KEBUDAYAAN DALAM TANTANGAN DAN PELUANG


KEBUDAYAAN DALAM TANTANGAN DAN PELUANG

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

  1. A.      Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi pluralis dan multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari dinamika kehidupan masyarakat yang beragam, baik dalam aspek keagamaan, suku bangsa, bahasa maupun budaya. Keragaman yang ada, sesungguhnya dapat menjadi salah satu potensi besar bagi kemajuan bangsa. Namun di lain pihak, juga berpotensi menimbulkan berbagai macam permasalahan apabila tidak dikelola dan dibina dengan baik. Umat muslim sebagai pemeluk agama yang mayoritas, harus berperan aktif dalam mengelola dimensi keragaman bangsa ini.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, gerakan multikulturalisme yang tereduksi dalam pendidikan (Islam) menjadi sangat penting. Dengan jumlah ±13.000 pulau besar dan kecil serta jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa yang terdiri atas 300-an suku dengan hampir 200 bahasa yang digunakan, sangat memerlukan konsep penataan yang baik agar tidak terjadi saling benturan. Begitupun dalam aspek keagamaan dan faham kepercayaan, di Indonesia juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam, seperti Islam, Katholik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, serta berbagai macam kepercayaan dan aliran keyakinan lainnya. Fakta keragamaan ini adalah aspek yang sangat sensitif apabila tidak dikelola dengan baik, terutama untuk kelompok masyarakat akar rumput (grass root), yang secara psikologis masih sangat mudah terpancing pada isu-isu yang bernuansa SARA. Keragaman budaya pada bangsa Indonesia inilah menyebabkan keharusan adanya analisis dari segi klasifikasi kebudayaan. Hal tersebut diperlukan supaya kebudayaan tersebut dapat dipelihara dan dikembangkan dengan lebih baik.

 

  1. B.     Definisi Kebudayaan

Budaya atau culture merupakan istilah yang datang dari disiplin antropologi sosial. Dalam dunia pendidikan budaya dapat digunakan sebagai salah satu transmisi pengetahuan, karena sebenarnya yang tercakup dalam budaya sangatlah luas. Budaya laksana software yang berada dalam otak manusia, yang menuntun persepsi, mengidentifikasi apa yang dilihat, mengarahkan fokus pada suatu hal, serta menghindar dari yang lain.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya diartikan sebagai: pikiran; adat istiadat; sesuatu yang sudah berkembang; sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Istilah budaya, menurut Kotter dan Heskett, dapat diartikan sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama.

Dalam pemakaian sehari-hari, orang biasanya mensinonimkan definisi budaya dengan tradisi (tradition). Tradisi, dalam hal ini, diartikan sebagai ide-ide umum, sikap dan kebiasaan dari masyarakat yang nampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dari kelompok dalam masyarakat tersebut. Padahal budaya dan tradisi itu berbeda. Budaya dapat memasukkan ilmu pengetahuan kedalamnya, sedangkan tradisi tidak dapat memasukkan ilmu pengetahuan ke dalam tradisi tersebut.

Tylor, sebagaimana dikutip Budiningsih, mengartikan budaya merupakan suatu kesatuan yang unik dan bukan jumlah dari bagian-bagian suatu kemampuan kreasi manusia yang immaterial, berbentuk kemampuan psikologis seperti ilmu pengetahuan, teknologi, kepercayaan, keyakinan, seni dan sebagainya. Budaya dapat berbentuk fisik seperti hasil seni, dapat juga berbentuk kelompok-kelompok masyarakat, atau lainnya, sebagai realitas objektif yang diperoleh dari lingkungan dan tidak terjadi dalam kehidupan manusia terasing, melainkan kehidupan suatu masyarakat.

Dari definisi di atas, penulis memahami berbagai hal berikut:

  1. Kebudayaan merupakan suatu keseluruhan  yang kompleks, hal ini berarti bahwa kebudayaan merupakan  suatu kesatuan dan bukan jumlah dari bagian keseluruhannya mempunyai  pola pola atau desain  tertentu yang unik. Setiap kebudayaan mempunyai mozaik yang spesifik.
  2. Kebudayaan merupakan suatu prestasi kreasi manusia immaterial  artinya berupa bentuk-bentuk prestasi  psikologis seperti ilmu pengetahuan , kepercayaan, seni  dan sebagainya.
  3. Kebudayaan dapat pula berbentuk fisik seperti  hasil seni, terbentuknya kelompok keluarga .
  4. Kebudayaan dapat pula berbentuk kelakuan-kelakuan yang terarah  seperti hukum, adat istiadat, yang berkesinambungan.
  5. Kebudayaan merupakan suatu realitas  yang obyektif, yang dapat dilihat.
  6. Kebudayaan diperoleh  dari lingkungan.
  7. Kebudayan tidak terwujud dalam kehidupan manusia yang  soliter atau terasing  tetapi yang hidup di dalam suatu masyarakat tertentu. 

Koentjaraningrat mengelompokkan aspek-aspek budaya berdasarkan dimensi wujudnya, yaitu: 1) Kompleks gugusan atau ide seperti pikiran, pengetahuan, nilai, keyakinan, norma dan sikap. 2) Kompleks aktivis seperti pola komunikasi, tari-tarian, upacara adat. 3) Materian hasil benda seperti seni, peralatan dan sebagainya. Sedangkan menurut Robert K. Marton, sebagaimana dikutip Fernandez, diantara segenap unsur-unsur budaya terdapat unsur yang terpenting yaitu kerangka aspirasi tersebut, dalam artian ada nilai budaya yang merupakan konsepsi abstrak yang hidup di dalam alam pikiran.

Agar budaya tersebut menjadi nilai-nilai yang tahan lama, maka harus ada proses internalisasi budaya. Internalisasi adalah proses menanamkan dan menumbuhkembangkan suatu nilai atau budaya menjadi bagian diri (self) orang yang bersangkutan. Penanaman dan penumbuhkembangan nilai tersebut dilakukan melalui berbagai didaktik metodik pendidikan dan pengajaran. Proses pembentukan budaya terdiri dari sub-proses yang saling berhubungan antara lain: kontak budaya, penggalian budaya, seleksi budaya, pemantapan budaya, sosialisasi budaya, internalisasi budaya, perubahan budaya, pewarisan budaya yang terjadi dalam hubungannya dengan lingkungannya secara terus menerus dan berkesinambungan.

Koentjaraningrat menyebutkan unsur-unsur universal dari kebudayaan adalah 1) sistem religi dan upacara keagamaan, 2) sistem dan organisasi kemasyarakatan, 3) sistem pengetahuan, 4) bahasa, 5) kesenian, 6) sistem mata pencaharian hidup, dan 7) sistem teknologi dan peralatan. Budaya itu paling sedikit mempunyai tiga wujud, yaitu kebudayaan sebagai 1) suatu kompleks ide-ide, gagasan nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya, 2) suatu kompleks aktivitas kelakukan dari manusia dalam masyarakat, dan 3) sebagai benda-benda karya manusia.

Wujud pertama adalah wujud ide kebudayaan yang sifatnya abstrak, tak dapat diraba dan difoto. Lokasinya berada dalam alam pikiran warga masyarakat tempat kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Pada saat ini kebudayaan ide juga banyak tersimpan dalam disk, tape, koleksi microfilm, dan sebagainya. Kebudayaan ide ini dapat disebut tata kelakuan, karena berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia.

Wujud kedua dari kebudayaan sering disebut sebagai sistem sosial, yang menunjuk pada perilaku yang berpola dari manusia. Sistem sosial berupa aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul dari waktu ke waktu. Sedangkan wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik, yaitu keseluruhan hasil aktivitas fisik, perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat yang sifatnya konkrit berupa benda-benda.

Jadi yang dinamakan budaya adalah totalitas pola kehidupan manusia yang lahir dari pemikiran dan pembiasaan yang mencirikan suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama. Budaya merupakan hasil cipta, karya dan karsa manusia yang lahir atau terwujud setelah diterima oleh masyarakat atau komunitas tertentu serta dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh kesadaran tanpa pemaksaan dan ditransmisikan pada generasi selanjutnya secara bersama.- Israel melupakan Median dan Mesir.ri negeri itu.jah, maka pergial ia, didapatinya akan dia di dekat bukit Allah, lalu

 

  1. C.      Klasifikasi Kebudayaan

Kebudayaan dilihat dari segi geografisnya dibagi menjadi 3 macam, yaitu kebudayaan primitif, agraris dan industrial. Budaya primitif dalam teks dan perbincangan antropologi yang lebih lama ialah budaya yang tidak memiliki sebarang tanda pembangunan ekonomi atau kemodenan yang utama. Misalnya, ia tidak mempunyai sebuah bahasa bertulis atau teknologi maju, dengan penduduknya terpencil pada jumlah yang terbatas. Istilah ini digunakan oleh penulis Barat untuk memerikan budaya-budaya asing yang ditemui oleh penjajah Eropa.

Banyak ahli sosiologi dan penulis lain yang awal menggambarkan budaya-budaya primitif sebagai mulia — orang gasar mulia — dan mempercayai bahawa kekurangan teknologi bersama-sama ekonomi mereka yang kurang bersepadu menjadikan mereka sebagai contoh-contoh unggul kepada gaya hidup manusia yang betul. Antara pemikir ini ialah Jean-Jacques Rousseau yang paling seringnya dikaitkan dengan gagasan orang gasar mulia berdasarkan bukunya, Discourse on Inequality (Syarahan tentang Ketaksamaan), dan Karl Polanyi yang di dalam bukunya, The Great Transformation (Perubahan Agung), memuji pengaturan ekonomi masyarakat-masyarakat primitif sebagai ideal dan kurang menjejaskan, berbanding dengan ekonomi pasaran. Kepercayaan bahawa budaya primitif adalah ideal seringnya diperihalkan sebagai primitivisme; cabang-cabang teori ini termasuk komunisme primitif dan anarko-primitivisme.

Banyak penulis tersebut menganggap bahwa orang-orang asli sezaman dan budaya mereka sebanding dengan manusia-manusia awal dan budaya mereka. Sesetengah orang kini masih membuat andaian itu, dengan ahli-ahli antropologi Zaman Victoria mempercayai bahawa budaya sezaman yang primitif mengekalkan keadaan yang tidak berubah sejak “Zaman Batu“, Zaman Paleolitik, atau Zaman Neolitik. Perkataan “primitif” berasal daripada bahasa Latin, “primus” yang membawa pengertian “pertama”.

Inovasi kebudayaan mereka adalah dalam bidang istiadat, seni, kepercayaan, tatacara dalam upacara keagamaan, dan tradisi yang biasanya tidak meninggalkan sebarang artefak kebudayaan, alat, atau senjata. Walaupun kepercayaan terhadap “orang gasar mulia” masih tidak lenyap, memerihalkan sesuatu budaya sebagai primitif kini kekadang dianggap sebagai kesat. Oleh itu, penggunaan istilah tersebut, khususnya dalam bidang akademik, telah berkurang.

Namun dalam era sekarang ini, banyak kebudayaan tradisional yang diberi warna modern supaya tidak bernuansa tradisional lagi. Pertunjukkan wayang kulit bertahan karena pola kehidupan tradisional yang kuat, meski penonton sudah memasuki cara hidup modern. Upaya pemodernan gaya pertunjukkan wayang kulit dengan instrumen musik dan bintang tamu selebritis, misalnya hanya berguna sebagai aksen saja.

Kebudayaan adalah hasil ciptaan manusia yang hidup dalam masyarakat. Dari hidup bermasyarakat itulah maka timbullah kebudayaan. Hanya saja karena manusia yang hidup bermasyarakat itu terpencar-pencar di segala penjuru dunia, maka kebudayaan yang ditimbulkan juga bermacam-macam pula. Misalnya; semua bangsa menginginkan pakaian, rumah dan makanan. Tetapi pakaian, rumah dan makanan yang diinginkannya itu bagaimana bentuknya, masing-masing bangsa berbeda-beda. Contoh; pakaian nasional bangsa Eropa berbeda dengan pakaian bangsa Arab, dan berbeda pula dengan bentuk pakaian bangsa Indonesia. Begitu pula bentuk rumah dan jenis makanan

Faktor yang mempengaruhi kebudayaan, yaitu: (1) Faktor alam (lingkungan geografis), yang dimaksud faktor alam atau lingkungan geografis adalah faktor letak tata bumi, termasuk iklim, alam fisis seperti kayu, batu dan sebagainya. Faktor alam ini umumnya mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan suatu kebudayaan. Pengaruh Islam ini tidak saja nampak pada kebudayaan kebendaan, tetapi juga pada kebudayaan kerohanian. Misalnya: Bangsa-bangsa di daerah sekitar kutub utara, berhubungan keadaan alamnya, mereka makan lemak, atau beruang es. Pakaian mereka dibuat dari kulit binatang dan tebal-tebal. Rumah-rumah dibentuk dari es. Demikian pula kepercayaan, perkawinan, kehidupan keluarga, semuanya disesuaiakn dengan alam sekelilingnya. Sedang bangsa-bangsa di daerah tropic, mereka makan daging, sayur-sayuran dan hasil bumi. Alat-alat dibuat dari batu, kayu, besi dan lain-lain. Pakaian mereka tipis. Rumah-rumah mereka dibuat dari kayu, bambu besi, batu dan lain-lain. Demikian pula kehidupan keluarga, kepercayaan, perkawinan, upacara-upacara.  (2) Faktor ras, ras ialah segolongan manusia yang mempunyai sifat-sifat tertentu dan turun temurun. Dengan kata lain; segolongan penduduk suatu daerah yang bersifat-sifatnya dari keturunan (genetic characteristics) adalah berbeda dengan penduduk lain daerah yang wujudnya berbeda.. Ras-ras yang terdapat di dunia ini satu sama lain berbeda, tidak saja sifat-sifat tubuhnya, tetapi juga jiwanya. Karena perbedaan sifat-sifat dan jiwa itulah yang menyebabkan perbedaan terbentuknya kebudayaan. Mengingat adanya berbagai ras seperti tersebut di atas dengan type-type dan ciri-ciri yang berlainan-lainan, maka sudah sewajarnya apabila inteligensinya (kecerdasannya) juga berbeda-beda. Dengan demikian hasil yang ditimbulkannya juga berbeda. Jadi perbedaan kebudayaan tidak saja dipengaruhi oleh faktor alam, tetapi faktor ras juga sangat besar pengaruhnya terhadap hasil kebudayaan manusia. (3) Faktor hubungan antara bangsa-bangsa (intteralation). Perbedaan kebudayaan suatu bangsa dari masa ke masa di sebabkan karena  kebudayaan itu hidup dan bertumbuh, dan karena itu selalu berubah. Gerak perubahan ini nampak lambat pada bangsa-bangsa sederhana  dan cepat pada bangsa-bangsa modern. Perubahan-perubahan ini disebabkan, di samping keadaan alam dan perbedaan ras, ada pula karena adanya hubungan-hubungan yang baru. Mungkin pada suatu saat ada suatu penemuan yang besar pengaruhnya bagi pertumbuhan kebudayaan, umpama; penemuan biji besi, dapat digunakan untuk  alat-alat senjata sebagai gantinya dari batu. Adakalanya mengoper dari luar, umpama senapan untuk  mengannti busur dan anak panah dan sebagainya. Dalam proses mengoper dari luar, jalannya akan cepat apabila yang dioper itu hasil kebudayaan yang bersifat benda misalnya alat-alat pemburu, mesin-mesin dan lain-lain.

Jadi pengklasifikasian kebudayaan menjadi 3 macam tersebut didasarkan atas tiga faktor yang mempengaruhi kebudayaan. Sehingga menjadikan kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat ada yang bercorak agraris, primitif, dan industrial. Agraris adalah kebudayaan orang yang berada di pedesaan dengan corak khas pertanian. Primitive adalah kebudayaan orang yang juga berada di pedesaan dengan corak khas mengaktifkan khasanah peninggalan leluhur. Sedangkan kebudayaan industrial berada pada masyarakat perkotaan yang tipikal kehidupannya bertitik tekan pada industri dan modernitas.

 

  1. D.      Kekurangan dan Kelebihan

Dari ketiga kebudayaan yang ada di atas, dapat dianalisis kelebihannya sebagai berikut:

  1. Kebudayaan tersebut mempunyai corak yang berbeda-beda dan berkembang dengan mempertahankan coraknya.
  2. Pengembangan masing-masing jenis kebudayaan harus mempertimbangkan kondisi dimana kebudayaan itu berada.

Adapun kekurangan dari masing-masing kebudayaan adalah sebagai berikut:

  1. Kebudayaan primitive adalah kebudayaan yang sulit diajak maju karena menutup diri dari modernitas, walaupun dari aspek pemeliharaan budaya, kebudayaan primitive nampak lebih teratur dan terkondisikan.
  2. Kebudayaan agraris adalah kebudayaan yang bercorakkan pertanian dan menolak hal-hal yang diluar pertanian, sehingga kalau masyarakat yang menganut kebudayaan tersebut sulit untuk menerima perindustrian dan modernitas, namun juga tidak mempunyai corak khusus pemeliharaan kebudayaan.
  3. Kebudayaan industrial adalah kebudayaan yang mengadopsi industry dan modernitas sehingga terjadi budaya konsumtif pada masyarakat yang menganut budaya tersebut. Namun kebudayaan tersebut mudah menerima perkembangan modernitas. 

 

  1. E.       Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Kebudayaan adalah totalitas pola kehidupan manusia yang lahir dari pemikiran dan pembiasaan yang mencirikan suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama. Kebudayaan merupakan hasil cipta, karya dan karsa manusia yang lahir atau terwujud setelah diterima oleh masyarakat atau komunitas tertentu serta dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh kesadaran tanpa pemaksaan dan ditransmisikan pada generasi selanjutnya secara bersama
  2. Kebudayaan dilihat dari segi geografisnya dibagi menjadi 3 macam, yaitu kebudayaan primitif, agraris dan industrial.
  3. Terdapat kelebihan dan kekurangan pada masing-masing kebudayaan yang berkembang dengan masing-masing prototipenya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: