IHSAN, MURAQABAH DAN TAQWA


IHSAN, MURAQABAH DAN TAQWA

(Sebuah Tinjauan Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.      Mukaddimah

Agama islam terdiri dari tiga elemen, yaitu: Iman yang mengandung segala sesuatu yang harus dipercaya, Islam, hukum atau syariat yang mengandung segala hal yang harus dilakukan, dan yang terakhir adalah ihsan, tindakan kebajikan yang memberikan kepercayaan dan melaksanakan nilai-nilai yang menyempurnakan atau dengan kata lain yang mengintensifkan atau memperdalam iman dan tindakan.

Mengenai iman dan islam, keduanya mungkin telah dipahami oleh kebanyakan orang. Istilah ini sering digunakan dan dibicarakan sehari-hari, namun untuk ihsan yang merupakan dimensi islam yang terdalam, belum begitu dipahami oleh orang-orang umumnya. Oleh karena itu, selain untuk memenuhi tugas mata kuliah akhlak tasawuf, penulis akan menjelaskan secara lebih detail mengenai ihsan dalam makalah ini. Yang nanti diharapkan dapat menambah wawasan pemahaman mengenai ihsan bagi para pembaca terutama umat islam sendiri.

B.     Definisi Ihsan

Ihsan berasal dari kata husn, yang artinya menunjuk pada kualitas sesuatu yang baik dan indah. Dictionary menyatakan bahwa kata husn, dalam pengertian yang umum, bermakna setiap kualitas yang positif (kebajikan, kejujuran, indah, ramah, menyenangkan, selaras, dll). Selain itu, bisa dikatakan bahwa ihsan (bahasa Arab: احسان ) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti kesempurnaan atau terbaik. Dalam terminologi agama islam, ihsan berarti seseorang menyembah Allah seolah-olah ia melihatNya, dan jika ia tidak mampu membayangkan malihatNya, maka orang tersebut mambayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya. Dengan kata lain ikhlas dalam beribadah atau ikhlas dalam melaksanakan islam dan iman. Jadi ihsan menunjukkan satu kondisi kejiwaan manusia, berupa penghayatan bahwa dirinya senantiasa diawasi oleh Allah. Perasaan ini akan melahirkan sikap hati-hati waspada dan terkendalinya suasana jiwa.

Kata husn sering disamakan dengan kata khayr. Namun perlu diketahui bahwa husn adalah kebaikan yang tidak dapat dilepaskan dari keindahan dan sifat sifat yang memikat, sementara itu khayr merupakan suatu kebaikan yang memberikan kegunaan konkrit, sekalipun sesuatu tersebut tidak indah dan tidak bersifat memikat. Jadi bisa dikatakan bahwa husn lebih dari sekedar khair (baik).

Kata ihsan adalah sebuah kata kerja yang berarti berbuat atau menegakkan sesuatu yang baik atau indah. Al-Qur’an menggunakan kata ini dan bentuk aktifnya (fa’il) muhsin (orang yang mengerjakan sesuatu yang indah) dalam 70 ayat. Secara menonjol ia sering menunjuk pada Tuhan sebagai pelaku sesuatu yang indah, sehingga Muhsin merupakan salah satu dari nama-nama ketuhanan.

Ihsan secara ringkas adalah ketulusan dari kehendak dari intelegensi, ia adalah keterikatan total kita kepada kebenaran dan kepatuhan sepenuhnya kepada hukum, yang berarti bahwa kita disatu pihak mengenal kebenaran sepenuhnya bukan hanya sebagian, dan dipihak lain mematuhi hukum dengan selureuh keberadaan kita yang terdalam dan tidak hanya dengan setengah-setengah dan pura-pura.

C.    Keterkaitan Antara Ihsan Dengan Iman dan Islam

Iman, islam dan ihsan adalah 3 pilar bangunan islam. Sehingga ihsan tidak bisa dilepaskan dari rukun iman dan rukun islam. Ketiganya saling melengkapi. Kalau diilustrasikan fondasinya adalah rukun iman, pilar-pilar dengan keseluruhan bangunan diatasnya adalah rukun islam dan ihsan sebagai ruhnya. Jadi ihsan adalah penentu hadir dan tidaknya ruh seorang muslim dalam menjalankan aturan islam. Ketika sesorang beriman, berislam namun tidak berihsan, maka saat itu ia belum sampai pada ruh ajaran islam.

Islam memberitahukan kita tentang apa yang harus dikerjakan, sedang iamn memberikan mereka sebuah pemahaman mengapa hal itu penting untuk dikerjakan. Dan ihsan akan menghadirkan motivasi serta kualita spsikologis seseorang menjadi selaras (harmonis) dengan perbuatan dan pemahamannya.

Ihsan menambahkan kepada islam dan iman sebuah fokus niat (kehendak hati). Ia menghendaki manusia agar mengarahkan kembali kehendak dan pilihan mereka berdasarkan akan kehadiran Tuhan di dalam segala sesuatu.

Iman mengajarkan manusia mengapa mereka harus menjadi hamba Allah dan menunjukkan jalan yang harus mereka lewati untuk menjadi khalifah Allah. Ia menjelaskan bahwa perbuatan manusia secara mendasar berakar di dalam Yang Maha Nyata (the real), dan bahwasanya kelak setelah kematian perbuatan manusia akan menimbulkan dampak yang berlangsung terus menerus.

D.     Muraqabah

Dalam bahasa Arab arti muraqabah adalah awas mengawasi, berintai-intaian. Dalam istilah Tasawwuf menurut al Qusyairy arti muraqabah ialah: keadaan seseorang meyakini sepenuh hati bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita. Tuhan mengetahui seluruh gerak-gerik kita dan bahkan apa-apa yang terlintas dalam hati kita diketahui Allah.

Menurut imam al Ghazali, perkataan muraqabah sama artinya dengan ihsan. Dan menurut Abu Zakariya Anshari, kata muraqabah jika dilihat dari segi bahasanya (etimologi) dapat diartikan dengan selalu memperlihatkan yang diperlihatkan. Sedang menurut istilahnya (terminologi) dikatakan, senantiasa memandang dengan hati kepada Allah dan selalu memperhatikan apa yang diciptakanNya dan tentang hukum-hukumNya. Jadi bisa dikatakan bahwa muraqabah merupaka suatu sikap mental seseorang yang merasa dirinya diawasi, merasa selalu berhadapan dengan Tuhan dalam kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun.

Muraqabah merupakan pokok pangkal kebaikan, dan hal ini baru dicapai oleh seseorang apabila sudah mengadakan muhasabah (memperhitungkan) terhadap amal perbuatan sendiri. Jadi muraqabah merupakan hasil dari pengetahuan dan pengenalan seseorang terhadap Allah, hukum-hukumNya dan ancaman-ancamanNya. Apabila sikap muraqabah ini telah berakar kuat dalam jiwa seseorang, seluruh budi pekertinya menjadi baik, selamatlah ia dari bencana akhirat dan di dunia ini ia menjadi orang yang betul-betul beriman.

Dalam kitab Iqazdul Himam, muraqabah dibagi atas tiga tingkatan: pertama: Muraqabatul Qalbi, yaitu kewaspadaan dan peringatan terhadap hati, agar tidak keluar dari kehadirannya dengan Allah. Kedua: Muraqabatur Ruhi, yaitu: kewaspadaan dan peringatan terhadap ruh, agar selalu merasa dalam pengawasan dan pengintaian Allah. Ketiga: Muraqabatus Sirri, yaitu, kewaspadaan dan peringatan terhadap sir atau rahasia agar selalu mengingatkan amal ibadahnya dan memperbaiki adabnya.

E.     Hubungan Antara Ihsan Dengan Ikhlas, Taqwa dan Sholeh

    1. Ikhlas

Secara umum ikhlas berarti hilangnya rasa pamrih atas segala sesuatu yang diperbuat. Menurut kaum Sufi, seperti dikemukakan Abu Zakariya al Anshari, orang yang ikhlas adalah orang yang tidak mengharapkan apa-apa lagi. Ikhlas itu bersihnya motif dalam berbuat, semata-mata hanya menuntut ridha Allah tanpa menghiarukan imbalan dari selainNya. Dzun Al-Nun Al Misri mengatakan ada tiga ciri orang ikhlas, yaitu; seimbang sikap dalam menerima pujian dan celaan orang, lupa melihat perbuatan dirinya, dan lupa menuntut balasan di akhirat kelak. Jadi dapat dikatakan bahwa ikhlas merupakan keadaan yang sama dari sisi batin dan sisi lahir. Ikhlas dibagi 2, yaitu ikhlas mencari pahala dan ikhlas amal.

Demikian halnya ihsan tidak cukup hanya dengan kebaikan perbuatan lahiriah (yakni islam), melainkan dengan pikiran dan sikap batiniah yang selaras dengan perbuatan lahiriah. Tidak boleh ada pertentangan antara apa yang dipikirkan manusia dengan apa yang dikerjakannya, atau antara diri mereka sendiri dengan apa yang ada dalam pikiran mereka. Kepribadian manusia membutuhkan keharmonisan, keseimbangan dan keutuhan, tanpa kecenderungan dan gejolak yang mendorong menuju sejumlah arah yang saling bertentangan. Harmonitas pribadi sering disebut sincerity (ketulusan).

    2. Taqwa

Diantara kata yang mendekati sinonim ihsan adalah taqwa, yang dapat diterjemahkan sebagai kewaspadaan terhadap Allah. Al qur’an menggunakan kata taqwa dalam jumlah ayat yang jauh lebih banyak daripada kata ikhlas atau ihsan.

Taqwa (berasal dari kata wiqayah), berarti terpelihara dari kejahatan, karena adanya keinginan yang kuat untuk meninggalkan kejahatan. Dalam Al Qur’an terdapat kata taqwa dalam beberapa pengertian diantaranya takut (Q.S Al Baqarah:41 ), ketaatan dan ibadah (Q.S Ali Imran;102) dan bersih dari dosa (Q.S An Nur:52) dan masih banyak lagi yang berjumlah 12 arti.

Menurut kaum sufi taqwa dalam pengertian terakhirlah yang mereka maksudkan, yakni terpeliharanya hati dari berbagai dosa yang mungkin terjadi karena adanya keinginan yang kuat untuk meninggalkannya sehingga mereka terpelihara dari perbuatan buruk (jahat). Al Ghazali  mengatakan taqwa merupakan ketundukan dan ketaatan (manusia) kepada perintah Allah  dan menjauhi segala yang dilarangNya. Ibnu Athailah membagi taqwa menjadi 2 macam; taqwa lahir dan taqwa batin. Taqwa lahir dilakukan melalui pemeliharaan terhadap hukum-hukum Allah yang telah ditetapkanNya, sedangkan taqwa batin dilakukan dengan menanamkan niat suci dan keikhlasan yang murni dalam beramal. Pengertian taqwa sangat banyak setiap sufi memberikan pengertian sendiri-sendiri menurut  pengalaman mereka.

Ketaqwaan ini akan tercapai karena adanya dorongan jiwa yang kuat. Dorongan ini menurut mereka, terdiri dari peningkatan sikap lapang dada terhadap apa yang sudah dimiliki dan meningkatkan kesabaran terhadap yang hilang dari tangannya. Dasar semua ini adalah keimanan yang kuat dan keikhlasan yang benar.

    3.  Sholeh

Shalih berasal dari akar kata yang berarti “bersuara, bermanfaat, benar, pantas, baik”. Ada yang mengartikan “kemaslahatan” yang berasal dari bahasa Inggris “wholesome”. Istilah inilah yang dapat kita gunakan untuk menunjuk pada manusia sekaligus juga menunjuk pada perbuatannya, karena Al Qur’an menggunakannya dalam bentuk sholihat (perbuatan Shaleh) dan juga shalihun (orang-orang yang shaleh).

Menurut al Qur’an, melakukan perbuatan shaleh yang disertai keimanan akan dibalas dengan surga. Banyak ayat-ayat al Qur’an yang mengkaitkan kesalehan dengan kebaikan. Dalam sebuah ayat, al Qur’an menempatkan orang-orang yang saleh, para nabi, orang-orang ikhlas dalam golongan orang-orang yang diberkahi (4;69). Bahkan setiap muslim yang ikhlas dapat dipandang sebagai orang yang saleh. Kesalehan jelas berasal dari anugerah Allah, karena ia merupakan buah dari kedekatan kepada Allah (21;75, 21;86, 27;19). Pendek kata, ketika al-Qur’an menggunakan term amal sholeh, maka term tersebut tidak hanya menunjuk pada perbuatan yang benar, melainkan juga niat yang benar.

Kebanyakan implikasi penggunaan kata sholeh dalam al qur’an dapat dipahami jika kita memperhatikan bagaimana al qur’an menggunakan lawan katanya, yakni fasid, yang berarti; merusak, meruntuhkan, jahat, salah. Orang-orang yang shaleh(shalihun) adalah mereka yang hidup dalam harmoni dengan yang Maha Nyata dan menegakkan keshalehan melalui aktivitas mereka. Sebaliknya mufsidun (pelaku kerusakan) adalah mereka yang menghancurkan hubungan baik antara segala sesuatu.

Al-Qur’an menyampaikan kepada kita, melalui konsep-konsep perbaikan dan kerusakan, dengan gambaran peranan manusia dalam penciptaan yng membedakan perbuatan yang benar, pikiran yang benar, niat yang benar dari keadaan yang sebaliknya. Al-Qur’an menyandingkan keshalehan dengan rahmat, surga dan keindahan, sementara itu Al-Qur’an mengaitkan kerusakan dengan kemurkaan, neraka dan keburukan.

Pengukuhan keutuhan, keshalehan dan keindahan bergantungpada pendekatan manusia secara penuh dengan yang Maha Nyata. Orang shaleh yang sejati adalah orang yang bertindak sebagai hamba Allah yang sempurna dan sekaligus bertindak sebagai khalifah-Nya yang sempurna. Oleh karena itu sangatlah penting bagi setiap muslim untuk terus menerus melakukan introspeksi diri, apakah kita sudah memiliki sikap ihsan atau belum, jangan sampai karena sibuk mencari dunia aktifitas yang kita lakukan kehilangan ruhnya, dan jangan sampai kita bekerja hanya untuk memperoleh dunia dan pujian semata. Dan juga dengan ihsan yang berada dalam hati kita kita menjdi orang sempurna iman, islam serta menjadi orang yang bertaqwa juga sholeh. Karena setiap orang yang mempunyai ihsan pasti bertaqwa dan beramal sholeh.

F.      Kesimpulan

  1. Ihsan adalah beribadah seolah-olah melihat Allah, jika tidak mampu maka membayangkan bahwa Allah melihat kita. Ihsan menunjukkan satu kondisi kejiwaan manusia berupa penghayatan bahwa dirinya senantiasa diawasi oleh Allah. Dan perasaan ini akan melahirkan sikap hati-hati, dan terkendalinya suasana jiwa.
  2. Iman, islam dan ihsan adalah tiga pilar bangunan islam, sehingga ihsan tidak bisa dilepaskan dari rukun iman dan rukun islam. Ketiganya saling melengkapi. Ihsan adalah penentu hadir dan tidaknya ruh seorang muslim dalam menjalankan aturan islam. Ketika seorang beriman, berislam namun tidak berihsan, maka saat itu ia belum mencapai ruh ajaran islam dan belum mencapai nikmatnya agama.
  3. Muraqabah merupakan pokok pangkal kebaikan. Ia merupakan hasil dari pengetahuan dan pengenalan seseorang terhadap hukum Allah, Allah dan ancamanNya. Apabila sikap muraqabah ini telah berakar kuat dalam jiwa seseorang, seluruh budi pekertinya menjadi baik, selamatlah ia dari bencana akhirat dan di dunia ini ia menjadi orang yang betul-betul beriman.
  4. Ihsan mempunyai hubungan erat dengan ikhlas, taqwa, dan sholeh. Karena ihsan akan dapat terwujud bila orang tersebut bertaqwa, ikhlas dan beramal sholeh.

G.    Saran

Hendaklah seseorang berusaha untuk mencapai ihsan agar manusia dapat mencapai nikmatnya iman dan islam. Semoga kita dijadikan orang yang selalu bertaqwa, ikhlas dalam segala sesuatu serta beramal sholeh. Dan semoga manusia dijauhkan dari segala hal yang dapat merusak dan meleburkan amal serta hati.

3 responses

  1. Ana Althafun Nisa' | Reply

    This is wonderfull…
    Ustadz kalo bisa terkait sejarah nabi ya!!!! Plus Khulafaur Rasyidin dll…
    Syukron….

    1. Inggeh! Sudah tak tuliskan sebagian. Tapi belum semua.

  2. I like it,,,,,,,,,,,,,,
    syukron ustadz….
    sangat membantu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: