SHALAT JAMA’AH


SHALAT JAMA’AH

OLEH: MUHAMMAD FATHURROHMAN, M.PD.I

Pendahuluan

Sholat jama’ah adalah hubungan dan ikatan dalam sholat antara imam dan ma’mum. Oleh karena itu dalam prakteknya harus terdiri minimal 2 orang, satu sebagai imam dan yang satunya sebagai ma’mum.

Hikmah yang terkandung dari sholat jama’ah adalah menjalin ikatan persaudaraan, merajut benang kasih sayang dan memperkokoh barisan antara muslim tanpa membeda-bedakan status sosial mereka.

Hukum Sholat Jama’ah

Hukum sholat jama’ah adalah  sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) hal ini berdasarkan firman Allah yang berbunyi :

وَإِذَا كُنْت فِيهِمْ فَأَقَمْت لَهُمْ الصَّلاَةَ

Artinya : Dan apabila Kamu berada ditengah-tengah qoum, maka dirikanlah sholat untuk mereka

Dan hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

صَلاَةُ الجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Artinya : sholat berjama’ah lebih utama dari pada sholat                       sendirian dengan selisih 27 derajat.

 

Dalam hadits diatas disebutkan bahwa sholat jama’ah mempunyai 27 derajat dibanding sholat sendirian. Derajat yang dimaksud disini adalah keutaman atau yang biasa disebut fadhilah. Dalam kenyataannya, fadhilah tersebut terbagi pada beberapa kesunatan yang hanya dianjurkan dalam jamaah dan tidak dianjurkan pada sholat sendirian. Fadhilah tersebut bisa diperoleh seseorang selama dia tercatat telah mengikuti jama’ah, dengan kata lain selama dia belum ketinggalan salam pertama imam.

 

Syarat-Syarat  Menjadi Ma’mum Ada Lima :

  1. Niat berjama’ah
  2. Tidak mendahului tempat imam
  3. Mengetahui gerakan imam
  4. Berkumpul dalam satu tempat
  5. Tidak terjadi Fuhsyul mukholafah (ketidak serasian antara sholat imam dan ma’mum)

Uraian dan Teknis Pelaksanaan

1. Niat.

Niat berjama’ah harus disebutkan oleh ma’mum bersamaan dengan  takbirotul ihrom[1]. Secara prinsip, yang terpenting dalam niat berjamaah adalah niat (tujuan) menghubungkan sholat ma’mum dengan sholat imam. Adapun bentuk-bentuk niat berjamaah bermacam-macam yaitu : niat berjama’ah, niat mengikuti imam, niat sholat bersama imam, niat menjadi ma’mum dll. Contoh :

أُصَلِّي فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالى

Artinya : saya niat sholat maghrib, tiga rokaat, menghadap kiblat, menjadi ma’mum karena Allah Ta’ala

 

2. Tidak mendahului tempat imam

Yang menjadi tolok ukur dalam hal ini terletak pada tumit (mata kaki) bukan jari-jari kaki, dalam arti, tumit ma’mum tidak boleh lebih depan dari tumit imam. Apabila hanya sejajar, hukumnya makruh namun tidak membatalkan sholat.

Adapun format posisi (tata letak) imam dan ma’mum yang dianjurkan ketika jama’ah diperinci sbb:

1)   Ketika ma’mum hanya lelaki

  1. Apabila ma’mum hanya satu orang, disunatkan berdiri disamping kanan imam dengan sedikit mundur, sampai jari kakinya berada dibelakang mata kaki imam.

F  Kemudian apabila datang ma’mum kedua, maka ma’mum tersebut menempat disamping kiri imam dengan sedikit mundur sama seperti ma’mum pertama, kemudian setelah ma’mum kedua takbir, kedua ma’mum disunatkan membuat shof (barisan) dibelakang imam. Hal ini bisa dilakukan dengan dua cara : ma’mum mundur bersamaan atau imamnya maju[2]

 

  1. b.    Apabila ma’mum lebih dari satu dan datang bersamaan, hendaknya langsung membentuk barisan kanan dan kiri dibelakang imam (tidak berada disamping imam)

 

2)   Ketika ma’mum hanya perempuan

Baik hanya satu orang maupun lebih, disunatkan membelakang agak jauh dari imam.

3)   Ketika ma’mum laki-laki dan perempuan

Urutan dari imam sbb:

  1. Laki-laki (dewasa maupun anak-anak)
  2. Huntsa (banci – kalau ada)
  3. Perempuan

 

3. Mengetahui gerakan imam

Gerakan imam yang dimaksud disini adalah perpindahan rukun fi’ly imam. Untuk mengetahui gerakan imam, bisa ditempuh dengan berbagai cara, baik secara langsung misalnya melihat imam (ketika ma’mum berada tidak jauh dari imam), ataupun tidak langsung asalkan ma’mum yakin dan bisa membedakan rukun fi’ly yang sedang dijalani imam misalnya melihat ma’mum lain atau mendengarkan suara imam ataupun dengan bantuan mediator seperti mendengarkan suara muballigh (perantara suara imam), suara imam dari spiker (pengeras suara) atau melihat tayangan sholat imam dari monitor dll

4. Berkumpul dengan imam dalam satu tempat

Melihat bermacam-macam tempatnya, maka hukumnya diperinci sbb:

  1. Imam dan Ma’mum sama-sama dimasjid.

Hal ini bisa dihukumi sah asalkan keberadaan ma’mum dalam suatu ruangan masih memungkinkan untuk berjalan menuju imam dengan mudah, meskipun ma’mum berada dalam ruangan yang berbeda, dan jaraknya dengan imam melebihi 144 m. Sebaliknya apabila ma’mum berada dalam suatu ruangan yang sulit atau tidak mungkin bisa berjalan menuju imam, maka jama’ahnya tidak sah karena tidak dianggap (dihukumi) berkumpul dengan imam dalam satu tempat,.

Contoh :

F Ma’mum berada dalam ruangan yang tidak ada pintunya, atau pintunya disegel[3].

F Ma’mum berada dikamar yang disegel atau berada di loteng yang tidak ada tangganya[4]

  1. Imam dan Ma’mum tidak bersama dalam satu masjid.

Secara terperinci, bentuknya ada tiga :

F  Imam dimasjid, ma’mum diluar masjid

F  Imam diluar masjid, ma’mum dimasjid

F  Imam dan ma’mum sama-sama diluar masjid

Hal ini bisa dihukumi sah dengan catatan :

  • Jarak antara imam dan ma’mum tidak lebih dari 144 m[5]
  • Tidak terdapat ha-il (penghalang) yang mencegah untuk melihat imam atau berjalan menujunya, kecuali ada robith[6] (penghubung) yang berada di tengah-tengah ha-il tersebut

5. Tidak terjadi Fuhsyul mukholafah (ketidak serasian antara imam dan ma’mum)

Esensi dari jama’ah adalah mutaba’ah, artinya ma’mum harus selalu mengikuti imam dalam melakukan atau tidak melakukan suatu pekerjaan, disampaing itu pekerjaan yang dilakukan ma’mum harus setelah pekerjaan imam dengan tenggang waktu yang tidak lama. Oleh karena itu apabila ma’mum melakukan pekerjaan yang mengesankan tidak serasi dengan imam maka jama’ahnya batal karena tidak terjalainnya mutaba’ah yang semestinya.

Hal-hal yang menyebabkan fuhsyul mukholafah (tidak serasi dalam jama’ah) adalah :

 

  1. Terlambat mengikuti imam melebihi dua rukun fi’li (rukun yang berupa gerakan) secara berturut-turut meskipun rukun pendek dan tanpa ada udzur.

Contoh : imam sudah turun untuk melakukan sujud, sedangkan ma’mum masih berdiri -> (belum ruku’ dan i’tidal)

  1. Terlambat mengikuti imam melebihi tiga rukun panjang, dikarenakan ada adzur.

Contoh : imam sudah berdiri dalam rokaat kedua (atau rokaat setelah rokaatnya ma’mum) sedangkan ma’mum masih dalam rokaat sebelum imam -> (ketinggalan ruku’, sujud pertama dan sujud kedua).[7]

 { Catatan 

Rukun panjang adalah ruku’, sujud, tahiyyat dan  berdiri

Rukun pendek adalah i’tidal, duduk diantara dua sujud.

Udzur dalam hal ini adalah :

  1. Bacaan ma’mum lamban (bukan karena waswas) sedangkan bacaan imam sedang
  2. Ma’mum lupa membaca fatihah dan baru ingat sebelum ia ruku’
  3. Membaca do’a atau dzikir sunnah sebelum membaca fatihah, karena menduga akan bisa menyelesaikan fatihahnya sebelum imam ruku’, namun ternyata dugaannya salah
  1. Mendahului imam melebihi dua rukun (meskipun rukun pendek)[8]

Contoh :

F  Imam masih dalam keadaan berdiri, ma’mum sudah turun untuk melakukan sujud -> (mendahului dalam ruku’ dan i’tidal)

F  Imam masih berdiri, ma’mum sudah ruku’ namun ketika imam hendak melakukan ruku’, ma’mum sudah sujud (tidak bersamaan dengan imam dalam ruku’ dan i’tidal)

  1. Melakukan atau tidak melakukan sunnah fi’ly tertentu sehingga  terkesan antara sholat imam dan ma’mum tidak serasi. Sunnah fi’ly yang dimaksud disini adalah tahiyyat awal, qunut, sujud sahwi dan sujud tilawah.

Contoh : imam melakukan tahiyyat awal sedangkan ma’mum tidak melakukannya (langsung berdiri), imam melakukan qunut sedangkan ma’mum tidak melakukannya (langsung sujud) begitu juga dalam sujud tilawah.

Berbeda apabila ma’mum melakukan atau tidak melakukan kesunahan namun tidak terkesan terjadi fuhsyul muholafah

Contoh :

F  Setelah i’tidal roka’at kedua sholat subuh, imam tidak melakukan qunut, bagi ma’mum tetap diperbolahkan melakukan qunut

F  Imam tidak melakukan tahiyyat awal namun sebelum berdiri, ia melakukan duduk istirohah, bagi ma’mum diperbolehkan melakukan tahiyyat awal[9]

{ Catatan :

Semua hukum yang telah disebutkan diatas berlaku apabila ma’mum melakukannya secara sengaja dan tahu bahwa hal tersebut dilarang. Apabila tidak sengaja, sholatnya tidak batal namun harus mengejar atau menyusul imam.

Orang Yang Tidak Sah Menjadi Imam Ada Tiga :

  1. Seseorang yang sudah menjadi ma’mum pada imam lain (meskipun hanya dugaan atau diragukan)
  2. Seorang ummy yang menjadi imam bagi qori’
  • Ummy adalah orang tidak bisa membaca fatihah dengan benar meskipun hanya dalam satu huruf, hal ini dikarenakan ia tidak bisa membaca huruf fatihah sesuai dengan makhrojnya atau karena tidak bisa membaca tasydid yang ada dalam fatihah.
  • Qori’ adalah orang yang bisa membaca fatihah secara benar (bacaannya tidak menimbulkan kesalahan yang bisa merusak ma’na fatihah).
  1. Perempuan yang menjadi imam bagi lai-laki (meskipun anak kecil) atau huntsa (banci)

Orang Yang Makruh Menjadi Imam Ada Empat:

  1. Orang fasiq yaitu orang yang pernah melakukan dosa besar atau orang yang berulang-ulang melakukan dosa kecil dan belum bertaubat
  2. Orang ahli bid’ah yang tidak sampai menyebabkan kufur
  3. Orang yang selalu waswas[10]
  4. Orang yang belum dihitan

Udzur Jama’ah

Udzur yang memperbolehkan seseorang tidak melakukan jama’ah[11] adalah :

  1. Hujan yang sampai membasahi bajunya
  2. Cuaca yang sangat panas
  3. Cuaca yang sangat dingin
  4. Malam yang sangat gelap
  5. Sakit yang menyebabkan tidak bisa sholat dengan khusyu’
  6. Menahan hadast (kencing, berak, kentut)
  7. Tidak menemukan baju yang layak (meskipun sudah ada yang bisa menutup aurot)
  8. Khawatir tertinggal rombongan bagi orang yang hendak melakukan perjalanan yang diperbolehkan
  9. Khawatirkan terjadi penganiayaan pada orang ma’sum[12] apabila ia meninggalkannya
  10. Tidak kuat menahan kantuk ketika menunggu jama’ah
  11. Sangat haus dan lapar

Muwafiq Dan Masbuk

 

Pengertian

Muwafiq adalah ma’mum yang setelah takbir mempunyai sisa waktu yang cukup untuk menyempurnakan bacaan fatihah dengan kecepatan baca sedang (tidak terlalu cepat dan lambat) sebelum imam ruku’.

Sedangkan masbuk adalah sebaliknya, yaitu : ma’mum yang setelah takbir hanya mempunyai sedikit sisa waktu yang tidak cukup untuk menyempurnakan bacaan fatihah sebelum imam ruku’.

Ambil contoh : misalkan standart bacaan fatihah sedang berdurasi 2 menit. Apabila ketika ma’mum mengikuti imam masih ada waktu 2 menit, maka ia berstatus muwafiq, sebaliknya apabila kurang dari 2 menit maka statusnya masbuq.

Dari pengertian ini dapat diambil kesimpulan, bahwa status masbuq tidak hanya untuk rokaat pertama saja, namun bisa dirokaat kedua dan seterusnya bahkan bisa jadi, ma’mum tersebut menjadi masbuq dalam seluruh rokaatnya.[13]

{  Catatan.

@  Termasuk dalam kategori masbuq adalah ma’mum yang ketika ia takbir, imam sudah selesai berdiri, baik waktu itu imam dalam keadaan ruku’, I’tidal, sujud dan sebagainya

@  Untuk mengantisipasi keterlambatan bacaan fatihah ma’mum, menurut ulama’, apabila ma’mum telah melaksanakan takbirotul ihrom, ia disunatkan langsung membaca fatihah tanpa membaca do’a atau dzikir sunat terlebih dahulu, kecuali dia mempunyai dugaan bisa menyelesaikan fatihahnya sebelum imam ruku’.

 

Hukum-Hukum Ma’mum Muwafiq

  1. Harus menyempurnakan fatihah. Apabila imam telah melakukan ruku’, ia harus tetap berdiri untuk menyelesaikan fatihahnya, selanjutnya apabila ketika ia ruku’, imam masih ruku’ maka apa yang telah ia lakukan tercatat sebagai roka’at, sebaliknya apabila ketika ia ruku’ imam telah i’tidal atau seterusnya, maka apa yang telah ia lakukan tidak tercatat sebagai roka’at.
  2. Dalam menyelesaikan fatihahnya, ia diperbolehkan tertinggal dari imam sampai dua rukun pendek apabila tidak ada udzur dan tiga rukun panjang apabila ada udzur (sebagaimana udzur diatas)

Fase-Fase Rukun fi’ly ketika Ma’mum Masbuq Mengikuti Imam

a)    Ketika mengikuti imam dalam rukun berdiri

Yang harus dilakukan ma’mum pertama kali adalah takbirotul ihrom, lalu langsung membaca fatihah tanpa menunda-nundanya[14] dengan do’a atau dzikir sunnah atau diam terlebih dahulu, kemudian apabila sebelum ia menyelesaikan fatihahnya, imam sudah melakukan ruku’, maka ia harus langsung ruku’ mengikuti imam, sedangkan kekurangan fatihah sudah dalam tanggungan imam dan tidak perlu diselesaikan[15]

b)    Ketika mengikuti imam dalam rukun ruku’

Setelah takbirotul ihrom,[16] ma’mum langsung menyusul imam yang masih ruku’ (tanpa membaca fatihah terlebih dahulu). Kemudian apabila ketika ma’mum ruku’ bersamaan dengan imam, masih ada waktu tuma’ninah bersama, maka apa yang telah ia lakukan tercatat sebagai roka’at, sebaliknya, apabila ketika ma’mum ruku’, imam sudah mulai berdiri untuk I’tidal, maka apa yang telah ia lakukan tidak tercatat sebagai roka’at.

c)    Ketika mengikuti imam dalam rukun i’tidal atau seterusnya,

Setelah takbirotul ihrom, ma’mum langsung menyusul imam sesuai dengan keadaan imam waktu itu artinya ketika imam sedang sujud, ma’mum langsung sujud, ketika imam sedang duduk, ma’mum langsung duduk, begitu seterusnya.[17]

Selanjutnya, apabila imam melakukan salam dan ma’mum masih mempunyai sisa rok’aat yang belum diselesaikan, maka ketika hendak berdiri, ia disunatkan melakukan takbir intiqol dengan mengangkat tangan sebatas pundak (seperti takbirotul ihrom). Hal ini apabila duduk yang dilaksanakan beserta imam merupakan duduk yang mestinya dilakukan andaikan ma’mum tersebut sholat sendirian.

Contoh : dalam sholat isya’ (misalnya) ma’mum telah ketinggalan dua roka’at, ketika imam melakukan tahiyyat ahir, ma’mum pun melakukan tahiyyat, ketika imam telah salam, sebelum berdiri ma’mum disunatkan takbir dengan mengangkat tangannya, karena duduk tahiyyat yang ia lakukan bersamaan dengan imam adalah duduk yang mestinya ia lakukan sebagai tahiyyat awal andaikan ia sholat sendirian. Berbeda apabila ia ketinggalan satu atau tiga roka’at, ketika imam telah salam ia disunahkan takbir namun tanpa mengangkat tangan karena duduk tahiyyat yang ia lakukan bersamaan dengan imam adalah bukan duduk yang mestinya ia lakukan.

Imam Melakukan Tindakan yang Tidak semestinya

Apabila ditengah-tengah sholatnya, imam melakukan tindakan yang tidak semestinya, maka hal yang harus dilakukan ma’mum dapat diperinci sebagai berikut :

  1. 1.   Ketika imam menambah roka’at

Sikap ma’mum -> mengingatkan dengan membaca tasbih, apabila imam tetap melanjutkan kesalahannya, lebih baik menunggu sampai selesai atau boleh untuk mufaroqoh[18]

Contoh : ketika imam dan ma’mum dalam tahiyyat ahir, tanpa sengaja imam berdiri lagi untuk menambah roka’at yang telah selesai, dalam keadaan tersebut, ma’mum disunahkan mengingatkan imam dengan membaca subhanalloh. Apabila imam sadar akan kesalahannya, ia harus kembali duduk lalu sujud sahwi dan kemudian salam. Apabila setelah dingatkan, imam tetap melanjutkannya, maka ma’mum boleh menunggunya dengan duduk sampai imam selesai dan kemudian melakukan salam setelah imam salam. Apabila ia tidak ingin menunggu imam, ia boleh mufaroqoh, caranya dengan niat lepas dari jama’ah dengan imam, lalu salam tanpa menunggu imam.

  1. 2.   Ketika imam melakukan hal-hal membatalkan sholat

Sikap ma’mum -> apabila masih ada kemungkinan sholat imam tidak jadi batal, ma’mum lebih baik berbaik sangka dalam arti menganggap apa yang dilakukan imam tidak sampai membatalkan sholat. Apabila ma’mum yakin, imam telah batal sholatnya, ia harus mufaroqoh.

Contoh : imam tidak membaca basmalah ketika fatihah, apabila antara takbir dan ayat setelah basmalah yang dibaca imam masih ada tenggang waktu yang mungkin bisa digunakan membaca basmalah, seyogyanya ma’mum berbaik sangka, dalam arti, anggap saja imam sudah membaca basmalah yang tidak didengar oleh ma’mum. Sebaliknya apabila antara takbir dan ayat setelah basmalah tidak ada tenggang waktu yang bisa digunakan membaca basmalah maka ma’mum harus mufaroqoh, karena bisa dipastikan imam tidak membaca basmalah. Hal ini bisa dianalogikan pada contoh-contoh lain yang semisal.

  1. 3.   Ketika imam tidak melakukan tahiyyat awal

Sikap ma’mum -> harus langsung berdiri mengikuti imam apabila setelah sujud kedua, imam tidak duduk istirohah. Sebaliknya, apabila imam melakukan duduk istirohah, ma’mum tetap  diperbolahkan melakukan tahiyyat awal

  1. 4.   Ketika imam tidak melakukan qunut

Sikap ma’mum diperinci sbb:

Q  Sunnah melakukan qunut, apabila yakin bisa menyusul imam dalam sujud awal.

Q  Boleh melakukannya, apabila yakin bisa menyusul imam dalam duduk diantara dua sujud.

Q  Tidak boleh melakukannya, apabila yakin hanya bisa menyusul imam pada sujud kedua.

 


[1] Apabila niat berjamaah tidak disebutkan, maka sholatnya dihukumi munfarid (sendirian) meskipun ma’mum tersebut sudah berada dalam barisan jama’ah, dan mestinya dia harus mengerjakan sholatnya tanpa mengikuti imam. apabila ma’mum tersebut tetap mengikuti imam selayaknya seorang yang berjamaah dalam waktu yang cukup lama maka sholatnya batal karena musholli tersebut dianggap menghubungkan sholatnya dengan musholli lain tanpa ada ikatan jama’ah

Niat menjadi imam tidak wajib selain sholat jum’ah, namun hanya sebagai syarat agar bisa mendapatkan fadhilah jama’ah.

[2] Apabila tempatnya memungkinkan untuk melakukan dua cara diatas, yang lebih afdhol, ma’mum yang mundur. Namun kalau hanya bisa dilakukan oleh salah satunya, maka dialah yang melakukannya.

[3] Termasuk apabila ma’mum terhalang oleh semisal tembok atau satir, yang mana jalan menuju imam sangat sulit misalnya harus melompat atau apabila berjalan menuju imam akan menyebabkan dadanya berpaling dari kiblat.

[4] Apabila ma’mum berada dalam kamar yang pintunya tertutup atau terkunci, masih dianggap berkumpul dengan imam meskipun kuncinya hilang, hal ini karena dianggap tidak permanen

[5] Apabila imam berada dimasjid sedangkan ma’mum diluar masjid, penghitungan jaraknya dimulai dari bagian belakang majid bukan dari imam. sedangkan selain bentuk tersebut, perhitungan jaraknya dimulai dari ma’mum didepannya.

[6] Robith disini haruslah termasuk seorang ma’mum, dia dihukumi seperti imam dalam tiga hal : ma’mum dibelakangnya tidak boleh mendahului tempatnya dan tidak boleh mendahului takbirotul ihrom maupun salamnya.

[7] Solusinya : ma’mum harus menyusul imam dalam rukun keempat (berdiri / tahiyyat) meskipun tidak melakukan tartib yang semestinya, kemudian setelah imam salam, dia menambah rokaat karena ketertinggalannya

[8] Adapun mendahului imam dalam satu rukun, hukumnya haram namun tidak sampai membatalkan sholatnya. Sedangkan berbarengan dengan  imam baik dalam gerakan maupun bacaan selain takbirotul ihrom hukumnya makruh dan bisa menghilangkan fadhilah jama’ah

[9] Tahiyyat awal yang dilakukan ma’mum bukan fuhsyul muholafah karena ma’mum tidak dianggap melakukan pekerjaan yang tidak dilakukan oleh imam. Hal ini dikarenakan imam melakukan duduk istirohah sebelum berdiri sebagai bukti bahwa imam dan ma’mum sama-sama duduk (tidak ada rukun fi’li baru yang hanya dikerjakan oleh ma’mum). Oleh karena itu apabila setelah sujud, imam langsung berdiri (tanpa duduk istirohah) ma’mum tidak diperbolehkan melakukan tahiyyat awal.

[10] Orang yang waswas adalah orang yang memastikan adanya sesuatu yang sebenarnya tidak ada tanpa bukti yang jelas, seperti : seseorang yang merasa sarungnya terkena cipratan najis, tapi ia tidak bisa menjelaskan bukti yang jelas untuk mendukung perasaannya tersebut.

[11] Maksud udzur diatas adalah penyebab yang memperbolehkan tidak melakukan jama’ah ketika seseorang menuju tempat dilaksanakannya jama’ah. Artinya ketika seseorang tidak bisa melakukan jama’ah di masjid dikarenakan hujan (misalnya), namun masih bisa melakukannya dirumah, maka orang tersebut tidak bisa dikatakan terkena udzur.

[12] Orang yang tidak boleh dbunuh yaitu orang kafir dzimmy dan muslim yang tidak murtad, zina muhshon atau meninggalkan sholat

[13] Yang menjadikan ma’mum berstatus masbuq pada roka’at selain pertama adalah keterlambatan ma’mum untuk berdiri mengikuti imam, hal ini bisa dikarenakan gerakannya lambat atau karena desakan sehingga dalam sujud harus antri dengan ma’mum lain.

[14] Apabila ma’mum menunda-nundanya dengan membaca bacaan sunat atau hanya diam, maka dia harus menambah kadar bacaan fatihahnya sesuai dengan kadar kesunatan yang dia baca atau kadar waktu diam, selanjutnya apabila dia bisa menyusul ruku’ imam, maka apa yang telah ia lakukan tercatat sebagai roka’at, sebaliknya, apabila ketika ia ruku’, imam telah i’tidal dan seterusnya maka apa yang telah ia lakukan tidak tercatat sebagai roka’at sehingga seolah-olah ia belum melakukannya dan harus menambahi satu roka’at setelah imam salam.

[15] Apabila ma’mum tidak langsung mengikuti dalam ruku’, dan imam sudah terlanjur melakukan i’tidal maka apa yang telah dilakukan ma’mum tidak tercatat sebagai roka’at.

[16].takbir yang dilakukan ma’mum waktu itu harus diniati takbirotul ihrom saja, atau boleh melakukan takbir dua kali, yang pertama sebagai takbirotul ihrom & dan yang kedua sebagai takbir ruku’

[17] Dalam hal ini, apa yang telah dilakukan ma’mum tidak tercatat sebagai roka’at, karena kriteria untuk mendapatkan roka’at adalah bersamaan dengan imam dalam waktu thuma’ninah ruku’

[18] Mufaroqh adalah melepaskan tali ikatan jama’ah dengan imam. caranya, pertama niat untuk lepas dari jama’ah dengan imam kemudian melakukan sholatnya sebagaimana ia sholat sendirian.

2 responses

  1. Assalamu’alaikum
    Saya sering tidak bisa rukuk bersama imam. Ketika saya belum selesai membaca Al Fatihah, imam sudah rukuk. Ketika imam iktidal, saya baru rukuk, tetapi saya masih bisa iktidal bersama imam sebab imam iktidal cukup lama.
    Apakah rakaat tsb sah atau tidak Ustadz?
    Syukron.

    1. Sah, jika tidak tertinggal 3 rukun dari imam. dan fatihahnya sempurna. trims.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: