TAZKIYAH AL-NAFS


TAZKIYAH AL-NAFS

(Gagasan Penjernihan Hati dan Diri untuk Menuju Pribadi Madani)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 A.    Latar Belakang

Nafs merupakan salah satu bagian yang ada pada manusia, dengan nafs manusia akan menjadi lebih mulia daripada makhluk lain, demikian juga sebaliknya dengan nafs manusia juga akan lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan makhluk lainnya. Nafs tersebut melekat pada diri manusia karena merupakan esensi dari manusia.

Nafs merupakan salah satu perkara yang mengalangi untuk mencapai ma’rifat. Jika nafs dibiarkan secara terus menerus maka ia seperti kuda yang kalau permintaannya dipenuhi secara terus menerus ia akan menjadi sombong, akan tetapi jika ia dibiarkan (tidak dipenuhi permintaannya), maka ia akan menjadi lemah dan menurut pada manusia.

Kebanyakan dari nafs mengajak menuju ke jalan yang sesat. Karena pada dasarnya nafs hanya memburu kesenangan yang sementara saja. Nafs enggan jika harus bersusah payah dalam melakukan sesuatu, ia hanya mengingnkan bagaimana dalam waktu tersebut ia dapat merasa senang. Dan ia tidak peduli dengan nasibnya pada waktu yang akan datang.

Cara yang terbaik untuk mengalahkan nafs ialah dengan mengekang diri kita jangan sampai diri kita dikuasai oleh nafs. Kita harus mengekang nafs dan mengajaknya untuk beribadah kepada Allah serta berbuat baik. Cara tersebut dalam istilah sufi dapat dinamakan tazkiyatun nafs atau jihadun nafs.

Cara tazkiyatun nafs ini dirumuskan oleh seorang sufi, seorang sufi dengan yang lainnya pasti mempunyai cara yang berbeda-beda. Tetapi di sini kami akan membahas secara global mengenai cara tersebut, karena pada dasarnya cara tersebut mempunyai inti yang sama, sedangkan implikasinya yang berbeda. Perbedaan tersebut didasari oleh pengalaman setiap sufi berbeda-beda, tetapi dalam hal itu kita tetap melandaskan pada al-Qur’an dan al-Hadits.

B.      Pengertian an Nafs

Nafs adalah istilah yang paling umum dalam psikologi sufi, karena istilah ini diterjemahkan sebagai ego, atau jiwa, intisari, nafas. Dalam bahasa arab, nafs mempunyai banyak arti, dan salah satunya adalah jiwa. Oleh karena itu ilmu jiwa dalam bahasa Arab disebut dengan ilmu nafs. Nafs dalam arti jiwa telah dibicarakan para ahli sejak waktu yang sangat lama. Yaitu sejak ilmu pengetahuan berkembang di negara-negara Islam.

Sedangkan menurut ahli tasawuf nafs diartikan dengan sesuatu yang melahirkan sifat tercela. Al-Ghazali misalnya menyebutkan nafs sebagai pusat potensi marah dan syahwat pada manusia dan sebagai pangkal dari segala sifat tercela. Pengertian ini dipahami dari hadits yang berbunyi:

اعد عدوك نفسك التي بين جنبيك

“Musuhmu yang paling berat adalah nafsumu yang ada di dua sisimu” .

Maka dari itu manusia harus mampu mengendalikan nafsunya karena nafsu merupakan musuh yang melekat dalam diri seseorang, bahkan menurut Abu Bakar al-Wara’ nafsu lebih sulit dihadapi daripada setan.

Manusia yang mengetahui nafsu maka ia mengetahui Tuhannya. Maksudnya orang yang mengetahui nafsunya dengan pandangan hina, dha’if, rusak(mampu mengendalikannya) maka ia akan mengetahui Tuhannya dengan pandangan mulia, luhur dan kekal (mencapai derajat ma’rifat).

 

C.      Nafs Dalam Pertumbuhan Psikospiritual

Dimata para sufi dalam diri manusia terjadi perkembangan sebanyak tujuh kali. Jika hal itu tidak terjadi maka diri sesorang tetap berada dalam derajat yang rendah, yakni masih terbelenggu dengan materi dunia dan lupa pada Tuhan. Tetapi jika sudah mencapai pada tahap terakhir manusia dapat menjadi insan kamil, dan tidak lagi terkungkung oleh materi dunia, tetapi saat itu ia sudah sangat bahagia karena dapat menyatu dengan Tuhannya dan baginya yang penting hanya itu tidak ada yang lain.

Adapun tahapan diri tersebut adalah:

1) Nafs Amarah/Tirani.

Term nafs amarah secara implisit disebut dalam al qur’an:

وما ابرئ نفسي ان النفس لامارة بالسؤ الامارحم ربي ان ربي غفور رحيم

“ Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhannku maha pengasih lagi maha penyayang”.(Q.S.Yusuf: 53)

Ada tiga kata yang harus diterjemah dalam pembahasan ini, yaitu; نفس (nafs), امارة (amarah) dan سؤ  (su’),. Secara lughawi nafs artinya jiwa, amarah artinya yang banyak menyuruh, su’ artinya keburukan atau kejahatan. Nafs amarah bissu’ adalah jiwa yang memiliki kecenderungan keburukan.

Sedangkan menurut al-Kurdi nafs amarah adalah nafs yang mengajak ke watak badaniyah dan memerintahkan untuk melakukan kesenangan yang dilarang oleh syara’ dan menarik hati ke arah yang tingkat yang rendah.

Tingkat nafs ini diterjemahkan sebagai nafs yang memerintah, mendominasi, atau menyuruh kepada kejahatan. Nafs tirani ini berusaha untuk mendominasi dan mengendalikan pikiran serta tindakan kita.

Karakteristik nafs ini cenderung kepada semua hal-hal yang buruk, secara terperinci al qur’an menyebutkan kecenderungan buruk itu yaitu: hasad, kecenderungan berbuat dosa, zalim, mesum, sombong, culas dan kikir.

2) Nafs Lawwamah / penuh penyesalan

Term lawwamah disebutkan dalam al-Qur’an:

لااقسم بيوم القيامة ولااقسم بالنفس اللومة

“ sungguh aku bersumpah dengan hari kiamat dan aku bersumpah dengan jiwa yang sangat menyesali dirinya”.(Q.S.al-Qiyamah: 1-2)

Lawwamah adalah kata bentukan dari      لام,يلوم, لوما, لائم, لوام yang artinya mencela, secara lughawi term lawwamah ini mengandung arti amat mencela atau banyak mencela.

Nafs lawwamah adalah nafs yang diterangi oleh cahaya hati, maka nafs ini menurut kepada akal pada waktu tertentu, dan bermaksiat di waktu yang lain, kemudian nafs ini menyesali dan mencela dirinya.

Ciri-ciri dari nafs ini adalah selalu mengeluh, kecewa dan menyalahkan dirinya sendiri. Dalam surah al-Zumar: 56 dan surah al-Ma’arij: 19-21 menyebutkan bahwa nafs menyesali dirinya atas hilangnya peluang untuk berbuat amal baik.

ان تقول نفس ياحسرتي على ما فرطت فى جنب الله وان كنت لمن الساحرين

Supaya jangan ada nafs yang mengatakan : amat besar penyesalanku atas kelalaianku (dalam menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedangkan aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olok (agama Allah).”

ان الانسان خلق هلوعا اذا مسه الشر جزوعا واذا مسه الخير منوعا

“Sesungguhnya manusia diciptakan Tuhan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesalahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia sangat kikir.”

Nafs dalam tingkat ini merupakan keadaan batin yang bekerja mengawasi secara internal terhadap tingkah laku, satu dari kondisi dimana orang-orang mukmin yang berada pada tingkat ini selalu mempertanyakan dirinya, menghitung-hitung amalnya serta mencela kesalahan yang terlanjur dilakukannya, baik perkataan maupun perbuatannya.

Pada tingkat ini juga kita memahami dampak negatif pendekatan egois kita terhadap dunia, walaupun kita memiliki kemampuan untuk berubah. Amalan buruk semakin menjijikkan bagi kita, kita memasuki lingkaran berbuat dosa, menyesali perbuatan tersebut kemudian kembali berbuat dosa. Ibarat nafs lawwamah ialah seorang pecandu yang sudah mengerti dampak kecanduannya, tetapi belum bisa menghilangkan kecanduannya itu. Untuk itu perlu usaha yang lebih tegas dan keras lagi agar berhasil keluar dari nafs ini. Nafs ini banyak dimiliki oleh orang, biasanya orang yang mengerti agama tetapi masih setengah-setengah, ia belum mampu untuk mengendalikan nafsunya tersebut, sehingga tiap kali ia melakukan dosa ia selalu menyesal dan setelah itu tidak ada kelanjutannya lagi dan tanpa melakukan taubat.

3) Nafs Mulhimah / Nafs yang terilhami

Yang dimaksud dengan nafs mulhimah adalah nafs yang diberi ilham ilmu, tawadhu’, qana’ah, dan saqhawah oleh allah.

Pada tingkat tiga ini kita mulai merasakan kesenangan sejati didalam berdoa, meditasi, dan kegiatan spiritual lainnya. Kita mulai mengalami sendiri kebenaran spiritual yang selama ini hanya kita dengar atau kita baca. Kita mulai merasakan cinta hakiki kepada Tuhan dan kepada ciptaannya dan ini adalah sebagai awal dari praktek tasawuf sejati.

Ciri-ciri dari nafs ini adalah kedermawanan, qana’ah tawakkal, taubat. Pada saat tingkat ini taubat bukan semata menyesal dan menyalahkan diri sendiri, melainkan tidak mencari pembesar atas kesalahannya, mengganti amal buruk semasa lampau dengan amal kebaikan, serta tidak mengulanginya dimasa datang. Oleh karena itu mereka mulai mendengar suara hati mereka sehingga mampu membedakan antara yang benar dan yang salah.

4) Nafs Muthmainnah/ Nafs yang tentram

Muthmainnah berasal dari kata  طمن, اطمئن, طماءنينةyang artinya tenang setelah mengeluh yang gelisah. Dalam hal ini nafs muthmainnah artinya adalah jiwa yang tenang karena ia mantap dan kuat setelah mengalami proses interaksi dengan lingkungan yang membuatnya mengeluh dan gelisah.

Pada tingkat ini jiwa yang tenang ditandai dengan kearifan, keyakinan terhadap Tuhan, rasa syukur, memiliki rasa aman, hatinya tenang atau tentream karena selalu ingat kepada Allah.

Jadi orang yang jiwanya telah mencapai tingkat ini adalah hatinya selalu tentram karena selalu ingat kepada Allah, yakin seyakin-yakinnya terhadap apa yang diyakininya sebagai kebenaran, dan oleh karena itu ia tidak mengalami konflik batin, tidak merasa cemas dan tidak pula takut. Sifat kondisi seperti ini adalah sebagai puncak kebahagiaan seorang mukmin.

5) Nafs Rodhiyah/yang ridho.

Pada tingkat ini kita tidak hanya merasa puas dengan takdir kita, akan tetapi kita juga akan merasa puas terhadap segala kesulitan dan ujian kehidupan yang juga berasal dari Tuhan. Kondisi nafs yang ridho ini sangat berbeda dengan cara yang biasa kita lakukan didalam menjalani kehidupan di dunia ini. Kita menyadari bahwa kita secara kontinu dikelilingi oleh rahmat dan belas kasih Allah.

Ketika rasa syukur dan cinta kita kepada Allah demikian besarnya, bahkan yang pahit terasa manis bagi kita, maka kita telah mencapai tahap nafs yang ridho ini. Adapun cirinya adalah keajaiban, kebebasan, ketulusan, perenungan dan ingat kepada Tuhan.

Keajaiban adalah hal-hal yang mungkin karena Tuhan menjawab doa yang tulus dari orang-orang yang berada di tingkat ini. Kebebasan adalah kita tidak tergoda lagi dengan kesenangan dunia, perhatian kita terpusat pada batiniah dan Tuhan. Ketulusan adalah tulus dan ikhlas menerima ketentuan Tuhan. Perenungan dan ingat kepada Tuhan adalah dengan mengingat akan Tuhan melalui perenungan terhadap segala nikmat dan cobaanNya, kita akan semakin lebih dekat pada Tuhan.

6) Nafs Mardhiyah/Yang diridhoi Tuhan.

Pada tingkat ini kita memperoleh kesatuan batiniah yang sejati dan utuh; kita merasakan dunia sebagai suatu kesatuan yang utuh, kita menyadari bahwa seluruh kekuatan untuk bertindak datang dari Tuhan, kita tidak melakukan sesuatu apapun dengan sendirinya. Kita tidak lagi merasa takut terhadap segala sesuatu atau meminta suatu apapun. Kita tidak lagi memiliki hasrat untuk berbicara atau berkomunikasi, hiasan luar kita telah dibinasakan, namun hiasan dalam kita telah menjadi istana.

7) Nafs Kamilah/ yang suci/ yang sempurna

Sedikit orang yang mencapai tingkat ini telah melampaui diri secara utuh. Tidak ada lagi ataupun diri yang tertinggal hanyalah kesatuan dengan Tuhan. Dan selama jejak ego masih tersisa maka kita akan dapat mencapai tingkat ini.

Seseorang yang mencapai tingkat ini berada didalam doa yang konsisten karenanya mereka tidak lagi punya kehendak. Seolah-olah dihantarkan kehadirat penguasa yang Maha Arif dan Maha Kuat. Pilihan yang terbaik adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang penguasa tersebut. Didalam kehadiran dan kearifan itu tidak lagi tersisa tempat untuk kehendak kita.

Pada tingkat ini tidak ada lagi perasaan diri terpisah atau identitas terpisah. Tidak ada lagi batas yang jelas antara diri dan Tuhan. Diri telah menjadi garam yang larut dalam larutan yang ada hanyalah Tuhan.

Selain itu juga pada tingkat ini telah mencapai kesempurnaan, yakni kesempurnaan moral yang telahg bersih dari semua hasrat kejasmanian sebagai hasil kesadaran murni akan Allah, dengan membuka selubung diri, mengikuti sinar cahaya murni akan terbimbing kesadaran hati. Pada tingkat ini manusia akan mencapai tingkat mukashafah yakni terbukanya mata hati untuk melihat Allah dan menyatu denganNya. Pada hakekatnya Allah ada dalam diri  dan diri adalah Allah. Manusia  tidak mempunyai kehendak karena manusia tersebut menyatu dengan Allah, jadi dalam kehidupan manusia menyatu dengan Allah dan ia tidak menginginkan apa-apa baik surga maupun neraka.

 

D.    Metode Tazkiyatun Nafs

Tahkiyatun Nafs adalah membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji. Penyucian nafs mustahil dilakukan tanpa mengamalkan pengekangan diri, kerja keras dan kesungguh-sungguhan. Al-Qur’an menjadikan kesungguh-sungguhan sebagai syarat untuk memperoleh petunjuk dan bimbingan Allah.

Dan mereka berjuang dan bersungguh-sungguh demi Kami, Kami pasti akan menunjuki mereka jalan-jalan Kami”(Q.S.al-Ankabut: 69)

Bagi setiap pemula, bagi setiap orang yang berada dalam tahap menengah, bahkan bagi seseorang yang telah mencapai tahap tertinggi, pengekangan diri mutlak diperlukan dan sama sekali tidak boleh dihindarkan oleh sang hamba Allah. Tanpa itu manusia akan merugi sebagaimana dikatakan dalam Al qur’an.:

“ Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.”(Q.S.al-Ashr: 3)

Untuk membersihkan hati dapat dilakukan dengan cara:

  1. Menghilangkan cinta dan keterikatan pada dunia, dunia itu sendiri tidaklah tercela sebab dunia adalah tempat bercocok tanam atau ladang akhirat dan sarana untuk mencapainya. Akan tetapi cinta pada dunia dan keterikatannya adalah sebuah rintangan.
  2. Merenungkan ayat-ayat Al qur’an.
  3. Manusia musti menundukkan segenap hasrat, keinginan, hawa nafsu, kekuatannya serta mengendalikan segala sesuatu di dunia ini dibawah perintah keridhoan dan cinta Allah.
  4. Seorang mestilahg menundukkan segenap kemampuan fisik dan mentalnya dibawah bimbingan Allah. Artinya ia mesti memanfaatkan segala sesuatu sesuai dengan perintah Allah.
  5. Memerangi hawa nafsu
  6. Menyadari bahwa Allah tidak dimana-mana melainkan ada didalam hati kita.
  7. Mencari bimbingan/guru yang lebih mengerti.
  8. Senantiasa dan terus menerus mengingat Allah.
  9. Penyucian Nafs juga bisa dilakukan dengan proses pendidikan.
  10. Disamping melalui usaha dan pendidikan penyucian jiwa juga bisa terjadi karena karunia dan rahmat Allah yang diberiakn kepada orang yang dikehendaki olehNya.

E.     Kesimpulan

  1. Nafs adalah istilah yang paling umum dalam psikologi sufi, karena istilah ini diterjemahkan sebagai ego, atau jiwa, intisari, nafas. Dalam bahasa arab, nafs mempunyai banyak arti, dan salah satunya adalah jiwa. Sedangkan menurut istilah nafs dapat diartikan jiwa yang mengajak kepada kejelekan.
  2. Nafs dalam pertumbuhan psikospiritual mengalami tujuh tahapan, yaitu: nafs amarah, nafs lawwamah, nafs mulhimah, nafs muthmainnah, nafs radhiyah, nafs mardhiyah, nafs kamilah.
  3. Metode tazkiyatun nafs sangat banyak ragamnya karena setiap sufi mempunyai metode tersendiri, pada intinya metodenya adalah menjauhi dunia dalam arti tidak terbelenggu oleh dunia, dunia hanya sarana.

F.      Saran

  1. Seseorang haruslah berusaha untuk meningkatkan kualitas ibadahnya dan berusaha mengendalikan nafsu sekuat mungkin agar seseorang tersebut bahagia di dunia dan akhirat.
  2. Dalam mencapai tingkatan yang sempurna atau mukhasafah maka seseorang harus rela bekerja keras dan berusaha secara sungguh-sungguh. Karena tidak ada tingkatan yang dapat dicapai dengan mudah.
  3. Semoga dengan mempelajari ini kita lebih mawas diri dan menyadari bahwa diri kita ini tidak apa-apanya, maka kita tidak boleh sombong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: