IJARAH


IJARAH (SEWA-MENYEWA) DALAM PERSPEKTIF FIQIH

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

  1. A.      Latar Belakang

Salah satu bentuk kegiatan manusia dalam lapangan muamalat ialah ijarah. Ijarah dapat diartikan sebagai upah atas pemanfaatan sesuatu benda atau imbalan sesuatu kegiatan, atau upah karena melakukan sesuatu aktivitas. Kalau sekiranya kitab-kitab fikih selalu menerjemahkan kata ijarah dengan “sewa-menyewa”, maka hal tersebut janganlah diartikan menyewa sesuatu barang untuk diambil manfaatnya saja, tetapi harus dipahami dalam arti yang luas.

Ijarah sah hukumnya apabila memenuhi syarat dan rukunnya. Karena ijarah akan dianggap sah apabila dengan ijab – qabul, baik dengan lafadh ijarah maupun  lafadh yang menunjukkan makna tersebut. Di sini kami akan membahas seputar wawasan mengenai ijarah, yaitu akad atas beberapa manfaat atas pergantian.

Suatu rumah milik A, umpamanya, dimanfaatkan oleh B untuk ditempati. B membayar kepada A dengan sejumlah bayaran sebagai imbalan pengambilan manfaat itu, hal itu disebut ijarah (sewa-menyewa). Adanya seseorang, seperti C, bekerja pada D dengan perjanjian bahwa D akan membayar sejumlah imbalan, itu juga disebut ijarah.

Bila dilihat uraian di atas, rasanya mustahil manusia bisa hidup berkecukupan tanpa hidup berijarah dengan manusia lain. Karena itu, boleh dikatakan bahwa pada dasarnya ijarah itu adalah salah satu bentuk aktivitas antara dua pihak yang berakad guna meringankan salah satu pihak atau saling meringankan, serta termasuk salah satu bentuk tolong-menolong yang diajarkan agama. Ijarah merupakan salah satu jalan untuk memenuhi hajat manusia.

  1. B.       Pembahasan
    1. 1.         Pengertian Ijarah

Kata ijarah diderivasi dari bentuk fi’il “ajara – ya’juru – ajran”. Ajran semakna dengan al-‘iwadh yang mempunyai arti ganti dan upah, dan juga dapat berarti sewa atau upah. Secara istilah, pengertian ijarah ialah akad atas beberapa manfaat atas pergantian. Dalam buku lain ijarah diartikan menukar sesuatu dengan ada imbalannya.

Menurut ar-Raghib al-Asfahani dalam al-mufradat fi gharib            al-Qur’an, al-Ijarah bermakna pengelolaan harta benda untuk mencari keuntungan. Sedangkan menurut Ibnu Farabi, yang dikutip ar-Raghib, fulanun tajirun bi kadza, berarti seseorang yang mahir dan cakap yang mengetahui arah dan tujuan yang diupayakan dalam usahanya.

Adapun ijarah yang dikemukakan oleh para ulama madzhab sebagai berikut:

  1. Pengertian ijarah menurut ulama Hanafiyah ialah:

عقد يفيد تمليك منفعة معلومة مقصودة عن العين المستاجرة بعوض

“Akad untuk membolehkan pemilikan manfaat yang diketahui dan dilakukan dengan sengaja dari suatu zat yang disewa dengan disertai imbalan”.

 

  1. Pengertian ijarah menurut ulama Malikiyah ialah:

تسمية التناقد على منفعة الأدمى وبعد المنقولات

“Nama bagi akad –akad untuk kemanfaatan yang bersifat manusiawi dan juga untuk sebagian yang dapat dipindahkan”

 

  1. Pengertian ijarah menurut Sayyid Sabiq ialah:

عقد على المنافع بعوض

“Jenis akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian”.

Manfaat tersebut terkadang berupa manfaat benda, pekerjaan dan tenaga. Manfaat benda meliputi mendiami rumah dan mengendarai mobil, manfaat pekerjaan seperti pekerjaan penjahit, pekerjaan insinyur dan manfaat tenaga seperti para pembantu dan buruh.

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa dalam Al-Qur’an, ijarah pada hakikatnya tidak semata-mata bersifat material dan hanya bertujuan mencari keuntungan material semata, tetapi bersifat material sekaligus immaterial, bahkan lebih meliputi dan mengutamakan hal yang bersifat immaterial dan kualitas. Aktivitas ijarah tidak hanya dilakukan semata manusia tetapi juga dilakukan antara manusia dengan Allah swt, bahwa ijarah harus dilakukan dengan ketelitian dan kecermatan dalam proses administrasi dan perjanjian-perjanjian dan ijarah tidak boleh dilakukan dengan cara penipuan, kebohongan, hanya karena memperoleh keuntungan.

  1. 2.         Dasar Hukum Ijarah

Dasar hukum atau landasan hukum ijarah adalah al-Qur’an, al-Hadits dan ijma’. Dasar hukum ijarah dari al-Qur’an adalah QS. At-Thalaq: 6 dan al- Qashash: 26.

  1. Surat at- Thalaq: 6

فإن أرضعن لكم فآتوهن أجورهن

“… kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu maka berikanlah kepada mereka upahnya/

 

  1. Surat al-Qashash: 26

قالت إحداهما ياأبت استأجره إن خير من استأجرت القوي الأمين

“Salah seorang dari kedua wanita berkata: Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya ”.

Dasar hukum dari hadits sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW;

أعطوا الأجير أجره قبل أن يجف عرقه

“Berikanlah upah terhadap pekerjaan, sebelum kering keringat”.

Dalam hadits lain, Rasul SAW. juga bersabda:

أن رسول الله إحتجم واعطى الحجام أجره واستعطى

“Rasulullah saw, melakukan bekam, dan membayar upah terhadap tukang bekam tersebut, kemudian rasul menggunakan obatnya”.

 

Adapun dasar hukum ijarah dari ijma’ ialah bahwa semua ulama telah sepakat terhadap keberadaan praktek ijarah ini, meskipun mereka mengalami perbedaan dalam tataran teknisnya. Semua umat Islam sepakat, tak ada seorang ulama pun yang membantah kesepakatan ini, sekalipun ada beberapa orang diantara mereka yang berbeda pendapat, akan tetapi hal itu tidak dianggap apabila ulama itu menentang/ tidak menyepakati hal tersebut.[1]

Ada beberapa istilah dan sebutan yang berkaitan dengan ijarah yaitu mu’jir, musta’jir, ma’jur, dan ajr atau ujrah. Mu’jir ialah pemilik benda yang menerima uang (sewa) atas suatu manfaat. Musta’jir ialah orang yang memberikan uang atau pihak yang menyewa. Ma’jur ialah pekerjaan yang diakadkan manfaatnya. Sedangkan ajr atau ujrah ialah uang (sewa) yang diterima sebagai imbalan atas manfaat yang diberikan.

  1. 3.         Rukun dan Syarat Ijarah

Menurut ulama Hanafiah bahwa rukun ijarah hanya terdiri dari ijab dan qabul. Karena itu akad ijarah sudah dianggap sah dengan adanya ijab-qabul tersebut, baik dengan lafadh ijarah atau lafadh yang menunjukkan makna tersebut. Sedangkan menurut jumhur ulama rukun ijarah terdiri dari mu’jir, musta’jir, ajr, manfaat dan sighah (ijab qabul).

Adapun mengenai syarat ijarah yang harus dipenuhi oleh mu’jir  dan musta’jir (pihak yang melakukan akad ijarah ), sama dengan syarat pada akad lainnya, seperti keduanya harus berakal sehat dan dewasa. Tetapi kalangan ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan (kebolehan) orang yang belum dewasa bertindak sebagai para pihak dalam akad ijarah tersebut. Menurut ulama hanafiah dan malikiyah, bahwa seseorang yang belum dewasa (mumayyiz) dapat berperan sebagai pihak yang melakukan akad ijarah dengan syarat harus ada izin dari walinya. Karena itu akad ijarah seorang anak yang belum dewasa bersifat mauquf (ditangguhkan), sampai ada izin dari walinya.

Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa akad ijarah harus dilakukan oleh seseorang yang sudah cukup cakap dalam melakukan tindakan hukum karena itu, kedewasaan yang menjadi unsure utama dari kecakapan harus dijadikan sebagai syarat jumhur ulama juga menetapkan syarat lain yang berhubungan dengan para pihak yang melakukan akad ijarah. Syarat-syarat tersebut antara lain:

  1. Para pihak yang berakad harus rela melakukan akad tersebut, tanpa merasa adanya paksaan dari pihak lain. Maka, apabila seseorang dipaksa untuk melakukan akad, diangap tidak sah akadnya.
  2. Kedua belah pihak harus mengetahui secara jelas tentang manfaat yang diakadkan guna menghindari pertentangan atau salah paham, dengan cara melihat benda yang akan disewakan atau jasa yang akan dikerjakan, serta mengetahui masa mengerjakannya.

Adapun syarat yanga harus dipenuhi dalam sewa atau imbalan, menurut kesepakatan ulama, adalah bahwa sewa itu harus berupa barang atau benda yang bernilai. Menurut ulama hanafiyah, bahwa disyaratkan pula sewa atau imbalan tidak boleh sama dengan manfaat uang dijadikan obyek ijarah. Misalnya sewa rumah dibayar dengan sewa rumah yang lain. Menurut mereka, praktek seperti ini mengandung riba fadhl (ada kemungkinan terdapat kelebihan di satu pihak). Tetapi ulama Syafi’iyah  membolehkan adanya proses sewa seperti di atas.[2]

  1. 4.         Macam-Macam Ijarah

Berdasarkan uraian tentang definisi dan syarat ijarah, maka ijarah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian:

  1. Ijarah ‘ala al-manafi’, yaitu ijarah yang obyek akadnya adalah manfaat, seperti menyewakan rumah untuk ditempati, mobil untuk dikendarai.
  2. Ijarah ‘ala al-amaal ijarah, yaitu ijarah yang obyek akadnya jasa atau pekerjaan, seperti membangun gedung atau menjahit pakaian.[3]
    1. 5.         Pembatalan dan Berakhirnya Ijarah

Ijarah merupakan jenis akad yang lazim, yaitu akad yang tidak membolehkan adanya fasakh (pembatalan) pada salah satu pihak, kecuali jika adanya faktor yang mewajibkan terjadinya fasakh. Faktor-faktor yang menyebabkan ijarah menjadi fasakh, antara lain:[4]

  1. Terjadinya cacat pada barang sewaan ketika barang sewaan berada di tangan menyewa (musta’jir).
  2. Terpenuhinya manfaat  benda ijarah atau selesainya pekerjaan dan juga berakhirnya waktu yang telah ditentukan kecuali apabila ada alasan yang melarang memfasakhnya.

Tatkala masa ijarah berakhir, musta’jir harus mengembalikan benda ijarah kepada mu’jir. Apabila benda ijarah berupa benda bergerak, benda tersebut diserahkan kepada pemiliknya. Untuk benda yang tidak bergerak, musta’jir harus menyerahkannya dalam keadaan kosong dari harta miliknya.

  1. C.      Penutup

Ijarah adalah upah atas pemanfaatan sesuatu benda atau imbalan sesuatu kegiatan, atau upah karena melakukan sesuatu aktivitas, akan tetapi bukan hanya menyewa sesuatu barang untuk diambil manfaatnya saja, tetapi harus dipahami dalam arti yang luas. Dengan istilah lain dapat pula disebutkan bahwa ijarah adalah satu akad yang berisi pengambilan manfaat sesuatu  sesuatu dengan jalan penggantian.

Dasar hukum atau landasan hukum ijarah adalah al-Qur’an, al-Hadits dan ijma’. Dasar hukum ijarah dari al-Qur’an adalah QS. At-Thalaq: 6 dan              al-Qashash: 26. Rukun ijarah terdiri dari mu’jir, musta’jir, ajr, manfaat dan sighah (ijab qabul). Adapun mengenai syarat ijarah yang harus dipenuhi oleh mu’jir  dan musta’jir, keduanya harus berakal sehat dan dewasa.

Ijarah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu ijarah ‘ala al-manafi’ dan ijarah ‘ala al-amaal ijarah. Faktor-faktor yang menyebabkan ijarah menjadi fasakh, antara lain: (1) terjadinya cacat pada barang sewaan ketika barang sewaan berada di tangan menyewa (musta’jir), (2) terpenuhinya manfaat benda ijarah atau selesainya pekerjaan dan juga berakhirnya waktu yang telah ditentukan kecuali apabila ada alasan yang melarang memfasakhnya.


[1] Suhendi, Fiqh Muamalah …, h.117

[2] Huda, Fiqh Muamalah …, h. 71-72

[3] Ibid., h. 75-77

[4] Suhendi, Fiqh Muamalah …, h. 122-123

One response

  1. Sip…..
    Trus di share ya tadz…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: