KEWARISAN KHUNTSA MUSYKIL


KEWARISAN KHUNTSA MUSYKIL

(Sebuah  Tinjauan Hukum dalam Fiqih Mawaris)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.     Latar Belakang

Pada dasarnya hukum mawaris merupakan hukum yang paling komplit yang terdapat dalam al Qur’an, karena Allah menurunkan ayat yang menerangkan hal tersebut dengan komplit dan jelas, yang sudah terperinci, baik dari segi waris laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana firman Allah dalam al Qur’an:

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا( النساء : 7)

Artinya: Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.(Surah an Nisa’: 7)

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا(11)

وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ(12)

Artinya: Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari`at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.(an Nisa’: 11)

الَّذِينَ ءَامَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا(76)

Artinya: Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.(an Nisa’: 176).

Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut –yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa’– menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. Selain itu, juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris, kapan ia menerima bagiannya secara “tertentu”, dan kapan pula ia menerimanya secara ‘ashabah. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid, di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. Oleh sebab itu, orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris, sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu.

Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Maha Suci Allah. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia, meniadakan kezaliman di kalangan mereka, menutup ruang gerak para pelaku kezaliman, serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah.

Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama, penguat hukum, dan induk ayat-ayat Ilahi. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung, hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan, “Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini, maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. Meskipun demikian, sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya.”

Akan tetapi dibalik semua kejelasan itu, terdapat masalah-masalah baru yang selalu menjadi pembicaraan dikalangan masyarakat terutama dikalangan ulama dan cendekiawan fiqih atau akademisi yang sedang mempelajari ilmu fiqih. Misalnya saja masalah mengenai kewarisan wadam atau khuntsa atau dalam istilahnya yaitu banci. Karena pada dasarnya banci ini memiliki ciri-ciri spesifik tersendiri yang membedakan dengan orang lain atau jenis lain.

Maka dari itu, saya akan mencoba mengungkap mengenai kewarisan banci yang sering menjadi polemik dalam ilmu dan pembahasan fiqih, baik fiqih kontemporer maupun fiqih klasik, dari beberapa referensi yang kami dapatkan dan pengetahuan yang saya miliki.

B.     Definisi Khuntsa

Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti ‘lunak’ atau ‘melunak’. Misalnya, khanatsa wa takhannatsa, yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang laki-laki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. Lafadh khuntsa yang berwazan fu’la berasal dari lafadh al khantsu menurut bahasa artinya lemah atau pecah, lesu dan bentuk jama’nya adalah khanatsa, sebagaimana halnya lafadh hubla yang bentuk jama’nya adalah habala atau wanita-wanita yang mengandung.

Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ تَابَعَهُ عَمْرٌو أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ

Muhammad bin Yasar menceritakan padaku, ghundar menceritakan kepadaku, Su’bah menceritakan kepadaku, dari Qatadah dari ’Ikrimah, dari Ibn Abbas RA, dia berkata Rasulullah saw melaknat laki-laki yang menyerupakan diri sebagai perempuan dan wanita yang menyerupakan diri sebagai laki-laki, Amr mengikutinya dan Su’bah  menceritakan padaku.

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ قَالَ فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلَانًا وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلَانًا

Mu’ad bin Fadholah menceritakan padaku, Hisam menceritakan padaku, dari Yahya, dari Ikrimah, dari Ibn Abbas dia berkata: Nabi saw melaknat orang laki-laki yang menjadi banci dan wanita yang menyerupai laki-laki dan berkata aku mengeluarkan mereka dari rumahmu,Dia  berkata kemudian nabi mengeluarkan seseorang dan Amr juga mengeluarkan seseorang.

Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit), atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil, artinya tidak ada kejelasan. Sebab, setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas, bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan.Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya.

Oleh karena itu, adanya dua jenis kelamin pada seseorang atau bahkan sama sekali tidak ada disebut sebagai musykil. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan, kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi, misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang “air kecil”. Bila urinenya keluar dari penis, maka ia divonis sebagai laki-laki dan mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina, ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. Namun, bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan, maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh.

Di samping melalui cara tersebut, dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya, atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Misalnya, bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani, penj.), apakah ia tumbuh kumis, apakah tumbuh payudaranya, apakah ia haid atau hamil, dan sebagainya. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak, maka ia divonis sebagai khuntsa musykil.

C.     Macam-Macam Khuntsa

Dari pengertian di atas, khuntsa dibagi menjadi dua macam, yaitu:

Pertama : Khuntsa Ghairu Musykil

Khuntsa ghairu musykil yaitu orang yang atas taqdir Allah dianugerahi memiliki pisik yang mendua, yaitu memiliki kelamin laki-laki dan sekaligus wanita. Kelamin ini bukan buatan tetapi memang telah ada sejak lahir. Namun alat kelamin salah satunya lebih dominan dari alat kelamin jenis lainnya. Seperti lebih dominan alat kelamin laki-laki dan alat kelamin wanitanya meski ada tapi tidak terlalu berfungsi. Atau sebaliknya.

Dalam hukum Islam, kedudukan hukum khuntsa ghairu musykil ini ditempatkan sesuai dengan ciri yang paling dominan, apakah laki-laki atau wanita.
Kedua : Khuntsa Musykil

Khuntsa musykil yaitu orang yang atas taqdir Allah dianugerahi memiliki pisik yang mendua, yaitu memiliki kelamin laki-laki dan sekaligus wanita. Kelamin ini bukan buatan tetapi memang telah ada sejak lahir. Dan kedua jenis alat kelamin sama dominannya, atau tidak ada yang lebih dominan dari lainnya.

Dalam hukum Islam, khuntsa musykil ini memang menimbulkan musykilah, karena para ulama lantas berbeda pendapat dalam menentukan kedudukan hukumnya, terutama dalam masalah hak warisan.

Adapun yang dinamakan dengan khuntsa jadi-jadian, maksudnya orang yang menyerupai lawan jenisnya baik laki-laki maupun perempuan. Hal tersebut diberi istilah Takhannuts.

Tetapi literatur Islam tidak mengakui kedudukan hukum secara khusus kepada mutasyabih bin nisa` atau mutasyabbih bi-rijal. Atau wanita yang meniru gaya lelaki dan lelaki yang meniru gaya wanita. Kedua tetap didudukkan sebagai laki-laki atau wanita sebagaimana telah diterangkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari di atas.

Karena secara fisik, mereka memiliki alat kelamin yang jelas dan pasti. Pelaku homoseksual bukanlah orang yang secara fisik berkelamin dua. Tetapi merupakan kecenderungan yang bersifat psikologis, bukan pisik. Kalaupun secara pisik ada, biasanya buatan dan bukan alami.

Penyimpangan psikologis ini bila tidak sejak dini diarahkan, semakin lama akan semakin jauh. Dan pada gilirannya akan menjadi sebuah kepribadian ganda. Namun kesalahan yang sering dilakukan adalah sering mereka menganggap ini sebagai takdir. Padahal sama sekali tidak terkait dengan pisik, hanya sebuah kecendrungan yang dibiarkan dalam waktu yang lama sampai seolah tak bisa berubah lagi.

Pada intinya khuntsa dalam Islam dibagi menjadi dua macam, yaitu khuntsa ghairu musykil dan khuntsa musykil. Adapun selain itu, tidak dimasukkan dalam kategori khuntsa. Karena yang ’selain itu’ hanya merupakan jadi-jadian atau tiruan yang sebenarnya laki-laki atau perempuan. Adapun yang menyerupai itu hanyalah dalam sifatnya saja karena kelainan psikologi pada diri seorang tersebut. Adapun hukumnya adalah dilarang oleh Islam.

D.     Perbedaan Ulama dalam Kewarisan Khuntsa

Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi’i serta pendapat mayoritas sahabat. Mazhab Maliki berpendapat, pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. Maksudnya, mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan, kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua, maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. Mazhab Syafi’i berpendapat, bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masing-masing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi’i.

Sedangkan abu Tsur berpendapat sama dengan Syafi’I demikian juga  Daud ad Dhahiri dan Sufyan Tsauri.

Jika kita melihat hadist yang berhubungan dengan hal tersebut, maka dapat kita ambil kesimpulan pendapat yang paling rajih, antara lain:

أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى أَنَّهُ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ يُحَدِّثُ عَنْ عَلِيٍّ فِي الرَّجُلِ يَكُونُ لَهُ مَا لِلرَّجُلِ وَمَا لِلْمَرْأَةِ مِنْ أَيِّهِمَا يُوَرَّثُ فَقَالَ مِنْ أَيِّهِمَا بَالَ

Artinya: Ubaidillahbin Musa  menceritakan kepadaku dari Israil dari dari Abdil A’la, sesungguhnya dia mendengar dari Muhammad bin Ali yang menceritakan dari Ali tentang seorang laki-laki yang pada laki-laki tersebut tidak ada sifat laki-laki dan perempuan dari mana keduanya dapat mewaris, Ali menjawab: dari mana tempat keduanya kencing.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ شِبَاكٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَلِيٍّ فِي الْخُنْثَى قَالَ يُوَرَّثُ مِنْ قِبَلِ مَبَالِهِ

Artinya: Abu Bakar bin Abi Saibah menceritakan kepadaku, Husaim menceritakan kepadaku dari Mughirah, dari Shibak, dari Sha’bi, dari Ali dalam masalah khuntsa, Ali berkata: dia mewaris dari tempat dimana ia kencing.

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا أَبُو هَانِئٍ قَالَ سُئِلَ عَامِرٌ عَنْ مَوْلُودٍ وُلِدَ وَلَيْسَ بِذَكَرٍ وَلَا أُنْثَى لَيْسَ لَهُ مَا لِلذَّكَرِ وَلَيْسَ لَهُ مَا لِلْأُنْثَى يُخْرِجُ مِنْ سُرَّتِهِ كَهَيْئَةِ الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ سُئِلَ عَنْ مِيرَاثِهِ فَقَالَ نِصْفُ حَظِّ الذَّكَرِ وَنِصْفُ حَظِّ الْأُنْثَى.

Artinya: Abu Nu’aim menceritakan kepadaku, Abu Hani’ meceritakan kepadaku, ketika Amir ditanya tentang masalah anak yang dilahirkan tanpa kelamin laki-laki dan perempuan dan dia mengeluarkan seperti kencing dan kotoran dari pusarnya tentang warisnya, maka dia menjawab bagiannya setengah dari bagian laki-laki dan setengah dari bagian perempuan.

E.     Hukum Waris Khuntsa dan Cara Pembagiannya

Untuk banci –menurut pendapat yang paling rajih– hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya –keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas, atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris, atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya.

Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu’amalah bil adhar– yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit, maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita; dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit, maka divonis sebagai laki-laki. Bahkan, bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya, maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris.

Bahkan dalam mazhab Imam Syafi’i, bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita), maka gugurlah hak warisnya.

Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci:

1.   Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki, seorang anak perempuan, dan seorang anak banci. Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki, maka pokok masalahnya dari lima (5), sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). Kemudian kita menyatukan (al-jami’ah) antara dua masalah, seperti dalam masalah al-munasakhat. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8), sedangkan bagian anak perempuan empat (4), dan bagian anak banci lima (5). Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti.

2.   Seseorang wafat meninggalkan seorang suami, ibu, dan saudara laki-laki banci. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita, kemudian di-‘aul-kan menjadi delapan (8). Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki, maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di-‘aul-kan. Dan al-jami’ah (penyatuan) dari keduanya, menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24).

Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian, ibu enam (6) bagian, saudara laki-laki banci tiga (3) bagian, dan sisanya kita bekukan. Inilah tabelnya:

6

8

6

24

Suami 1/2

3

Suami 1/2

3

9

Ibu 1/3

2

Ibu 1/3

2

6

Banci

3

Banci kandung

1

4

 

Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara, dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas.

3.   Seseorang wafat dan meninggalkan suami, saudara kandung perempuan, dan saudara laki-laki seayah banci. Maka pembagiannya seperti berikut:

Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki, maka pokok masalahnya dua (2), sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7), dan penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14).

Bagian suami enam (6), saudara kandung perempuan enam (6) bagian, sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. Adapun sisanya, yakni dua (2) bagian dibekukan. Ini tabelnya:

2

6

7

14

Suami 1/2

1

Suami 1/2

3

6

Sdr. kdg. pr. 1/2

1

Sdr. kdg. pr. 1/2

3

6

Banci lk.

Sdr. pr. seayah 1/6

1

 

Hal ini mengindikasikan bahwa kewarisan khuntsa musykil ini dapat menjadi dua kemungkinan yaitu sebagai laki-laki dan sebagai perempuan. Maka menuju kejelasan tentang apakah mereka tersebut laki-laki atau perempuan. Setelah terjadi kejelasan, maka siham atau kewarisan mereka ditentukan dengan jelas dan terarah. Jika belum terjadi kejelasan, maka harta setelah diambil furudul muqaddarah terkecil adalah mu’allaq.

F.      Cara Menghitung Kadar Bagian Khuntsa Musykil

Para ulama telah sepakat dalam menghitung kadar bagian khuntsa musykil yaitu dengan memperkirakan dan menghitungnya sebagai orang laki-laki dan kemudian sebagai orang perempuan. Akan tetapi kemudian mereka berselisih pendapat dalam menerimakan bagian pusaka khuntsa musykil setelah diketahui hasil dari kedua perkiraan tersebut. Menurut penyelidikan para ulama hasil dari dua perkiraan tersebut berdasarkan dari lima keadaan sebagai berikut:

  1. Baik dikira-kirakan laki-laki maupun perempuan si khuntsa musykil menerima bagian yang sama besarnya. Misalnya: cucu khuntsa musykil pancar laki-laki, yang bersama-sama mewarisi dengan kedua orang tua dan anak perempuan. Asal masalahnya adalah 6, bapak menerima 1/6 Í 6 = 1, saham; ibu menerima 1/6 Í 6 = 1 saham; anak perempuan menerima 1/2  Í 6= 3 saham, dan cucu khuntsa kalau dikira-kirakan laki-laki mendapat sisa yaitu: 1 saham dan kalau dikira-kirakan perempuan menerima 1/6 Í 6 = 1  saham. 1/6 ini adalah sebagai pelengkap 2/3.
  2. perkiraan laki-laki lebih banyak daripada penerimaan perempuan dalam menerima waris. Misalnya: cucu khuntsa musykil pancar laki-laki yang mewarisi bersama-sama dengan anak perempuan. Asal masalah jika dikira-kirakan laki-laki ialah 2, jadi masing-masing menerima 1 saham, sedang jika dikira-kirakan permpuan asal masalahnya adalah 6; anak perempuan menerima ½ Í 6= 3 saham dan cucu khuntsa musykil menerima 1/6 (penyempurna 2/3) Í 6= 1 saham. Jadi jika dikira-kirakan laki-laki lebih banyak penerimaannya dari pada kalau dikira-kirakan perempuan, yakni 1 saham dari asal masalah 2, dibanding dengan 1 saham dari asal masalah 6 atau ½ :1/6 atau 3: 1.
  3. Penerimaan atas perkiraan perempuan lebih banyak daripada penerimaan atas perkiraan laki-laki. Misalnya: anaknya ayah yang khuntsa bersama mewarisi dengan suami, dan ibu. Asal masalahnya 6. Suami menerima 1/2 x 6 = 3 saham; Ibu menerima 1/3 x 6 = 2 saham; dan anaknya ayah jika dikira-kirakan lagi menerima 1 saham sebagai ashabah, dan kalau dikira-kirakan perempuan ia menerima 3 saham dari AM setelah di ’aulkan menjadi 8. jadi kalau dikira-kirakan perempuan ia lebih banyak penerimaannya dari pada dikira-kirakan laki-laki, yakni 3 saham dari AM, 8 : 1 saham dari AM 6 atau 3/8 : 1/6 atau 9 : 4.
  4. Hanya dapat menerima warisan kalau dikira-kirakan laki-laki saja. Sedangkan jika dikira-kirakan perempuan tidak dapat menerima warisan. Misalnya kalau ahli warisnya hanya anak khuntsa saudara saja. Kalau dikira-kirakan laki-laki saja, sebagai ibnu akh, ia menerima ashabah, sedang kalau dikira-kirakan perempuan ia tidak dapat menerima warisan karena termasuk dzawil arham.
  5. Hanya dapat menerima warisan kalau dikira-kirakan perempuan saja, jika dikira-kirakan laki-laki tidak dapat menerima warisan. Misalnya anak khuntsa ayah yang bersama-sama mewarisi dengan suami, ibu dan kedua anak-anak ibu. AM dalam perkiraan laki-laki adalah 6. Suami menerima ½ x 6 = 3 saham, ibu menerima 1/6 x 6 = 1 saham; kedua anak-anak ibu menerima 1/3 x 6 = 2 saham dan si khuntsa tidak menerima apa-apa karena telah dihabiskan oleh ahli waris ashabul furudh, bahkan kalau ia dikira-kirakan perempuan ia menerima 3 saham dari AM setelah di’aulkan jadi 9. Dengan demikian ia dapat mewarisi kalau hanya dikira-kirakan perempuan saja, sedangkan kalau dikira-kirakan laki-laki tidak dapat mewarisi, yaitu tidak mendapat apa-apa.

G.     Cara Memberikan Bagian (Pusaka) Pada Khuntsa Musykil dan Para Ahli Waris Lainnya

Para ulama ahli faraidh berbeda-beda pendapatnya mengenai cara-cara untuk memberikan harta pusaka kepada khuntsa musykil setelah diketahui dua macam penerimaan berdasarkan perkiraan laki-laki dan perempuan dan bagian para ahli waris lainnya. Pendapat-pendapat tersebut pada garis besarnya ada tiga macam, yaitu sebagai berikut:

1.   Memberikan bagian terkecil dan terjelek dari dua perkiraan bagian laki-laki dan perempuan kepada khuntsa musykil dan memberikan bagian terbaik dari dua perkiraan kepada ahli waris yang lain.

Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah, Imam Muhammad dan Imam Abu Yusuf dalam salah satu pendapatnya, dengan perincian sebagai berikut:

  1. Jika ia sebagai ahli waris yang termahjub oleh ahli waris yang terdekat, ia tidak diberi bagian sedikit pun. Walaupun menurut perkiraan yang seminimal-minimalnya.
  2. Jika menurut suatu kondisi ia sebagai ahli waris yang berhak mendapat warisan, tetapi menurut kondisi yang lain ia tidak dapat mewarisi, atau tidak memperoleh harta sedikitpun.
  3. Kalau tidak seperti keadaan di atas maka diberi bagian harta warisan yang terkecil ataupun yang terjelek keadaannya.

Pembagian semacam ini didasarkan pada suatu ketentuan bahwa untuk memiliki harta benda tidak dibenarkan selama tidak ada sebab-sebab yang meyakinkan. Ketentuan seperti tersebut di atas ialah bagi khuntsa musykil. Akan tetapi kalau si khuntsa itu masih dapat diharapkan menjadi jelas statusnya, maka di dalam waktu menunggu status khuntsa apakah laki atau perempuan setelah ia masuk usia dewasa.

2    Memberikan bagian atas perkiraan yang terkecil dan meyakinkan pada si khuntsa dan para ahli waris, kemudian sisanya yang masih diragukan ditahan dulu sampai persoalan si khuntsa menjadi jelas dan sampai ada perdamaian bersama antar para ahli waris untuk saling hibah-menghibahkan  sisa yang diragukan itu.

Pendapat ini dikemukakan oleh ulama-ulama Syafi’iyah, Imam Abu Dawud, Imam Abu Tsaur dan Imam Ibnu Jarir. Lebih lanjut para ulama Syafi’iyah memerinci pendapat mereka sebagai berikut:

  1. Jika penerimaan si khuntsa tersebut berpasang surut atau berlebih kurang, sekiranya ia diperkira-kirakan laki-laki dan perempuan.
  2. Jika si khuntsa tersebut hanya dapat mewarisi menurut salah satu perkiraan saja, sedang menurut perkiraan yang lain ia tidak mendapat warisan. Maka bagi si khuntsa dan ahli waris dalam dua keadaan tersebut diberi bagian yang telah meyakinkan, yakni bagian yang terkecil atau yang tidak dapat menerima bagian sama sekali. Dan sisanya ditahan dahulu dan akan diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya apabila persoalan yang terjadi pada si khuntsa menjadi jelas. Ketika persoalan tersebut tidak menjadi jelas, maka para ahli waris perlu mengadakan perundingan damai untuk saling menghibahkan terhadap jumlah sisa yang dipermasalahkan tersebut. Karena ketika mereka tidak mengadakan perundingan damai niscaya sisa yang dipermasalahkan tersebut tidak dapat dimiliki mereka, karena tidak ada jalan yang menyesatkan, dan pembagian semacam ini tidak ada gunanya.
  3. Jika si khuntsa menerima bagian yang sama banyak antara dua perkiraan laki-laki dan perempuan, maka hal ini tidak menimbulkan kesulitan. Masing-masing menerima bagian menurut ketentuan mereka dan tidak ada sisa yang ditahan dan diragukan.

3.   Memberikan separo dari dua perkiraan laki-laki dan perempuan kepada si khuntsa musykil (juga kepada ahli waris lainnya).

Pendapat ini dikemukakan oleh ulama-ulama Malikiyah, ulama Hanabilah dalam salah satu pendapatnya pada waktu si khuntsa tidak dapat diharapkan menjadi jelas persoalannya, ulama Syi’ah Zaidiyah dan Syi’ah Imamiyah. Perincian dari pendapat Imam Malikiyah adalah sebagai berikut:

  1. Jika penerimaan si khuntsa berpasang surut atau berlebih kurang sekiranya ia diperkirakan laki-laki dan perempuan, maka ia diberi bagian setengah bagian perkiraan laki-laki dan setengah bagian perkiraan perempuan.
  2. Jika si khuntsa tersebut hanya mewarisi menurut salah satu perkiraan saja, sedang menurut perkiraan yang lain ia tidak dapat menerima warisan. Ia diberi bagian setengah dari salah satu perkiraan yang ia dapat mewarisi.
  3. Jika si khuntsa menerima bagian yang sama besarnya antara dua perkiraan laki-laki dan perempuan, maka tidak menimbulkan kesulitan. Ia dapat mengambil bagian menurut salah satu perkiraan tersebut.

H.     Kesimpulan

1.   Khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit), atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil, artinya tidak ada kejelasan. Sebab, setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas, bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya.

2.   Pada intinya khuntsa dalam Islam dibagi menjadi dua macam, yaitu khuntsa ghairu musykil dan khuntsa musykil. Adapun selain itu, tidak dimasukkan dalam kategori khuntsa. Karena yang ’selain itu’ hanya merupakan jadi-jadian atau tiruan yang sebenarnya laki-laki atau perempuan. Adapun yang menyerupai itu hanyalah dalam sifatnya saja karena kelainan psikologi pada diri seorang tersebut. Adapun hukumnya adalah dilarang oleh Islam.

3.   Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi’i serta pendapat mayoritas sahabat. Mazhab Maliki berpendapat, pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. Mazhab Syafi’i berpendapat, bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masing-masing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi’i.

4.   –     Untuk banci ’menurut pendapat yang paling rajih’ hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya, keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas, atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris, atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya.

–     Kewarisan khuntsa musykil ini dapat menjadi dua kemungkinan yaitu sebagai laki-laki dan sebagai perempuan. Maka menuju kejelasan tentang apakah mereka tersebut laki-laki atau perempuan. Setelah terjadi kejelasan, maka siham atau kewarisan mereka ditentukan dengan jelas dan terarah. Jika belum terjadi kejelasan, maka harta setelah diambil furudul muqaddarah terkecil adalah mu’allaq.

5.   Para ulama telah sepakat dalam menghitung kadar bagian khuntsa musykil yaitu dengan memperkirakan dan menghitungnya sebagai orang laki-laki dan kemudian sebagai orang perempuan. Akan tetapi kemudian mereka berselisih pendapat dalam menerimakan bagian pusaka khuntsa musykil setelah diketahui hasil dari kedua perkiraan tersebut. Menurut penyelidikan para ulama hasil dari dua perkiraan tersebut berdasarkan dari lima keadaan.

6.   Para ulama ahli faraidh berbeda-beda pendapatnya mengenai cara-cara untuk memberikan harta pusaka kepada khuntsa musykil setelah diketahui dua macam penerimaan berdasarkan perkiraan laki-laki dan perempuan dan bagian para ahli waris lainnya. Pendapat-pendapat tersebut pada garis besarnya ada tiga macam, yaitu:

a.   Memberikan bagian terkecil dan terjelek dari dua perkiraan bagian laki-laki dan perempuan kepada khuntsa musykil dan memberikan bagian terbaik dari dua perkiraan kepada ahli waris yang lain. (Imam Abu Hanifah, Imam Muhammad dan Imam Abu Yusuf dalam salah satu pendapatnya).

b.   Memberikan bagian atas perkiraan yang terkecil dan meyakinkan pada si khuntsa dan para ahli waris, kemudian sisanya yang masih diragukan ditahan dulu sampai persoalan si khuntsa menjadi jelas dan sampai ada perdamaian bersama antar para ahli waris untuk saling hibah-menghibahkan  sisa yang diragukan itu. (ulama-ulama Syafi’iyah, Imam Abu Dawud, Imam Abu Tsaur dan Imam Ibnu Jarir).

c.   Memberikan separo dari dua perkiraan laki-laki dan perempuan kepada si khuntsa musykil (juga kepada ahli waris lainnya). (ulama-ulama Malikiyah, ulama Hanabilah dalam salah satu pendapatnya pada waktu si khuntsa tidak dapat diharapkan menjadi jelas persoalannya, ulama Syi’ah Zaidiyah dan Syi’ah Imamiyah).

I.       Saran

Kita semua menyadari, dalam era modern sekarang ini, berkenaan dengan hukum yang diatur dalam Islam banyak terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Hal tersebut dikarenakan munculnya permasalahan-permasalahan baru yang belum diterangkan di dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Maka dari itu membutuhkan fatwa-fatwa baru untuk memecahkan permasalahan tersebut.

Dengan terselesaikannya makalah ini semoga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada semua pihak, khususnya pada yang berkaitan (khuntsa).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: