadap proses implantasi embrio kepada rongga perut laki-laki adalah tidak tepat dan hukumnya adalah haram dan dilarang oleh islam, karena laki-laki yang menyerupai perempuan yaitu melahirkan dan mengandung.
  2. Status hukum anak yang lahir dari rongga perut laki-laki adalah merupakan anak yang tidak sah karena lahir dengan jalan yang tidak sah.
  3. Hukum kewarisan anak hasil implantasi embrio ke dalam rongga perut laki-laki berdasarkan status hubungan hukum dari masing-masing pihak adalah dilihat dari asal sperma dan ovum apakah dari hasil pernikahan yang sah atau tidak.
  4. Hak waris anak yang dihasilkan dari sperma yang berasal dari laki-laki itu sendiri dan ovum yang berasal dari istrinya sendiri adalah mewaris kepada orang tuanya tersebut karena mereka adalah orang tua yang sebenarnya.
  5. Hak waris dari anak yang dihasilkan dari sperma laki-laki itu sendiri dan ovum berasal dari donor adalah berasal dari ibunya dan keluarga ibunya maksudnya dari pendonor ovum tersebut. Karena tidak berasal dari hasil pernikahan yang sah.
  6. Hak waris anak yang dihasilkan dari sperma yang berasal dari donor dan ovum dari istrinya sendiri, adalah dari ibunya karena merupakan anak bukan dari hasil pernikahan yang sah.
  7. Hak Mawaris Anak Yang Dihasilkan Dari Sperma dan Ovum Orang Lain (donor) Dimana Laki-Laki Hanya Menerima Titipan adalah kepada orang tuanya yang mendonorkan tersebut jika orang tuanya tersebut terikat pernikahan yang sah. Jika tidak maka hanya kepada ibunya (pendonor ovum) dan keluarga ibunya saja.

J.       Saran

Hendaklah kita berhati-hati dalam menentukan hukum dari suatu masalah baru atau masalah yang timbul akibat dari perkembangan zaman. Karena suatu masalah tersebut merupakan masalah komplek dan harus dicari pemecahannya.

Janganlah kita melakukan perbuatan yang haram dengan tujuan untuk memperoleh sesuatu yang kita ingini, kita pasrahkan saja semua perkara kita ini kepada Allah. Karena semua yang baru itu hekakatnya tidak ada, maka janganlah mudah tergoda hawanafsu untuk meraih keperluan dunia. Hendaklah kita belajar ilmu faraidh karena ilmu tersebut merupakan ilmu yang pertama kali akan dicabut dari muka bumi ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: