IMAM DAN KHATIB SHALAT JUM’AT WANITA


IMAM DAN KHATIB SHALAT JUM’AT WANITA

(Tinjauan Hukum Wanita Menjadi Imam dan Khatib Shalat Jum’at dalam Perspektif Fiqih Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.      Latar Belakang

Zaman yang semakin modern seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, ditambah lagi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin meningkat dan juga permasalahan dan tantangan siap menghadang. Hal tersebut memberi tahu kita agar kita lebih cermat dalam menentukan sesuatu. Karena segala sesuatu yang kita ambil dan kita putuskan akan membawa dampak bagi kita pada masa yang akan datang dan juga bagi anak cucu kita.

Di zaman dimana banyak permasalahan baru muncul kita membutuhkan yang namanya ijtihad untuk menghadapi permasalahan tersebut. Sebelum kita berbicara mengenai permasalahan marilah kita melihat dahulu mengenai arti ijtihad yang dengan hal itu kita akan menentukan hukum yang berlaku terhadap suatu permasalahan.

Ijtihad (bahasa Arab اجتهاد) ialah suatu proses penyelidikan yang serius yang dilakukan secara bersungguh-sungguh oleh sarjana Islam (digelar mujtahid) untuk menerbitkan hukum-hukum yang bersifat amali. Proses ijtihad hanya berlaku terhadap hukum-hukum yang tidak jelas yang wujud di dalam al-Quran atau al-Sunnah, sama ada ketidakjelasan itu berpuncak daripada lafadz yang terlalu umum, ataupun berpuncak daripada kredibiliti dalil yang digunakan itu sendiri.

Aktivitas ijtihad di dalam Islam tidak boleh berhenti. Ijtihad adalah ruh yang menghidupi Islam secara terus-menerus. Tanpa ijtihad, seperti telah diteladankan Umar ibn Khattab dan lain-lain, Islam sudah semenjak lama menjadi petai hampa dan artefak kuno yang hanya layak menjadi tontonan, bukan tuntunan. Untung saja para ulama aktif memeras akal-budi dan berijtihad untuk mengatasi problem-problem zamannya. Nabi Muhammad sendiri sesungguhnya adalah seorang mujtahid ulung. Di tangan Nabi, Alquran menjadi tegar dan lincah memecahkan sejumlah kebuntuan sosial, politik, bahkan ekonomi. Nabi menjadikan Alquran terlibat dalam proses perubahan sosial, sehingga ia bukan sebagai kitab suci yang menggelayut di awang-awang tanpa persambungan dengan bumi. Alquran bukan hanya sekumpulan kidung wahyu yang terlepas dari konteks, melainkan sebuah kerja ijtihad itu sendiri. Hanya para pendukung status quo saja yang menolak keniscayaan ini, demikian pemahaman yang bisa diambil dari Jalaluddin al-Suyuthi melalui bukunya Al-Ijtihâd: al-Radd `alâ man Akhlada wa Jahila `Anna al-Ijtihâd fî Kulli `Ashrin Fardhun.

Kini, ijtihad semakin niscaya, terutama di tengah problem kemanusiaan yang semakin kompleks. Problem kehidupan yang sedemikian struktural dan sistemik, tentu butuh ijtihad dosis tinggi dari para ulama. Kondisi ini tidak bisa dipasrahkan pemecahannya pada model lama seperti yang terbaca dalam tarikh. Ideologi keislaman konservatif yang terus merujuk ke model masa lalu, bukan saja menunjukkan watak tidak kreatif, melainkan juga tidak realistis. Tafsir-tafsir keagamaan klasik yang kerap diidealisasi sedemikian rupa bukanlah pemecahan yang arif. Tantangan kehidupan masa kini tidak akan persis sama dengan kehidupan abad pertengahan. Siapapun tahu, kekinian jauh lebih rumit dan dinamis ketimbang kesilaman. Ada ngarai sosial-politik yang tak mudah ditimbun antara masa lalu dan masa kini.

Apa hendak dikata, tafsir-tafsir keagamaan terdahulu tidak jarang menjadi problem. Menimbulkan musykil. Gerak demokratisasi, penanaman kesetaraan dan keadilan gender, penegakan HAM, pribumisasi pluralisme, kadang tersendat oleh model-model tafsir masa lalu itu. Karena itu, ijtihad bisa saja diarahkan justru untuk mereformasi sejumlah pandangan keagamaaan yang hegemonik, totaliter, monopolistik, dan diskriminatif itu. Ingatan kolektif masa lalu yang hendak menempatkan perempuan di level kedua, memandang umat agama lain sebagai ancaman bahkan musuh, upaya menghidupkan kembali jasad khilafah islamiyah dan lain-lain, adalah pandangan primitif yang mesti ditolak. Tafsir keagamaan yang kian menenggelamkan umat ke dalam nista tak bisa diterima.

Tetapi dengan ijtihad baru tersebut muncul masalah baru yaitu perkembangan dunia islam yang sangat pesat juga menimbulkan permasalahan baru terutama perkembangan islam di Eropa dan Amerika. Buktinya ialah kutipan berikut ini Selama 20 tahun terakhir, jumlah kaum Muslim di dunia telah meningkat secara perlahan. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia adalah 500 juta; sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar. Kini, setiap empat orang salah satunya adalah Muslim. Bukanlah mustahil bahwa jumlah penduduk Muslim akan terus bertambah dan Islam akan menjadi agama terbesar di dunia. Peningkatan yang terus-menerus ini bukan hanya dikarenakan jumlah penduduk yang terus bertambah di negara-negara Muslim, tapi juga jumlah orang-orang mualaf yang baru memeluk Islam yang terus meningkat, suatu fenomena yang menonjol, terutama setelah serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 11 September 2001.

Serangan ini, yang dikutuk oleh setiap orang, terutama umat Muslim, tiba-tiba saja telah mengarahkan perhatian orang (khususnya warga Amerika) kepada Islam. Orang di Barat berbicara banyak tentang agama macam apakah Islam itu, apa yang dikatakan Al Qur’an, kewajiban apakah yang harus dilaksanakan sebagai seorang Muslim, dan bagaimana kaum Muslim dituntut melaksanakan urusan dalam kehidupannya. Ketertarikan ini secara alamiah telah mendorong peningkatan jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam. Demikianlah, perkiraan yang umum terdengar pasca peristiwa 11 September 2001 bahwa “serangan ini akan mengubah alur sejarah dunia”, dalam beberapa hal, telah mulai nampak kebenarannya. Proses kembali kepada nilai-nilai agama dan spiritual, yang dialami dunia sejak lama, telah menjadi keberpalingan kepada Islam.

Hal luar biasa yang sesungguhnya sedang terjadi dapat diamati ketika kita mempelajari perkembangan tentang kecenderungan ini, yang mulai kita ketahui melalui surat-surat kabar maupun berita-berita di televisi. Perkembangan ini, yang umumnya dilaporkan sekedar sebagai sebuah bagian dari pokok bahasan hari itu, sebenarnya adalah petunjuk sangat penting bahwa nilai-nilai ajaran Islam telah mulai tersebar sangat pesat di seantero dunia.

Penyebab ketertarikan ini adalah perkembangan yang terus-menerus mengenai angka populasi Muslim di Eropa, dan peningkatan ini tidak dapat dianggap hanya disebabkan oleh imigrasi. Meskipun imigrasi dipastikan memberi pengaruh nyata pada pertumbuhan populasi umat Islam, namun banyak peneliti mengungkapkan bahwa permasalahan ini dikarenakan sebab lain: angka perpindahan agama yang tinggi.

Suatu kisah yang ditayangkan NTV News pada tanggal 20 Juni 2004 dengan judul “Islam adalah agama yang berkembang paling pesat di Eropa” membahas laporan yang dikeluarkan oleh badan intelejen domestik Prancis. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di negara-negara Barat semakin terus bertambah, terutama pasca peristiwa serangan 11 September. Misalnya, jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di Prancis meningkat sebanyak 30 hingga 40 ribu di tahun lalu saja. Maka dari itu membutuhkan sumber hukum dan sumber penanganan terhadap masalah yang baru. Dan yang dapat mengatasi hal tersebut hanyalah ijtihad.

Dibalik peningkatan jumlah penduduk muslim dan juga tuntutan atas kesetaraan gender, maka timbullah suatu permasalahan yang salah satu diantaranya munculnya wanita yang berdiri di depan laki-laki untuk menjadi khotib dan mengimami shalat jum’ah yang mayoritas pengikutnya atau ma’mumnya adalah laki-laki. Hal itu menimbulkan kasus dan berbagai polemik terjadi atas hal itu. Ijtihad-ijtihad dan pembicaraan-pembicaraan mengenai hal tersebut bermunculan baik dikalangan akademisi maupun kaum awam serta ulama. Pendapat mereka berbeda-beda dalam menyikapi hal tersebut, ada yang membolehkan dan ada yang melarangnya.

Maka dari itu saya ingin menulis sesuatu mengenai hukum atau keabsahan wanita tersebut untuk menjadi imam shalat atau menjadi khatib bagi laki-laki menurut perpektif fiqih ibadah, berdasarkan analisis saya dan referensi yang ada yang mengacu kepada al-kutub al mu’tabarah, dan juga buku-buku terbaru.

B.      Syarat-Syarat Imam Dalam Shalat

Sebenarnya pembahasan ini diilhami adanya kasus Amina Wadud Muhsin yang merupakan wanita yang melakukan khutbah pertama kali di dunia di depan laki-laki. Namun sebelum memasuki pembahasan tersebut kita jabarkan terlebih dahulu mengenai syarat syarat menjadi imam serta orang yang berhak untuk itu .

Yang dinamakan imam dalam sholat yaitu seseorang yang dianut oleh orang lain dalam hal sholat baik dalam rukunnya dan lain-lain yang memenuhi syarat menjadi imam. Antara lain:

  1. Islam, maka dari itu tidak sah imam selain muslim menurut kesepakatan ulama.
  2. Baligh, maka tidak sah ma’mumnya baligh kepada mumayyiz dalam sholat fardhu, akan tetapi imam syafi’I membolahkan baligh ma’mum kepada mumayyiz.
  3. Nyata laki-laki, maka tidak sah orang wanita menjadi imam bagi laki-laki, untuk pembahasan yang lebih mendetail akan dibahas pada bab selanjutnya.
  4. Bukan orang yang ummi. Dan banyak bacaannya seperti hadist berikut:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عِيسَى أَخُو سُلَيْمٍ الْقَارِيُّ عَنْ الْحَكَمِ بْنِ أَبَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُؤَذِّنْ لَكُمْ خِيَارُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ قُرَّاؤُكُمْ

Ustman ibn saibah bercerita kepadaku, Husain bin isa saudara Sulaim al Qory menceritakan padaku dari hakim bin Aban dari ikrimah dari Ibn Abbas dia berkata, Nabi Bersabda: Hendaklah adzan orang pilihan kamu dan hendaklah menjadi imam orang ahli bacamu.

  1. Bersih dari kekawatiran terhadap kotoran, seperti beser (orang yang kencingnya tidak bisa ditahan).
  2. Suci dari hadats dan najis.
  3. Bukan orang yang tidak fasih atau lahn.

أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَنْبَأَنَا عَاصِمٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ قَالَ لَمَّا رَجَعَ قَوْمِي مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا إِنَّهُ قَالَ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ قَالَ فَدَعَوْنِي فَعَلَّمُونِي الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ فَكُنْتُ أُصَلِّي بِهِمْ وَكَانَتْ عَلَيَّ بُرْدَةٌ مَفْتُوقَةٌ فَكَانُوا يَقُولُونَ لِأَبِي أَلَا تُغَطِّي عَنَّا اسْتَ ابْنِكَ

Syuaib bin Yusuf bercerita padaku, dia berkata, Yazid bin Harun menceritakan padaku, dia berkata, Ashim menceritakan padaku dari amr bin salamah, dia berkata, ketika kaumku kembali dari hadapan Nabi saw, mereka berkata, seseungguhnya nabi berkata: hendaklah yang terbanyak bacaannya al qur’an mengimami kalian. Amr berkata, kemudian mereka memanggilku dan mengajariku ruku’ dan sujud, maka aku sholat dengan mereka, kemudian selendangku terbuka kemudian mereka berkata pada ayahku apakah kamu belum menutup aurat anakmu.

  1. Tidak ma’mum kepada orang lain.

Jadi sebagai imam tersebut harus memenuhi persyaratan seperti yang dijelaskan diatas tadi adapun mengenai perbedaan madzhab tidak begitu tampak karena hampir mayoritas sepakat dengan persyaratan tersebut.

C.      Pandangan Ulama Mengenai Perempuan Menjadi Imam Sholat

Salah satu syarat dari imam yaitu laki-laki, maka tidak sah imam perempuan dan banci apabila ma’mum berupa laki-laki, tetapi apabila ma’mum berupa perempuan maka tidak disyaratkan harus laki-laki dalam menjadi imam, bahkan sah imam berupa wanita atau khunsa menurut kesepakat 3 imam. Tetapi menurut Malikiyah wanita dan banci tidak sah secara mutlak menjadi imam baik kepada ma’mum laki-laki maupun  wanita, jadi laki-laki merupakan syarat mutlak menjadi imam, bila ada ma’mum.

Akan tetapi Abu Tsur, al-Mizani dan al Thobari memperbolehkan wanita menjadi imam bagi laki-laki baik sholat sunnat maupun sholat fardhu. Akan tetapi pendapat tersebut merupakan pendapat yang syadz dan tidak dapat difatwakan

Kalau saya, mengikuti pendapat jumhur ulama yang tidak memperbolehkan wanita mengimami laki-laki, akan tetapi jika wanita mengimami wanita maka hal itu boleh-boleh saja.

Sedangkan mengenai hadist yang memperbolehkan wanita mengimami laki-laki yaitu sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعُ بْنُ الْجَرَّاحِ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُمَيْعٍ قَالَ حَدَّثَتْنِي جَدَّتِي وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَلَّادٍ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ بِنْتِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نَوْفَلٍ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا غَزَا بَدْرًا قَالَتْ قُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِي الْغَزْوِ مَعَكَ أُمَرِّضُ مَرْضَاكُمْ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي شَهَادَةً قَالَ قَرِّي فِي بَيْتِكِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَرْزُقُكِ الشَّهَادَةَ قَالَ فَكَانَتْ تُسَمَّى الشَّهِيدَةُ قَالَ وَكَانَتْ قَدْ قَرَأَتْ الْقُرْآنَ فَاسْتَأْذَنَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَتَّخِذَ فِي دَارِهَا مُؤَذِّنًا فَأَذِنَ لَهَا قَالَ وَكَانَتْ قَدْ دَبَّرَتْ غُلَامًا لَهَا وَجَارِيَةً فَقَامَا إِلَيْهَا بِاللَّيْلِ فَغَمَّاهَا بِقَطِيفَةٍ لَهَا حَتَّى مَاتَتْ وَذَهَبَا فَأَصْبَحَ عُمَرُ فَقَامَ فِي النَّاسِ فَقَالَ مَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْ هَذَيْنِ عِلْمٌ أَوْ مَنْ رَآهُمَا فَلْيَجِئْ بِهِمَا فَأَمَرَ بِهِمَا فَصُلِبَا فَكَانَا أَوَّلَ مَصْلُوبٍ بِالْمَدِينَةِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ حَمَّادٍ الْحَضْرَمِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ جُمَيْعٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ خَلَّادٍ عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ بِنْتِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَالْأَوَّلُ أَتَمُّ قَالَ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فِي بَيْتِهَا وَجَعَلَ لَهَا مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ لَهَا وَأَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا رَأَيْتُ مُؤَذِّنَهَا شَيْخًا كَبِيرًا

Ustman bin Abu Saibah menceritakan padaku, Waqi’ bin Jarah menceritakan padaku, al Walid bin Abdullah bin Jumai’ menceritakan padaku, ia berkata, nenekku dan Abdurohman bin kholad al Ansori bercerita padaku dari ummi waraqah binti abdullah ibn Naufal al Anshoriyah, sesungguhnya Nabi ketika perang badar, aku berkata padanya; hai rasullullah berilah aku izin untuk berperang bersamamu saya akan merawat orang yang sakit diantara kamu, semoga Allah memberiku mati sahid, nabi berkata bacalah al Qur’an dirumahmu, maka sesungguhnya Allah akan memberimu rizzki mati sahid, rowi berkata: dia mati sahid, Rowi berkata: dia telah membaca al Qur’an dan meminta izin pada nabi untuk mengambil muadzin dirumahnya supaya adzan karenanya, Rowi berkata: ia telah memerintah laki-laki dan budak wanita, kemudian mendirikan sholat dirumahnya pada malam hari, dia selalu menutupi wajahnya dengan tutup, sampai dia meninggal dan kedua orang tersebut pergi, maka umar berdiri di hadapan manusia kemudian berkata: barang siapa yang mengetahui kedua orang ini maka bawalah kesini untuk disalib, dan itu merupakan orang yang pertama kali disalib di madinah. Hasan bin Khamad bercerita padaku, Muhammad bin Fudhail bercerita padaku dari Walid bin Jumai’ dari Abdurrohman bin Kholad dari ummi waraqah binti Abdullah bin Harist dengan hadist ini, yang pertama telah sempurna kemudian berkata, Nabi mengunjunginya di rumahnya dan menjadikannya muadzin yang adzan dirumahnya, dan menyruhnya mengimami ahlinya, Abdurrohman berkata saya melihat muadzinnya Tua.

Dari keterangan hadist tersebut para ulama memperbolehkan wanita menjadi imam dari ma’mum laki-laki. Seperti al Thobary dan lainnya. Namun kalau menurut saya hal itu berlaku dalam semua sholat. Baik fardhu maupun sunnah wanita tidak boleh menjadi imam jika ma’mumnya laki-laki dan perempuan.

Tetapi sebagian ulama Hanbali ada yang memperbolehkan jika shalat sunnah. Hal tersebut karena mengacu kepada hadist di atas. Akan tetapi menurut saya hadist di atas ditarjih oleh hadist berikut:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الْجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Ustman bin Hasim bercerita padaku, ‘auf bercerita padaku dari Hasan dari Abi Bakrah dia berkata, Allah telah memberi manfaat aku dengan kalimah ketika hari unta, dia datang kepada nabi, sesungguhnya Faris mempunyai ratu yaitu kisray, Nabi berkata, Tidaklah beruntung kaum yang diperintah oleh wanita.

Hadist tersebut dalam kifayatul ahyar dijelaskan alasan wanita tidak menjadi imam adalah karena aurat wanita tersebut menjadi sumber fitnah. Dalam kitab yang lain hal tersebut dijelaskan wanita tidak boleh sebagai imam dari laki-laki

Tetapi tarjih tersebut juga dengan al Qur’an yaitu

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا(34)

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.(Q.S.Al-Nisa’: 34)

D.      Syarat Imam Dalam Shalat Jum’at

Pada dasarnya syarat untuk menjadi imam dalam shalat jum’at adalah sama dengan syarat imam pada umumnya hanya saja bedanya yaitu orang tersebut dapat menjadikan sahnya sholat jum’at tersebut, namun ada yang mengatakan bahwa orang yang dalam perjalanan atau musafir juga boleh untuk menjadi imam asalkan ma’mumnya lebih dari 40 orang yang dapat mengesahkan jum’at.

Selanjutnya akan saya bicarakan mengenai orang yang lebih berhak untuk menjadi imam, agar tidak timbul keraguan dalam pemahaman masalah imamah. Hanafiyah mengatakan orang yang berhak menjadi imam adalah orang yang lebih mengetahui tentang hukum sholat yaitu sahnya dan rusaknya. Dengan syarat ia menjauhi perkara yang hina, kemudian orang bagus bacaannya, kemudian orang yang lebih berwibawa, yang lebih dahulu islamnya, yang lebih tua umurnya, apabila keduanya muslim, yang lebih baik budinya, yang lebih tampan wajahnya, yang lebih baik nasabnya, yang lebih bersih bajunya. Kemudian yang ditunjuk orang banyak.

Syafi’iyah mengatakan yang berhak menjadi imam adalah penguasa, kemudian imam sehari-hari, tuan rumah, ahli fiqih, ahli baca, paling zuhud, lebih berwibawa, lebih dahulu hijrahnya, lebih lama islamnya, lebih utama nasabnya, lebih baik sejarahnya, lebih bersih bajunya dan tubuhnya dan perbuatannya, paling bagus suaranya, paling tampan, apabila masih sama maka diundi.

Malikiyah berpendapat yang berhak menjadi imam adalah penguasa, kemudian imam sehari-hari, tuan rumah, mengetahui hukum sholat, lebih hafal hadist, lebih dahulu islamnya dan lain-lain.

Maka dari itu tidak ada tempat bagi wanita untuk menjadi imam dalam sholat jum’at kecuali pendapat ketiga imam tadi yang membolehkan wanita menjadi imam sholat secara mutlak.

E.      Syarat Khotib Dalam Shalat Jum’at

Pada orang yang menjadi khotib disyaratkan beberapa syarat antara lain:

  1. Khotib harus mampu berdiri, jika ia mampu.
  2. Harus suci dari hadast dan najis.
  3. Harus orang yang menutup aurat.
  4. Harus merupakan orang yang sah untuk menjadi imamnya kaum tersebut.
  5. Harus orang laki-laki. Yang bermukim disitu.

Pada dasarnya syarat-syarat untuk menjadi khotib ini merupakan syarat-syarat imam pada sholat jum’at, tidak ada beda antara syarat imam pada sholat jum’at dengan syarat menjadi khotib.

Jadi tidak ada tempat bagi para wanita untuk menjadi khotib pada sholat jum’ah yang mayoritas ma’mumnya laki-laki. Tetapi kenyataan tersebut terjadi di sebuah gereja Amerika, yaitu seorang Amina Wadud yang menjadi khotib dan imam sholat jum’at bagi laki-laki disana. Hukum mengenai keabsahan hal tersebut masih akan dibahas nanti pada sub bab selanjutnya insya Allah.

F.      Hukum Shalat di Gereja

Sholat di gereja hukumnya adalah khilaf ada yang membolehkan, ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan. Pendapat-pendapat tersebut akan saya jelaskan satu-persatu.

Dari para ulama tersebut ada yang memakruhkan sholat di gereja karena hal itu merupakan tempat ibadah orang nasrani dan tempat ibadah orang atau agama lain tersebut merupakan tempat setan, bahkan masuk saja hukumnya makruh.

Bahkan diterangkan dalam kitab bahr bahwa masuk ke gereja itu haram secara mutlak, dan disamakan juga yaitu tempat peribadatan yahudi. Masuk saja hukumnya haram apalagi jika melakukan shalat, maka akan lebih utama keharamannya. Akan tetapi Hasan dan Umar bin Abdul Aziz memberi kemurahan yaitu dengan bolehnya shalat di gereja asalkan bersih.

Permasalahannya sekarang adalah bagaimana jika gereja tersebut sudah di sewa oleh umat islam atau sudah dimiliki oleh umat islam yang dalam perencanaannya akan dibuat masjid? Kalau pendapat saya berdasarkan analisis dari pendapat di atas adalah, jangan dahulu kalau hal tersebut masih berupa gereja, akan tetapi jika sudah berupa masjid maka boleh untuk melakukan shalat jamaah di situ. Karena hukum shalat digereja menurut saya adalah makruh jika masih terdapat simbol-simbol sebuah gereja di dalamnya, atau bahkan haram jika di dalamnya masih terdapat patung. Hukum makruh disini alasannya karena hal itu membesarkan syiar agama lain dan juga karena ada hadist nabi yang melarang kita untuk shalat di gereja. Akan tetapi jika dalam keadaan darurat maka boleh kita melakukan shalat di gereja secara mutlak.

Bahkan dalam kitab lain diterangkan bahwa makruh shalat di gereja walaupun masih baru dan belum dipakai, tempat makruh disini ialah jika masuknya berdasarkan izin dari pemilik gereja. Jika tidak berdasarkan izin maka shalatnya hukumnya haram. Demikian juga haram jika dalam gereja terdapat sesuatu yang diagungkan seperti patung dan lain-lain.

G.      Hukum Perempuan Berada di Depan Umum Atau Keluar Rumah

Wanita yang keluar rumah untuk suatu keperluan yang tidak wajib termasuk dosa besar berdasarkan hadist-hadist yang menjelaskan keharamannya. Agar kemudian bisa sesuai dengan prinsip-prinsip kita, maka larangan tersebut harus kita pahami jika terbukti menimbulkan fitnah. Namun jika sekedar kawatir adanya fitnah maka hukumnya makruh, dan jika wanita itu sudah menduga adanya fitnah maka hukumnya  haram namun tidak termasuk dosa besar.

Kaum wanita dimakruhkan mendatangi masjid yang berisikan laki-laki jika wanita tersebut mempesona, karena khawatir timbulnya fitnah, yakni dengan makruh cenderung ke haram, jika sekiranya tidak diizinkan oleh suaminya. Menurut imam al Mahalli wanita tersebut diharamkan tanpa izin wali atau suami atau pemiliknya atau keduanya terhadap budak yang bersuami, atau disertai kekhawatiran timbulnya fitnah. Pengertian keluar ke masjid adalah mencakup tempat-tempat umum, walaupun tidak ada kaum lelaki.

Adapun hukum dari wanita yang berpidato atau berbiacara ditempat umum atau di depan umum adalah haram kecuali jika dapat sunyi dari fitnah , misalnya dapat menutup aurat dan selamat dari segala fitnah, maka hukumnya adalah mubah, karena suara orang perempuan itu tidak termasuk aurat. Sebagaimana hadist di bawah ini.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ الْوَاسِطِيُّ قَال سَمِعْتُ ابْنَ نُمَيْرٍ عَنْ أَشْعَثَ بْنِ سَوَّارٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا إِذَا حَجَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا نُلَبِّي عَنْ النِّسَاءِ وَنَرْمِي عَنْ الصِّبْيَانِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ الْمَرْأَةَ لَا يُلَبِّي عَنْهَا غَيْرُهَا بَلْ هِيَ تُلَبِّي عَنْ نَفْسِهَا وَيُكْرَهُ لَهَا رَفْعُ الصَّوْتِ بِالتَّلْبِيَةِ

Muhammad bin Ismail al Wasithi menceritakan padaku, ia berkata, aku mendengar Ibn Numair dari Asngat bin Sawwar, dari Abi Zubair dari Jabir, ia berkata ketika kami melakukan haji bersama rasul maka kami membaca talbiyah dari perempuan dan membalangkan jumrah anak-anak, Abu isa berkata ini hadist Gharib, aku tidak menemukan selain jalan ini, dan ahli ilmu telah sepakat bahwa selain wanita tidak mentalbiyahkan wanita itu, bahkan ia mentalbiyahkan dirinya sendiri, dan dimakruhkan mengeraskan suara dalam membaca talbiyah.

Hadist di atas menunjukkan bahwa suara wanita itu bukan aurat, dan hal itu menunjukkan bahwa wanita boleh berpidato di depan umum asalkan memenuhi syarat-syarat tadi. Adapun yang dimaksud fitnah disini adalah zina dan muqaddimahnya. Yaitu hal-hal yang menyebabkan zina atau yang menarik ke dalam zina, misalnya seseorang tersebut memakai pakaian yang ketat yang dapat menarik laki-laki atau yang lain.

Intinya jika wanita tersebut terhindar dari fitnah, maka hal tersebut diperbolehkan dan hukumnya mubah. Namun perlu diingat bagi yang bersuami harus dengan izin suaminya, bila tanpa izin maka hukumnya haram. Jika wanita itu berpidato di depan umum dan menimbulkan fitnah maka hal inilah yang diharamkan tersebut. Tindakan selanjutnya hal tersebut akan mengakibatkan pemerkosaan dan pelanggaran terhadap hak-hak manusia. Hal inilah yang dijaga oleh fiqih dan disyariatkan oleh islam.

H.     Latar Belakang Yang Menjadikan Amina Wadud Menjadi Imam Bagi Jama’ah Laki-laki

Diakui atau tidak, fakta membuktikan bahwa kewenangan dalam menafsirkan teks-teks suci pada tataran praksis secara eksklusif dikuasai oleh kaum laki-laki. Maka wajar biala ada semacam absolutisme ijtihad di sini. Secara logis dan naluriah pula, kenyataan ini ikut menginfiltasi sejumlah teks yang sedianya diperuntukkan bagi feminitas wanita dengan susupan-susupan subyektif dari pandangan maskulin si mufassir. Pengalaman laki-laki kemudian dipaksakan untuk memahami kewanitaan.

Jumat, 18 Maret 2005. 100 orang laki-laki dan perempuan menyelenggarakan ritual agama yang revolusioner di sebuah gereja Anglikan, The Synod house of The Cathedral of St. John The Divine, di kota New York, Amerika serikat. Gereja itu menjadi saksi bisu prosesi ibadah yang dalam Islam dikenal sebagai salat Jumat. Yang bertindak selaku imam sekaligus khatib salat itu adalah seorang profesor ternama dari Virginia Commonweath University, Dr. Amina Wadud Muhsin. Amina dikenal sebagai muslimah feminis Afro-Amerika. Konon kata berita, motif utama pelaksanaan ibadah unik ini adalah upaya kesetaraan gender; tema lama yang sampai sekarang masih tetap hangat diperdebatkan.

Tentu fenomena ini memicu banyak respons dari pihak-pihak yang merasa gerah dan marah. Ulama sekaligus Grand Syekh al-Azhaz di Mesir, Muhammad Sayyid al-Thanthawi mengajukan keberatan atas aksi Wadud, dan diikuti pula oleh ulama-ulama lain. Tapi bagi mereka yang sependapat dengan Amina, langkah serupa mungkin tak lama lagi akan diikuti.

Secara pribadi, saya pernah berbincang-bincang dengan Dr. Amina dalam sebuah workshop di Virginia, setahun yang lalu. Dari situ saya punya kesan pribadi. Dilihat dari fisik dan tutur kata, orang yang sempat bertatap muka dengannya akan yakin bahwa beliau merupakan salah satu prototipe muslimah dengan unsur feminitas yang sangat teruji. Kedalaman dan kegetolan beliau dalam menimba pengetahuan agama—khususnya menyangkut bidang tafsir—sudah tidak disangsikan lagi.

Sebagai feminis muslimah yang sejati, Amina dengan penuh kesadaran selalu mencoba mendobrak dominasi laki-laki dalam segala hal yang menyangkut Islam; agama yang konon membawa misi keadilan dan kesetaraan. Dobarakan itu pertama-tama ditujukan pada bidang tafsir dan fikih yang selama ini diyakini telah memberikan porsi begitu besar pada suara kaum laki-laki. Sementara untuk suara kaum perempuan, kalaupun ada, jelas tidak sebanding dan nyaris tak terdengar gaungnya.

Kuatnya kesan dominasi budaya patriarkhi yang melekat pada berbagai khazanah ilmu-ilmu keislaman (khususnya tafsir dan fikih) telah menginspirasikan Amina untuk berpendapat bahwa obyektivitas sebuah metode penafsiran tidak pernah bisa mencapai level yang absolut. Subyektivitas seorang mufassir (baca: laki-laki) selalu ada dan tak jarang lebih dominan di dalam muatan tafsir atau fikihnya.

Diakui atau tidak, fakta membuktikan bahwa kewenangan dalam menafsirkan teks-teks suci pada tataran praksis secara eksklusif dikuasai oleh kaum laki-laki. Maka wajar biala ada semacam absolutisme ijtihad di sini. Secara logis dan naluriah pula, kenyataan ini ikut menginfiltasi sejumlah teks yang sedianya diperuntukkan bagi feminitas wanita dengan susupan-susupan subyektif dari pandangan maskulin si mufassir. Pengalaman laki-laki kemudian dipaksakan untuk memahami kewanitaan. Inilah sedikit dari banyak hal yang ditentang Amina. Baginya, kehangatan dan kelezatan aroma semangkuk sup akan hilang seketika jika muncul tangan usil yang sengaja mencampurnya dengan air sabun berbusa.

Celakanya, metode penafsiran semacam ini sudah terlembagakan selama berabad-abad. Epistemologi yang pada awalnya hanya merupakan sebuah varian dalam memahami agama, karena begitu mengakarnya, kemudian hari malah menjadi (dijadikan) kebenaran yang mutlak, bahkan sering dianggap transenden dengan tingkat-tingkat sakralisasi yang luar biasa.

Pada titik-titik inilah, generasi muslim sekarang yang sebagian besar adalah muqallidîn atau pembebek saja, tidak punya kemampuan yang cukup untuk membedakan antara ‘penafsiran’ dengan ‘yang ditafsiri’ itu sendiri. Produk akal manusia hasil kerja metodologi dan epistemologi tertentu disejajarkan dengan teks-teks suci yang sering disebut kalam Ilahi. Adalah sebuah kemustahilan, sampai kapanpun, jika absolutisme ke-Tuhan-an ataupun segala hal yang memancar atau beremanasi dari-Nya disetarakan dengan makhluk dalam pelbagai derajat hirarkinya. Perilaku-perilaku semacam ini dapat saja dikategorikan sebagai kemusyrikan berpikir, atau yang bisa saya sebut sebagai syirik intelektual. Semua produk pemikiran keislaman yang terbukukan dan dipatenkan hingga kini oleh sebagian orang pada kitab-kitab turats, tak lepas dari bias masculino-centris. Di era di mana kita hidup dalam era keterbukaan dan kesetaraan, upaya-upaya untuk meneruskan tradisi patriarkhi dalam berijtihad masih saja berlangsung. Perjuangan kaum minoritas yang menuntut hak-hak kaum hawa dalam beragama selalu dihadang atas nama Tuhan. Sistem penafsiran dan pemahaman teks-teks keagamaan yang kemudian dikodifikasikan sebagai sistem hukum dan way of life di kalangan umat Islam terasa begitu gentle. Inilah yang sering diistilahkan sebagai fikih dan tafsir maskulin atas agama. Artinya, sudah terjadi semacam operasi kelamin atas ayat-ayat suci.

Dr. Amina Wadud Muhsin, dengan segenap keberaniannya mencoba menggugat dominasi itu. Menggugat bukan berarti mencoba membalikkan keadaan, melainkan hanya usaha mewujudkan kesetaraan dan memosisikan keberpihakan Islam dalam soal gender secara proporsional. “Saya hanya bermaksud membuat interpretasi Alqur’an yang di dalamnya terkandung pengalaman-pengalaman perempuan, tanpa stereotipe yang telah lama dibuatkan oleh kerangka interpretasi kaum laki-laki,” tulisanya dalam sebuah artikel.

Prinsip tersebut dijadikan starting point oleh Dr. Amina dalam melakukan berbagai kajian keagamaan dalam kapasitasnya sebagai seorang akademisi. Gebrakan dalam bentuk penyelenggaraan salat Jumat yang kontroversial itu, dalam konteks ini hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan upaya penggugatan itu.

Secara pribadi, saya sendiri nyaris yakin bahwa kisah Ummu Waraqah merupakan dasar pijakan oleh Dr. Amina dalam gebrakannya. Dalam kitab Bulûghul Marâm karya al-Hâfidz Ibnu Hajar al-Asqalanî diceritakan bahwa Nabi telah memerintahkan Ummu Waraqah untuk menjadi imam salat bagi penghuni rumahnya. Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud, dan Ibnu Khuzaimah menegaskan bahwa statusnya adalah sahih. Dalam bagian lain pada kitab yang sama juga disebutkan soal larangan perempuan menjadi imam salat. Hadis itu diriwayatkan Ibnu Majah dari Jabir. Hanya saja, status hadis kedua ini dinyatakan wâhin atau dla’îf.

Kasus salah Jumat Dr. Amina telah memunculkan guncangan besar dalam jagat keagamaan. Semua orang boleh menganggapnya berlebihan, tapi Amina tetaplah orang dengan pendirian yang kokoh. Ia ingin menunjukkan pada dunia dengan cara menyentaknya, bahwa suara perempuan pun seharusnya didengar dan diperhatikan. Dengan kontroversi dan derasnya respons yang muncul dari kasus tersebut, mungkin dia berharap diskusi-diskusi soal hak-hak kaum perempuan bisa dibahas secara luas dan mendalam oleh para pemikir dan pihak-pihak yang mau membuka mata dan hatinya. Ini bukanlah bid’ah belaka, melainkan sebuah upaya cerdas untuk mengembalikan kesucian agama dari jamahan tangan-tangan yang kurang bertanggung jawab dalam soal agama.

Intinya bahwa latar belakang Amina Wadud untuk melakukan khotbah dan imam shalat jum’at adalah karena ia adalah seorang yang feminis disampin ia ingin membebaskan wanita dari ketidak setaraan gender. Maka ia melakukan penafsiran terhadap ayat atau hadist secara feminis yang berindikasi membebaskan islam dari budaya patriarki.

I.       Keabsahan Perempuan Menjadi Khotib Dan Imam Shalat Jum’at Bagi Laki-laki

Sebelum saya menguraikan pendapat saya terlebih dahulu akan saya jelaskan keabsahan tersebut menurut Lajnah Fiqhiyah di Amerika. Yang keputusannya sebagai berikut:

  1. Hujjah yang pasti dan hukum yang tertinggi adalah al Qur’an dan as Sunnah.
  2. Kesepakatan umat dari timur sampai barat yang terjadi adalah tidak ada tempat bagi wanita dalam khutbah jum’at dan juga sebagai imam sholat jum’at.
  3. Telah diketahui bahwa shaf laki-laki yang paling utama adalah di depan sedangkan shaf perempuan adalah di belakang. Hal itu ditujukan untuk menjaga fitnah, maka bagaimana bisa wanita naik mimbar dan mendahului untuk menjadi imam?
  4. Dari dulu sampai sekarang dalam sejarah islamiyah belum ada wanita yang melebihi keutamaan Aisah akan tetapi ia merupakan orang taqlid kepada imam laki-laki.
  5. Sedangkan hadist Ummi waraqah tersebut merupakan kekhususan baginya, dan itu hanya dilakukan dirumahnya sendiri, bukan di tempat umum.

Memang terjadi pro dan kontra antara masalah tersebut, kalau saya menyikapinya yaitu mengenai keabsahan shalat jum’ah yang dilakukan oleh Amina Wadud di gereja karl tedral adalah tidak sah. Karena menurut pandangan saya tidak ada pendapat yang membolehkan wanita untuk menjadi imam, sedangkan pendapat yang membolehkan wanita menjadi imam tidak dapat difatwakan. Kalau menjadi imam saja tidak boleh apalagi jika menjadi khotib bagi shalat jum’at yang ma’mumnya terdiri dari mayoritas laki-laki, hal itu akan lebih menambah keharaman.

Apalagi jika kita melihat fakta, Misalnya:1.Imam dan Khatibnya seorang wanita 2. Yang adzannya juga seorang wanita, tanpa berjilbab lagi 3. Shof (barisan) shalat antara laki-laki dan wanita campur, 4. Dilakukan di sebuah Gereja, maka kita dapat menyimpulkan bahwa praktek ibadah tersebut membawa banyak fitnah yang hal itu dilarang oleh islam, sebagaimana diterangkan di atas tadi. Bahkan boleh jadi atau dapat dihukumi shalatnya jama’ah tersebut tidak sah. Bahkan shalat yang berada di gereja itu hukumnya makruh atau bahkan ada yang mengatakan haram.

Maka hukum  wanita untuk menjadi imam bagi laki-laki adalah tidak sah atau tidak boleh, jika imamnya tidak sah otomatis praktek ibadah yang berupa shalat jum’at secara berjamaah tersebut juga batal atau tidak sah. Demikian juga wanita yang menjadi khotib itu hukumnya juga tidak sah. Jika begitu maka praktek ibadah tersebut hukumnya tidak sah, karena status imam tidak sah. Dan hukum perempuan atau wanita untuk menjadi khotib dan imam sholat jum’at itu tidak sah.

J.       Kesimpulan

  1. Syarat-syarat menjadi imam adalah islam, baligh, laki-laki, bukan ummi,suci dari hadast dan najis, bukan orang yang lahn dan tidak ma’mum pada orang lain.
  2. Pendapat yang memperbolehkan perempuan menjadi imam adalah pendapat Abu Tsur, al Muzanni dan al Thobari, selain itu tidak ada yang memperbolehkan perempuan menjadi imam.
  3. Syarat untuk menjadi imam dalam shalat jum’at adalah sama dengan syarat imam pada umumnya hanya saja bedanya yaitu orang tersebut dapat menjadikan sahnya sholat jum’at tersebut, namun ada yang mengatakan bahwa orang yang dalam perjalanan atau musafir juga boleh untuk menjadi imam.
  4. Syarat seorang khotib adalah merupakan orang yang sah untuk menjadi imamnya kaum tersebut.
  5. Sholat di gereja hukumnya adalah khilaf ada yang membolehkan, ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan.
  6. jika wanita tersebut terhindar dari fitnah, maka keluar atau berada di tempat umum tersebut diperbolehkan dan hukumnya mubah. Namun perlu diingat bagi yang bersuami harus dengan izin suaminya, bila tanpa izin maka hukumnya haram.
  7. Yang menjadi latar belakang Amina melakukan hal ini adalah sikapnya yang ingin menyamakan antara laki-laki dengan perempuan, karena ia termasuk orang yang feminis. Pada dasarnya yaitu ingin tercapainya kesetaraan gender dalam hal keimaman.
  8. Hukum wanita menjadi khotib dan imam bagi shalat jum’at yang pengikutnya mayoritas laki-laki adalah tidak sah karena ia tidak sah sebagai imam.

K.      Saran

Hendaklah dalam menjalani agama kita memilih atau mengikuti pemikiran yang telah ditetapkan oleh madzhab kita. Atau kita bertaqlid ke dalam salah satu madzhab karena kita belum mampu untuk berijtihad dan menggali hukum sendiri. Hendaklah kita bertoleransi terhadap amal ibadah yang dilakukan oleh orang lain jangan selalu menyalahkan ibadah yang tidak sama dengan kita. Hendaknya kita tinjau dulu ibadah tersebut dari  berbagai segi.

Janganlah kita selalu berpendapat bahwa ibadah kita yang paling benar karena semua itu hanyalah hasil ijtihad, maka kita juga harus berani mengakui kebenaran ibadah orang lain jika memang itu benar, dan menyalahkan jika memang itu salah.

Referensi

Abidin, Ibn .1999. Raddul Muhtar juz I. Beirut: Dar al Kutub al Islamiyah.

Al Auqaf, Wazirah. –.Mausu’atil Fiqhiyah juz 12. Kuwait: Wazirah al Auqaf al Quwaitiyah.

Al Bajury,.–. Hasyyah Bajuri ala Ibn Qasim juz I. Semarang: Toha Putra,.

Al Bukhory. 2005. Shahih Bukhory Juz.Beirut: Dar al Fikr.

Ad Dasuky.–. Khasiyah Dasuki Juz I. Beirut: Dar al Ihya’.

Al Huzni.–. Kifayatul ahyar .Beirut: Dar al Fikr.

Al Jazery.2004. Fiqih ala madhabil arba’ah juz I. Beirut: Dar al Fikr.

Al Kurdi, Amin.–. Tanwirul Qulub.Semarang: Toha Putra.

An Nasa’I.–.Sunan Nasa’I juz II., Beirut : Dar al Fikr.

An Nawawi, Yahya.–. Majmu’ ‘ala Syarhil Muhadzab juz II.Beirut: Dar al Fikr.

As Syarqawi,  Abdullah. 1995. Hasyiah syarqawi ala Tahrir juz I. Beirut: Dar al Fikr.

As Syatha,  abu Bakar.–. I’anatut Tholibin juz II.Bandung: Syirkah Ma’arif,.

As Syaukani.–. Nailul Author juz III.Beirut: Dar al Fikr.  

As Sho’id, Ali. 2004. Khassiyatul Adawijuz I. Beirut: Dar al Fikr, .

Az Zuhaily , Wahbah. 2005. Fiqih al Islamy Wa adillatuhu juz II. Beirut : Dar al Fikr.

Dawud, Abu.1999. Sunan Abu Dawud juz I .Kairo: Dar al Hadist.

Jamal, Sulaiman.2003. Khasiyah Jamal ‘ala Fathil Wahab juz I.  Beirut: Dar al Kutub al Islamiyah.

Majah, Ibn. –.Sunan Ibn Majah Juz II.Beirut: Dar al Fikr.

Qudamah, Ibn.–. Al Mugni ‘ala Syarhil Kabir juz I.  Beirut: Dar al Fikr.

Rusyd, Ibn.–. Bidayatul Mujtahid juz I. Semarang: Toha Putra.

Tirmidzi.1999. Sunan Tirmidzi.Beirut: Dar al Fikr.

—.– Is’adur Rafiq juz II. Beirut: Dar al Fikr.

Al lajnah ad daimah li majma’I fuqaha’ al syari’ah bi amerika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: