SEJARAH KHULAFAUR RASYIDIN 1


SEJARAH KHULAFAUR RASYIDIN 1

(Kajian Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar Ibn al-Khaththab)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.     Latar Belakang

Kondisi bangsa Arab sebelum Islam sungguh sangat memperihatinkan. Sebenarnya mereka merupakan masyarakat yang beragama, yaitu mengikuti agama pendahulu mereka, seperti Yahudi, Nasrani bahkan agama Nabi Ibrahim, namun kenyataannya tidak seperti itu. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh al-Mubarakfury, “mereka mengaku berada pada agama Ibrahim, justru kenyataannya jauh sama sekali dari perintah dan larangan syariat Ibrahim. Mereka mengabaikan tuntunan-tuntunan tentang akhlak yang mulia.” Jadi kebanyakan orang Arab hanya mengaku beragama, namun kelakuan dan pribadinya tidak mencerminkan orang yang beragama. Agama yang mereka anut rata-rata diwarnai dengan paganisme, begitu pula agama Yahudi maupun Nasrani yang mereka anut. Mereka banyak mengadakan pengubahan dan memberi model cara beribadah yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang aslinya. Maka dapat disimpulkan bahwa kondisi bangsa Arab pada masa sebelum Islam sangat jauh dari jalan yang benar.

Selain tatanan dan nilai-nilai Jahiliyah yang mereka percayai dan mereka jadikan panutan, kondisi bangsa Arab secara moral terbilang lemah. Sebab pertaruhan dan perjudian telah menjadi kebiasaan, dan mereka merasa bangga dengan hal itu. Minuman keras meraja lela, dan perbudakan tersebar di mana-mana. Pertemuan-pertemuan diadakan dengan hiburan-hiburan, acara-acara nyanyian. Maka dari itu, Allah menurunkan utusan untuk menyeru kepada manusia agar mentauhidkan Allah, bukan menyembah berhala-berhala. Kurang lebih selama 23 tahun, Nabi mengemban tugas suci ini. Tentunya tugas ini tidak dijalankan dengan mudah begitu saja, namun mengalami berbagai cobaan dan halangan yang berat. Hal itu tidak menjadikan Nabi patah semangat atau putus asa. Bahkan pada masa sepuluh tahun terakhir, yaitu dekade Madinah, beliau berhasil membentuk masyarakat madinah yang beraneka ragam kultur dan budaya, menjadi masyarakat yang Islami. Namun karena Nabi juga merupakan manusia, maka dalam usia 63 tahun beliau pulang ke rahmatullah, yakni pada hari senin 13 Rabiul awal 11 H.

Setelah Rasulullah wafat, kemudian tampuk kekuasaan khalifah dipegang oleh Abu Bakar al-Shiddiq yang merupakan khalifah pertama. Pada masa pemerintahan Abu Bakar ini, banyak umat Islam yang murtad. Jadi Abu Bakar harus  mengemban tugas memerangi orang-orang yang murtad selain mengadakan pengembangan aspek-aspek lain. Tak lama kemudian Abu Bakar meninggal dunia karena usianya yang lanjut. Setelah Abu Bakar wafat, tampuk pemerintahan dipegang oleh Umar. Pada masa ini banyak diambil pola-pola baru dalam pemerintahan dan penerapan hukum Islam, karena Umar adalah orang yang bertipe liberal.

Maka dari itu, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pembahasan kekhalifahan pada masa Abu Bakar dan Umar, penulis menyusun sebuah tulisan yang berjudul ” Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar ibn Khaththab (Pembentukan Khilafah dan Perkembangan Islam sebagai Kekuatan Politik)”

B.     Biografi Abu Bakar al-Shiddiq

Abu Bakar al-Shiddiq (nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abi Quhafah bin Utsman al-Tamimy) dilahirkan pada tahun 573 M atau dua tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad. Nasabnya dari sisi ayah bertemu dengan nasab Nabi pada Murrah bin Ka’ab. Dia dilahirkan di lingkungan suku yang sangat berpengaruh dan suku yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar. Ayahnya bernama Utsman (Abu Quhafah) bin Amir, sedangkan ibunya adalah Ummu al-Khoir Salmah binti Sahr. Garis keturunannya bertemu pada neneknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad.

Pada masa kecilnya Abu Bakar bernama Abdul Ka’bah, nama itu diberikan kepadanya sebagai realisasi nazar ibunya sewaktu mengandungnya. Kemudian oleh Rasulullah, namanya diganti dengan Abdullah. Gelar Abu Bakar diberikan kepadanya karena ia orang yang paling cepat masuk Islam, sedangkan gelar al-Shiddiq (amat membenarkan) diberikan karena ia adalah orang yang selalu membenarkan Nabi dalam berbagai peristiwa, seperti isra’ mi’raj dan lain sebagainya.

Selain julukan yang disebutkan di atas tadi, ia juga dikenal dengan julukan atau gelar al-‘Athiq, ada yang mengatakan bahwa itu berarti bersih atau baik yang berasal dari ‘ataqah, maksudnya keluarganya bersih dan baik. Menurut Abu Thalhah, gelar al-‘Athiq ini karena pada masa itu ibunya Abu Bakar setiap melahirkan putra selalu meninggal, lalu setelah ia melahirkan seorang putra ia membawanya ke ka’bah dan berkata “ya Tuhan, sesungguhnya ini adalah anak yang engkau bebaskan dari kematian, maka berikanlah ia kepadaku”. Dan anak itu lalu hidup, kemudian dikenal dengan nama ‘Athiq.

Di masa jahiliyah ia terkenal dengan orang jujur dan berhati suci. Tatkala Islam datang, maka segera dianutnya, kemudian ikut menyiarkan dan mengembangkannya. Dalam mengembangkan dan menyiarkan Islam, ia mendapat hasil yang baik. Banyak orang yang memelukj agama Islam atas usaha dan seruan Abu Bakar, seperti halnya Bilal bin Rabah, Utsman bin Affan, Zubair bin al-Awwan, dan sebagainya. Abu Bakar merupakan orang yang pertama kali masuk Islam ketika Islam mulai didakwahkan. Setelah masuk Islam, ia tidak segan untuk menumpahkan segenap jiwa dan harta bendanya untuk Islam. Bahkan tercatat dalam sejarah, ia adalah pembela Nabi ketika Nabi disakiti dan menemani Nabi ketika Nabi hijrah.

Pengorbanan Abu Bakar terhadap Islam tidak dapat diragukan. Ia juga pernah ditunjuk Rasul sebagai penggantinya untuk mengimami shalat ketika Nabi sakit, dan tak lama kemudian Nabi wafat. Karena tidak ada pesan mengenai siapa pengganti Nabi di kemudian hari, terjadi perselisihan di antara umat Islam setelah Nabi wafat. Kaum Anshar merupakan kaum yang memiliki rasa lebih dalam hal berpolitik dibandingkan dengan kaum Muhajirin.

Pokok persoalan perselisihan adalah tidak ditemukannya aturan-aturan yang jelas tentang pengganti Nabi. Sedangkan yang ada hanyalah sebuah mandat yang diterima Abu Bakar menjelang wafatnya Nabi untuk menjadi badal imam shalat. Sesuatu yang masih merupakan tanda tanya terhadap mandat tersebut. Dalam pertemuan yang diadakan untuk membahas masalah pengganti Nabi tersebut, sebelum kaum Muhajirin datang, kaum khazraj telah setuju untuk mencalonkan Salad bin Ubadah, sebagai pengganti Rasul. Akan tetapi belum ada jawaban dari suku-suku yang lainnya. Kemudian golongan Muhajirin datang, dan terjadi perdebatan yang sengit. Golongan Anshar berpendapat bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah orang anshar karena sudah menolong Nabi, sedangkan golongan muhajirin juga berpendapat bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah orang muhajirin, karena mereka menyertai perjuangan Nabi dari awal. Perdebatan tersebut terjadi sengit dan akhirnya setelah dikemukakan alasan yang logis dari pihak Muhajirin, maka Anshar pun mengakui keberhakan golongan muhajirin. Dan setelah tenang, lalu Abu Bakar berpidato “Ini Umar dan Abu Ubaidah, siapa yang kamu kehendaki di antara mereka berdua, maka baiatlah”.

Baik Umar maupun Abu Ubaidah merasa keberatan dengan ucapan Abu Bakar dengan mempertimbangkan berbagai alasan, diantaranya adalah ditunjuknya Abu Bakar sebagai pengganti Rasul dalam imam shalat dan ini membuat Abu Bakar lebih berhak menjadi pengganti Rasul. Sebelum keduanya membai’at Abu Bakar, didahului oleh Basyir bin Sa’ad, kemudian diikuti oleh Umar dan Abu Ubaidah dan semua hadirin.

Dari paparan di atas, terlihat bahwa Abu Bakar dipilih secara aklamasi, walaupun tokoh-tokoh lain tidak ikut membai’atnya, seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas dan lain-lain. Setelah diangkat menjadi khalifah, beliau berpidato sebagai berikut:

“Wahai manusia, sungguh aku telah memangku jabatan yang kamu percayakan, padahal aku bukan orang yang terbaik di antara kamu. Apabila aku melaksanakan tugasku dengan baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, luruskanlah aku. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan kedustaan adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kamu adalah orang yang kuat bagiku sampai aku memenuhi hak-haknya, dan orang yang kuat di antara kamu adalah lemah bagiku hingga aku mengambil hak-haknya. Insya Allah. Janganlah salah seorang dari kamu meninggalkan jihad. Sesungguhnya kaum yang tidak memenuhi panggilan jihad, maka Allah akan menimpakan atas mereka suatu kehinaan. Patuhlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak mentaati Allah dan Rasul-Nya, sekali-kali janganlah kamu menaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kamu.”

Pemerintahan Abu Bakar hanya berlangsung selama dua tahun. Kemudian ia mewasiatkan jabatan khalifah kepada Umar, namun sebelumnya ia telah meminta pertimbangan kepada beberapa sahabat-sahabat senior dan mereka mendukung pilihan Abu Bakar. Abu Bakar meninggal pada hari senin tanggal 23 agustus 624 M. Ia dimakamkan di samping makam Nabi. Ia meninggal pada usia 63 tahun dan kekhalifahannya berlangsung selama 2 tahun 3 bulan 11 hari.

C.     Peradaban Islam Pada Masa Kekhalifahan Abu Bakar al-Shiddiq

Abu Bakar membangun kekhalifahan yang pertama setelah Nabi wafat dan mengalami kemajuan yang pesat.  Hal itu pada dasarnya karena dukungan dari berbeagai elemen dan berbagai pihak. Adapun kebijaksanaan yang diambil Abu Bakar adalah sebagai berikut:

1.   Kebijaksanaan Keagamaan Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq

Pada awal pemerintahannya, ia diuji dengan adanya ancaman yang datang dari umat Islam sendiri yang menentang kepemimpinannnya, yaitu timbulnya orang-orang yang murtad, orang yang tidak mau membayar zakat, orang yang mengaku Nabi dan berbagai pemberontakan.

Masalah murtad merupakan satu ancaman besar kepada negara Islam. Golongan ini dibagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama, yaitu orang-orang yang mengaku menjadi Nabi, termasuk di dalamnya Tulaihah bin Khuwalid, al-Aswad al-Anasi, Musailamah al-Kazzab, dan lain sebagainya. Golongan yang kedua, terdiri dari orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Tokoh golongan ini yang terkenal adalah Malik bin Nuwairah. Maka Abu Bakar melakukan tindakan dengan menarik zakat secara paksa untuk mengembalikan hak-hak orang miskin. Golongan ketiga, terdiri dari mereka yang murtad atau kembali ke agama asal mereka.

Untuk mengatasi hal tersebut, Abu Bakar membentuk sebelas pasukan tentara Islam yang diketuai oleh panglima-panglima terkenal, seperti Khalid bin al-Walid, Amr bin ‘As dan lain sebagainya. Namun sebelum memerangi golongan tersebut, Abu Bakar terlebih dahulu mengirimkan utusan yang isinya menyuruh mereka kembali kepada Islam. Dari situ ada yang menerima dan ada yang menolaknya. Konsekuensi dari yang menolak adalah diperangi. Maka terjadilah peperangan untuk menumpas kaum murtad di Yamamah.

Masalah yang kedua yang dihadapi oleh khalifah Abu Bakar adalah masalah al-Qur’an. Pada masa Nabi, al-Qur’an dihafalkan oleh para sahabat secara mutawatir dan juga ditulis dalam berbagai media penulisan, namun tulisan tersebut masih tercecer dan tidak terkumpul di suatu tempat. Akibat adanya perang Yamamah, maka banyak khufadz al-Qur’an yang gugur, maka Umar  bin al-Khaththab menemui Abu Bakar dan menyampaikan kegelisahan terhadap kelangsungan al-Qur’an karena banyaknya khufadz yang gugur. Maka kemudian Abu Bakar mengambil kebijakan untuk mengumpulkan dan menulis al-Qur’an dalam satu mushaf. Motif dari penulisan al-Qur’an pada masa ini adalah, sebagaimana diungkapkan oleh Abad, adalah menyelamatkan al-Qur’an karena pada masa itu banyak khufadz yang gugur.

2.   Penyebaran Islam Pada Masa Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq

Setelah pergolakan dalam negeri berhasil dipadamkan, Abu Bakar menghadapi kekuatan Romawi dan Persia yang setiap saat berkeinginan menghancurkan eksistensi Islam. Untuk menghadapi Persia, Abu Bakar mengirim tentara Islam di bawah pimpinan Khalid bin Walid dan Mutsanna bin Haritsah. Mereka berhasil merebut beberapa daerah penting Irak dari kekuasaan Persia. Sedangkan untuk menghadapi Romawi, Abu Bakar memilih empat panglima Islam terbaik untuk memimpin beribu-ribu pasukan di empat front, yaitu Amr bin ‘Ash di front Palestina, Yazid bin Abi Sufyan di front Damaskus, Abu Ubaidah di front Hims, dan Syurahbil bin Hasanah di front Yordania. Empat pasukan ini dibantu oleh Khalid bin Walid yang bertempur di front Siria. Perjuangan-perjuangan tersebut untuk membebaskan jazirah Arab dari Romawi dan Persia baru tuntas pada masa khalifah Umar bin Khaththab.

Di samping itu, Abu Bakar juga meneruskan kebijakan yang telah diambil oleh Nabi, yaitu mengenai tentara yang dibentuk dan diketuai oleh Usamah bin Zaid untuk memerangi penduduk Ghassan yang telah membunuh utusan Nabi. Sebelum pasukan ini digerakkan, Nabi telah wafat. Maka Abu Bakar mengambil keputusan untuk meneruskan apa yang telah diputuskan Nabi, walaupun yang kontra dengan keputusan tersebut. Hal itu dikarenakan Usamah masih terlalu muda untuk menjadi seorang panglima perang, sebab masih berumur 18 tahun. Ternyata keputusan yang diambil oleh Abu Bakar itu adalah keputusan yang tepat, karena setelah 40 hari diberangkatkan mereka pulang membawa kemenangan. Dan hal itulah yang selalu dikembangkan oleh Abu Bakar yaitu tidak mau merubah keputusan yang telah diambil oleh Nabi walaupun banyak yang tidak setuju dengan keputusan tersebut.

Keputusan yang dibuat oleh Abu Bakar dalam membentuk beberapa pasukan dari segi tata negara, menunjukkan bahwa ia memegang jabatan tertinggi tentara Islam. Jika dilihat dan diamati, kepemimpinan Abu Bakar yang merupakan khalifah pertama kali dapat dikatakan telah lulus ujian. Ia berhasil menancapkan dan membangung bentuk kekhalifahan yang kuat di masa awal Islam. Pondasi yang dibangun oleh Abu Bakar ini cukup kuat. Ia juga berhasil menjembatani seluruh kekuatan yang ada untuk bersama-sama menciptakan pertahanan dan keamanan negara Madinah, menggalang persatuan umat Islam, mewujudkan keutuhan dan keberlangsungan negara Madinah dan Islam, bahkan menghimpun ayat-ayat al-Qur’an sehingga menjadi satu mushaf. Keberhasilan ini tentunya disebabkan adanya kedisiplinan, kepercayaan dan ketaatan yang tinggi dari rakyat terhadap integritas kepribadian dan kepemimpinannya.

3.   Kondisi Sosial, Ekonomi dan Politik Pada Masa Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq

Mengenai masalah ekonomi, pada pemerintahan khalifah Abu Bakar terdapat sebuah lembaga mirip Bait al-Mal, di dalamnya dikelola harta benda yang didapat dari zakat, infak, sedekah, ghanimah, dan lain-lain. Penggunaan harta tersebut juga digunakan untuk gaji pegawai negara dan untuk kesejahteraan umat sesuai dengan aturan yang ada.

Di samping itu, pada masa Abu Bakar zakat merupakan sesuatu yang harus dikeluarkan oleh orang yang mempunyai kewajiban mengeluarkannya, karena zakat merupakan hak-hak fakir miskin. Zakat juga merupakan alat untuk memutarkan ekonomi, agar uang tidak hanya berputar di kalangan orang yang kaya saja. Abu Bakar sangat tidak menyukai orang yang tidak mau mengeluarkan zakat dan ia memerangi orang yang tidak mengeluarkan zakat tersebut sampai ia mau mengeluarkan zakat.

Dalam bidang politik kenegaraan dapat diuraikan sebagai berikut: bidang eksekutif dengan adanya pendelegasian terhadap tugas-tugas pemerintahan di Madinah maupun daerah. Misalnya untuk pemerintahan pusat menunjuk Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan dan Zaid bin Tsabit sebagai sekretaris dan Abu Ubaidah sebagai bendaharawan. Sementara itu, untuk daerah-daerah kekuasaan Islam, dibentuklah provinsi-provinsi dan untuk setiap provinsi ditunjuk seorang amir. Sementara dalam bidang pemerintahan, Abu Bakar melakukan penunjukan Umar sebagai penggantinya, karena ia khawatir peristiwa yang terjadi di Tsaqifah Bani Saidah akan terulang kembali dan akan membawa umat Islam ke dalam jurang perpecahan.

Dalam bidang legislatif, Abu Bakar menerapkan musyawarah untuk memutuskan dan mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi dengan beberapa sahabat senior dan berkompeten dalam bidangnya. Di samping itu, pola yang demikian tersebut menyebabkan sahabat akan berpartisipasi sepenuhnya untuk melaksanakan keputusan yang diambil, karena keputusan tersebut adalah keputusan yang diambil secara bersama-sama.

Dalam bidang pertahanan dan keamanan, Abu Bakar mengorganisasikan pasukan-pasukan militer untuk mempertahankan eksistensi keagamaan dan kenegaraan. Pasukan tersebut disebar untuk memelihara stabilitas di dalam maupun di luar negeri. Ia juga melakukan ekspansi untuk menaklukkan wilayah yang menentang Islam dan berusaha menggrogoti Islam. Di samping itu, Abu Bakar juga meneruskan kebijakan yang diambil Nabi Muhammad mengenai masalah tentara yang diketuai oleh Usamah bin Zaid untuk memerangi penduduk Ghassan yang telah membunuh utusan Nabi. Abu Bakar tidak mau mengubah keputusan yang telah diambil oleh Nabi, padahal pada waktu itu banyak sahabat yang menentangnya dengan alasan Usamah masih terlalu muda untuk berperang. Dan hal itu menjadi kenyataan, ternyata pasukan Usamah tersebut pulang dengan membawa kemenangan.

Sedangkan dalam bidang kehakiman, fungsi kehakiman dilaksanakan oleh Umar bin Khaththab dan selama masa pemerintahan tidak ditemukan suatu permasalahan yang berarti untuk dipecahkan. Hal itu karena kemampuan dan sifat Umar sendiri juga masyarakat pada waktu itu yang terkenal alim dan taat dalam menjalankan syariat agama.

Demikian peradaban yang berkembang pada masa pemerintahan Abu Bakar. Abu Bakar sebagai khalifah yang pertama berhasil menancapkan kuku kekhalifahannya dan berhasil membangun pemerintahan yang baik dan penuh dengan tanggung jawab. Pada masa selanjutnya setelah Abu Bakar meninggal, pemerintahan kekhalifahan dilanjutkan oleh Umar bin Khaththab.

D.     Biografi Umar Ibn Khaththab

Umar bin al-Khaththab memiliki nama lengkap Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abd al-Uzza bin Ribaah bin Abdillah bin Qart bin Razail bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luay adalah seorang khalifah kedua pengganti Abu Bakar. Ia lahir di Mekkah dari keturunan suku Quraisy yang terpandang dan terhormat. Ia lahir empat tahun sebelum terjadinya perang fijar atau tiga belas tahun lebih muda dari Nabi Muhammad SAW.

Sebelum masuk Islam, Umar termasuk di antara kaum kafir Quraisy yang paling ditakuti oleh orang-orang yang sudah masuk Islam. Dia adalah musuh dan penentang Nabi Muhammad yang paling ganas dan kejam, bahkan sangat besar keinginannya untuk membunuh Nabi Muhammad dan pengikutnya. Dia sering menyebar fitnah dan menuduh Nabi Muhammad sebagai penyair dan tukang tenung.

Setelah Umar masuk agama Islam, pada bulan Dzulhijah enam tahun setelah kerasulan Nabi Muhammad, kepribadiannya bertolak belakang dengan keadaan sebelumnya. Ia berubah menjadi salah seorang sahabat Nabi yang gigih dan setia, bahkan ia menjadi sahabat yang terkemuka dan paling dekat dengan Nabi.

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa Abu Bakar mewasiatkan jabatan khalifah kepada Umar bin al-Khaththab ketika ia jatuh sakit. Hal itu dilakukan Abu Bakar karena berbagai faktor. Pertama, kekhawatiran peristiwa yang menegangkan di Tsaqifah Bani Sa’idah yang nyaris menyeret umat Islam ke jurang perpecahan akan terulang kembali, bila tidak menunjuk seseorang yang menggantikannya. Kedua, kaum Anshar dan Muhajirin saling mengklaim sebagai golongan  yang berhak menjadi khalifah. Ketiga, umat Islam pada saat itu baru saja selesai menumpas kaum murtad dan pembangkang. Sementara sebagian pasukan Mujahidin sedang bertempur di luar kota Madinah melawan tentara Persia di satu pihak dan tentara Romawi di pihak lain.

Berangkat dari kondisi yang demikian tersebut, maka tampaknya tidak tepat apabila pemilihan khalifah diserahkan secara langsung kepada umat Islam yang akan memungkinkan kontroversi yang berkepanjangan yang hal itu akan menyebabkan stabilitas politik yang labil. Maka penunjukan Abu Bakar terhadap Umar dengan melalui konsultasi dengan beberapa sahabat senior lainnya nampaknya merupakan hal yang tepat. Maka Umar bergelar Khalifah Khalifati Rasulillah (pengganti dari pengganti Rasulullah).

Sebagaimana Abu Bakar, Umar bin Khaththab juga berpidato sesudah dibai’at menjadi khalifah. Bagian dari pidatonya adalah:

“Aku telah dipilih menjadi khalifah. Kerendahan hati Abu Bakar selaras dengan jiwanya yang terbaik di antara kamu dan lebih kuat terhadap kamu dan juga lebih mampu untuk memikul urusan Kamu yang penting-penting. Aku diangkat dalam jabatan ini tidaklah sama dengan beliau. Andaikata aku tahu ada orang yang lebih kuat daripadaku untuk memikul jabatan ini, maka memberikan leherku untuk dipotong lebih aku sukai daripada memikul jabatan ini.”. “Sesungguhnya Allah menguji kamu dengan aku dan menguji aku dengan kamu dan membiarkan aku memimpin kamu sesudah sahabatku. Maka demi Allah, bila ada satu urusan kamu dihadapkan kepadaku, maka janganlah urusan itu diurus oleh seseorang selain aku, dan janganlah seseorang menjauhkan diri dari aku, sehingga aku dapat memilih orang yang benar dan memegang amanah. Jika mereka berbuat baik, tentu aku akan berbuat baik kepada mereka, dan jika mereka berbuat jahat, maka tentu aku akan menghukum mereka.”

Pidato tersebut menggambarkan bahwa Umar adalah seorang yang demokratis dan menjunjung tinggi hukum. Di samping itu, Umar juga seorang yang menganggap bahwa jabatan khalifah adalah amanah dan ujian yang diberikan kepadanya. Segala urusan harus diurus dan diselesaikan dengan baik oleh khalifah dan juga khalifah harus memilih orang yang benar-benar bisa memegang amanah untuk membantunya.

Pada masa khalifah Umar bin Khaththab ini, Islam mampu menguasai Persia. Maka dari itu, golongan atas kerajaan Persia berkomplot dengan orang Yahudi berencana membunuh Umar. Abu Lu’luah telah berhasil menyusup ke dalam masjid, di waktu Umar memulai shalat subuh, dikala itu hari masih gelap. Ditikamlah Umar dengan sebuah golok beberapa kali, diantaranya satu tikaman di bawah pusatnya. Maka pada waktu itu Umar wafat

E.     Peradaban Islam Pada Masa Kekhalifahan Umar Ibn Khaththab

Umar bin Khaththab merupakan khalifah penerus Abu Bakar al-Shiddiq. Maka Umar meneruskan keberhasilan yang telah dirintis oleh Abu Bakar. Umar melakukan ekspansi untuk meneruskan ekspansi yang dilakukan oleh Abu Bakar, sehingga negara Islam menjadi negara besar dan Islam menjadi kekuatan politik. Di samping itu, Umar juga melakukan penataan ulang dalam segala bidang, sehingga peradaban Islam pada masa itu mengalami perkembangan yang cukup pesat.

1.   Ekspansi Pada Masa Kekhalifahan Umar Ibn Khaththab

Selama sepuluh tahun pemerintahan Umar, sebagian besar ditandai oleh penaklukan-penaklukan untuk melebarkan pengaruh Islam ke luar Arab. Sejarah mencatat, Umar telah berhasil membebaskan negeri-negeri jajahan imperium Romawi dan Persia yang dimulai pada awal pemerintahannya, bahkan sejak pemerintahan sebelumnya. Segala tindakan yang dilakukan untuk menghadapi dua kekuatan tersebut jelas bukan hanya dilandasi motif agama saja, namun juga motif politik.

Terdapat berbagai faktor yang melatarbelakangi timbulnya konflik antara umat Islam dengan bangsa Romawi dan Persia yang pada akhirnya mendorong umat Islam untuk melakukan penaklukan terhadap kedua wilayah tersebut. Faktor tersebut antara lain, pertama: bangsa Romawi dan Persia tidak menaruh hormat terhadap maksud baik Islam; kedua: semenjak Islam masih lemah, Romawi dan Persia selalu berusaha menghancurkan Islam; ketiga: bangsa Romawi dan Persia sebagai negara yang subur dan terkenal kemakmurannya, tidak berkenan menjalin hubungan perdagangan dengan negeri-negeri Arab; keempat: bangsa Romawi dan Persia bersikap ceroboh menghasut suku-suku Badui untuk menentang pemerintahan Islam dan mendukung musuh-musuh Islam; kelima: letak geografis kekuasaan Romawi dan Persia sangat strategis untuk kepentingan keamanan dan pertahanan Islam.

Untuk menghadapi kekuatan Romawi dan Persia, Umar mengutus Saad bin Abi Waqqas untuk menaklukkan Persia dan menunjuk Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menggantikan Khalid bin Walid sebagai panglima tertinggi yang sedang menghadapi kekuatan Romawi di Siria. Pasukan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas berhasil menerobos pintu gerbang kekuatan Persia. Pertempuran antara keduanya tak dapat dielakkan lagi maka terjadi pertempuran lain di Qadisiyah. Dalam pertempuran ini, pihak Persia berhasil dipukul mundur oleh kekuatan Islam yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas.

Pada tahun 637 M, Persia bermaksud membalas kekalahannya, sehingga terjadi pertempuran di Jakilah. Namun, maksud tersebut tidak dapat terwujud, bahkan pasukan Persia terdesak dan kota Hulwan dikuasai oleh pasukan Islam juga. Pertempuran terjadi di Nahlawan pada tahun 642 M. Dalam pertempuran ini, pasukan Persia dapat ditundukkan secara mutlak, sehingga wilayah kekuasaan Persia dapat dikuasai Islam. Begitulah usaha yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab untuk menaklukkan Persia yang selalu menjadi duri dalam daging dan menghambat perkembangan Islam.

Sementara itu, pertempuran dengan Romawi dilakukan di Kota Damaskus dan dipimpin oleh Abu Ubaidah. Ketika Romawi memutuskan  untuk melakukan serangan balsan secara besar-besaran terhadap para penyerang, pasukan Abu Ubaidah mampu menghadapinya dengan kekuatan penuh pada pertempuran Yarmuk pada tahun 631 M. Mesir secara keseluruhan berada di bawah kekuasaan Islam setelah penyerahan Iskandariyah, ibukota Mesir dan ibukota kedua bagi kekaisaran Romawi Timur pada tahun 642 M.

Maka dari itu, akhirnya Islam dapat menguasai Romawi dengan kekuasaan yang mutlak. Hal itu dikarenakan pasukan dan armada Islam mampu mengalahkan pasukan Romawi dengan kekalahan yang telak.

2.   Kondisi Hukum, Politik, Ekonomi dan Sosial Pada Masa Kekhalifahan Umar Ibn Khaththab

Umar dikenal sebagai seorang negarawan, namun juga seorang ahli hukum yang selalu memahami Islam dengan menggunakan logikanya dan berusaha menemukan apa yang dikehendaki dibalik pelaksanaan hukum tersebut. Dalam masalah hukum, Umar telah mengemukakan pedoman dalam peradilan, yang telah menjadi rujukan pelaksanaan peradilan pada masa sekarang.

Umar terkenal dengan ketegasannya dan keadilan, serta kebijaksanaannya dalam memutuskan suatu hukum. Terdapat dua hal penting yang dapat diambil pelajaran dari beliau sampai masa kini. Kedua hal tersebut adalah: pertama, beliau sekalipun dikenal sebagai orang keras dan tegas menghadapi setiap pelanggar hukum Allah, dan orang-orang jahat, namun beliau mampu menguasai dan mengendalikan diri untuk tidak terburu-buru menjatuhkan suatu keputusan atau vonis. Kedua, beliau memanfaatkan tenaga ahli/penasehat ahli dalam hal ini sahabt Nabi yang terkenal dengan gelarnya bab al-ilm, yaitu Ali bin Abi Thalib. Maka kondisi dan keadaan hukum pada zaman Umar berjalan dengan tertib dan setiap warga sama derajatnya di hadapan hukum.

Kondisi ekonomi dan sosial pada masa khalifah Umar ini hampir sama dengan kondisi pada masa Abu Bakar. Jadi tradisi yang ada dalam pemerintahan Abu Bakar dalam bidang ekonomi dan sosial kemasyarakatan tetap dipelihara pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Sedangkan kondisi politik dan pemerintahan mengalami peningkatan.

Untuk menunjang kelancaran administrasi dan operasional tugas-tugas eksekutif, Umar melengkapinya dengan beberapa jawatan, antara lain:

  1. Dewan al-Kharraj (Jawatan Pajak)
  2. Dewan al-Addats (Jawatan Kepolisian)
  3. Nazar al-Nafiat (Jawatan Pekerjaan Umum)
  4. Dewan al-Jund (Jawatan Militer)
  5. Bait al-Mal (Lembaga Pembendaharaan Negara).

Umar juga menanamkan demokrasi, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dan Abu Bakar, secara intensif di kalangan rakyat, kalangan pemuda, kalangan para pejabat atau kalangan administrator pemerintahan. Ia selalu mengadakan musyawarah dengan rakyat untuk memecahkan masalah-masalah yang umum dan kenegaraan yang dihadapi. Ia bahkan menghormati warga non muslim dengan ikut dalam musyawarah dan dimintai pendapat.

Itulah perkembangan peradaban Islam pada masa Umar bin Khaththab. Sesuatu yang menarik dari Umar adalah ia selalu menyikapi dengan bijak masalah-masalah yang terjadi, bahkan mengenai hukum yang sudah ada nash-nya dalam al-Qur’an.

F.      Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Abu Bakar al-Shiddiq (nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abi Quhafah bin Utsman al-Tamimy) dilahirkan pada tahun 573 M atau dua tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad. Ia menjadi khalifah pertama dan memerintah selama kurang lebih 3 tahun. Ia wafat karena sakit yang dideritanya.
  2. Kondisi ekonomi pada masa Abu Bakar berkembang cukup pesat, walaupun terdapat gangguan dari orang-orang yang tidak mau membayar pajak yang akhirnya dapat ditumpas. Sementara kondisi pemerintahan yang dilakukan bersifat demokratis. Namun pemerintahan ini mendapat hambatan, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Pada masa ini juga terjadi peristiwa kodifikasi al-Qur’an pertama kali.
  3. Umar bin al-Khaththab adalah seorang khalifah kedua pengganti Abu Bakar. Ia lahir di Mekkah dari keturunan suku Quraisy yang terpandang dan terhormat. Ia lahir empat tahun sebelum terjadinya perang fijar atau tiga belas tahun lebih muda dari Nabi Muhammad SAW. Ia wafat karena dibunuh oleh Abu Lu’luah.
  4. Pada masa Umar, kondisi perekonomian berkembang pesat, dan juga administrasi pemerintahan berjalan lancar, karena Umar adalah seorang negarawan yang handal. Di samping itu, hukum juga ditegakkan tanpa pandang bulu. Ekspansi yang dilakukan sudah berhasil menguasai Persia dan Romawi. Ia juga menerapkan sistem demokrasi dalam pemerintahannya.

G.     Saran-Saran

Berpijak dari kesimpulan di atas, maka dapat penulis kemukakan sarannya sebagai berikut:

  1. Hendaklah kita dapat mengambil pelajaran dari sejarah yang telah kita bahas, sebagai bahan pertimbangan dalam bertindak dan acuan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam hal yang sama.
  2. Hendaklah kita mencontoh kesalehan dan kebijaksanaan sahabat dalam mengambil keputusan dan menyikapi masalah.

DAFTAR RUJUKAN

Al-Akkad, Abbas Mahmud, Kecemerlangan Khalifah Umar bin Khaththab, terj.Bustani A.Gani dan Zainal Abidin Ahmad, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.

Badruzaman, Abad, Ceramah Dalam Kuliah Pasca Sarjana S2 STAIN Tulungagung tanggal 24 November 2009.

Bik, Muhammad Khudhari, Itmam al-Wafa fi Sirah al-Khulafa, Mesir: Maktabah al-Tijariyah al-Kubra, 1964.

Dewan Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam Jilid I, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeva, 2001.

Fauzan, M, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah Syar’iyah di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2005.

Hodgson, Marshal G.S, The Venture of Islam Book 1, Chicago: Universitas Chicago Press, 1974.

Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman, al-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah), terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka Kautsar, 2004.

Al-Nadwi, Syaikh Abu al-Hasan ‘Ali al-Hasani, Al-Sirah al-Nabawiyah (Sejarah Lengkap Nabi Muhammad saw), terj. Suryowidiatmoko, (ed), Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2007.

Al-Najar, Abi al-Wahid, Al-Khulafa Al-Rasyidin, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1990.

Qardhawi, Yusuf, Meluruskan Sejarah Umat Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.

Al-Qaththan, Manna’, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Mesir: Dar al-Mantsurat al-‘Asr al-Hadits, tt.

Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008.

Syalabi, A, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT Pustaka al-Husna Baru, 2003.

Al-Syuyuthi, Jalal al-Din, Tarikh al-Khulafa’, juz 1, Mauqi’u al-Waraq: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Tim Penyusun, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Depag, 1982.

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, Jakarta: Rajawali Press, 2003.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: