Back Understanding of Sujud


Back Understand of SUJUD

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

  Pendahuluan

Apa itu sujud ? jawabannya tentu amatlah ma’lum bagi kita karena biasa kita lakukan dan telah diterangkan dalam bab sholat, tapi perlu kita ketahui bahwa sujud merupakan salah satu bentuk ibadah, sedangkan ibadah itu haruslah sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan dalam islam. Teknis dan tata cara sujud, sebagaimana yang kita ketahui, pada dasarnya hanya satu bentuk, namun nama dan status hukumnya berbeda-beda karena latar belakang atau penyebabnya berlainan, secara terperinci jumlahnya hanya ada empat yaitu :

  1. sujud dalam rukun sholat
  2. sujud sahwi
  3. sujud tilawah
  4. sujud syukur

Selain sujud diatas tidak boleh kita lakukan atas nama sujud, karena jika kita lakukan atas nama sujud sama halnya kita melakukan ibadah yang tidak di syariatkan dalam islam, namun boleh kita lakukan tidak atas nama sujud, seperti sujud setelah mujahadah, boleh kita lakukan dangan tujuan Tadzallul ( merendahkan diri di hadapan Allah ), dan kita tidak perlu merasa heran dengan hal itu, karena memang banyak pekerjaan yang yang apabila diniati, statusnya menjadi berbeda, ambil contoh mandi, ada yang merupakan hal biasa, namun ada yang statusnya mandi sunnah bahkan wajib, padahal kalau kita teliti, nyaris tak ada bedanya karena prakteknya sama yaitu membasuh anggota badan dengan air, yang membedakan hanyalah niat sebelumnya.

Dalam bab sholat, telah kita pahami tata cara sujud yang merupakan rukun sholat, baik syarat-syarat, dzikiran maupun sunah-sunahnya, oleh karena itu kita langsung membahas jenis sujud yang kedua yaitu sujud sahwi.

 Sujud Sahwi

Sujud sahwi adalah sujud yang disunahkan karena seorang musholli lupa atau ragu telah mengerjakan atau tidak mengerjakan hal-hal tertentu.

Pengertian diatas sebenarnya bukan merupakan definisi yang otentik dalam sujud sahwi, melainkan hanya pengertian sekilas melihat dari ma’na sahwi yang berarti lupa, karena dalam kenyataannya, sujud sahwi juga dianjurkan karena musholli sengaja tidak mengerjakan hal-hal tertentu, sebagaimana keterangan selanjutnya.

Dasar kesunahan sujud sahwi adalah sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyai :

 إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فيِ صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ أَثَلاَثاً صَلَّي أَمْ أَرْبَعاً فَلْيُلْغِ الشَّكَّ وَلْيُبْنِ عَلَى اليَقِيْنِ وَيَسْجُدُ سَجْدَتيَ السَّهْوِ وَهُوَ جَالِس.

 Artinya : Tatkala seseorang dari kalian ragu dalam sholatnya apakah ia telah melakukan tiga raka’at atau empat raka’at maka buanglah keraguan tersebut dan lanjutkanlah sholat dengan mengambil apa yang pasti adanya ( yaitu tiga raka’at ) dan sujudlah dua kali di waktu ia duduk dalam sholatnya ( duduk tasyahud akhir ).

Dari hadits diatas, apabila dalam keadaan sholat, kita timbul keraguan, hendaknya kita harus segera membuang keraguan tersebut dengan cara memilih apa yang dianggap pasti adanya, apabila keraguan itu tentang jumlah roka’at yang telah kita kerjakan, apakah tiga atau empat maka harus memilah tiga bukan empat, karena tiap kali kita menginjak bilangan yang lebih banyak, pasti kita yakin telah melewati bilangan sebelumnya yang lebih kecil.

Dalam sujud sahwi, terdapat tiga sub pembahasan yaitu :

penyebab disunahkannya sujud sahwi

teknis dan tata cara

Letak (waktu) sujud sahwi

Penyebab sujud sahwi

Sebenarnya ada banyak hal yang menyebabkan di sunahkannya sujud sahwi, tapi bisa kita rangkum menjadi tiga bagian pokok.

  1. Meninggalkan salah satu sunah ab’adl atau ragu dalam hal itu
  2. Lupa telah mengerjakan hal yang bisa membatalkan sholat jika di sengaja.
  3. Ragu dalam suatu rukun atau roka’at apakah ia telah melakukannya atau belum .

Uraian

  1. Meninggalkan salah satu sunah ab’adl atau ragu dalam hal itu

Secara rinci, sunnah ab’adl jumlahnya ada tujuh yaitu :

  1. Qunutnya sholat subuh dan sholat witir pada pertengahan kedua bulan ramadhan
  2. Membaca sholawat serta salam kepada Rasulullah SAW, keluarga dan sahabatnya dalam qunut[1].
  3. Berdiri selama kadar waktu cukup untuk membaca qunut atau sholawat didalamnya bagi yang tidak mampu melakukannya
  4. Mambaca tasyahhud awal
  5. Sholawat kepada nabi dalam tasyahhud awal
  6. Sholawat kepada keluarga Nabi dalam tasyahhud akhir
  7. Duduk selama waktu yang cukup untuk membaca kalimat-kalimat tasyahhud bagi yang tidak mampu membacanya.

Lupa atau ragu dalam melakukan perkara yang bisa membatalkan sholat jika disengaja.

Contoh : bicara sedikit dalam sholat, menambah gerakan, baik berupa pekerjaan sholat atau bukan dsb[2]

  1. Ragu-ragu  apakah sudah melakukan atau belum melakukan rukun fi’ly

Contoh : seseorang yang ragu apakah dia telah melakukan tiga rokaat atau empat rokaat, selama masih ada keraguan dihatinya wajib baginya menambah satu rokaat lagi dan disunatkan sujud sahwi sebelum salam. Jika dia ingat bahwa sebenarnya dia telah melakukan tiga rokaat sebelum dia berdiri untuk menambah satu rokaat lagi maka tidak disunatkan baginya melakukan sujud sahwi dan dia harus melanjutkan sholat sesuai dengan apa yang dia ingat[3].

Teknis dan Tata Cara Sujud Sahwi

Waktu pelaksanaan sujud sahwi terletak pada tahiyyat terahir menjelang salam, sedangkan teknis pelaksanaannya sama persis dengan sujud dalam sholat, baik dalam syarat-syarat, jumlah yang dikerjakan ( dua kali ) maupun do’a, namun menurut sebagian ulama’, do’a yang dianjurkan dalam sujud sahwi adalah:

سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَسْهُوْ[4]

 Sedangkan do’a yang dibaca ketika duduk diantara dua sujud sahwi adalah :

Sujud Tilawah

Sujud tilawah adalah sujud yang dianjurkan ketika musholli membaca atau mendengarkan ayat sajdah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar RA

عَن ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا القُرْآنَ فَإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ كَبَّرَ وَسَجَدَ وَسَجَدْنَا مَعَهُ (رواه ابو داود والحاكم)

Artinya : dari Ibnu Umar diriwayatkan bahwa Rosululloh SAW suatu ketika membacakan al qur’an kepada kami ketika beliau telah selesai membaca ayat sajdah beliau takbir lalu bersujud dan kami pun ikut bersujud bersamanya

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ini adalah dasar utama disunatkanna sujud tilawah. Hadits inipun didukukung dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan bunyi :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اِعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُولُ يَاوَيْلَتَا اُمِرَ ابْنُ آدَمَ فَسَجَدَ فَلَهُ الجَنَّةُ وَاُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَعَصَيْتُهُ فَلِيَ النَّارُ

Artinya : Rosululloh bersabda ketika Ibnu adam membaca ayat sajdah lalu dia melakukan sujud, sambil menangis syaitan akan menjauh darinya seraya berkata : aduh sedihnya aku Ibnu Adam diperintahkan bersejud lalu dia bersejud maka baginyalah surga sedangkan diprintahkan kepdaku bersujud tapi aku menolaknya tentu bagikulah neraka.

 Dalam sujud tilawah ada tiga sub pembahasan yaitu:

|  Orang-orang yang disunatkan sujud tilawah

|  Syarat-syarat sujud tilawah

|  Cara-cara sujud tilawah

Orang yang disunatkan sujud tilawah ada dua :

  1. Orang yang membaca ayat sajdah baik didalam sholat atau sholat
  2. Orang yang mendengarkan ayat sajdah baik sengaja mendengarkannya ataupun tidak, baik yang membacanya itu melakukan sujud tilawah ataupun tidak.

Bagi imam dan munfarid (orang yang sholat sendirian) tidak boleh sujud tilawah ketika mendengar ayat sajdah yang dibaca orang lain. Mereka boleh sujud tilawah jika mereka sendiri yang membaca ayat sajdah sedangkan bagi ma’mum boleh melakukan sujud tilawah jika bersamaan dengan imamnya

  1. syarat-syarat sujud tilawah sama dengan syarat-syaratnya sholat:
  1. Suci dari hadats dan najis baik pakaian, tempat maupun badan
  2. Menutup aurot
  3. Menghadap kiblat
  4. Telah selesai membaca ayat sajdah atau telah selesainya ayat sajdah yang dia dengarkan

Syarat-syarat sujud tilawah.

Sujud tilawah adakalanya dilakukan dalam sholat dan adakalanya dilakukan diluar sholat. Langkah-langkah melakukan sujud tilawah diluar sholat adalah:

  1. niat melakukan sujud tilawah dibarengi dengan takbir pembuka sambil mengangkat kedua tangan. Lafadz niatnya seperti ini :

نَوَيْتُ سَجْدَةَ التِّلاَوَةِ سُنَّةً للهِ تَعَالىَ

Artinya : saya niat melakukan sujud tilawah

  1. takbir untuk sujud tanpa mengangkat kedua tangan
  2. bangun dari sujud sambil takbir tanpa mengangkat kedua tangan
  3. salam

adapun bacaan dalam sujud tilawah adalah :

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ الَّلهُمَّ اكْتُبْنِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا وَاجْعَلْهَا ليِ عِنْدَكَ دُخْرًا وَضَعْ عَنيِّ بِهَا وِزْرًا وَاقْبَلْهَا مِنِّي كَمَا قَبِلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَم

Atau boleh juga  membaca bacaan sebagaimana sujud dalam sholat.

Adapun sujud tilawah dalam sholat, itu harus dilakukan setelah selesai membaca ayat sajdah kemudian takbir untuk sujud, tanpa mengangkat kedua tangan lalu membaca doa diatas, kemudian bangun dari sujud disertai dengan takbir tanpa mengangkat kedua tangan dan tidak disunatkan duduk istirahat terlebih dahulu. Jika musholli tidak melakukan sujud tilawah dalam sholatnya maka ia disunatkan melakukan sujud tilawah setelah selesai sholatnya.

  SUJUD SYUKUR

Pengertian

Sujud syukur adalah sujud yang sunnah dilaksanakan karena seseorang mendapat keni’matan yang tak terduga atau terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Dasar pencetusan hukum sujud syakur adalah hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرٌ يَسُرُّ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا

Artinya : Rasululloh SAW apabila datang padaNya suatu hal yang menggembirakan, beliau lalu melakukan sujud (syukur)

Sujud syukur bukanlah salah satu dari rangkaian pekerjaan sholat karena penyebabnya tidak berkaitan dengan sholat, oleh karena itu apabila dilakukan didalam sholat secara sengaja dan tahu bahwa hal tersebut haram maka sholatnya batal.

 Sebab-sebab disunahkan sujud syukur

  1. Mendapatkan keni’matan baik baginya atau anaknya atau orang mu’min secara keseluruhan

Contoh : lahirnya anak, mendapatkan hadiah, jabatan baru, datangnya orang yang lama dinanti, sembuh dari penyakit dll.

  1. Terhindar dari mara bahaya atau musibah seperti selamat dari kebakaran, tenggelam atau mendapatkan pertolongan dari aniaya musuh.
  2. Melihat orang yang terkena cobaan maupun musibah secara fisik atau mental
  3. Melihat orang melakukan kema’siatan secara terang-terangan[5]

Syarat-syarat untuk penyebab sujud syukur :

  1. Keni’matan yang didapatkan atau selamat dari musibah tersebut, tidak selalu ia dapatkan atau jumpai (secara tiba-tiba). Apabila ni’mat tersebut selalu ia jalani (istimror) maka tidak disunahkan sujud syukur, karena akan menjadikan ia mendapatkan tuntutan sujud sepanjang usia. contoh ni’mat beragama islam, kaya atau sehat.
  2. Ni’mat tersebut merupakan hal yang nampak. Apabila tidak nampak, maka tidak disunahkan melakukan sujud syukur. Contoh : ma’rifat pada Allah, tidak diketahui kesalahannya dsb
  3. Keni’matan tersebut halal ia peroleh. Oleh karena itu, menang judi atau mendapatkan togel tidak disunahkan melakukan sujud syukur.

Catatan

Sujud-sujud diatas sunah diperlihatkan pada orang lain kecuali  apabila akan menjadikan orang lain tersinggung. Seperti melakukan sujud karena terlahirnya anak dihadapan orang yang tidak bisa melahirkannya, atau dinaikkan pangkat dihadapan orang yang jabatannya diturunkan dsb.

Setelah melakukan sujud syukur, disunahkan bersodaqoh

Tidak sunah mengulang-ulang sujud syukur sampai tidak terbatas, kecuali apabila ada hal baru yang lebih penting yang menuntut ia melakukan sujud syukur.

Adapun teknis, syarat maupun kesunahannya sama dengan sujud tilawah.


[1] Apabila musholli meninggalkan ataupun ragu mengenai salah satu hal di atas maka ia di anjurkan melakukan sujud sahwi, misalnya kita tidak membaca qunut atau tidak membaca sholawat kepada Rasulullah baik lupa atau di sengaja atau tidak membaca sholawat kepada keluargaNya  maka kita disunatkan melakukan sujud sahwi)

[2] Lain halnya bila hal tersebut merupakan sesuatu yang jika dilakukan bisa membatalkan sholat baik sengaja ataupun tidak.

Contoh: banyaknya bicara dalam sholat bisa membatalkan sholat baik disengaja ataupun tidak berarti jika lupa melakukannya tidaklah disunatkan sujud sahwi karena sholatnya telah batal

[3] Jika seseorang melakukan sujud lalu dia ragu apakah sujud yang di lkukan adalah sujud yang pertama atau sujud yang kedua maka dia harus nalakukan sujud satu kali lagi dan sunat malakukan sujud sahwi

[4] Apabila ia tidak melakukan suatu hal dengan sengaja sehingga menyebabkan disunnahkan melakukan sujud sahwi, menurut sebagian ulama’, do’a yang semestiya dibaca waktu sujud sahwi adalah : أستغفر الله العظيم

[5] Ma’siat diatas tidak harus berupa dosa besar. Tujuan disunahkannya sujud ketika melihat hal-hal diatas, adalah sebagai manifestasi syukur terhadap tuhan yang telah mentakdirkannya tidak melakukan ma’siat seperti yang dia lihat yang merupakan suatu musibah besar dalam agama dan madlorrotnya (petakanya) lebih besar. Sujud disini sunah diperlihatkan pada pelaku ma’siat tersebut, dengan harapan agar pelaku tersebut tersentuh nuraninya sehingga mau bertaubat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: