KHAWARIJ DAN MURJI’AH


KHAWARIJ DAN MURJI’AH

(Pengetahuan Benteng Aqidah dari Khawarij dan Murji’ah)

Oleh: Ustadz Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.     Latar Belakang

Kaum muslimin sejak zaman khalifah Ali bin Abi Thalib telah mengalami perpecahan. Sebenarnya benih perpecahan itu muncul ketika khalifah Utsman bin Affan. Nampaknya perpecahan atau firqah atau sekte tersebut pada mulanya diawali dengan masalah dalam bidang politik.  Perpecahan yang menimbulkan perbedaan tersebut biasanya dilatarbelakangi oleh perbedaan pengetahuan yang dimiliki dan juga kecondongan untuk melakukan perbuatan tertentu. Seperti ungkapan A. Hanafi, “kalau berlainan cakrawala tahu (apa yang dicapai), maka berlainan pula pendapat dan kepercayaannya”. Jadi pada dasarnya firqah dalam ilmu kalam itu terbentuk karena hal itu.

Di samping itu, juga karena Nabi dalam haditsnya telah menetapkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi berbagai sekte yang berbeda-beda. Hadits Nabi yang mengatakan hal itu ialah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتْ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً

Artinya: Dari Abu Hurairah, Ia berkata: Rasulullah saw bersabda: umat Yahudi telah pecah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, umat Nasrani telah telah pecah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan  dan umatku akan pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.

Nampaknya hadits Nabi tersebut menjadi realita ketika terjadi perang shiffin. Pada saat itu muncul golongan yang keluar dari golongan Ali karena Ali telah menerima tahkim, yang pada akhirnya disebut khawarij. Golongan ini cukup berpengaruh, karena pada akhirnya dapat membunuh Ali yang sedang menjabat sebagai khalifah. Berbeda dengan khawarij yang selalu memusuhi Ali maupun Muawiyah, golongan Murji’ah menyerahkan masalah tersebut kepada Tuhan. Ia tidak ikut dalam pertikaian politik tersebut. Ia lebih condong kepada pengembangan aliran teologinya.  Karena terdapat perbedaan tersebut, maka penulis akan membahasnya secara terperinci dalam pembahasan berikut ini, supaya para pembaca lebih jelas memahami mana aliran yang benar.

 

B.     Pengertian Khawarij

Kata khawarij merupakan jama’ dari kharij, yaitu isim yang musytaq dari lafadz khuruj. Secara bahasa, kata ini berarti keluar, muncul, timbul atau memberontak. Jadi secara bahasa dapat disimpulkan bahwa Khawarij adalah setiap orang yang ingin keluar dari kesatuan umat Islam.

Sedangkan menurut istilah terdapat berbagai pandangan ulama mengenai hal itu. Menurut al-Syahrastani, Khawarij adalah sebutan terhadap orang yang memberontak kepada imam yang sah. Sedangkan menurut sebagian ulama ilmu kalam, Khawarij adalah suatu sekte/kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim), dalam perang Shiffin pada tahun 37 H/648 M, dengan kelompok bughat (pemberontak) Muawiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan khilafah.

Jadi sekte Khawarij adalah sekte yang terbentuk karena ketidaksetujuan terhadap keputusan Ali, karena Ali telah bersedia dan menerima tahkim, maka akhirnya sekte tersebut keluar dari kelompok Ali tersebut. Nama khawarij bukanlah berasal dari kelompok ini. Mereka sendiri lebih suka menamakan diri dengan Syurah atau para penjual, yaitu orang-orang yang menjual (mengorbankan) jiwa raga mereka demi keridhaan Allah. Secara historis Khawarij adalah Firqah bathil yang pertama muncul dalam Islam sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al‑Fatawa,“Bid’ah yang pertama muncul dalam Islam adalah bid’ah Khawarij.” Jadi dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa Khawarij adalah bid’ah pertama yang terjadi dalam Islam, karena pemahaman yang sepihak mengenai al-Qur’an.

C.     Latar Belakang Kemunculan Khawarij

Sebelum membahas mengenai sejarah kemunculan Khawarij, maka terlebih dahulu akan penulis ulas mengenai benih-benih Khawarij mulai masa Nabi Muhammad. Sebenarnya awal mula kemunculan pemikiran khawarij, bermula pada saat masa Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membagi-bagikan harta rampasan perang di desa Ji’ronah -pasca perang Hunain- beliau memberikan seratus ekor unta kepada Aqra’ bin Habis dan Uyainah bin Harits. Beliau juga memberikan kepada beberapa orang dari tokoh quraisy dan pemuka-pemuka arab lebih banyak dari yang diberikan kepada yang lainnya. Melihat hal ini, seseorang (yang disebut Dzul Khuwaisirah) dengan mata melotot dan urat lehernya menggelembung berkata: “Demi Allah ini adalah pembagian yang tidak adil dan tidak mengharapkan wajah Allah”. Atau dalam riwayat lain dia mengatakan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Berbuat adillah, karena sesungguhnya engkau belum berbuat adil!”. Sungguh, kalimat tersebut bagaikan petir di siang bolong. Pada masa generasi terbaik dan di hadapan manusia terbaik pula, ada seorang yang berani berbuat lancang dan menuduh bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak berbuat adil. Mendengar ucapan ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan wajah yang memerah bersabda: “Siapakah yang akan berbuat adil jika Allah dan rasul-Nya tidak berbuat adil? Semoga Allah merahmati Musa. Dia disakiti lebih dari pada ini, namun dia bersabar.”  Saat itu Umar bin Khathab meminta izin untuk membunuhnya, namun Rasulullah melarangnya. Beliau menghabarkan akan munculnya dari turunan orang ini, yang berupa kaum reaksioner (khawarij). Maka dari itu, sebenarnya Rasulullah telah mensinyalir akan munculnya generasi semisal Dzul Khuwaisirah -sang munafiq-. Yaitu suatu kaum yang tidak pernah puas dengan penguasa manapun, menentang penguasanya walaupun sebaik Rasulullah .

Dikatakan oleh Rasulullah bahwa mereka akan keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Yaitu masuk dari satu sisi dan keluar dari sisi yang lain dengan tidak terlihat bekas-bekas darah maupun kotorannya, padahal ia telah melewati darah dan kotoran hewan buruan tersebut.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bagus bacaan al-Qur’annya, namun ia tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca.“Sesungguhnya sepeninggalku akan ada dari kaumku, orang yang membaca al-Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka akan keluar dari Islam ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Kemudian mereka tidak akan kembali padanya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk.” Dari riwayat ini, kita mendapatkan ciri-ciri dari kaum khawarij, yakni mereka dapat membaca al-Qur’an dengan baik dan indah; tapi tidak memahaminya dengan benar. Atau dapat memahaminya tapi tidak sampai ke dalam hatinya. Mereka berjalan hanya dengan menuruti hawa nafsu dan emosinya.

Ciri khas mereka lainnya adalah: “Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan orang-orang kafir” sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut: Sesungguhnya akan keluar dari keturunan orang ini satu kaum; yang membaca al-Qur’an, namun tidak melewati kerongkongannya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka akan keluar dari Islam ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Jika sekiranya aku menemui mereka, pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum ‘Aad.”

Sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap seorang yang shalih dan keluarganya yaitu Abdullah –anak dari shahabat Khabbab bin Art. Mereka membantainya, merobek perut istrinya dan mengeluarkan janinnya. Setelah itu dalam keadaan pedang masih berlumuran darah, mereka mendatangi kebun kurma milik seorang Yahudi. Pemilik kebun ketakutan seraya berkata: “Ambillah seluruhnya apa yang kalian mau!” Pimpinan khawarij itu menjawab dengan arif: “Kami tidak akan mengambilnya kecuali dengan membayar harganya”. Maka kelompok ini sungguh sangat membahayakan kaum muslimin, terlepas dari niat mereka dan kesungguhan mereka dalam beribadah. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin dengan kebodohan. Untuk itu mereka tidak segan-segan melakukan teror, pembunuhan, pembantaian dan sejenisnya terhadap kaum muslimin sendiri.

Ciri berikutnya adalah: kebanyakan di antara mereka berusia muda, dan bodoh pemikirannya karena kurangnya kedewasaan mereka. Mereka hanya mengandalkan semangat dan emosinya, tanpa dilandasi oleh ilmu dan pertimbangan yang matang. Maka dalam hadits juga diterangkan halal untuk dibunuh, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat berikut ini “Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda umurnya, bodoh pemikirannya. Mereka berbicara seperti perkataan manusia yang paling baik. Keimanan mereka tidak melewati kerongkongannya, mereka keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Di mana saja kalian temui mereka, bunuhlah mereka. Sesungguhnya membunuh mereka akan mendapatkan pahala pada hari kiamat.

Sedangkan kronologis kemunculan sekte Khawarij ini resminya setelah terjadi perang shiffin. Sebagaimana dimaklumi pada zaman pemerintahan Khalifah Ali telah terjadi pertentangan politik antara golongan yang mendukung Ali dengan golongan yang mendukung Mu’awiyah dalam masalah jabatan khalifah. Pertempuran pun terjadi di Shiffin, Mu’awiyah menggunakan argumentasi al-Qur’an surah al-Isra’/17:33 tentang tuntutan atas pembunuhan Utsman. Perang berkecamuk di Shiffin dan kemenangan membayangi Ali, semangat Mu’awiyah pun melemah. Di tengah-tengah itu, keluarga terdekat Mu’awiyah mempunyai cara yaitu dengan cara menyarankan agar Mu’awiyah memerintahkan pasukan perang agar memperlihatkan ke atas mushaf-mushaf al-Qur’an yang ditusuk dengan tombak sambil berseru mengajak penduduk Irak kembali kepada al-Qur’an dan isinya.

‘Amr bin al-Ash telah memperkirakan dengan Mu’awiyah menjalankan petunjuknya tentu penduduk Irak (pasukan Ali) akan berselisih pendapat dan sebaliknya menambah kesatuan penduduk Suria(Pasukan Mu’awiyah). Namun sesungguhnya Ali terpaksa menerima tahkim, meskipun pengikut-pengikutnya menolak pertempuran yang menumpahkan darah demi persatuan. Termasuk golongan cikal bakal Khawarij tersebut mendukung diadakannya tahkim. Akhirnya proses tahkim tersebut diadakan dengan Amr bin Ash sebagai wakil dari pihak Mu’awiyah dan Abu Musa al-‘Asy’ari sebagai wakil Ali.

Namun setelah adanya tahkim, dan ternyata hasilnya menguntungkan Mu’awiyah dan merugikan pihak Ali, maka mereka berbalik menyalahkan Ali dan meminta Ali untuk bertanggung jawab. Kaum Khawarij mulai memberontak dan meninggalkan Ali dengan alasan bahwa Ali menerima tahkim, padahal kebanyakan kaum Khawarij tadi memaksakan Ali supaya menerima tahkim. Mereka bukan tidak mengakui bahwa mereka tadi mendesak Ali supaya menerima tahkim. Tetapi mereka masih menyalahkan Ali, kata mereka: “Kami telah salah, tetapi mengapa engkau ikut perkataan Kami, padahal engkau tahu bahwa Kami salah. Sebagai seorang khalifah, harus mempunyai pandangan yang jauh, melebihi pandangan Kami dan pendapat yang lebih tepat dari pendapat Kami.” Kemudian mereka mengumandangkan bahwa “tidak ada hukum selain hukum Allah” dan “barang siapa yang berhukum kepada selain Allah, maka ia termasuk orang-orang kafir”. Maka dari itu mereka juga dinamakan Muhakkimah, karena seringnya kelompok ini mendasarkan diri pada kalimat “la hukma illa lillah” (tidak ada hukum selain hukum Allah), atau “la hakama illa Allah” (tidak ada hakim selain Allah). Dalam hal ini “Tuhan ialah hakim dan pendamai tunggal” yang kemudian menjadi slogan kaum Khawarij.

Selanjutnya mereka juga menyebut dirinya dengan sebutan Syurah, yang berasal dari kata Yasri’ (menjual). Maksudnya, mereka adalah orang yang bersedia mengorbankan diri untuk Allah. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an sebagai berikut: “Ada manusia yang menjual dirinya untuk memperoleh keridhaan Allah”. Nama lain yang diberikan kepada mereka adalah Haruriah, dari kata Harura, satu desa yang terletak di dekat kota Kufah, di Irak. Di tempat inilah, mereka yang pada waktu itu berjumlah 12 ribu orang, berkumpul setelah memisahkan diri dari Ali. Di tempat tersebut mereka memilih ‘Abdullah Ibn Wahb al-Rasidi menjadi imam atau kepala, sebagai ganti dari Ali bin Abi Thalib. Kemudian mereka digempur oleh Ali sehingga mereka menjadi kucar-kacir.

Sungguhpun telah mengalami kekalahan, kaum Khawarij menyusun barisan kembali dan meneruskan perlawanan terhadap kekuasaan Islam resmi, baik di zaman Dinasti Bani Umayah maupun di zaman dinasti Bani Abbas. Pemegang-pemegang kekuasaan yang ada pada waktu itu mereka anggap telah menyeleweng dari Islam dan oleh karena itu mesti ditentang dan dijatuhkan.

Watak dasar kelompok ini, yaitu keras kepala dan dikenal kelompok paling keras memegang teguh prinsipnya. Inilah yang sebenarnya menjadi penyabab utama lahirnya kelompok ini. Khawarij adalah kelompok yang didalamnya dibentuk oleh mayoritas orang-orang Arab pedalaman (a’râbu al-bâdiyah). Mereka cenderung primitive, tradisional dan kebanyakan dari golongan ekonomi rendah, namun keadaan ekonomi yang dibawah standar tidak mendorong mereka untuk meningkatkan pendapatan. Ada sifat lain yang sangat kontradiksi dengan sifat sebelumnya, yaitu kesederhanaan dan keikhlasan dalam memperjuangkan prinsip dasar kelompoknya.

D.     Doktrin-Doktrin Pokok Khawarij

Kaum Khawarij pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Baduwi. Hidup di padang pasir yang serba tandus membuat mereka bersifat sederhana dalam cara hidup dan pemikiran, tetapi keras hati serta berani, dan bersikap merdeka, tidak bergantung pada orang lain. Perubahan agama tidak membawa perubahan pada sikap-sikap kebaduwian mereka. Mereka tetap bersikap bengis, suka kekerasan dan tak gentar mati. Ajaran Islam mereka pahami apa adanya dan apa yang ada dalam al-Qur’an dan hadits mereka pahami sesuai dengan lafadhnya.

Khawarij memiliki pemikiran dan sikap yag ekstrem, keras, radikal dan cederung kejam. Misalnya mereka menilai ‘Ali ibn Abi Thalib salah karena menyetujui dan kesalahan itu membuat ‘Ali menjadi kafir. Mereka memaksa ‘Ali mengakui kesalahan dan kekufurannya untuk kemudian bertaubat. Begitu ‘Ali menolak pandangan mereka walaupun dengan mengemukakan argumentasi, mereka menyatakkan keluar dari pasukan ‘Ali dan kemudian melakukan pemberontakan dan kekejaman-kekejaman. Yang menjadi sasaran pengkafiran tidak hanya ‘Ali bi Abi Thalib sendiri, tapi juga Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, ‘Amru ibn ‘Ash, Abu Musa al-Asy’ari dan lain-lain yang mendukung mereka. Dalam perkembangan selanjutnya mereka perdebatkan apakah ‘Ali hanya kafir atau musyrik.

Untuk mendukung pandangan mereka baik dalam aspek politik maupun teologi, mereka menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Misalnya; kelompok al-Azariqah, tidak hanya menyatakan Ali kafir, tapi juga mengatakan ayat; Wa min an-nâsi man yu’jibuka qauluhu fi al-hayâh ad-dunya wa yusyhidullah ‘ala mâ fi qalbihi wa huwa aladdu al-khshâm diturunkan Allah mengenai Ali, sedangkan tentang ‘Abdurrahman ibn Muljam yang membunuh ‘Ali Allah menurunkan ayat wa minannâsi man yasyri nafsahu ibtighâa mardhâtillah. Ayat tersebut mereka gunakan untuk melegitimasi pembunuhan Ali oleh Abdurrahman ibn Muljam. Mereka gampang sekali menggunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk menguatkan pendapat-pendapat mereka. Karena sebagaimana dikatakan di atas, bahwa mereka hanya memahami al-Qur’an secara tekstual saja, dan meninggalkan kontekstual.

Dalam hal doktrin, Khawarij dapat dikatakan terlalu radikal, anarchis, yang memusuhi semua pihak dan tidak mau diatur. Adapun doktrin-doktrin Khawarij adalah berikut ini:

  1. Khalifah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam.
  2. Khalifah tidak harus berasal dari keturunan Arab. Dengan demikian, setiap orang muslim berhak menjadi khalifah apabila sudah memenuhi syarat.
  3. Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syariat Islam. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan kedzaliman.
  4. Khalifah sebelum Ali (Abu Bakar, Umar dan Utsman) adalah sah, tetapi setelah tahun ketujuh dari masa kekhalifahannya, Utsman dianggap telah menyeleweng.
  5. Khalifah Ali sebenarnya sah, tetapi setelah tahkim dianggap telah menyeleweng.
  6. Muawiyah, Amr bin al-‘Ash serta Abu Musa al-Asy’ari juga dianggap menyeleweng dan telah menjadi kafir.
  7. Pasukan perang Jamal yang melawan Ali juga kafir.
  8. Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh. Yang sangat anarkis lagi, mereka menganggap bahwa seorang muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir dengan resiko ia menanggung beban harus dilenyapkan pula.
  9. Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung, ia wajib diperangi karena hidup dalam negara musuh, sedang golongan mereka sendiri dianggap berada dalam negara Islam.
  10. Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng.
  11. Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga, sedangkan orang yang jahat harus masuk neraka).
  12. Amar ma’ruf nahi munkar
  13. Memalingkan ayat-ayat al-Qur’an yang tampak mutasyabihat.
  14. Qur’an adalah makhluk
  15. Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan.

Apabila dianalisis secara mendalam, maka garis besar doktrin yang dikeluarkan oleh Khawarij dapat dikategorikan dalam tiga kategori, yaitu: politik, teologi, dan sosial. Dari item 1 sampai 6 merupakan doktrin dalam bidang politik, karena membicarakan seputar khilafah. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa Khawarij adalah partai politik atau sekte politik yang mengembangkan sayapnya dalam bidang teologi.

Sementara itu, doktrin 7 sampai 11 merupakan doktrin dalam bidang teologi. Hal itu dilakukan untuk memperkokoh jati diri Khawarij sebagai aliran dalam bidang ilmu kalam. Sedangkan item 12 sampai 15 merupakan doktrin dalam bidang teologi sosial. Doktrin ini walaupun sedikit radikal, namun juga menunjukkan kesalehan kaum Khawarij. Walaupun doktrin ini dinilai oleh sebagian pengamat hampir mirip dengan doktrin Mu’tazilah.

E.     Perkembangan Aliran Khawarij

Aliran atau sekte Khawarij tergolong suatu aliran yang bersifat radikal. Aliran ini sebenarnya mempunyai dua premise, pertama adalah barang siapa yang menyelisihi al-Qur’an dengan amalan atau pendapatnya yang salah, maka ia kafir. Kedua adalah bahwa Utsman dan Ali juga para pembelanya juga demikian. Radikalitas yang mereka kembangkan tersebut menyebabkan mereka sangat rentan mengalami perpecahan, baik secara internal maupun eksternal.

Al-Bagdadi, sebagaimana dikutip Rozak dan Anwar, mengatakan bahwa sekte ini terpecah menjadi 18 subsekte. Sedangkan al-Asfarayani, mengatakan bahwa sekte ini terpecah menjadi 22 subsekte. Sementara itu, al-‘Asy’ari menyebut sub-sekte Khawarij lebih banyak lagi daripada itu. Terlepas dari pendapat para ulama tersebut, akan penulis jelaskan beberapa sub-sekte aliran Khawarij, yaitu:

  1. Al-Nadjat
  2. Al-Ajaridah
  3. Al-Ibadhiyah
  4. Al-Suffriyah
  5. Al-Azariqah

Al-Najdat, atau Najdiyah, kelompok ini merupakan pengikut Najdah bin Amir al-Hanafi. Doktrinnya yang terkenal ada 2, yaitu: mengenal Allah dan para rasul-Nya, mengharamkan darah  dan harta orang-orang muslim, bahkan diharamkan merampas dan melanggar perintah atau larangan Allah, karena semua itu adalah kewajiban umat muslim. Kalau seseorang itu tidak tahu, maka dia bisa diampuni, sampai nanti ditemukan alasan yang menghalalkannya.

Al-Ajaridah adalah pengikut Abdul Karim ibn Ajrad. Kaum dari Abdul Karim ibn Ajrad ini bersifat lebih lunak karena berhijrah bukanlah merupakan kewajuban sebagai diajarkan oleh Nafi’ dan Najdah, tetapi hanyalah kebajikan, sehingga kaum ‘Ajaridah boleh tinggal di luar daerah kekuasaan mereka dengan tidak dianggap menjadi kafir. Mengenai harta yang boleh dijadikan rampasan perang hanyalah harta orang yang telah mati terbunuh. Selanjutnya anak kecil tidak bersalah, tidak musyrik menurut orang tuanya. Salah satu ajaran Ajaridah adalah seorang anak yang sudah dewasa wajib diserukan untuk memasuki Islam, sedang yang belum dewasa tidak wajib diserukan untuk memasukinya. Golongan ‘Ajaridah ini juga terpecah, diantara mereka yaitu seperti al-Maimuniah dan al-Hamziah yang menganut faham qadariah. Bagi mereka semua perbuatan manusia, baik dan buruk timbul dari kemauan dan kekuasaan manusia sendiri. Adapun golongan sepereti al-Syuabiah dan al-Hazimiah menganut faham sebaliknya, bagi mereka Tuhanlah yang menimbulkan perbuatan-perbuatan manusia. Manusia tidak dapat menentang kehendak Allah

Al-Ibadhiyah, adalah pengikut Abdullah ibn Ibadh. Salah satu ajaran subsekte ini adalah ketaatan itu mencakup aspek keimanan dan keagamaan, sehingga orang yang memperbuat dosa besar pun berada dalam kategori yang tersendiri (muwahhid) dan bukan termasuk orang mukmin. Beberapa ulama masih meragukan apakah sekte ini merupakan pecahan sekte Khawarij atau bukan. Golongan ini terbagi atas Hafshiyah, Yazidiyah dan Haritsiyah.

Adapun faham-fahamnya yang dianggap moderat itu, antara lain:

1)   Orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin dan bukan pula musyrik, tetapi kafir dan membunuh mereka yang tidak sefaham dihukumkan haram.

2)   Muslim yang melakukan dosa besar masih dihukumkan ‘muwahid’, meng-esa-kan Tuhan, tetapi bukan mukmin. Dan yang dikatakan kafir, bukanlah kafir agama, tetapi kafir akan nikmat. Oleh karenanya, orang Islam yang melakukan dosa besar tidak berarti sudah keluar dari Islam.

3)   Harta kekayaan hasil rampasan perang yang boleh diambil hanyalah kuda dan senjata. Sedangkan harta kekayaan lainnya, seperti emas dan perak, harus dikembalikan kepada pemiliknya.

4)   Daerah orang Islam yang tidak sefaham dengan mereka, masih merupakan “daerah yang masih meng-Esa-kan Tuhan”, dan tidak boleh diperangi.

Al-Suffriyah atau Al-Saffriyah, adalah pengikut Ziyad al-Ashfar. Mereka beranggapan bahwa barang siapa yang menentang golongan mereka itu (Khawarij) terhitung orang musyrik, sementara yang memusuhinya mestilah dihukum sebagaimana hukuman bagi orang musyrik yang memusuhi Rasulullah.saw. Mereka membagi dosa besar dalam dua golongan, dosa yang sangsinya di dunia seperti membunuh dan berzina (bukan kafir), dan dosa yang tak ada sangsinya di dunia, seperti meninggalkan sembahyang dan puasa (kafir).

Nama ini diambil dari Nafi’ Ibn Al-Azraq. Pengikutnya berjumlah lebih dari 20 ribu orang. Khalifah pertama yang mereka pilih ialah Nafi’ sendiri dengan gelar Amir al-Mu’minin. Sekte ini sikapnya lebih radikal dari al-Muhakkimah. Mereka tidak lagi memakai term kafir, tetapi term musyrik yang merupakan dosa besar, bahkan lebih besar dari kufr. Adapun yang dipandang musyrik adalah semua orang Islam yang tak sepaham dengan mereka. Bahkan orang islam yang sepaham dengan al-Azariqah tetapi tidak mau berhijrah ke dalam lingkungan mereka juga dipandang musyrik. Mereka beranggapan hanya daerah mereka yang merupakan Islam, sedang di luar itu adalah kafir yang wajib diperangi, baik anak-anak sampai orang dewasa.

Sebenarnya masih banyak pecahan sub-sekte Khawarij dengan berbagai ciri khas ajarannya masing-masing yang tidak sempat penulis bahas dalam makalah ini. Namun pada intinya doktrin yang dikemukakan oleh semua sub-sekte tidak akan menyimpang dari garis besar atau doktrin pokok sekte Khawarij itu sendiri.

F.      Pengertian Murji’ah

Nama Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan dan pengharapan. Jadi kaum Murji’ah adalah kaum yang menangguhkan. Kata arja’a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu, arja’a berarti pula meletakkan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Selanjutnya, arja’a juga berarti memberi pengharapan. Hal ini dikarenakan golongan tersebut berpendapat bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar bukanlah kafir tetapi tetap mukmin dan tidak akan kekal di dalam neraka, memang memberikan pengharapan bagi yang berbuat dosa untuk mendapat rahmat Allah. swt. Bisa juga irja’ tersebut berma’na ta’khir atau mengakhirkan. Hal tersebut berarti segala keputusan mengenai apakah beriman atau tidak berada di akhir yaitu setelah hari Kiamat.

Secara istilah kaum Murji’ah adalah kaum yang menangguhkan keputusan tentang perselisihan yang terjadi di kalangan umat Islam sampai di hadapan Tuhan nanti. Jadi, aliran atau sekte Murji’ah adalah sekelompok atau segolongan orang yang menunda keputusan mengenai masalah-masalah perselisihan seperti khilafah dan lain sebagainya, sampai di hadapan Tuhan, ketika manusia menghadap Tuhan nanti. Dalam Tarikh al-Baghdad, diterangkan bahwa golongan ini bukan termasuk golongan dalam Islam.

G.     Latar Belakang Kemunculan Murji’ah

Golongan Murji’ah adalah golongan yang lahir pada permulaan abad ke 1 Hijriyah. Golongan ini terdiri dari sekumpulan umat Islam yang menjauhkan diri dari pertikaian yang terjadi di antara para sahabat Nabi Muhammad.saw. Mereka tidak mau menyalahkan orang lain. Terdapat beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul kemunculan Murji’ah. Pertama, teori ini menyatakan bahwa gagasan irja dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat Islam ketika terjadi pertikaian politik dan juga untuk menghindari sekterianisme.

Kedua, gagasan irja, yang merupakan basis doktrin Murji’ah, muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan bin Muhammad al-Hanafiyah, sekitar tahun 695. Ketiga, golongan ini bertolak belakang dengan khawarij. Karena golongan ini sangat tidak setuju dengan pendapat kaum Khawarij, yang menghukumi kafir orang-orang yang melakukan dan menyetujui tahkim. Jadi golongan ini menyerahkan sepenuhnya atau menangguhkan hukum orang yang melakukan dan menyetujui tahkim kepada Allah, ketika semua manusia berada di hadapan Allah. Dan menurut penulis, pendapat yang ketiga ini yang paling benar.

Menurut Harun Nasution, kelompok ini disebut dengan Murji’ah, dikarenakan dua hal:

  1. Karena mereka mengakhirkan (tidak memasukkan) amalan ke dalam definisi keimanan.
  2. Karena keyakinan mereka bahwa Allah SWT mengakhirkan (membebaskan) adzab atas (pelaku) kemaksiatan.

H.     Doktrin-Doktrin Pokok Murji’ah

Ajaran pokok murji’ah pada dasarnya  bersumber dari gagasan atau doktrin irja yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik politik maupun teologis. Dalam bidang politik misalnya, doktrin tersebut diaplikasikan dengan sikap politik yang netral yang diekspresikan dengan sikap diam. Sedangkan dalam bidang teologis, doktrin tersebut dikembangkan untuk menanggapi masalah-masalah dalam bidang tersebut, misalnya masalah iman, kufur dan lain sebagainya.

Adapun asas-asas mazhab Murji’ah adalah mereka berpendapat bahwa kelompok-kelompok yang berselisih itu masih beriman, sekalipun sebagian mereka itu ada yang benar dan sebahagian mereka ada yang salah. Karena mereka tidak mampu untuk menentukan yang mana benar dan yang mana bersalah, maka dikembalikan hukum itu kepada Allah swt. Golongan yang berselisih ini dikategorikan masih beriman karena mereka masih mengucap dua kalimah Syahadah. Kemudian asas ini berkembang pada masa berikutnya:

  1. Iman itu ialah dengan pembenaran (tasdiq) dan makrifah (mengenal Allah). Amal pula tidak memberi kesan kepada iman secara mutlak. Mereka mengatakan bahawa keimanan yang disertai dengan kemaksiatan tidak memberi mudarat, sebagaimana tidak memberi manfaat kekufuran yang disertai dengan ketaatan.
  2. Kemudian sebagian mereka ada yang bersikap ekstrim. Mereka menganggap bahawa keimanan itu hanyalah dengan hati, sekalipun seseorang itu mengumumkan kekufurannya dengan lisan, menyembah berhala atau melazimi orang-orang Yahudi dan Nasrani; dan dia mati dalam keadaan begitu, maka tetap dianggap sebagai orang yang beriman.

Terdapat kefasikan dan kejahatan di dalam pandangan-pandangan mazhab ini yang membuka pintu ke arah segala kerusakan. Mereka menjadikannya sebagai perantara dosa-dosa mereka

Berkaitan dengan doktrin Murji’ah, Watt, sebagaimana yang dikutip oleh Rozak dan Anwar, merincinya sebagai berikut:

  1. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya di akhirat kelak.
  2. Penangguhan Ali untuk menduduki rangking keempat dalam peringkat Al-Khalifah al-Rasyidun.
  3. Pemberian harapan terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.
  4. Doktrin-doktrin Murji’ah menyerupai pengajaran para skeptis dan empiris dari kalangan Helenis.

Sedangkan Harun Nasution menyebutkan empat ajaran pokok Murji’ah, antara lain:

  1. Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash dan Abu Musa, yang terlibat tahkim dan menyerahkan kepada Allah di hari kiamat kelak.
  2. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.
  3. Meletakkan pentingnya iman daripada amal.
  4. Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.

Jadi pada dasarnya doktrin yang dikembangkan sifatnya adalah penangguhan dan pemberian harapan kepada muslim juga bersifat diam jika terdapat permasalahan yang sedang terjadi. Demikian juga penafsirannya atas ayat-ayat al-Qur’an dan hadits. Hampir semua ayat yang menunjukkan ampunan terhadap dosa dan harapan masuk surga mereka tafsiri dan digunakan sebagai tandensi.

 

I.       Perkembangan Aliran Murji’ah

Selanjutnya aliran Murji’ah juga mengalami perkembangan, yaitu dengan terbagi menjadi sub-sekte yang kecil-kecil. Hal itu dikarenakan perbedaan pendapat yang bersifat internal tentang permasalahan-permasalahan yang muncul. Menurut Harun Nasution, aliran Murji’ah ini dibagi menjadi 2 golongan, yaitu golongan moderat dan golongan ekstrim.

Golongan moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, tetapi akan dihukum dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukannya dan ada kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya dan oleh karena itu tidak akan masuk neraka sama sekali. Dalam golongan Murji’ah moderat ini termasuk al-Hasan Ibn Muhammad ibn Ali, Abu Yusuf dan beberapa ahli hadits. Jadi menurut golongan ini orang yang berdosa besar masih tetap mukmin dan masih ada kemungkinan untuk mendapatkan ampunan dari Allah yang akhirnya bisa masuk surga. Dalam hubungan ini Abu Hanifah memberikan definisi iman sebagai berikut: iman adalah pengetahuan dan pengakuan adanya Tuhan, Rasul-rasul-Nya dan tentang segala yang datang dari Tuhan dalam keseluruhan tidak dalam perincian; iman tidak mempunyai sifat bertambah dan berkurang, tidak ada perbedaan manusia dalam hal iman.

Golongan ekstrim, yang dimaksud adalah al-Jahmiah, pengikut Jahm Ibn Safwan. Menurut golongan ini orang Islam yang percaya pada Tuhan dan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan tidaklah menjadi kafir, karena iman dan kufr tempatnya hanya dalam hati, bukan dalam bagian lain dari tubuh manusia. Jadi  menurut golongan ini, iman bukan dalam hati dan diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan, akan tetapi cukup dalam hati seperti halnya niat.

Termasuk golongan ekstrim yaitu, Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Al-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui Tuhan, sedangkan kufur adalah tidak tahu Tuhan. Shalat bukanlah ibadah. Ibadah adalah iman kepadaNya dalam arti mengetahui Tuhan. Yunusiyah dan Ubaidiyah berpendapat bahwa maksiat tidaklah merusak iman seseorang. Hasaniyah berpendapat bahwa orang yang mengetahui perintah dan larangan Tuhan dan tidak menepatinya, maka ia tetap iman.

Sementara itu, Abu al-Hasan al-Asy’ari mengklasifikasi su-sekte aliran Murjiah, ketika membicarakan mengenai iman, yaitu:

  1. Jahamiyah aliran ini adalah pengikut Jahm bin Safwan
  2. Para pengikut Abu Hasan al-Shalihi.
  3. Pengikut Yunus al-Samiri. Mereka berpendapat, bahwa iman itu adalah pengenalan terhadap Allah, patuh atasNya, tidak bersikap sombong kepada-Nya dan mencintai-Nya.
  4. Syamriyyah, mereka beranggapan bahwa iman itu adalah pengenalan terhadap Allah, patuh atasNya, mencintai-Nya sepenuh hati dan menyatakan ikrar bahwa Dia itu Esa tanpa sesuatupun yang menyerupainya.
  5. Tsaubaniyah, para pengikut Abu Tsauban. Mereka beranggapan bahwa iman itu menyatakan ikrar kepada Allah, rasul-Nya, terhadap apapun yang wajib secara akal untuk diperbuat dan terhadap apapun yang boleh secara akal untuk tidak diperbuat.
  6. Najariyah, pengikut Husein ibn Muhammad al-Najar. Mereka beranggapan bahwa iman itu pengenalan kepada Allah, rasul-Nya, segenap kewajiban dari-Nya, patuh atas semua yang diwajibkan-Nya dan menyatakan ikrar secara lisan.
  7. Ghailaniyah, pengikut Ghailan. Mereka beranggapan bahwa iman itu pengenalan terhadap Allah berdasarkan akal dan dalil-dalilnya, mencintai-Nya, mematuhi-Nya dan menyatakan ikrar kepada rasul-Nya dan atas segenap yang didatangkan Allah.
  8. Para pengikut Muhammad ibn Syabib. Mereka beranggapan bahwa iman itu menyatakan ikrar kepada Allah, mengenal bahwa Dia adalah Esa tanpa sesuatupun yang menyerupai-Nya, menyatakan ikrar dan mengenal para Nabi ataupun rasul-Nya.
  9. Hanafiyah, para pengikut Abu Hanifah. Mereka beranggapan bahwa iman itu mengenal dan menyatakan ikrar kepada Allah, rasul-Nya dan apapun yang didatangkan Allah secara total dan bukan secara bagian per-bagian.
  10. Tumaniyah, para pengikut Abu al-Mu’adz al-Tumani. Mereka beranggapan bahwa iman itu merupakan hal yang menghindarkan seseorang dari kekufuran, yang penamaan tersebut diberikan untuk beberapa hal. Orang yang melakukan dosa besar dan kecil tidak dikatakan bagi pelakunya muslim atau fasiq, namun dikatakan kepadanya fasaqa atau ‘asha. Orang yang sujud kepada matahari, bulan atau berhala tidak kufur dalam dirinya, namun itu semua adalah tanda-tanda kekufuran. Iman adalah membenarkan dalam hati dan mengucapkan dalam lisan secara bersama-sama.
  11. Marisiyyah, para pengikut Bisr al-Marisi. Mereka beranggapan bahwa iman itu pembenaran. Jadi tanpa pembenaran maka tidak ada iman dalam diri seseorang tersebut.
  12. Karamiyyah, para pengikut Muhammad ibn Karam. Mereka beranggapan bahwa iman itu menyatakan ikrar dan pembenaran secara lisan, bukan sepenuh hati, sehingga mereka pun mengingkari kalau pengenalan dengan hati atau pembenaran yang bukan dengan lisan itu disebut sebagai iman.

Sedangkan dalam hal dosa besar atau kecil, anggapan para pengikut Murji’ah ini terbagi menjadi dua:

  1. Kelompok pertama beranggapan: setiap perbuatan maksiat itu merupakan dosa besar.
  2. Kelompok kedua beranggapan: perbuatan maksiat itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu perbuatan maksiat yang termasuk dosa besar dan perbuatan maksiat yang termasuk dosa kecil.

Masih banyak pemikiran-pemikiran Murji’ah yang terbagi dalam beberapa sub-sekte, ketika membicarakan masalah mengenai teologi dan politik.

 

J.      Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Kata khawarij merupakan jama’ dari kharij, yaitu isim yang musytaq dari lafadz khuruj. Secara bahasa, kata ini berarti keluar, muncul, timbul atau memberontak. Secara istilah Khawarij adalah sekte yang terbentuk karena ketidaksetujuan terhadap keputusan Ali, karena Ali telah bersedia dan menerima tahkim, maka akhirnya sekte tersebut keluar dari kelompok Ali tersebut.
  2. Aliran Khawarij ini muncul karena ketidaksetujuan dan sebagai wujud protes kepada Ali yang telah menerima tahkim, yang pada akhirnya aliran ini keluar dari kelompok Ali.
  3. Aliran Khawarij mempunyai doktrin-doktrin pokok yang sifatnya terlalu radikal, anarchis, yang memusuhi semua pihak dan tidak mau diatur.
  4. Pada akhirnya aliran ini mengalami perkembangan, yaitu terpecah menjadi sub-sekte yang kecil-kecil, karena perbedaan pandangan terhadap suatu masalah.
  5. Nama Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan dan pengharapan. Sedangkan menurut istilah, sekte Murji’ah adalah sekelompok atau segolongan orang yang menunda keputusan mengenai masalah-masalah perselisihan seperti khilafah dan lain sebagainya, sampai di hadapan Tuhan, ketika manusia menghadap Tuhan nanti.
  6. Latar belakang kemunculan aliran Murji’ah adalah ketidaksetujuan dengan pendapat kaum Khawarij, yang menghukumi kafir orang-orang yang melakukan dan menyetujui tahkim.
  7. Ajaran pokok murji’ah pada dasarnya  bersumber dari gagasan atau doktrin irja yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik politik maupun teologis.
  8. Aliran Murji’ah mengalami perkembangan, yaitu dengan terbagi menjadi sub-sekte yang kecil-kecil. Hal itu dikarenakan perbedaan pendapat yang bersifat internal tentang permasalahan-permasalahan yang muncul.

H.     Saran-Saran

Berpijak dari kesimpulan di atas, maka dapat penulis kemukakan sarannya sebagai berikut:

  1. Hendaklah kalangan akademisi tidak saling menyalahkan terhadap suatu aliran tertentu, dengan klaim bahwa hanya aliran yang dianutnya yang benar. Maka dari itu, disarankan untuk bersifat inklusif.
  2. Hendaklah antar sesama umat Islam, saling toleransi dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Jangan memperkeruh permasalahan dan membina permusuhan.

Referensi

Abbas, Siradjuddin, I’tiqad Ahlusunnah wal Jama’ah, Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 2002.

Abadi, Fairuz, al-Qamus al-Muhith, dalam Mauqi’u Umm al-Kitab.

Al-Bagdadi, Al-Khatib, Tarikh Bagdad, juz 1, Mauqi’u al-Waraq: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Awaji, Ghalib ibn Ali, Firaq Mu’ashirah Tuntasabu Ila al-Islam Juz 1, ‘Udwu bi Jami’ al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Assa’idi, Sa’dullah, Hadits-Hadits Sekte, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Al-Asy’ari, Abu al-Hasan Ali bin Isma’il, Prinsip-Prinsip Dasar Aliran Teologi Islam,terj. Nasir Yusuf dan Karsidi Diningrat,Bandung: Pustaka Setia, 1998.

Al-Bukhari, Muhammad, Shahih al-Bukhari, juz 21, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Al-Daury, Tarikh Ibn Mu’in, juz 2, Mauqi’u Ya’sub: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Dawud, Abu, Sunan Abu Dawud, juz 12, Mauqi’u al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Goldziher, Ignaz, Mazhab Tafsir Dari Aliran Klasik Hingga Modern, Yogyakarta: eLSAQ Press, 2006.

Hanafi, A, Pengantar Theology Islam, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1992.

Hazm, Ibn, al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Nihal, juz 2, Mauqi’u al-Waraq: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Masduqi, Achmad, Konsep Dasar Pengertian Ahlus Sunnah wal Jamaah, Surabaya: al-Miftah, tt.

Muslim, Shahih Muslim, juz 5, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Nasution, Harun, Teologi Islam: Aliran-Aliran, Sejarah dan Perbandingan, Jakarta: UI Press, 1986.

Nata, Abuddin, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995.

Rahman, Fazlur, Islam, ter. Senoaji Saleh, Jakarta: Bumi Aksara, 1992.

Rozak, Abdul, Anwar, Rosihon, Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2006.

Al-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, Mauqi’u al-Waraq: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Syalabi, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan Islam I, terj. Mukhtar Yahya dan M.Sanusi Latief, Jakarta: PT al-Husna Zikra, 2000.

Taimiyah, Ibn, Majmu’ al-Fatawa, juz 1, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Taimiyah, Ibn, Membedah Firqoh-Firqoh Sesat: Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Murji’ah, Qadariyah, Shufiyyah, terj. Hawin Murtadlo, dkk , Solo: al-Qowam, 2006.

Al-Thabari, Ibn Jarir, Tafsir al-Thabari, juz 18, Mauqi’u al-Tafasir: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Al-Thabari, Ibn Jarir, Tarikh al-Thabari, juz 3, Mauqi’u Ya’sub: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Al-Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi, juz 1, Mauqi’u al-Waraq: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Zaini, Syahminan, Kuliah Aqidah Islam, Surabaya: Al-Ikhlas, 1983.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: