EKSISTENSI NABI MUHAMMAD


EKSISTENSI NABI MUHAMMAD

(Kajian Multi Peran Nabi Muhammad SAW)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.    Latar Belakang

Pribadi Muhammad sebagai pengemban risalah kenabian dan kerasulan memiliki berbagai dimensi yang merupakan perpaduan antara sisi kemanusiaan dan sisi ketuhanan. Nabi Muhammad  saw sungguh luar biasa. Salah satu bagian hidupnya yang membuat umat manusia kagum adalah saat-saat dimana beliau menjadi seorang pemimpin. Beliau pemimpin bagi Islam, sekaligus sebagai pemimpin negara, sekaligus pemimpin rumah tangga, sekaligus pemimpin bagi dirinya sendiri.

Ucapan-ucapan Nabi yang berkenaan dengan pembinaan akhlak yang mulia, bukan saja hanya pandai dalam berkata-kata saja namun beliau dalam hal perbuatan dan kepribadiannya juga mengandung akhlak yang mulia yang pantas untuk kita jadikan sebagai contoh. Beliau juga dikenal sebagai orang yang shidiq(benar), amanah(terpercaya), tabligh(menyampaikan dakwah), fathanah(cerdas). Selain hal tersebut beliau juga bergelar al-amin(orang yang terpercaya). Selanjutnya beliau juga taat beribadah, jauh dari perbuatan maksiat, pemaaf, dan lain-lain. Dengan segala sifat Nabi yang begitu mulia itu dan memang beliau adalah Rasul Allah maka kita wajib untuk mentaati dan mencontohnya. Lalu kemudian yang menjadi pertanyaan kaitannya dengan kenabian/kerasulan Muhammad, yaitu posisi beliau yang menjadi kepala Negara dan di samping itu beliau juga manusia biasa.

Al-hadits didefinisikan oleh pada umumnya ulama –seperti definisi Al-Sunnah– sebagai “Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Muhammad saw., baik ucapan, perbuatan dan taqrir (ketetapan), maupun sifat fisik dan psikis, baik sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudahnya.” Ulama ushul fiqh, membatasi pengertian hadis hanya pada “ucapan-ucapan Nabi Muhammad saw. yang berkaitan dengan hukum”; sedangkan bila mencakup pula perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum, maka ketiga hal ini mereka namai al-Sunnah.

Sumber ajaran umat Islam yang pertama adalah al-Qur’an sebagai pedoman hidup untuk menata serta memberi petunjuk umat manusia. Sedangkan sumber ajaran yang ke dua adalah Hadits sebagai pedoman hidup dan untuk menjaga kemurnian ajaran agama tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari. Hadits mengajarkan kepada umat Islam supaya mereka dapat menjalankan ajaran agama dengan tepat. Tanpa menggunakan hadits, tidak akan utuh dalam memahami ajaran al-Qur’an terlebih bagaimana mengimplementasikan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam memahami sebuah ayat sering kita harus memahami kondisi serta situasi ketika sebuah ayat turun (asbabun nuzul) hal ini tidaklah mungkin kita dapatkan selain dari keterangan sebuah hadits.

Meskipun begitu kita tidak bisa seenaknya saja mengambil hadits untuk langsung di jadikan sumber hukum Islam yang pertama tanpa menghiraukan keshahihan sanad maupun matannya. Melalui artikel sedikit ini, penulis akan berusaha memaparkan sedikit mengenai “Eksistensi Nabi Muhammad ”.

B.     Nabi Muhammad SAW.

Rasululloh SAW. lahir dari dilahirkan pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal tahun gajah (570 M). beliau adalah Muhammad saw. Bin Abdullah bin abdul muthalib bin hasyim bin abdi manaf bin qushay bin kilab bin murrah bin ka’ab bin lu’ayy bin ghalib bin fihr bin malik bin nadhr bin kinanah bin khuzaimah bin mudrikah bin ilyas bin mudhar bin nizar bin ma’ad bin adnan. Nasab adnan berakhir pada sayyidina Isma’il bin ibrahim alaihimas al-salam.

Sebelum beliau dilahirkan ayahnya telah wafat oleh karena itu kakeknyalah yang mengasuh beliau kemudian di susui oleh Halimatus Sa’diyah. Setelah kakeknya wafat beliau diasuh oleh pamannya yaitu Abu Thalib.salah satu dari usaha Muhammad yang terpenting sebelum di utus menjadi rosul ialah berniaga ke syam membawa barang-barang Khadijah. Perniagaan ini menghasilkan laba yang banyak dan menyebabkan adanya pertalian antara Muhammad dengan Khadijah dan mereka kemudian mereka menikah. Waktu itu beliau berumur 25 tahun dan khadijah sudah janda yang berumur 40 tahun.

Nabi atau Rasul adalah seorang manusia biasa yang diangkat Allah dalam rangka mengemban misi ketuhanan untuk setiap manusia. Dalam kapasitasnya sebagai manusia, seorang Nabi atau rasul tentu terikat dengan hukum alamiahnya (lahir–berkembang–mati). Sementara itu, dalam kapasitasnya sebagai manusia pilihan Allah yang bertugas membawakan berita “langit” dan risalah ketuhanan, seorang Nabi atau Rasul mempunyai sejumlah kelebihan dibandingkan manusia pada umumnya. Dengan mengetahui karakteristik Nabi, diharapkan dapat diketahui kapan Muhammad berkedudukan sebagai Nabi atau Rasul, di mana semua tindakan beliau selalu bersifat mengikat (wujub al-qiyam = wajib dilaksanakan), dan kapan Muhammad berkedudukan sebagai manusia biasa, di mana tidak semua tindakan beliau selalu bersifat mengikat (wujub al-qiyam), melainkan hanya sebagai teladan baik (uswah hasanah) saja. Maka sangat perlulah kiranya kita melihat bagaimana kehidupan Nabi dalam berbagai posisi yang beliau emban.

Di sini penulis tidak akan membahas bagaimana awal mula kehidupan Nabi, mulai dari nasab, kisah masa kecil beliau atau tarikh nabi semasa hidup. Tapi akan dibahas mengenai kisah atau riwayat yang menunjukkan berbagai posisi yang dimiliki Nabi saw.

1.      Nabi Muhammad saw sebagai Nabi/ Rasul

Secara historis, perjalanan Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa risalah langit terbagi dalam tiga periode, yaitu pertama, periode  pra kerasulan, kedua, periode kerasulan dan ketiga, periode pasca kerasulan. Tahap kedua masa kenabian di awali dengan dengan kondisi demografis sosiologis Arab, yakni kondisi masa Makiyyah dan masa Madaniyah. Latar belakang kehidupan bangsa Arab yang begitu buruk lah yang menjadi sejarah awal perjuangan Nabi Muhammad dalam menegakkan ajaran Islam.

Tepat pada umur 40 tahun, Muhammad bin Abdullah, suami dari Siti Khadijah, menerima tugas kenabian yang harus disampaikan ke seluruh umat manusia. Tugas yang tentu saja tidak mudah, sehingga Nabi Muhammad SAW sendiri pada awalnya sempat ragu, apakah benar yang diterima adalah wahyu, dan apakah juga merupakan pengangkatan sebagai Nabi (yang menerima wahyu) dan Rasul (yang diutus menyampaikan misi). Tetapi sang pendamping Siti Khadijah, yang teguh hati, menenangkan, menentramkan, menguatkan dan memastikan bahwa yang diterima benar wahyu dan baginda benar-benar diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Dalam salah satu dialog yang terjadi antara Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah RA, pada awal penerimaan wahyu. Nabi Muhammad SAW pernah berkeluh kesah dan berkata pada Khadijah RA: “Wahai Khadijah, tidak ada sesuatu yang paling aku benci kecuali berhala dan para peramal itu, aku khawatir aku akan diangkat menjadi peramal”. “Tidak”, kata Khadijah. “Demi Allah, Dia tidak akan menghinamu, karena kamu adalah orang yang baik terhadap keluarga, suka menjamu tamu, berani mengambil tanggung jawab besar, memberi orang yang kekurangan, dan membantu orang-orang kesusahan. Kamu memiliki banyak sifat-sifat yang baik, yang dengan itu, kamu sama sekali tidak akan didatangi setan”, sambung Khadijah.(HR.Imam Muslim).

Pada kesempatan lain, Siti Khadijah memastikan dan meyakinkan: “Tenanglah wahai anak pamanku, dan tabahlah. Demi Dzat yang menguasai Khadijah, aku yakin kamu terpilih menjadi Nabi bagi umat ini”. Khadijah RA pun kemudian menenangkan Nabi SAW, dengan membawa beliau bertemu Pendeta Waraqah bin Nawfal, yang bisa meyakinkan bahwa yang ditemui Nabi SAW adalah benar Malaikat Jibril seperti yang juga datang kepada Nabi Musa AS.
Kekhawatiran Nabi ini mungkin muncul karena kebesaran misi kenabian yang harus diemban. Misi untuk melakukan perubahan besar pada kehidupan manusia,  dalam bahasa al-Qur’an dilukiskan sebagai misi ‘yukhrijuhum min azh-zhulumât ilâ an-nûr’: mengeluarkan manusia dari kehidupan yang penuh kegelapan, kemusyrikkan, kezaliman, menuju kehidupan yang penuh cahaya, ketauhidan dan keadilan. Firman Allah tentang misi Nabi kepada seluruh umat manusia, yang artinya :

الركِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ(1)

“Alif Lâm Râ, (ini) adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu, agar kamu (dapat) mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dengan izin Tuhanmu, yaitu ke jalan (Tuhan) Yang Maha Agung dan Amat Terpuji”. (QS. Ibrahim, 14: 1).

Lebih tegas lagi, misi kenabian itu dilukiskan al-Qur’an surat al-A’râf ayat ke-157:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

“Mereka orang-orang yang mengikuti Nabi yang buta huruf, mereka temukan namanya tertulis dalam Kitab Taurat dan Injil, (misinya) menyeru mereka pada kebaikan, melarang kemungkaran, menghalalkan sesuatu yang baik bagi mereka, mengharamkan mereka (mengkonsumsi) sesuatu yang kotor, melepaskan mereka dari beban berat dan belenggu-belenggu yang (menggelayuti) mereka”. (QS. Al-A’râf, 7: 157).

Dalam suatu hadits di sebutkan bahwa sesungguhnya nama Nabi Muhammad telah di sandingkan di sisi Allah sebelum dunia ini ada, Al-‘Irbadh bin sariyah berkata, Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku adalah Nabi yang terakhir di sisi Allah pada saat Adam masih bercampur dengan tanah.” (HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim,danAhmad).

Maisarah A-Fajr berkata, aku bertanya, “Ya Rasulullah kapankah engkau menjadi Nabi?” Beliau menjawab, “Pada saat Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan bumi, peristiwa di langit, menciptakan tujuh langit, menciptakan Arasy, lalu Dia menulis di tiang Arasy ‘Muhammad adalah penutup rasul’. Dia menciptakan surga yang mana Adam dan Hawa ditempatkan di sana, Dia menulis namaku pada pintu-pintu, daun-daun kubah, dan kemah-kemah, sedangkan Adam masih berada di antara Ruh dan Jasad. Tatkala Allah menghidupkan Adam, Adam pun melihat ke arah Arasy dan melihat namaku, Allah memberitahukannya bahwa itu adalah penghulu keturunanmu. Ketika Adam dan Hawa diperdayakan oleh setan, mereka bertaubat dan memohon syafaat kepada Allah dengan menggunakan namaku.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ath-Thabarani).

Hadits lain yang cukup masyhur tentang kerasulan Muhammad adalah;  “Bu’itstu li-utammima makârim al-akhlâq” (Bahwa aku diutus (ke dunia ini), untuk menyempurnakan akhlaq mulia), (Riwayat Imam Malik) .

Kebaikan akhlaq adalah misi utama kenabian yang diemban Rasulullah SAW. Dengan demikian, misi kenabian bagi kemanusiaan adalah bagaimana menciptakan kehidupan yang penuh kasih sayang, tanpa kekerasan, kekasaran dan kesombongan serta ehidupan yang penuh dengan akhlak mulia. Dalam salah satu teks hadis lain, lebih tegas disebutkan: “Sesungguhnya, aku hanyalah diutus untuk menebar kasih sayang, dan tidak untuk pelaknatan”. (Riwayat Imam Muslim).

Misi ke-Rasulan tentu bukan misi yang ringan dan mudah. Hanya karena taufiq dan ma’unah (pertolongan) dari Allah SWT, serta keteguhan hati dan kekuatan moralitas Nabi SAW, yang membuat misi itu bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, 23 tahun. Tidak heran, sehingga saat sebelum Nabi SAW wafat, turunlah ayat “al-yawma akmaltu lakum dînakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matî wa radhitu lakum al-islâma dînan”.

Tentu saja, kesempurnaan yang dimaksud adalah dalam hal prinsip untuk menegaskan ketauhidan dan keadilan, serta menegasikan kemusyrikan dan kezaliman. Karena dalam tataran praktis, ayat ‘kesempurnaan’ ini bukan ayat terakhir. Masih ada jeda waktu enam bulan paska turunnya ayat ini. Di mana Nabi SAW – pun, masih menerima wahyu ayat-ayat al-Qur’an. Di samping kesempurnaan al-Qur’an juga masih harus dijelaskan dengan teks-teks Hadis, ijma’, qiyas, kajian bahasa dan pendekatan-pendekatan ijtihad yang lain.

2.      Nabi Muhammad saw sebagai Pemimpin Umat/ Negara

Para Nabi dan Rasul yang di utus Alloh, dilihat dari pendekatan visi dan misi, dapat dibagi ke dalam dua bagian, pertama, Nabi yang hanya membawa doktrin teologis semata dan kedua, nabi yang membawa doktrin teolgis sekaligus membawa doktrin politis.  Doktrin Teologis adalah doktrin yang menekankan substansi moral dalam mempersatukan ideal moral manusia dengan ideal moral Tuhan tanpa melakukan perubahan sosial politik sebagai bagian dari proses ideal moral tersebut, sedangkan Doktrin teologis politis adalah doktrin yang mengedepankan ajakan moral sekaligus berusaha melakukan perubahan sistem untuk menata institusi-institusi sosial politik. Pendapat ini di sampaikan oleh Dedi Supriyadi dalam bukunya Sejarah perdaban Islam. Nabi-nabi yang termasuk Ulul ‘Azmi tergolong pembawa doktrin teologis politis.

Nabi muhammad juga termasuk golongan tersebut, karena selain beliau mengajarkan nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan hal-hal bersifat keakhiratan , juga berusaha beserta umatnya menata kekuatan untuk mengambil alih kepemimpinan orang Quraisy. Peran ini sebegitu dominan, terutama pada saat Nabi berada di Madinah.

Jika mau jujur sebetulnya hingga saat ini belum ada pemimpin negara yang mampu bersaing dengan Nabi Muhammad saw. “Kampanye” Cara yang beliau kerjakan pun  benar-benar terstuktur. Sahabat-sahabat yang menjadi tulang punggung beliau dalam perjuangan mempunyai kharisma yang cukup besar dalam golongannya masing-masing. Sebut saja Abu Bakar ra. yang mewakili kalangan tua dan tokoh masyarakat. Kemudian Ali bin Abi Thalib ra.  mewakili kalangan muda terpelajar. Khadijah ra. mewakili kalangan wanita pengusaha.  Zaid bin Haritsah ra.  mewakili kalangan tenaga kerja (khadam). Bilal bin Rabah ra. mewakili kalangan mantan budak. Ibnu Shihab Ar-Rumi mewakili belahan dunia barat (Romawi). Salman Al-Farisi mewakili belahan dunia Timur (Persia). Utsman bin Affan ra. mewakili kalangan saudagar. Asma binti Abu Bakar ra. mewakili kalangan aktivis perempuan. Aisyah binti Abu Bakar ra. mewakili kalangan wanita terpelajar. Umar bin Khattab ra. mewakili kalangan elit dan pejabat publik.

Usamah bin zaid ra. mewakili anak-anak belasan tahun (remaja lingkungan). Abdullah bin Umar ra. mewakili kalangan remaja terpelajar. Hasan bin Tsabit ra. mewakili kalangan pujangga seniman dan penyair.  Zaid bin Tsabit  ra. mewakili kalangan muda ahli bahasa. Al-Habbab ibnu Mundzir ra. mewakili kalangan militer dan ahli strategi perang. Nuaim bin Mas’ud ra. mewakili kalangan ahli rekayasa dan menejemen konflik. Ummu Aiman ra. mewakili wanita pekerja dan Ibu Rumah Tangga. Abdullah ibnu Mas’ud ra. mewakili kalangan Qurra’ (Qari Al-Qur’an).

Dengan mendasarkan nama-nama diatas, cukuplah kiranya fakta bahwa nabi adalah pemimpin yang disegani, dicintai, dihargai, dipuja, oleh semua lapisan rakyatnya. Lalu beliau telah mampu merangkul begitu banyak golongan dan mereka mendaulat Nabi sebagai pemimpin dan sikapnya tidak berubah beliau tetap saja sebagai pribadi yang sangat bersahaja dan patut ditiru. Berikut contoh kisah-kisah Nabi yang menggambarkan bagaimana Rasululloh menjadi pemimpin negara yang sangat bijak dan adil, serta peradaban yang beliau  bangun, antara lain;

  1. Peletakan asas-asas politik, ekonomi dan sosial, masyarakat Islam pertama yang dibangun Rasulullah adalah masyarakat Madinah. Karena di kota inilah kepluralitasan suatu negara sangat dijunjung tinggi, berbeda dengan di Makkah. Secara sistematik, proses peradaban yang dilakukan oleh Nabi pada masyarakat Islam di Yasrib adalah:
    1. Nabi mengubah nama Yasrib menjadi Madinah. Nama ini menggambarkan cita-cita Nabi Muhammad yaitu membentuk sebuah masyarakat yang maju dan berperadaban.
    2. Membangun Masjid Nabawi di Madinah.
    3. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah(mu’akhat).
    4. Membentuk persahabatan dengan pihak-pihak lain yang selain Islam
    5. Nabi Muhammad saw. membentuk pasukan tentara untuk mengantisipasi gangguan yang datang dari musuh-musuh Islam.
    6. Bersama-sama masyarakat Madinah membentuk Piagam Madinah sebagai dasar kehidupan kenegaraan dan sebagai dasar  hubungan antar sesama anggota komunitas Islam maupun dengan komunitas selainya.
    7. Kisah Nabi saat memimpin Perang Uhud.
    8. Kemampuannya dalam mengadakan hubungan internasional dengan berkirim surat yang bertujuan untuk “memproklamirkan Islam” kepada para raja dan gubenur dari negara lain.

Ketika kemudian praktek kenegaraan yang dijabarkan oleh nabi, yaitu “Membangun negara Madinah dan pemerintahannya” ditinggalkan Nabi, meninggal dunia,  Praktek ini tetap dilanjutkan oleh penerus beliau, 4 khalifah yang terkenal (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) atau Khulafaurrasyidin Ahmadiyyin (Pemimpin yang cerdas dan mendapat petunjuk).

  1. 3.      Nabi Muhammad saw sebagai Manusia Biasa

Walaupun Nabi Muhammad begitu mulia dan agung, serta memiliki kedudukan yang langsung di bawah Alloh swt, pada  kenyataannya beliau adalah manusia biasa secara fisik. Dalam kapasitasnya sebagai manusia, seorang Nabi tentu terikat dengan hukum alamiahnya (lahir–berkembang–mati). Nabi juga makan, minum punya istri sebagaimana manusia biasa. Rasul adalah seorang manusia biasa yang diangkat Allah dalam rangka mengemban misi ketuhanan untuk setiap manusia. dalam kapasitasnya sebagai manusia pilihan Allah yang bertugas membawakan berita “langit” dan risalah ketuhanan. Seorang Nabi/ Rasul mempunyai sejumlah kelebihan dibandingkan manusia pada umumnya.

Berikut ini contoh kapasitas Nabi sebagai manusia biasa yang patut diteladani karena semua yang datang dari nabi adalah Sunnah dan sudah seharusnya di ikuti:

  1. Sebagai manusia biasa (basyar), Muhammad bisa melakukan “kekhilafan” sebagaimana manusia pada umumnya. Dalam suatu kesempatan, Muhammad memang pernah mengambil suatu tindakan yang didasarkan atas sifat-sifat kemanusiannya, di mana ternyata tindakan yang diambil beliau langsung mendapat teguran keras dari Allah. Di antara contoh tindakan Muhammad yang didasarkan atas sifat kemanusian tersebut adalah ketika  beliau mengacuhkan Ibn Umm Maktum al-A’ma ketika para pembesar kaum Musyrik datang kepada beliau, di mana peristiwa ini lah yang menyebabkan turunnya Q.S. Abasa, (80):1-2.  Adapun contoh lain adalah peristiwa yang menjadi latar belakang turunnya Q.S. al-Anfal (8): 67.
  2. Kaitannya dengan berbagai posisi yang di miliki Nabi saw selama hidup, baik sebagai Rasul, sebagai pemimpin umat ataupun sebagai manusia biasa, Abdul Harits dalam artikelnya tentang sebutan Nabi yang ada di dalam Al Qur’an menemukan lima macam sebutan untuk Rosululloh saw. Nama- nama itu pada dasarnya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, yaiut:

1)      Muhammad dengan sebutan Ahmad

Sebutan “Ahmad” dalam al-Qur’an hanya ditemukan dalam satu ayat yaitu Q.S. al-Saf (61): 6. Penyebutan ini terkait dengan misi Isa Ibn Maryam sebagai seorang Rasul yang membenarkan firman Allah dalam kitab Taurat dan berita gembira tentang akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad.  Yang dimaksud Ahmad dalam ayat tersebut adalah Muhammad sebagaimana dijelaskan dalam ayat lain (Q.S. al-Fath, 48:29).  Menurut Muhammad Taqiyuddin al-Hilali dan Muhammad Muhsin Khan, Ahmad adalah nama kedua dari Muhammad saw. yang berarti orang yang memuji Allah lebih dari selainnya.

Sementara, menurut al-Ragib al-Asfahani, kata Ahmad mengisyaratkan kepada (kenyataan kondisi) Nabi s.a.w. baik pada nama maupun tindakan beliau. Hal ini merupakan peringatan bahwa nama Ahmad sebagaimana yang ditemukan dalam kenyataannya adalah seorang yang terpuji akhlaknya dan segala gerak-geriknya (ahwal)..  Jadi, kata Ahmad dalam al-Qur’an merupakan nama lain dari Muhammad yang pernah disinggung dalam kitab-kitab sebelumnya, terutama kitab Taurat (Perjanjian Lama) dan Injil (Perjanjian Baru).

2)      Muhammad dengan sebutan Muhammad

Dalam al-Qur’an, penyebutan “Muhammad” hanya ditemukan dalam empat ayat saja, yaitu Q.S. Ali Imran  (3): 144; al-Ahzab  (33): 40; Muhammad (47): 2; dan al-Fath (48): 29. Kesemua ayat tersebut selalu dikaitkan secara langsung dengan sebutan “Rasul”, kecuali Q.S. Muhammad (47): 2, yang harus selalu ditaati. Akan tetapi, secara tidak langsung Q.S. Muhammad (47): 2 tersebut juga mengisyaratkan keharusan percaya (iman) terhadap risalah yang disampaikan oleh Muhammad, karena risalah tersebut merupakan kebenaran dari Allah. Jadi penyebutan “Muhammad” dalam al-Qur’an selalu dikaitkan dengan fungsinya sebagai seorang utusan (Rasul) Allah yang harus ditaati.

Di samping itu, kata “Muhammad” juga diangkat sebagai salah satu nama surat dalam al-Qur’an.  Secara umum isi dari surat Muhammad ini adalah seruan untuk selalu percaya (iman) terhadap risalah Muhammad sebagai sebuah kebenaran dari Allah (ayat 2).

3)      Muhammad dengan sebutan Rasul (utusan)

Kata “rasul” (termasuk bentuk pluralnya) dalam al-Qur’an disebut sebanyak 342 kali.  Berdasarkan penelitian Abdullah Yusuf Ali, pengertian harfiah kata “rasul” dalam seluruh ayat al-Qur’an adalah “orang yang diutus”.  Oleh karena itu, penggunaan kata “rasul” dalam al-Qur’an dapat dalam pengertian “malaikat” (seperti Q.S. al-H}aqqah (69): 40; al-Takwir (81): 19; Hud (11): 69, 77 & 81; al-Ankabut (29): 31 & 33; al-Mursalat  (77): 1; dan al-Zukhruf  (43): 80), juga dapat dalam pengertian “nabi” (seperti Q.S. Ali Imran (3):144; al-Maidah (5): 68; al-An’am (6): 48; dan al-Kahfi (18) 56), (Q.S. al-Mu’minun (23): 51).

Jika dilihat dari arti Rasul terkait dengan ketaatan, maka kewajian ketaaan yang terdapat dalam al-Qur’an selalu terkait dengan rasul, bukan nabi. Pada kutipan ayat pertama (al-Maidah  (5):15), kata rasul dikaitkan dengan ahl al-kitab, baik umat Yahudi dengan Kitab Suci Tauratnya ataupun umat Nasrani dengan Kitab Suci Injilnya. Di sini juga, kata rasul mengacu pada nur (Muhammad)  dan Kitab Suci al-Qur’an.  Sementara pada kutipan ayat yang kedua dan ketiga, secara tegas bahwa seorang rasul harus ditaati.

Dengan demikian, dapat ditegaskan di sini bahwa penyebutan Muhammad sebagai rasul mengacu pada dua sepesifikasi di atas. Muhammad adalah seorang yang diutus Allah untuk menyampaikan risalah (Kitab Suci al-Qur’an) sebagai syari’at bagi umat Muhammad, dan seorang utusan Allah yang harus ditaati seruan-seruannya (baik yang terdapat dalam al-Qur’an maupun selain al-Qur’an, al-sunnah). Sebagaimana yang akan kita bahas pada fungsi Hadits terhadap Al Qur’an.

4)      Muhammad dengan sebutan Nabi

Kata “nabi” (tanpa hamzah) dalam al-Qur’an disinggung sebanyak 80 kali,  di mana akar katanya (n – b – a) yang berarti pembawa berita. Bila dilihat bentuknya, kata ini merupakan bentuk ism fa’il yang menyalahi aturan (anomaly), di mana bentuk yang semestinya adalah nabi’ (dengan hamzah). Penyimpangan ini adalah kesengajaan dimaksudkan untuk menempatkan pembawa berita yang “agung” (  dari Allah) pada derajat lebih tinggi daripada pembawa berita selainnya.

5)      Muhammad dengan sebutan Basyar (Manusia)

Dalam al-Qur’an, penyebutan kata basyar ditemukan dalam 47 ayat.  Kata basyar ini hampir semuanya mempunyai pengertian “manusia”  dalam arti lahiriah yang kasat mata dan dapat diraba, kecuali Q.S. al-Mudastir (74): 29, yang berarti kulit manusia. Menurut Musa Asy’ari, pengertian basyar adalah manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan aktivitas lahiriyahnya yang dipengaruhi oleh dorongan kodrat alamiahnya, seperti makan, minum, bersetubuh, dan akhirnya mati.

Bila ke-47 ayat yang di dalamnya ditemukan kata basyar dicermati secara seksama, maka penggunaannya mempunyai konteks yang berbeda-beda. Allah menjelaskan melalui rasul dan nabi-Nya bahwa mereka (para rasul dan nabi) adalah manusia seperti mereka, hanya saja mereka diberi karunia (kelebihan) di banding yang lain. Di antara contoh ayat yang menjelaskan hal ini adalah Q.S. Ibrahim, (14):10-11. Kenyataan kemanusian Muhammad pun juga diakui olehnya sendiri dalam al-Qur’an, meskipun kemanusiaannya memang berbeda dari selainnya. Beliau adalah manusia yang diberi wahyu tentang tauhid kepada Allah (Q.S. al-Kahfi, 18:110 & Fussilat, 14:6).

Demikian pula dalam Q.S. al-Isra’ (17): 93-94 yang terkait dengan ayat sebelum dan sesudahnya (ayat 90-93 & 95) di mana orang-orang kafir tidak percaya kepada Muhammad karena ia tidak mampu membawakan mukjizat yang bersifat material (memancarkan air dari bumi, memiliki kebun kurma dan anggur dengan air sungai yang melimpah, menjatuhkan langit, mendatangkan Allah dan malaikat, memiliki rumah emas atau kemampuan naik ke langit).

C.    Eksistensi Hadits Di Tengah Peran Nabi Muhammad Sebagai Rasul Atau Nabi

Rasul adalah utusan Allah di bumi untuk menyampaikan risalah atau wahyu kepada manusia dan memerintahkan agar manusia mau beriman dan menyembah Allah serta beribadah kepadaNya. Nabi Muhammad saw merupakan rasul yang terakhir yang diturunkan kepada semesta alam dan membawa rahmat bagi semesta alam. Kehadiran Nabi Muhammad adalah untuk menegakkan dan menyebarkan ajaran yang berupa agama Islam di tanah Arab khususnya dan di seluruh dunia pada umumnya.

Sebagai rasul dan Nabi yang diutus untuk semesta alam tentulah Muhammad saw diberi kitab yang memuat seluruh ajaran yang akan disampaikan kepada manusia. Kitab tersebut bernama al-Qur’an. Namun sebagaimana diketahui, bahwa isi al-Qur’an sangat ringkas dan padat sehingga tidak semua orang mampu memahaminya dengan baik, tanpa bantuan penjelasan dari Nabi Muhammad saw. Bahkan mengenai kejadian yang mengiringi al-Qur’an saja, manusia tidak mampu memahaminya dan tidak mempercayainya. Di situlah peran hadits sebagai penjelas al-Qur’an juga sebagai penjelas kronologi kejadian wahyu. Seperti dalam hadits berikut:

Ketika wahyu pertama yaitu ayat 1-5 turun pertama kali, yaitu di gua hira’. Selagi usia Nabi hampir mencapai 40 tahun. Gua hira’ terletak di Jabal Nur, yang jaraknya kira-kira dua mil dari Makkah.

Ayat 1-5 merupakan wahyu yang pertama kali turun dan sekaligus bukti kerasulan Nabi Muhammad. Adapun tentang kondisi Nabi sebelum turunnya wahyu tidak banyak ditemui riwayatnya. Namun diceritakan bahwa sebelum menerima wahyu pertama, Nabi sering bermimpi yang disebut al-ru’ya al-Shalihah (mimpi yang benar). Kemudian beliau ber-tahannuts di gua hira’. Dan pada suatu malam didatangi oleh malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu pertama, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5.

Riwayat ini dapat ditemukan dalam kitab Bukhari dan Muslim melalui jalur yang berbeda. Adapun riwayatnya adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ  ) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ } فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ….

Artinya: “Yahya bin Bukhair meriwayatkan kepada kami, dia berkata Al-Lais telah meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah ibn Zubair dari Aisyah Ummu al-Mukminin bahwa beliau berkata: Wahyu yang pertama kali diterima oleh Rasulullah SAW adalah berupa mimpi yang baik dalam tidur, Muka beliau tidak melihat di dalam mimpi itu melainkan dating bagaikan cahaya subuh. Setelah itu, beliau suka menyendiri. Beliau menyendiri di Gua Hira’ untuk beribadah beberapa malam di sana. Setelah itu beliau kembali ke rumah untuk mengambil bekal, lalu kembali lagi ke Gua Hira’ sampai datang kepadanya al-haq (kebenaran) ketika beliau masih berada di sana. Tak lama berselang, datang malaikat seraya berkata iqra’ aku menjawab (saya tidak bisa membaca) lalu malaikat merangkul dan memelukku sehingga aku kepayahan, kemudian ia melepaskanku dan berkata iqra’ , aku menjawab (saya tidak bisa membaca). Lalu ia merangkul dan memelukku lagi sampai aku kepayahan,, kemudian melepaskanku dan berkata iqra’,  aku menjawab (aku tidak bisa membaca). Lalu ia merangkul dan memelukku sampai aku kepayahan, kemudian melepaskanku untuk ketiga kalinya, lalu ia berkata:

 اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Setelah peristiwa yang mencekam itu. Rasulullah pulang ke rumah dalam keadaan gemetar, sehingga bagitu sampai di rumah beliau berkata kepada istrinya Khadijah: “selimuti aku, selimuti aku”. Maka ia menyelimutinya, sampai ketakutannya hilang, lalu beliau menceritakan kepada Khadijah kejadian yang menimpanya, dan berkata: “aku khawatir terhadap diriku”. Tanpa berpikir panjang, Khadijahpun berkata: “Sekali-kali tidak begitu, demi Allah, Allah tidak akan mengecewakan kamu selama-lamanya. Engkau akan menghubungkan sillaturrahmi, memikul tanggung jawab, mengusahakan yang belum ada, memuliakan tamu dan membela kebenaran”.

Dari riwayat di atas dapat diketahui bahwa ayat tersebut turun dengan didahului oleh mimpi yang benar (ru’ya al-Shalihah). Mimpi tersebut menurut al-Kasymiri, berfungsi sebagai pengingat dan pertanda bahwa ia tersebut dalam keadaan hatinya tidak tidur, yang itu semua merupakan seperempat puluh enam dari masa kenabian. Mimpi tanda kenabian tersebut tidak hanya dialami oleh Nabi Muhammad saja, akan tetapi juga oleh beberapa Nabi sebelum Nabi Muhammad. Misalnya Nabi Yusuf sebagaimana yang ada dalam surah Yusuf ayat 4, yang bunyinya sebagai berikut:

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ (4)

Artinya:    “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa tentang mimpi Yusuf yang dikemukakan oleh Yusuf kepada bapaknya. Mimpi tersebut akan menjadi sebuah kenyataan, yaitu ketika Yusuf sudah menjadi seorang gubernur. Hal itu merupakan salah satu pertanda kenabian yang dialami oleh nabi sebelum Muhammad.

Jadi intinya hadits merupakan bagian integral dari kerasulan dan kenabian. Hadits merupakan penjelas dan penjabaran dari sesuatu yang ada dalam al-Qur’an atau bahkan yang tidak ada dalam al-Qur’an. Di samping itu, hadits juga menjelaskan tentang sesuatu yang terjadi yang berkaitan dengan diri Nabi Muhammad.

  1. D.    Eksistensi Hadits Di Tengah Peran Nabi Muhammad Sebagai Hakim

Apabila kita pelajari dengan seksama, suasana dan keadaan-keadaan yang telah dilalui hadits-hadits sejak dari zaman tumbuhnya hingga dewasa ini, dapatkan kita menarik sebuah garis bahwa hadits Rasul sebagai dasar tasyri’. Rasul hidup di tengah-tengah masyarakat sahabatnya, mereka dapat bertemu dan bergaul dengan beliau secara bebas. Tak ada protokol-protokolan yang menghalangi mereka bergaul dengan beliau. Yang tidak dibenarkan hanyalah mereka langsung masuk ke rumah Nabi, di kala beliau tak ada di rumah, yakni tak boleh mereka terus masuk ke rumah dan berbicara dengan para istri Nabi, tanpa hijab.

Seluruh perbuatan Nabi, demikian juga seluruh ucapan dan tutur kata beliau menjadi tumpuan perhatian para sahabat. Segala gerak gerik beliau mereka jadikan pedoman hidup. Berdasarkan kepada kesungguhan meniru dan meneladani beliaulah, berganti-gantilah para sahabat yang jauh rumah dari masjid, mendatangi majelis-majelis Nabi. Kabilah-kabilah yang tinggal jauh dari kota Madinah selalu mengutus salah seorang anggotanya pergi mendatangi Nabi untuk mempelajari hukum-hukum agama. Dan sepulang mereka ke kampungnya, mereka segera mengajar kawan-kawannya sekampung.

Sebagian sahabat sengaja datang dari tempat-tempat yang jauh, hanya untuk menanyakan sebuah hukum kepada Nabi, seperti ceritanya Uqbah dalam syarah al-Bukhari. Apabila Nabi tidak dapat menjelaskan secara terus terang, karena tabu mengucapkannya, maka ia menyuruh istri-istrinya untuk menjelaskan hal itu. Biasanya hal itu terjadi dalam masalah-masalah kewanitaan, misalnya masalah haid.

Kitab Allah, juga secara sosio kultural memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan tuntunan umat Islam secara normal. Karena itu pula, pernyataan, pengalaman, persetujuan dan hal-ihwalnya sebagai hadits menunjukkan betapa pentingnya kedudukan dan peranannya. Karena merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an.  Jelaslah bahwa Rasulullah telah menyampaikan risalah Tuhan kepada manusia dengan penuh amanah dan dengan segera menyampaikan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Penjelasan mengenai isi dan kandungan al-Qur’an diberikan lewat berbagai ucapan, perilaku dan amalan yang dilakukan Nabi dalam ajaran lain, segala perbuatan, tindakan dan ucapan Rasulullah adalah tafsir ata konsepsi Islam secara keseluruhan. Sebab segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah adalah benar dan tidak ada yang sia-sia barang sedikitpun.

Al-Qur’an juga memuat ayat mutasyabihat, ayat muhkamat. Ada juga ayat yang bersifat mutlaq dan mujmal. Oleh karena itu, Rasulullah menerangkan dan menjelaskan hukum-hukum syariat kepada orang banyak seperti, umpamanya, cara mengerjakan shalat, mengetahui waktu-waktu shalat, jumlah rakaat dan segala sesuatu yang berkaitan dengan shalat. Begitu pula, beliau menjelaskan bagaimana cara mengerjakan ibadah haji, mengeluarkan zakat, jual beli yang sah dan sebagainya. Hal-hal demikianlah yang secara eksplisit tidak ditemukan dalam beberapa ayat al-Qur’an

Hal ini menjelaskan kepada kita tentang tiadanya sisi perundang-undangan dalam ayat-ayat Makkiyah yang berisi perintah-perintah dan larangan-larangan sebagaimana nyata keberadaannya dalam ayat-ayat Madaniyah. Peranan Rasulullah yang lainnya adalah mengadakan hukum syariah, secara independent telah dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an berikut ini:

…وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (7)

Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya

Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar taat pada Allah dan taat pada Rasul dalam segenap perintah dan larangannya yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan peranan hadits atau sunnah Nabi dalam menetapkan hukum syariah secara independent. Bahkan Nabi memberi kebebasan bagi para sahabatnya dalam memutuskan hukum, namun yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebagaimana sabda Nabi sebagai berikut:

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي عَوْنٍ الثَّقَفِيِّ عَنْ الْحَارِثِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ رِجَالٍ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: Dari laki-laki teman Mu’adz; sesungguhnya Rasulullah saw telah mengutus Mu’adz ke Yaman. Kemudian Nabi bertanya: “Bagaimana kamu memutuskan suatu perkara?” Mu’adz menjawab: “Saya memutuskan perkara tersebut berdasarkan kitab Allah.” Nabi berkata: “Bagaimana kalau tidak ditemukan di dalam kitab Allah?” Mu’adz menjawab: “Saya akan memutuskan berdasarkan sunnah Rasul allah.” Nabi berkata: “Bagaimana jika dalam sunnah juga belum ditemukan.” Mu’adz menjawab: “saya akan berijtihad.” Rasulullah kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi pertolongan pada utusan Rasul-Nya.”

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

Artinya: Dari Amr bin Ash, dia mendengar Rasulullah bersabda: “jika seorang hakim memberi keputusan menurut pengetahuan terbaiknya dan putusannya itu benar, ia akan menerima pahala ganda, dan jika putusannya itu salah, maka masih mendapat satu pahala.”

Dari kedua hadits tersebut, dapat diketahui bahwa Nabi adalah tokoh penegak hukum terkemuka dalam sejarah. Bahkan Nabi Muhammad termasuk dari 18 orang pembina hukum utama dunia. Jadi hadits pada masa Nabi Muhammad sudah merupakan salah satu sumber hukum, namun hadits pada masa itu belum dikodifikasikan.

  1. E.     Eksistensi Hadits Di Tengah Peran Nabi Muhammad Sebagai Kepala Negara

Nabi adalah pemimpin yang disegani, dicintai, dihargai, dipuja, oleh semua lapisan rakyatnya. Lalu beliau telah mampu merangkul begitu banyak golongan dan mereka mendaulat Nabi sebagai pemimpin dan sikapnya tidak berubah beliau tetap saja sebagai pribadi yang sangat bersahaja dan patut ditiru. Berikut contoh kisah-kisah Nabi yang menggambarkan bagaimana Rasulullah menjadi pemimpin negara yang sangat bijak dan adil, serta peradaban yang beliau  bangun, antara lain;

  1. Peletakan asas-asas politik, ekonomi dan sosial, masyarakat Islam pertama yang dibangun Rasulullah adalah masyarakat Madinah. Karena di kota inilah kepluralitasan suatu negara sangat dijunjung tinggi, berbeda dengan di Makkah. Secara sistematik, proses peradaban yang dilakukan oleh Nabi pada masyarakat Islam di Yasrib adalah:
    1. Nabi mengubah nama Yasrib menjadi Madinah. Nama ini menggambarkan cita-cita Nabi Muhammad yaitu membentuk sebuah masyarakat yang maju dan berperadaban.
    2. Membangun Masjid Nabawi di Madinah.
    3. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah(mu’akhat).
    4. Membentuk persahabatan dengan pihak-pihak lain yang selain Islam
    5. Nabi Muhammad saw. membentuk pasukan tentara untuk mengantisipasi gangguan yang datang dari musuh-musuh Islam.
    6. Bersama-sama masyarakat Madinah membentuk Piagam Madinah sebagai dasar kehidupan kenegaraan dan sebagai dasar  hubungan antar sesama anggota komunitas Islam maupun dengan komunitas selainya.
    7. Kisah Nabi saat memimpin Perang Uhud.

Kemampuannya dalam mengadakan hubungan internasional dengan berkirim surat yang bertujuan untuk “memproklamirkan Islam” kepada para raja dan gubenur dari negara lain. Maka dari itu, Nabi merupakan sosok kepala Negara yang berhasil membina negaranya dari kondisi yang amoral menjadi bermoral.

Peran hadits dalam hal ini adalah sebagai hasil dari interaksi Nabi Muhammad sebagai kepala Negara dalam mengatur Negara dan rakyatnya. Hadits merupakan sesuatu yang include di dalamnya. Karena hadits merupakan bagian dari kegiatan Nabi Muhammad saw.

  1. F.     Eksistensi Hadits Di Tengah Peran Nabi Muhammad Sebagai Manusia Biasa

Nabi adalah utusan Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada manusia. Karena obyeknya adalah manusia, maka yang diutus juga seorang manusia. Disamping itu, banyak ungkapan dalam al-Qur’an yang mengemukakan bahwa Muhammad adalah manusia biasa. Dari sini, wajar kalau Nabi Muhammad juga makan, minum, tidur, beristri dan lain sebagainya sebagaimana layaknya manusia biasa. Hal inilah yang kadang memancing kesalahan kontroversi pemahaman, ada yang menganggap semua yang dilakukan Nabi itu adalah hadits, namun ada yang membeda-bedakan antara kegiatan yang bersifat basyariyah dengan kegiatan edukatif.

Nabi yang berperan sebagai manusia biasa juga pernah mengalami kesalahan, yaitu ketika Nabi memberi saran kepada salah satu orang untuk tidak mengawinkan pohon kurma. Namun, akibatnya pohon kurma itu tidak jadi berbuah. Pohon kurma akan berbuah apabila dikawinkan. Selanjutnya Nabi bersabda: “kamu lebih mengetahui tentang seluk beluk perkara duniamu”. Hal itu merupakan titik tekan bahwa Nabi Muhammad juga seorang manusia. Jadi eksistensi hadits ketika Nabi berperan sebagai manusia masih terpelihara kecuali dalam masalah dan hal-hal tertentu.

 

  1. G.    Kesimpulan
  2. Nabi Muhammad SAW.

Dapat disimpulkan bahwa taat kepada Rasululloh saw adalah suatu kewajiban, sebab taat kepada Alloh juga di isyaratkan taat kepada Rasul. Dan setelah Rasul wafat ketaatan itu di wujudkan dalam menerima dan mengikuti Sunnah-sunnahnya. Oleh karena itu umat islam sejak periode-periode pertama secara praktis telah sepakat untuk menerima dan memakai sunnah-sunnah Rasul. Sebagai perwujudanya, hukum-hukum yang mereka terapkan sejak zaman Nabi tidak pernah menyimpang dari ketentuan-ketentuan itu.

  1. Eksistensi hadits ketika Nabi sebagai Rasul atau Nabi adalah sebagai penjelas terhadap al-Qur’an dan sebagai penjelas kejadian yang di sekitar turunnya al-Qur’an.
  2. Eksistensi hadits ketika Nabi sebagai hakim adalah hadits merupakan penjelasan hukum yang disampaikan Nabi Muhammad kepada para sahabatnya atau orang yang bertanya kepadanya.
  3. Eksistensi hadits ketika Nabi sebagai kepala Negara, hadits merupakan bagian yang include ke dalam peran Nabi tersebut.
  4. Eksistensi hadits ketika Nabi berperan sebagai manusia masih terpelihara kecuali dalam masalah dan hal-hal tertentu

DAFTAR RUJUKAN

Thahan, Mahmud, Taisir Mustalah al-Hadits, Surabaya: al-Haramain, tt.

Al-Tazi, Mustofa Amin Ibrahim, Muhadharat fi Ulum al-Hadits, Kairo: Matba’ah Dar al-Tasrif, 1971.

Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008.

Terjemahan Hadits Shahih Muslim., Juz 1., oleh: H.A.Razak  & H. Rais Lathief., Jakarta:Pustaka Al-Husna,1978.

Muslim al-Hajaj, Shahih Muslim, juz 1, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Azami, M.M., Hadits Nabawi dan Sejarah  Kodifikasinya, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.

Al-Mubarakfury, Shafiyyurrahman, Al-Rahik al-Mahtum (Sirah Nabawiyah), terj. Kathur Suhardi, Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 2004.

al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad ibn Isma’il, Shahih Bukhari juz 1, Mauqi’u al-Islam: dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Al-Hajaj, Abu al-Husain Muslim ibn, Shahih Muslim, juz 1, Mauqi’u al-Islam: dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

al-Kasymiri, Abu Abdillah, Faidhu al-Bari Sarh al-Bukhari, juz 1, Maktabah Miskah al-Islamiyah: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Aziz, Erwati, Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam, Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003.

Ash Shiddiqiey, Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 1954.

AsSa’idi, Abdullah, Hadits_Hadits Sekte, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Yusuf, M., et.all, Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadits, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Fakultas Ushuluddin, 2005.

Shahrur, Muhammad, Metodologi Fiqih Islam Kontemporer, terj Sahiron Syamsudin, Yogyakarta: Elsaq Press, 2004.

Al-Tirmidzi, Abu Bakar, Sunan Tirmidzi, juz 5, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Al-Bukhari, Muhammad, Shahih al-Bukhari, juz 22, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Antonio Muhammad Syafi’I  , Muhammad saw The Super Leader Super Manager, Jakarta: ProLM Centre and Tazkia Publishing, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: