BACK UNDERSTAND OF SHOLAT


BACK UNDERSTAND OF SHOLAT

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

Pengertian

Sholat menurut bahasa adalah do’a kebaikan, sedangkan menurut syara’ adalah suatu aktifitas yang terdiri dari beberapa ucapan dan pekerjaan yang dimulai dengan takbir dan diahiri dengan salam dengan beberapa syarat tertentu.

Dasar pencetusan kewajiban sholat adalah firman Allah SWT yang berbunyi :

وأقيموا الصلاة

Artinya : dan dirikanlah sholat

Dan sabda Rosululloh SAW yang berbunyi :

Artinya : Rosululloh SAW bersabda : allah SWT telah mewajibkan kepada umatku pada malam isro’ lima puluh sholat, maka tidak henti-hentinya aku kembali kepada-Nya dan memintakan keringanan sehingga Allah menjadikan lima kali sehari semalam ( HR Bukhori & Muslim )

 

SYARAT SYARAT KEWAJIBAN SHOLAT

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal

Syarat-Syarat Sebelum Pelaksanaan Sholat

  1. Sucinya badan dari hadats dan najis
  2. Menutup aurot
  3. Berada ditempat yang suci
  4. Mengetahui masuknya waktu sholat
  5. Mengahadap kiblat

Rukunya sholat ada 14

1.  Niat sholat

2.  Takbirotul ihrom

3.  Berdiri bagi orang yang mampu

4.  Membaca fatihah setiap rokaat

5.  Ruku’

6.  I’tidal

7.  Sujud dua kali

8.  Duduk diantara kedua sujud

9.  Tuma’ninah dalam ruku’, dua sujud, duduk diantara dua sujud dan i’tidal

10. Tahiyyat akhir

11. Membaca sholawat kepada Nabi

12. Duduk karena melakukan tahiyyat dan sholawat salam

13. Salam yang pertama

14. Tartib

 

Tata Cara dan Kesunatan-Kesunatan

1. Niat.

Hakikat niat adalah keinginan kuat dalam hati disertai dengan pelaksanaan perbuatan tersebut, sebagaimana dalam niat-niat yang lain.

Ada tiga hal yang perlu ditegaskan ketika niat sholat fardlu :

  1. Menegaskan keinginan melakukan sholat dengan mengatakan dalam hati, bahwa saya memulai melakukan sholat, atau dengan bahasa arabnya lafadz : أصلي
  2. Menentukan sholat apa yang sedang ia lakukan, misalnya dluhur, ‘ashar dsb
  3. Menegaskan sholat yang ia lakukan adalah wajib

Jika ketiga hal tersebut terkumpul dalam niat, maka niat tersebut berbunyi :

Saya melakukan fardlu sholat subuh (misalnya)

Atau dengan bahasa arab :

أصلي فرض الظهر

Dalam niat disunatkan menegaskan beberapa hal :

  1. Bilangan rokaat yang ingin dijalankan, yaitu lafadz : أربع ركعات (misalnya)
  2. Menghadap kiblat, yaitu lafadz : مستقبل القبلة
  3. Menyatakan bahwa sholat yang ia lakukan semata-mata karena Allah, yaitu lafdz : لله تعالى
  4. Mengingat status sholat yang dilakukan apakah sholat qodlo’ (dilaksanakan dalam waktunya) ataukah qodlo’ (dilaksankan diluar waktunya) yaitu lafdz : أداء   atau قضاء

Perhatikan bentuk niat yang sempurna dibawah ini, yang wajib diucapkan adalah yang lafadz yang bergaris bawah, sedangkan yang lain adalah bacaan yang sunnah diucapkan :

أصلي فرض الظهر أربع ركعات مستقبل القبلة أداء لله تعالى

Artinya : saya menjalankan sholat kewajiban sholat dluhur (misalnya) empat rokaat, menghadap kiblat, tepat pada waktunya, semata-mata karena Allah ta’ala

Sekali lagi perlu diingat, bahwa niat bukanlah apa yang diucapkan dengan lisan

 

2 Takbirotul ihrom.

Dinamakan dengan takbirotul ihrom karena hal-hal yang sebelumnya halal menjadi harom setelah melakukan takbir tersebut. Tujuan dijadikan sebagai permulaan sholat, agar si musholli bisa menghadirkan artinya, yang menunjukan keagungan Sang Pencipta, sehingga sholatnya bisa khhusu’ sampai selesai.

Dalam takbirotul ihrom ada tiga hal yang harus dipenuhi, yaitu ;

1)    Dibarengi dengan niat dalam hati[1] ( krentek; jawa )

2)    Memakai lafadz Allahu Akbar, tidak boleh menggantinya dengan  lafadz lain, meskipun artinya sama seperti Allohu A’dzhom dsb

3)    Mengeraskan suaranya sekira bisa didengarkan oleh dirinya sendiri, untuk ukuran orang normal (tidak tuli) dan dalam keadaan normal (tidak ada suara gaduh dll)

Kesunahan-kesunahan dalam takbir :

  • Membaca sukun ro’nya Akbar
  • Mengangkat kedua tangan dalam keadaan terbuka dengan menghadap kiblat dan sedikit merenggangkan jari-jarinya sampai sejajar dengan pundaknya. Praktek persisnya sebagai berikut : jari-jari selain jempol disejajarkan dengan atas telinga, jari jempol disejajarkan dengan daun telinga, telapak tangan disejajarkan dengan pundak.

Kesunahan-kesunahan setelah takbir

Meletakkan kedua tangan dibawah dada bagian kiri, tepatnya sekitar wilayah hati, dengan tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri.

Setelah itu membaca do’a iftitah[2] sebagai berikut:

Apabila sholat sendirian atau menjadi imamnya ma’mum yang rela sholatnya diperpanjang, maka bisa menambah do’a :

Setelah itu membaca ta’awwudz, yaitu :

3.  Berdiri

Berdiri tetap sah meski dengan bersandar pada dinding. Rukun ini hanya berlaku pada sholat fardlu dan bagi orang yang mampu. Dalam berdiri badannya harus tegak, tidak boleh membungkukkan badannya sampai batas ruku’[3]

Adapun bagi orang yang tidak mampu berdiri, atau sangat sulit (masyaqqot), diperbolehkan melaksanakan sholat dengan posisi duduk[4]. Lebih afdholnya dengan dengan posisi ifdtirosy setelah itu posisi tarobbu’, lalu posisi tawarruq. Adapun untuk melaksanakan ruku’ caranya dengan merundukkan badan sekira bisa dibedakan dengan duduk tegak, sedangkan sujudnya, dilaksanakan sebagaimana biasa.

  • Apabila dia tidak mampu sholat dengan duduk maka dia diperbolehkan sholat dengan tidur miring pada lambung yang bisa menghadapkan wajah dan dada pada kiblat, namun tidur miring pada lambung yang kiri hukumnya makruh apabila tidak ada udzur.
  • Apabila tidak mampu, maka diperbolehkan sholat dengan tidur terlentang sedangkan kedua tapak kaki dihadapkan ke kiblat, selain itu juga wajib menghadapkan wajah kearah kiblat dengan mengganjal bagian bawah kepala dengan bantal atau lainnya. Untuk melaksanakan ruku’ dan sujud haruslah dibedakan dengan isyaroh menggunakan kepala, dalam arti ketika ruku’ kepalanya harus herus merunduk, begitu juga ketika sujud, akan tetapi kepalanya harus lebih merunduk dibanding ruku’.
  • Apabila tidak mampu sholat dengan posisi demikian, maka diperbolehkan menjalankan sholat dengan posisi yang mampu untuk dilakukan dan menjadikan mata sebagai isyaroh ketika barelih dari satu rukun ke rukun yang lain
  • Apabila masih tidak mampu isyaroh dengan mata, maka dia harus membayangkan gerakan sholat dalam hatinya saja.

Dari perincian diatas, dapat disimpulkan, bahwa selama orang itu masih mempunyai akal, dia tetap mempunyai kewajiban sholat dengan berbagai tata cara sebagaimana yang telah disebutkan.

Sholat dengan posisi bermacam-macam ini juga diperbolehkan dalam melakukan sholat sunat, bahkan tidak harus karena ada udzur, artinya dalam keadaan apapun dia boleh melakukan sholat sunnat dengan duduk ataupun tidur miring meskipun sebenarnya dia masih mampu sholat dengan berdiri atau duduk. Namun apabila dia melakukan dengan tidur miring, ketika melaksanakan ruku’ dan sujud ia harus duduk dan melakukannya seperti sholat dengan duduk.[5]

4. Membaca fatihah setiap rokaat.

Dalam membaca fatihah harus secara benar sesuai dengan ketentuan semestinya, karena apabila tidak membacanya dengan benar, fatihahnya dihukumi batal, apabila tidak diulangi maka sholatnya juga batal.

Untuk keabsahan fatihah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :

  • Meyakini bahwa basmalah termasuk ayat dari fatihah, sehingga harus dibaca
  • membaca secara benar huruf-huruf yang ada sesuai dengan makhrojnya dan tasydidnya
  • diantara ayat-ayat fatihah harus dibaca secara muwalah (berkesinambungan) tidak boleh ada yang memutus atau menyela, kecuali dengan bacaan lain yang ada mashlahatnya untuk sholat. [6]

5. ruku’

Dalam ruku’ paling tidak, ia harusa membungkukkan badan sekira kedua telapak tangannya bisa menyentuh lutut untuk ukuran orang normal (bukan orang yang tangannya terlalu panjang atau terlalu pendek).

Kesunahan-kesunahan dalam ruku’

Membaca takbir ketika mulai turun dengan mengangkat tangan nya sampai batas pundak (sebagaimana dalam takbirotul ihrom)

membungkukkan badan dan meratakan punggung dengan leher dan kepala, seolah-olah merupakan satu papan yang lurus, menegakkan kedua lutut dan menrenggangkan jari-jarinya serta memegang lutut, dan menghadapkannya ke arah kiblat

  • Kemudian membaca tasbih

سبحان ربي العظيم وبحمده

Minimal satu kali, atau bisa menambahinya sampai tiga atau tujuh bahkan sembilan kali.

Apabila sholat sebdirian atau menjadi imamnya ma’mum yang rela sholatnya diperpanjang, bisa menambahinya dengan do’a :

6. i’tidal

Caranya dengan kembali pada keadaan sebelum dia ruku’ yaitu berdiri, atau duduk bagi orang yang sholat dengan duduk.

Kesunahan-kesunahan dalam i’tidal

Mengangkat kedua tangan sampai batas pundaknya (sebagaimana dalam takbirotul ihrom) dimulai ketika mengangkat kepalanya seraya mengucapkan :

سمع الله لمن حمده

Setelah berdirir tegak, kemudian melepaskan kedua tangannya ke bawah dengan membaca :

Bagi orang sholat sendirian, bisa menambahinya dengan do’a :

Dalamk sholat subuh dan sholat witir pada 16 sampai 30 Romadlon disunahkan membaca do’a qunut. Pelaksanaannya pada I’tidal roka’at terahir. Adapun bacaan qunut dan sholawat sbb:

Apabila menjadi imam, dlomir ني dirubah menjadi نا contoh اهدني menjadi اهدنا dan seterusnya. Begitu juga dlomir لي dirubah menjadi لنا

Selain itu, disunahkan bagi imam untuk mengeraskan suara ketika membaca do’a dan bagi ma’mum yang mendengarkannya disunahkan mengamini dengan suara keras. Lain halnya apabila membaca tsana’ (kalimat pujian) bagi imam dan ma’mumdisunahkan membaca dengan suara lirih. Coba perhatikan kalimat diatas, yang bergaris bawah adalah tsana’ yang tidak bergaris bawah adalah do’a.

Bagi orang yang sholat sendirian dan ma’mum yang tidak mendengarkan qunut imam, disunahkan membacanya dengan suara lirih.

Menurut qoul shohih, ketika mebaca do’a qunut, disunahkan mengangkat tangannya. Dan setelah selesai, tidak disunahkan mengusapkan tangannya ke wajah.

7. sujud dua kali

Sujud adalah meletakkan kening pada tempat sholart dengan posisi pinggul lebih tinggi dari kepala, ketika sujud kening tidak boleh menempel pada bagian benda yang kita bawa, yang ikut bergerak jika kita bergerak.

Xontoh ; dalam sholat ia membawa sorban yang panjang sehingga ketika sujud, keingnya menempel pada ujung sorban tersebut, jika ujung sorbannya ikut bergerak disaat ia hendak berdiri maka sujudnya tidak sah, oleh karena itu, ia harus menyingkirkan sorban tersebut dan kembali meletakkan keningnya.

Kesunahan-kesunahan dalam sujud[7]

Membaca takbir ketika mulai turun tanpa mengangkat tangan

Lalu meletakkan kedua lutut dan kedua telapak kaki bagian dalam dengan sedikit direnggangkan serta menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat.

Lalu meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan pundaknya dalam keadaan terbuka dan dirapatkan serta menghadapkannya ke arah kiblat

Lalu meletakkan kening dan hidungnya pada tempat sujud

Kemudian membaca tasbih :

سبحان ربي الأعلى وبحمده

Minimal satu kali, atau bisa menambahinya sampai tiga, tujuh bahkan sembilan kali.

Apabila shlat sendirian atau menjadi imanya ma’mum yang rela sholatnya diperpanjang, biosa menambahinya dengan do’a :

8. duduk diantara kedua sujud

Yang disunatkan dalam duduk ini adalah dengan memakai posisi tawarruk sebagaimana dalam tahiyyat awal, yaitu dengan duduk pada tumit kaki kiri sekira bagian luarnya menempel pada tanah, kemudian meletakkan kedua telapak tangannya pada paha yang hampir sampai pada lutut sekira jemari tangannya sejajar dengan lutut, kemudian membaca doa ….

Catatan : duduk diantara dua sujud dan i’tidal merupakan rukun pendek, oleh karena itu pelaksanannya harus cepat-cepat, bahkan bisa batal sholatnya apabila dia terlalu lama

9. tuma’ninah

disetiap ruku’, sujud, duduk, dan i’tidal meskipun dalam sholat sunnah.

Adapun batasan tuma’ninah sekira seluruh anggota badannya sudah menetap sehingga sudah kelihatan lepas dari rukun yang telah ia jalani pada rukun yang sedang dia jalani

10. tahiyyat ahir.

minimal tahiyyat ahir adalah sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh imam syafii yaitu :…….

sebagaimana dalam fatihah, dalam tahiyyat pun harus memperhatikan dan membaca secara benar makhroj huruf dan tasydidnya, Oleh karena itu membaca أن لا اله dengan mengidzharkan nun menjadi an la ilaha bisa membatalkan tahiyyatnya, karena tasydidnya tidak terbaca, sebagaimana dia tidak mengidghomkan dal pada lafadz muhammad pada rosululloh terbaca muhammadan rosululloh.

dan wajib muwalah serta tidak boleh mengganti lafadz dalam tahiyyat meskipun dengan lafadz lain yang artinya sama. contohnya : mengganti nabi dengan rosul atau yang lain, muhammad diganti dengan ahmad atau lainnya.

Catatan: apabila tahiyyatnya dihukumi batal maka harus diulang sampai benar, apabila tidak maka dapat membatalkan sholatnya

11. membaca sholawat pada Nabi Muhammad SAW setelah tahiyyat.

Minimal solawat adalah :…..

Setelah itu disunatkan juga membaca sholawat pada keluarga Nabi, minimal dengan menambahi : واله setelah اللهم صل على سيدنا محمد

Adapun yang lebih sempurna membaca sholawat sebagaimana berikut :…

Setelah itu juga disunatkan membaca doa sebagai berikut :

Dua bacaan sunaah diatas tidak dianjurkan dalam tahiyyat awal karena tahiyyat awal harus dilakukan secara ringan, kecuali dia seorang ma’mum dan bacaanya sudah selesai sebelum imam.

Memakai doa yang diajarkan nabi lebih utama dan yang lebih utama adalah doa-doa yang telah diajarkan oleh ulama’ yaitu :

12. duduk karena malakukan tahiyyat, sholawat dan salam.

Dalam duduk disini disunatkan beberapa hal yaitu :

  • memakai posisi tawarruk (sebagaimana iftirosy, namun kaki kirinya dikeluarkan dari arah kaki kanan dan menempelkan pantatnya ditanah) apabila musholli memang dalam duduk terahir sebelum dia salam. Oleh karena itu duduk iftirosy tidak disunatkan bagi  ma’mum masbuk yang mengikuti imamnya dalam tahiyyat ahir dan musholli yang sedang dalam tahiyyat ahir namun dia hendak melakukan sujud sahwi, karena keduanya tidak dalam keadaan duduk sebelum salam.
  • Meletakkan kedua tangannya pada pinggir lututnya sekira sejajar dengan ujung jari-jarinya
  • Membuka tangan kiri dan merapatkan jari-jarinya
  • Menggenggam jari-jari tangan kanan selain jari telunjuk
  • Mengangkat jari telunjuk pada saat membaca الا الله
  • Membiarkan jari telunjuk tetap terangkat sampai dia berdiri atau salam
  • Memusatkan penglihatan pada jari tersebut

13. salam yang pertama. Minimal mengucapkan assalamu’alaikum

Apabila mengucapkan alaikum salam bahkan dengan salamun alaikum dengan nakiroh malah tidak bisa mencukupi, begitu juga salamulloh atau salami alaikum bahkan sholat nya batal kalau disengaja dan tahu bahwa hal tersebut haram.

Setelah salam pertama selesai, disunatkan 3 hal yaitu :

  • baca salam yang kedua meskipun tidak dilakukan imam. apabila setelah salam yang pertama tidak ada hal yang menafikan sholat seperti batal, keluarnya waktu jum’at dll, apabila ada, maka hukumnya haram.
  • menambahi warohmatulloh tanpa wabarokatuh pada dua salam tersebut.
  • menoleh sampai kelihatan pipi kanan dalam salam yang pertama dan pipi kiri dalam salam yang kedua.

14. tartib antara beberapa rukun yang telah disebutkan.

Dalam hal ini, apabila ada musholli sengaja tidak mengerjakan tartib yang semestinya maka hukumnya dibedakan menjadi dua bagian :

  • Apabila dalam rukun fi’li, misalnya dia sujud sebelum ruku’ maka sholatnya langsung dihukumi batal.
  • Apabila dalam rukun qouli maka tidak membatalkan sholat kecuali salam.

Adapun tartib dalam kesunatan sholat seperti bacaan surat setelah fatihah, doa setelah tahiyyat dan sholawat, itu hanya merupakan syarat agar apa yang telah dilakukan tergolong sunnah. Oleh sebab itu apabila musholli tidak mengerjakan secara tartib yang semestinya maka tidak sampai batal sholatnya namun apa yang dikerjakan tidak dianggap sunnah sholat.

Apabila musholli selain ma’mum lupa dalam tartib sholatnya dengan meninggalkan satu rukun, contohnya : dia sujud sebelum ruku’, atau ruku’ sebelum mambaca fatihah maka apa yang telah dilakukan dianggap sia-sia sehingga dia harus melakukan kembali mangerjakan apa yang telah dikerjakan dalam keadaan lupa, kalau dia ingatnya sebelum sampai rukun yang sama dengan yang ditinggal tadi, maka hendaknya dia melakukan rukun tersebut kalau dia tidak ingat setelah rukun misalnya maka …..

Apabila musholli ragu-ragu apakah sudah melakukan satu rukun atau belum, maka hukumnya dibagi dua :

  1. Apabila keraguannya sebelum melakukan rukun semisal yang dia lupa dari rokaat yang lain maka dia harus segera melakukannya tanpa menunda dengan mengerjakan yang lain.

Contoh : dalam keadaan ruku’ dia ragu apakah sudah membaca fatihah atau belum?, maka yang harus dilakukan adalah langsung kembali berdiri membaca fatihah dan meneruskan sholatnya seolah-olah dia belum melakukan ruku’,

  1. Kalau dia tidak ingat sampai dia melakukan rukun misalnya dalam rokaat yang lain maka cukuplah dia untuk tidak melakukan, namun apa yang telah dilakukan antara rukun setelahnya dengan rukun yang dia lakukan tadi dihukumi sia-sia.

Contoh : dalam keadaan membaca fatihah rokaat kedua dia ragu apakah pada rokaat pertama dia sudah membaca fatihah atau belum? Maka yang harus dilakukan adalah meneruskan sholatnya sebagaimana biasanya, namun dia harus menambahi satu rokaat karena rokaat pertama dianggap sia-sia.

Catatan : keterangan diatas, apabila musholli tahu rukun mana yang telah ditinggalkan dan letaknya, sedangkan apabila musholli lupa rukun mana yang ditinggalkan, maka hukumnya diperinci lagi :

  • Apabila ada kemungkinan rukun yang dia lupa adalah niat atau takbirotul ihrom maka sholatnya langsung dihukumi batal tanpa catatan dalam masa yang lama ataupun lewatnya rukun.
  • rukun tersebut adalah salam maka dia langsung bisa melakukan salam meskipun jaraknya sudah lama
  • Apabila ada kemungkinan rukun tersebut selain salam, niat dan takbir maka hendaknya dia mengambil kemungkinan terburuk, dan disesuaikan dengan apa yang harus dilakukan. kemudian dia menyusul sisa sholatnya yang belum dikerjakan.

Apabila orang tersebut adalah ma’mum yang tahu atau ragu terhadap bahwa dia meninggalkan fatihah, maka hukumnya diperinci sbb:

  • Apabila hal itu terjadi sebelum dia ruku’ atau imam ruku’, maka hendaknya dia langsung membaca fatihah tersebut kemudian dia mengejar ketertinggalannya sampai bisa menemui pergerakan imam.
  • Apabila dia sudah dalam keadaan ruku’ maka dia tidak diperbolehkan kembali untuk berdiri membaca fatihah namun mengikuti imamnya kemudian dia menambahi satu rokaat setelah imam salam.

Sutroh (Pembatas)

Sutroh atau pembatas disunatkan bagi orang sholat, baik sendirian maupun jamaah. Hal ini sangat dianjurkan agar …

لخبر أبي داود  اذا صلى احدكم فاليجعل امام وجهه شيئا فان لم يجد فالينصب معه عصا فان لم يكن معه عصا فليخط خطا ثم لا يضره ما مر امامه

Adapun bentuknya bermacam-macam, secara berururtan dapat diperinci sbb :

Benda yang tinggi tegak baik itu tembok, papan atau apapun yang tingginya 3 dliro’ atau lebih banyak dan jarak antara musholli adalah 3 dliro’ atau lebih dekat,

kalau tidak ada maka bisa dilakukan dengan menancapkan semisal tongkat atau barang apapun

kalau tidak ada maka disunatkan membentangkan semisal sajadah sebagai tempat sholat,

kemudian menggarisi tempat sholatnya dengan panjang dan lebar 3 dliro’ dan ini lebih utama

Catatan : bentuk-bentuk sutroh yang telah disebutkan diatas disunatkan secara tartib, oleh karena itu apabila musholli masih mempunyai sutroh yang lebih baik maka harus digunakan, sebaliknya apabila dia menggunakan yang tidak lebih baik padahal masih ada yang lebih baik maka dianggap dia tidak memakai sutroh.

Beberapa hal yang terkait dengan permasalahan sutroh :

  • Sutroh tersebut hendaknya tidak hanya berada didepan wajah musholli, namun disampingnya juga.
  • Setiap shof merupakan sutroh bagi shof dibelakangnya apabila jaraknya berdekatan, bahkan menurut imam baghowi, sutroh imam merupakan sutroh ma’mum yang di belakangnya.
  • Apabila musholli sudah memakai sutroh yang telah memenuhi syarat, maka hendaknya dia melarang orang lain yang akan lewat didepannya. Sebaliknya bagi orang lain diharomkan melewati tempat antara musholli dengan sutrohnya. Hal ini apabila musholli tidak dianggap sembrono dalam menempati tempat sholatnya, dan apabila dia sembrono seperti berada di tempat lewatnya orang, atau dishof yang jauh dengan shof depannya maka, diperbolehkan bagi orang lain untuk menerobos shofnya untuk sholat dishof depannya.
  • Apabila seorang musholli hanya memilih salah satu dari dua fadhilah sutroh, shof awal, menurut qoul ulama’ lebih baik mendahulukan shof awal.

Hal-hal yang dimakruhkan bagi musholli :

  • Nolah-noleh bahkan ada yang mengatakan harom kecuali apabila ada hajat atau sekedar melirik dengan matanya saja.
  • Memandang langit, atau pakaian yang bergambar atau yang bisa menarik perhatian karena akan menjadikan dia tidak khusu’
  • Meludah kecuali kearah kiri
  • Terbukanya kepala dan mata kaki

……

  • Menahan hadats baik kentut kencing maupun berak, karena berdasarkan nash hadits selain itu karena bisa menghilangkan khusyu’. Oleh karena itu disunatkan sebelum sholat menyelesaikan semua hajatnya, meskipun akan menjadikannya ketinggalan jama’ah, namun apabila ditengah sholat dia merasakan hajat tersebut, dia tetap tidak diperbolehkan mengganti sholat fardlunya dengan sholat sunnah, begitu juga mengahirkan sholat fardlu, untuk mendatangi hajatnya apabila waktunya sudah mepet. Adapun hukum makruh tersebut apabila dia merasakanya ketika dalam keadaan takbirotul ihrom
  • Sholat ketika makanan sudah dihidangkan
  • Sholat ditengah jalan umum, dan ditempat pemungutan pungutan liar
  • Dikuburan apabila tidak ada kejelasan kuburan tersebut telah digali
  • Memakai sesuatu yang dighosob, baik tempat, pakaian maupun yang lain

Perkara-perkara yang membatalkan sholat :

  • Niat memutus
  • Menggantungkan putusnya sholat dengan sesuatu meskipun muhal terjadi, bukan karena waswas yang terpaksa
  • Perbuatan yang banyak secara yakin yang bukan dari jenis sholat apabila dilakukan dari orang yang tahu keharamannya atau orang yang bodoh yang tidak udzur dan berkali-kali menurut urf, berbeda yang sedikit seperti dua  langkah meskipun panjang apabila tanpa meloncat, dua pukulan, tapi apbila dia menyengaja tiga kali loncatan namun baru melakukan satu loncatan atau melakukan tiga kali maka batal sholatnya.
  • Banyak yang terpisah-pisah adalah sekira dianggap terputus-putus semuanya dari yang sebelumnya. Meskipun karena dia lupa
  • Adapun batasannya banyak adalah seperti tiga langkah yang berkali-kali meskipun  sekadar satu langkah

SEKIAN

TERIMA KASIH


[1] sebenarnya kewajiban menyertakan takbir dengan niat harus dilakukan secara haqiqiyyah yaitu membarengkan awal dari niat dengan awal takbir dan terus berkelanjutan sampai akhir niat yang bersamaan dengan akhir takbir pula. Namun karena praktek tersebut dirasa sulit bagi orang awam, menurut Imam Nawawi dll cukup dengan muqoronah urfiyyah yaitu yang penting ada bagian dari niat yang dibarengkan dengan bagian dari takbir

[2] Membaca do’a iftitah disunahkan selama belum membaca ta’awwudz apabila telah membacanya, tidak disunahkan membaca iftitah

[3] Batasan ruku’ adalah membungkukkan badan dengan sekira kedua telapak tangan bisa menyentuh lutut

[4] Munurut Imam Haromain masyaqqot disini kriterianya sekira sholatnya tidak khusu’

[5] Sedang menjalankannya dengan posisi tidur terlentang, hanya diperbolehkan apabila dia sudah tidak mampu menjalankannya dengan posisi tidur miring

[6] Hal yang menjadikan fatihah terputus adalah :

a         Diam dalam waktu lama dengan sengaja dan tahu bahwa hal tersebut haram atau diam dalam waktu pendek namun bertujuan untuk memutuskan fatihah. Bukan seperti diam karena menghela  nafas, batuk, bersin dll.

b         Menyela diantara ayat-ayat fatihah dengan kalimat lain yang tidak ada maslahahnya dengan sholat, seperti mambaca hamdalah ketika bersin (meskipun disunahkan diluar sholat). Lain halnya apabila kalimat tersebut, ada masslahahnya dengan sholat, contoh :

Membaca amin untuk menyambut fatihahnya imam

Membaca do’a rohmat ataudo’a mohon perlindungan, ketika imam membaca ayat-ayat yang menceritakan turunya rohmat atau turunnya adzab.

Membaca tasbih untuk mengingatkan imam yanglupa terhadap bacaannya.

[7] Bagi laki-laki disunahkan merenggangkan perut dari kedua pahanya, dan merenggangkan siku dari kedua lambungny. Sedangkan bagi selain laki-laki sunah untuk merapatkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: