METODE DAN IJTIHAD YUSUF AL-QARDHAWI SERTA KONSEP KONSERVASI LINGKUNGAN


METODE DAN IJTIHAD YUSUF AL-QARDHAWI SERTA

KONSEP KONSERVASI LINGKUNGAN

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

  1. A.      Latar Belakang

Lingkungan merupakan suatu sistem terdiri atas komponen-komponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Atau seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Atau bisa juga dikatakan sebagai suatu sistem kehidupan di mana terdapat campur tangan manusia terhadap tatanan ekosistem. Lingkungan terdiri atas unsur biotik (manusia, hewan, dan tumbuhan) dan abiotik (udara, air, tanah, iklim dan lainnya).

Lingkungan hidup merupakan sumber daya yang diperuntukkan makhluk hidup untuk kelangsungan hidupnya. Khususnya manusia sebagai khalifah di bumi sebagai pelaku utama dalam tatanan kehidupan di bumi. Peran manusia telah sedikit banyak berhasil mengatur kehidupannya sendiri (birth control maupun death control) dan sekarang dituntut untuk mengupayakan berlangsungnya proses pengaturan yang normal dari alam dan lingkungan agar selalu dalam keseimbangan. Khususnya yang menyangkut lahan (tanah), air dan udara, karena ketiga unsur tersebut merupakan sumber daya yang sangat penting bagi manusia.

Kegiatan yang dilakukan manusia akhir-akhir ini lebih ditujukan kepada eksploitasi tanpa adanya regenerasi. Meskipun lingkungan mampu melakukan regenerasi dengan sendirinya, akan tetapi lingkungan mempunyai daya regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Selama eksploitasi atau penggunaannya di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi, maka sumber daya terbaharui dapat digunakan secara lestari. Akan tetapi apabila batas itu dilampaui, sumber daya akan mengalami kerusakan dan fungsinya sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan.

Selama tahun-tahun terakhir, terjadi beberapa bencana alam yang dahsyat di berbagai belahan bumi, di negara-negara besar maupun negara kecil, negara-negara yang canggih dari segi teknologi atau pun negara-negara industri maupun pertanian, negara yang caggih teknologi ataupun negara-negara yang fokus tradisional.  Peristiwa banjir yang tak tercatat dalam skala ingatan terjadi beberapa kali dalam 10 tahun terakhir di Cina, Bangladesh, dan Afrika Selatan. Bahkan beberapa bulan terakhir ini banjir yang sangat dahsyat juga melanda negara adi kuasa Amerika Serikat dan juga Australia. Banjirpun juga tidak dapat terhindarkan di negara Indonesia, yang akhirnya berubah menjadi adat bahwa setiap musim penghujan tiba maka banjir pasti melanda.

Kerusakan hutan di Indonesia tahun 1985-1997 mencapai 1,6-1,8 juta ha per tahun meliputi wilayah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dan  papua. Pada tahun 2000-2007 kerusakan hutan meningkat menjadi 2,83 juta ha per tahun untuk wilayah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi yang disebabkan oleh salah satunya adalah penebangan liar. Akibat kegiatan illegal loging, kerugian negara setiap tahunnya mencapai 50-60 juta m3 kayu atau senilai 30-40 trilliun yang seharusnya diterima oleh negara (perhitungan ini baru dari DR PSDH). Sedangkan kerusakan lainnya yang dialami indonesia ialah lingkungan, keanekaragaman hayati, bencana alam dan lain-lain.

Tak luput pula di wilayah Jawa Timur khususnya di Tulungagung dan sekitarnya. Peristiwa-peristiwa yang merupakan akibat ulah perbuatan manusia sering menimpa, seperti : banjir, tanah longsor, dan juga kekeringan. Tidak dapat dihindarkan pula efek transmisi cahaya yang tidak bisa maksimal yang berimbas pada global warming. Tulungagung yang dulunya merupakan daerah yang tidak begitu panas, kini telah berubah menjadi kota yang tidak begitu ramah. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah daya konsumsi masyarakat Tulungagung terhadap kendaraan bermotor.

Dari latar belakang tersebut, kita semua hendaknya menanamkan tentang konservasi, pentingnya menjaga satwa-satwa liar dan memelihara lingkungan sejak dini. Oleh sebab itu pengetahuan tentang konservasi, flora dan fauna yang terancam punah sudah saatnya dimasukkan dalam muatan kurikulum mulai tingkat SD, SMP dan SMA. Pembelajaran konservasi, flora dan fauna yang terancam dan lingkungan hidup hendaknya disampaikan dengan menarik yang melibatkan aspek kognitif (otak, kecerdasan), afektif (perasaan), motorik (gerakan) dan sosial (hubungan antar manusia). Salah satu ulama yang sangat getol dengan konservasi lingkungan dan problematika lingkungan hidup adalah Yusuf al-Qardhawi.

  1. B.       Definisi Konservasi Lingkungan

Konservasi berasal dari kata conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide konservasi ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Konservasi dalam pengertian sekarang sering diterjemahkan sebagai the wise use of nature resource (pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana).

Secara harfiah makna konservasi (conservation) yang terkait dengan sumber daya alam diartikan sebagai: “the preservation, management, ancare of natural and cultural resources” (pelestarian pengelolaan, dan perawatan sumber-sumber daya alam dan kultural). Ian Campbell, disisi lainnya mendefinisikan konservasi dengan tiga makna, yakni: pertama, preservasi (preservation) atau pelestarian sumber daya alam, kedua, pemanfaatan sumber daya alam dengan penggunaan secara nalar (intellect utilization), dan ketiga, penggunaan sumberdaya alam secara bijak (wise use).

Dalam kamus konservasi sumber daya alam disebutkan konservasi (concervation) adalah upaya pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana dengan berpedoman kepada azas pelestarian. Konservasi juga diartikan pelestarian, yaitu pengelolaan terencana sumber daya alam sehingga terjadi berkelanjutan serta keseimbangan alami antara keanekaragaman dan proses perubahan evolusi dalam suatu lingkungan.

Untuk memperluas pandangan terhadap pengertian konservasi, para ahli berbeda-beda dalam mendefinisikannya, diantara definisi konservasi diantaranya: Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konservasi adalah pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan. Sementara itu, Utami mengutip beberapa definisi para ahli lingkungan sebagai berikut:

  1. American Dictionary mendefinisikan konservasi adalah menggunakan sumber daya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama.
  2. Menurut Randall mendefinisikan konservasi adalah alokasi sumber daya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial.
  3. Rijksen mendefinisikan konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural di mana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang.
  4. IUCN mendefinisikan konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan.
  5. WCS mendefinisikan konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan dating.
  6. Piagam Burra mendefinisikan konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna cultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik.
  1. Peter Salim dan Yenny Salim mendefinisikan konservasi adalah pemeliharaan dan perlindungan terhadap sesuatu yang dilakukan secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan cara pengawetan.

Dalam arti luas, konservasi adalah pemakaian dan perlindungan sumber daya-sumber daya alam secara berkelanjutan meliputi tanaman (hutan), binatang, deposit-deposit mineral, tanah, air bersih, dan bahan bakar fosil seperti batu bara, petroleum, dan gas-gas alam (natural gas). Konservasi dari segi ekonomi dan ekologi di mana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang. Dapat dikatakan pula konservasi Alam adalah suatu manajemen terhadap alam dan lingkungan secara bijaksana untuk melindungi tanaman dan binatang. Menurut Mudhofir Abdullah, konservasi sumber daya alam merupakan langkah nyata advokasi untuk menanggulangi krisis lingkungan. Jadi konservasi adalah pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam secara alami secara berkelanjutan dan teratur baik sumber daya hayati dan non hayati dengan melindungi proses-proses ekologis dalam sistem penyangga kehidupan dan juga pengawetan keanekaragaman hayati.

Konservasi lingkungan tidak bisa terlepas dengan pembangunan berkelanjutan. Prinsip-prinsip serta alat perencana dalam pembangunan berkelanjutan (sustainable development) telah tertuang dalam UU No. 4 tahun 1982 dan PP No. 51 tahun 1993 tentang AMDAL. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berusaha memahami kebutuhan dan aspirasi generasi saat ini tanpa mengorbankan kepentingan generasi-generasi yang akan datang. Pembangunan berkelanjutan di Indonesia dilakukan dengan prinsip-prinsip:

  1. Menempatkan aspek lingkungan sedini mungkin pada saat ada pembangunan
  2. Pada setiap tahap pembangunan ligkungan menjadi pertimbangan utama
  3. Menerapkan konsep efisiensi dan konservasi dalam penggunaan sumber daya alam.

Karena itu kesadaran lingkungan menjadi makin penting dan pendidikan kependudukan dan lingkungan bagi setiap orang baik nasional maupun internasional justru menjadi mutlak karena manusia dan lingkungan itu merupakan dua unsur pokok yang saling menentukan, dalam arti manusia hidup dari lingkungan dan jika lingkungan rusak maka manusia yang celaka.

  1. C.      Konsep Dasar Konservasi Lingkungan

Ada 3 hal utama yang ada dalam konservasi berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 yaitu: 1) Perlindungan proses-proses ekologis yang penting atau pokok dalam sistem-sistem penyangga kehidupan, 2) Pengawetan keanekaragaman hayati dan plasma nutfah, 3) Pemanfaatan sumberdaya alam hayati secara lestari beserta ekosistemnya.

  1. Perlindungan proses-proses ekologis yang penting atau pokok dalam sistem-sistem penyangga kehidupan

Di dalam lingkungan pasti terjadi yang dinamakan proses ekologis. Proses ekologis adalah peristiwa saling mempengaruhi antara segenap unsur pembentuk lingkungan hidup. Di dalam ekosistem yang rusak dan teregradasi diperlukan sesegera mungkin upaya pemulihan spesies maupun komunitas yang pernah menghuni ekosistem tersebut. Pemulihan ekosistem yang rusak berpotensi besar untuk memperkuat sisem kawasan konservasi yang ada selama ini. Pemulihan ekologi (ecological restoration) merupakan praktik perbaikan yang dapat didefinisikan sebagai proses yang secara sengaja mengubah suatu lokasi untuk membentuk kembali suatu ekosistem tertentu yang bersifat asli dan bernilai sejarah.

Keberadaan biota dan abiota dalam ekosistem semuanya dipelajari dalam ekologi. Kesejahteraan manusia dikaitkan dengan kesejahteraan makhluk hidup lain, karena keberadaan bersama semua jenis makhluk hidup dalam ekosistem akan saling mempengaruhi satu terhadap yang lain. Jadi fungsi, tugas dan tanggung jawab asasi manusia adalah sebagai Kholifah di bumi yang dibebani dengan kewajiban dalam mengembangkan sikap dan perilakunya bagi kelangsungan peri kehidupan menuju peningkatan kesejahteraan anusia dan makhluk hidup lainnya.

Proses ekologi diharapkan dapat berlangsung sinambung beserta sistem penyangga kehidupan lainnya, meskipun  kawasan tersebut didayagunakan. Agar harapan ideal itu bisa terwujud maka diperlukan berbagai informasi ilmiah tentang informasi ilmiah yang akurat, baik tentang proses-proses ekologi di kawasan hutan, sungai, laut, pesisir, maupun kawasan yang telah dibudidayakan.

  1. Pengawetan keanekaragaman hayati dan plasma nutfah

Perlindungan terhadap keaneragaman hayati adalah pusat dari biologi konservasi tetapi frase “keanekaragaman hayati” (atau secara singkat biodifersitas) dapat mempunyai arti yang berbeda. World Wildlife Fund mendefisikannya sebagai “jutaan tumbuhan hewan dan mikroorganisme termasuk gen yang mereka miliki, serta ekosistem rumit yang mereka bantu menjadi lingkungan hidup”. Keaneragaman hayati dapat digolongkan menjadi tiga tingkat:

  1. Keanekaragaman spesies.

Semua spesies di bumi, termasuk bakteri dan protista serta spesies dan kingdom bersel banyak (tumbuhan, jamur, hewan, yang bersel banyak atau “multiseluler”).

  1. Keanekaragaman genetik.

Variasi genetik dalam satu spesies, baik di antara populasi-populasi yang terpisah secara geografis, maupun di antara individu-individudalam satu populasi.

  1. Keanekaragaman komunitas.

Komunitas biologi yang berbeda serta asosiasinya dengan lingkungan fisik (“ekosistem”) masing-masing.

Sedangkan Wilson membagi keanekaragaman ini ke dalam 3 jenis yaitu:

  1. Keanekaragaman ekosistem

Secara definitif ekosistem diartikan sebagai satuan sistem kehidupan yang tersusun dari (dan merupakan) interaksi antara komponen hayati (tumbuhan, hewan dan mikroba) dan komponen fisik nir-hayati (iklim, tanah, air, cahaya, suhu dan ketinggian di atas laut). Tidak kurang dari 47 tipe ekosistem yang berbeda, baik yang alami maupun yang buatan yang terdapat di Indonesia mulai dari tipe ekosistem gunung es dan padang rumput alpine di wilayah pegunungan Irian Jaya, ekosistem hutan, ekosistem lautan dan masih banyak lagi.

  1. Keanekaragaman jenis

Dalam hal keanekaragaman jenis mencakup kekayaan hayati tumbuhan, hewan dan mikroba. Di Indonesia yang merupakan megabiodeversity memiliki keanekaragaman jenis yang luar bisaa jumlahnya. Secara alami, berbagai jenis tumbuhan seperti anggrek, puspa jambu air, matoa, dan pisang memiliki individu-individu spesies dengan sifat yang sangat beragam. Keanekaragaman pada tanaman budi daya juga terlihat sangat beragam. Kisaran keanekaragaman dalam tanaman jenis budi daya dan kerabat liarnya itu merupakan bahan mentah perakitan bibit unggul, yang dikenal sebagai plasma nutfah.

  1. Keanekaragaman di dalam jenis (keanekaragaman genetik)

Pada tingkat keanekaragaman di dalam jenis, penyusutan juga terjadi walaupun sulit untuk diamati pada populasi alami. Tetapi pada jenis-jenis budi daya, berkurangnya keanekaragaman di tingkat ini relative jelas terlihat. Pemakaian bibit unggul secara besar-besaran menyebabkan terdesaknya dan mulai menghilangnya bibit tradisional yang secara turun temurun telah dikembangkan oleh petani lokal.

  1. Pemanfaatan sumber daya alam hayati secara lestari beserta ekosistemnya

Ada tiga aspek dalam sebuah pengelolaan sumber daya alam, yaitu eksplorasi, eksploitasi, dan konservasi. Untuk menciptakan sistem pengelolaan Sumber daya hayati yang partisipatif dan berbasis masyarakat maka ada beberapa komponen yang seyogyanya dapat dijadikan target pelaksanaan, yaitu:

  1. Pola penguasaan sumber daya hayati (resource tenure)
  2. Peningkatan kemampuan (capacity building)
  3. Pelestarian lingkungan (environment conservation)
  4. Pengembangan usaha berkelanjutan (sustainable livelihood development)

Krisis lingkungan yang sekarang kita rasakan akibatnya adalah karena kehidupan manusia sudah melebihi daya dukung lingkungan tempat kita hidup. Prinsip keberlanjutan ini meliputi: konservasi (conservation), pendaurulangan (recycling), penggunaan sumber daya yang dapat dibarukan (renewable resource use), pengendalian populasi (population control) dan restorasi (restoration). Prinsip keberlanjutan ini sebenarnya dapat kita pelajari dari alam secara langsung yaitu pada ekosistem alam.

Menurut Grumble, pengelolaan kawasan ekosistem dilakukan dengan memadukan berbagai pengetahuan ilmiah tentang proses-proses ekologi dalam kerangka sosial politik dan nilai-nilai yang kompleks dengan tujuan untuk melindungi integritas ekosistem lokal dan sinambung dalam jangka panjang. Grumble secara lebih jauh juga mengientifikasi 10 tugas dominan dalam pengelolaan ekosistem, yakni 1) Jenjang sistem keanekaragaman, 2) Pengetahuan batas ekologi, 3) Integritas ekologi, 4) Sistematika riset dan koleksi data, 5) Monitoring, 6) Manajemen adaptif, 7) Kerja sama antar sector, 8) Perubahan organisasi, 9) Manusia sebagai komponen ekosistem, dan 10) Nilai manusia dalam mencapai tujuan.

  1. D.      Metode Ijtihad Yusuf al-Qardhawi

Qardhawi menegaskan bahwa tidak sepantasnya bagi seorang yang berilmu, yang dikaruniai berbagai fasilitas akal pikiran yang bias digunakan untuk mentarjih, yaitu memilih-milih pendapat yang lebih relevan dan real untuk dijalankan, terikat dengan suatu madzhab tertentu, tetapi seharusnya ia wajib berpegang kepada dalil dan hujjah yang kuat dan sahih untuk menjadi pegangannya.

Seorang muslim yang baik adalah orang yang selalu berpegang kepada dalil yang benar dan hujjah yang kuat sebagai parameter untuk dipedomani guna mengetahui yang haq. Dan tidaklah layak baginya mengikuti suatu pendapat hanya karena kemasyhurannya dan banyak pengikutnya. Menurut Qardhawi ada dua pola pikir yang harus dijauhkan dari masyarakat, baik masyarakat awam maupun cendekiawan dan ulama. Pertama, berbagai pemahaman yang merasuk kaum muslim di era penjajahan berupakesalahpahaman terhadap Islam, seperti memahami zuhud dengan meninggalkan kehidupan dunia secara total, sehingga dikuasai oleh orang-orang kafir, memahami keimanan terhadap takdir sebagaimana yang dipahami oleh kaum jabariah, memahami bahwa pintu ijtihad telah ditutup, akal berseberangan dengan wahyu, menganggap perempuan sebagai perangkap setan, memahami bahwa ayat-ayat Al Qur’an dapat digantung untuk menjaga diri dari jin, berkah sunnah terletak pada pembacaan Kitab Shahih Bukhari saat terjadi musibah, memahami masalah wali dan karomah dengan pemahaman yang bertentangan dengan sunnatullah, dan sebagainya. Masih banyak lagi pemahaman lain yang menyebabkan kebekuan ilmu dan pemikiran.

Kedua, berbagai pemahaman yang menyerang masyarakat bersamaan dengan serangan penjajah. Mereka masuk dari pintu dan berjalan bersama rombongannya, berlindung di belakangnya dan menjadikan mereka sebagai kiblat dan imam. Qardhawi menegaskan bahwa Ijtihad tidak menghilangkan tradisi fikih klasik tetapi ijtihad mengandung beberapa hal yang mendasar, yaitu:

  1. Menafsir ulang tradisi fikih klasik yang melimpah ruah melalui aliran, madzhab, dan pendapat-pendapat yang shahih terutama dari kalangan sahabat dan tabi’in, kemudian memilih mana yang lebih kuat serta sesuai dengan tujuan-tujuan syariat serta kemaslahatan umat dalam kondisi yang aktual.
  2. Kembali kepada sumber, nash-nash yang shahih yang sesuai dengan tujuan umum syariat.
  3. Ijtihad untuk kasus-kasus dan masalah-masalah aktual yang tidak ada hukumnya serta belum terungkap oleh para ahli fikih terdahulu. Hal itu dilakukan untuk mengambil hukum aktual yang sesuai dengan dalil-dalil syara.

Mengenai peluang ulama untuk berijtihad saat ini menurut Qardhawi adalah suatu keharusan dan hukumnya fardu kifayah. Ada tiga macam ijtihad yang dikemukakan oleh Qardhawi, yaitu ijtihad intiqa’i, ijtihad insya’i, dan ijtihad integrasi antara ijtihad intiqa’i dan insya’i.

  1. 1.         Ijtihad Intiqa’i/Tarjih

Yang dimaksud dengan ijtihad intiqa’i adalah memilih suatu pendapat dari beberapa pendapat terkuat yang terdapat pada warisan fikih Islam yang penuh dengan fatwa dan putusan hukum. Qardhawi tidak sependapat dengan orang-orang yang mengatakan bahwa kita boleh berpegang pada pendapat dalam bidang fikih (pemahaman) karena sikap itu merupakan taqlid tanpa dibarengi argumentasi. Seharusnya diadakan studi komparatif terhadap pendapat-pendapat itu dan meneliti kembali dalil-dalil nash atau dalil-dalil ijtihad yang dijadikan dasar pendapat tersebut, sehingga pada akhirnya dapat diketahui dan dipilih pendapat yang terkuat dalilnya dan alasannya pun sesuai dengan kaidah tarjih, seperti mempunyai relevansi dengan kehidupan pada zaman sekarang, pendapat itu mencerminkan kelemah-lembutan dan kasih sayang kepada manusia, pendapat itu mendekati kemudahan yang ditetapkan oleh hukum Islam, pendapat itu lebih memprioritaskan realisasi maksud-maksud syara, kemaslahatan manusia, dan menolak marabahaya.

Kegiatan tarjih yang dilakukan oleh ahli tarjih pada masa kebangkitan kembali hukum Islam berbeda dengan kegiatan tarjih pada masa kemunduran hukum Islam. Pada masa yang disebutkan terakhir ini, tarjih diartikan sebagai kegiatan yang tugas pokoknya adalah menyeleksi pendapat para ahli fikih di lingkungan intern madzhab tertentu, seperti syafi’iyah, malikiyah, dll. Sedangkan pada periode kebangkitan Islam, tarjih. berarti menyeleksi berbagai pendapat dari bermacam madzhab, baik beraliran sunni atau tidak. Jadi, sifatnya lintas madzhab.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil dari ijtihad tarjih ini. Sedikitnya menurut Qardhawi ada tiga hal, yakni perubahan sosial politik, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, dan adanya desakan dari perkembangan zaman.

Contoh ijtihad tarjih adalah tentang harusnya meminta izin untuk menikahkan anak gadis. Golongan Syafi’i, Maliki, dan mayoritas golongan Hanbali berpendapat sehungguhnya orang tua berhak memaksakan anak gadisnya yang sudah akil balig untuk menikah dengan calon suami yang dipilih oleh orang tua walaupun tanpa persetujuan gadis tersebut. Alasan yang digunakan adalah orang tua lebih tahu tentang kemaslahatan anak gadisnya.

Cara yang demikian itu mungkin masih dapat diterapkan pada seorang gadis yang belum mengenal sedikitpun tentang kondisi dan latar belakang suaminya, sedangkan di zaman modern sekarang para gadis mempunyai kesempatan luas untuk belajar, bekerja dan berinteraksi dengan lawan jenis dalam kehidupan ini. Akhirnya, hasil dari ijtihad tarjih ini adalah mengambil pendapat Abu Hanifah yakni melibatkan urusan pernikahan kepada calon mempelai wanita untuk mendapatkan persetujuan dan izinnya.

  1. 2.         Ijtihad Insya’i

Yang dimaksud dengan ijtihad insya’i adalah pengambilan konkluse hukum dari suatu persoalan yang belum pernah dikemukakan oleh ulama terdahulu. Atau cara seseorang mujtahid kontemporer untuk memilih pendapat baru dalam masalah itu, yang belum ditemukan didalam pendapat ulama salaf. Boleh juga ketika para pakar fikih terdahulu berselisih pendapat sehingga terkatub pada dua pendapat, maka mujtahid masa kini memunculkan pendapat ketiga. Sebagian besar ijtihad insya’i ini terjadi pada masalah-masalahbaru yang belum dikenal dan diketahui oleh ulama terdahulu serta belum pernah terjadi pada masa mereka.

Kalaupun mengenalnya, tentu masih dalam skala kecil yang belum mendorong mereka untuk mengadakan penelitian demi mencari penyelesaiannya. Mengenai ijtihad insya’i ini, Qardhawi berpendapat bahwa setelah mengutip berbagai pendapat para ulama, maka langkah selanjutnya adalah mengkaji kembali berbagai pendapat tersebut, kemudian menarik simpulan yang sesuai dengan nash al-Quran dan Hadits, kaidah-kaidah dan maqashid al-syar’iyah sambil berdoa semoga Allah mengilhamkan kebenaran, tidak menghalangi tabir pahala,dan menjaga dari belenggu fanatisme dan taqlid serta hawa nafsu dan prasangka buruk terhadap orang lain.

  1. 3.         Integrasi antara Ijtihad Intiqa’i dan Insya’i

Di antara bentuk ijtihad kontemporer adalah ijtihad perpaduan antara intiqa’i dan insya’i, yaitu memilih pendapat para ulama terdahulu yang dipandang lebih relevan dan kuat kemudian dalam pendapat tersebut ditambah unsur-unsur ijtihad baru.

Sebagai contoh ijtihad jenis ini adalah masalah aborsi. Lajnah Fatawa di Kuwait mengeluarkan pendapat tentang aborsi yang dibolehkan dan yang diharamkan. Lajnah Fatawa telah menyeleksi pendapat-pendapat para pakar fikih Islam sekaligus menambahkan unsur-unsur kreasi baru yang dituntut oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmu kedokteran. Yang ditunjang dengan segala peralatan teknologi canggih dan kemampuan untuk mendeteksi apa yang menimpa pada janin dalam bulan-bulan pertama, berupa cacat yang mempunyai pengaruh fisik/biologis dan psikis pada kehidupan si janin dikemudian hari menurut sunnatullah yang berlaku di alam ini. Isi Fatwa yang dikeluarkan tanggal 29 September 1984 itu adalah seorang dokter dilarang menggugurkan kandungan seorang wanita yang telah genap 120 hari, kecuali untuk menyelematkan wanita/ibu itu dari marabahaya yang ditimbulkan oleh kandungannya. Dan seorang dokter boleh menggugurkan kandungan wanita dengan persetujuan kedua belah pihak yaitu suami istri, sebelum kandungan itu genap berusia 40 hari, yakni saat masih berbentuk segumpal darah.

Selanjutnya Qardhawi juga memberikan rambu-rambu bahwa ada beberapa hal yang harus dihindari agar di dalam berijtihad tidak terjadi penyimpangan, yaitu:

  1. 1.         Mengabaikan nash

Qardhawi mengingatkan bahwa yang sangat perlu diperhatikan oleh seorang Mujtahid adalah kembali kepada nash al-Qur’an, bila tidak ada dalam al-Qur’an maka hendaklah berpedoman kepada al-Sunnah. Jika tidak ditemukan di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah barulah berijtihad menurut pendapatnya dengan tidak meremehkan kedua sumber tersebut.28 Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Muaz bin Jabal ketika ia diutus oleh Nabi Saw ke Yaman.

  1. 2.         Salah memahami nash atau menyimpang darikonteksnya

Menurut Qardhawi, kesalahan ijtihad kontemporer juga bisa terjadi disebabkan kesalahan dalam pemahaman dan keliru dalam menginterpretasikan nash tersebut, misalnya nash yang bersifat umum dianggap khusus atau yang muthlaq diperkirakan muqayyad atau sebaliknya. Atau ketika memahami suatu nash dipisahkan dengan konteksnya, atau dipisahkan dari nash-nash lain yang menjelaskan isi dan maksudnya, atau terpisahkan dari ijma yang kuat, atau lebih cenderung membenarkan kenyataan yang ada, sehingga ijtihad yang dihasilkan menyimpang dari tujuan syariat.

  1. 3.         Kontra terhadap ijma yang dikukuhkan.

Yang dimaksud dengan ijma jenis ini adalah ijma yang telah diyakini, yang telah menjadi ketetapan fikih dan ijma itu telah diterapkan oleh semua umat Islam dan disepakati oleh semua madzhab fikih dikalangan umat Islam sepanjang masa. Ijma semacam ini biasanya tidak akan timbul kecuali bersandar kepada nash.

  1. 4.         Qiyas tidak pada tempatnya

Menurut Qardhawi , kekeliruan dapat pula terjadi apabila salah dalam menggunakan Qiyas (analogi), seperti mengqiyaskan perkara yang bersifat taabbudi (ibadah) kepada hal-hal yang bersifat adat istiadat dan muamalat, atau salah dalam memandang hukum dan tujuantujuannya, atau salah dalam menetapkan illatnya, dan sebagainya.

  1. 5.         Kealpaan terhadap realitas zaman

Qardhawi menegaskan bahwa terkadang manusia terbawa hanyut dalam arus realitas yang ada sehingga mengikuti aliran moderen sekalipun aliran tersebut bersifat asing dan bertentangan dengan Islam. Agar dapat membenarkan kenyataan yang ada, mereka berusaha untuk membenarkannya dengan cara memberikan sandaran hukum yang diambil dari Islam meskipun dengan cara penyelewengan dan paksaan.

  1. 6.         Berlebih-lebihan dalam mengungkapkan kepentingan umum walaupun harus mengabaikannash

Menurut Qardhawi, suatu kekeliruan juga dapat terjadi ketika berdalih untuk kepentingan umum (mendapatkan maslahat) tanpa memperhatikan nash. Karena pada dasarnya setiap hukum syariat telah memenuhi kemaslahatan, baik di dunia maupun di akhirat. Dan menurut para ahli fikih dalam menerapkan maslahat tidak boleh bertentangan dengan nash yang bersifat qath’i.

  1. E.       Konservasi Lingkungan dalam Perspektif Yusuf al-Qardhawi
    1. 1.         Keseimbangan Jiwa Manusia

Keseimbangan jiwa manusia merupakan hal yang utama yang harus diperhatikan sebelum melakukan apapun. Kondisi keseimbangan jiwa manusia bisa digambarkan seluruh organ tubuh yang berfungsi secara optimal untuk menunjang tubuh tersebut. Apabila salah satu organ tersebut mengalami sakit, maka keseimmengabangan fisik akan mengalami penurunan. Sakit bisa didefinisikan sebagai gambaran kondisi keseimbangan tubuh yang terganggu.

Hal yang tersebut di atas bisa saja terjadi di alam. Keseimbangan alam bisa saja terjadi apabila ada dari bagian unsur lingkungan yang mengalami gangguan. Pada manusia ketidakseimbangan yang terjadi dari unsur-unsur dari organ tubuh yang terdiri dari organ-organ tubuh manusia, yaitu ginjal, hati, limpa, otot, kelenjar, syaraf, usus, jantung, hati dan lain-lain. Sakit yang terjadi pada bagian tubuh tersebut akan menjalar ke seluruh tubuh yang lainnya.

Konsep-konsep dalam Islam sangat jelas mengatur tentang keseimbangan jiwa ini diantaranya adalah tauhid. Tauhid di dalam agama Islam dianggap sebagai penopang tindakan manusia yang terpenting. Tauhid mendasari semua pandangan tentang kebaikan, keteraturan, keterbukaan, dan kepasrahan. Konsep tauhid yang pada awalnya berarti mengesakan Allah, dalam perkembangannya konsep ini digunakan untuk konsep-konsep sosial, budaya, dan akhirnya lingkungan hidup.

  1. 2.         Menjaga Kestabilan Rantai dan Jejaring Makanan

Sejak usia sekolah dasar materi tentang rantai makanan sudah sering dibahas pada pelajaran IPA. Rantai makanan sendiri adalah alur proses makan dan dimakan yang terjadi di alam. Alur proses yang terjadi pada  rantai makanan ini berjalan atas kehendak Allah SWT. Sehingga makhluk yang satu dengan makhluk yang lain mempunyai hubungan saling ketergantungan atau dinamakan dengan simbiosis. Saling ketergantungan pada makhluk yang satu dengan yang lain inipun menjaga keseimbangan ekosistem.

Rantai makanan tersebut, apabila dihubung-hubungkan akan membentuk suatu jejaring. Peristiwa tersebut dinamakan jejaring makanan. Jejaring makanan yang ada dalam suatu ekosistem memerllihatkan ssehat ataupun tidaknya atau seimbang tidaknya suatu lingkungan. Semakin banyak komponen yang terlibat dalam jejaring makanan maka demakin sehat dan seimbang alamnya.

Makanan adalah hal yang esensial yang harus dijaga dan dipertahankan keberadaannya. Kehilangan makanan berarti kehilangan sumber kehidupan, karena makhluk hidup apapun baik yang ada di darat, air maupun udara memerlukaan energi yang berasal dari makanan. Di dalam Alquran juga sudah diterangkan bahwa Allah menciptakan apapun yang ada dalam dunia ini tidak dalam keadaan sia-sia.

Keseimbangan alam ini yang kemudian dirusak oleh tangan-tangan manusia yang tidakbertanggung jawab, sehingga ada beberapa komponen alam yang tidak terpenuhi. Misalnya kegiatan illegal logging yang berakibat pada rusaknya ekosistem hutan dan alur jejaring makanan akan terhenti pada siklus tertentu.

Jika kita kaji dalam al-Quran sudah memberikan peringatan yang tegas dan melatih manusia untuk tidak merusak alam melalui ibadah-ibadah mahdhoh yang dilakukan. Misalnya pada saat ibadah haji, ada dam yang harus dibayarkan ketika mencabut rumput dan membunuh binatang. Sekecil apapun binatang dan rumput tersebut.

Dengan demikian kegiatan apapun yang dilakukan harus menjaga kestabilan ekologi yang selanjutya dipergunakan untuk melindungi dn menjaga keseimbangan ala mini diantaranya melindungi jejaring makanan.

  1. 3.         Menjaga Siklus Hidrologi (Air)

Bumi adalah tempat tumbuh segala kehidupan. Air merupakan komponen terpenting bagi makhluk hidup. Penegasan al-Quran ini menunjukkan posisi vital air dalam bumi yang menjadi pembeda dengan planet-planet lainnya di Tata Surya (Solar Sistem). Air di bumi membungkus sekitar 71 persen dari permukaan bumi menjadi planet biru. Siklus menguap dan hujan yang diciptakan oleh bumi berikut lapisan-lapisannya yang dibantu sinar matahari. Air merupakan komponen penyusun bumi yang terbesar. Sekitar 70% permukaan bumi terdiri dari air. Dari jumlah air sebanyak itu hanya 3% saja yang merupakan air yang dapat dijadikan untuk minum dan berproduksi. Air tersebut disiklus dengan kehendak Allah agar keberadaannya dapat terjaga secara terus menerus.

Air diperlukan oleh makhluk hidup untuk melangsungkan dan mempertahankan kehidupannya di dunia ini, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Siklus hidrologi yang terjadi di alam ini dimulai dari peredaran melalui air laut, atmosfir, dan daratan dikenal sebagai siklus hydrological. Pada siklus hidrologi air yang diuapkan (evaporasi) dari permukaan laut lebih banyak dari pada presipitasi (jatuh sebagai air hujan atau salju). Air juga menguap dari tanah, danau, sungai dan dari daun-daun tanaman (transpirasi), tetapi jumlah total penguapan yang terjadi kurang dari jumlah yang jatuh sebagai curah hujan. Hujan yang terjadi di daratan kemudian kembali ke laut melalui sungai, aliran permukaan pantai dan aliran air bawah tanah.

Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem Daerah Aliran Sungai (DAS). Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya. Tempat terbesar tejadi di laut.

Siklus hidrologi megalami ketidaknormalan seperti daya tampung tanah terhadap resapan air tanpa tumbuhan menjadikan aliran air lebih banyak run off di permukaan. Sumber air berkurang oleh adanya siklus hidrologi terganggu, yaitu berkurangnya pepohonan yang mempunyai ciri struktur percabangan yang mengalirkan air hingga batang dan akar, selanjutnya berkurangnya kanopi sehingga evaporasi tanah lebih besar; dibanding puluhan tahun sebelumnya. Jenis pepohonan masing-masing mempunyai ciri khusus untuk mengalirkan air hujan seperti apakah percabangan mengarah ke atas atau ke bawah.

  1. 4.         Menjaga Kestabilan Atmosfer

Berulang kali al-Quran mengingatkan akan pentingnya langit. Tidak kurang dari 300 kali kata langit diulang dalam al-Quran dalam berbagai surat dan ayat. Langit merupakan komponen penting yang menjaga hidup dan kehidupan tetap berlangsung. Di dalamnya ada angin, awan dan hujan yang dengannya kehidupan akan berlangsung terus menerus.

Menurut Endes N. Dahlan, Indonesia menghasilkan 1,42 miliar ton CO2/tahun. Kini angka tersebut diperkirakan bertambah 30-45%. Tanpa pengurangan emisi/penyerapan kadar CO2 dalam atmosfer akan naik dari 350 ppm menjadi 550 ppm dalam 60 tahun.

Angka 550 ppm memang jauh di bawah ambang batas, namun gas yang tersusun dari 1 molekul karbon dan 2 molekul oksigen itu memicu hujan asam dengan PH di bawah 5,6. Akibatnya petir dan uap air mengubah karbon karbon dioksida menjadi asam karbonat. Meski tergolong lemah, hujan asam melarutkan kalsium sehingga mempercepat kerusakan bangunan, mengubh keseimbangan mikroba di tanah dan di air. Semakin lama semakin banyak saja jumlah gas CO2 yang diproduksi oleh buangan haasil pembakaran bahan bakar fosil yang tidak mampu lagi diserap secara alamiah. Gas-gas itulah yang kian lama kian menumpuk di atmosfir bumi kita, mengakibatkan dampak rumah kaca.

Kerusakan pada atmosfir akan menghancurkan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Keterangan dalam al-Quran tentang bahaya buruknya atmosfir diantaranya adalah bencana kelaparan (krisis pangan). Dari berbgai ayat al-Quran yang mengupas tentang langit dan atmosfir, maka pelajaran penting yang dapat ditarik adalah bahwa untuk menjaga hidup dan kehidupan tersebut adalah denngan memelihara kestabilan atmosfir yang telah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT.

  1. 5.         Menanam Pohon dan menjaga kesuburan lahan

Penanaman pohon di suatu kawasan atau lahan, akan memberi manfaat lebih besar terhadap alam; seperti menyediakan makanan bagi manusia dan hewan, membersihkan dan menyejukkan udara di sekitarnya, menjaga siklus oksigen dan keberadaan air tanah serta menaungi berbagai bentuk kehidupan lain (organisme).

Berbagai permasalahan tentang pemanasan global sebenarnya bisa diatasi sejak dini. Menurut Endang Dwi Siswani, solusi untuk mengurangi emisi gas buang dan penyerapan adalah penyerapan gas karbondioksida (CO2) di uara dengan mennam pohon-pohon penyerap gas berbobot 44 gram/molekul itu.

  1. 6.         Melindungi kawasan konservasi khusus[1]

Kawasan khusus yang dimaksud adalah kawasan yang memiliki peran untuk menjaga keseimbangan alam baik ekologi, ekonomi maupun sosial. Kawasan ini ditetapkan berdasarkan aturan baik pemerintah maupun kesepakatan bersama dalam masyarakat.

F.       KesimpulaN

    • Konservasi adalah pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam secara alami secara berkelanjutan dan teratur baik sumber daya hayati dan non hayati dengan melindungi proses-proses ekologis dalam sistem penyangga kehidupan dan juga pengawetan keanekaragaman hayati.
    • Konsep dasar konservasi lingkungan berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 yaitu: a) Perlindungan proses-proses ekologis yang penting atau pokok dalam sistem-sistem penyangga kehidupan, b) Pengawetan keanekaragaman hayati dan plasma nutfah, c) Pemanfaatan sumberdaya alam hayati secara lestari beserta ekosistemnya.
    • Ada tiga macam ijtihad yang dikemukakan oleh Qardhawi, yaitu ijtihad intiqa’i, ijtihad insya’i, dan ijtihad integrasi antara ijtihad intiqa’i dan insya’i.
    • Konservasi lingkungan dalam perspektif Yusuf al-Qardhawi antara lain: a) keseimbangan jiwa manusia; b) menjaga kestabilan rantai dan jejaring makanan; c) menjaga siklus hidrologi (air); d) menjaga kestabilan atmosfer; e) menanam pohon dan menjaga kesuburan lahan; dan f) melindungi kawasan konservasi khusus.

REFERENSI

Abdullah, Mudhofir, Al-Quran dan Konservsi Lingkungan (Argumen Konservasi Lingkungan Sebagai Tujuan Tertinggi Syari’ah), Jakarta: Dian Rakyat, 2010.

Affeltranger, Bastian dkk, Hidup Akrab dengan Bencana (Sebuah Tinjauan Global tentang Inisiatif-inisiatif Pengurangan Bencana, Jakarta: MPBI, 2007..

Artikel, merbabu.com konservasi alam dalam http://id.merbabu.com/jateng.html diakses tanggal 6 Maret 2011.

Departemen Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2001.

Dewobroto, Kukuh S., dkk., Kamus Konservasi Sumber Daya Alam, Jakarta: Rineka Cipta, 1995.

Indrawan, Mochamad, dkk., Biologi Konservasi, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007.

Jamil, Agus S., Al-Quran dan Lautan, Bandung: Penerbit Mizan, 2004.

Kusuma, Afandi, “Islam dan Pendidikan Lingkungan Hidup”, dalam  http/oasetarbiyah.blogspot.com/, diakses tanggal 4 Pebruari 2011.

Neolaka, Amos, Kesadaran Lingkungan, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

Partanto, Pius A, dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola, 1994.

Rifai, Mien A., Kamus Biologi, Jakarta: Balai Pustaka, 2004.

Siswani, Endang Dwi, “Sabuk Hijau 50 km” dalam Trubus Edisi 486, Jakarta: Grafika Multi Warna, 2010.

Supriatna, Jatna, Melestarikan Alam Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008.

Syarief, Efendi, Melawan Ketergantungan pada Minyak Bumi: Minyak Nabati & Biodisel Sebagai Alternatif dan Gerakan, Jogjakarta: Insist Press, 2004.

Utami, Ulfah, Konservasi Sumber Daya Alam Perspektif Islam dan Sains, Malang: UIN Malang Press, 2008.

 


[1]Utami, Konservasi Sumber…, 173-175.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: