ITTIHAD


ITTIHAD

(Tingkatan Maqam Tertinggi Pada Seorang Sufi)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

 

A.    Latar Belakang

Tujuan dari ilmu tasawuf adalah mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Seseorang yang sudah mencapai perasaan atau keadaan terdekat dengan Allah maka dapat dikatakan tujuan orang tersebut berhasil dicapai. Jadi orang melakukan ibadah kepada Allah bukan untuk mencari maqam, melainkan semata-mata karena Allah, dan juga bukan untuk terhindar dari neraka dan masuk ke surga.

Orang yang sudah mencapai tingkatan orang yang mendekatkan diri kepada Allah, maka ia akan selalu merasa melihat Allah atau merasa Allah sebagai kekasihnya selalu menyertainya. Adakalanya orang tersebut mencapai tingkatan yang dinamakan ma’rifah yang merupakan salah satu tingkatan orang yang mendekatkan diri kepada Allah. Dan adakalanya yang mencapai tingkatan mahabbah kepadaNya.

Orang yang sudah mencapai tingkatan ma’rifah terdapat tanda-tanda yang membedakan dengan orang lain dan juga merupakan ciri khasnya, antara lain Cahaya ma’rifah tidak akan memudarkan kerendahan hati. Tidak mengukuhi secara batiniah ilmu yang bertentangan dengan hukum lahiriah. Nikmat-nikmat yang telah Allah SWT berikan tidak menyebabkan dilanggarnya larangan-larangan Allah SWT. Namun tidak semua sufi mampu untuk mencapai tingkatan ini. Karena persyaratannya sangat sulit dicapai.

Setelah orang tersebut mencapai ma’rifah maka selanjutnya orang tersebut akan merasa fana’ kemudian baqa’ dan kemudian ittihad atau menyatu. Karena ia merasa bahwa selain Allah itu tidak ada, maka ia dan Tuhannya merasa menjadi satu. Maka dari itu kami akan menguraikan mengenai ketiganya sebab ketiganya merupakan inti sari dari ajaran tasawuf dan termasuk tasawuf falsafi.

 

B.    Tokoh Yang Mengembangkan Ajaran Fana’, Baqa’ dan Ittihad

Dalam hal ini terdapat beberapa tokoh yang menyebarkan atau mempopulerken ajaran fana’ baqa’ dan ittihad ini. Ajaran ini muncul pada abad ke 3 H. karena tiga ajaran ini termasuk ajaran tasawuf falsafi. Tokoh tersebut antara lain:

Abu Yazid al Bustami

Nama lengkapnya adalah Abu Yazid bin Isa bin Syurusan al Bustami. Dia lahir sekitar tahun 814 M di Bustam. Dan ia meninggal pada tahun 875 M. Sebelum ia belajar tasawuf ia mempelajari agama islam menurut madhab Hanafi, kemudian ia memperoleh pelajaran tentang ilmu tauhid dan hakekat, begitu juga tentang al fana’ dari Abu Ali Sindi. Abu yazid dipandang sebagai pembawa paham al fana’ , al baqa’ dan al ittihad.

Paham al fana’ dari Abu Yazid ini dipengaruhi oleh paham dari India. Dengan fana’, Abu Yazid meninggalkan dirinya dan pergi ke hadirat Tuhan. Contoh dari ucapannya ialah, ketika ia ditanya apa itu arys ia menjawab Akulah arys itu. Hal itu menunjukkan bahwa ia mengembangkan paham ittihad.

Junaid al Bagdadi

Nama lengkapnya Abu al Qasim al Junaid bin Muhammad al Khazzaz al Nihawandi. Dia meninggal di bagdad tahun 910 M. Al Junaid adalah seorang sufi yang mempunyai wawasan luas terhadap ajaran tasawuf, dan mampu membahas secara mendalam, khususnya tentang paham tauhid dan al fana’. Karena itu ia digelari imam kaum sufi. Tauhid yang hakiki menurut al Junaid adalah buah dari fana’ terhadap semua selain Allah. Dalam hal ini ia mengatakan tauhid yang dianut para sufi adalah pemisahan yang qidam dari yang huduts. Ia adalah orang yang mampu memadukan antara syariah dengan hakikah.

Al Hallaj

Nama lengkapnya adalah Abu Al Mugis Al Husain bin Mansur Bin Muhammad al Baidawi, dan lebih dikenal dengan nama al Hallaj. Al Hallaj dilahuirkan pada tahun 858 M, di Tur. ia sering keluar masuk penjara, karena paham tasawufnya yang berbeda dengan yang lain.

Farid al Din menceritakan proses hukuman matii al Hallaj, sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Gallab, bahwa algojo menaikkan ia ke manara tinggi, kemudian dikerumuni orang banyak dsari seluruh penjuru negeri, yang diperintahkan untuk melempari batu. Ketika itu ia selalu mengulang kalimat yang menyebabkan ia dijebloskan kepanjara, “ Ana Al Haqq”.  Ia mempunyai faham hulul yang menyatakan bahwa ia dan Allah itu menyatu dalam satu tubuh, jadi dalam satu tubuh terdapat dua esensi. Yang merupakan faham yang tidak boleh dikumandangkan di depan umum.

C.   Fana’, Baqa’ dan Ittihad

Secara logawi, fana’ berarti hancur, lebur, musnah, lenyap, hilang atau tiada; dan baqa’ berarti tetap, kekal, abadi atau hidup terus. Fana dan baqa’ merupakan dua kembar dalam arti bahwa adanya fana’ menunjukkan adanya baqa’.

Dr Ibrahim Basyuni—setelah mengumpulkan beberapa definisi merumuskan pengertian fana’ ini sebagai berikut:

fana’ ialah kondisi batin yang merasdakan hilangnya hubungan seseorang dengan alam dan bahkan dengan dirinya sendiri tanpa hilangnya sifat-sifat kemanusiaannya.

Jadi fana’ ialah faham atau tingkatan tasawuf dimana manusia yang mempunyai faham tersebut akan merasa bahwa dirinya sirna dan selain Allah itu tidak ada.

Sementara itu baqa’ menurut istilah adalah tingkatan tasawuf dimana manusia tersebut merasa bahwa ia hidup kekal bersama dengan Allah. Baqa’ ini adalah kelanjutan dari fana’. Jadi untuk mencapai baqa’ seseorang harus mengalami fana’ dahulu. Tanpa itu maka tidak akan terjadi yang namanya baqa’.

Jika dilihat dari etimologi, ittihad berarti persatuan. Dalam kamus sufisme berarti persatuan antara manusia dengan Tuhan.

Ittihad dalam ajaran tasawuf kata Ibrahim Makdur adalah tingkat tertinggi yang dapat dicapai dalam perjalanan jiwa manusia. Orang yang sudah sampai pada tingkat ini, dia dengan Tuhannya telah menjadi satu, terbukalah dinding baginya, dia dapat melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata. Orang yang sudah mencapai tingkat ini akan hilang kesadarannya, dia tidak mengenal lagi wujud alam kasarnya dan keberadaan alam sekitarnya.

Jadi ittihad merupakan tingkatan dimana manusia sudah tidak mengenali lagi siapa dirinya dan alam sekitarnya. Ia asyik dengan persatuan dengan Tuhannya. Karena itu ia suka berbicara yang aneh-aneh, seperti, dalam kitab hikam, Allah ada dalam bajuku, dan aku adalah Allah.

D.    Tingkatan dan Hikmahnya

Sebagaimana yang telah diuraikan diatas tadi bahwa pada mulanya setelah orang tersebut sampai ke tingkatan ma’rifat maka selanjutnya orang akan merasa sirna, maka ia akan mencapai tingkatan fana’. Dalam tingkatan ini seseorang akan merasa bahwa selain Allah tersebut rusak dan semuanya sirna, bahkan tubuhnya sendiri sirna.

Setelah itu ia akan mencapai tingkatan selanjutnya yaitu baqa’. Dimana seseorang akan merasa bahwa dirinya tersebut kekal, karena ia telah menyatu dengan Tuhan dengan melalui iradahNya. Dan ia akan mengatakan atau berpendapat bahwa selain Allah itu alam dan semua alam tidak ada (‘adam). Dalam tingkatan ini ia sudah tidak lagi merasa sebagai manusia atau bagian dari alam. Adapun kegiatannya sehari-hari adalah sebagai simbol atau sebagai pemenuhan kebutuhan jisimnya yang kasar yang pada hakekatnya tidak ada, karena jisim sejati itu hanyalah Allah.

Selanjutnya manusia akan mencapai tingkatan ittihad, dimana ia dengan Tuhannya merasa menjadi satu dalam tubuh yang satu. Dalam tingkatan ini maka ia akan menjadi tidak sadar dengan keadaan dirinya di dunia. Bahkan biasanya keluar kata-kata yang semestinya tidak sepatutnya dikeluarkan didepan orang banyak atau masyarakat umum.

Pembagian tingkatan ittihad ini ada tiga esensi, yang pertama yaitu ittihad sebagaimana paham yang dibawa oleh Abu Yazid. Oleh bkarena itu sebenarnya Abu Yazid tidak mengaku dirinya sebagai Tuhan, kata-katanya bukan diucapkan oleh Abu Yazid sebagai kata-katanya sndiri, tetapi kata-kata itu diucapkannya dalam keadaan ittihad. Menurut Abu Yazid, manusia yang pada hakekatnya satu substansi dengan Tuhan, dapat menyatu denganNya apabila ia mampu melebur kesadaran eksistensi keberadaannya sebagai suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari pribadinya.

Esensi selanjutnya adalah hulul, faham ini dibawa oleh al Hallaj, dalam berbagai syairnya ia mengatakan bahwa manusia dengan Tuhan dapat mengalami hulul. Hulul maksudnya paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya setelah sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan. Hulul ini menyatakan bahwa manusia tidak menyatu dengan Tuhan, akan tetapi dalam satu tubuh tersebut terdapat dua macam bentuk atau dalam hakekatnya terdapat dua esensi yaitu dia sendiri atau tubuh manusia atau jiwa manusia itu sendiri dan wujud Allah. Ia dapat berubah atau memakai wujud manasaja yang ia sukai.

Esensi yang berikutnya adalah wahdah al wujud. Secara bahasa wahdat al wujud berarti menjadi satunya wujud. Secara istilah adalah tingkatan dimana manusia tersebut menjadi satu dengan Tuhannya. Baik jiwa maupun tubuhnya. Karena menurut paham ini tidak ada dalam satu tubuh tersebut memiliki dua esensi yang berbeda antara yang satu dengan yang satunya. Pada tingtkatan ini manusia sudah  tidak menyadari siapa dirinya, karena ia sudah melewati maqam fana’. Ia berkeyakinan bahwa selain Allah itu tidak ada yang ada hanyalah Allah yang menyatu dengan dirinya.  Semua bentuk didunia ini adalah Allah, karena pada hakekatnya dimulai dari Allah.

Tingkatan ini biasanya dimiliki oleh para wali yang sudah mencapai ma’rifat. Pada dasarnya tingkatan ini juga merupakan bagian dari ittihad. Maka dari itu dapat dikatakan ittihad dapat mengambil esensi dari dua bentuk yaitu hulul dan wahdatul wujud.

Hikmah-hikmah yang terkandung dalam tingkatan ini seperti halnya hikmah yang terkandung dalam tauhid:

v  Manusia akan menyadari bahwa dirinya lemah.

v  Manusia akan menyadari bahwa selain Allah merupakan sesuatu yang baru yang pada hekakatnya tidak ada.

v  Akan selalu memasrahkan dirinya pada Allah semata.

v  Merupakan ilmu yang tidak boleh diumumkan kepada orang lain kecuali orang yang sama derajatnya.

E.    Fana’, Baqa’ dan Ittihad dalam Al Qur’an dan Hadist

Fana’ dalam al Qur’an

 Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”,

baqa’

‘Semua yang ada di bumi itu akan binasa.

  Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Ittihad

Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

من عرف نفسه فقد عرف ربه

Barang siapa yang mengetahui nafsunya maka dia akan mengetahui Tuhannya.

F.   Kesimpulan

  1. Tokoh yang mempopuleran ajaran tersebut adalah Abu Yazid al Bustomi, Junaid al Bagdadi, Al Hallaj.
  2. fana’ ialah faham atau tingkatan tasawuf dimana manusia yang mempunyai faham tersebut akan merasa bahwa dirinya sirna dan selain Allah itu tidak ada.

Sementara itu baqa’ menurut istilah adalah tingkatan tasawuf dimana manusia tersebut merasa bahwa ia hidup kekal bersama dengan Allah. Baqa’ ini adalah kelanjutan dari fana’.

  1. Tingkatannya adalah fana’ kemudian baqa’ kemudian ittihad yang dapat mengambil bentuk hulul dan wahdatul wujud.
  2. fana’ baqa’ dan ittihad tersebut terdapat dalam al Qur’an dan hadist.

G.    Saran

Hendaklah kita sebagai manusia selalu meningkatkan keimanan kita kepada Allah, karena dengan peningkatan tersebut kita dapat menjadi makhluk yang mulia disisiNya. Dan menjadi kekasihNya. Pada mulanya kita mulai dengan taubat dan sebagaimana yang tertera dalam maqam terserah mau mengikuti yang mana.

Janganlah kita menyombongkan diri kita dengan secuil ilmu yang kita punya karena hal itu tidak berarti apa-apa. Hendaklah kita menerapkan 3 pokok dalam islam yaitu syariah, torikot dan hekekat. Tauhid, fiqih dan tasawuf, karena semua itu saling berkaitan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: