JIHAD, HOLY WAR & TERORISME


JIHAD, HOLY WAR & TERORISME

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

A.     Latar Belakang

Istilah jihad, holy war (perang suci) dan terorisme sekarang sudah menjadi bahan perbincangan utama dalam kehidupan kita belakangan ini. Ketiga istilah tersebut mencuat terutama sejak rentetan aksi kekerasan yang terjadi enam tahun terakhir ini. Tragedi 11 September 2001, pemboman WTC di AS oleh para pelaku yang disebut teroris adalah awal dari semuanya. Selanjutnya banyak tragedi yang terjadi di Indonesia sendiri seperti Bom Bali tahun 2002, Bom J.W. Marriott tahun 2003, Bom Kuningan tahun 2004 dan lain-lainnya. Terjadinya berbagai tragedi tersebut, istilah jihad, holy war dan terorisme menjadi topik utama khususnya dimuat di media massa.

Para pelaku yang dianggap teroris oleh banyak kalangan menyebut dirinya berjihad memerangi orang kafir dengan aksi-aksinya yang berani (ex: bom bunuh diri). Dari sini istilah jihad konotasinya menjadi sarat akan kekerasan fisik, pembantaian, pembunuhan dan teror. Jihad diidentikkan dengan terorisme, imbasnya Islam dicap sebagai agama teroris. Kekeliruan pemahaman ini bisa saja disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat mengenai Islam, tetapi tidak tertutup kemungkinan karena sebagian Muslim justru melakukan jihad melalui aksi-aksi terorisme. Padahal antara jihad dan terorisme jelas terdapat perbedaan yang sangat mendasar.

Aksi-aksi terorisme yang terjadi tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan sarana fisik, tetapi juga rusaknya citra bangsa dan umat Islam khususnya yang terjadi di Indonesia. Mereka yang tidak menyukai Islam semakin keras menyuarakan kebencian dan stigmatisasi bahwa Islam adalah agama teroris. Lebih dari itu, mereka yang tidak memahami Islam di Indonesia dengan mudah menuduh lembaga-lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren dan madrasah sebagai sarang teroris. Hal itu karena beberapa pelaku yang terbukti terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, dalam aksi-aksi terorisme memang pernah belajar di pesantren tertentu. Dengan dalih itulah, muncul kesimpulan bahwa pesantren adalah sarang teroris.

Kekeliruan pemahaman ini sudah sangat jauh dan sangat perlu untuk diluruskan. Tak ada satu pun agama di dunia ini yang melegitimasi, apalagi mengajarkan bahwa kekerasan sebagai cara yang absah untuk meraih tujuan. Justifikasi terhadap agama atas berbagai kejadian teror misalnya, oleh sekelompok orang tertentu, jelas salah. Ini tampaknya berpangkal dari kesalahan menangkap dan memahami pesan agama, apa pun namanya, bahwa kekerasan, apa pun bentuknya, tak dapat ditolerir dan karenanya mesti dikikis hingga ke akar-akarnya. Sebab, ia tidak saja merugikan kehidupan sosial manusia dalam jangka pendek, tetapi juga dalam jangka panjang.

Jihad, holy war dan terorisme mempunyai makna sendiri-sendiri yang satu sama lain berbeda. Dan itu penting bagi kita untuk memahaminya lebih jauh sehingga tidak terjadi kekeliruan pemahaman lagi. Untuk itu makalah ini saya buat semoga bermanfaat bagi semua pihak. Sekali lagi, kekerasan selamanya adalah terkutuk, dan karenanya, kita memiliki tanggung jawab untuk mencegahnya. Wallahu A’lam.

B.      Jihad

Jihad merupakan salah satu ajaran Islam yang sangat penting. Jihad adalah amalan yang paling utama setelah rukun Islam. Jihad merupakan bagian yang tak terpisahkan dari iman. Kuat atau lemahnya iman seseorang bisa diukur dari keberanian dan kesabarannya berjihad di jalan Allah. Rasulullah SAW dan para sahabatnya menjadikan jihad sebagai spirit menegakkan syariat Islam. Para pejuang kemerdekaan di negara-negara muslim mengobarkan semangat jihad melawan penjajahan yang bertentangan dengan tauhid, tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan. Dengan semangat jihad, para pahlawan kemerdekaan Indonesia yang mayoritas adalah para ulama dan tokoh muslim telah melawan penjajahan yang menimbulkan penderitaan, kebodohan dan kemiskinan rakyat.

Sayangnya, jihad sebagai ajaran Islam yang suci telah mengalami pergeseran makna dan pengamalannya. Beberapa tokoh muslim menyalahgunakan jihad sebagai dalih untuk melakukan tindakan kekerasan, terorisme, seperti bom bunuh diri yang telah dilegalkan oleh kelompok-kelompok muslim ekstrim.

Pemahaman jihad yang keliru itu sudah seharusnya diluruskan. Aksi-aksi yang mengatasnamakan jihad yang keliru tersebut sudah jelas menodai kesucian jihad dan mencoreng wajah Islam yang damai.

Pengertian Jihad Menurut Islam

Al-Qur’an menyebut kata jihad dalam sejumlah ayat. Kurang lebih 41 ayat yang tersebar dalam Mushaf al-Qur’an. Secara bahasa (etimologi) ia berasal dari kata “juhd” atau “jahd”. Arti leterernya adalah kesungguhan, kemampuan maksimal, kepayahan dan usaha yang sangat melelahkan. Dari kata ini juga terbentuk kosa-kata “ijtihad”. Tetapi yang terakhir ini lebih mengarah pada upaya dan aktifitas intelektual yang serius dan melelahkan. Dalam terminologi sufisme juga dikenal istilah “mujahadah”, sebuah usaha spritual yang intens, bahkan mungkin sampai pada tingkat ekstase. Orang yang berjuang di jalan Allah dengan sungguh-sungguh disebut mujahid atau mujahidin untuk orang banyak. Jadi secara bahasa jihad berarti bekerja keras, bersungguh-sungguh, mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah atau mencapai tujuan yang mulia.

Dalam terminologi Islam, jihad diartikan sebagai perjuangan dengan mengerahkan seluruh potensi dan kemampuan manusia untuk sebuah tujuan. Pada umumnya tujuan jihad adalah kebenaran, kebaikan, kemuliaan dan kedamaian. Menurut Fakhr al-Din al-Razi, jihad diarahkan untuk menolong agama Allah, tetapi bisa juga diartikan sebagai perjuangan memerangi musuh.

Dalam hukum Islam, jihad adalah segala bentuk maksimal untuk penerapan ajaran Islam dan pemberantasan kezaliman, baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat dengan tujuan mencapai rida Allah Swt. Dalam pengertian luas, jihad mencakup seluruh ibadah yang bersifat lahir dan batin dan cara mencapai tujuan yang tidak kenal putus asa, menyerah, kelesuan, dan pamrih, baik melalui perjuangan fisik, emosi, harta benda, tenaga, maupun ilmu pengetahuan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Selain pengertian jihad di atas, ada juga pendapat dari beberapa ahli mengenai pengertian jihad, seperti:

1.   Menurut Ibn Jarir : Jihad menurut bahasa berarti bersusah-susah, sedangkan menurut syara’ mengandung pengertian: berpayah-payah mengeluarkan kemampuan dalam memerangi orang kafir.

2.   Menurut Abul A’la al Maududy : Pengertian jihad yang mendekati kebenaran ialah mencetuskan kekerasan daya upaya seseorang dalam mewujudkan suatu niat.

3.   Menurut Abul Hasan an-Nadwy : Jihad berarti  mencurahkan seluruh daya upaya dalam batas-batas maksimal di dalam mengejar tujuan pokok dan terpenting.

4.   Menurut Sayyid Sabiq : Jihad berasal dari kata aljuhd yaitu upaya dari kesulitan. Artinya meluangkan segala usaha  dan berupaya sekuat tenaga serta menanggung segala kesulitan di dalam memerangi musuh dan melawan agresinya.

Sebenarnya kalau kita melihat uraian-uraian di atas bahwa pengertian jihad itu luas sekali. Jihad adalah konsep dengan banyak aspek. Jihad itu meliputi perjuangan dalam seluruh aspek kehidupan. Jihad adalah mengerahkan segala kemampuan untuk menangkis serangan dan menghadapi musuh yang tidak tampak yaitu hawa nafsu setan dan musuh yang tampak yaitu orang kafir yang memusuhi Islam. Jihad dalam pengertian ini tidak hanya mencakup pengertian perang melawan musuh yang memerangi Islam tetapi lebih luas lagi, jihad berarti berusaha sekuat tenaga dan kemampuan untuk mengalahkan nafsu setan dalam diri manusia. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan jihad.

Meskipun demikian tidak dapat ditolak bahwa jihad dalam al-Qur’an juga bisa berarti perang atau perjuangan dengan cara-cara kekerasan dan bersenjata, utamanya terhadap orang-orang “kafir”. Sebenarnya ada sejumlah kata dalam bahasa Arab yang paling spesifik untuk menunjuk arti perang, meski dengan nuansa yang berbeda. Antara lain qital, harb, siyar dan ghazwah. Ada sejumlah ayat al-Qur’an yang berbicara tentang perang terhadap orang-orang kafir, baik dengan kata jihad sendiri maupun dengan kata qital. Misalnya dijelaskan dalam surat Al Taubah: 41:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ  (التوبة :41)

“Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui” (QS., Al Taubah: 41(

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (التحريم :9 )

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS., Al Tahrim: 9(

Hampir seluruh ayat-ayat perang diturunkan sesudah Nabi saw hijrah ke Madinah atau yang dikenal dengan ayat-ayat Madaniyah. Pengertian khusus mengenai jihad ini, yakni “memerangi kaum kafir untuk menegakkan Islam”, makna inilah yang sering dipakai oleh sebagian umat Islam dalam memahami jihad.

Mengidentikkan jihad hanya dengan semata-mata perjuangan fisik dan perang tidak tepat. Ini merupakan penyempitan makna jihad. Harusnya jihad kita pahami sebagai pengerahan segenap kemampuan untuk menegakkan kalimatullah dan membangun maslahat di muka bumi. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melalui jalur pendidikan, dakwah, saling menasehati dan lain sebagainya.

Perang yang berlangsung pada waktu Nabi Saw. selama periode Madinah tidak bisa disamakan dengan sekarang. Pada waktu umat Islam berperang untuk membela agama Islam dan melangsungkan hidup dari serangan kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya. Jadi kalau kita kaitkan dengan konteks jaman sekarang tidak pas dan salah. Sebab aksi-aksi yang terjadi beberapa tahun terakhir ini banyak menimbulkan kerusakan dan korban jiwa yang tidak berdosa. Dan hal itu tidak dibenarkan karena melampaui batas, seperti dijelaskan dalam firman Allah surat Al Baqarah: 190:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (البقرة : 190 )

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”  (QS. Al Baqarah : 190)

Ayat di atas sudah cukup menjelaskan bahwa kita diperintah memerangi orang yang memerangi kita dan tidak boleh melampaui batas. Kalau yang terjadi akhir-akhir ini jelas melampaui batas, menyebabkan kerusakan dan keresahan penduduk.

Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa jihad adalah usaha yang sungguh-sungguh dengan segenap kemampuan untuk mencapai tujuan yang luhur di jalan Allah. Jihad dapat dilakukan dengan bekerja keras melawan hawa nafsu yang menghancurkan dan menjerumuskan manusia kepada kebinasaan. Jihad dalam bentuk perang diijinkan oleh Allah demi menjaga kehormatan, harkat dan martabat manusia dan kaum muslimin.

Bentuk-Bentuk Jihad

Jihad sebagai salah satu wujud pengamalan ajaran Islam dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialami oleh umat Islam. Dalam situasi kaum muslimin mengalami penindasan, jihad dapat dilakukan dalam bentuk peperangan untuk membela diri. Tetapi, dalam situasi damai jihad dapat dilakukan dalam bentuk amal shalih seperti menunaikan ibadah haji, membantu fakir-miskin, berbakti kepada orang tua, rajin belajar dan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar.

Ada beberapa macam jihad, diantaranya: a) jihadun nafsi, b) haji adalah jihad, c) jihad dengan lisan, d) berjalan di atas muka bumi adalah jihad, e) jihad dengan harta, dan f) jihad dengan pengadaan alat-alat perang.

Dalam Hadits telah dijelaskan mengenai jihad berupa haji yang mabrur, bahkan merupakan jihad yang utama khususnya kaum wanita:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا خَالِدٌ أَخْبَرَنَا حَبِيبُ بْنُ أَبِي عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ طَلْحَةَ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ أَفَلَا نُجَاهِدُ قَالَ لَا لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ (رواه امام بخاري)

“Abdurrahman bin al mubarak menceritakan  kepadaku, Kholid menceritakan padaku, Habib bin Abi Amrah menceritakan padaku dari Aisah binti Talhah, dari Aisah Umi al Mu’minin RA, sesungguhnya dia berkata, hai Rasulullah saya melihat jihad itu lebih utamanya amal, apakah aku tidak boleh jihad, nabi menjawab tidak. Tetapi utamanya jihad itu haji mabrur.” (HR. Imam Bukhory)

Menurut Ar-Raghib Al-Isfahani, “sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab”, jihad terdiri dari tiga macam, yaitu:

1.   Jihad menghadapi musuh yang nyata, yaitu mereka yang secara jelas-jelas memerangi umat Islam, seperti kaum Quraisy yang mengerahkan segenap kemampuannya untuk memangkas keberlangsungan komunitas umat Islam;

2.   Jihad menghadapi setan, dilakukan dengan cara tidak terpengaruh segala bujuk rayunya yang menyuruh manusia membangkang kepada Allah Swt.;

3.   Jihad melawan hawa nafsu, inilah jihad terbesar dan paling sulit. Nafsu yang ada pada tiap diri manusia selalu mendorong pemiliknya untuk melanggar perintah-perintah Allah Swt., dengan tetap setia menjalankan perintah-Nya, berarti umat Islam berjihad melawan hawa nafsu.

Menurut Ibnu Qayyaim, dilihat dari segi pelaksanaannya, jihad dibagi menjadi tiga bentuk:

  1. Jihad muthlaq; perang melawan musuh dalam medan pertempuran. Jihad dalam bentuk perang ini mempunyai persyaratan tertentu, di antaranya perang harus bersifat defensif, untuk menghilangkan kekacauan serta mewujudkan keadilan dan kebajikan. Perang tidak dibenarkan bila dilakukan untuk memaksakan ajaran Islam kepada orang non-Islam, untuk tujuan perbudakan, penjajahan, dan perampasan harta kekayaan. Juga tidak dibenarkan membunuh orang yang tidak terlibat dalam peperangan tersebut, seperti wanita, anak kecil, dan orang-orang tua.
  2. Jihad hujjah; jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi kuat. Jihad dalam bentuk ini memerlukan seseorang yang punya kemampuan ilmiah tinggi yang bersumber dari Al-Quran dan sunnah-sunnah Nabi serta mampu berijtihad.
  3. Jihad ‘amm; jihad yang mencakup segala aspek kehidupan, baik bersifat moral maupun bersifat material, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain di tengah-tengah masyarakat. Jihad seperti ini dapat dilakukan dengan pengorbanan harta, jiwa, tenaga, waktu, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jihad ini juga bersifat berkesinambungan, tanpa dibatasi oleh lingkup ruang dan waktu, dan bisa dilakukan terhadap musuh yang nyata, setan atau hawa nafsu.

Pada dasarnya jihad itu ada tiga, yaitu jihad melawan musuh yang nyata, setan dan hawa nafsu. Jihad yang paling besar dan paling sulit adalah jihad melawan hawa nafsu. Nabi Muhammad Saw. Pernah mengatakan bahwa Perang Badar adalah perang kecil dan perang besar adalah perang melawan hawa nafsu. “Kita kembali dari jihad terkecil menuju jihad terbesar, yakni jihad melawan hawa nafsu.”Padahal Perang Badar adalah perang terbesar dan yang sangat menentukan bagi keberlangsungan komunitas Muslim.

Sedangkan musuh nyata yang harus dihadapi dengan jihad adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan yang kini banyak menimpa kaum Muslim sebagai akibat dari keserakahan orang-orang yang tidak bisa berjihad melawan hawa nafsunya.

Hukum Jihad

Hukum melakukan jihad adalah wajib. Akan tetapi kewajiban jihad tidaklah diturunkan sekaligus, namun ada beberapa fase sebelum diwajibkan atas kaum muslimin. Fase-fase tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Fase pertama, sebelum diperintahkan berhijrah, Rasulullah SAW. Dan segenap kaum muslimin ketika itu diperintahkan untuk menahan diri dan bersabar atas segala gangguan yang diterima. Hal ini berlangsung selama kurang lebih sepuluh tahun.
  2. Fase kedua, setelah berhijrah ke Madinah, kaum muslimin diizinkan untuk memerangi kaum yang memerangi mereka dan menahan diri dari kaum yang tidak memerangi. Allah berfirman:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ (الحخ : 39 )

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al Hajj: 39)

  1. Fase ketiga, kaum muslimin diizinkan berperang di luar bulan-bulan haram, yakni tiga bulan berturut-turut adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram, sementara satu bula terpisah adalah Rajab. Mengenai hal ini Allah berfirman:

فَإِذَا انْسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (التوبة : 5 )

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taubah: 5)

  1. Fase keempat, setelah itu kaum muslimin diperintahkan untuk memerangi orang-orang kafir secara mutlak. Allah berfirman:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ   … (البقرة : 191)

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka,…”  (QS. Al Baqarah: 191)

Dan juga firman Allah:

 …وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً  … (التوبة : 36)

“… Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya…” (QS. At Taubah: 36)

  1. Fase kelima, perintah itu tetap berlaku, hanya saja Allah melarang kaum muslimin menyerang mereka di Masjidil Haram. Mengenai hal ini Allah berfirman:

وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

 (البقرة : 191)

“…Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah: 191)

  1. Fase keenam, kewajiban jihad dibakukan dan secara tegas dianjurkan. Allah berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  ( البقرة : 216 )

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al Baqarah : 216) 

Demikian hukum jihad yang diturunkan secara bertahap yang merupakan ciri dari Islam itu sendiri, yakni suatu proses. Secara umum, jihad hukumnya fardhu kifayah yang mesti ditegakkan minimal setahun sekali dalam rangka menyebarkan Dienul Islam. Rasulullah SAW telah keluar berperang sebelum genap satu tahun jihad fii sabilillah disyariatkan. Oleh sebab itu, mayoritas ahli fiqih berpendapat wajib hukumnya bagi Imam (Khalifah) mengumandangkan seruan jihad dengan bala tentara secukupnya untuk menyiarkan Dienul Islam. Hal tersebut dijelaskan dalam firman Allah:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (التوبة : 122)

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah: 122)

Hukum jihad bisa berubah menjadi fardhu ‘ain apabila terdapat pada situasi dan kondisi tertentu, seperti:

  1. Bila musuh menyerang negeri kaum muslimin.
  2. Saat Imam (Khalifah) mengumandangkan seruan jihad.
  3. Sewaktu berhadapan dengan musuh, kecuali ada suatu sebab sebagaimana disebutkan dalam surat Al Anfal ayat 16.

وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (الانفال : 16)

“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al Anfal: 16)

  1. Wajib bagi orang yang ditunjuk oleh Imam (Khalifah).
  2. Wajib bagi segenap pasukan (angkatan bersenjata) negeri itu.
  3. Ketika masuk ke dalam kancah pertempuran.
  4. Ketika kaum kafir menawan beberapa kaum muslimin dan menjadikan sebagai tebusan.

Soal hukum jihad menjadi Fardhu ‘ain dalam Al-Qur’an dijelaskan dalam beberapa ayat, sebagai berikut:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ (الأنفال : 15)

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (QS. Al Anfal: 15)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

 (التوبة : 123)

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At Taubah: 123)

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, jadi hukum dasar jihad adalah wajib kifayah (fardhu kifayah), akan tetapi bisa berubah menjadi fardhu ‘ain pada situasi dan kondisi tertentu.

C.      Holy War (Perang Suci)

Pembahasan mengenai holy war dalam artikel ini tidak begitu banyak seperti pembahasan jihad dan terorisme. Karena yang menjadi topik utama di sini sebenarnya adalah meluruskan pemahaman mengenai makna jihad yang disamakan dengan terorisme. Holy War atau perang suci dari segi bahasanya sudah jelas maksudnya, yaitu sebuah perang yang mana perang tersebut dikatakan suci karena menyangkut agama yang sakral. Dan misinya pun atas nama agama seperti penyebaran agama, mempertahankan tempat-tempat yang dianggap suci dan sebagainya.

Holy war di sini pengertiannya juga sering kali disamakan dengan jihad. Karena mengambil pengertian jihad yang identik sekali dengan perang, yakni perang melawan orang-kafir, untuk menegakkan agama dan menyebarkan agama. Jadi dengan begitu disamakan artinya dengan perang suci, yang mana berarti perang yang sakral yang mengatasnamakan agama.

Sedangkan istilah perang suci ini dikenal sejak terjadinya Perang Salib pada abad 11 dan 14. Dalam literature para sejarawan beranjak dari asumsi bahwa Perang Salib merupakan serangkaian operasi militer yang didorong keinginan kaum Kristen Eropa untuk menjadikan tempat-tempat suci umat Kristen, terutama Yerussalem, masuk ke wilayah perlindungan mereka. Dengan kata lain, Perang Salib adalah perang suci untuk mengusir orang-orang kafir dari kerajaan Tuhan.

Sedangkan jihad adalah konsep dengan banyak aspek. Untuk memahami jihad, kita harus kembali ke diri sendiri. Dalam diri kita ada godaan untuk melakukan kekerasan, kemarahan, atau pertengkaran. Itu adalah nafsu-nafsu alami manusia. Kita bisa melakukan kekerasan, tapi dengan kesadaran penuh kita dapat mengontrol dorongan-dorongan jahat itu…. Konsep jihad bukanlah perang, melainkan perdamaian. Kalau kita bawa ke tingkat kolektif, sama saja. Jihad bukanlah perang suci. Terminologi perang suci datang dari Perang Salib Kristen. Bagi kita sekarang, jihad berarti usaha untuk melawan. Ketika ada penindasan terhadap umat Islam secara tidak adil, kita punya hak untuk melawan. Itulah jihad. Bukan perang melawan Yahudi, Amerika, atau Barat.

Konsep perlawanan yang ada sekarang sama sekali salah. Banyak intelektual muslim yang menggunakan istilah perang suci untuk menjelaskan jihad. Banyak muslim yang menggunakan konsep jihad secara salah. Jihad adalah konsep perlawanan dengan cara damai. Namun, mesti diingat, tak akan ada perlawanan tanpa keadilan. Tak ada perdamaian tanpa keadilan.

Jadi pada dasarnya, kalau penulis ambil kesimpulan, bahwa jihad itu maknanya luas sekali. Suatu ketika jihad bisa dibilang sebagai perang suci, tapi sekali lagi bahwa jihad itu konsepnya mencakup segala aspek seperti yang telah dijelaskan dalam bahasan JIHAD.

D.      Terorisme

Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusian dan kejahatan terhadap peradaban yang menjadi ancaman bagi segenap bangsa serta musuh dari semua agama. Oleh sebab itu, perang melawan terorisme menjadi komitmen semua negara dan semua agama di dunia ini. Terorisme dalam perkembangannya telah membangun organisasi dan mempunyai jaringan global dimana kelompok-kelpompok terorisme yang beroperasi diberbagai negara telah terkooptasi oleh suatu jaringan terorisme internasional serta mempunyai hubungan dan mekanisme kerjasama satu sarna lain baik dalam aspek operasional infrastruktur maupun infrastruktur pendukung (support infrastructure) . PBB telah mengeluarkan beberapa konvensi dan resolusi untuk melawan terorisme. Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai anggota PBB telah meratifikasi berbagai konvensi tersebut dan sudah tentu harus melaksanakan resolusi Dewan Keamanan PBB dalam perang melawan terorisme.

Sejak terjadi peristiwa 11 September 2001, istilah terorisme mulai merebak dan menjadi topic yang utama. Dan upaya pemberantasan terorisme telah diangkat menjadi prioritas utama dalam kebijakan politik dan keamanan secara global. Aksi terjadinya teror Bom di Bali pad a tanggal 12 Oktober 2002 mendorong Pemerintah Indonesia untuk menyatakan perang melawan terorisme dan mengambil langkah-langkah pemberantasan serius dengan dikeluarkannya Perpu No. 1/2002, Perpu No.2 12002 dan Inpres No. 4/2002. Landasan hukum tersebut di atas, diikuti dengan penetapan Skep Menko Polkam No: Kep-26/Menko/Polkam/11/2002 tentang Pembentukan Desk Koordinasi Pemberantasan Terotisme. Hampir semua negara telah menaruh perhatian dan telah memberikan dukungan konkrit dalam upaya pengungkapan kasus born Bali, terutama dalam proses investigasi untuk menangkap para pelaku teror dan mengajukan para pelaku teror kesidang pengadilan serta mengungkap jaringannya.

Dengan tertangkapnya para teroris tersebut maka telah terungkap fakta yang jelas dimana teroris lokal telah mempunyai hubungan erat dengan jaringan teroris global. Timbul kesadaran dan keyakinan kita bahwa perang melawan terorisme mengharuskan kita untuk melakukan sinergi upaya secara komprehensif dengan pendekatan multi-agency, multiinternasional dan multi-nasional. Untuk itu perlu ditetapkan suatu strategi nasional dalam rangka perang melawan terorisme.

Pengertian Terorisme

Definisi tentang terorisme belum mencapai kesepakatan yang bulat dari semua pihak karena disamping banyak eleman terkait juga dikarenakan semua pihak berkepentingan melihat atau menterjemahkan permasalahan (term of terrorism) dari sudut pandang kepentingan masing-masing. Namun demikian, dari beberapa sumber dapat dikemukakan pengertian, diantaranya sebagai berikut:

a.   Terrorism is an act carried out to achieve on in “human and corrupt objective and involving threat to security of mankind, and violation of rights acknowledge by religion and mankind” (Ayatullah Sheikh Muhammad AI Taskhiri).

b. Terrorism is the unlawful use of force or violence “against persons or property to intimidate or coerce a government, civilian populations, or any segment threat, in furtherance of political or social objective” (FBI).

Dari sebuah forum curah pendapat (brain-storming) antara para akademisi, profesional, pakar, pengamat politik dan diplomat terkemuka yang diadakan di Kantor Menko Polkam tanggal 15 September 2001, dapat dicatat beberapa pendapat atau pandangan mereka mengenai terorisme, adalah sebagai berikut: Terorisme dapat diartikan sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan sekelompok orang (ekstrimis, separatis, suku bangsa) sebagai jalan terakhir untuk memperoleh keadilan yang tidak dapat dicapai mereka melalui saluran resmi atau jalur hukum.

Menurut konvensi PBB tahun 1939, terorisme adalah segala bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas. Menurut kamus Webster’s New School and Office Dictionary, terrorism is the use of violence, intimidation, etc to gain to end; especially a system of government ruling by teror, pelakunya disebut terrorist. Selanjutnya sebagai kata kerja terrorize is to fill with dread or terror’; terrify; ti intimidate or coerce by terror or by threats of terror.

Menurut ensiklopedia Indonesia tahun 2000, terorisme adalah kekerasan atau ancaman kekerasan yang diperhitungkan sedemikian rupa untuk menciptakan suasana ketakutan dan bahaya dengan maksud menarik perhatian nasional atau internasional terhadap suatu aksi maupun tuntutan. RAND Corporation, sebuah lembaga penelitian dan pengembangan swasta terkemuka di AS, melalui sejumlah penelitian dan pengkajian menyimpulkan bahwa setiap tindakan kaum terorris adalah tindakan kriminal. Definisi konsepsi pemahaman lainnya menyatakan bahwa : (1) terorisme bukan bagian dari tindakan perang, sehingga seyogyanya tetap dianggap sebagai tindakan kriminal, juga situasi diberlakukannya hukum perang; (2) sasaran sipil merupakan sasaran utama terorisme, dan dengan demikian penyerangan terhadap sasaran militer tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan terorisme; (3) meskipun dimensi politik aksi teroris tidak boleh dinilai, aksi terorisme itu dapat saja mengklaim tuntutanan bersifat politis.

Terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat. Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik (well organized), bersifat trans-nasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extra-ordinary crime) yang tidak membeda-bedakan sasaran (indiskrimatif).

Penjelasan-penjelasan di atas sudah cukup menjelaskan mengenai pengertian terorisme. Pada dasarnya hamper sama, terorisme adalah suatu tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat dengan aksi-aksi teror.

Bentuk-Bentuk Terorisme

Dilihat dari cara-cara yang digunakan : 1) Teror fisik yaitu teror untuk menimbulkan ketakutan, kegelisahan melalui sasaran fisik jasmani dalam bentuk pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, penyanderaan penyiksaan dan lain-lain. Sehingga nyata-nyata dapat dilihat secara fisik akibat tindakan teror. 2) Teror Mental, yaitu teror dengan menggunakan segala macam cara yang bisa menimbulkan ketakutan dan kegelisahan tanpa harus menyakiti jasmani korban (psikologi korban sebagai sasaran) yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan tekanan batin yang luar biasa akibatnya bisa gila, bunuh diri, putus asa dan sebagainya.

Dilihat dari Skala sasaran teror : 1) Teror Nasional, yaitu teror yang ditujukan kepada pihak-pihak yang ada pada suatu wilayah dan kekuasaan negara tertentu, yang dapat berupa: pemberontakan bersenjata, pengacauan stabilitas nasional, dan gangguan keamanan nasional. 2) Teror Internasional, Tindakan teror yang ditujukan kepada bangsa atau negara lain diluar kawasan negara yang didiami oleh teroris, dengan bentuk : a) Dari Pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Dalam bentuk penjajahan, invansi, intervensi, agresi dan perang terbuka. b) Dari Pihak yang Lemah kepada Pihak yang kuat. Dalam bentuk pembajakan, gangguan keamanan internasional, sabotase, tindakan nekat dan berani mati, pasukan bunuh diri, dan sebagainya.

Ciri-Ciri dan Motif Terorisme

Menurut beberapa literatur dan reference termasuk surat kabar dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri terorisme adalah :

a.   Organisasi yang baik, berdisiplin tinggi & militant;

b.   Mempunyai tujuan politik, ideologi tetapi melakukan kejahatan kriminal untuk mencapai tujuan.

c.   Tidak mengindahkan norma-norma universal yang berlaku, seperti agama, hukum dan HAM.

d.   Memilih sasaran yang menimbulkan efek psikologis yang tinggi untuk menimbulkan rasa takut dan mendapatkan publikasi yang luas.

  1. Menggunakan cara-cara antara lain seperti : pengeboman, penculikan, penyanderaan, pembajakan dan sebagainya yang dapat menarik perhatian massa/publik.

Sedangkan Motif terjadinya teror yang terjadi selama ini baik yang berskala internasional maupun nasional, biasanya meliputi :

a.  Membebaskan tanah air (dari penjajah)

b.  Memisahkan diri dari pemerintahan yang syah.

c.  Sebagai proses sistem sosial yang berlaku (pembebasan dari sistem kapitalis)

d.  Menyingkirkan musuh-musuh politik dan sebagainya.

Pengamat militer A.A Maulani, mantan Kepala Bakin, menyatakan ada 4 kategori terorisme, yaitu : 1) Terorisme melawan pemerintah untuk,              2) Menggulingkan atau menggantinya terorisme oleh pemerintah untuk rakyatnya sendiri, atau terhadap negara lain dalam rangka menghabisi lawan-lawan politiknya. 3) Terorisme oleh gerakan revolusioner, ultrana-sionalis, anarkis, nonpolitik (gerakan ekologi anti globalisasi dsb), gerakan milenium (aum shinrikyo) 4) Terorisme sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan nasional.

Hukum Terorisme

Hukum melakukan teror adalah haram, baik dilakukan oleh perorangan, kelompok, maupun Negara. Selain itu dengan melihat penjelasan-penjelasan mulai dari pengertian, bentuk-bentuknya, ciri-ciri serta motifnya, sudah jelas bahwa hukumnya haram. Segala sesuatu yang bersifat merugikan orang lain adalah haram.

F.      Jihad, Holy War Versus Terorisme

Hubungan Jihad dengan Holy War

Dalam bahasan holy war di atas sudah dibahas sedikit, bahwa kedua istilah ini sering disamakan. Karena dua-duanya sama-sama mengemban misi agama, makanya jihad sering disebut juga perang suci. Sebenarnya kalau kita memahami lebih luas dari keduanya, saya rasa kedua istilah ini bisa disamakan. Pemahaman lebih luas yang saya maksud adalah jihad dan perang suci bukan berarti perang, perang fisik. Seperti halnya jihad, sekarang juga sering kita dengan “perang suci melawan korupsi”, jadi perang suci bisa diartikan melawan segala bentuk kejahatan kemanusian seperti korupsi.

Dulu perang suci Terminologi perang suci dating dari Perang Salib Kristen, sedangkan jihad datang dari perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam menegakkan agama Islam. Makanya jihad dan perang suci tidak bisa disamakan. Akan tetapi kalau kita merujuk pada  istilah perang suci melawan korupsi, seperti halnya jihad melawan kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan dan lain-lain, maka perbedaan itu sedikit terkikis. Perang melawan korupsi, khususnya di Indonesia, tidak hanya dilakoni umat Islam saja, tetap juga umat beragama lainnya.

Perang suci maknanya lebih umum, karena perang suci bisa untuk semua agama yang berniat berperang melawan segala bentuk kejahatan. Sedangkan jihad khusus untuk umat Islam, karena istilah jihad di sini berasal dari Islam.

Hubungan Jihad dengan Terorisme

Selama ini terdapat anggapan yang salah di dalam masyarakat yang menyamakan jihad dengan terorisme. Bahkan, oleh kalangan yang tidak mengerti ajaran Islam yang luhur, Islam dicap sebagai agama teroris. Kekeliruan pemahaman ini bisa saja disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat mengenai Islam, tetapi tidak tertutup kemungkinan karena sebagian muslim justru melakukan jihad melalui aksi-aksi terorisme. Padahal antara jihad dan terorisme jelas terdapat perbedaan yang sangat mendasar.

Dari penjelasan-penjelasan tentang jihad dan terorisme di atas sudah jelas perbedaan-perbedaan dari keduanya. Jihad adalah sebuah perjuangan yang mulia sedangkan terorisme suatu tindak criminal yang banyak merugikan masyarakat.

Perbedaan antara jihad dengan terorisme:

a)      Terorisme:

–          Sifatnya merusak (ifsad) dan anarkhis/chaos (faudha);

–          Tujuannya untuk menciptakan rasa takut dan/atau menghancurkan pihak lain;

–          Dilakukan tanpa aturan dan sasaran tanpa batas.

b)      Jihad:

–          Sifatnya melakukan perbaikan (ishlah) sekalipun dengan cara peperangan;

–          Tujuannya menegakkan agama Allah dan/atau membela hak-hak pihak yang terzhalimi;

–          Dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syari’at dengan sasaran musuh yang sudah jelas.

Dari segi hukum jelas bahwa jihad wajib dan terorisme haram. Dari sekian banyak perbedaan tersebut, seharusnya pemahaman tentang jihad dan terorisme sudah bisa diluruskan. Karena keduanya memiliki perbedaan yang sangat mendasar yang tidak bisa disamakan sampai kapan pun.

Hubungan Jihad, Holy War dan Terorisme

Penjelasan dari dua sub bahasan sebelumnya, yakni hubungan jihad dengan holy war dan hubungan jihad dengan terorisme sudah bisa menjawab bahasan yang terakhir ini. Dari judul makalah sendiri “Jihad, Holy War versus Terorisme” juga sudah memberikan sedikit gambaran.

Dari ketiga istilah tersebut, jihad dan holy war mempunyai kedudukan sama yang masing-masing bertentangan dengan terorisme. Jihad dan holy war masing-masing mengumandangkan seruan untuk berjuang melawan tindak kejahatan yang tidak lain adalah terorisme. Jadi kalau istilah jihad disamakan dengan terorisme itu adalah suatu hal yang benar-benar salah. Dan para pelaku yang melakukan aksi-aksi teror mengatasnamakan jihad maupun holy war, berarti orang ini belum memahami secara mendalam makna dari ketiga istilah tersebut. Karena bagaimanapun, jihad dan holy war bertolak belakang dengan terorisme. Aksi bunuh diri itu bukan jihad, hal itu juga sangat berbeda.

Di bawah ini penjelasan yang bisa memberikan gambaran perbedaan bunuh diri dan ‘amaliyah al-istisyhad:

  1. Orang yang bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri sementara pelaku ‘amaliyah al-istisyhad mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri adalah orang yang pesimis atas dirinya dan atas ketentuan Allah sedangkan pelaku ‘amaliyah al-Istisyhad adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuju untuk mencari rahmat dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Bom bunuh diri hukumnya haram karena merupakan salah satu bentuk tindakan keputusasaan (al-ya’su) dan mencelakakan diri sendiri (ihlak an-nafs), baik dilakukan di daerah damai (dar al-shulh/dar al-salam /dar al-da’wah) maupun di daerah perang (dar al-harb).
  3. ‘Amaliyah al-Istisyhad (tindakan mencari kesyahidan) dibolehkan karena merupakan bagian dari jihad bin-nafsi yang dilakukan di daerah perang (dar al-harb) atau dalam keadaan perang dengan tujuan untuk menimbulkan rasa takut (irhab) dan kerugian yang lebih besar di pihak musuh Islam, termasuk melaku-kan tindakan yang dapat mengakibatkan terbunuhnya diri sendiri. ‘Amaliyah al-Istisyhad berbeda dengan bunuh diri.

G.     Kesimpulan

1.   –     Jihad adalah usaha yang sungguh-sungguh dengan segenap kemampuan untuk mencapai tujuan yang luhur di jalan Allah. Jihad dapat dilakukan dengan bekerja keras melawan hawa nafsu yang menghancurkan dan menjerumuskan manusia kepada kebinasaan.

–     Pada dasarnya jihad itu ada tiga bentuk, yaitu jihad melawan musuh yang nyata, setan dan hawa nafsu. Jihad yang paling besar dan paling sulit adalah jihad melawan hawa nafsu.

–     Hukum dasar jihad adalah wajib kifayah (fardhu kifayah), akan tetapi bisa berubah menjadi fardhu ‘ain pada situasi dan kondisi tertentu.

2.   Istilah perang suci ini dikenal sejak terjadinya Perang Salib pada abad 11 dan 14. Dalam literature para sejarawan beranjak dari asumsi bahwa Perang Salib merupakan serangkaian operasi militer yang didorong keinginan kaum Kristen Eropa untuk menjadikan tempat-tempat suci umat Kristen, terutama Yerussalem, masuk ke wilayah perlindungan mereka. Dengan kata lain, Perang Salib adalah perang suci untuk mengusir orang-orang kafir dari kerajaan Tuhan.

3.   –     Terorisme adalah suatu tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat dengan aksi-aksi teror.

–     Bentuk terorisme bisa dilihat dari cara yang digunakan ada 2, yaitu teror fisik dan teror mental. Sedang dilihat dari skala sasaran juga ada 2, yaitu teror nasional dan teror internasional.

–     Ciri-ciri terorisme adalah Organisasi yang baik, berdisiplin tinggi & militant, mempunyai tujuan politik, ideology, tidak mengindahkan norma-norma universal yang berlaku, memilih sasaran yang menimbulkan efek psikologis yang tinggi, menggunakan cara-cara kejam. Sedangkan motifnya antara lain membebaskan tanah air (dari penjajah), memisahkan diri dari pemerintahan yang syah, menyingkirkan musuh-musuh politik dan sebagainya.

–     Hukum melakukan teror adalah haram, baik dilakukan oleh perorangan, kelompok, maupun Negara.

4.   –     Perang suci maknanya lebih umum, karena perang suci bisa untuk semua agama yang berniat berperang melawan segala bentuk kejahatan. Sedangkan jihad khusus untuk umat Islam, karena istilah jihad di sini berasal dari Islam.

–     Jihad dan terorisme adalah dua istilah yang saling bertolak belakang dan mempunyai perbedaan yang mendasar. Akan tetapi banyak orang yang mengidentikkan kedua istilah ini.

–     Jihad dan holy war mempunyai kedudukan sama yang masing-masing bertentangan dengan terorisme. Jihad dan holy war masing-masing mengumandangkan seruan untuk berjuang melawan tindak kejahatan yang tidak lain adalah terorisme. Jadi kalau istilah jihad disamakan dengan terorisme itu adalah suatu hal yang benar-benar salah.

H.      Saran

Sejak terjadinya traged-tragedi yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, khususnya di Indonesia seperti Bom Bali dan sejenisnya terdapat anggapan yang salah di dalam masyarakat yang menyamakan jihad dengan terorisme. Bahkan, oleh kalangan yang tidak mengerti ajaran Islam yang luhur, Islam dicap sebagai agama teroris. Kekeliruan pemahaman ini bisa saja disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat mengenai Islam, tetapi tidak tertutup kemungkinan karena sebagian muslim justru melakukan jihad melalui aksi-aksi terorisme. Padahal antara jihad dan terorisme jelas terdapat perbedaan yang sangat mendasar.

Untuk itu sangat perlu sekali untuk meluruskan pemahaman yang keliru itu dan mengembalikan kesucian agama Islam yang sempat tercoreng. Dengan terselesaikannya makalah ini semoga bermanfaat bagi semuanya dan pembaca khususnya. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Untuk itu masukan-masukan dari pihak-pihak yang merespon makalah ini sangat kami tunggu. Dan kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, semoga kita bersama dapat menjalani ini semua dengan Ridha-Nya tentunya. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: