AL-KINDI


AL-KINDI

SEBUAH KAJIAN FILSAFAT AGAMA DAN AL-NAFS

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.     Pendahuluan

Kalaupun Islam muncul sebagai sistem peradaban yang mandiri, maka hal itu merupakan realitas sejarah yang tentu saja bukan untuk arah utama Islam sebagai agama yang hadir. Dalam arti, Allah mengutus Muhammad membawa Islam tentulah “tidak direncanakan” untuk muncul sebagai sebuah peradaban. Islam muncul sebagai sebuah agama dengan membawa  aneka sistem keagamaan. Oleh karenanya, harus dipahami perbedaan Islam sebagai agama dengan Islam sebagai peradaban.

Peradaban Islam muncul tidak lepas dari berbagai pemikiran yang berkembang dalam Islam. Berbagai pemikiran yang muncul tersebut biasa disebut filsafat Islam. Pemikiran yang berkembang dalam filsafat Islam memang didorong oleh pemikiran filsafat Yunani yang masuk ke Islam. Namun, hal itu tidak berarti bahwa filsafat Islam adalah nukilan dari filsafat Yunani. Filsafat Islam adalah hasil interaksi dengan filsafat Yunani dan yang lainnya. Hal itu dikarenakan pemikiran rasional umat Islam telah mapan sebelum terjadinya transmisi filsafat Yunani ke dalam Islam.

Filsafat Islam yang dipelopori oleh para filosof muslim timur telah mengembangkan sayapnya dan menancapkan cakarnya dengan kuat. Dimulai dari al-Kindi sebagai filosof Islam pertama kali, kemudian disusul oleh para filosof yang lainnya. Karena merupakan filosof yang pertama kali, maka al-Kindi dijuluki sebagai bapak filsafat Islam. Setelah masa al-Kindi, kemudian dilanjutkan oleh berbagai filosof yang masing-masing mengembangkan karakternya masing-masing.

Al-Kindi dalam kapasitasnya sebagai seorang filosof, mampu mempersatukan agama dengan filsafat. Ia mampu membuat argumen yang menyatakan bahwa agama dan filsafat itu sama-sama benar. Selain pemikirannya tersebut, ia juga mempunyai pemikiran mengenai al-nafs atau jiwa. Sehingga dapat dikatakan sebagai seorang bapak filosof Islam pertama, pengetahuan al-Kindi sungguh komplit dan komprehensif. Maka dari itu, penulis akan membahas secara mendetail pemikiran kedua tokoh tersebut dalam karya yang berjudul ” Al-Kindi: Filsafat, Agama dan Al-Nafs”.

B.     Biografi al-Kindi

Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq al-Kindi. Dia lahir di Kufah, Irak, pada 801 M/185 H. Gelar al-Kindi dinisbatkan pada nama suku Kindah di wilayah Arabia Selatan. Dari suku Kindah ini pula, lahir seorang penyair besar bernama Imra`ul Qais (w. ± 540 M). Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah yang sejak dulu menempati daerah selatan Jazirah Arab yang tergolong memiliki apresiasi kebudayaan yang cukup tinggi dan banyak dikagumi orang. Ayahnya, Ishaq, adalah gubernur Kufah di masa pemerintahan al-Mahdi (775-785) dan al-Rasyid (786-809). Ayahnya meninggal beberapa tahun setelah al-Kindi lahir. Dengan demikian, al-Kindi dibesarkan dalam keadaan yatim. Kakeknya Asy’ats bin Qais, dikenal sebagah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Bila ditelusuri nasabnya, Al-Kindi merupakan keturunan Ya’rib bin Qathan, raja di wilayah Qindah. Para ulama berbeda pendapat mengenai agama al-Kindi, sebagian berpendapat bahwa al-Kindi adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam, yang lain berpendapat bahwa al-Kindi adalah seorang beragama Nasrani lalu masuk Islam. Masalah tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah yang signifikan. Karena yang penting adalah ia merupakan filosof muslim pertama yang berusaha mengintegrasikan wahyu dengan filsafat.

Al-Kindi yang dilahirkan di Kufah pada masa kecilnya memperoleh pendidikan di Basrah. Kemudian, dia melanjutkan dan menamatkan pendidikan di Baghdad. Sejak belia, dia sudah dikenal berotak encer. Tiga bahasa penting dikuasainya, yakni Yunani, Suryani, dan Arab. Sebuah kelebihan yang jarang dimiliki orang pada era itu. Tentang guru-gurunya tidak dikenal, karena tidak terekam dalam sejarah hidupnya. Tetapi dapat dipastikan ia mempelajari ilmu-ilmu sesuai dengan kurikulum pada masanya. Ia mempelajari al-Qur’an, membaca, menulis dan berhitung. Kemudian ia mempelajari ilmu kedokteran, filsafat, ilmu hitung, mantiq (logika), geometri, astronomi dan sebagainya. Pendeknya ilmu-ilmu yang berasal dari Yunani juga ia pelajari. Dari buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani inilah al-Kindi menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

Maka dari itu, lantas dia termasyhur sebagai seorang ilmuwan filsafat, kedokteran dan ilmu-ilmu spesifik. Al-Kindi merupakan seorang yang jenius yang menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran. Al-Kindi adalah seorang penulis dan ilmuwan ensiklopedi. Ia adalah seorang yang cukup produktif dalam berkarya. Karyanya cukup banyak bahkan mencapai ratusan, namun hanya berupa karya yang kecil-kecil. Ibn Nadhim, sebagaimana dikutip Maftuhin, menyebutkan lebih dari 230 buah. Sedangkan George N.Atiyeh, menyebutkan judul-judul makalah dan kitab-kitab karangan al-Kindi sebanyak 270 buah. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam.

Al-Kindi telah menulis hampir seluruh ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu. Tetapi, di antara sekian banyak ilmu, ia sangat menghargai matematika. Hal ini disebabkan karena matematika, bagi al-Kindi, adalah mukaddimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat. Mukaddimah ini begitu penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mencapai keahlian dalam filsafat tanpa terlebih dulu menguasai matematika. Matematika di sini meliputi ilmu tentang bilangan, harmoni, geometri dan astronomi. Yang paling utama dari seluruh cakupan matematika di sini adalah ilmu bilangan atau aritmatika karena jika bilangan tidak ada, maka tidak akan ada sesuatu apapun. Di sini kita bisa melihat samar-samar pengaruh filsafat Phytagoras.

Sebagai ilmuwan serba bisa, Al-Kindi tak cuma melahirkan pemikiran di bidang filsafat saja. Salah satu karyanya yang termasuk fenomenal adalah Risalah Fi Istikhraj al-Mu’amma. Kitab itu mengurai dan membahas kriptologi atau seni memecahkan kode. Dalam kitabnya itu, Al-Kindi memaparkan bagaimana kode-kode rahasia diurai. Teknik-teknik penguraian kode atau sandi-sandi yang sulit dipecahkan dikupas tuntas dalam kitab itu. Selain itu, ia juga mengklasifikasikan sandi-sandi rahasia serta menjelaskan ilmu fonetik Arab dan sintaksisnya. Yang paling penting lagi, dalam buku tersebut, A-Kindi mengenalkan penggunaan beberapa teknik statistika untuk memecahkan kode-kode rahasia. Kriptografi dikuasainya, lantaran dia pakar di bidang matematika. Di area ilmu ini, ia menulis empat buku mengenai sistem penomoran dan menjadi dasar bagi aritmatika modern. Al-Kindi juga berkontribusi besar dalam bidang geometri bola, bidang yang sangat mendukungnya dalam studi astronomi.

Bekerja di bidang sandi-sandi rahasia dan pesan-pesan tersembunyi dalam naskah-naskah asli Yunani dan Romawi mempertajam nalurinya dalam bidang kriptoanalisa. Ia menjabarkannya dalam sebuah makalah, yang setelah dibawa ke Barat beberapa abad sesudahnya diterjemahkan sebagai Manuscript on Deciphering Cryptographic Messages. ”Salah satu cara untuk memecahkan kode rahasia, jika kita tahu bahasannya adalah dengan menemukan satu naskah asli yang berbeda dari bahasa yang sama, lalu kita hitung kejadian-kejadian pada tiap naskah Pilah menjadi naskah kejadian satu, kejadian dua, dan seterusnya,” kata Al-Kindi. Setelah itu, lanjut Al-Kindi, baru kemudian dilihat kepada teks rahasia yang ingin dipecahkan. Setelah itu dilanjutkan dengan melakukan klasifikasi simbol-simbolnya. ”Di situ kita akan menemukan simbol yang paling sering muncul, lalu ubahlah dengan catatan kejadian satu, dua, dan seterusnya itu, sampai seluruh simbol itu terbaca.” Teknik itu, kemudian dikenal sebagai analisa frekuensi dalam kriptografi, yaitu cara paling sederhana untuk menghitung persentase bahasa khusus dalam naskah asli, persentase huruf dalam kode rahasia, dan menggantikan simbol dengan huruf.

Al-Kindi juga meletakkan dasar-dasar teori relativitas. Sesungguhnya, tak mengejutkan jika ilmuwan besar sekaliber Al-Kindi telah mencetuskan teori itu pada abad ke-9 M. Apalagi, ilmuwan kelahiran Kufah tahun 801 M itu pasti sangat menguasai kitab suci al-Qur’an. Sebab, tak diragukan lagi bahwa ayat-ayat al-Qur’an mengandung pengetahuan yang absolut dan selalu menjadi kunci tabir misteri yang meliputi alam semesta raya ini. Ayat-ayat al-Qur’an yang begitu menakjubkan inilah yang mendorong para saintis Muslim di era keemasan mampu meletakkan dasar-dasar sains modern. Sayangnya, karya-karya serta pemikiran para saintis Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah ditutup-tutupi. Dalam al-Falsafa al-Ula, ilmuwan bernama lengkap Yusuf Ibnu Ishaq al-Kindi itu telah mengungkapkan dasar-dasar teori relativitas. Sayangnya, sangat sedikit umat Islam yang mengetahuinya. Sehingga, hasil pemikiran yang brilian dari era kekhalifahan Islam itu seperti tenggelam ditelan zaman. Menurut Al-Kindi, fisik bumi dan seluruh fenomena fisik adalah relatif. Relativitas, kata dia, adalah esensi dari hukum eksistensi. “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut,” cetus Al-Kindi. Namun, ilmuwan Barat, seperti Galileo, Descartes, dan Newton, menganggap semua fenomena itu sebagai sesuatu yang absolut. Hanya Einstein yang sepaham dengan Al-Kindi. “Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda,” papar Al-Kindi. Selanjutnya, Al-Kindi berkata, “… jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan.” Pernyataan Al-Kindi itu menegaskan bahwa seluruh fenomena fisik adalah relatif satu sama lain. Mereka tak independen dan tak juga absolut.

Gagasan yang dilontarkan Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein dalam teori relativitas umum. “Sebelum teori relativitas dicetuskan, fisika klasik selalu menganggap bahwa waktu adalah absolut,” papar Einstein dalam La Relativite. Menurut Einstein, pendapat yang dilontarkan oleh Galileo, Descartes, dan Newton itu tak sesuai dengan definisi waktu yang sebenarnya. Menurut Al-Kindi, benda, waktu, gerakan, dan ruang tak hanya relatif terhadap satu sama lain, namun juga ke objek lainnya dan pengamat yang memantau mereka. Pendapat Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein. Dalam Al-Falsafa al-Ula, Al-Kindi mencontohkan, seseorang melihat sebuah objek yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar menurut pergerakan vertikal antara bumi dan langit. Jika orang itu naik ke atas langit, dia melihat pohon-pohon lebih kecil. Jika dia bergerak ke bumi, dia melihat pohon-pohon itu jadi lebih besar.

Al-Kindi mempunyai beberapa karya, bahkan cukup banyak dalam berbagai bidang. Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul. Buah pikir yang dihasilkannya begitu berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Barat pada abad pertengahan. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa Eropa. Buku-buku itu tetap digunakan selama beberapa abad setelah ia meninggal dunia.

Al-Kindi dikenal sebagai filosof Muslim pertama, karena dialah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Hingga abad ke-7 M, filsafat masih didominasi orang Kristen Suriah. Al-Kindi tak sekedar menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani, namun dia juga menyimpulkan karya-karya filsafat Helenisme. Salah satu kontribusinya yang besar adalah menyelaraskan filsafat dan agama. Setelah era Khalifah al-Mu’tasim berakhir dan tampuk kepemimpinan beralih ke al-Watiq dan Al-Mutawakkil, peran al-Kindi semakin dipersempit. Namun, tulisan kaligrafinya yang menawan sempat membuat Khalifah kepincut. Khalifah al-Mutawakkil kemudian menjadikannya sebagai ahli kaligrafi istana. Namun, itu tak berlangsung lama. Ketika Khalifah al-Mutawakkil tak lagi menggunakan paham Muktazilah sebagai aliran pemikiran resmi kerajaan, al-Kindi tersingkir. Ia dipecat dari berbagai jabatan yang sempat diembannya. Jabatannya sebagai guru istana pun diambil alih ilmuwan lain yang tak sepopuler al-Kindi. Friksi pun sempat terjadi, perpustakaan pribadinya sempat diambil alih putra-putra Musa. Namun akhirnya al-Kindiyah – perpustakaan pribadi itu – dikembalikan lagi. Ia meninggal pada sekitar tahun 873 M.

Namun, sayangnya buku-bukunya yang masih ada berjumlah kurang dari 20, segelintir dalam bahasa Arab, tetapi sebagian besar lainnya dalam terjemahan latin. Maftuhin menyebutkan bahwa karya al-Kindi pernah diterbitkan oleh Prof.Abu Ridah dengan judul Rasail al-Kindi al-Falasifah (Makalah-Makalah Filsafat al-Kindi), yang berisi 29 makalah dan Prof.Ahmad Fuad al-Ahwani dengan judul Kitab al-Kindi ila al-Mu’tasim Billah fi al-Falsafah al-Ula (Surat al-Kindi kepada Mu’tasim Billah tentang Filsafat Pertama). Kurangnya sumber menimbulkan kesulitan yang cukup besar dalam memberikan catatan yang sistematis tentang filsafat al-Kindi. Akan tetapi, penulis rasa deskripsi di atas sudah cukup untuk menggambarkan siapa al-Kindi dan perannya sebagai filosof pertama.

Al-Kindi adalah orang pertama yang memperkenalkan filsafat di dunia Islam. Menurut al-Kindi, fungsi filsafat sesungguhnya bukan untuk menggugat kebenaran wahyu atau untuk menuntut keunggulan yang lancang atau menuntut persamaan dengan wahyu. Filsafat haruslah sama sekali tidak mengajukan tuntutan sebagai jalan tertinggi menuju kebenaran dan mau merendahkan dirinya sebagai penunjang bagi wahyu. Menurutnya, sebagaimana dikutip oleh Salam, tidak pada tempatnya malu mengakui kebenaran darimana saja sumbernya. Bagi mereka yang mengakui kebenaran tidak sesuatu yang lebih berharga daripada kebenaran itu sendiri dan tidak pernah meremehkan martabat orang yang menerimanya. Ia adalah orang yang berusaha untuk menggabungkan antara kebenaran yang bersumber dari filsafat dan kebenaran yang bersumber dari wahyu. Jadi ia berusaha menyesuaikan antara akal dengan wahyu.

C.     Pemikiran al-Kindi

Menurut al-Kindi, agama dan filsafat tidak mungkin bertentangan. Agama di samping sebagai wahyu juga menggunakan akal, dan filsafat juga menggunakan akal. Al-Kindi memandang filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang mulia. Sebab, melalui filsafat-lah, manusia bisa belajar mengenai sebab dan realitas Ilahi yang pertama dan merupakan sebab dari semua realitas lainnya. Baginya, filsafat adalah ilmu dari segala ilmu dan kearifan dari segala kearifan. Ia mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang segala sesuatu sejauh jangkauan pengetahuan manusia. Karena itu, al-Kindi dengan tegas mengatakan bahwa filsafat memiliki keterbatasan dan bahwa ia tidak dapat mengatasi problem semisal mukjizat, surga, neraka, dan kehidupan akhirat. Dalam semangat ini pula, al-Kindi mempertahankan penciptaan dunia ex nihilio, kebangkitan jasmani, mukjizat, keabsahan wahyu, dan kelahiran dan kehancuran dunia oleh Tuhan. Filsafat, dalam pandangan al-Kindi bertujuan untuk memperkuat agama dan merupakan bagian dari kebudayaan Islam. Al-Kindi menjembatani antara filosof dan fuqaha melalui terjemahan buku-buku filsafat, antara lain dalam terjemahan itu ia memberikan ulasan-ulasan dan komentar maksud sebenarnya dari pengarang filsafat tu, sehingga para pembaca memahami dengan jelas. Ia menjelaskan bahwa filsafat dapat digunakan untuk pembinaan dan perkembangan kemajuan agama dengan memberikan argumentasi-argumentasi yang dapat diterima akal.

Al-Kindi telah membukakan pintu bagi penafsiran filosofis terhadap al-Qur’an, sehingga menghasilkan persesuaian antara wahyu dan akal, berdasar pada tiga alasan berikut:

  1. Ilmu agama merupakan bagian dari filsafat
  2. Wahyu yang diturunkan pada Nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian.
  3. Menuntut ilmu dibenarkan keduanya.

Dalam tulisannya, Kammiyat Kutub Aristoteles, sebagaimana dikutip Syarif,ia mengemukakan beberapa pendapat tentang filsafat dan agama, sebagai berikut:

  1. Filsafat adalah ilmu kemanusiaan yang dicapai oleh filosof dengan berfikir, belajar dan usaha-usaha manusiawi. Sementara itu, agama adalah ilmu ketuhanan, yang didapat tanpa proses belajar, berfikir dan usaha manusiawi.
  2. Jawaban filsafat menunjukkan ketidakpastian dan pemikiran juga perenungan. Sementara itu, agama menunjukkan jawaban yang pasti (mutlak benar) tanpa pemikiran atau perenungan.
  3. Filsafat menggunakan metode logika, sedangkan agama menggunakan metode keimanan.

Jadi, ia berusaha mensinkronkan antara agama dan filsafat, yang itu semua memberi jalan lurus kepada para filosof sesudahnya yang berkembang di dunia Islam. Karena tidak dapat dipungkiri, apabila filsafat yang berkembang pada awalnya ini tidak sinkron dengan Islam, maka secara otomatis akan ditolak oleh para ulama dan mendapat tanggapan yang keras.

1.   Metafisika

Dalam hal metafisika, al-Kindi membagi pengetahuan menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Pengetahuan Ilahi, sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an, yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan ini adalah keyakinan.
  2. Pengetahuan manusiawi, atau filsafat. Dasarnya adalah pemikiran manusia.

Argumen-argumen yang dibawa al-Qur’an lebih meyakinkan daripada yang dikemukakan filsafat. Akan tetapi antara agama dengan filsafat tidak bertentangan. Kebenaran yang diberitakan wahyu tidak bertentangan dengan yang diberitakan filsafat. Filsafat bagi al-Kindi adalah pengetahuan yang benar. Di sinilah terdapat persamaan antara agama dengan filsafat. Tujuan dari keduanya adalah sama, yaitu mencoba mengungkap dan menerangkan kebenaran, yang berbeda hanyalah metodenya.

Kebenaran menurut al-Kindi adalah kesesuaian apa yang ada di dalam akal dengan apa yang ada di luar akal. Yang penting bagi filsafat adalah hakikat yang universal bukan juz’iyat yang parsial. Tiap benda memiliki juz’iyat yang bersifat parsial dan hakikat yang bersifat universal.

Al-Kindi meyakini bahwa alam semesta ini adalah karya Tuhan. Tuhan tidak merupakan genus atau species. Tuhan adalah Pencipta. Tuhan adalah yang Benar Pertama (al-Haqq al-Awwal) dan Yang Benar Tunggal. Tuhan bukan seperti pandangan Aristoteles, penggerak pertama yang tak bergerak, namun Tuhan adalah pencipta makhluk yang harus ada. Al-Kindi juga menolak pendapat yang menganggap sifat-sifat Tuhan itu berdiri sendiri. Tuhan haruslah merupakan keesaan mutlak. Bukan keesaan metaforis yang hanya berlaku pada obyek-obyek yang dapat ditangkap indra. Menurut al-Kindi, Tuhan tidak memiliki sifat-sifat dan atribut-atribut lain yang terpisah dengan-Nya, tetapi sifat-sifat dan atribut-atribut tersebut haruslah tak terpisahkan dengan zat-Nya. Alam bagi al-Kindi sifatnya adalah hadits tidak qadim. Karena alam mempunyai permulaan dan mempunyai pencipta. Dan menurut al-Kindi, alam ini adalah creatio exinhillo atau tercipta tanpa materi.

Di alam ini, benda mempunyai dua hakekat, hakekat sebagai juz’i yang disebut aniah dan sebagai kulli yang disebut mahiah, yaitu hakekatyang bersifat universal dalam bentuk genus dan species. Menurut al-Kindi, Allah tidak mempunyai hakekat dalam arti aniah dan mahiah. Karena Ia bukan benda yang bersifat fisik dan tidak pula termasuk benda di alam ini. Allah tidak tersusun dari materi (al-hayyula) dan dari bentuk (al-Shurat), akan tetapi Allah juga tidak mempunyai hakekat dalam bentuk mahiah karena Allah tidak merupakan genus atau spesies. Bagi al-Kindi, Allah adalah unik, Ia hanya satu dan tidak ada yang setara dengan-Nya. Dialah yang benar pertama, dan yang benar tunggal selan dari-Nya semuanya mengandung arti banyak. Maka dalam hal ini, al-Kindi dapat dikatakan lebih mengesakan Allah daripada mu’tazilah yang terkenal merupakan aliran teologi rasional. Baik dalam pemikiran tentang dzat-Nya maupun tentang alam semesta. Dan walaupun ia terpengaruh dengan filsafat Yunani, namun ia tidak larut di dalamnya.

2.   Epsitemologi

Dalam bidang epistemologi, al-Kindi berusaha menguraikan mengenai sumber pengetahuan. Al-Kindi membagi pengetahuan menjadi tiga macam, antara lain: pengetahuan indrawi lahiriah, pengetahuan rasional dan pengetahuan isyraqi (pancaran).

  1. Pengetahuan indrawi lahiriah

Pengetahuan indrawi sangat mudah didapat bagi orang atau manusia yang mempunyai indra pengenal. Pengetahuan ini diperoleh dengan cara mengamati sesuatu kemudian langsung membawanya ke imajinasi dan dilanjutkan ke penampungan. Pengetahuan dengan jalan ini tidak tetap dan hanya memperoleh sisi empiris dari sesuatu saja. Pengetahuan indrawi hanya dapat memberikan gambaran yang sifatnya sementara dan bersifat parsial tidak dapat memberikan informasi tentang hakikat dari sesuatu yang diamati tersebut. Pengetahuan ini amat dekat dengan pelakunya, tapi amat jauh dari hakikatnya.

  1. Pengetahuan rasional

Pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat general, universal dan immaterial. Obyek pengetahuan rasional bukan individu, tetapi genus dan spesies. Contohnya orang yang mengamati manusia, bukan hanya mengamati lahirnya dan bentuknya saja, akan tetapi sampai pada kesimpulan bahwa manusia adalah hayawan al-natiq (hewan yang berkata atau berpikir). Kesimpulan tersebut bersifat universal dan general, namun abstrak.

Al-Kindi, sebagaimana dikemukakan Maftuhin, memperingatkan agar orang tidak mengacaukan metode yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan, karena setiap ilmu mempunyai metodenya sendiri-sendiri sesuai dengan wataknya. Watak ilmulah yang menentukan metodenya. Bukan manusia yang seenaknya menentukan metode pencarian ilmu.

  1. Pengetahuan isyraqi (iluminasi/pancaran)

Pengetahuan yang tertinggi dalam derajatnya menurut al-Kindi adalah pengetahuan isyraqi. Pengetahuan indrawi saja tidak cukup untuk memperoleh kebenaran yang haqiqi. Sedangkan pengetahuan rasional hanya terbatas pada genus dan spesies. Maka alternatif pengetahuan yang ditempuh adalah pengetahuan isyraqi atau iluminatif, yaitu pengetahuan yang diperoleh langsung dari pancaran nur Ilahi. Puncak dari pengetahuan ini adalah pengetahuan yang diperoleh oleh para Nabi, yang membawakan ajaran sesuai dengan wahyu yang diterima dari Allah.

Para Nabi memperoleh pengetahuan yang berasal dari wahyu tanpa upaya yang keras dan tanpa memerlukan wahyu untuk memperolehnya. Pengetahuan yang demikian ini adalah pengetahuan yang paling benar dan paling haqiqi. Pengetahuan tersebut terjadi atas kehendak Allah. Nabi dapat menjawab suatu pertanyaan dengan tepat dan cepat yang tidak bisa dilakukan oleh para filosof. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa kemungkinan terdapat orang yang selain Nabi yang memperoleh pengetahuan isyraqi, namun derajatnya di bawah Nabi dan hal itu terjadi pada orang-orang yang suci jiwanya. Uraian tersebut memberikan kesan bahwa pengetahuan para Nabi yang diperoleh dengan wahyu lebih meyakinkan kebenarannya daripada pengetahuan filosof yang tidak berasal dari wahyu. Al-Kindi menyadari keadaan dan kemampuan dirinya, dan menyatakan bahwa kebenaran wahyu tetaplah kebenaran yang paling mutlak dan berada diatas akal dan lainnya.

3.   Filsafat Jiwa (Al-Nafs)

Al-Kindi juga menyinggung soal jiwa manusia. Menurutnya, jiwa tidak tersusun, substansinya adalah ruh yang berasal dari substansi Tuhan. Dalam hal jiwa, al-Kindi lebih dekat dengan pandangan Plato yang mengatakan bahwa hubungan antara jiwa dan badan bercorak accidental (al-‘aradh), yaitu binasanya badan tidak membawa binasa pada jiwa. Namun ia menolak pendapat Plato yang mengatakan bahwa jiwa berasal dari alam idea. Al-Kindi berbeda dari Aristoteles yang berpendapat bahwa jiwa adalah form dari badan. Menurut al-Kindi, jiwa memiliki 3 daya:

  1. jiwa bernafsu (al-quwwah asy-syahwāniyyah);
  2. jiwa pemarah (al-quwwah al-ghadhabiyyah); dan
  3. jiwa berakal (al-quwwah al-‘āqilah)

Sebagaimana Plato, ia membandingkan ketiga kekuatan jiwa ini dengan mengibaratkan daya berpikir sebagai sais kereta dan dua kekuatan lainnya (pemarah dan nafsu) sebagai dua ekor kuda yang menarik kereta tersebut. Jika akal budi dapat berkembang dengan baik, maka dua daya jiwa lainnya dapat dikendalikan dengan baik pula. Orang yang hidupnya dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu birahi dan amarah diibaratkan al-Kindi seperti anjing dan babi, sedang bagi mereka yang menjadikan akal budi sebagai tuannya, mereka diibaratkan sebagai raja.

Selama ruh (jiwa) berada di badan, ia tidak akan menemukan kebahagiaan hakiki dan pengetahuan sempurna. Setelah bepisah dari badan dan dalam keadaan suci, ruh akan langsung pergi ke “alam kebenaran” atau “alam akal” di atas bintang-bintang, berada dilingkungan cahaya Tuhan dan dapat melihat-Nya. Di sinilah letak kesenangan hakiki ruh. Namun jika ruh itu kotor, ia akan pergi terlebih dahulu ke bulan, lalu ke Merkuri, Mars, dan seterusnya hingga Pluto; kemudian terakhir akan menetap ke dalam “alam akal” di lingkungan cahaya Tuhan. Di sanalah jiwa akan kekal abadi di bawah cahaya Tuhan. Bagi yang berbuat durhaka dan kejahatan di dunia, jiwa (ruh) manusia akan jauh dari cahaya Tuhan sehingga dia akan sengsara. Bagi manusia yang berbuat kebajikan, jiwa (ruh) yang dikandungnya dahulu ketika di bumi, akan dekat dengan cahaya Tuhan dan akan hidup bahagia di sisi-Nya. Manusia, menurut al-Kindi, apabila meninggalkan sesuatu yang berbentuk empiris dan memusatkan pandangan pada hakekat sesuatu niscaya akan terbuka baginya pengetahuan tentang rahasia ciptaan. Namun, sebaliknya jika ia berorientasi pada kenikmatan materi, maka akan tertutup baginya pengetahuan tentang hal-hal yang mulia.

Al-Kindi juga membagi akal mejadi tiga, yakni akal yang bersifat potensial, akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi aktual, dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas. Akal yang bersifat potensial, menurut Al-Kindi, tak bisa mempunyai sifat aktual, jika tak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar. Oleh karena itu, menurut Al-Kindi, masih ada satu macam akal lagi, yakni akal yang selamanya dalam aktualitas.

4.   Aksiologi

Filsafat adalah upaya meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh dapat dijangkau oleh kemampuan manusia agar manusia memiliki keutamaaan yang sempurna. Filsafat juga merupakan latihan untuk mematikan hawa nafsu sebagai jalan memperoleh keutamaan. Al-Kindi berpendapat bahwa keutamaan manusiawi tidak lain adalah “budi pekerti yang terpuji”. Keutamaan-keutamaan ini kemudian dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, merupakan asas dalam jiwa, tetapi bukan asas negatif, yaitu pengetahuan dan perbuatan. Bagian ini dibagi menjadi tiga, yaitu kebijaksanaan, keberanian, dan kesucian.

Kedua, keutamaan-keutamaan manusia tidak terdapat dalam jiwa, tetapi merupakan hasil dan buah dari tiga macam keutamaan tersebut. Ketiga, hasil keadaan lurus tiga macam keutamaan itu tercermin dalam “keadilan”. Penistaan yang merupakan padanannya adalah penganiayaan.

T.J. de Boer, sebagaimana dikutip Maftuhin, menyimpulkan isi risalah al-Kindi tentang upaya untuk menghilangkan kesusahan sebagai berikut: hakikatnya tidak ada kekekalan bagi sesuatu di dunia ini, alam ada dan kerusakan, yang sewaktu-waktu dapat dicabut dari kekuasaan kita segala yang kita pandang mahal dan tiada ketetapan dan kekekalan kecuali dalam dunia akal. Jika kita menginginkan agar kita tetap senang dan milik kita yang kekal dan amat kita senangi tidak akan dicabut dari kekuasaan kita, maka adalah menjadi kewajiban kita untuk menaruh perhatian kita kepada kebaikan-kebaikan rasional yang kekal dan takwa kepada Tuhan; juga hendaklah kita tekun menuntut ilmu dan beramal saleh. Jika yang menjadi perhatian kita adalah mencari kekayaan duniawi yang material, dengan anggapan akan dapat memelihara kekalahannya, maka sesungguhnya kita mengejar yang mustahil, yang hakikatnya tidak terdapat dalam wujud.

Demikian uraian pemikiran al-Kindi mulai dari metafisika, epistemologi dan aksiologi. Semoga menambah pengetahuan pembaca dan pencari informasi tentang pemikiran beliau.

D.     Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq al-Kindi. Dia lahir di Kufah, Irak, pada 801 M/185 H. Ia adalah filosof muslim pertama. Sebenarnya al-Kindi mempunyai banyak karya, namun karya tersebut hanya berupa risalah yang kecil-kecil dan sekarang sulit diakses.
  2. Pemikiran filsafat al-Kindi yang terbesar adalah berusaha memadukan antara agama dengan filsafat. Di samping itu, ia juga mempunyai pemikiran dalam bidang metafisika, epistemologi, jiwa dan aksiologi.

 

E.     Saran-Saran

Berpijak dari kesimpulan di atas, maka dapat penulis kemukakan sarannya sebagai berikut:

  1. Hendaklah seseorang memahami persatuan antara agama dan filsafat, karena dengan demikian, maka ia akan lebih mudah memahami agama dan mudah mencapai derajat yang diinginkan.
  2. Hendaklah seorang pendidik memahami berbagai macam aliran pemikiran, agar tidak terjebak dalam satu pemikiran yang bersifat parsial dan persuasif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: