SHOLAT JUM’AT


SHOLAT JUM’AT

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

Pendahuluan

Hari jum’at adalah hari terbaik diantara hari-hari yang lain, hal ini dikarenakan pada hari itu Allah memerdekakan 600.000 manusia dari neraka, Allah menghindarkan fitnah kubur dan memberikan pahala orang yang mati syahid bagi orang yang meninggal dunia pada hari itu.

Sholat jum’at diwajibkan pada malam isro’ sewaktu Rosululloh masih berada di Makkah, namun belum bisa dilaksanakan, karena jumlah umat islam waktu itu masih sedikit, dan agama islam masih samar.

Syarat-syarat dalam melaksanakan Sholat Jum’at

Dalam sholat jum’at ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang yang akan melaksanakan sholat jum’ah dan persyaratan yang terkait dengan keabsahan sholat jum’ah.

Syarat-syarat bagi pelaku, secara rinci terbagi menjadi tiga :

 Syarat wajib. Yaitu ketentuan yang harus dipenuhi agar orang tersebut mendapatkan perintah wajib menjalankan sholat jum’at.  Jumlahnya ada 6 ( enam ) yaitu :

a)    Islam

b)    Mukallaf (baligh, berakal)

c)    Lelaki

d)    Merdeka

e)    Mukim[1]

f)     Tidak terkena udzur jama’ah

  1. Syarat Sah, yaitu ketentuan yang harus dipenuhi agar sholat jum’at yang dilaksanakan orang tersebut sah. dalam hal ini syarat tersebut adalah islam dan mukallaf.
  1. Syarat In’iqod (legalitas) yaitu ketentuan yang harus dipenuhi oleh seseorang agar  sholat jum’ah didaerahnya dinyatakan sah dan legal, jumlahnya ada 6 ( enam ) yaitu :

a)    Islam

b)    Mukallaf (baligh, berakal)

c)    Lelaki

d)    Merdeka

e)    Mustauthin (berdomisili didaerah pelaksanaan sholat jum’at)

Yang dimaksud adalah orang yang tidak berpindah ke tempat lain dalam masa tertentu. Oleh karena itu mengecualikan orang yang menetap disuatu daerah untuk keperluan tertentu yang suatu saat akan kembali kedaerah asalnya seperti pedagang, santri dsb

 Syarat-syarat sah penyelenggaraan sholat jum’ah :

  1. Waktu Dluhur
  2. Darul Iqomah
  3. Tidak didahului atau bersamaan dengan jum’atan lain didaerahnya
  4. Terdapat 40 orang ahli jum’at
  5. Berjamaah
  6. Didahului khotbah jum’ah

Uraian

1. Waktu dluhur

Sholat jum’at harus dilaksanakan pada waktu dluhur, oleh karena itu apabila waktu dluhur habis dan sudah masuk waktu ashar, maka harus mengqodloinya dengan sholat dluhur empat rokaat.

2. Darul Iqomah (daerah menetap )

Sholat jum’at harus dilaksanakan ditempat yang sudah berstatus sebagai daerah tempat domisili seperti desa, dukuh, kota dsb meskipun penyelenggaraannya tidak dimasjid.

3. Tidak didahului atau bersamaan dengan jum’atan lain didaerahnya.

Dalam aturan yang semestinya, jum’atan harus diselenggarakan pada satu tempat dalam satu daerah, baik daerah yang kecil maupun besar karena untuk mensyiarkan jum’atan didaerah tersebut, selain itu agar bisa menjalin persatuan antara umat islam. Namun apabila dirasa sulit mengumpulkan penduduk dalam satu tempat, maka boleh untuk menyelenggarakan jum’atan lebih dari satu tempat, karena hal tersebut tergolong udzur.

Faktor yang menjadikan udzur dalam hal ini, dapat dikelompokkan menjadi 3 ( tiga )bagian yaitu:

  • Daerah tersebut terlalu luas[2]
  • Terlalu banyak jumlah penduduknya
  • Terjadi permusuhan antara beberapa golongan didaerah tersebut

Apabila terdapat udzur diatas maka sholat jum’at yang diselenggarakan dibeberapa tempat hukumnya sah sesuai dengan kadar kebutuhan untuk menyelenggarakannya didaerah tersebut. Sebaliknya apabila tidak terdapat udzur diatas maka yang dihukumi sah adalah sholat jum’at yang lebih dahulu, sedangkan sholat jum’at yang didahului dihukumi tidak sah dan wajib mengulangnya dengan sholat dluhur.[3]

4. Terdapat 40 orang ahli jum’at

40 orang tersebut harus terdiri dari orang yang sudah memenuhi syarat in’iqod jum’atan ( lelaki, mukallaf, merdeka, mustauthin ) mulai khutbah dimulai sampai berahir sholat jum’at

5. Berjamaah

Syarat berjama’ah disini, minimal satu roka’at sempurna, dalam arti ma’mum yang tertinggal roka’at pertama dan bisa menyelesaikan roka’at kedua secara sempurna dengan berjama’ah, masih dihukumi sah. kemudian setelah imam salam, ia hanya menambah satu roka’at karena masih dianggap sholat jum’at. Berbeda apabila ma’mum menjumpai imam setelah imam selesai ruku’ pada roka’at kedua, maka ia harus mengikutinya sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan imam, dan setelah imam salam ia harus menambah tiga roka’at, hal ini karena ia dianggap telah faut ( hilang ) sholat jum’atnya sehungga yang dilaksanakan pada dasarnya adalah sholat dluhur dengan empat roka’at.[4]

6. Melaksanakan Khutbah sebelumnya

œ Syarat-syarat khutbah jum’ah

  1. Dilaksanakan pada waktu dluhur
  2. Dilaksanakan sebelum sholat jum’ah
  3. Berdiri bagi Khotib ( orang yang khutbah ) apabila mampu
  4. Duduk diantara dua khutbah
  5. Suci dari hadats dan najis
  6. Menutup aurot
  7. Muwalah ( berkesinambungan ) antara rukun-rukunya, dua khutbah, dan antara khutbah dengan sholat jum’ah
  8. Mengeraskan suara khutbahnya agar dapat didengar oleh 40 orang ahli jum’ah[5]
  9. Memakai bahasa arab dalam rukun-rukun khutbah

œ Rukun-Rukun Khutbah

Secara keseluruhan jumlahnya ada 5 ( lima ), namun untuk tiga rukun pertama harus dilaksanakan di khutbah pertama dan kedua, yaitu :

  1. 1.   Membaca hamdalah, minimal lafadz الحمد لله

Dalam menyebutkan Asma’ A’dzhom (nama tuhan) harus  memakai lafadz الله tidak boleh diganti dengan yang lain seperti الرحمن / العليم dan lain sebagainya. Berbeda dalam menyebutkan lafadz pujian dengan lafadzالحمد  boleh dirubah dengan shighot lain yang sema’na seperti نحمد الله / حمدا لله dan lain sebagainya, namun tidak boleh diganti dengan lafadz lain meskipun artinya sama seperti نشكر الله dan lain sebagainya.

  1. 2.      Membaca sholawat pada Rosululloh SAW seperti

أللهم صل على سيدنا محمد

Dalam membaca sholawat harus memakai lafadz صلاة  meskipun shighotnya tidak sama, lain halnya dalam membaca lafadz محمد, boleh dengan memakai nama lain dari Nabi Muhammad SAW seperti أحمد / العاقب / الرسول dll

Contoh :  أللهم صل على سيدنا محمد/ صلاة وسلاما على العاقب او الحاشر

  1. 3.  Berwasiat untuk taqwa kepada Allah SWT seperti إتقوا الله

Dalam wasiat tidak harus menggunakan lafadz diatas, boleh memakai lafadz lain asalkan berisikan nasehat seperti أطيعوا الله

4.   Mendo’akan para mu’min untuk kebaikan diakhirat (dalam khutbah kedua)

seperti : أللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات dan lain sebagainya

  1. 5.   Membaca ayat Qur’an

Dianjurkan membaca ayat yang ada kaitannya dengan isi khutbahnya. Jumlahnya tidak terbatas, asalkan ayat tersebut dibaca secara sempurna, tidak terpotong.

Hal yang dianjurkan bagi jama’ah jum’ah ketika khutbah sedang dilaksanakan :

  • Menghadap kearah khotib
  • Memusatkan perhatian dan mendengarkan khutbah secara cermat
  • Tidak berbicara[6]
  • Meringankan ( mempercepat dan meringkas ) sholat ketika khotib telah naik ke mimbar apabila orang tersebut terlanjur telah melakukan sholat. Apabila khotib telah naik mimbar maka tidak boleh memulai sholat sunnah karena mengesankan berpaling dari jum’atan[7]

 

Ritual-ritual khusus hari jum’at

Bagi orang yang hendak melaksanakan sholat jum’at disunatkan beberapa hal :

  1. Mandi jum’at, waktunya mulai fajar shodiq sampai waktu khotib naik ke mimbar
  2. Berangkat pagi-pagi
  3. Memakai pakaian terbaik, dan dianjurkan yang warna putih
  4. Memakai sorban
  5. Memakai parfum wangi
  6. Memperbanyak bacaan surat Al Kahfi (pada hari dan malam jum’at)
  7. Memperbanyak bacaan sholawat (pada hari dan malam jum’at)
  8. Memperbanyak berdoa (pada hari dan malam jum’at)

Hal-hal yang diharamkan pada hari jum’at bagi orang berkawajiban melaksanakan sholat jum’at

  1. Melakukan transaksi seperti jual beli dan lain-lain pada waktu adzan jum’at[8]
  2. Melakukan perjalanan setelah fajar hari jum’at yang menjadikan orang tersebut tidak bisa melaksanakan jum’atan diperjalanannnya

[1] Sedangkan bagi musafir yang mubah ( bepergian tanpa unsur ma’siat ) hukunya adalah sunnah meskipun ke suatu tempat yang jaraknya pendek. Namun apabila ia pergi ke daerah yang tidak jauh dari daerahnya sekira adzan jum’ah didaerahnya bisa terdengar di tempat tersebut maka ia tetap wajib melaksanakan jum’atan karena dalam hal ini ia belum dihukumi bepergian yang menggugurkan jum’atan.

[2] Yang dimaksud udzur diatas adalah ketika sebagian penduduk yang rumahnya terlalu jauh untuk menuju ke tempat jum’atan sehingga akan masyaqqot apabila harus melaksanakan jum’atan ditempat tersebut. Sedangkan bagi penduduk yang rumahnya dekat dengan tempat jum’atan harus melakukan jum’atan ditempat tersebut, tidak boleh mendirikan jum’atan lagi.

[3] Menurut sebagian ulama’ disunatkan sholat dluhur setelah sholat jum’at sebagai antisipasi apabila penyelenggaraan jum’atan didua tempat atau lebih bukan karena udzur yang semestinya.

[4] Meskipun sholat yang dilakukan hakikatya adalah sholat dluhur, ketika takbirotul ihrom ia tetap niat sholat jum’at

[5] Yang menjadi tolok ukur suara keras adalah sekira 40 orang sidang jum’ah bisa mendengarkannya apabila kondisi dan keadaannya normal, oleh karena itu apabila dalam kenyataannya ada orang yang tidak mendengarkannya maka tetap sah misalnya karena  suara gaduh atau sedang ngantuk atau orang tuli

[6] Apabila terjadi suatu hal yang memerlukan orang tersebut berbicara seperti mengingatkan orang yang berbuat tidak baik dan lain-lain maka hal tersebut diperbolehkan. Bahkan apabila ada hal yang mengharuska ia berbicara maka hukumnya wajib seperti mengingatkan seseorang yang akan terjatuh, termasuk lagi menjawab salam ketika ada orang memulainya dan menjawab orang yang bersin yang membaca hamdalah

[7] Menurut al Bulqini, sholatnya tidak sah karena bukan pada waktu yang semestinya.

[8] Meskipun hukumnya haram namun jual belinya tetap sah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: