RABI’AH AL-ADAWIYAH DAN DZUNNUN AL-MISHRI


RABI’AH AL-ADAWIYAH DAN DZUNNUN AL-MISHRI

(SEBUAH KAJIAN HUB ILAHI DAN MA’RIFAT)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

Pendahuluan

Islam telah memuat tiga dimensi dasar yang harus dimiliki setiap muslim, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Para ulama yang berjasa mempertahankan kesucian Islam juga dapat digolongkan dalam tiga kelompok besar. Yang pertama bertugas memelihara dan mempertahankan kedudukan dasar-dasar iman. Kelompok kedua bertugas menjaga kedudukan Islam dan pokok-pokok ajaranya. Sedangkan yang ketiga yaitu kelompok penjaga kedudukan Ihsan.

Ciri utama para sufi adalah usahanya yang gigih untuk mencapai puncak makrifat, hingga kepada pertemuanya dengan Allah. Untuk tujuan itu timbullah berbagai macam usaha merintis jalan untuk mencapainya. Pada mulanya Zahid Hasan Bashri menempuh zuhud dengan jalan khauf. Kemudian oleh Rabi’ah al-Adawiyah Khauf ditinggalkan.

Wacanaa mahabbatullah dalam dunia tasawuf dipopulerkan oleh seorng perempuan suci yang menjadi kekasih Allah (waliyullah) dan melegenda sepanjang zaman pada cinta illahi yang banyak mewarnai para sufi dizaman-zaman selanjutnya. Tampilnya rabi’ah dalam sejarah tasawuf islam, memberikan citra tersendiri, dalam menyetarakan gender pada datarn spiritual islam. Bahkan dengan kemampuannya dalam menempuh perjungan “melawan diri sendiri” dn selanjutnya tengglam dalam “Telaga Cinta Ilahi”.

Mahabbah senantiasa di dampingi oleh ma’rifah. Mahbbah dan ma’rifah merupakan kembar dua yang selalu disebut bersama. Keduana menggambarkan huungan rapat antar sufi dan Tuhan, adalah Dzu al-Nun al-Mishri yang mengembangkan konsep ma’rifah dalam dunia tasawuf.

Rabiah al-Adawiyah
Riwayat Hidup

Nama lengkap Rabi’ah adalah Rabi’ah bin Ismail Al-Adawiyah Al-Bashriyah Al-Qaisiyah. Ia diperkirakan lahir pada tahun 95 H/713 M atau 99 H/717 M disuatu perkampungan dekat kota Basrah (Irak). Sedangkan Harun Nasution menyebutkan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah lahir pada tahun 714 M. Rabiah dilahirkan dalam keluarga yang miskin dan keluarganya hidup dengan penuh taqwa dan iman kepada Allah, tak henti-hentinya melakukan dzikir dan ibadah melaksanakan ajaran-ajaran Islam.

Rabi’ah dilahirkan dalam keluarga yang miskin. Ayahnya bernama ismail. Dan konon keluarga ismail hidup dengan penuh taqwa dan iman kepada allh, tak henti- hehentinya melakukan zikir dan ibdah melaksanakan ajaran-ajaran islam. Kondisi hidup dalam kemiskianan menyebabkan Ismail dan istrinya selalu berdoa memohon agar dikaruniai anak laki-laki, yang diharapkan dapat membantu mengurai penderitaan yang dialami. Namun derita kemiskinan semakin terasa karena sampai lahir tiga anak semuanya perempuan. Karenanya islmail benar-benar meningkatkn ibdahnya dan memohon agar janin yang dikandung istrinya, yng ke empat adalah laki-laki.

Allah menghendaki lain, putra keempat Ismail pun lahir perempuan dan diberi nama Rabi’ah. Ismail menamakan Rabi’ah, arena ia adalah anak yang ke empat. Istri dan ketiga anaknya tidak setuju engan nam tersebut yang dianggap aneh dan jelek.

Rabiah tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang terbiasa dengan kehidupan orang soleh dan zuhud sejak kecil sudah nampak kecerdasan Rabi’ah sesuatu yang biasanya tak terlihat dalam gadis yang seusianya. Karena itu pula sejak kecil ia sudah menyadari penderitaan yang dihadapi oleh orang tuanya. Dan hal itu tidak mengurangi ketaqwaan dan pengabdian keluarga Rabi’ah terhadap Allah.

Kedua orang tua Rabi’ah meninggal ketika rabiah masih kecil. Ketika kota Basrah dilanda musibah kekeringgan dan kelaparan, musibah itu mengakibatkan merajalelanya berbagai bentuk kejahatan dan perbudakan dan Rabiah pun dijadikan budak dijual kepada keluarga Atik dari suku Qais Banu Adwah. Pada keluarga ini Ia bekerja keras, namun kemudia dibebaskan karena tuannya melihat cahaya yang memancar diatas kepala Rabi’ah dan menerangi seluruh ruangan saat ia sedang beribadah.

Setelah dimerdekakan tuanya, Rabi’ah hidup menyendiri menjalani kehidupan sebagai zahidah dan sufiyah. Ia menjalani sisa hidupnya hanya dengan ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sebagai kekasihnya. Ia memperbanyak taubat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan oleh orang lain kepadanya. Bahkan dalam doanya, ia tidak meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan.
Menurut Badawi Rabi’ah sebelum bertaubat pernah menjalani kehidupan duniawi. Untuk memenuhi kehidupanya, Rabiah tidak mendapatkan jalan lain kecuali menjadi penyanyi dan penari sehingga begitu terbenam dalam kehidupan duniawi. Menurut Badawi, tidak mungkin iman dan kecintaan Rabiah kepada Allah begitu ektrimnya, kecuali ia pernah sedemikian jauh menjalaki dan mencintai kehidupan duniawi. Tentang kisah Rabiah sebagai penyanyi dan pemain musik tersebut masih diragukan kebenaranya karma tidak didukung fakta-fakta sejarah. Pada umumnya sumber-sumber yang ada dan dianggap lebih kuat, bahwa setelah Rabiah merdeka segera pergi kepadang pasir menempuh hidup zuhud sebagai petapa.
Selama hidupnya Rabi’ah tidak pernah menjalani perkawinan, perkawinan baginya adalah rintangan. Ia pernah memanjatkn do’a: “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari segla penghalang yang merenggangkan hubunganku denganMu”. Sebenarnay banyak dikalangan sufi yang mencoba melmr rabi’ah, namun semua ditolaknya.
Pada masa menjelang akhir hayatnya, banyak sekali orang-orang alim duduk mengelilinya. Rabi’ah meminta kepada mereka, ‘Bangkit dan keuarlah; berikan jalan kepda pesuruh-pesuruh Allah Yang Maha Agung!’Maka semua orang bangkit dan keluar, dan pada saat mereka menutup pintu, mereka mendengar suara Rabi’ah mengucap kalimat syahadat dan mereka mendengar sebuah suara, ‘wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu, berpua-puaslah dengan-Nya. Maka masuklah bersama golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku.’(QS.89:27-30). Rabiah wafat pada tahun 185 H. (801 M) sedangkan tempat wafat dan pemakamanya tidak diketahui secara pasti. Ada yang menyebutkan ia dikuburkan diyerusalim diatas sebuah bukit. Sumber lain menyebutkan bahwa Rabiah wafat diBasrah, daerah Syam (Syiria).

Mahabbah Rabiah al- Adawiyah

Dasar ajaran cinta ilahi dari al Qur’an dan Hadits:

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS.Al baqarah 2:165)

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.(QS. Ali Imran,3:31-32).

Ajaran cinta kepada allah juga disampaikan melalui sabda nabi SAW., antar lain sebagai berikut:

“Tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang mak ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu; allah dan rsulNya lebih ia cintai daripada yang lain, mencintai seseorang hanya Karen allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran sebagimana ia tidak suka dilemparkan kedalam api neraka” (HR Bukhari)

“Cintailah Allah, karena Ia mencurahkan nikmat-nikmat-Nya kepadamu, dan cintailah aku karenamencintai Allah, dan cintailah keluarga rumahku krena aku” (At Tirmidzi)

Al Qusyairi menyebutkan berbagi pendapat tentang cinta (hub/mahabbah) antara lain sebagai berikut:

Cinta (hubb) adalah nama bagi jenis cinta yang paling murni dan rasa sayang.
Hubbab adalah gelembung-gelembung yang terbentuk di atas air ketika hujan besar, jadi cinta (hamabbah) menggelembungnya hati ketika ia haus dan berputus asa untuk bertemu dengan kekasihnya.
Habab al ma’ permukaan air yang paling tinggi. Cinta dinamakan mahabbah karena ia adalah kepedulian yang paling tinggi dari hati.
Cinta disebut cinta karena orang mengatakan ababba untuk menggambarkan seekor unta yang berlutut dan menolak untuk bangkit lagi. Maka demikian pula sang pecinta (muhibb) tidak akan menggerakkan hatinya menjauh dari mengingat kekasihnya (mahbub).
Cinta terambil dari kata habb (biji-bijian, mufradnya habbah), dan habbat al-qalb apa yang menopangnya. Dengan demikian, cinta dinamakan hubb karena ia tersimpan dalam habbat al-qalb. Dikatakan kata habb dan hubb hanyalah variasi pembacaan (arti yang sama).
Cinta berasal dari kata hibbah yang berarti biji-biian dari padang belantara. Cinta dinamai hubb karena ia adalah benih kehidupan.
Hubb adalah keempat sisi dimana wadah air ditempatkan. Cinta dinamakan hubb karena ia memikul beban kejayaan maupun kehinaan yang muncul dalam upaya mencari sang kkasih.
Cinta berasal dari kata hibb (kendi air) karena ia berisi air, dan mankla ia penuh, tidak ada lagi tempat untuk yang lain. Manakala hati telah penuh dengan cinta, tak ada lagi tempat didalmnya untuk apapun. Selain dari kekasih.

Mahabbah artinya cinta. Hal itu mengandung maksud cinta kepada Allah. Lebih luas lagi bahwa mahabbah memuat pengertian yaitu :

Memeluk dan mematuhi perintah tuhan dan membenci sikap yang melawan pada tuhan.
Berserah diri kepada Tuhan
Mengosongkan perasaan dihati dari segala-galanya kecuali dari Zat yang dikasihi.

Rabiah al-Adawiyah, dalam perkembangan mistisisme dalam Islam tercatat sebagai peletak dasar tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah. Hal ini karena generasi sebelumnya merintis aliran asketisme dalam Islam berdasarkan rasa takut dan pengharapan kepada Allah. Rabiah pula yang pertama-tama mengajukan pengertian rasa tulus iklas dengan cinta yang tidak berdasarkan permintaan ganti dari allah. Sikap dan pandangan Rabiah tentang cinta dapat dipahami dari kata-katanya, baik yang langsung atau pun yang disandarkan kepadanya.

Tingkat kehidupan zuhud yang tadinya direncanakan Hasan Bashri, yaitu takut(khauf) dan pengharapan (raja’), telah dinaikan Rabiah kepada Zuhud karena cinta. Cinta yang suci murni ini lebih tinggi dari pada takut dan pengharapan. Cinta yang suci murni tidaklah mengharapkan apa-apa. Al-Qusyairi meriwayatkan bahwa ketika bermunajat rabiah menyatakan doanya “Tuhanku, akankah kau bakar kalbu yang mencintai-Mu oleh api neraka?” tiba-tiba terdengar suara “Kami tidak akan melakukan itu. Janganlah kau berburuk sangka pada kami”

Cinta bagi rabi’ah sukar didefinisikan, karena cinta berisi perasaan kerinduan kepada yang dicinta. Meski demikian, Rabi’ah telah membuat rumusan analisis melalui sya’ir cinta Rabiah yang paling mashur , sebagai berikut:

“Aku cinta pada-Mu dua macam cinta. Cinta rindu.

Dan cinta, karena engkau berhak menerima cintaku

Adapun cinta, karena engkau,

Hanya engkau yang aku kenang tiada yang lain.

Adapun cinta, karena engkau berhak menerimanya.

Agar engkau bukakan bagiku hijab, supaya aku dapat melihat engkau

Pujian atas dua perkara itu bukanlah bagiku

Pujian atas kedua perkara itu adalah bagi-mu sendiri”.

Al-Ghazali memberikan pendapatnya atas sya’ir itu demikian : barangkali yang Beliau maksud dengan cinta kerinduan, ialah cinta akan Allah, karena ihsan dan nikmatnya diatas dirinya. Karena Allah telah menganugerahinya hidup, sehingga dia dapat menyebut nama-Nya, yang semakin hari semakin terbuka baginya. Maka itulah cinta yang setinggi-tingginya. Dan cinta yang timbul kepada Tuhan karena merenungi keindahanya. Itulah yang pernah disabdakan Rosulullah SAW dalam suatu hadis Qudsi “Aku sediakan bagi hambaku yang saleh barang yang belum pernah mata melihat, telinga belum pernah mendengar dan belum pernah tercatir dihati seoarang manusia pun”.

Cinta Rabiah kepada Allah begitu mendalam dan memenuhi seluruh ruang hatinya sehingga membuatnya hadir bersama Tuhan. Hal ini sesuai terungkap dalam sya’irnya :

“Kujadikan Kau teman berbincang dalam kalbu.

Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku

Dengan temanku tubuhku bercengkrama selalu.

Dalam kalbu terpancang selalu kekasih cintaku.

Dalam sya’ir-sya’ir yang termashur itu nyatalah kemana tujuan zuhud Rabi’ah, yaitu kepada tuhan karena tuhan, bukan kepada tuhan karena mengharap. Baginya soal surga atau soal neraka, adalah soal nomor dua, atau bukan soal sama sekali. Karena cinta itu sendiri sudah suatu nikmat yang paling lezat, dan tidak ada yang melebihinya lagi. Cinta dibaginya atas dua tingkat. Pertama cinta karena kerinduan. Dirindui karena dia merupakan puncaknya segala keindahan, sehingga tidak ada lagi yang lain yang jadi buah kenanganya dan buah tuturnaya, melainkan Tuhan, Allah. Naik setingkat lagi yaitu keinginan dibukakan hijab yang membatasi diantara dirinya dengan Dia. Itulah tujuanya yaitu melihat Dia.

Rabiah sendiri pun pernah berkata dalam seruan kepada Tuhan : “Ya Allah! jika sekiranya aku beribadah kepada engkau karena berharap akan masuk surga maka jauhkanlah dianya dari padaku. Tetapi jika aku beribadah kepada engkau hanya semata-mata karena cinta kepada Enkau, maka janganlah. Ya Allah engkau haramkan aku, melihat keindahan yang azali”.

Mengenai dasar pandangan hidup Rabiah pernah bertukar pikiran dengan Sufyan Tsauri. Pada suatu hari Sufyan bertanya kepadanya tentang hakikat imannya, lalu Rabiah menyatakan keputusan “Aku menyembah-Nya bukan karena takut neraka-Nya dan bukan karena ingin akan surga-Nya, sehingga perangaiku tak ubahnya dengan seorang penerima upah yang jahat. Tetapi aku menyembahnya adalah semata-mata karena cinta kepadanya dan rindu dendam yang tak habis-habis.

Syeh Mustafa Abdul Razik berkata: Beliaulah imam dari segenap kaum sufi yang datang kemudian yang asyik rindu, dendam kepada Tuhan didalam islam. Patut juga diketahui bahwasanya Rabiah memang sudah semata-mata mengorbankan hidupnya buat dicintai. Selama hidupnya sampai wafatnya, Beliau tidak pernah kawin. Hidupnya hanya dalam zikir dan wirid. Duduknya hanya menerima kedatangan murid-muridnya dan murid-murid Rabi’ah antara lain, Malik Bin Dinar, Raba al-Rais, Syah al Balkhi dan Hasan Basra. Yang semuanya sering mengunjungi Rabi’ah untuk mendapatkan nasihat atau do’a dan mendengarakan ajaranya.

Kehidupanya adalah tafsir dari ayat al-Qur’an yang jelas-jelas melukiskan hubungan cinta diantara Tuhan dengan hamba-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”. (Al-Maidah : 54)

Diceritakan bahwa suatu hari Rabi’ah merasa sakit. Dia ditanya mengenai penyebab sakitnya. Dia berkata “Aku melihat ketaman dan Tuhanku memarahiku. Sebuah dorongan angin surga muncul dihorizon hatiku dan sang sahabat menghukumku. Penyakit ini adalah karena hal itu”. Sufyan Tsauri berkata “Wahai Rabi’ah berdoalah, maka Al-Haqq Ta’ala akan meringankan rasa sakitmu. Rabiah menjawab wahai sufyan tidakkah engkau tahu bahwa Al-Haqq Ta’ala telah menghendaki rasa sakitku. Dia berkata, Engkau mengetahui dan engkau masih mengatakan kepadaku untuk meminta yang asing dengan kehendak-Nya. Adalah tidak pantas untuk menjadi asing dengan sang sahabat.

Dzu al-Nun al-Mishri
Riwayat hidup

Dzu An-Nun Al-Misri adalah nama julukan bagi orang sufi yang tinggal disekitar pertengahan abad ketiga hijriyah. Nama lengkapnya Abu Alfaidh Tsauban bin Ibrahim. Ia dilahirkan di Ikhmim, dataran tinggi Mesir pada tahun 180 H./796 M. Julukan Dzn an-Nun diberikan kepadanya sehubungan kekeramatannya yang Allah berikan kepadanya. Diantaranya dia pernah mengeluarkan seorang anak dari perut buaya di sungai nil dalam keadaan selamat atas permintaan ibu dari anak tersebut.

Asal mula al-Misri tidak banyak diketahui, tetapi riwayatnya sebagai seorang sufi banyak diutarakan. Dalam perjalanan hidupnya al-Misri selalu berpindah dari suatu tempat ketempat yang lain. Ia pernah menjelajahi berbagai daerah dimesir, mengunjungi Bait Al-Maqdis, Bagdad, Makkah, Hijaz, Syiria dan lembah Kan’an. Hal ini memungkinkanya untuk memperoleh pengalaman yang banyak dan mendalam. Ia hidup pada masa munculnya sejumlah ulama terkemuka dalam bidang ilmu Fiqih, ilmu Hadis dan guru sufi sehingga ia dapat berhubungan dan mengambil pelajaran dari mereka. Ia pernah mengikuti pengajian Ahmad bin Hambal. Ia mengambil riwayat hadis dari Malik, Al-Laits dan lain-lainnya.

Sebelum al-Misri sebenarnya sudah ada guru sufi, tetapi ia adalah orang pertama yang memberikan tafsiran terhadap isarat-isarat tasawuf. Ia pun orang pertama di Mesir yang berbicara tentang ahwal dan maqomat para wali dan orang yang pertama memberi devinisi tauhid dengan pengertian yang bercorak sufistik. Ia memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan pemikiran tasawuf. Sehingga banyak penulis yang menyebutkan al-Misri sebagai salah seorang peletak dasar-dasar tasawuf.

Al-Misri seorang sufi pengembara yang memiliki kemampuan dan keberanian untuk menyatakan pendapatnya. Keberanianya itulah yang menyebabkan harus berhadapan dengan gelombang protes yang disertai dengan tuduhan zindik. Akibatnya ia dipanggil menghadap Khalifah Al-Mutawakil, namun ia dibebaskan dan dipulangkan ke Mesir dengan penuh penghormatan kedudukanya sebagai wali diakui secara umum tatkala ia meninggalkan dunia yang fana ini. Dzu An-Nun Al-Misri wafat pada tahun 246 M/ 856 H.

Ma’rifat Dzu al-Nun al-Mishri

Al-Misri adalah pelopor paham ma’rifat. Al-Misri berhasil memperkenalkan corak baru tentang ma’rifat dalam bidang sufisme islam.

Ia membedakan antara ma’rifat sufiah dengan ma’rifat aqliyah. Ma’rifat yang pertama menggunakan pendekatan qalb yang biasa digunakan para sufi, sedangkan makrifat yang kedua menggunakan pendekatan akal yang biasa digunakan para teolog.
Menurut al-Misri makrifat yang sebenarnya adalah masyahadah qalbiyah (penyaksian hati) sebab ma’rifat merupakan fitrah dalam hati manusia sejak azali.
Teori-teori ma’rifat al-Misri menyerupai gnosisme ala Neo-Platonik. Teori-teorinya itu kemudian dianggap sebagai jembatan menuju teori-teori wahdad asy-syuhud dan ijtihad. Ia pun dipandang sebagai orang yang pertama kali memasukan unsur falsafah dalam tasawuf.

Pengetahuan tentang Tuhan, menurut Dzun al- Misri ada tiga macam.

Pengetahuan awam

Memberikan penjelasan bahwa tuhan satu dengan perantara ucapan Syahadat

Pengetahuan ulama

Memberikan penjelasan bahwa tuahn satu menurut akal (logika)

Pengetahuan sufi

Memberi penjelasan bahwa tuhan satu dengan perantaraan hati sanubari.

Bahwa pengetahuan Awam dan Ulama diatas belum dapat memberikan pengetahuan yang hakiki tentang Tuhan. Sehingga kedua pengetahuan tersebut baru disebut “Ilmu” belum dapat dikatakan sebagai “Ma’rifat”. Akan tetapi pengetahuan yang disebut ma’rifat adalah pengetahuan sufi. Ia dapat mengetahui hakikat Tuhan. sehingga ma’rifat hanya dapat diperoleh para sufi. Mereka sanggup melihat Tuhan dengan cara melalui hati sanubarinya. Disamping juga mereka didalam hatinya penuh dengan cahaya.

Pandangan al-Misri tentang hakikat ma’rifat :

Sesungguhnya ma’rifat yang hakiki bukanlah ilmu tentang keesaan tuhan, sebagai mana yang telah dipercayai orang-orang mukmin, bukan pula ilmu burhan dan nazhar milik para hakim dan ahli balaghoh, tetapi ma’rifat terhadap keesaan tuhan yang khusus dimiliki para wali Allah. Hal ini karena mereka adalah orang yanga menyaksikan Allah dengan hatinya, sehingga terbukalah baginya apa yang tidak dibukakan untuk hamba-hamba-Nya yang lain.
Ma’rifat yang sebenarnya adalah bahwa Allah menyinari hatimu dengan cahaya ma’rifat yang murni seperti matahari yang tak dapat dilihat kecuali dengan cahayanya. Salah seorang hamba mendekat kepada Allah sehingga ia merasa hilang dirinya, lebur dalam kekuasaanya, mereka merasa hamba, mereka bicara dengan ilmu yang telah diletakan Allah pada llidah mereka. Mereka melihat dengan penglihatan Allah, mereka berbuat dengan perbuatan Allah.

Kedua pandangan al-Misri di atas menjelaskan bahwa ma’rifat kepada Allah tidak dapat ditempuh melalui pendekatan akal dan pembuktian-pembuktian, tetapi dengan jalan makrifat batin. Yakni Tuhan menyinari hati manusia dan menjaganya dari kecemasan, sehingga semua yang ada didunia ini tidak mempunyai arti lagi. Melalui pendekatan ini sifat-sifat rendah manusia perlahan-lahan terangkat keatas dan selanjutnya menyandang sifat-sifat luhur seperti yang dimiliki tuhan, sampai akhirnya ia sepenuhnya hidup didalamnya dan lewat diri-Nya.

Tidak semua orang yang menuntut ajaran tasawuf dapat sampai pada tingkatan ma’rifat. Karena itu, sufi yang sudah mendapatkan ma’rifah, memiliki tanda-tanda tertentu. Sebagaimana yang telah disampaikan al-Misri :

Selalu memancar cahaya ma’rifah padanya dalam segala sikap dan prilakunya, karena itu sikap wara’ selalu ada pada dirinya.
Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran tasawuf, belum tentu benar.
Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.

Untuk memperoleh ma’rifat tentang Tuhan al-Misri mengatakan : “Aku mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tak akan tahu Tuhan”. Hal tersebut menurut Harun Nasution, ini menggambarkan bahwa ma’rifat tidak diperoleh begitu saja, tetapi adalah pemberian dari Tuhan. Ma’rifat bukanlah hasil pemikiran manusia tetapi bergantung kepada kehendak dan rahmad Tuhan.

Dalam Dairat al-Al-Ma’rifat Al Islamiyah terdapat keterangan yang berasal dari Al-Misri bahwa simbol-simbol zuhud adalah sedikit cita-cita, mencintai kefakiran dan memiliki rasa cukup yang disertai dengan kesabaran. Menurut al-Misri ada dua macam taubat yaitu “Taubat orang awam yaitu dari dosa, dan taubat orang khawash yaitu dari kelalaian.

Berkenaan dengan maqam at-tawakal, al-Misri mendevinisikanya sebagai berhenti memikirkan diri sendiri dan merasa memiliki daya dan kekuatan. Intinya adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah disertai perasaan tidak memiliki kekuatan. Hal tersebut sesuai yang diucapkan oleh Abu Yakup An-Nahrujuri yang menyebutkan bahwa at-tawakal adalah kematian jiwa tatkala ia kehilangan peluang, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat.

Berkenaan dengan ahwal, al-Misri menjadikan mahabbah (cinta kepada Allah) sebagai urutan pertama. Menurutnya tanda orang-orang yang mencintai Allah adalah mengikuti kekasihnya yaitu Nabi Muhammad SAW dalam hal akhlak. Perbuatan, segala perintah dan sunahnya.untuk memberikan pemahaman lebih jauh tentang Mahabbah, ia menyatakan bahwa ada tiga simbul mahabbah, yaitu rida terhadap hal-hal yang tidak disenagi, berperasangka baik terhadap sesuatu yang belum diketahui, dan berlaku baik dalam menentukan pilihan dan hal-hal yang diperingatkan.

D.   Kesimpulan

Nama lengkap Rabi’ah adalah Rabi’ah bin Ismail Al-Adawiyah Al-Bashriyah Al-Qaisiyah. Ia diperkirakan lahir pada tahun 95 H/713 M atau 99 H/717 M di dekat kota Basrah (Irak). Ia  wafat pada tahun 185 H. (801 M) diBasrah, daerah Syam (Syiria). Tingkat kehidupan zuhud yang tadinya direncanakan Hasan Bashri, yaitu takut dan pengharapan, telah dinaikan Rabiah kepada Zuhud karena cinta. Cinta yang suci murni ini lebih tinggi dari pada takut dan pengharapan. Cinta yang suci murni tidaklah mengharapkan apa-apa.
Dzu An-Nun Al-Misri adalah nama julukan bagi orang sufi yang tinggal disekitar pertengahan abad ketiga hijriyah. Nama lengkapnya Abu Alfaidh Tsauban bin Ibrahim. Ia dilahirkan di Ikhmim, dataran tinggi Mesir pada tahun 180 H./796 M.  Al-Misri wafat pada tahun 246 M/ 856 H.

– Pengetahuan tentang Tuhan, menurut Dzun al- Misri ada tiga macam. Pengetahuan awam, Pengetahuan ulama, Pengetahuan sufi.

– Tanda-tanda ma’rifat : Selalu memancar cahaya ma’rifah padanya dalam segala sikap dan prilakunya, Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal yang nyata belum tentu benar, Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: