KONDISI KULTURAL MASYARAKAT ARAB MEKKAH


KONDISI KULTURAL MASYARAKAT ARAB MEKKAH

(Kajian Pra Kelahiran Nabi Muhammad SAW)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

A.     Latar Belakang

Jazirah Arab merupakan sebagian dari bumi atau suatu daerah yang berupa pulau yang berada diantara benua Asia dan Afrika. Sejak dahulu daerah Arab terkenal dengan nama jazirah karena daerah Arab sebagian besar dikelilingi oleh sungai-sungai dan lautan sehingga terlihat seperti jazirah (pulau). Jika dilihat dari peta dunia, maka sebelah barat daya itu dibatasi wilayah Asia, sebelah barat laut merah, sebelah timur itu teluk Arab, dan sebelah selatan adalah samudra Hindia.

Para ahli sejarah membagi jazirah Arab ini menjadi lima wilayah, sebagai berikut:

  1. Hijaz; wilayah yang memanjang dari Ailah (Aqabah) sampai Yaman. Dinamai Hijaz karena itu merupakan rangkaian perbukitan yang memisahkan Tihamah (tanah yang menurun di sepanjang pantai laut merah) dengan Nejed.
  2. Tihamah
  3. Yaman.
  4. Nejed; yakni dataran tinggi yang memanjang dari pegunungan Hijaz dan berjalan ke arah timur sampai gurun Bahrain.
  5. ‘Arudh; wilayah yang berhubungan dengan Bahrain dari arah timur dan dengan Hijaz dari arah barat, wilayah ini juga dinamai Yamamah.

Daerah tersebut merupakan daerah yang strategis dan peralihan antara Persia dan Yunani atau Romawi. Di daerah tersebut masyarakatnya mempunyai kebiasaan dan peradaban yang sangat brutal. Maka dari itu, Allah menurunkan Rasul-Nya yang terakhir di daerah tersebut. Tidak dapat dipungkiri, bahwa Rasul Allah adalah juga seorang manusia yang secara langsung berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Walaupun demikian, Allah memfilter segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh Nabi Muhammad.

Memang pada dasanya, kondisi sosial dan interaksi seseorang dengan masyarakat akan mempengaruhi jiwa seseorang tersebut, baik dalam hal bertindak maupun pemikirannya. Pola-pola kehidupan yang ia terima setiap hari akan tetap membekas dalam pikirannya dan selalu mempengaruhi pendapatnya, baik itu disadari ataupun tidak. Jika seseorang hidup dalam pola kehidupan yang lembut, maka orang tersebut akan cenderung bersifat lemah lembut dan sabar dalam mengambil keputusan. Sebaliknya jika seseorang hidup dalam pola kehidupan yang kasar, maka orang tersebut akan cenderung bersikap kasar dan suka marah-marah.

Namun hal ini tidak berlaku atas diri Nabi Muhammad saw. Walaupun Nabi hidup dalam kehidupan yang sangat keras, akan tetapi ia tetap menjadi pribadi yang santun dan selalu bersifat pemaaf. Nabi setelah Nubuwah, hampir setiap hari tidak ada yang terlewatkan tanpa pelecehan, penganiayaan dan penghinaan yang dilakukan atas dirinya. Namun hal itu tidak menggoyahkan semangatnya untuk tetap menjunjung tinggi agama Ilahi.

Setelah pengikut Nabi mulai banyak, maka banyak bermunculan hadits-hadits tentang aqidah Islam, ekonomi dan berbagai masalah. Hal itu dikarenakan berkembangnya Islam ke segala penjuru dan masalah yang semakin kompleks, walaupun pengikutnya masih sedikit. Segala masalah yang dihadapi oleh orang dikembalikan kepada Nabi. Dan pasti Nabi mampu menyelesaikan dengan baik.

Seperti apa yang penulis kemukakan di depan, bahwa kondisi sosial itu mempengaruhi kehidupan Nabi saw. Demikian juga kondisi yang ada di Mekkah saat itu, juga mempengaruhi pola kehidupan Nabi saw. Maka dari itu, penulis akan membahas mengenai “Kondisi Sosio Kultur Masyarakat Arab Mekkah” yang penulis tulis dalam tulisan ini.

B.     Kondisi Arab Sebelum Islam dan Kenabian

  1.    Kondisi Arab Sebelum Islam

Bangsa Arab pra Islam mempunyai peradaban yang tidak karu-karuan. Mereka suka bertindak brutal dan seenak hawa nafsunya. Kondisi yang kacau tersebut meliputi berbagai bidang, baik sosial, politik, budaya maupun ekonomi. Pada kesempatan ini, penulis akan berusaha menguraikan hal tersebut satu per satu, agar pemahaman pembaca lebih jelas.

a. Kondisi Sosial

Bangsa Arab pada masa pra Islam terdiri dari berbagai kelas. Kelas bangsawan lebih diunggulkan daripada kelas yang lainnya. Kelas budak paling dinistakan diantara kelas yang lainnya. Budak ibarat permainan kaum bangsawan. Jika seseorang ingin dipuji dan menjadi terpandang di mata bangsa Arab karena kemuliaan dan keberaniannya, ia harus banyak dibicarakan oleh kaum wanita. Seorang laki-laki dianggap pemimpin dalam keluarga dan tidak boleh dibantah perkataannya. Hubungan laki-laki dan wanita harus disetujui pihak wali wanita. Seorang wanita tidak bisa menentukan pilihannya sendiri.

Pada masa itu terjadi beberapa jenis pernikahan yang semuanya mendiskreditkan wanita dan menjadikan wanita hanya sebagai pemuas hasrat sex laki-laki saja. Pernikahan-pernikahan tersebut antara lain: pernikahan spontan (tiba-tiba), pernikahan istibda’ (suami menyuruh istrinya berkumpul dengan orang lain, karena menginginkan keturunan yang pintar), poliandri (wanita dikumpuli banyak laki-laki dan setelah melahirkan anak, wanita tersebut memanggil dan menunjuk salah satu laki-laki yang mengumpulinya untuk menjadi ayah), pelacuran.

Jika dilihat dari kehidupannya, masyarakat Arab terbagi menjadi dua macam. Pertama, golongan baduwi. Adalah suku-suku yang tidak hidup menetap dan suka menyerang kabilah-kabilah yang dianggap musuhnya. Keberanian bagi mereka adalah kebanggaan. Kedua, golongan Hadlar, golongan ini hidup di kota-kota dan pedusunan. Rata-rata mereka mempunyai mata pencaharian yang tetap. Penduduk ini nampaknya lebih mempunyai peradaban dibanding orang Baduwi. Disamping akhlak yang tercela, masyarakat Arab pra Islam juga mempunyai akhlak terpuji, antara lain: kedermawanan, tepat janji, kemuliaan jiwa dan enggan menerima kehinaan, pantang mundur, dan lemah lembut.

Maka, kita tidak boleh langsung menyimpulkan sepihak, bahwa akhlak masyarakat Arab pra Islam tersebut hanya akhlak tercela. Kita juga harus melihat sisi akhlak baiknya juga, yang hal itu juga masih ada dalam diri sebagian masyarakat Arab, terutama mereka yang menyeru kepada agama  Tauhid.

     b. Kondisi Politik

Ketika Nabi Muhammad dilahirkan, tak satu pun negara besar di wilayah sekitarnya yang memikirkan Arab. Persia dan Bizantium, keduanya disibukkan dengan pertengkaran mereka yang melelahkan dan berakhir sesaat sebelum Nabi Muhammad wafat. Keduanya bersemangat untuk berebut mengelola wilayah Arab bagian selatan yang sekarang disebut Yaman. Tidak ada dari negara-negara besar, baik Persia maupun Bizantium yang tergiur untuk menguasai Arab dan tak seorang-pun bermimpi bahwa wilayah itu akan melahirkan  sebuah agama dunia baru, yang menjadi kekuatan dunia yang besar.

Pada saat itu, Arab dianggap sebagai negara yang tak bertuhan dan tidak agama yang mampu eksist bertahan di negara atau wilayah. Hal tersebut terbukti dengan adanya kaum Yahudi yang perilakunya sama dengan masyarakat Arab asli. Dan juga Arab berada di tengah-tengah konflik antara Bizantium dan Persia. Namun tidak ada yang tergiur untuk menguasai Arab.

     c. Kondisi Budaya

Bangsa Arab pada masa pra-Islam menyukai syair-syair yang diucapkan oleh para penyair. Karena syair adalah salah satu seni yang paling indah yang amat dihargai oleh bangsa Arab. Mereka amat gemar mendengarkan penyair melantunkan syair-syair mereka. Ada beberapa tempat penyair-penyair berkumpul, seperti pasar Ukaz, Majinnah, dan Zul Majaz.

Selain kesenangan mendengarkan syair, budaya Arab pra Islam yang lain adalah menyebut kebaikan-kebaikan orang yang telah meninggal. Caranya dengan berkumpul bersama-sama di rumah orang yang telah meninggal dan makan-makan. Wanita datang silih berganti untuk membantu keluarga melakukan ratapan. Di samping itu, ada sebagian suku di Arab yang suka membunuh anak perempuannya ketika baru lahir karena takut memperoleh malu. Bangsa Arab juga senang bertenung dan meramal. Hal itu biasa dilakukan ketika akan menikah dan bepergian jauh. Bukti lainnya adalah Nabi pernah ditenung, sehingga diturunkan surah al-Falaq dan al-Nass.

    d.  Kondisi Ekonomi

Sebagaimana diuraikan di atas, bahwa kaum yang berada di pegunungan disebut kaum Baduwi. Mereka hidup nomaden. Dalam kehidupannya mereka menggantungkan diri dari hasil ternak, dagingnya dimasak secara sederhana dan susunya menjadi minuman utama. Sedangkan pakaian mereka terbuat dari bulu dan rumah mereka dari kulit. Apabila mereka memerlukan barang yang bukan komoditas hasil peternakan, maka mereka memperolehnya dengan jalan barter. Sedangkan masyarakat yang tinggal di kota dan perdukuhan, mereka hidup menetap dan mempunyai mata pencaharian menetap. Rata-rata mata pencaharian mereka adalah niaga. Namun perjalanan yang harus mereka tempuh sangat sulit dan biasanya dihadang oleh kaum baduwi.

Kondisi-kondisi yang demikian ini juga berlanjut pasca kelahiran Nabi Muhammad, sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi. Dan kondisi yang demikian ini mempengaruhi kehidupan Muhammad dan pemikiran para sahabat Muhammad kelak.

  2.    Kondisi Arab Sebelum Kenabian

Dengan kedudukannya sebagai pusat keagamaan, tempat perekonomian, pemimpin dalam aktivitas perdagangan, serta kemajuan dalam bidang peradaban dan sastra, Mekkah telah menjadi kota besar di Jazirah Arab. Selain tatanan dan nilai-nilai Jahiliyah yang mereka percayai dan mereka jadikan panutan, kondisi bangsa Arab secara moral terbilang lemah. Sebab pertaruhan dan perjudian telah menjadi kebiasaan, dan mereka merasa bangga dengan hal itu. Minuman keras meraja lela, dan perbudakan tersebar di mana-mana. Pertemuan-pertemuan diadakan dengan hiburan-hiburan, acara-acara nyanyian.

Kala itu, penduduk Mekkah lemah pemikirannya, tetapi rangsangan nafsunya begitu besar. Memang tidak ada kaitan antara kematangan fisik dengan kematangan psikis. Juga tidak ada pautan antara keterbelakangan berfikir masyarakat dengan keterbelakangan ambisi dan birahi. Di sebuah desa atau kalangan suku primitif, bisa kita lihat adanya perebutan harta dan kedudukan, demikian pula dalam masyarakat modern. Banyak orang yang kurang memiliki pengetahuan dan etika, namun mereka tidak pernah kekurangan cara untuk mampu memenuhi ambisi dan memperdaya sesama.

Ketidakpercayaan kepada Allah dan hari akhir, pemenuhan nafsu duniawi, gila hormat, haus akan kekuasaan, sikap pimpinan yang mengupayakan perdamaian atau perang demi memenuhi ambisi, merupakan tradisi turun-temurun yang mengarahkan kegiatan material moral dalam lingkup yang sempit. Tidaklah benar, bahwa Mekkah saat itu merupakan perkampungan yang belum berperadaban, terisolir di tengah gurun atau tidak memiliki selera duniawi selain dari mengisi perut.

Sebaliknya, wilayah ini memiliki kehidupan yang kompleks yang dipenuhi oleh manusia-manusia congkak dan mengingkari keberadaan Tuhan, orang-orangnya buta akan kebenaran, bahkan mengingkarinya. Dalam masyarakat yang tidak memiliki peradaban intelektualitas ini, kecongkakan individu sudah demikian parahnya, sampai-sampai menyaingi Fir’aun dengan tirani dan arogansinya.

Amir bin Hisyam (Abu Jahal) menyatakan kekufurannya terhadap risalah Muhammad saw. Ia berkata:

“Kami berbaring dengan Bani Manaf dalam hal kemuliaan

Ketika kedudukan Kami setara, ada yang mengatakan: diantara

Kami ada yang menjadi rasul yang menerima wahyu”

“Demi Allah, Kami tidak percaya padanya, dan Kami tidak akan

Mengikutinya, kecuali Kami juga menerima wahyu seperti dia!”

Diceritakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah berkata kepada Rasulullah “Jika kenabian itu benar adanya, mmaka akulah yang lebih berhak, karena aku lebih tua dan hartaku lebih banyak. Kesombongan yang tolol seperti itu yang melanda bangsa Arab pada zaman Nabi, dia tidak hanya rakus harta, kekayaan, bahkan mengklaim bahwa dirinya pantas menjadi Nabi. Padahal seorang Nabi memang betul-betul dipilih oleh Allah.

3.    Penyembahan Terhadap Berhala

Kondisi keagamaan lebih lemah daripada segi etika dan budaya, yaitu hukum-hukum mereka yang jauh dari kenabian; kebodohan merajalela; dan berhalaisme menyebar di mana-mana, yang mereka tiru dari bangsa-bangsa tetangga dan mereka telah melampaui batas. Dalam hal ini, mereka tenggalam dalam penyembahan berhala dan sangat mencintainya. Sehingga di bagian dalam dan halaman ka’bah terdapat 360 patung. Berhala yang paling besar menurut mereka adalah Hubal. Nama berhala inilah yang diteriakkan oleh Abu Sufyan  dengan ungkapannya yang terkenal “‘Alu Hubal” (tinggilah Hubal), letaknya di atas sumur di dalam Ka’bah, yang merupakan tempat dikumpulkannya hadiah (persembahan) untuk Ka’bah. Patung Hubal dibuat dari batu akik merah dalam bentuk manusia, yang pecah tangan kanannya. Suku Quraisy menemukannya dalam bentuk seperti itu. Lalu mereka tangan untuknya dari emas.

Di depan Ka’bah terdapat dua patung, Asaf dan Natlah. Posisinya dekat dengan Ka’bah, bahkan salah satunya menempel pada Ka’bah, sedang yang satunya di lokasi Zam-zam. Suku Quraisy memindahkan patung yang menempel dengan Ka’bah ke sisi lain. Mereka mempersembahkan korban dan menyembelih hewan di dekat kedua patung tersebut. Di atas bukit Shafa terdapat sebuah patung yang disebut Nahika Mujawidurlah (dialah sang pengatur angin). Di atas bukit Marwah juga terdapat sebuah patung yang  dinamai Muth’imuth Thaya (sang pemberi makan burung).

Patung al-Uzza berada di dekat Arafah. Mereka membuatkan rumah untukny. Patung ini merupakan patung yang paling agung bagi kaum Quraisy. Mereka mengundi nasib dengan anak panah di depan patung itu. Patung Dzul Khalasah berada di kota Mekkah bagian bawah. Mereka memakaikan kalung kepadanya, mempersembahkan biji gandum dan hasil pertanian. Mereka memandikannya dengan susu dan menyembelih qurban untuknya. Mereka juga menggantungkan telur-telur merpati pada patung tersebut.

Patung-patung banyak dijual di Mekkah. Orang-orang gurun datang untuk membeli dan membawanya pulang ke rumah-rumah mereka dan di dalam setiap rumah di Mekkah terdapat patung yang mereka sembah. Mereka  memiliki karakter kepemimpinan, kehormatan dan berbagai sifat luhur lainnya. Akan tetapi mereka telah sampai pada tingkatan irrasional yang parah, yakni berhalaisme, kepercayaan kepada khurafat-khurafat dan khayalan. Sungguh suatu tingkatan yang jarang dicapai, kecuali oleh sedikir suku-suku dan bangsa-bangsa. Demikianlah Mekkah pada zaman Muhammad belum menjadi rasul.

C.     Revolusi Aqidah di Mekkah Pada Masa Nabi Serta Ketauhidan Muhammad dan Pengikutnya

Seorang pencari Tuhan menyatakan hasratnya untuk dianugerahi pengajaran “Tuhanku, sekiranya kutahu betapa engkau ingin disembah, aku ingin menyembahmu tapi aku tidak tahu.” Para Nabi Yahudi, rahib kristen, penujum Arab meramalkan kedatangan seorang Nabi. Seorang rahib yang dijumpai Muhammad dalam perjalanan dagangnya ke Suriah selatan memeriksa punggungnya dan melihat tanda kenabian antara kedua bahunya”. Tidak ada sebongkah batu atau sebuah pohon yang dilewati, kecuali akan mengatakan “kedamaian atasmu wahai rasul Tuhan”.

Diapun mengasingkan diri diantara celah-celah batu gunung, pada suatu hari, mungkin ketika menginjak usia 40, sesuatu terjadi, suatu kontak dalam alam gaib, yang dikenal oleh para generasi kemudian dengan malam kekuasaan atau takdir. Dalam satu versi, seorang malaikat terlihat dalam bentuk manusia di cakrawala menyeru kepadanya agar menjadi utusan Tuhan. Dalam versi lain, ia mendengar suara malaikat menyerunya agar membaca, ia bertanya “apa yang akan kubaca?” dan suara itupun berkata:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Pada titik ini terjadi suatu peristiwa yang dikenal dalam kehidupan sebagai pengakuan pihak lain terhadap kekuatan ghaib; pengakuan itu diterima oleh beberapa orang yang telah membantunya. Mereka yang menanggapi seruan ini sangat sedikit jumlahnya, dan termasuk didalamnya Khadijah sang istri: “berbahagialah, wahai anak pamanku , dan jadilah orang yang berhati baik. Demi dia pada tangannya jiwa Khadijah , aku berharap semoga engkau menjadi nabi untuk umatnya”.

Sejak saat itu, Muhammad mulai menyampaikan kepada keluarga dekatnya serangkaian wahyu yang ia yakini telah diturunkan kepadanya oleh malaikat Tuhan, yakni: dunia ini akan berakhir, Tuhan yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan manusia, akan mengadili mereka semuanya. Kesenangan surga dan siksa neraka dilukiskan dengan cara yang gamblang.

Jika dalam kehidupannya, mereka berserah diri kepada kehendak Tuhan, maka mereka dapat mengandalkan rahmatNya ketika mereka akan datang ke pengadilan Tuhan; dan adalah kehendak Tuhan bahwa mereka harus menyampaikan rasa syukur dengan shalat secara teratur dan ibadah-ibadah yang lain dan dengan  amal kebajikan serta mengendalikan nafsu seksnya. Nama yang dipakai untuk Tuhan adalah “Allah” yang telah digunakan sebelumnya untuk salah satu dari dewa-dewa lokal (kini nama ini juga digunakan oleh penganut Yahudi dan Kristen yang berbahasa Arab sebagai nama tuhannya). Mereka berserah diri kepada kehendak Tuhan pada akhirnya dikenal dengan nama muslim, nama agamanya adalah islam yang terambil dari akar kata tersebut.

D.     Kondisi Sosial Setelah Adanya Nabi Muhammad

   1.   Kondisi Sosial

Di kalangan bangsa Arab terdapat beberapa kelas masyarakat, yang kondisinya berbeda antara satu dengan lainnya. Hubungan seseorang dengan keluarga di kalangan bangsawan sangat diunggulkan dan diprioritaskan, dihormati dan dijaga. Sekalipun harus dengan yang terhunus dan darah yang tertumpah. Jika seseorang ingin dipuji dan menjadi terpandang di mata bangsa Arab karena kemuliaan dan keberaniannya, maka ia harus banyak dibicarakan kaum wanita. Jika seorang wanita menghendaki, maka ia bisa mengumpulkan beberapa kabilah untuk suatu perdamaian, dan jika mau ia bisa menyalakan api peperangan dan pertempuran diantara mereka. Sekalipun begitu, seorang laki-laki dan wanita harus melalui persetujuan wali wanita. Seorang wanita tidak bisa menentukan pilihannya sendiri.

Nabi Muhammad tidak hanya menjadi pendiri suatu agama baru, pencipta suatu bangsa baru, tetapi juga seorang pembaharu (reformner) bagi suatu tatanan sosial yang besar. Sejak permulaan sejarah, dunia telah melihat banyak pembaharu pada setiap abad dan di setiap tempat, tetapi tidak seorangpun yang menyamai Nabi di dalam melaksanakan perubahan-perubahan  yang revolusioner dalam suatu masyarakat yang hampir mati dan dungu.

Nabi Muhammad memahami benar bahwa masyarakat Arab harus menghilangkan ketidak adilan sosial dan harus ada perbedaan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain karena kelahirannya dalam keluarga, suku bangsa atau marga tertentu. Karena itulah dia menganggap bahkan dirinya sendiri pun sebagai anggota umat manusia yang biasa.

Hal ini cukup terlihat dalam shalat yang biasa dilakukan sehari-hari. Ketika orang yang berkedudukan rendah dan tinggi, kaum kaya dan kaum miskin berdiri berdampingan di hadapan Zat yang Maha Tinggi, dimana langit dan bumi serta sistemnya berada di bawah kekuasaan-Nya. Seorang budak memperoleh hak yang sama sebagai warga negara, sebagai manusia yang merdeka. Zaid, seorang bekas budak, kadang-kadang dipercayai memegang kekuasaan memimpin bangsa Quraisy yang angkuh itu.

Di samping usaha menegakkan persamaan dan keharmonisan sosial, dia menciptakan kerukunan kembali diantara agama-agama dunia yang berselisih dengan menetapkan toleransi beragama. Dia menjelaskan bahwa umat Islam harus percaya kepada semua Nabi yang dikirim ke dunia dari waktu-ke waktu. Tidak boleh seorang pun mencela agama orang lain. Tujuannya adalah untuk menegakkan persaudaraan universal diantara umat manusia, sehingga semua umat manusia dapat hidup secara damai dan harmonis.

Praktek-praktek kejahatan zaman lama tidak lagi terdapat di dalam masyarakat Arab. Minum-minuman keras dilarang dan kebiasaan membunuh bayi perempuan ditentang dengan keras. Orang-orang diminta untuk menempuh kehidupan yang saleh dan penuh kebajikan. Orang-orang yang minum minuman keras, yang melakukan perzinaan dan pencurian, akan dihukum dengan berat. Nabi menganjurkan senegerinya untuk berusaha sekuat tenaga mencari ilmu pengetahuan. Maka dari itu, dengan mendukung alasan belajar dan memperoleh pendidikan, dia membantu perkembangan bagi suatu masyarakat Arab yang intelektual.

Nabi Muhammad saw. menghasilkan perubahan yang menyeluruh di dalam kondisi kaum wanita. Kaum wanita memperoleh tempat yang sama dengan kaum laki-laki dalam melaksanakan hak-hak hukum serta fungsi-fungsinya. Untuk pertama kalinya, di dalam hukum waris, hak-hak kaum wanita diakui, tidak hanya dalam harta kekayaan dari orang tua mereka, tetapi juga di dalam harta kekayaan suami-suami mereka yang telah meninggal dunia. Sebelumnya gadis-gadis tidak mempunyai pilihan apapun tentang perkawinan mereka, tetapi sekarang Nabi Muhammad memberi kebebasan kepada mereka. Sebab di dalam Islam, perkawinan dipandang sebagai suatu kontrak sosial yang diadakan oleh kedua belah pihak atas dasar persamaan dan dengan persetujuan dari kedua belah pihak. Sebelum datangnya Nabi Muhammad saw, hak untuk menceraikan suami-suami mereka oleh istri-istri tidak terbayangkan, tetapi sekarang diberi hak untuk menceraikan suami-suami mereka dengan syarat-syarat tertentu. Tentu saja mereka diperingatkan untuk menempuh jalan lain. Karena menurut Nabi perceraian itu adalah sesuatu yang halal yang tidak disukai Allah. Sementara itu, Nabi menasehatkan kaum wanita untuk berbuat kebajikan dan penuh tanggung jawab terhadap suami-suami mereka.

Nabi mengizinkan poligami, bukan mewajibkan. Lagipula hal itu tidak diciptakan oleh Islam, tetapi adat kebiasaan yang telah lama di Arab yang timbul karena jumlah wanita lebih banyak dan mereka kekurangan laki-laki, karena sering terjadi peperangan antar suku. Nabi Muhammad mengatur sistem yang buruk ini dan menetapkan pembatasan-pembatasan yang berat atasnya. Al-Qur’an menyatakan: maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja,

Nabi sungguh-sungguh percaya kepada prinsip persamaan manusia. Karenanya, di samping pembaharuan-pembaharuan yang lainnya, ia memulai langkah-langkah emansipasi bagi kaum hamba sahaya. Perbudakan merupakan lembaga kuno yang kehadirannya merupakan suatu faktor yang tetap di dalam kehidupan ekonomi dan sosial dari Timur tengah dan Eropa. Sebelum datangnya Nabi Muhammad tidak seorang pun yang berusaha untuk menghapuskan sistem ini. Akan tetapi, dia memahami kejahatan-kejahatan sistem ini dan dia segera mengambil tindakan untuk cepat menghapuskannya. Dia membuat emansipasi budak menjadi suatu perbuatan yang sangat dihargai dan dia memerintahkan agar memperlakukan hamba sahaya dengan baik dan manusiawi. Sebab, sebagian muslim, hamba dan majikan berdiri di atas pijakan yang sama. Budak-budak diizinkan menebus kebebasan mereka dengan cara mengumpulkan upah-upah mereka dan budak-budak yang melarikan diri dibebaskan setelah mereka sampai di negara Islam. Sejarah Islam penuh dengan gambaran tentang cara-cara budak muncul memperoleh kedudukan yang paling tinggi di dalam negara.

Nabi Muhammad merupakan seorang sosialis yang bertujuan menjembatani kesenjangan-kesenjangan antara kaum kaya dan kaum miskin, orang-orang yang berkedudukan tinggi dan berkedudukan rendah. Dia membayangkan suatu masyarakat yang tidak mengenal lagi pemerataan oleh kelompok satu terhadap kelompok lain. Untuk membantu kaum yang miskin dan menderita, dan untuk meratakan pembagian kemakmuran, dia memperkenalkan zakat, sedekah, dan fitrah di dalam masyarakat Islam. Di samping itu ia mengatur akan status sosial seseorang, jangan didasarkan atas kedudukan ekonomi orang itu, tetapi atas dasar sejauh mana ketaatannya kepada Allah dan rasul-Nya.

Nabi Muhammad tidak datang untuk negara tertentu atau bangsa tertentu. Dia datang untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, misinya bersifat universal dan kosmopolitan (untuk seluruh dunia). Kita suci al-Qur’an menyatakan:” sesungguhnya kami mengutus engkau untuk seluruh umat manusia”. Memang, Nabi membaktikan seluruh hidupnya untuk meningkatkan derajat manusia dan untuk menyatukan bangsa-bangsa yang heterogen ke dalam suatu persaudaraan yang universal.

2.    Pendidikan

Al-Qur’an telah menyebutkan tugas utama Rasulullah saw dengan jelas, yaitu mengajar dan menyucikan mereka. Mengajar al-Qur’an dan hikmah serta mendidik  jiwa berjalan mengikuti keduanya. Sisi terbesar dalam kehidupan Rasulullah.saw. dihabiskan pada sisi ini, sebab sisi ini adalah munculnya segala kebaikan. Semua sisi kehidupan, baik itu politik, ekonomi, militer atau moral tidak akan lurus dan benar tanpa sisi ini. Musnahnya manusia, suatu bangsa dan kemanusiaan tidak lain karena menyeleweng dari ilmu yang benar karena kebodohan atau madharat yang tidak bermanfaat.

Umat tanpa ilmu dan tarbiyah yang menjelaskan kepada mereka sisi-sisi perilaku mereka yang terpuji dan membuat setiap individunya mengerti kewajibannya, akan menyebabkan kekacauan. Perilakunya tidak terarah dan teratur, semua anggotanya memiliki tindak-tanduk adat dan persepsi yang berbeda satu sama lainnya, sehingga mereka tidak akan beruntung dan jaya.

Dalam sejarah Muhammad saw., kita dapati satu kenyataan, beliau mulai membentuk umat baru yang memiliki pilar pemikiran, perilaku, moral, tasyri’, undang-undang, dan bahasa tersendiri dengan cara mendidik dan menumbuhkan individunya di dalam lingkungan tarbiyah beliau yang dalam segi akidah dan perilakunya terpisah dengan dunia lain.

Beliau mempersaudarakan semua umat ini secara sempurna. Kemudian membaca maju umat ini dalam satu arah. Setiap sikap anggotanya telah beliau tentukan tugas besarnya secara kolektif, serta beliau lukis keadaannya, beliau jelaskan pada mereka segala sesuatunya dalam segala segi. Beliau tuntun mereka dalam jalan ini beberapa saat, lantas beliau biarkan mereka berjalan menuju Rabbnya. Setelah beliau wafat, mereka tetap maju, tidak berubah, tidak ada yang diganti, apa yang diajarkan dan dididik Rasulullah saw. Masih ada dan akan tetap ada. Dari peninggalan kaum muslim yang agung yang kita saksikan, setiap mereka mengambil ajaran dan didikan Muhammad saw. secara konsisten, maka mereka aka selamat dan maju ke depan.

Setelah itu, kita kemukakan bahwa kesempurnaan seorang pendidik tampat dalam beberapa hal berikut:

  1. Kadar kemampuannya memindahkan jiwa dan akal manusia dari keadaan yang rendah ke keadaan yang tinggi mulia. Semakin tinggi ia mampu membawa manusia pada kemuliaan, membuktikan semakin sempurnanya ia mendidik manusia.
  2. Jangkauan luasnya wilayah manusia yang dapat ia bawa menuju  kesempurnaan insaninya. Semakin luas wilayahnya, semakin menunjukkan kesempurnaannya.
  3. Memanfaatkan ajaran dan didikan itu, kebutuhan manusia padanya dan kontinuitas ajaran dan didikan itu dalam memberikan pengaruhnya sepanjang zaman, sehingga manusia tidak bisa hidup dengan baik tanpanya.

Semua ajaran agama telah meninggalkan bekas dalam sejarah. Semua penganjur dakwah dan para Nabi telah meninggalkan dampak yang dalam pada peradaban dan kaum mereka, tetapi kita tidak mengetahui dalam sejarah manusia ada agama yang tersebar sedemikian cepatnya dan mengubah dunia secara langsung seperti yang dilakukan Islam. Dalam sejarah kita, tidak ada dakwah yang pemiliknya adalah seorang penguasa zaman dan kaumnya seperti Muhammad. Ia telah mengeluarkan umat pada eksistensinya, menjadikan mereka mampu beribadah kepada Allah di bumi, membuka mereka pada risalah yang suci dan mulia, meletakkan dasar-dasar keadilan dan persamaan sosial diantara kaum mukmin, dan mampu mengakarkan sistem, keteraturan, kataatan, dan kemuliaan pada kaum yang tidak mengenal kecuali kekacauan.

Inilah kesaksian kaum terpelajar yang tidak mengimani Muhammad, karena mereka dibutakan kedengkian salib yang mereka warisi. Mereka bersaksi, tetapi tidak beriman, dan kita tidak meninggalkan kesaksian mereka. Di depan kita ada kesaksian realitas atas semua sisi yang kita sebutkan di depan. Coba perhatikan tarbiyah Rasulullah saw.sebagai berikut:

Para sahabat Rasulullah saw yang beruntung dengan melihat dan mengimani beliau berjumlah puluhan ribu. Dari jumlah ini ada yang menemani beliau selama masa beliau diutus menjadi rasul, dan ada yang hanya melihat dan mendengar sabda beliau sekali. Jika kalian melakukan perbandingan antara hidup mereka sebelum berguru kepada Rasulullah saw dan hidup mereka setelah berguru kepada beliau, antara realitas mereka sebelum dan sesudah belajar kepada Rasulullah saw, antara tingkah laku sebelum dan sesudah meneladani Rasulullah saw, antara tujuan sebelum dan sesudah mendapat pentujuk Rasulullah saw, antara persepsi mereka tentang Allah, alam dan manusia sebelum dan sesudah mendapat penjelasan Rasulullah saw, kalian akan melihat hasil perbandingan itu dan melihat perpindahan yang jauh dan luas yang telah dilakukan Rasulullah saw kepada mereka dari satu putaran ke putaran yang lain, dari kehinaan menuju kemuliaan yang tak ada yang membandinginya.

Lihat Umar bin Khattab, di zaman Jahiliyah ia adalah seorang yang kesukuan dan pendek pikiran, tabiat, perasaan dan persepsinya. Seseorang yang kesukuan, dan pendek pikiran, tabiat, perasaan dan persepsinya adalah seseorang yang sempit wawasannya. Yang menjadi perhatian hidupnya adalah mabuk-mabukan, berfoya-foya, berbuat maksiat bersama teman-temannya. Seandainya bukan karena Rasulullah saw, maka ia tidak menjadi seorang umar yang baru, sang pembuat tatanan yang cerdas dan brilian, negarawan yang agung, simbol keadilan yang melambangkan ketegakan dan kerahmatan, luas wawasannya, benar jangkauan pemikirannya dan jitu firasatnya. Umar yang gaungnya memenuhi dunia, tak ada arti apa-apa, seandainya tidak terdidik dalam naungan Rasulullah saw. Dari Rasulullah saw ia mengambil ilmu, hikmah dan tarbiyah.

Lihat Abdullah bin Mas’ud, penggembala kambing yang rendah dan hina di suku Quraish, yang tidak tahu kecuali tuan dan orang-orang yang menjadikan sebagai pembantunya. Lelaki yang kurus kering, pendek dan kecil betisnya ini apa yang terjadi setelah terdidik oleh Rasulullah saw? Ia menjadi seorang manusia yang terhitung sebagai pendiri madrasah terbesar dalam fiqih Islam, yang Abu Hanifah bernisbat padanya.

Jika kita mempelajari profil manusia sebelum dan sesudah berinteraksi dengan Rasulullah saw, akan kita temukan perubahan pada segenap sisinya, dan semua kekuatan dan kemampuannya telah melesat pada jalan yang benar. Baik itu kekuatan jasmani, akal, psikis, ruh, nurani, maknawi, maupun kekuatan akhlak. Kekuatan-kekuatan ini semuanya bergerak maju pada arahnya yang benar dan jalannya yang lurus, hingga tak ada seorang pun yang mengatakan bahwa ada satu kekuatan tertentu yang rusak atau bekerja tidak benar.

Berkaitan dengan etos kerja Nabi bersabda

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Artinya: Kerja seseorang memikul kayu bakar dipunggungnya lebih baik dari pada ia meminta kepada seorang baik diberi atau tidak.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ ح و حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُسَافِرٍ التِّنِّيسِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَحْيَى الْبُرُلُّسِيُّ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ عَنْ إِسْحَقَ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ سُلَيْمَانُ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْخُرَاسَانِيِّ أَنَّ عَطَاءً الْخُرَاسَانِيَّ حَدَّثَهُ أَنَّ نَافِعًا حَدَّثَهُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Artinya: Jika kalian berjual beli dengan menggunakan contoh barang, kalian rela dengan pertanian, kalian ikuti ekor-ekor sapi dan kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan menghukum kalian dengan kehinaan dan tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali pada agama kalian.

Berkaitan dengan kekuatan seksualitas, beliau bersabda:

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ كُنْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ فَلَقِيَهُ عُثْمَانُ بِمِنًى فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً فَخَلَوَا فَقَالَ عُثْمَانُ هَلْ لَكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي أَنْ نُزَوِّجَكَ بِكْرًا تُذَكِّرُكَ مَا كُنْتَ تَعْهَدُ فَلَمَّا رَأَى عَبْدُ اللَّهِ أَنْ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى هَذَا أَشَارَ إِلَيَّ فَقَالَ يَا عَلْقَمَةُ فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ أَمَا لَئِنْ قُلْتَ ذَلِكَ لَقَدْ قَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Artinya: Hai pemuda barang siapa yang mampu biaya nikah maka hendaklah menikah dan barang siapa yang tidak mampu maka hendaklah dia berpuasa maka sesungguhnya itu adalah pencegah.

حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ حَدَّثَنِي حَفْصُ بْنُ عُمَرَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنْ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا وَيَقُولُ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ الْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: Nabi memerintahkan untuk mencari kemampuan(untuk menikah) dan melarang dari hidup membujang dengan larangan yang keras. Dan Ia bersabda: nikahlah dengan pasangan yang penuh kasih dan subur, sebab sesungguhnya aku termasuk orang yang bangga diantara para nabi di hari kiamat.

Sedangkan dalam hal pemenuhan hak dan kewajiban kepada istri, beliau bersabda:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ الطَّوِيلُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُول ُجَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Artinya: Anas ibn Malik berkata, tiga golongan datang ke rumah istri-istri Nabi untuk menanyakan tentang ibadah Nabi, maka ketika mereka diberi khabar mereka seperti melamun kemudian berkata: dan dimana letak kami yang merupakan umat Nabi SAW yang telah diampuni apa yang tedahulu dari dosanya dan apa yang belum terlaksana. Salah satu diantara mereka berkata, adapun saya sholat semalaman selamanya dan yang lainnya mengatakan saya berpuasa selama satu tahun dan tidak pernah berbuka, dan yang lainnya berkata: saya menyingkir dari para wanita dan tidak menikah selamanya. Maka kemudian Nabi SAW datang kepada mereka, kemudian berkata: kamu sekalian adalah orang-orang yang berkata demikian dan demikian. Ingatlah demi Allah aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa padaNya dari kamu sekalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka dan aku sholat juga tidur dan aku menikahi wanita, maka barang siapa yang benci pada sunnahku maka bukan termasuk golonganku.

Berkaitan dengan kesehatan, beliau bersabda:

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ هُوَ ابْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ  قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ قَالَ عَبَّاسٌ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عِيسَى عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ

Artinya: Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia melupakannya; sehat dan luang waktu.

Berkaitan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan beliau bersabda:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ شِنْظِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ

Artinya: Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap orang muslim, dan meletakkan ilmu pada selain ahlinya seperti halnya mengalungi babi hutan dengan permata, mutiara dan emas.

حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى التُّجِيبِيُّ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو شُرَيْحٍ أَنَّ أَبَا الْأَسْوَدِ حَدَّثَهُ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ قَالَتْ لِي عَائِشَةُ يَا ابْنَ أُخْتِي بَلَغَنِي أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو مَارٌّ بِنَا إِلَى الْحَجِّ فَالْقَهُ فَسَائِلْهُ فَإِنَّهُ قَدْ حَمَلَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِلْمًا كَثِيرًا قَالَ فَلَقِيتُهُ فَسَاءَلْتُهُ عَنْ أَشْيَاءَ يَذْكُرُهَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرْوَةُ فَكَانَ فِيمَا ذَكَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ مِنْ النَّاسِ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعُلَمَاءَ فَيَرْفَعُ الْعِلْمَ مَعَهُمْ وَيُبْقِي فِي النَّاسِ رُءُوسًا جُهَّالًا يُفْتُونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ قَالَ عُرْوَةُ فَلَمَّا حَدَّثْتُ عَائِشَةَ بِذَلِكَ أَعْظَمَتْ ذَلِكَ وَأَنْكَرَتْهُ قَالَتْ أَحَدَّثَكَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هَذَا قَالَ عُرْوَةُ حَتَّى إِذَا كَانَ قَابِلٌ قَالَتْ لَهُ إِنَّ ابْنَ عَمْرٍو قَدْ قَدِمَ فَالْقَهُ ثُمَّ فَاتِحْهُ حَتَّى تَسْأَلَهُ عَنْ الْحَدِيثِ الَّذِي ذَكَرَهُ لَكَ فِي الْعِلْمِ قَالَ فَلَقِيتُهُ فَسَاءَلْتُهُ فَذَكَرَهُ لِي نَحْوَ مَا حَدَّثَنِي بِهِ فِي مَرَّتِهِ الْأُولَى قَالَ عُرْوَةُ فَلَمَّا أَخْبَرْتُهَا بِذَلِكَ قَالَتْ مَا أَحْسَبُهُ إِلَّا قَدْ صَدَقَ أَرَاهُ لَمْ يَزِدْ فِيهِ شَيْئًا وَلَمْ يَنْقُصْ

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari manusia, tetapi dengan mengambil para ulama maka ilmu ikut terangkat bersama ulama tersebut dan yang tertinggal bagi manusia adalah para pemimpin yang bodoh yang saling memberi fatwa tanpa ilmu maka mereka sesat dan menyesatkan.

Anda tidak akan menemukan satu pun kekuatan manusia, kecuali telah digerakkan Rasulullah saw. Pada jalannya yang benar. Akhirnya kalian akan takjub pada para sahabat beliau, anda akan takjub pada kesempurnaan profil mereka, ahli ibadah, pemberani, ahli perang, penegak keadilan, pengasiih dan penebar rahmat, ahli manajemen, ahli politik, ahli hikmah, dan pendidik. Setiap orang dari mereka adalah umat. Alangkah mudahnya bagi mereka mengendalikan umat.

3.    Hukum

Apabila kita pelajari dengan seksama, suasana dan keadaan-keadaan yang telah dilalui hadits-hadits sejak dari zaman tumbuhnya hingga dewasa ini, dapatkan kita menarik sebuah garis bahwa hadits Rasul sebagai dasar tasyri’. Rasul hidup di tengah-tengah masyarakat sahabatnya, mereka dapat bertemu dan bergaul dengan beliau secara bebas. Tak ada protokol-protokolan yang menghalangi mereka bergaul dengan beliau. Yang tidak dibenarkan hanyalah mereka langsung masuk ke rumah Nabi, di kala beliau tak ada di rumah, yakni tak boleh mereka terus masuk ke rumah dan berbicara dengan para istri Nabi, tanpa hijab.

Seluruh perbuatan Nabi, demikian juga seluruh ucapan dan tutur kata beliau menjadi tumpuan perhatian para sahabat. Segala gerak gerik beliau mereka jadikan pedoman hidup. Berdasarkan kepada kesungguhan meniru dan meneladani beliaulah, berganti-gantilah para sahabat yang jauh rumah dari masjid, mendatangi majelis-majelis Nabi. Kabilah-kabilah yang tinggal jauh dari kota Madinah selalu mengutus salah seorang anggotanya pergi mendatangi Nabi untuk mempelajari hukum-hukum agama. Dan sepulang mereka ke kampungnya, mereka segera mengajar kawan-kawannya sekampung.

Sebagian sahabat sengaja datang dari tempat-tempat yang jauh, hanya untuk menanyakan sebuah hukum kepada Nabi, seperti ceritanya Uqbah dalam syarah al-Bukhari. Apabila Nabi tidak dapat menjelaskan secara terus terang, karena tabu mengucapkannya, maka ia menyuruh istri-istrinya untuk menjelaskan hal itu. Biasanya hal itu terjadi dalam masalah-masalah kewanitaan, misalnya masalah haid.

Kitab Allah, juga secara sosio kultural memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan tuntunan umat Islam secara normal. Karena itu pula, pernyataan, pengalaman, persetujuan dan hal-ihwalnya sebagai hadits menunjukkan betapa pentingnya kedudukan dan peranannya. Karena merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an.  Jelaslah bahwa Rasulullah telah menyampaikan risalah Tuhan kepada manusia dengan penuh amanah dan dengan segera menyampaikan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Penjelasan mengenai isi dan kandungan al-Qur’an diberikan lewat berbagai ucapan, perilaku dan amalan yang dilakukan Nabi dalam ajaran lain, segala perbuatan, tindakan dan ucapan Rasulullah adalah tafsir ata konsepsi Islam secara keseluruhan. Sebab segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah adalah benar dan tidak ada yang sia-sia barang sedikitpun.

Al-Qur’an juga memuat ayat mutasyabihat, ayat muhkamat. Ada juga ayat yang bersifat mutlaq dan mujmal. Oleh karena itu, Rasulullah menerangkan dan menjelaskan hukum-hukum syariat kepada orang banyak seperti, umpamanya, cara mengerjakan shalat, mengetahui waktu-waktu shalat, jumlah rakaat dan segala sesuatu yang berkaitan dengan shalat. Begitu pula, beliau menjelaskan bagaimana cara mengerjakan ibadah haji, mengeluarkan zakat, jual beli yang sah dan sebagainya. Hal-hal demikianlah yang secara eksplisit tidak ditemukan dalam beberapa ayat al-Qur’an

Hal ini menjelaskan kepada kita tentang tiadanya sisi perundang-undangan dalam ayat-ayat Makkiyah yang berisi perintah-perintah dan larangan-larangan sebagaimana nyata keberadaannya dalam ayat-ayat Madaniyah.

Peranan Rasulullah yang lainnya adalah mengadakan hukum syariah, secara independent telah dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an berikut ini:

…وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (7)

Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.

Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar taat pada Allah dan taat pada Rasul dalam segenap perintah dan larangannya yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan peranan hadits atau sunnah Nabi dalam menetapkan hukum syariah secara independent.

  4.    Kondisi Ekonomi

Kondisi ekonomi mengikuti kondisi sosial, yang bisa dilihat dari jalan kehidupan bangsa Arab. Perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kebutuhan hidup jalur-jalur perdagangan tidak bisa dikuasai begitu saja, kecuali jika sanggup memegang kendali keamanan dan perdamaian. Sementara kondisi yang aman seperti ini tidak terwujud di Jazirah Arab kecuali pada bulan-bulan suci.

Tentang perindustrian atau kerajinan, mereka adalah bangsa yang paling tidak mengenalnya. Kebanyakan hasil kerajinan yang ada di Arab, seperti Jahit-menjahit, menyamak kulit dan lainnya berasal dari rakyat Yaman, Hirah, dan pinggiran Syam. Dan hasil dari kerajinan tersebut mereka tukarkan dengan kebutuhan yang mereka perlukan.

  5.    Kondisi Politik

Sebelum datangnya Nabi Muhammad.saw, bangsa Arab tidak mempunyai kepaduan atau kesatuan diantara mereka. Secara politis, mereka merupakan bangsa yang terpecah belah dan penuh pertentangan. Semakin bertambahnya jumlah pengikut Nabi, semakin keras tantangan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy. Ada 5 faktor yang mendorong orang-orang Quraisy menentang seruan Islam. 1) Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib. Yang terakhir ini sangat tidak mereka inginkan. 2) Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy. 3) Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat. 4) Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan berurat berakar pada bangsa Arab. 5) Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rizki.

Nabi menyadari hal itu dan berusaha membawa seluruh Arabia di bawah satu pemerintahan dengan mengikuti kebijakan perukunan kembali berbagai suku bangsa Arab yang sedang berperang. Dia berhasil di dalam usahanya itu. Nabi Muhammad tidak hanya mengarahkan tujuannya untuk membangun suatu bangsa yang di jazirah Arab saja, tetapi juga memimpikan pendirian suatu persaudaraan yang universal. Persaudaraan ini didasarkan atas agama, atas keturunan atau hubungan-hubungan keluarga. Dengan demikian, maka sangat bertentangan dengan cita-cita Arabia yang sudah teguh, dan telah mengakar di kalangan masyarakat Arab. Nabi Muhammad berhasil merubah Arab yang pada mulanya tidak diperhatikan oleh negara-negara lain, menjadi negara yang diperhitungkan keberadaannya dan dari politik yang ruwet menjadi politik yang jelas yang didasarkan pada wahyu, yaitu al-Qur’an dan hadits.

E.     Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut, maka kami dapat mengambil kesimpulan:

  1. Masyarakat Mekkah sebelum Islam dan datangnya Nabi memang sesuai jika disebut dengan Jahiliyah, karena pencurian di mana-mana, perzinahan sudah jadi budaya, dan lain sebagainya. Di samping itu, masyarakat pada masa itu menyembah berhala sebagai perwujudan dari menyembah Tuhan mereka. Namun masih ada sebagian kecil dari mereka yang mempunyai akhlak yang baik.
  2. Nabi Muhammad datang dengan membawa risalah kenabian, yang isinya adalah perbaikan aqidah masyarakat Arab Jahiliyah. Kedatangan Nabi Muhammad telah membawa perubahan yang sangat signifikan pada masyarakat Arab Mekkah.
  3. Kondisi sosial masyarakat Arab telah mengalami peningkatan yang signifikan antara sebelum Muhammad dengan sesudah Muhammad. Kondisi tersebut dalam bidang sosial, pendidikan, hukum, ekonomi, dan politik.

F.      Saran-Saran

Dari kesimpulan di atas, dapat disarankan hal-hal berikut ini:

  1. Hendaklah kaum akademisi mengambil hadits yang tepat dan shahih juga mempelajari asbab al-wurud-nya sehingga tidak salah dalam menilai dan menggunakan hadits.
  2. Hendaknya para akademisi apabila mengambil kebijakan juga memperhatikan kondisi sosial kultural yang ada di sekitarnya.

DAFTAR RUJUKAN

Ash Shiddiqiey, Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 1954.

AsSa’idi, Abdullah, Hadits_Hadits Sekte, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Al-Bukhari, Muhammad, Shahih al-Bukhari, juz 7, Mauqi’u al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Chalil, Moenawar, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jakarta: Gema Insani Pers, 2001.

Dawud, Abu, Sunan Abu Dawud, juz 9, Mauqi’u al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Al-Ghazali, Muhammad, Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad, terj Kamdani, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2006.

Hamka, Sejarah Umat Islam, Singapura: Pustaka Nasional, tt.

Hanbal, Ahmad Ibn, Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Juz 25 Mauqi’u al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Hawwa, Said, Nabi Muhammad saw, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, et.al, Jakarta: Gema Insani, 2003.

Hitti, Philip K., History Of The Arabs, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2007.

Hourani, Albert, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, terj. Irfan Abu Bakar, Bandung: Mizan, 2004.

Mahmudunnasir, Syeikh, Islam, Konsepsi dan Sejarahnya, terj. Adang Afandi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991.

Majah, Ibn, Sunan Ibn Majah, juz 1,Mauqi’u al-Islam: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyur Rahman, Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka Kautsar, 2007.

Muslim, Shahih Muslim, juz 13, Mauqi’u al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Al-Nadwi, Syaikh Abu al-Hasan ‘Ali al-Hasani, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad saw, terj. Suryowidiatmoko, (ed), Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2007.

Shahrur, Muhammad, Metodologi Fiqih Islam Kontemporer, terj Sahiron Syamsudin, Yogyakarta: Elsaq Press, 2004.

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.

Yusuf, M. et.all, Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadits, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Fakultas Ushuluddin, 2005.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: